Category Archives: Cognitive Science

Daftar Negara Yang Warganya Puas Secara Seksual


Situs Alternet melakukan penelitian dari data yang dikumpulkan lewat berbagai penelitian. Lalu, telah disimpulkan 12 negara teratas yang penduduknya memiliki kepuasan tertinggi dalam kehidupan seksual. Secara berurutan, dari nilai tertinggi, berikut adalah negara dengan kepuasan seksual tertinggi:

1. Swiss
Negara ini menuai banyak kontroversi, mulai dari prostitusi yang dilegalkan hingga pendidikan seksual yang sejak taman kanak-kanak. Kenyataannya, Swiss menjadi negara dengan penduduk paling puas akan kehidupan seksualnya di dunia. Penelitian tahun 2013 mengungkap bahwa 21 persen penduduk Swiss mengaku kehidupan seksual mereka “luar biasa”.

2. Spanyol
Lewat studi yang dilakukan terhadap 9.850 penduduk Spanyol, terungkap bahwa 90 persen pria dan wanita Spanyol sangat puas akan kehidupan seksualnya.

3. Italia
Didukung dengan makanan dan anggur yang lezat, Italia menjadi negara posisi ketiga di mana penduduknya puas akan kehidupan seksualnya. Sebanyak 64 persen pria Italia mengaku bahwa kehidupan seksual mereka memuaskan dan penduduk wanita mengaku menikmati dua gelas anggur sehari untuk meningkatkan performa bercinta agar dapat mengimbangi hasrat para pria mereka.

4. Brasil
Penelitian mengklaim bahwa 82 persen penduduk Brasil pasti melakukan hubungan seksual sekali seminggu. Peneliti lainnya mengungkap, penduduk Brasil bercinta 145 kali dalam satu tahun (artinya tiga kali dalam seminggu). Lalu, diketahui pula bahwa penduduk Brasil adalah yang paling dini dalam melakukan hubungan seksual.

5. Yunani
Alasan penduduk Yunani puas akan kehidupan seksualnya karena seks tak dianggap sebagai topik tabu. Sebab, dari zaman sebelum Masehi, tokoh besar seperti Hippocrates tak malu membicarakan hubungan seksual. Sekarang, pada zaman modern, penduduk Yunani memiliki komunikasi seksual yang sangat terbuka. Durex mengklaim bahwa penduduk Yunani adalah penduduk di dunia yang paling banyak melakukan hubungan seksual. Dalam setahun, rata-rata penduduk Yunani bercinta 164 kali.

Tujuh negara lainnya yang memiliki penduduk dengan kepuasan seksual tertinggi yaitu:

Belanda
Meksiko
India
Australia
Nigeria
Jerman
China

Iklan

Wanita Lebih Mudah Memiliki Hubungan Teman Tapi Mesra


Tak sedikit pendapat yang mengatakan bahwa persahabatan antara pria dan wanita sulit tidak bergulir menjadi hubungan yang romantis. Sebenarnya, pihak wanita bisa mempertahankan persahabatan secara platonis. Namun, umumnya pria lebih sulit mempertahankan persahabatan dengan teman wanita tanpa melibatkan perasaan.

Sebuah penelitian mengatakan bahwa 90 persen orang di dunia memiliki teman dekat dari lawan jenis. Kemudian, menurut riset yang dihelat oleh situs kencan, Canoodle.com, hanya 27 persen wanita yang mengaku, berharap bisa membawa pertemanan itu menjadi hubungan asmara.

Namun, presentasi lebih tinggi terjadi pada responden pria. Sebab, kaum pria cenderung mudah merayu teman-teman wanitanya. Separuh dari pria yang disurvei mengatakan bahwa mereka ingin persahabatannya dengan teman wanita bisa berlanjut ke hubungan asmara.

Ternyata, para pria ditemukan lebih mudah mengubah pertemanan menjadi hubungan cinta. “Umumnya, pria cenderung menganggap teman-teman wanitanya menarik, ketimbang sebaliknya. Namun, kadang-kadang, hal ini bisa menimbulkan perasaan khusus,” papar Sean Wood, Communications Director dari Cupid Plc, yang mengadakan riset ini.

Kemudian, riset juga membeberkan bahwa 52 persen pria mengatakan bahwa mereka tak masalah jika tetap berteman dengan wanita meskipun sudah melibatkan aktivitas seksual. Namun, pemikiran serupa tidak terjadi pada wanita. Wanita mengaku, tidak bisa berhubungan seksual dengan seseorang yang masih berstatus teman, para wanita ini lebih memilih berhubungan seksual dengan orang yang mereka suka baik yang sudah lama dikenal maupun baru dikenal.

Cara Mengerti Terjadinya Homoseksual Dari Sisi Sains


Seksualitas merupakan wilayah kontestasi politik paling serius karena benturan antara nilai-nilai moral (agama), kemajuan riset di bidang sains medik, dan realitas sosial. Tama (26) harus menunggu tujuh tahun untuk kembali diakui sebagai bagian dari keluarganya di Malang, Jawa Timur. Anak pertama dari tiga bersaudara itu menyebut identitas seksualnya sebagai “trans-man”, bukan lesbian.

“Orangtua sangat marah,” kenang aktivis remaja dan orang muda dengan identitas beragam, Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (Yotha-PKBI) Cabang Yogyakarta itu. Siang itu, di salah satu ruangan di Gedung PKBI Yogyakarta, Alia (26) mengisahkan, sejak usia 16 tahun, ia berpakaian perempuan dan berada di jalanan. Keluarga dan tetangga menerima dirinya apa adanya.

Berbeda dengan kelompok homoseksual lainnya, kelompok waria lebih kental stigma sosialnya dan kemanusiaannya direduksi sebatas sosok menor di pinggir jalan. Mereka menelan seluruh hinaan. Apalagi kalau tertangkap petugas keamanan. Akan tetapi, kelompok inilah yang mengungkap sikap hipokrit masyarakat. Kata Alia, kliennya adalah laki-laki, yang mungkin beristri dan punya anak. Sebagian dengan ekspresi dan fantasi seksual yang unik.

“Ada yang sebelum dilayani, minta memakai baju saya, lalu bersikap seperti perempuan. Setelah selesai, dia bersikap seolah-olah yang tadi itu tak pernah terjadi,” tuturnya. Awalnya, Tama bergabung dengan gerakan perempuan, tetapi ada resistansi dari dalam. Dia lalu menemukan ruang bersama remaja dan kaum muda beragam identitas. Dalam pertemuan nasional pada Agustus lalu, mereka mendiskusikan posisi “trans-man” dalam gerakan sosial dan berbagai isu yang menyertainya, khususnya terkait upaya membangun teori, informasi, dan kesetaraan hak sebagai warga negara. “Layanan kesehatan reproduksi tak ramah kepada orang-orang seperti kami,” ungkap Tama.

Hak-hak atas kesehatan reproduksi dan seksual (SRHR) bersifat universal. Namun, meminggirkan kelompok lesbian, gay, biseksual, transjender, queer, dan interseks (LGBTQI). Mereka didiskriminasi karena orientasi seksual dan identitas jendernya, serta menghadapi ancaman kaum homofobia, heterofobia dan ekstremis transfobia.

Identitas jender, menurut American Psychological Association (2006), mengacu pada perasaan seseorang sebagai laki-laki, perempuan, atau transjender. Jika identitas jender dan seks tak selaras secara biologis, seseorang bisa diidentifikasi sebagai trans-seksual atau kategori transjender lain (Gainor, 2000). Orientasi seksual mengacu pada ketertarikan secara seksual kepada jenis seks tertentu, termasuk ketertarikan kepada seks sejenis (gay dan lesbian), kepada jenis seks yang lain (heteroseksual), atau keduanya (biseksual).

Kategori-kategori itu digunakan secara luas dan berkelanjutan. Namun, riset menunjukkan, orientasi seksual tak selalu muncul dalam kategori-kategori yang bisa didefinisikan dan tidak berkelanjutan (Klein 1993, Klein, Sepekoff & Wolff 1985). Beberapa hasil penelitian menunjukkan, orientasi seksual bersifat cair bagi beberapa orang, khususnya perempuan (Diamond, 2007, Peplau & Garnets, 2000). Tama dan Alia, juga Opi, Rika, Emil, dan lain-lain dari organisasi People Like Us, Ikatan Waria Yogyakarta (Iwayo), dan Satu Hati menguraikan rumitnya mendefinisikan peran, keterikatan, dan konstruksi sosial dalam hubungan sesama jenis.

“Ada istilah fake comfortability di kalangan remaja homoseksual,” jelas Opi (23), “Dalam masa tertentu, dia merasa nyaman, tetapi lalu ekspresi seksualnya ingin berubah dan bisa dengan lawan jenis.” Hal yang sama terjadi di kalangan hetero. “Tetapi, lebih sulit bagi kelompok ini mengakui dirinya biseksual,” sambung Amir dari Yotha-PKBI Yogyakarta.

Dikotomi dalam hidup tak bisa diandaikan. Amir mengutip Skala Kinsey, Skala Peringkat Heteroseksual-Homoseksual yang diciptakan Alfred Kinsey bersama Wardell Pomeroy dan Clyde Martin, pada tahun 1948. lam “Sexual Behavior in the Human Male” (1948) dan “Sexual Behavior in the Human Female” (1953), Kinsey menyatakan, perilaku seksual, baik yang secara sosial diterima maupun tidak diterima, heteroseksual atau homoseksual, adalah kenyataan. Hal yang disangkali ialah gradasi dari ujung ekstrem satu ke ujung ekstrem lainnya.

Kinsey menciptakan sistem klasifikasi yang mendeskripsikan sejarah seksual seseorang pada waktu tertentu, untuk menunjukkan kontinuitas gradasi dari sejarah perjalanan heteroseksual murni ke homoseksual murni. Skala dengan 7 peringkat itu menggambarkan gradasi tersebut secara lebih akurat. Kalau mengacu pada Kinsey, “koreksi” untuk “meluruskan” orientasi seksual sesuai dengan yang dianggap “normal” dalam norma arus utama, selain melanggar hak, juga sia-sia.

Correction rape biasanya dilakukan dengan paksaan menikah dan punya anak, tanpa dipahami, seksualitas di otak berlawanan dengan seksualitas fisik. “Kalau ketangkep, waria dipotong rambutnya, dipaksa memakai pakaian laki-laki,” kata Alia. Isu SRHR adalah perjuangan tanpa akhir, lebih-lebih di kalangan remaja dan kaum muda dengan seksualitas beragam. Hal inilah yang membuat posisi Yotha strategis dalam perjuangan kesetaraan dan keadilan.

Yotha diawali pengorganisasian komunitas waria tahun 1993, dengan program penanggulangan HIV/AIDS. “Sejak 2006, cakupannya lebih luas, terkait relasi kuasa, konstruksi sosial, identitas, serta hak-hak atas kesehatan reproduksi dan seksual,” ungkap Direktur PKBI Yogyakarta Gama Triono. Mereka juga mengubah model kampanye. “Kalau kampanye Hari Anti Kekerasan terhadap Perempuan berlangsung 16 hari, agenda kami 39 hari menuju Hari HAM, 10 Desember,” lanjutnya.

Sepanjang tahun 2005-2010 mereka menyelenggarakan berbagai kegiatan dan festival terkait seksualitas beragam. Sejak tahun 2012, Yotha dinyatakan sebagai gerakan. “Kalau dulu perjuangannya menolak kekerasan terkait jender biner, sekarang jender beragam,” sambung Tama. Isu yang rumit itu hampir tak pernah disentuh di ruang publik. Diskriminasi dan kekerasan terus berlangsung. Suara mereka hilang di ruang-ruang politik formal.

Dalam “Sexual Politics” (1970), ilmuwan feminis Kate Millet menulis, politik seksual sangat tajam mendefinisikan relasi-relasi atas dasar kontak personal antaranggota dari berbagai kelompok koheren, ras, kasta, kelas, dan seks. Kelompok yang tidak terwakili dalam struktur politik cenderung terus ditindas. “PKBI Yogya menggantikan peran negara untuk menanggapi isu ini,” tegas Tama.

Orang Dengan Status Sosial Tinggi Tidak Suka Teh Manis


Perkara obesitas atau penyakit diabetes sering kali dihubungkan dengan pola diet yang salah, kurang gerak dan konsumsi gula berlebih. Penelitian terbaru yang dibuat oleh The Grocer, perusahaan retail menyimpulkan ternyata berapa banyak gula yang kita campurkan ke minuman kita sangat berhubungan dengan status sosial ekonomi manusia.

Mengutip dari Independent, ternyata masyarakat dengan pendapatan lebih rendah dua kali lebih mungkin menggunakan dua atau lebih porsi gula ke dalam teh mereka dibandingkan dengan mereka yang punya pendapatan lebih besar. Cara orang menyajikan teh memang menggambarkan banyak tentang selera pribadi seseorang. Namun penelitian terbaru itu membuktikan semakin banyak seseorang mencampurkan gula ke dalam minuman mereka semakin menggambarkan status sosial ekonomi mereka.

Secara rinci disebutkan orang dari kelompok status sosial DE yang digambarkan sebagai kelompok orang “dengan jenis pekerjaan yang sedikit membutuhkan keterampilan khusus atau menengah, kelompok pengangguran dan berpendidikan rendah,” dua kali lebih mungkin memasukkan gula sebanyak dua sendok atau lebih ke dalam minuman teh mereka.

Sementara kelompok masyarakat AB yang digolongkan sebagai “ masyarakat dengan kemampuan manajerial, administratif, dan pekerjaan profesional menengah hingga tinggi,” cenderung menghindari gula atau bahkan juga suka minum teh tanpa gula.

Lebih dari sepertiga masyarakat dari golongan ekonomi sosial DE dipastikan menambahkan gula dalam minuman teh mereka. Sementara hanya 26 persen dari kelompok masyarakat menengah atas yang menambahkan gula dalam teh mereka.

Yorkshire adalah area di Inggris dengan jumlah peminum teh di Inggris. Uniknya orang Yorkshire lebih memilih campuran susu dan menghindari gula hingga 42 persen. Sementara orang-orang di area timur laut Inggris tergolong pengguna gula paling banyak dengan 21 persen peserta penelitian mengatakan menambah teh mereka dengan susu, plus dua sendok atau lebih gula dalam teh mereka.

Namun meski pilihan mengonsumsi teh sangat beragam di dunia ini, di Inggris khususnya teh masih jadi minuman panas paling populer. Sekitar 44 persen penduduk mengatakan masih rajin minum teh, bahkan lebih banyak dari jenis minuman lainnya.

Pria Yang Kurang Jantan Diatas Ranjang Cenderung Kasar Pada Wanita


Laki-laki yang mereka kurang maskulin dan cepat ejakulasi, dan dia merasa stres akan hal tersebut, cenderung suka melakukan perilaku kekerasan terhadap wanita, bawahan dan anak sebagai bentuk kompensasi terhadap performa buruknya diatas ranjang, berdasarkan sebuah penelitian di Amerika Serikat. Para peneliti mengatakan, laki-laki tersebut lebih mungkin melakukan kekerasan dibandingkan dengan laki-laki yang maskulin dan mampu memuaskan pasangannya ditempat tidur.

Dengan kata lain, perilaku kekerasan terjadi ketika seorang lelaki ketakutan serta meyakini bahwa semua wanita memandang rendah dirinya karena mengetahui dirinya cepat ejakulasi, lalu merasa tertekan tentang hal tersebut. Bentuk kompensasi lain adalah dengan suka selingkuh untuk membuktikan walau dirinya kurang macho ternyata masih banyak wanita yang ingin berhubungan intim dengan mereka. Para peneliti menyebut hal tersebut sebagai ‘stres karena ketidaksesuaian norma-norma maskulinitas’. Secara umum, lelaki cenderung mengalami risiko kesehatan buruk dan cedera lebih tinggi. Sebagian karena laki-laki lebih mungkin terlibat dalam perilaku berisiko tinggi seperti seks bebas.

Jika dibandingkan dengan perempuan, lelaki memiliki tingkat yang tinggi untuk penggunaan zat berbahaya, pesta minuman keras, kenekatan, mengemudi dengan agresif, membawa senjata, dan perilaku kekerasan. Dan salah satu alasan tak sehat melakukan perilaku penuh risiko tersebut mungkin terkait dengan ‘stres karena perbedaan maskulinitas’, menurut Reidy dan rekan penulisnya.

Dia menambahkan, banyak faktor yang menyebabkan seseorang melakukan perilaku kekerasan dan tindakan berisiko. Namun, tak ada satu satu hal yang bisa sepenuhnya menjelaskan perilaku atau penyebab perilaku tersebut. Untuk penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Injury Prevention, Reidy merekrut sekitar 600 laki-laki berusia 18 sampai 50 tahun melalui situs pengumpulan data online Mechanical Turk.

Namun, bukan berarti juga semua orang yang merasa ‘kurang jantan’ akan menjadi kasar, kata Dominic Rey, dokter yang juga penulis senior penelitian dari Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit di Atlanta. “Kata kuncinya adalah ‘stres’,” katanya seperti dilansir dari laman Reuters. “Penting untuk paham bahwa itu adalah kombinasi dari dua hal.”

Para peserta disurvei tentang persepsi diri yang berkaitan dengan peran gender. Lalu para peneliti menilai apakah lelaki yang mengalami stres psikologis percaya bahwa orang lain merasa diri mereka kurang maskulin. Untuk laki-laki stres dengan keyakinan tersebut, tim peneliti juga melihat apakah stres tersebut diwujudkan dalam perilaku berisiko atau kekerasan.

Peserta yang mencetak nilai tinggi untuk perbedaan persepsi diri dan stres dilaporkan memiliki tingkat kekerasan 348 persen lebih tinggi dibandingkan laki-laki dengan ‘stres karena ketidaksesuaian persepsi maskulinitas’ yang rendah. “Jika maskulinitas seseorang terancam dalam berbagai cara, seringkali tanggapan mereka adalah mencoba menunjukkan maskulinitas secara berlebihan dengan cara lain,” kata Tristan Bridges, sosiolog di Universitas Brockport State di New York.

Seorang Wanita Cantik Berhenti Mengingat Sejak 15 Oktober 2014


Seorang ibu menderita amnesia, dia terbangun setiap hari dan percaya bahwa hari itu adalah tanggal 15 Oktober 2014. Nikki Pegram (28) tergelincir di luar Rumah Sakit Kettering di tanggal tersebut. Kepalanya terbentur di tiang besi ketika dia sedang menunggu jemputan usai melakukan operasi lutut. Benturan kepala itu menyebabkan Nikki tak sadarkan diri selama dua jam. Ketika terbangun dia tak mampu menciptakan kenangan baru.

Ibu satu orang anak itu mengalami anterograde amnesia (kejadian baru dalam ingatan jangka pendek tidak ditransfer ke ingatan jangka panjang yang permanen). Dan kini, dia meletakkan notebook di tempat tidurnya agar selalu mengingatkan dia tentang tanggal sebenarnya, dan apa yang terjadi pada dirinya. Mantan manajer pub itu mengandalkan tunjangan cacat dari Department for Work and Pensions (DWP) di Inggris.

Keluarganya kini menghadapi kehancuran finansial karena Nikki tidak punya pilihan lain selain belajar menjalani hidup karena dia tidak dapat kembali bekerja. “Setiap pagi ketika bangun saya tidak tahu jika sekarang sudah 2015.” “Saya adalah versi nyata Drew Barrymore di 50 First Dates, tapi amnesia tidak semenyenangkan dan selucu sebagaimana yang tampak di film.” Nikki merindukan Natal, liburan keluarga, bahkan ulang tahunnya sendiri sebab dia tidak ingat apa-apa setelah kecelakaan tersebut.

Peyebabnya bisa berupa organik atau fungsional. Penyebab organik bisa berupa kerusakan otak, akibat trauma atau penyakit, atau penggunaan obat-obatan (biasanya yang bersifat sedatif atau obat penenang), bisa juga disebabkan oleh operasi transplantasi sumsum tulang belakang. Sementara itu, penyebab fungsional adalah faktor psikologis.

Dampak amnesia adalah ketidakmampuan membayangkan masa depan. Menyebabkan penderita akan selalu terbayang peristiwa yang telah terjadi. Penelitian terakhir yang dipublikasikan dalam jaringan di Proceedings of the National Academy of Sciences melaporkan, amnesia dengan kerusakan pada hipokampus tidak dapat membayangkan masa depan. Itu terjadi karena orang normal yang membayangkan masa depan akan membayangkan pengalaman masa lalu untuk mengkonstruksi skenario yang mungkin dihadapi.

Rasa Cemburu Membuat Wanita Cepat Orgasme Kala Bercinta


Siapa sangka rasa cemburu bisa berdampak positif pada pasangan suami istri saat bercinta. Ternyata, selain kasih sayang, kehadiran rasa cemburu bisa berdampak baik pada aktvitas intim dengan suami.Berdasarkan sejumlah penelitian di University of Auckland, Michigan, Amerika Serikat, ditemukan kemungkinan bahwa organ vital wanita akan terstimulasi dengan menyeluruh bila hubungan seksual dilakukan bersama rasa cemburu.

Salah satu pemicu rasa cemburu pada wanita adalah saat melihat wanita lain seperti tertarik pada pasangan mereka. Sebab, kondisi tersebut membuat wanita merasa tertantang untuk memberikan yang terbaik saat sedang berdua dengan pasangannya sehingga mampu membuatnya semakin bergairah dan akhirnya cepat orgasme.

Kemudian, hal menarik yang berhasil ditemukan peneliti adalah keinginan wanita memiliki bayi lucu serta menggemaskan. Pasangan yang sedap dipandang, sehat, dan gagah merupakan beberapa kriteria yang diperlukan oleh wanita untuk memenuhi keinginan memiliki keturunan cantik atau tampan. Jadi, ketika mereka sudah menemukan pasangan yang sesuai kualifikasi, tapi diincar oleh wanita lain, kondisi yang demikian menciptakan kompetisi yang membuat wanita cemburu.

Alhasil, para peneliti menyimpulkan, kemampuan memperoleh puncak seksual tergantung dari penampilan fisik pasangan. Pasalnya, pasangan pria yang tampan membuat rasa memiliki pada wanita sangat tinggi. Selanjutnya, wanita akan melakukan sejumlah langkah positif demi menjaga hati dan mata pasangan agar tidak terjerat pada wanita lain yang salah satunya adalah menjadi cepat orgasme agar membuat pasangannya merasa menjadi laki-laki perkasa.