Monthly Archives: Februari 2012

Spesifikasi Pesawat Intai Tanpa Awak Angkatan Bersenjata Singapura Yang Akan Digunakan Mengintai Indonesia


Perkembangan teknologi pembuatan pesawat intai nirawak (unmanned aerial vehicle) yang dilakukan Amerika Serikat dan Israel memicu Singapura mengembangkan teknologi serupa. Melalui perusahaan Singapore Technologies Engineering, Singapura, mengembangkan tiga tipe pesawat intai nirawak: Fan Tail, Skyblade III, dan Skyblade IV.

Tipe pertama adalah Fan Tail, yakni pesawat intai mini yang mampu lepas landas dan mendarat secara vertikal serta terbang dalam cuaca berangin. Pesawat ini sangat ideal untuk aplikasi pengawasan di daerah perkotaan. Kemampuannya terbang secara vertikal dan bergerak horizontal meningkatkan fleksibilitas pesawat ini.

Fan Tail tidak hanya digunakan untuk keperluan sipil, tapi juga untuk misi pengintaian militer, pengawasan daerah perbatasan, peringatan dini terhadap ancaman militer, dan mengukur tingkat kerusakan pascaperang. Pesawat berbentuk kapsul vertikal setinggi 115 sentimeter dengan bagian tengah menggembung ini memiliki tiga “kaki” sebagai penyangga. Bobotnya 6,5 kilogram dan mampu terbang selama 30 menit dengan jangkauan jarak sejauh 8 kilometer.

Pesawat intai tipe kedua adalah Skyblade III dengan badan berbentuk mirip capung sepanjang 1,4 meter dan bentang sayap 2,6 meter. Pesawat berbobot maksimum 5 kilogram ini mampu terbang selama satu jam penuh dan mencapai ketinggian hingga 1.500 kaki (457 meter). Kecepatan maksimum sebesar 40 knot dan mampu menjelajah hingga sejauh 8 kilometer.

“Skyblade III harus diterbangkan dengan alat pelontar,” kata perancang pesawat intai dari ST Engineering, Wong Wei Yang, dalam pameran kedirgantaraan Singapore Airshow di Changi Exhibition Centre, Kamis, 16 Februari 2012.

Dia mengatakan Skyblade III dapat digunakan untuk aplikasi sipil maupun militer, mulai dari pengawasan daerah perkotaan hingga misi pengintaian. Dilengkapi kamera pengawas tunggal di bagian moncong, pesawat berwarna abu-abu ini dapat mengambil gambar secara detail.

“Tapi, karena kameranya hanya satu, jika beda waktu, harus ganti jenis kamera,” ujar Yang. Kamera siang tidak bisa digunakan untuk malam hari. Harga satu unit Skyblade III beserta kamera pengawasnya bisa mencapai SIN$ 100 ribu (Rp 705 juta).

Tipe ketiga dan paling besar adalah Skyblade IV. Pesawat intai ini memiliki bentuk mirip Hermes 450 buatan Elbit Systems asal Israel. Pada kondisi cuaca cerah, Skyblade IV mampu menjelajah hingga radius 100 kilometer dari lokasi peluncuran. Pesawat ini mampu terbang mencapai ketinggian 15 ribu kaki (4.575 meter) selama 6-12 jam.

Yang mengatakan, selain untuk misi militer, pesawat sepanjang 2,4 meter dengan bentang sayap 3,7 meter ini bisa digunakan untuk mencari lokasi kebakaran, mengukur suhu udara suatu daerah, serta pengambilan foto udara. Skyblade IV dilengkapi parasut yang mengembang ketika melakukan pendaratan.

Pesawat intai ini dilengkapi dua kamera beresolusi tinggi, masing-masing untuk siang dan malam hari, serta satu illuminator. Illuminator adalah sensor untuk menentukan target pengawasan atau pengintaian. Kamera dapat menangkap dan memperbesar gambar target secara detail dengan warna yang tajam. Sensor lain juga bisa ditambahkan, seperti sensor suara dan sensor panas. “Harga pesawat ini bisa mencapai SIN$ 1 juta,” kata Yang.

Menilik Kecanggihan Pesawat Intai Tanpa Awak Israel Hermes 450


Rencana Kementerian Pertahanan membeli dua unit pesawat intai nirawak senilai US$ 16 juta dari Kital Philippine Corp asal Filipina masih memicu kontroversi. Penggunaan pesawat intai impor dikhawatirkan justru dapat membocorkan rahasia negara ke negara tempat produsen pesawat tersebut maupun ke negara lain.

Untuk mengetahui sejauh mana perkembangan teknologi pesawat intai nirawak mutakhir, Tempo menyambangi stan Elbit Systems di Singapore Airshow, Rabu, 15 Februari 2012. Elbit adalah salah satu perusahaan teknologi pertahanan asal Israel, negara pesaing terkuat Amerika Serikat dalam pengembangan teknologi pesawat intai nirawak.

Elbit bersama beberapa perusahaan Israel lainnya, seperti Aeronautics, Israel Aerospace Industries, dan Innocon, mengembangkan dan memproduksi belasan merek pesawat intai nirawak yang dikembangkan menjadi 39 tipe. Semuanya dapat digunakan untuk kepentingan militer maupun sipil.

Pesawat-pesawat itu antara lain Hermes, Heron, Skylark, ETOP, Harop, MikroB, Picador VTOL UAV, Mosquito, Ghost, Bird Eye 650, Micro Falcon, Orbiter 2, Aerostar UAV, Searcher III, Blue Horizon, Harpy, Hunter, dan Air Mule.

Elbit memproduksi tiga merek pesawat intai yang cukup terkemuka di dunia, yakni Hermes, Heron, dan Skylark. Tiap merek dikembangkan menjadi beberapa tipe pesawat dengan spesifikasi dan kemampuan berbeda. Hermes, misalnya, dikembangkan menjadi Hermes 90, Hermes 180, Hermes 450, Hermes 900, dan yang terbaru adalah Hermes 1.500. Adapun Heron dikembangkan menjadi Heron I dan Heron TP.

Wakil Presiden Program Pesawat Nirawak Elbit Systems Jonathan Sinay mengatakan spesifikasi tiap tipe pesawat intai meliputi ukuran dan berat pesawat, kemampuan terbang, daya jelajah, dan daya tahan pesawat berada di udara.

Menurut Sinay, pesawat intai tipe terbaru tidak serta-merta menjadikannya paling ideal untuk digunakan. Optimal tidaknya penggunaan pesawat intai bergantung pada kondisi lapangan yang dihadapi sehingga dibutuhkan pesawat dengan spesifikasi yang sesuai.

Pesawat intai tipe apa yang paling cocok dan sesuai dengan Indonesia? Mempertimbangkan kondisi geografis, Sinay menyebutkan Hermes 450 sebagai tipe pesawat intai nirawak yang paling ideal digunakan di Indonesia. “Saya rasa untuk Indonesia dengan banyak pulau dan laut, Hermes 450 sudah cukup,” katanya.

Hermes 450 adalah “pendahulu” Hermes 900 dengan kemampuan tidak kalah canggih. Pesawat berbadan mirip tabung berwarna abu-abu ini memiliki bobot seberat 150 kilogram dan sayap terbentang horizontal sepanjang 10,5 meter serta ekor berbentuk seperti huruf “V” tegak. Hermes 450 mampu terbang hingga ketinggian 18 ribu kaki selama 20 jam. Jangkauan terbangnya mencapai jarak 60-100 kilometer.

Karena ukurannya yang relatif besar, Hermes 450 menggunakan satu roda di bagian depan dan dua roda di belakang, sehingga memerlukan landasan untuk penerbangan dan pendaratannya. Baling-balingnya terletak di bagian belakang pesawat. Adapun kamera pengintai terpasang di bagian tengah-bawah badan pesawat, di antara roda depan dan belakang. Kamera yang terpasang di dalam selubung berbentuk setengah bola itu siap mengawasi sasarannya.

Zebra Menggunakan Garis Hitam Putih Untuk Menangkal Nyamuk dan Sengatan Serangga


Pepatah kuno menyebut alasan zebra bergaris hitam putih adalah demi menyamarkan diri di hutan atau berkamuflase. Tujuannya apalagi selain untuk mengacaukan pandangan pemangsa seperti singa.

Tapi kajian terbaru yang dibuat di jurnal Experimental Biology 9 Februari 2012 menyebutkan bahwa pola hitam putih hewan yang sekeluarga dengan kuda ini justru untuk mengacaukan pandangan penggigit mungil bernama langau (lalat ternak) pengisap

Langau betina yang mengisap darah tertarik pada cahaya terpolarisasi–gelombang cahaya yang berorientasi pada arah tertentu, manusia mengenalnya sebagai silau. Silau ini memikat hampir semua lalat karena menyerupai cahaya yang terpantul di air, tempat para lalat bertelur.

Pada kuda, kulit berwarna hitam akan memantulkan cahaya yang terpolarisasi lebih baik ketimbang kulit kuda yang cokelat atau putih. Temuan tersebut pernah dikaji ahli ekologi evolusi Susanne Akesson. Akesson kemudian melanjutkan penelitian yang sama untuk zebra.

Awalnya Akesson dan tim berasumsi bahwa mantel zebra kurang menarik bagi langau ketimbang kuda berkulit hitam. Tetapi kemungkinan kulit zebra jauh lebih menarik bagi langau ketimbang kuda berkulit putih.

Hipotesis para ahli tersebut akhirnya terbukti. Para ilmuwan menguji para langau dengan memberikan model kuda dengan aneka kulit yang ditempeli dengan lem serangga. Ternyata garis zebra adalah penolak terbaik langau. Terbukti dari jumlah langau yang terjebak dari masing-masing tipe model kuda.

“Sangat mengejutkan karena di garis hitam putih mash ada ruang hitam yang merefleksikan cahaya terpolarisasi secara horizontal,” ujar Akesson. Tapi faktanya semakin sempit jarak hitam putih, semakin malas langau mendekat.

Kajian ini juga menjelaskan kenapa jeda garis semakin sempit pada bagian muka dan kaki. “Sebab muka dan kaki zebra memiliki kulit yang paling tipis,” ujar Akesson dari Universitas Lunds Swedia.

Akesson menekankan bahwa pengujian ini dilakukan di Hungaria, bukan sabana Afrika. Mereka pun hanya menggunakan model, sehingga temuan ini bukanlah kata akhir musabab kulit zebra bergaris.

Ahli biologi evolusi Universitas Manchester, Matheww Cobb, menyebut kajian tim Akesson menarik dan teliti. Tapi bukan berarti bisa mengesampingkan pakem yang ada tentang hipotesis asal usul garis zebra.

Peneliti harus membuktikan bahwa gigitan langu adalah penyebab utama serangga ini menolak zebra dan memilih kuda atau keledai. “Saya rasa mereka tahu dalam kajian mereka bahwa banyak faktor penyebab zebra bergaris,” ujar Cobb.

Terbukti Bahwa Kerja Kelompok dan Kebersamaan Dalam Selesaikan Masalah Membuat IQ Turun


Bagi Anda yang sering mengerjakan tugas secara berkelompok, sebaiknya waspada karena lama-kelamaan bisa membuat Intelligence Quotient (IQ) menurun.

Pernyataan itu disampaikan Read Montague, ketua peneliti dari Virginia Polytechnic Institute and State University atau Virginia Tech.

“Anda biasanya sering bergurau ketika ketua kelompok menyampaikan tugas dan membuat otak Anda serasa ‘berhenti’ berjalan, tapi itulah kenyataannya,” kata Montague, seperti dikutip Dailymail, Rabu, 8 Februari 2012.

Kerja kelompok, menurut dia, tak hanya memakan waktu bekerja, namun juga membuat orang jadi tambah bodoh.

Dalam penelitian yang dilakukannya, ia menemukan beberapa orang yang bekerja di dalam grup tadi justru memiliki nilai yang rendah saat dites tingkat kecerdasannya.

Alasannya, kata Montague, ada beberapa anggota kelompok yang sangat antusias untuk melakukan pekerjaan dengan sangat bagus dan berusaha mentransfer kekuatan otak mereka kepada teman-temannya. Upaya itu juga dilakukan demi mempertahankan status sosial mereka di dalam kelompok.

Akibatnya, anggota kelompok yang pasif justru hanya mendapatkan limpahan pekerjaan tanpa ikut menyumbangkan gagasan atau malah tidak bekerja sama sekali.

Temuan ini diperoleh ketika Montague melakukan tes kecerdasan sosial. Dengan alat scanner Magnetic Resonance Imaging (MRI), ia mengamati respons otak dari sejumlah relawan penelitian.

Hasilnya, perempuan tampaknya terkena imbas paling signifikan. Dari 13 relawan, 10 di antaranya menunjukkan kinerja otak atau Intelligence Quotient yang semakin rendah setelah melakukan kerja kelompok.

Penyebab penurunan IQ ini, menurut peneliti Kenneth Kishida, lantaran mereka mengalami kecemasan dan emosi ketika bersosialisasi di dalam kelompok. “Mereka tertekan dalam sebuah kompetisi,” katanya.

Kishida mengatakan para peneliti belum mengamati lebih jauh berapa besar efek yang ditimbulkan dari kerja kelompok terhadap penurunan IQ.

Cara Memakai Teknologi Cat Semprot Untuk Mengatasi Sinyal Wifi atau 3G Yang Lemah


Akhir minggu lalu Google mengumumkan program “Solve for X”, yaitu ajang bertukar ide untuk memecahkan suatu masalah dengan menggunakan ide radikal dan teknologi pendobrak.

Pada event pertama program ini, Chamtech, start up yang fokus mengembangkan teknologi militer, memperkenalkan cat semprot aerosol yang berfungsi sebagai antena. Teknologi ini dapat mengatasi masalah sinyal ponsel atau radio yang lemah.

“Antena semprot” ini dapat digunakan pada berbagai permukaan, mulai dari pohon, tembok, hingga kain.

Dikutip dari The Verge, Senin, 13 Februari 2012, CEO Chamtech, Anthony Sutera, menjelaskan ketika disemprotkan cat ini akan membentuk lapisan yang terdiri dari ribuan nano-kapasitor yang dapat bertindak sebagai antena wireless untuk berbagai perangkat.

Kepala Divisi Teknologi Chamtech, Rhett Spencer, menyatakan cat ini dapat diaplikasikan pada antena ponsel dan diklaim dapat meningkatkan level sinyal hingga sepuluh persen.

Selain itu, dalam sebuah video demo, Sutera menjelaskan bahwa pohon yang diubah menjadi antena dapat menyiarkan sinyal VHF lebih dari 14 mil, dua kali lipat dari jangkauan antena tradisional. Selain itu cat ini juga dapat mengirimkan sinyal radio sejauh lebih dari satu mil di bawah air.

Perusahaan ini menjelaskan salah satu pengguna cat semprot ini berasal dari pemerintah, tapi Chamtech tidak bersedia menjelaskan lebih detail siapa pembeli produk ini. Tahun ini Chamtech berencana memperluas pangsa pasar, tidak hanya kalangan pemerintah dan militer, tapi juga produsen ponsel dan alat medis.

Sutera yakin teknologi ini dapat digunakan oleh para peneliti cuaca dan oseanografi, teknisi ynag bekerja di bawah air, petugas penyelamat, operasi militer, penerbangan, dan oleh produsen mobil, telepon, TV, radio dan barang elektronik lainnya.

Proses Terjadinya Pembalikan Medan Magnet Bumi Beserta Akibatnya Pada Manusia


Sepanjang sejarah, kutub magnetik bumi mengalami pembalikan hingga ratusan kali. Kini ilmuwan, seperti dikutip Livescience, mengamati peristiwa pembalikan tersebut mulai terjadi.

Kutub magnetik bumi dihasilkan oleh atom-atom besi di inti bumi yang bersusun bersama membentuk magnet raksasa. Batang magnet raksasa di tengah bumi inilah yang menyebabkan jarum kompas selalu mengarah ke kutub utara dan selatan.

Namun catatan geologi dari tanah di dasar Samudera Atlantik menunjukkan kutub magnetik bisa berbalik arah oleh sebab yang belum diketahui. Perubahan ini menyebabkan jarum kompas berputar 180 derajat dari posisi saat ini.

Proses pembalikan arah memakan waktu tak singkat yaitu sekitar 1.000-10.000 tahun. Selama waktu itu pula medan magnet bumi melemah. “Bumi akan memiliki lebih dari dua kutub magnet hingga inti mengumpulkan kekuatannya,” ujar Monika Korte, Direktur ilmiah dari Niemegk Geomagnetic Observatory, Jerman.

Pelemahan medan magnet selama proses pembalikan akan mempengaruhi kehidupan di bumi. Maklum saja, medan magnet merupakan tameng pelindung bumi dari serangan partikel kosmik berbahaya yang datang dari luar angkasa. Apakah pelemahan ini mengancam keselamatan manusia?

Profesor Geofisika dari University of Rochester, John Tarduno mengatakan, tanpa medan magnet, bumi mudah ditembus badai matahari. Partikel kosmik bereaksi dengan atmosfer menciptakan lubang ozon besar yang bertahan selama 1-10 tahun. “Penyakit kanker kulit akan meningkat,” ujar dia.

Pelemahan medan magnet seperti ini juga dikaitkan dengan penyusutan populasi manusia Neandertal oleh ahli dari geologi dari Institute of Earth Physics of Paris, Jean-Pierre Valet.

Korte berbeda pendapat dengan dua peneliti sebelumnya. Menurut dia, selama proses pembalikan, atmosfer bekerja sebagai tameng cadangan dan menepis partikel berbahaya. Karenanya tak akan ada dampak berbahaya pada tubuh manusia.

Meski demikian, ia mengingatkan, teknologi komunikasi dan jaringan listrik menjadi rentan dirusak oleh partikel kosmik. “Penting bagi manusia menemukan strategi mitigasi,” ujar Korte.

Pembalikan medan magnetik bumi terakhir kali terjadi sekitar 780 ribu tahun lalu ketika manusia berada di Zaman Batu. Sejak 160 tahun terakhir, ilmuwan mengamati tumbuhnya benih pembalikan medan magnetik di sekitar Brasil dan Atlantik Selatan. “Pertumbuhan berada pada tingkat yang membahayakan,” kata Tarduno.

Sistem Pertanian Berpindah Dengan Membuka Hutan Suku Bantu Membuat Sebagian Afrika Menjadi Gurun Pasir


Hutan tropis Afrika tergolong unik karena memiliki savana luas. Penelitian terbaru menunjukkan manusia Afrika yang hidup ribuan tahun lalu mengubah bentang alam hutan tropis.

Fakta tersebut ditarik dari penelitian sedimen yang diangkat dari hulu Sungai Kongo. Tanah yang tenggelam di dasar sungai terdalam dunia ini menunjukkan campur tangan manusia dalam menciptakan savana di Afrika Tengah.

Pada lapisan sedimen berumur 3.500 tahun, peneliti menemukan terjadinya penumpukan endapan humus. Padahal, pada masa tersebut, curah hujan cenderung tak berubah banyak ketimbang waktu sebelumnya.

Penjelasan yang sangat mungkin mengenai fenomena ini adalah diterapkannya sistem pertanian oleh orang Bantu. Pemukim baru di sekitar daerah aliran Sungai Kongo menanam tumbuhan yang membutuhkan banyak cahaya matahari seperti kelapa sawit, sorgum mutiara, dan singkong. Karenanya mereka harus membuka hutan tropis agar pohon tak membayangi tanah. Kayu hasil tebangan juga bisa dijadikan arang yang berguna untuk membakar bahan pembuat senjata dan gerabah.

Perubahan lahan terbuka bekas hutan menjadi savana ini berlangsung cepat. Apalagi pada saat bersamaan terjadi fluktuasi cuaca akibat faktor alamiah seperri erupsi gunung berapi atau tabrakan meteorid.

“Fluktuasi cuaca bersamaan dengan migrasi orang Bantu yang menerapkan pertanian intensif berdampak pada hutan hujan tropis Afrika,” ujar peneliti iklim dari Unite de Recherche Geosciences Marines, Germain Bayon, melalui makalah yang diterbitkan jurnal Nature.