Monthly Archives: Juli 2010

Inovasi Tiada Henti IPB Dalam Membuat Pembungkus Sekaligus Pengawet Makanan


Pembungkus sekaligus berfungsi mengawetkan makanan olahan dari Institut Pertanian Bogor ini menginovasi sistem pengawetan konvensional. Bahan pengawet kimia ataupun nonkimia tak perlu lagi dilarutkan ke dalam makanan hingga bisa terakumulasi ke tubuh kita.

Inovasi ini muncul karena konsumen makin menghendaki makanan sehat tanpa zat aditif,” kata Endang Warsiki, dosen dan periset pada Departemen Teknologi Industri Pertanian Institut Pertanian Bogor (IPB), Kamis (29/7).

Selama tiga tahun terakhir ini, Endang mengembangkan riset itu bersama Titi Candra Sunarti (Departemen Teknologi Industri Pertanian IPB) dan Rizal Damanik (Departemen Gizi Masyarakat IPB). Inovasi pembungkus yang sekaligus mengawetkan itu disebut sebagai Kemasan AM (Antimikroba).

”Kemasan AM pada prinsipnya menghambat pertumbuhan mikroba pada lapisan makanan paling luar,” kata Endang.

Pengamanan makanan pada lapisan luar dengan Kemasan AM punya alasan tersendiri. Endang membuktikannya dengan membelah butir bakso basi dan mengandung mikroba (kapang atau bakteri) yang bisa mengakibatkan sakit pencernaan. Bakso basi itu ternyata hanya pada lapisan permukaan. Di bagian dalam masih sempurna.

Agen antimikroba

Fungsi mengawetkan pada Kemasan AM tidak terlepas dari kinerja agen antimikroba. Endang mengambil zat aktif agen antimikroba dari bahan-bahan alami yang mudah didapat, antara lain kunyit, daun sirih, dan bawang putih. Ketiganya agen antimikroba yang telah teruji.

”Kunyit terbukti bisa membuat makanan olahan tahan lama. Kita biasa menemui masakan padang yang bisa tahan lama itu karena banyak mengandung kunyit,” kata Endang.

Selebihnya, daun sirih kerap dipakai untuk berkumur, membunuh kuman atau mikroba di dalam mulut. Bawang putih juga memiliki zat aktif yang menghambat pertumbuhan mikroba.

Agen-agen antimikroba itulah yang kemudian dilekatkan pada bahan pembungkus Kemasan AM. Kemasan AM menggunakan bahan pembungkus dari bubuk kitosan.

Kitosan merupakan bahan tepung yang dimurnikan dari cangkang udang atau rajungan dengan metode tersendiri. Kitosan inilah yang kemudian dibuat menjadi lembaran seperti lembaran plastik.

Cara membuat lembaran kitosan itu sederhana. Larutkan kitosan ke dalam air. Campurkan ke dalamnya asam asetat atau asam cuka kandungan 1 persen. Penghomogenan atau metode pencampuradukan larutan kitosan dengan asam asetat dilakukan selama 10 menit.

Setelah tercampur dengan baik, atau homogen, segera dipanaskan. Tidak dibutuhkan api besar untuk memanaskannya karena suhu yang diinginkan hanya 50 derajat celsius selama 60 menit atau satu jam.

Setelah pemanasan, campurkan larutan gliserol 0,5 persen. Gliserol memiliki bahan dasar minyak sawit sehingga aman dikonsumsi. Pada akhirnya, semua bahan yang digunakan memang aman untuk dikonsumsi.

Larutan kitosan, asam asetat, dan gliserol akhirnya sudah menjadi larutan film. Film itu lapisan tipis seperti plastik.

Dinginkan larutan tersebut selama 24 jam. Setelah itu, larutan kental siap dituangkan ke atas permukaan rata, misalnya kaca. Tujuannya untuk membentuk lembaran yang akan digunakan sebagai pembungkus makanan.

Setelah larutan dituangkan di atas permukaan kaca, segera keringkan. Pengeringannya lebih baik menggunakan oven dengan pengaturan suhu 40 derajat celsius selama beberapa menit hingga terlihat menjadi lembaran yang kering dan kuat. Jadilah Kemasan AM.

Zona bening

Lembaran yang kemudian disebut Kemasan AM ini diuji dan menghasilkan zona bening. Caranya, sepotong Kemasan AM diletakkan di atas cawan petri yang sudah ditebari inokulum bakteri.

Selama 48 jam dibiarkan. Kemudian terjadilah penyingkiran jasad renik tersebut.

”Zona bening dimaksudkan sebagai area Kemasan AM dan sekelilingnya yang bening atau tidak terdapat bakteri,” ujar Endang.

Uji coba memperoleh zona bening sekaligus menunjukkan Kemasan AM efektif menghalau atau menghambat mikroba. Jika produk makanan kemudian dibungkus dengan Kemasan AM, mikroba pun tak bisa menembus kemasan ini.

Bakso ikan kemudian digunakan untuk uji coba pengemasan dengan cara lain.

Caranya larutan berisi kitosan, asam asetat, gliserol, dan agen antimikroba (kunyit, daun sirih, atau bawang putih), tidak perlu dijadikan sebagai lembaran. Larutan tersebut cukup sebagai cairan kental yang akan berfungsi melapisi bakso ikan.

”Bakso ikan tinggal dicelupkan ke dalam larutan selama lima menit,” kata Endang.

Hasilnya kemudian dibandingkan dengan bakso ikan biasa. Menurut Endang, pada suhu refrigerator atau pendingin sampai 5 derajat celsius, bakso ikan biasa tidak bisa bertahan lebih dari 21 hari, sedangkan bakso ikan yang dilapisi larutan antimikroba itu bisa bertahan dan masih enak dikonsumsi lebih dari 21 hari.

”Jika diuji coba pada suhu ruang atau sekitar 27 derajat celsius, bakso ikan biasa hanya tahan sampai 1,5 hari, sedangkan bakso ikan dilapisi dengan larutan antimikroba dua kali lipat lebih tahan lama,” kata Endang.

Endang beserta rekan-rekannya belum berencana mematenkan metode pengawetan dengan Kemasan AM ini. Industri yang ingin mengaplikasikannya, menurut Endang, harus mengejar nilai keekonomisannya.

”Kalau menggunakan kitosan, masih belum bisa ekonomis. Jatuhnya akan mahal,” kata Endang.

Salah satu cara mencapai nilai keekonomisan dengan cara melekatkan larutan antimikroba ke dalam produk kemasan konvensional, seperti plastik atau kertas. Makanan olahan yang ingin dibungkus tidak perlu lagi ditambah zat pengawet.

Konsumen pun lebih tenang mengonsumsinya. Tidak ada lagi risiko mengakumulasikan bahan pengawet di dalam tubuh kita.

Budiman Sang Inovator Pita Volume Kayu Dari Indonesia


Minimnya informasi, tingkat pengetahuan yang rendah, dan mendesaknya kebutuhan ekonomi sering kali menyebabkan petani hutan rakyat menjadi tidak berdaya ketika berhadapan dengan tengkulak. Akibatnya, ketika menjual kayu, petani menghitungnya berdasarkan jumlah batang pohon yang akan dijual. Padahal, lazimnya di pasaran, penjualan kayu dihitung berdasarkan volume.

Konsekuensi lanjutan dari praktik seperti itu ialah petani rugi. Sebaliknya, si tengkulak dapat mengeruk untung besar dari cara jual-beli kayu seperti itu karena mereka akan menjual kayu tersebut berdasarkan volume. Akibatnya, ada potensi pendapatan yang tidak diterima oleh petani.

Di samping itu, dari sisi kelestarian hutan, praktik penjualan kayu berdasarkan batangan ini mengancam keberadaan hutan. Karena petani menjual kayu dalam bentuk log atau batangan, mereka cenderung menjual lebih banyak pohon daripada jika menjual berdasarkan volume.

Padahal, kayu sangat berharga dan bernilai tinggi. Semakin lama kayu berada di hutan, fungsi ekologisnya akan semakin lama berjalan.

Kondisi seperti itulah yang menggugah Budiman Achmad mencari jalan keluar yang tidak merugikan petani. ”Kalau hutan rakyat mau lestari, petani harus sejahtera. Kalau petani hutan rakyat sejahtera, ancaman gangguan terhadap hutan negara pun bisa ditekan. Sebenarnya, hanya dengan menjual kayu sedikit saja mereka sudah bisa mencukupi kebutuhannya. Tidak perlu menjual kayu banyak-banyak,” tuturnya.

Budiman adalah Ketua Kelompok Peneliti Sosial Ekonomi Kehutanan pada Balai Penelitian Kehutanan Ciamis (BPKC).

Budiman tak hanya berwacana, tetapi dia juga menawarkan solusi konkret berupa sebuah pita pengukur volume kayu.

Sepintas, pita volume kayu hasil karya Budiman tidak jauh berbeda dengan pita meteran yang biasa dipakai penjahit pakaian. Pita volume kayu lebarnya sekitar 3 sentimeter. Di situ tertera dua deret angka. Deret pertama adalah angka yang menunjukkan panjang lingkar kayu dalam sentimeter yang ditulis dengan tinta merah. Sementara angka pada deret kedua ialah deretan angka penunjuk volume dalam meter kubik yang ditulis dengan tinta hijau.

Pengukur volume kayu

Selama ini, kata Budiman, petani biasanya menggunakan tabel volume untuk mengukur volume kayu. Cara ini dinilai merepotkan sebab petani harus mengukur terlebih dulu berapa lingkar batang pohon, kemudian menghitung diameter. Setelah itu, baru mencocokkannya dengan tabel volume kayu.

Beda halnya jika petani menggunakan pita volume. Cukup hanya mengukur lingkar pohon dengan cara melingkarkan pita volume, petani sudah mengetahui berapa meter kubik volume batang pohon itu. Selain itu, pita volume sangat praktis untuk dibawa-bawa dalam saku celana atau baju.

Namun, Budiman menegaskan, pita volume kayu ciptaannya hanya berlaku untuk pohon pinus di Tapanuli Utara. Pita ini tidak untuk dipakai pada komoditas lain dan daerah lain. ”Pita volume ini memang dibuat di Ciamis, tetapi rumus pembuatan pita ini saya bikin berdasarkan data lapangan di Tapanuli Utara, tempat saya bekerja sebelum dipindah ke Ciamis,” ujar pria kelahiran Nganjuk, Jawa Timur, 51 tahun lalu, itu.

Setiap daerah memiliki karakter tanah yang berbeda-beda. Demikian pula respons dan pertumbuhan tanaman terhadap tanah tersebut. Karena itu, kata Budiman, mengonversi panjang lingkar batang suatu jenis tanaman di satu daerah ke dalam ukuran volume memiliki penghitungan tertentu. Begitu juga kayu di daerah lain, ada rumus penghitungannya sendiri-sendiri.

Setelah sering dipamerkan dalam seminar dan gelar teknologi kehutanan di BPKC, banyak pihak yang meminta Budiman membuat pita volume kayu untuk komoditas lain, misalnya sengon. Akhirnya, BPKC pun meresponsnya dan kini sebuah tim sedang bekerja membuat pita volume untuk kayu sengon.

Forum Rimbawan

Bagi pria yang kini mengikuti program doktoral di Universitas Gadjah Mada (UGM) itu, pita volume kayu merupakan contoh karya nyata peneliti untuk petani. Hasil-hasil riset dari berbagai lembaga penelitian akan sia-sia jika tidak bisa diaplikasikan oleh masyarakat petani secara sederhana. Jika demikian adanya, peneliti dan karya-karyanya akan tetap menjadi menara gading yang sulit dijangkau oleh petani yang merupakan sebagian besar penduduk negeri ini.

Sebagai peneliti, Budiman tidak melulu berkutat dengan penelitian. Dia terlibat secara langsung membina sejumlah kelompok tani hutan. Dalam setiap pertemuan dengan para petani, ia selalu menyampaikan apa saja teknologi kehutanan yang terbaru, mulai dari cara menanam yang baik hingga fasilitasi pasar. Semua ia lakukan semata-mata agar petani lebih cerdas.

Kuatnya keinginan untuk mencerdaskan petani mendorong Budiman membuka saluran komunikasi dengan petani, baik melalui telepon, surat elektronik, maupun datang langsung ke kantor. Dia bersedia membantu petani mengatasi permasalahannya, kapan saja.

Budiman juga membina Forum Rimbawan Bina Wana Enterprise (semacam kelompok tani hutan) di wilayah Ciamis-Banjar, dengan jumlah tanaman mencapai 79.000 pohon.

Setiap berinteraksi dengan petani, Budiman selalu menerima keluhan petani yang sulit menaksir volume kayu. Akibat pengetahuan yang minim itu, petani tidak memiliki posisi tawar yang tinggi di hadapan pembeli atau tengkulak ketika menjual kayunya.

Akhirnya setiap bertemu dengan petani, misalnya dalam gelar teknologi, sosialisasi, maupun penelitian di lapangan, Budiman menyampaikan bagaimana menghitung volume kayu yang benar kepada petani. Ketika terjun ke lapangan atau dalam gelar teknologi, ia selalu mendemonstrasikan cara menghitung volume kayu yang benar.

Untuk lebih memudahkan petani menghitung volume kayu, ia pun sedang menyiapkan pita pengukur volume kayu untuk kayu sengon di Jawa Barat. ”Nantinya pita volume kayu itu akan kami bagikan gratis kepada kelompok tani,” ujarnya.

Dia mengharapkan, ke depan peneliti semakin mampu melahirkan karya yang aplikatif untuk kepentingan petani. Pita volume kayu hasil proses kreatifnya semoga menjadi inspirasi bagi peneliti lain.
• Lahir: Nganjuk, 4 November 1959

• Pekerjaan: Pegawai Negeri Sipil

• Jabatan: Ketua Kelompok Peneliti Sosial Ekonomi Kehutanan di Balai Penelitian Kehutanan Ciamis

• Istri: Dian Dhiniyati (42)

• Anak: Hanifah Ramdaniah (11),Yasmin Sekar Arum (9), Kurnia Cahya Nisa (5)

• Pendidikan:
– S-1 Manajemen Hutan IPB, lulus 1985
– Magister School of Forestry, University of Canterbury, Selandia Baru, lulus 1995
– Program doktoral Kebijakan Kehutanan, UGM Yogyakarta, masuk 2009

Asteroid Bahaya Terbesar Dari Luar Angkasa Yang Selalu Mengancam Kita


Bicara soal asteroid, sebuah kabar gembira tiba hari Minggu (13/6/2010). Pesawat penelitian ruang angkasa Jepang, Hayabusa, telah kembali ke Bumi dengan membawa contoh debu dari asteroid Itokawa. Debu tersebut diharapkan bisa membuka teka-teki proses awal pembentukan sistem Matahari pada tata surya kita.

Hayabusa yang mendarat di daerah terlarang militer Woomera di bagian selatan Australia itu mengangkasa tahun 2003. Dia mencapai asteroid berbentuk kentang Itokawa pada 2005. Sekretaris Parlemen Australia untuk Inovasi dan Industri Richard Marles berkomentar, “Sebenarnya, untuk membawa sampel itu ke planet ini sudah terlambat. Namun, itu lebih baik daripada tidak. Sungguh sebuah pencapaian yang menakjubkan.”

Sementara itu, ingatan kita mungkin masih segar. Bulan lalu Jakarta digegerkan oleh jatuhnya meteoroid di sebuah rumah di Duren Sawit, Jakarta. Kabar serupa datang dari Bima, Nusa Tenggara Barat—yang kemudian terbukti hanya akibat dari rusaknya jaringan listrik. Sebelumnya, telah ada beberapa catatan meteoroid jatuh di wilayah Indonesia.

Di Australia barat, tahun 1960, dua pekerja di Millbillillie menyaksikan sebuah bola api meluncur ke bumi. Sepuluh tahun kemudian baru ditemukan serpihan meteoroid.

Survei oleh institusi the International Spaceguard sejak tahun 1998 telah menghasilkan katalog berisi semua asteroid yang jaraknya cukup dekat dengan Bumi (near earth asteroids/NEA). Asteroid-asteroid tersebut diameternya lebih panjang dari satu kilometer. Di sisi lain, asteroid kecil yang diameternya berukuran kurang dari satu kilometer sebagian besar masih tidak terdeteksi.

Meskipun impak langsung akibat ditumbuk asteroid kecil tidak bersifat ekstrem, asteroid kecil ini jumlahnya amat banyak. Mereka berkeliaran di luar angkasa. Akibatnya, kemungkinan tertumbuk asteroid kecil semakin besar. Peristiwa inilah yang diteliti dan impak tumbukannya dihitung.

Dari bumi ke angkasa

Sebelum tahun 1991, informasi tentang asteroid hanya bisa didapatkan melalui penelitian yang berbasis di Bumi. Sejumlah penelitian berbasis Bumi yang dilakukan, di antaranya, adalah pada asteroid Toutatis, Castalia, Geographos, dan Vesta.

Toutatis, Geographos, dan Castalia diamati dengan radar saat mereka berada di dekat Bumi, sementara Vesta diamati dengan teleskop ruang angkasa Hubble.

Baru pada Oktober 1991, asteroid 951 Gaspra didatangi oleh pesawat ruang angkasa Galileo. Ini merupakan asteroid yang pertama kali bisa dipotret dengan resolusi tinggi. Galileo kembali mengamati asteroid, kali ini asteroid 243 Ida pada Agustus 1993. Keduanya dimasukkan ke dalam klasifikasi tipe-S, komposisinya dominan unsur silikat.

Pada 27 Juni 1997, pesawat ruang angkasa NEAR mendekati asteroid 253 Mathilde dengan kecepatan tinggi. Hal itu merupakan pertama kalinya para ilmuwan bisa mengamati dari dekat asteroid tipe-C, asteroid ini kaya akan unsur karbon. Penelitian ini unik karena NEAR tidak dirancang untuk melakukan penerbangan di dekat asteroid itu. NEAR ditujukan untuk mengamati asteroid Eros pada Januari 1999.

Dampak tumbukan

Penelitian awal itu dilakukan untuk meneliti dampak dari tumbukan sejalan peningkatan energi. Sebuah asteroid berbentuk telur berkecepatan sekitar 19.000 kilometer per detik dengan diameter bervariasi (bentuknya tidak rata) akan meningkat energi kinetiknya.

Contohnya, sebuah asteroid berdiameter 100 meter akan menyebabkan kematian di lokasi setempat dan kerusakan luas yang bisa menjangkau hingga ke beberapa negara saat asteroid menumbuk Bumi entah di daratan atau di lautan.

Sementara asteroid berdiameter 200 meter yang menghantam Bumi di lautan impaknya amat signifikan, antara lain bisa memicu terjadinya tsunami yang berdampak global. Adapun asteroid berdiameter 500 meter yang jatuh di lautan akan menyebabkan kematian masif dan kerugian ekonomi skala global.

Nick Bailey dari Universitas Southampton Jurusan Ilmu Teknik, Inggris, bersama rekannya, Dr Graham Swinerd dari universitas yang sama, dan Dr Richard Crowther dari Laboratorium Rutherford Appleton Laboratory, Inggris, telah mengembangkan perangkat lunak yang mampu mengukur besarnya potensi risiko tumbukan asteroid pada Bumi.

Perangkat lunak itu dinamai NEOimpactor. Perangkat ini secara khusus dikembangkan untuk mengukur dampak dari tumbukan asteroid berukuran “kecil”—berdiameter kurang dari satu kilometer—ke Bumi.

“Potensi ancaman asteroid menabrak Bumi semakin hari semakin disadari dan diterima sebagai bencana alam tunggal terbesar yang dihadapi oleh kemanusiaan,” ujar Bailey.

Tim peneliti tersebut menggunakan data mentah dari simulasi impak beruntun. Hasilnya digunakan untuk menetapkan peringkat setiap negara. Peringkat tersebut didasarkan pada seberapa sering sebuah wilayah akan dihantam asteroid dan seberapa parah dampak dari setiap tumbukan tersebut.

Hasilnya menunjukkan, ada 10 negara yang paling berisiko kejatuhan asteroid, yaitu China, Indonesia, India, Jepang, Amerika Serikat, Filipina, Italia, Inggris, Brasil, dan Nigeria.

Jika dilihat dari sudut korban jiwa, China, Indonesia, India, Jepang, dan Amerika Serikat adalah negara-negara yang paling terancam. Artinya, korban jiwa akan sangat banyak. Sementara dari segi dampak ekonomi terparah, negara-negara seperti Amerika Serikat, China, Swedia, Kanada, dan Jepang adalah yang paling menderita karena hancurnya infrastruktur.

Dari dua aspek dampak tersebut, Inggris berada di urutan kedelapan dalam daftar negara-negara paling rawan terkena dampak. Dari daftar 20 besar untuk kedua dampak itu, lebih dari 10 negara muncul pada kedua daftar dampak. “Dampaknya pada populasi dunia dan pada infrastruktur memang luar biasa besar,” kata Nick.

“Sekitar seratus tahun lalu, sebuah lokasi yang terpencil di dekat Sungai Tunguska di kawasan Siberia menjadi lokasi jatuhnya meteoroid. Dampaknya amat luar biasa, padahal asteroidnya hanya berdiameter sekitar 50 meter. Asteroid tersebut meledak di udara. Dampak saat itu hanya berupa hancurnya hutan—yang langsung rata dengan tanah,” tambahnya.

Dia melanjutkan, kalau saja asteroid jatuh di London, dampaknya sama dengan dampak yang diakibatkan gempa besar bermagnitudo 25 (M25), yang berarti bisa menghancurkan semua yang ada di sekitar episentrum. Catatan: magnitudo di atas 8 memiliki kategori tersebut: menghancurkan semuanya yang ada di sekitar episentrum.

“Dari hasil itu berarti, negara-negara tersebut merupakan negara-negara yang terbesar berisiko mengalami bencana besar. Oleh karena itu, mereka harus segera menyiapkan langkah-langkah mitigasi menghadapi ancaman itu,” tutur Nick.

Bencana yang mengintip dari luar angkasa selama ini memang tidak terlalu populer. Jauh berbeda dibandingkan dengan bencana geologis atau bencana iklim. Bencana dari luar angkasa memang jarang terjadi, tetapi dampaknya sebenarnya bisa amat masif

Merahnya Mars dan Birunya Bintang Regulus Disatu Langit


Langit malam di bulan Juni akan menjadi pemandangan elok bagi astronom maupun warga biasa. Pasalnya, planet merah Mars dan bintang biru Regulus yang berada pada posisi terdekatnya bulan ini akan tampak sebagai bintang ganda yang bersinar terang di arah barat langit.

Antara tanggal 2-10 Juni, Mars dan Regulus berjarak 2,5 derajat satu sama lain. Konjungsi (jarak terdekat antara dua benda angkasa) akan terjadi pada 6 Juni, pada saat Mars hanya berjarak 0,8 derajat dari Regulus. Pada malam sesudahnya, jaraknya akan menjadi 0,9 derajat.

Mars akan bersinar pada magnitudo 1,2, yang berarti sedikit lebih terang daripada Regulus pada magnitudo 1,34 (semakin besar angkanya semakin kurang terang).

Pada awal bulan ini, Mars bergerak ke arah gugusan bintang Leo, di mana Regulus—bintang berusia 250 juta tahun dan berjarak 79 tahun cahaya dari Bumi—berada. Pada akhir Juli, Mars akan berada di selatan ekor sang Singa (Leo), mendekati lokasi bintang Denebola. Lalu pada bulan September, Mars akan kehilangan kecemerlangannya hingga magnitude 1,5 ketika jaraknya menjauh 322 juta kilometer dari Bumi.

Dengan mata telanjang dan dengan teropong, Anda bisa dengan mudah membedakan Planet Mars dan bintang Regulus. Mars, meski disebut planet merah, akan tampak oranye keemasan, sedangkan bintang Regulus bersinar putih kebiruan akibat fusi hidrogen menjadi helium di intinya.

Cara mengukur jarak keduanya di angkasa bisa menggunakan kepalan tangan kita sebagai sekstan. Kepalan tangan kita yang dihadapkan ke angkasa menunjukkan jarak sekitar 10 derajat busur di angkasa.

Primata Yang Sudah Punah Selama 60 Tahun Kini Muncul Kembali


Setelah dianggap punah selama  60 tahun karena habitatnya dibabat menjadi perkebunan teh, sejenis primata unik ditemukan kembali dan berhasil difoto. Sebelumnya primata jenis Loris Horton Plains (Loris tardigradus nycticeboides) ini sempat dilaporkan terlihat pada tahun 2002, namun tidak ada bukti foto yang menyertainya.

Penelitian selama lebih dari 1000 malam dilakukan di 120 wilayah berhutan di Sri Lanka oleh para ahli biologi bekerjasama dengan Zoological Society of London (ZSL). Pencarian ini akhirnya menemukan loris di enam wilayah, dan para peneliti menangkap tiga spesimen hidup untuk diteliti

Alasan utama yang membuat hewan ini menghilang adalah lenyapnya habitat mereka. “Banyak lahan yang dibuka dan hutan-hutan yang tadinya menutupi barat daya Sri Lanka telah diubah jadi kebun teh,” kata Dr Craig Turner dari ZSL.

Diperkirakan saat ini jumlah loris tinggal 100 ekor sehingga menjadikannya salah satu dari lima hewan paling terancam populasinya. Namun karena sedikit saja yang diketahui mengenai loris, maka jumlahnya bisa jadi di bawah 60 ekor, yang artinya akan membuatnya sebagai jenis yang paling langka.

Loris pertama kali ditemukan secara ilmiah tahun 1937. Namun kemudian dianggap punah karena tidak ada lagi laporan mengenainya. Hewan yang bergerak lambat ini panjangnya sekitar 20 cm dan berat sekitar 310 gram. Dibandingkan dengan loris dataran rendah, loris Horton Plains memiliki kaki lebih pendek dan bulu lebih panjang.

Mawar Hijau Kini Sudah Bisa Tumbuh Di Kebun Raya Bali


Mawar merah sering menjadi lambang asmara. Nah, bagaimana kalau bunga mawar berwarna hijau? Lambang cinta lingkungan mungkin kali ya?

Nah, soal mawar hijau yang mungkin belum banyak diketahui itu kini bisa dijumpai di Kebun Raya Bali, salah satu obyek wisata di kawasan Bedugul, Bali.

Sosok tanamannya sendiri tak jauh berbeda dengan mawar pada umumnya, dengan batang bercabang berduri serta daun menyirip. Uniknya, warna mahkota bunganya seluruhnya hijau. Yang mungkin agak berbeda, ukuran mahkota bunganya lebih kecil daripada mawar pada umumnya.

Mawar hijau adalah salah satu bonus keunikan yang bisa dinikmati pengunjung Kebun Raya Bali. Kenapa bonus? Karena kehadirannya tak terlalu menonjol. Koleksi mawar hijau tersebut bisa ditemui di area koleksi mawar yang tidak jauh dari pintu masuk Kebun Raya Bali.

“Mawar hijau adalah salah satu keunikan Kebun Raya Bali. Bisa dilihat setiap saat karena bunganya mekar tanpa tergantung musim,” ujar Dr Bayu Adjie, Kepala Riset Kebun Raya Bali, di sela-sela workshop penulisan artikel lingkungan yang digelar CiFOR, 17-23 Juli 2010.

Ia mengatakan, sejauh ini tanaman tersebut baru dikoleksi Kebun Raya Bali dan Kebun Raya Cibodas, Jawa Barat. Koleksi yang ada di Kebun Raya Bali merupakan sumbangan seorang kepala desa di Candikuning, Baturiti, Tabanan, daerah dekat Kebun Raya Bali.

Koleksi pertama masuk tahun 1976. Konon, asal tanaman tersebut dari kolektor tanaman bunga di Malang, namun sampai sekarang belum diketahui apakah tanaman tersebut asli dari sana atau didatangkan dari daerah lain.

“Diperkirakan, mawar hijau hasil silangan dua jenis spesies mawar tapi secara alami,” kata Putu Suendra, Koordinator Jasinfo Kebun Raya Bali. Pihaknya saat ini mencoba membudidayakannya dengan teknik stek dan menghasilkan sekitar 100 batang tanaman sejenis.

Karena jumlahnya yang masih sedikit, belum ada rencana menjual bibitnya atau mendistribusikan ke luar Kebun Raya Bali. Namun, ia berjanji jika hasil budidaya sukses akan segera menyabarkannya ke masyarakat sebagai bagian upaya konservasi ex-situ.

Jika itu terjadi, mungkin mawar hijau akan mudah dijumpai di pasar sepeti halnya mawar batik yang kelopak bunganya berbintik-bintik mirip motif batik.

Burung Langka Gajahan Timur Kembali Ditemukan Di Kalimantan Barat


Komunitas Burung Ketapang, Kalimantan Barat, kembali menemukan burung langka di kabupaten itu yang dikenal sebagai gajahan timur atau dengan nama Latin Numenius madagascariensis atau Far Eastern curlew.

Menurut Abdurahman Al Qadri dari Komunitas Burung Ketapang, Minggu (11/7/2010), burung gajahan timur tersebut ditemukan di tepi pantai Dusun Segak, Desa Sei Jawi, Kecamatan Matan Hilir, arah selatan Ketapang.

“Saya bersama peneliti burung Indonesia dari Belanda berhasil mengabadikan burung air tersebut yang suka mencari makan di tepi pantai yang berlumpur,” katanya.

Sementara itu, pengamat burung dari Belanda, Dr Bas van Balen, menjelaskan, belum ada catatan mengenai penemuan burung gajahan timur di Kalimantan Barat.

Penemuan itu, kata dia, menghapus teori tentang burung berkik di Kalimantan Barat. Ia menambahkan, temuan burung langka itu menjadi perhatian para pengamat burung se-Indonesia. “Menarik diteliti temuan Komunitas Burung Ketapang itu,” katanya.

Kepala Dinas Pariwisata Pemuda dan Olahraga Kabupaten Ketapang Yudo Sudarto mengatakan, temuan komunitas itu sangat mengejutkan para pengamat burung nasional dan internasional.

“Kami berharap kekayaan dan keanekaragaman flora dan fauna Kabupaten Ketapang menjadi magnet tersendiri bagi turis lokal dan mancanegara dalam mempromosikan pariwisata daerah Ketapang,” katanya.

Yudo menambahkan, hobi mengamati burung di Ketapang memang baru dan diharapkan dapat menambah ilmu, wawasan, dan ilmu pengetahuan dalam pelestarian lingkungan hidup.