Monthly Archives: April 2010

Ledakan Meteorit Yang Jatuh Dari Langit Merusak Tiga Rumah Di Duren Sawit Jakarta


Ledakan misterius di Duren Sawit, Jakarta Timur, masih mengundang tanda tanya, termasuk bagi para peneliti antariksa di Lembaga Antariksa dan Penerbangan Nasional (LAPAN). Berdasarkan temuan Puslabfor Polri, ledakan tersebut kemungkinan disebabkan benda antariksa.

Menurut Dr Thomas Djamaluddin, pakar antariksa LAPAN, kalau benar ledakan tersebut disebabkan meteorit, peristiwa semacam ini termasuk langka. Dalam artian, ledakan meteorit yang dekat permukaan Bumi dan diketahui manusia jarang ditemui.

“Laporan yang sampai di LAPAN, meteorit jatuh pernah terjadi sekitar awal tahun 2000-an di Tegal, tahun 2003 di Pontianak, dan tahun 2007 di Bali,” kata Thomas saat dihubungi Kompas.com, Jumat (30/4/2010). Ia mengatakan, ledakan meteorit disebabkan oleh batuan antariksa yang masuk ke atmosfer Bumi kemudian terbakar. Ada yang sampai dekat permukaan dan banyak juga yang habis terbakar di atmosfer. Namun, hanya sedikit yang diketahui manusia.

Thomas mengatakan, peristiwa tersebut terjadi secara acak, dan peluang terjadi di permukaan Bumi sama saja, antara daerah tropis dan tidak. Jenis meteorit yang masuk ke Bumi, papar Thomas, secara umum ada dua macam, yakni meteorit tauh dari bahan batuan seperti di Bumi dan meteorit berbahan logam.

“Meteorit sifatnya bermacam-macam. Ada yang jenis metal, sangat kuat sekali batuan itu. Ada yang memang rapuh. Maka dari itu, setelah mencapai permukaan Bumi, itu ada yang belum mencapai permukaan sudah habis terbakar, ada juga yang tidak,” ujar Thomas.

Thomas mengatakan, pihaknya telah mengirim tim ke lokasi ledakan di Duren Sawit untuk melakukan investigasi kemungkinan ledakan akibat meteorit. Ia memperkirakan, jika ledakan sebasar itu benar disebabkan oleh benda antariksa, maka itu adalah jenis meteorit rapuh sebesar pohon kelapa.

Seperti diberitakan, ledakan yang terjadi di Jalan Delima VI Gang 2, Kelurahan Malaka Sari, Kecamatan Duren Sawit, Jakarta Timur, Kamis (29/4/2010) sekitar pukul 16.30 itu menyebabkan tiga rumah rusak.

Hasil penyelidikan sementara dari tim Laboratorium Forensik Mabes Polri dipastikan sumber ledakan di rumah di Jalan Delima VI Gang 2, Kelurahan Malaka Sari, Kecamatan Duren Sawit, Jakarta Timur, berasal dari luar angkasa.

Bukan dari gas. Sumber ledakan dari luar rumah

“Bukan dari gas. Sumber ledakan dari luar rumah,” ucap Kepala Departemen Balistik Metalurgi Puslabfor Polri Kombes Amri Kamil seusai melakukan olah TKP di lokasi, Jumat (30/4/2010).

Tim beranggotakan delapan orang itu mengeluarkan berbagai perabot yang menumpuk di ruang tengah rumah milik Sudarmojo (70) dan Sri Walhiningsih (68). Setelah itu, tim tampak mengambil beberapa barang, seperti kain dan perabot.

Dari sejumlah barang bukti itu, kata Amri, akan dilakukan uji lab yang hasilnya akan diketahui besok. “Ada debu-debu yang kami ambil,” ucapnya.

Seperti diberitakan, ledakan terjadi pada Kamis (29/4/2010) sekitar pukul 16.30. Selain rumah milik Sudarmojo, ledakan mengakibatkan kerusakan di dua rumah di kanan dan kirinya.

Hasil investigasi sementara, ledakan di Malaka Sari, Duren Sawit, JakartaTimur, kemungkinan disebabkan benda antariksa. Namun, sampai saat ini belum dapat dipastikan apa penyebab ledakan keras yang merusak tiga rumah itu.

Jika memang benar benda antariksa, penyebab ledakan tersebut mungkin meteorit. Demikian perkiraan Dr Thomas Djamaluddin, pakar antariksa dari Lembaga Antariksa dan Penerbangan Nasional (LAPAN).

“Kemungkinan ada. Bisa jadi itu sejenis meteorit yang kalau dilihat dari informasi kerusakan dugaan saya kalau betul ukurannya sekitar buah kelapa,” kata Thomas kepada Kompas.com, Jumat (30/4/2010).

Dilihat dari kerusakannya, ia mengatakan, jenis meteorit tersebut kemungkinan meteorit rapuh yang tersusun dari bahan batuan karena kalau meteorit kuat dari metal ledakannya bisa jauh lebih besar.

Untuk memastikan apakah meteorit atau bukan, LAPAN telah mengirim dua peneliti ke lokasi kejadian. Saat dihubungi, Thomas juga sedang dalam perjalanan ke lokasi. Mereka akan mengecek pola dampak ledakan untuk menganalisis kemungkinan ledakan akibat meteorit.

“Meteorit atau bukan akan dikenali dari ciri batuannya. Bagian kulit luarnya biasanya terlihat hitam bekas terbakar. Dalam kasus tertentu bisa juga terlihat bekas lelehan material karena mengalami suhu sangat tinggi,” ujar Thomas. Sementara secara kimia, menurut Thomas, batuan meteorit umumnya sama dengan batuan Bumi dan tidak mengandung radiasi yang berbahaya.

Kemungkinan ledakan akibat meteorit dikuatkan hasil laporan sementara yang diterimanya, tim Puslabfor Polri tidak hanya menemukan debu bekas benda terbakar, tetapi juga serpihan batuan.

Tidak mudah mengantisipasi masuknya meteorit ke permukaan Bumi untuk mencegah kerusakan seperti yang terjadi di Duren Sawit, Jakarta Timur, Kamis (30/4/2010). Demikian dikatakan Dr Thomas Djamaluddin, pakar antariksa dari Lembaga Antariksa dan Penerbangan Nasional atau LAPAN.

“Meteorit sporadis seperti itu berasal dari batuan antarplanet. Sifatnya sulit sekali diprediksi, tidak bisa ditentukan dan dipekirakan waktunya,” ujar Thomas kepada Kompas.com, Jumat (30/4/2010). Menurutnya, jumlah batuan antariksa yang masuk ke atmosfer Bumi sangat banyak dan ukurannya bermacam-macam. Sebagian besar mungkin terbakar habis di atmosfer. Hanya sebagian kecil yang sampai dekat permukaan Bumi dan diketahui manusia.

Thomas menjelaskan, meteorit berasal dari batuan antariska yang melayang-layang di luar angkasa dan mengorbit matahari. Jika suatu saat kebetulan berpapasan dengan Bumi, maka batuan tersebut kemudian masuk atmosfer dan terbakar. Kalau ukurannya besar, maka tidak habis terbakar dan meledak saat menabrak permukaan Bumi.

Menurut Thomas, ada dua jenis batuan meteorit secara umum, yakni yang tersusun dari bahan seperti batuan Bumi dan dari bahan logam yang kuat. Meteorit yang tersusun dari logam bisa menghasilkan ledakan lebih hebat. “Kalau betul di Duren Sawit meteorit, kemungkinan batuan yang rapuh yang sampai ke permukaan kemudian meledak saat menabrak rumah,” ujar Thomas.

Saat ini, LAPAN telah mengirimkan tim ke lokasi kejadian untuk mempelajari kemungkinan tersebut dan menganalisisnya. Puslabfor Polri sebelumnya telah mengumpulkan debu-debu dan serpihan yang ditemukan di lokasi ledakan dan sementara menyimpulkan bahwa ledakan berasal dari benda luar angkasa.

Iklan

Maaf … Orangutan Malaysia Lebih Populer dan Terkenal Dibanding Saudaranya Di Indonesia


Popularitas orangutan Malaysia ternyata lebih bagus dibandingkan dengan orangutan dari Indonesia. Padahal, populasi orangutan Indonesia jauh lebih banyak dibandingkan dengan Malaysia.

Gubernur Kalimantan Barat Cornelis mengatakan, hal itu menjadi pertanda bahwa kemauan politik konservasi di Indonesia masih harus ditingkatkan. “Kalimantan ini jumlah orangutannya jauh lebih banyak dibandingkan Malaysia. Namun, di program-program televisi berlangganan, orangutan Malaysia yang selalu muncul,” kata Cornelis.

Direktur Yayasan Penyelamatan Orangutan Borneo (BOSF) EG Togu Manurung mengatakan, populasi orangutan di Kalimantan berjumlah 60.000 individu. Sejak tahun 2000, terdapat 820 orangutan yang direhabilitasi di Kalimantan Timur dan Kalimantan Tengah.

Habitat orangutan di Sumatera maupun Kalimantan kian terancam oleh pembukaan hutan. Sejumlah survei populasi orangutan antara 2004-2008 memperkirakan populasi orangutan di Sumatera tinggal 7.400 ekor dan di Kalimantan tinggal sekitar 54.567 ekor.

”Survei terbaru menunjukkan, populasi orangutan semakin berkurang,” kata Deputi Koordinator Orangutan Conservation Service Program (OCSP) Regional Sumatera Pahrian Siregar, Sabtu (10/4) di Tapos, Kabupaten Bogor.

Siregar mengatakan, habitat orangutan Sumatera (Pongo abelii) kini tinggal tersisa di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam dan Sumatera Utara. Habitat itu pun semakin sempit karena terancam kegiatan pertambangan, hak pengusahaan hutan (HPH), pembalakan liar, dan perkebunan kelapa sawit.

Saat ini, Taman Nasional Leuser seluas 1 juta hektar menjadi habitat sekitar 6.000 orangutan. Kawasan seluas 213.000 hektar di Pantai Barat Sumatera menjadi habitat bagi sekitar 1.940 orangutan.

Namun, diperkirakan, orangutan di kedua habitat yang berdekatan itu sesungguhnya orangutan yang sama karena orangutan selalu berpindah-pindah. Kawasan Batang Toru dan Dairi-Pakpak menjadi habitat bagi sekitar 650 orangutan. ”Kepastian jumlah populasi memang sulit didapatkan, tetapi secara total populasi orangutan Sumatera tinggal sekitar 7.400,” kata Siregar.

Koordinator OCSP Regional Kalimantan Irfan Bakhtiar mengatakan orangutan Kalimantan (Pongo pygmaeus) diperkirakan tinggal sekitar 54.567 ekor, yang tersebar di Sabah (11.017 ekor), Kalimantan Timur (4.825), Kalimantan Tengah (34.975), dan Kalimantan Barat serta Serawak (7.425).

”Habitat Pongo pygmaeus morio di Kalimantan Timur, habitat Pongo pygmaeus wurmbii di Kalimantan Tengah dan Kalimantan Barat, ataupun habitat Pongo pygmaeus pygmaeus di Kalimantan Barat terancam pembalakan liar, konversi hutan menjadi perkebunan sawit, tambang batu bara, dan pembukaan hutan tanaman industri,” kata Irfan.

Tak ada kebijakan

Spesialis Kebijakan Konservasi OCSP Regional Kalimantan Niel Makinuddin menyatakan, meski Pongo pygmaeus merupakan spesies dilindungi, tetapi tidak ada kebijakan untuk melindungi habitat Pongo pygmaeus. Sekitar 70 persen habitat orangutan di Kalimantan Timur belum ditetapkan sebagai kawasan yang dilindungi.

”Beberapa habitat orangutan memang menjadi kawasan hutan lindung atau kawasan konservasi. Masalahnya, tidak semua habitat Pongo pygmaeus sudah berstatus hutan lindung atau kawasan konservasi. Meski Pongo pygmaeus adalah hewan dilindungi, nyatanya habitat Pongo pygmaeus tidak dilindungi dan terus berkurang akibat pembalakan ataupun kebijakan penanaman monokultur. Otonomi daerah juga membuat kawasan habitat terpotong-potong wilayah administrasi pemerintahan daerah, menjadi pulau-pulau habitat,” kata Niel.

Selaku Manajer Program Orangutan The Nature Conservation (TNC), Niel menyatakan, TNC bersama 19 lembaga swadaya masyarakat di Kalimantan sudah memperbarui survei populasi orangutan pada 2009.

”Data survei itu sudah dianalisis dan saat ini kami tengah menyusun laporannya. Populasi orangutan sudah berkurang dibandingkan hasil survei sebelumnya. Pada Mei, laporan itu akan dipublikasikan,” kata Niel.

Spesialis Kebijakan Hutan OCSP, Arbi Valentinus, mengatakan, habitat terpenting orangutan adalah lahan gambut.

”Habitat orangutan adalah kawasan penting dalam konteks perubahan iklim karena kerusakan lahan gambut menghasilkan emisi gas rumah kaca tinggi. Kerusakan habitat orangutan bukan hanya mengancam orangutan, melainkan juga mengancam keanekaragaman hayati dan ancaman terhadap pemanasan global,” kata Arbi.

Ilmuwan Menemukan Arus Yang 40 Kali Lebih Besar Dari Sungai Amazon


Beberapa ilmuwan menemukan arus samudra dalam yang bergerak cepat dengan volume 40 kali Sungai Amazon di dekat Kutub Selatan, yang akan membantu para peneliti memantau dampak perubahan iklim di samudra di dunia.

Satu tim ilmuwan Australia dan Jepang, dalam satu studi yang disiarkan di dalam jurnal Nature Geoscience, Minggu (25/4/2010), mendapati, arus tersebut bagian penting pola sirkulasi samudra global yang membantu memantau iklim planet.

Para ilmuwan sebelumnya telah mendeteksi bukti mengenai arus tersebut tapi tak memiliki data mengenai itu.

“Kami tidak mengetahui apakah itu adalah bagian sirkulasi penting atau tidak dan ini memperlihatkan secara jelas bahwa itu adalah bagian sirkulasi,” kata seorang penulis studi tersebut, Steve Rintoul, kepada koresponden Reuters mengenai perubahan iklim David Fogarty.

Rintoul, dari Antarctic Climate and Ecosystems Cooperative Research Center di Hobart, mengatakan, itu terbukti merupakan arus samudra dalam yang paling cepat yang pernah ditemukan, dengan kecepatan rata-rata 20 sentimeter. Arus tersebut juga ditemukan membawa lebih dari 12 juta meter kubik air garam yang sangat dingin per detik dari Antartika.

“Pada kedalaman tiga kilometer di bawah permukaan air ini, ini adalah kecepatan paling kuat yang pernah dicatat dan kami saksikan sejauh ini. Ini benar-benar mengejutkan kami,” katanya.

Dia mengatakan, arus itu membawa air yang kaya akan oksigen yang tenggelam jauh di Kutub Selatan ke lembah sungai samudra dalam lebih ke utara di sekitar Dataran Tinggi Kerguelen di bagian selatan Samudra Hindia lalu bercabang ke luar.

Sabuk pengantar global

Arus itu membentuk bagian dari jaringan kerja yang jauh lebih besar yang merentang semua samudra di dunia, dan bertindak seperti sabuk pengantar raksasa untuk membagikan panas ke seluruh dunia.

Samudra juga adalah tempat penyimpanan utama karbon dioksida, gas rumah kaca utama yang tersiar secara alamiah dan oleh ulah manusia, terutama dari pembakaran bahan bakar fosil.

Contohnya, Arus Teluk membawa air hangat ke Atlantik Utara, dan memberi Eropa utara iklim yang relatif sedang. Kegagalan arus tersebut, yang telah terjadi pada waktu lalu, akan menceburkan banyak bagian Eropa ke dalam kebekuan parah, kata para ilmuwan.

“Arus dalam itu bersama dengan Dataran Tinggi Kerguelen adalah bagian dari sistem arus samudra global yang disebut sirkulasi berbalik, yang menentukan seberapa banyak panas dan karbon yang dapat diisap oleh samudra,” kata Rintoul.

Satu bagian penting sirkulasi itu adalah pembentukan sangat banyak volume air garam yang sangat dingin di beberapa daerah di sepanjang pantai Antartika yang kemudian tenggelam ke dasar dan mengalir ke lembah lain samudra.

Tim tersebut menggelar peralatan pengukur yang dilabuhkan ke dasar laut pada kedalaman sampai 4,5 kilometer dan mencatat kandungan garam, temperatur dan kecepataan arus selama dua tahun.

“Pengukuran terus-menerus yang diberikan oleh penambatan itu memungkinkan kami, untuk pertama kali, menentukan seberapa banyak air yang dibawa oleh arus dalam tersebut ke utara,” kata Rintoul.

Dia mengatakan, masalah penting untuk meramalkan iklim ialah apakah sirkulasi berbalik akan terus bertahan pada kekuatannya saat ini atau apakah arus itu peka terhadap perubahan seperti perubahan iklim.

Itu berarti pengukuran peningkatan lebih lanjut mengenai kecepatan dan volume air garam yang dingin yang tercipta di sekitar Antartika.

Sindrom Stres Komputer Disebabkan Gangguan Teknologi Dan Koneksi Internet Yang Lambat


Mesin macet, proses lambat dan penderitaan saat berurusan dengan dukungan teknis membuat orang di Era Digital menderita Sindrom Stres Komputer, demikian hasil satu studi yang disiarkan “daring” (dalam jaringan), Selasa (27/4).

“Konsumen yang bergantung atas teknologi digital hari ini kian terbenam dan sedih terhadap masalah dan gangguan teknis dalam kehidupan mereka sehari-hari,” demikian pernyataan kelompok pemikir industri komunikasi di dalam laporan yang berjudul “Combating Computer Stress Syndrome”.

Laporan itu mengidentifikasi sumber kepedihan orang sebagai “peralatan dan komputer yang rumit dan mengecewakan, serta kegagalan teknis, serangan virus dan waktu menunggu yang lama untuk menyelesaian semua masalah pendukung”.

Semua temuan dilandasi atas survei terhadap lebih dari 1.000 orang di Amerika Utara oleh Dewan Pengalaman Pelanggan yang diciptakan oleh ketua Dewan Pejabat Pemasaran untuk meneliti cara membuat pelanggan tetap senang di sektor komunikasi yang menghadapi persaingan ketat.

“Kenyataannya ialah banyak masalah yang terus berlangsung mengganggu sebagian besar pengguna komputer, sehingga menciptakan kecemasan dan penderitaan yang tak perlu,” demikian temuan studi itu, sebagaimana dilaporkan oleh kantor berita Prancis, AFP.

“Pemakai yang bergantung pada peralatan digital kian jemu dan kecewa dengan kondisi tekanan saat ini yang berkaitan dengan komputer, dan jelas sedang mencari cara yang lebih baik untuk menangani serta menguranginya,” katanya.

Sebanyak 94 persen mereka yang ditanyai mengatakan mereka tergantung atas komputer dalam kehidupan pribadi mereka.

Hampir dua-pertiga pemakai komputer harus menghubungi pendukung teknis atau telah mengalami Sindrom Stres Komputer (CSS) dalam satu tahun belakangan, kata studi tersebut.

“Para pengguna menghadapi kondisi tantangan dan kecemasan teknis yang terus-menerus seperti memasang produk komputer baru, mengikuti bertambah-modernnya perangkat lunak dan pindah ke sistem operasi dan aplikasi baru, serta menghadapi penularan perangkat jahat, ancaman jejaring, pencurian identitas dan lain-lain,” kata studi itu.

Empat-puluh persen pengguna komputer telah mengalami kerusakan sistem dalam satu tahun belakangan dan lebih separuh dari mereka dipaksa mengulurkan tangan untuk meminta bantuan guna memperbaiki gangguan teknis, kata Pew Center Research yang dikutip di dalam laporan tersebut.

“Karena semua itu sangat penting bagi kami, komputer adalah pedang bermata-dua,” kata Murray Feingold, dokter AS yang bertugas mengerjakan studi itu.

“Ketika semuanya berfungsi secara layak, peralatan itu sangat luar biasa. Tetapi ketika ada kesalahan, kami jadi panik. Ini lah yang saya sebut Sindrom Stres Komputer,” katanya.

Studi tersebut menyoroti betap penting membuat penggunaan peralatan modern tak terlalu menjengkelkan, kata wanita jurubicara dewan itu Liz Miller.

“kami kira sudah tiba waktunya bahwa banyak perusahaan teknologi ini benar-benar mulai memberi perhatian pada di mana pengguna komputer menghadapi tekanan dan kepedihan akan menciptakan pengalaman yang lebih baik,” kata Miller

Lapan Gelar Workshop Kompetisi Membuat Roket


Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) menggebrak minat teknologi kedirgantaraan melalui wadah kompetisi roket untuk mahasiswa se-Indonesia.

Sebelum kompetisi berlangsung, Minggu (25/4), Lapan turut mendukung DP2M DIKTI, UGM, AAU, dan Pemkab Bantul dalam hal penyelenggaraan workshop bertajuk Kompetisi Roket Indonesia (Korindo) 2010.

Ajang berbasis teknologi dirgantara ini bertujuan untuk menjaring minat dan prestasi mahasiswa dalam rancang bangun sistem muatan roket. Workshop berlangsung di Ruang Sidang II, Gd. KPTU, Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada, mulai pukul 08.00 hingga 17.00 WIB.

Mengawali acara, Dekan Fakultas Teknik UGM, Ir. Tumiran, M.Eng., Phd menyambut baik kegiatan Korindo ini. Dalam sambutannya, ia menegaskan UGM akan terus berpartisipasi dalam mengembangkan teknologi kedirgantaraan di kalangan generasi muda.

Ia menyatakan,“Mudah-mudahan dengan kerjasama antara beberapa lembaga yang melibatkan para mahasiswa, pengembangan teknologi roket dapat bermanfaat bagi masyarakat, dalam hal ini UGM akan sangat mendukung karena memang UGM adalah perintis pengembangan roket oleh mahasiswa, melalui roket gajah mada (rogama), kala itu.”

Sementara itu, dalam sambutan yang lain, Kepala Pusat Teknologi Dirgantara Terapan Lapan, Dr. Rika Andiarti, mengungkapkan,“Lapan mengambil inisiatif untuk melakukan space education, dan Korindo ini sebagai salah satu wahananya.”

Ia juga menambahkan, dalam program Lapan, diharapkan pada tahun 2014, Lapan dapat meluncurkan satelit buatan sendiri dengan roket buatan sendiri. Dengan demikian, Indonesia mampu mandiri di bidang teknologi kedirgantaraan.

Selanjutnya, Direktur DP2M DIKTI, Prof. Ir. Suryo Hapsoro Tri Utomo, Ph.D membuka workshop Korindo 2010 yang bertemakan “Homing Meteo Payload”.

Workshop ini berisi materi-materi dasar mengenai Providing Payloads a Smoother Ride to Orbit, Sejarah dan Perkembangan Roket di Indonesia, serta Desain dan Simulasi Roket Korindo 2010. Juga penjelasan mengenai skenario pelaksanaan lomba, simulasi lomba dan pembagian komponen, serta technical meeting.

Prof. Ir. Suryo Hapsoro Tri Utomo, Ph.D menekankan,“Pengembangan roket oleh mahasiswa sangat penting untuk kemandirian teknologi roket di masa akan datang. Diharapkan dengan adanya sinergi antara mahasiswa dengan lembaga-lembaga yang berkompetensi dengan teknologi roket dapat meneruskan pengembangan teknologi dirgantara untuk kepentingan damai dan ketahanan pangan.”

Workshop dihadiri 40 tim hasil seleksi dari 74 tim pendaftar yang berasal dari berbagai universitas di tanah air. Nantinya, ke-40 tim ini akan mengikuti tahap lebih lanjut, yakni peluncuran dan presentasi akhir, demikian siaran pers Lapan.

Indonesia Tak Buru-buru Terapkan Teknologi Termuktahir GSM LTE


Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) menyatakan Indonesia tidak akan buru-buru menerapkan teknologi termutakhir dari GSM yakni LTE (Long Term Evolution).

“Indonesia tidak ingin ketinggalan menerapkan teknologi terbaru tersebut, namun kita memerlukan persiapan dalam implementasinya,” kata Kepala Pusat Informasi dan Humas Kemenkominfo, Gatot S. Dewa Broto, di Jakarta, Rabu.

Ia mengatakan, untuk menerapkannya Indonesia memerlukan sejumlah prosedur terlebih dulu, termasuk untuk merancang regulasinya, namun meski tidak ingin terburu-buru tidak berarti pemerintah menghambat atau memperlambat teknologi tersebut masuk Indonesia.

“Semua perlu difinalisasi melalui langkah awal berupa regulasi,” katanya.

Seperti halnya untuk teknologi 3G dan BWA yang telah diterapkan di Indonesia, pemerintah juga telah menerapkan berbagai regulasi sebelumnya.

Kemenkominfo juga menilai wajar bila GSM Asociation menawarkan implementasi LTE di Indonesia mengingat potensi pasar mobile broadband di tanah air masih sangat besar.

“Kami memiliki beberapa pertimbangan nasional untuk menerapkannya, salah satunya tentang aturan lokal konten,” katanya.

Ia menekankan, Indonesia tidak ingin hanya menjadi pasar produk asing sehingga harus menerapkan aturan tingkat komponen dalam negeri, tapi ketentuan itu bukan untuk memanjakan industri dalam negeri.

“Kami juga memperhitungkan kompetisi tarif yang akan berlaku,” katanya.

LTE merupakan siklus terakhir pengembangan teknologi data seluler dengan standar IEEE 802.20 sekaligus teknologi lanjutan pita lebar yang dapat digunakan untuk aplikasi data layanan bergerak dengan waktu respon yang lebih cepat dengan kecepatan puncak unduh data mencapai 173 Mpbs.

Analisis GSM Association memprediksi akan ada penambahan jaringan LTE untuk jasa komersial di akhir 2010. Dalam kurun waktu dua tahun, 97 operator di 49 negara berencana menyebarkan jaringan LTE.

Sisa Perahu Bahtera Nabi Nuh Ditemukan Dipegunungan Ararat Turki


Foto Situs Perahu Bahtera Nabi Nuh

Foto Situs Perahu Bahtera Nabi Nuh

Sisa-sisa perahu Nabi Nuh ditemukan di ketinggian 13 ribu kaki atau sekitar 3,9 kilometer di sebuah gunung di Turki. Hal tersebut diungkapkan para penjelajah evangelis.

Sekelompok penjelajah evangelis dari Turki dan Cina mengatakan mereka menemukan sisa-sisa kayu dari perahu Nabi Nuh di Gunung Ararat di sebelah timur Turki.

Kelompok penjelajah tersebut mendaku dari data karbon kayu tersebut menunjukkan berusia 4.800 tahun. Artinya, waktu tersebut sesuai dengan berlayarnya Perahu Nabi Nuh. Para evangelis dan sebagian peneliti sejak lama menduga Gunung Ararat sebagai tempat terakhir berlabuhnya perahu Nabi Nuh.

Yeung Wing-Cheung, anggota tim peneliti Kependetaan Internasional Masalah Perahu Nabi Nuh yang melakukan pencarian tersebut, mengatakan, “Itu bukan 100 persen bisa dinyatakan sebagai perahu Nabi Nuh. Tetapi kami rasa 99,9 persen itu merupakan perahu Nabi Nuh.”

Dalam beberapa dekade ini, ada berbagai penemuan yang diklaim sebagai perahu Nabi Nuh. Yang paling terkenal adalah penemuan arkeolog Ron Wyatt pada 1987. Wyatt mengklaim menemukan sisa perahu Nabi Nuh di Ararat. Saat itu, pemerintah Turki secara resmi mengumumkan kawasan penemuan Wyatt sebagai taman nasional.

Namun, kaum evangelis bersikeras penemuan terbaru mereka di Gunung Ararat merupakan artefak yang sesungguhnya. Untuk mengkonfirmasikan itu, tim telah memanggil peneliti dari Belanda, Gerrit Aalten.

“Keutamaan dari penemuan ini adalah untuk pertama kali dalam sejarah penemuan perahu Nabi Nuh terdokumentasikan dengan baik dan diungkap ke khalayak di seantero dunia,” ujar Aalten saat jumpa pers penemuan tersebut. “Ada banyak bukti-bukti akurat yang menunjukkan bahwa struktur yang ditemukan di Gunung Ararat di Turki bagian timur adalah perahu Nabi Nuh,” ujar Aalten.

Perwakilan dari Kependetaan Internasional Masalah Perahu Nabi Nuh mengatakan struktur yang terkandung di beberapa bagian, beberapa balok kayu, diduga merupakan bagian dari perahu yang dipakai sebagai kandang bermacam hewan. Tim arkeolog evangelis juga menyatakan tidak mungkin ada permukiman di kawasan tersebut.

Anggota tim penjelajah, Panda Lee, mengatakan, “Pada Oktober 2008, saya memanjat gunung tersebut dengan tim dari Turki. Di ketinggian sekitar lebih dari 4.000 meter, saya melihat ada struktur bangunan yang terbuat dari papan seperti kayu gelondongan. Tiap papan memiliki ketebalan 8 inchi. Saya melihat tenons, bukti konstruksi kuno sebelum paku besi ditemukan.”

Pejabat lokal akan meminta pemerintah pusat Turki mengajukan penemuan itu masuk dalam UNESCO WOrld Heritage agar situs tersebut bisa dilindungi seiring dengan penggalian arkeologi secara besar-besaran.

Menurut beberapa kitab suci, Tuhan memutuskan untuk membanjiri bumi dengan air setelah melihat kondisi dunia yang buruk. Tuhan lalu meminta Nuh untuk membangun sebuah perahu besar dan mengisi perahu tersebut dengan manusia dan hewan.

Menurut kitab suci, setelah banjir surut, perahu Nabi Nuh terdampar di sebuah gunung. Banyak orang menduga Gunung Ararat, titik tertinggi di kawasan tersebut, sebagai tempat labuhan terakhir perahu Nabi Nuh.