Category Archives: Fisika

Cara Membuat Obat Nyamuk Elektrik Dari Alang Alang


Alang-alang (imperata cylindrika) yang banyak tumbuh liar dan mengganggu, dianggap orang tiada guna. Tetapi di tangan tiga siswi ini, gulma pengganggu tersebut berhasil disulap menjadi obat nyamuk. Hebatnya, produk yang dihasilkan bukanlah obat nyamuk bakar, tetapi obat nyamuk elektrik. Selain alami, obat nyamuk ini mempunyai nilai keekonomisan yang sangat terjangkau.

Ketiga siswi ini adalah Hazinatut Daulah, Syivana Mutiyastika, dan Rosyi Nur Firdausi. Mereka adalah siswa kelas 8 MTs NU Trate, Gresik. “Ide kami berawal dari banyaknya ilalang yang tumbuh liar. Saat kami mencari literatur tentang ilalang, kami menemukan bahwa ilalang mengandung asam sitrat danflavonoid,”ujar Rosyi di laboratorium sekolah, Rabu (19/10/2016).

Asam sitrat, kata Rosyi, diketahui merupakan musuh alami serangga. Senyawa asam sitrat yang dihasilkan alang-alang mampu merusak trakhea atau jalur pernapasan serangga yang akhirnya membuat serangga mati. Contoh sederhana penggunaan alang-alang untuk mengusir nyamuk adalah para peternak sapi sering membakar alang-alang di kandang ternaknya untuk mengusir nyamuk.

Tetapi bagi ketiga siswa ini, tidak mungkin membakar alang-alang hanya untuk mengusir nyamuk. Diperlukan sebuah rekayasa produksi agar tercipta produk yang bisa diaplikasikan secara praktis. Terbersitlah ide untuk membuat obat nyamuk. Ide tentang obat nyamuk bakar mentah karena asap yang dihasilkan dianggap sebagai polusi. Obat nyamuk elektrik kemudian dipilih karena lebih ramah lingkungan. Tetapi bagaimana menghasilkan obat nyamuk elektrik menggunakan alang-alang.

Obat nyamuk elektrik menggunakan mat (keping) sebagai sarana atau alat membunuh nyamuk. Bagaimana keping itu dihasilkan? Tiga siswi ini mempunyai caranya sendiri. Untuk membuat keping obat nyamuk elektronik, bahan dan alat yang diperlukan adalah alang-alang, soda kaustik (NaOH), tepung kanji, air, gunting, kompor, wajan, blender, screen sablon.

Pertama, alang-alang yang sudah dipetik dipotong dengan gunting. Potongan alang-alang kemudian diblender kering hingga menjadi halus. Hasilnya lalu dimasak. Alang-alang dimasukkan ke wajan berisi air. Soda kaustik lalu dicampurkan ke dalamnya.

Fungsi dari soda kaustik adalah melunakkan alang-alang. Setelah lunak, alang-alang kemudian ditiriskan. Alang-alang lalu dicampur dan dilumat bersama tepung kanji dalam suatu wadah. Fungsi kanji adalah untuk merekatkan alang-alang. Setelah cukup bercampur, alang-alang lalu dicetak di atas screen sablon hingga berbentuk kotak.

Selanjutnya cetakan alang-alang itu dijemur di panas matahari lebih kurang 6-7 jam. Ada ide untuk menggunakan oven, tetapi dikhawatirkan panas oven bisa menghilangkan kandungan asam sitrat. Setelah kering benar, cetakan besar itu dipotong-potong menjadi kepingan kecil. Kepingan kecil itulah yang digunakan sebagai mat pada alat obat nyamuk elektrik.

“Perbandingan membuatnya adalah 200 gram alang-alang, 10 gram soda kaustik, dan 10% kekentalan tepung kanji,”kat aRosyi. Tiga siswa MTs membuat obat nyamuk elektrik. Muhammad Faiq Rofiqi, guru pembina Karya Ilmiah Remaja (KIR) yang menjadi pembimbing ketiga siswi ini mengatakan obat nyamuk elektrik alang-alang ini mempunyai nilai keekonomisan yang jauh dibanding produk yang dijual bebas. Obat nyamuk eletrik alang-alang ini bisa hemat dua kali dalam hal penggunaan.

“Kalau yang dijual bebas kan hanya bisa digunakan selama semalam kemudian diganti. Kalau produk siswa kami bisa digunakan selama dua malam. Bila sudah berwarna coklat, itu indikator bahwa asam sitratnya sudah habis,” ujar Faiq. Bila dinominalkan, kata Faiq, produk siswa bimbingannya juga lebih murah. Produk yang dijual bebas dijual seharga Rp 6 ribu ke atas untuk 25 keping. Sementara obat nyamuk elektrik alang-alang ini bila dijual hanya seharga RP 5 ribu per 25 keping.

“Produk ini juga tidak berbau karena terbuat dari bahan alami,” lanjut Faiq.

Namun untuk keefektifannya, kata Faiq, obat nyamuk berbahan alami ini kalah dengan produk yang dijual bebas yang terbuat dari bahan kimia. Setidaknya diperlukan waktu satu jam untuk obat nyamuk ini agar dapat membunuh nyamuk. “Kan alami, jadi reaksinya tidak secepat bahan kimia. Jadinya harus dinyalakan setidaknya satu jam sebelum tidur,” kata Faiq.

Faiq mengakui sudah membuat survei yang melibatkan 30 responden tentang keefektifan obat nyamuk elektrik berbahan alang-alang ini. Dan menurut survei yang respondennya adalah pegawai internal sekolah tersebut, mereka puas dengan produk ini. Tentu saja Faiq ingin agar produk ini bisa diproduksi massal. Tetapi menurutnya itu belum waktunya. Namun Faiq sudah memassalkan produk ini di internal sekolah dengan merek One-Lang. Para guru serta pegawai sekolah adalah pelanggannya.

Obat nyamuk elektrik alang-alang ini sebenarnya merupakan karya ilmiah yang dilombakan dalam National Creativity Competition (NCC) 2016 di SMA Darul Ulum I Unggulan BPPT Jombang. Di kompetisi tersebut produk ini berhasil menjadi juara 2 untuk tingkat SMP/MTs Sederajat Tingkat Nasional cabang lomba LKTI.

“Para siswi ini masih kelas VIII. Kami berharap karya mereka bisa dilanjutkan ke jenjang atau tingkat yang lebih tinggi. Ini masih awal dan bisa jadi modal ke jenjang yang lebih tinggi,” tandas Faiq.

Ribuan Danau Biru Muda Pembawa Bencana Muncul Di Antartika


Ribuan danau bermunculan di bagian timur Antartika. Danau itu terlihat cantik dengan warna biru cerahnya. Namun, kecantikan itu sebenarnya pertanda buruk.

Ribuan danau yang disebut supraglasial itu menjadi petunjuk bahwa bagian timur Antartika pun terdampak perubahan iklim.

“Timur Antartika adalah bagian benua yang diasumsikan relatif stabil. Tak ada perubahan yang besar. Wilayah itu sangat dingin. Namun, akhir-akhir ini, danau supraglasial di permukaan es teridentifikasi,” ungkap Stewart Jamieson dari Durham University.

Jamieson dan rekannya melakukan penelitian dengan data satelit dari Badan Penerbangan dan Antariksa Amerika Serikat (NASA). Peneliti mengungkap bahwa dalam kurun waktu tahun 2000-2013, ada 8.000 danau supraglasial yang terbentuk.

Terbentuknya danau-danau itu tak lepas dari kenaikan suhu akibat perubahan iklim. Selama 37 hari dalam kurun waktu 2012-2013, suhu di wilayah Antartika positif atau di atas titik beku air. Suhu rata-rata pada bulan Januari mencapai 0,8 derajat celsius.

Dibandingkan dengan kurun waktu 2007-2008 ketika suhu di atas titik beku air hanya terjadi 5 hari serta suhu rata-rata pada bulan Januari -1,8 derajat celsius, jumlah danau yang terbentuk selama 2012-2013 lebih banyak 36 buah.

“Kami menemukan bahwa terbentuknya danau ini, secara tidak mengejutkan, berkaitan dengan suhu udara di wilayah itu. Jadi, jumlah maksimum danau, total luas danau, serta kedalaman danau akan mencapai jumlah terbesar apabila suhu memuncak,” ujar Jamieson.

Danau itu memang tidak permanen. Namun, airnya bisa mengalir ke wilayah lain atau bergerak ke lapisan es bagian bawah sehingga mengganggu kestabilan es lain. Bila terus berlanjut, hal itu bisa memicu pelelehan es berjumlah besar dan berkontribusi pada kenaikan muka air laut secara global.

“Ukuran danaunya mungkin tak begitu besar untuk menimbulkan dampak saat ini. Namun, bila suhu terus menghangat pada masa depan, kita akan menyaksikan danau-danau ini bertambah ukuran dan jumlahnya,” terangnya seperti dikutip Science Alert, Senin (22/8/2016).

Juli tahun 2016 dinyatakan sebagai bulan dengan suhu terpanas sejak pencatatan dimulai. Suhu pada bulan tersebut 0,84 derajat celsius lebih tinggi dari suhu rata-rata antara tahun 1950 dan 1980. Rekor suhu Bumi telah terpecahkan selama 10 bulan berturut-turut.

Amerika Serikat Telah Berhasil Kembangkan Senjata Laser Seperti Film Star War


Tiga puluh tiga tahun lalu, lima tahun setelah George Lucas merilis film Star Wars: A New Hope, Presiden Amerika Serikat Ronald Reagan menyampaikan pidato soal anggaran pertahanan dan ancaman nuklir dari Uni Soviet. Menurut Presiden Reagan, pada saat Amerika menahan diri untuk mengembangkan senjata, Uni Soviet malah melipatgandakan kekuatan militernya.

Dalam pidatonya yang belakangan dikenal sebagai pidato “Star Wars” itu, Presiden Reagan mengusulkan Amerika membangun sistem pertahanan strategis. Salah satu ide dalam sistem pertahanan ini, seperti yang diusulkan oleh mantan Direktur Lawrence Livermore National Laboratory Edward Teller kepada Presiden Reagan, adalah menembak misil yang mengancam wilayah Amerika dengan laser sinar-X dari satelit yang berada di orbit bumi.

Kala itu, ide senjata laser Dr Teller ini seperti kisah dalam film sains-fiksi belaka. Sebab, di laboratorium pun, walaupun sudah ada sejumlah penelitian, laser sinar-X ini belum ada kala itu. Tapi mimpi itu tinggal sejengkal lagi jadi kenyataan. Bahkan Tiongkok, membuntuti Amerika, turut membuat senjata laser ala Star Wars. Sudah beberapa tahun penguasa di Beijing menugasi Akademi Rekayasa Fisika dan Jiuyuan Hi-Tech Equipment Corporation merancang senjata laser.

Persis setahun lalu, Angkatan Laut Amerika Serikat memamerkan hasil uji coba senjata laser yang dipasang di kapal perang USS Ponce. Dalam video pendek itu, meriam Laser Weapon System buatan Raytheon Company berhasil menembak jatuh pesawat tanpa awak. Beberapa pekan lalu, giliran militer Negeri Panda unjuk gigi. Di layar televisi CCTV, senjata laser Low Altitude Guardian II (LAG II) berhasil menembak jatuh target di udara.

“Kami tak mengetesnya lagi. Ini sudah bisa bekerja,” kata Laksamana Muda Matthew L. Klunder, Direktur Pusat Riset Angkatan Laut Amerika, dikutip Guardian. Senjata laser energi tinggi itu, menurut Laksamana Klunder, dikembangkan sebagai upaya mereka mencari jenis teknologi senjata baru masa depan. Selama uji coba, meriam laser di USS Ponce berhasil menghancurkan seluruh sasaran selama 12 kali uji coba. “Masa depan itu ada di sini,” kata Peter Morrison, peneliti di Kantor Riset Angkatan Laut Amerika.

Tak seperti cahaya yang dihasilkan lampu yang menyebar ke pelbagai arah dengan banyak panjang gelombang, laser hanya terdiri atas satu panjang gelombang dan bergerak satu arah, sehingga energi yang dipancarkan benar-benar terfokus, membuatnya bisa menjadi senjata. Ada pelbagai jenis laser, bergantung pada sumber energi dan proses menghasilkannya. Mid-Infrared Advanced Chemical Laser (MIRACL), yang dikembangkan oleh Angkatan Udara Amerika misalnya, menggunakan sumber energi dari reaksi deuterium florida.

Keunggulan dari senjata laser ini adalah kecepatan tembakan, sangat jauhnya jangkauan, keleluasaan mengatur kekuatan, dan tidak adanya jejak. Ketika meriam sudah menembakkan laser, hampir tak mungkin targetnya berkelit karena laser melesat secepat kecepatan cahaya. Jika sumber energinya mencukupi, meriam laser bisa menembakkan “amunisi” nyaris tak terbatas. “Harga satu kali tembakan bisa kurang dari US$ 1,” kata Laksamana Klunder. Bandingkan dengan harga satu misil, yang bisa mencapai ratusan ribu dolar AS.

Namun laser bukan tanpa nilai minus. Untuk menghasilkan laser dengan kekuatan weapon-grade, perlu sumber energi sangat besar. Karena laser ini panas, perlu pendingin untuk mesinnya. Yang pasti, meriam laser tak bisa menembak target tersembunyi atau sasaran yang terhalang bukit. Memasang senjata laser di kendaraan tempur di darat atau kapal barangkali tak kelewat sulit. Lantaran butuh sumber energi sangat besar, yang paling pelik adalah memasang senjata laser pada pesawat jet tempur. Masalah lain, turbulensi dan atmosfer di atas sana membuat energi laser tersebar, sehingga kekuatan tembakan tak optimal.

Tapi Laboratorium Riset Angkatan Udara America Serikat (AFRL) yakin mereka bisa mengatasi masalah itu dalam lima tahun. Pada 2020, peneliti di AFRL yakin mereka bisa memasang senjata laser pada jet tempur, seperti F-16 atau F-22 Raptor. “Kami lihat teknologinya terus berubah dan makin matang. Ini titik balik bagi pertahanan nasional,” kata Kelly Hammett, Kepala Insinyur AFRL, kepada CNN, beberapa hari lalu. Menurut Jenderal Herbert “Hawk” Carlisle, Komandan Komando Tempur Angkatan Udara Amerika, senjata laser akan mengubah konsep perang dalam 20 atau 25 tahun mendatang.

Pembalut Wanita Berklorin … Siapa Yang Harus Dipercaya?


Tiga hari terakhir, pembalut berklorin menjadi perbincangan hangat baik offline maupun online. Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YKLI) pada Selasa (7/7/2015) lalu merilis hasil studi yang menyatakan bahwa 9 pembalut dan 7 pantyliner mengandung klorin. Bukannya mencerahkan dan menggugah kesadaran pemerintah untuk bertindak, riset yang bermaksud melindungi masyarakat dari zat berbahaya itu malah berakhir antiklimaks. Publik bingung serta Kementerian Kesehatan pun ogah menindaklanjuti.

Pertanyaan muncul karena YLKI dalam konferensi pers menyatakan bahwa sejumlah pembalut yang diteliti “mengandung klorin”. Pertanyaannya kemudian, klorin dalam bentuk apa yang terdapat pada pembalut itu? Anggota Harian YLKI, Ilyani Sudrajat, ketika dihubungi Kompas.com, Kamis (27/7/2015) kemarin, mengungkapkan, “Yang kami analisis klorin bebas, Cl2.” Pernyataan tersebut secara ilmiah agak ganjil. Klorin bebas secara kimia adalah klor (Cl) yang tidak berikatan dengan atom lainnya. Klorin bebas dapat berupa molekul bermuatan netral klorin (Cl2) ataupun berupa ion hipoklorit dan hipoklorat.

Profesor farmakologi dari Fakultas Farmasi, Universitas Gajah Mada (UGM), Zullies Ikawati, mengungkapkan, “Biasanya klorin bebas (dalam bentuk Cl2) terdapat dalam bentuk gas”. Cl2 punya titik didih -34 derajat Celsius sehingga pasti berbentuk gas dalam suhu kamar.

YLKI mengungkapkan bahwa mereka melakukan analisis Cl2 dengan menggunakan spektofotometri. Pada dasarnya, teknik itu mengukur konsentrasi suatu senyawa dalam larutan berdasarkan spektrum warnanya. Kepala Pusat Penelitian Kimia Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Agus Haryono, mengungkapkan bahwa kemungkinan Cl2 berada dalam pembalut bisa saja ada, walaupun sangat kecil. Taruhlan Cl2 memang ada pada pembalut. Agus mengatakan, sulit untuk mengukurnya dengan metode spektofotometri. “Kalau konsentrasinya sudah dalam ppm itu sulit dengan spektofotometri. Perlu metode yang lebih presisi, misalnya kromatografi gas,” katanya.

Di samping itu, jika memang ada Cl2 dalam pembalut, pertanyaan juga bagaimana bisa membuat Cl2 yang biasa dalam bentuk gas tersebut bisa diukur dengan spektofotometri. Biasanya senyawa harus dilarutkan dahulu sehingga bisa diukur dengan metode itu.

Zullies mengungkapkan, jenis residu pada pembalut tergantung pada pross pemutihannya. Proses pemutihan dengan gas klorin akan meninggalkan produk samping berupa dioksin. Senyawa tersebut yang sebenarnya banyak dikgawatirkan sebab bersifat karsinogenik, memicu endometriosis. Pemutihan juga bisa dilakukan dengan ECF (Elemental Chlorine Free). Ini artinya tidak menggunakan klorin bebas tetapi masih dengan senyawa yang mengandung klorin, yaitu klorin dioksida. “By product yang dihasilkan adalah klorit atau klorat,” jelas Zullies.

Sementara, ada juga pemutihan yang benar-benar bebas klorin, dikenal dengan Total Chlorine Free (TCF). Senyawa yang digunakan adalah hidrogen peroksida, senyawa yang cepat bereaksi dan hampir tidak meninggalkan residu. Nah, kembali lagi ke pertanyaan, apa yang sebenarnya dianalisis YLKI? Dioksin, klorit, atau klorat? YLKI harus memberi penjelasan. Apa memang residu itu yang dimaksud, atau memang gas klorin?

Merespon hasil riset YLKI, Direktur Jenderal Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan Kementerian Kesehatan Maura Linda Sitanggang Rabu lalu (8/7/2015) mengatakan, pembalut yang mengandung klorin aman. “Ambang batas untuk klorin itu tidak dicantumkan di persyaratan internasional. Jadi, itu yang memenuhi syarat dengan ambang batas lemah. Kalau klorin dimakan, baru khawatir,” ungkapnya dalam konferensi pers.

Tentang ambang batas, YLKI menyinggung Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 472/MENKES/PER/V/1996 tentang pengamanan bahan berbahaya bagi kesehatan. Klorin tercantum sebagai bahan kimia bersifat racun dan iritasi.
Linda mengatakan, “Klorin itu yang tidak boleh dikandung dalam makanan. Jadi, nanti akan kami klarifikasi sama YLKI kalau itu peraturan makanan, ya memang enggak boleh. Dalam SNI, tidak tercantum (standar klorin), di FDA juga tidak.” Benarkah?

Terlepas dari ganjilnya riset YLKI, Zullies dan Agus memandang bahwa standarisasi produk pembalut memang perlu dilakukan. Mengatakan bahwa pembalut berklorin pasti aman juga terlalu gegabah. Zullies mengungkapkan, penggunaan klorin dalam pembuatan pembakut memang punya dampak positif yaitu mensterilkan. Namun, aman tidaknya residu akan sangat tergantung pada dosisnya.

Dalam ilmu zat racun, tak ada bahan yang benar-benar bisa dianggap bermanfaat atau racun. Jadi, apakah klorit dan klorat sebagai residu pasti aman? Zullies mengatakan, adanya wanita yang sering mengeluh gatal saat memakai pembalut bisa jadi tanda adanya iritasi yang disebabkan oleh klorit dan klorat.

“Untuk lebih menjamin, perlu ditentukan batas amannya, standar untuk pembalut berapa. Dan sebenarnya tidak cuma pembalut itu, tetapi juga produk diaper yang biaa dipakai bayi dan orang tua,” ungkap Zullies. Agus mengatakan, “Produk personal care memang saat ini belum ada batasannya.” Penting juga untuk mendorong transparansi bahan yang digunakan untuk menyusun dan mengolah produk sehingga konsumen paham dan bisa memilih.

Penting pula untuk memikirkan dampak penggunaan klorin selain pada tubuh kita. Walaupun mungkin pembalut yang diputihkan dengan gas klorin sudah tak ada, penggunaan klorin dioksida masih marak. Ada banyak sekali pembalut yang diproduksi setiap hari atau bulannya. Bayangkan berapa banyak klorin dioksida yang digunakan. Seperti apa konsekuensinya jika limbah proses pemutihan itu banyak terlepas ke lingkungan? Adaklah efek merugikan dalam jangka panjang?

Mungkinkah membuat pembalut yang tak perlu diputihkan? Soal sterilisasi, mungkinkah dengan senyawa lain? Atau, mungkinkah usulan Tulus Abadi, juga dari YLKI, yang mengajak perempuan kembali memakai kain untuk pembalut selama haid diterapkan? Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) menyatakan bahwa senyawa yang dianalisis dalam riset pembalut berklorin adalah klorin bebas.

Pernyataan itu diungkapkan oleh Ilyani Sudrajat, Anggota Harian YLKI, menyusul kontroversi yang muncul setelah rilis hasil riset pada Selasa (7/7/2015). “Yang kami analisis klorin bebas, Cl2, metodenya dengan spektofotometer,” kata Ilyani. “Yang melakukan analisis laboratorium yang sudah terakreditasi. Kami juga lakukan ini dengan dana YLKI sendiri,” imbuhnya. Menjadi masalah kemudian, bagaimana caranya sehingga klorin bebas tersebut bisa terdapat pada pembalut dan bagaimana laboratorium bisa mengukurnya?

“Biasanya klorin bebas terdapat dalam bentuk gas,” kata Zullies Ikawati, profesor bidang farmakologi dari Fakultas Farmasi, Universitas Gajah Mada (UGM). Klorin dalam bentuk Cl2 memiliki titik didih -34 derajat Ceslius. Dalam suhu ruangan, unsur yang termasuk golongan halogen itu pasti berada dalam bentuk gas. Memang, klorin bisa dicairkan dalam suhu kamar. Namun untuk bisa dicairkan, klorin harus dikondisikan dalam tekanan tinggi, sekitar 740 kPa.

Dengan fakta-fakta itu, bagaimana klorin dalam bentuk Cl2 berada dalam pembalut dan bagaimana diukur dengan spektofotometer? Sangat baik tujuan YLKI melindungi konsumen. Namun, Zullies juga meminta agar YLKI menjelaskan lebih detail risetnya. Penting bagi YLKI untuk menggelar pemaparan bersama laboratorium penguji guna menerangkan perkara penelitian. Kalau kredibel, laboratorium harus berani mengungkap.

Di sisi lain, Kementerian Kesehatan juga tak bisa hanya mengatakan bahwa pembalut yang beredar di Indonesia aman-aman saja.Zullies mengungkapkan, banyak pembalut masih diputihkan dengan senyawa klorin dioksida dengan hasil samping klorit atau klorat. Penetapan batas aman tetap diperlukan.

Sebelumnya, YLKI menyatakan bahwa 7 merek pembalut yang beredar di Indonesia mengandung klorin. Kandungan tertinggi pada pembalut Charm, sebesar 54,73 ppm.Begitu dirilis, kontroversi muncul. Sebab, senyawa yang biasa dikhawatirkan pada pembalut dan tampon adalah dioksin.Dioksin merupakan senyawa karsinogenik, terbukti memicu endometriosis. Senyawa itu muncul sebagai produk samping proses pemutihan dengan gas klorin.

Kementerian kesehatan yang menggelar konferensi pers pada Rabu (8/8/2015) kemudian mengklaim bahwa semua pembalut di Indonesia tidak diputihkan dengan gas klorin dan bebas dioksin.Direktur Jenderal Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan Kementerian Kesehatan Maura Linda Sitanggang mengatakan bahwa pembalut dengan klorin (bukan dioksin) aman. “Ambang batas untuk klorin itu tidak dicantumkan di persyaratan internasional. Jadi, itu yang memenuhi syarat dengan ambang batas lemah. Kalau klorin dimakan, baru khawatir,” katanya.

Penelitian Baru Ungkapkan Sebab Asal Bencana Lumpur Lapindo


Makalah yang ditulis oleh tim ilmuwan Australia dan Amerika Serikat di jurnal Nature Geosciences pada 29 Juni 2015 kembali membuka perdebatan tentang sebab bencana lumpur Lapindo. Makalah berjudul “Initiation of the Lusi Mudflow Disaster” itu mengungkap bahwa luapan lumpur yang membuat 40.000 orang harus mengungsi tersebut tidak dipicu oleh gempa Yogyakarta, tetapi oleh aktivitas pengeboran.

Kesimpulan dari hasil studi MRP Tingay dari Australian School of Petroleum, University of Adelaide, dan rekannya itu bertentangan dengan studi Stephen Miller dari University of Bonn di Jerman yang juga dimuat di Nature Geoscience tahun 2013 lalu. Tingay dan tim menganalisis data konsentrasi gas dan komposisinya sejak Maret 2006 hingga 29 Mei 2006, dua hari setelah gempa Yogyakarta. Pengukuran ini memungkinkan analisis pelepasan gas sebelum gempa dan erupsi lumpur serta sesudahnya.

Pandangan bahwa bencana Lapindo disebabkan gempa menyatakan, gelombang seismik menjalar hingga lokasi pengeboran di Sidoarjo, menyebabkan pencairan formasi clay di bawah wilayah Kalibeng, memicu luapan. Tekanan yang menyebabkan luapan lumpur memicu pelepasan gas. Pelepasan gas sendiri memang terjadi saat lumpur meluap. Namun, bila memang gempa memicu pencairan formasi clay, seharusnya pelepasan gas juga terjadi saat gempa.

Hasil pengukuran menunjukkan bahwa dari 48 jam sebelum gempa Yogyakarta bermagnitudo 6,3 pada 27 Mei 2006 hingga 24 jam sesudahnya, tidak ada peningkatan pelepasan gas di sekitar lokasi pengeboran Lapindo. Analisis data setelah gempa menunjukkan bahwa gas yang lepas di wilayah Banjar Panji, sumur gas terdekat dari tempat luapan lumpur, lebih rendah dari biasanya. Padahal, jika memang gempa memicu luapan lumpur, pelepasan gas seharusnya meningkat.

Tingay juga membandingkan gas hidrogen sulfida (H2S) sebelum dan sesudah erupsi. Sebelum erupsi lumpur, konsentrasi gas H2S selalu rendah. Namun, gas itu lalu terobservasi begitu erupsi lumpur terjadi. Satu-satunya sumber H2S di cekungan Jawa Timur adalah di batuan karbonat tersier. Tak jelas apakah pengeboran sampai pada lapisan batuan karbonat, tetapi di bawah lokasi pengeboran Banjar Panji dipercaya memang terdapat formasi karbonat Tuban dari masa Miocene.

Bencana lumpur Lapindo sebelumnya juga sempat dikaitkan dengan faktor hidrotermal. Fluida hidrotermal bersama gempa Yogyakarta memicu pencairan formasi clay dan memobilisasinya ke permukaan. Hasil pengukuran H2S membantah skenario adanya hubungan antara hidrotermal dengan formasi tanah liat sebelum erupsi. Hidrotermal bisa saja berpengaruh, tetapi sistemnya tetap ada pada kedalaman, “terkunci” hingga saat erupsi.

“Jika dianalisis bersama, pengukuran tingkat emisi gas dan komposisi yang kami lakukan memberi petunjuk tentang sistem pemicu luapan lumpur dan menunjukkan bahwa pencairan formasi tanah liat Kalibeng tidak terjadi,” ungkap Tingay dalam makalahnya. “Kami menyimpulkan bahwa erupsi lumpur tidak dipicu oleh alam, tetapi merupakan konsekuensi dari pengeboran,” kata Tingay dalam makalah yang diterbitkan 29 Juni 2015 lalu.

Studi Mendetail Penyebab Lumpur Lapindo :
Initiation of the Lusi Lapindo Mudflow Disaster

Penjelasan Ilmiah Secara Fisika Suara Terompet Di Langit


Sebelum fenomena suara terompet di langit ramai terjadi, jauh sebelum itu pernah ada fenomena suara yang dikenal dengan istilah The Hum. Fenomena suara gemuruh ini terjadi di sejumlah tempat, seperti di Taos, New Mexico; Bristol, Inggris; Largs, Skotlandia; sampai ke Bondi, Australia. Laporan awal soal Hum sebetulnya pertama kali muncul pada 1950-an. Orang-orang melaporkan adanya suara dengungan berfrekuensi rendah, debaran, atau gemuruh. Bunyinya pun cukup lama terdengar.

Tapi secara umum Hum hanya bisa didengar di dalam ruangan, dan terdengar lebih keras pada malam hari ketimbang saat siang hari. Selain itu, ia hanya terjadi di daerah pedesaan atau yang agak terpencil. Mungkin karena frekuensinya rendah, Hum tak terdengar di kota yang berisik.

Sejumlah penelitian sudah dilakukan untuk mengungkap misteri Hum. Pada 2003 konsultan akustik Geoff Leventhall dari Surrey, Inggris, meneliti suara itu. Hasilnya, dia mendapati hanya dua persen orang yang hidup di daerah yang terdengar Hum, yang mendengar suara itu. Mayoritas berusia 55 sampai 70 tahun. Seperti dilansir Livescience, menurut mereka yang mendengar suara itu—biasa disebut sebagai hummers—suara Hum itu seperti bunyi mesin diesel yang idle dan suara itu terasa ‘menyiksa’. Malah, ada kasus bunuh diri yang mempersalahkan fenomena ini sebagai penyebabnya.

“Ini seperti semacam siksaan, kadang-kadang Anda seperti ingin berteriak saja,” kata Katie Jacques, dari Leeds, Inggris, seperti dilansir BBC. “Malam yang buruk, saya susah tidur.” Bristol, Inggris, adalah tempat pertama di Bumi yang secara resmi disebut tempat terjadinya Hum. Pada 1970-an disebut ada 800 orang di kota pantai itu yang mendengar Hum. Waktu itu mereka menduga suara timbul dari lalu lintas dan bunyi pabrik yang beroperasi 24 jam.

Lalu pada 1991 Hum terdengar di Taos, New Mexico. Malah suara ini terdengar selama bertahun-tahun dan meresahkan sebagian warga di kota itu. Satu tim dari Los Alamos National Laboratory, Universitas New Mexico, Sandia National Laboratories, dan ilmuwan lain belum berhasil mengidentifikasi sumber suara itu. Suara Hum yang lain terdengar di Windsor, Ontario. Begitu juga di Bondi, daerah pantai di Australia. Daily Telegraph pernah mengulas bunyi, yang disebut telah menyebabkan ‘kegilaan’ kepada orang-orang.

Kebanyakan peneliti yang menginvestigasi Hum menyatakan suara itu adalah nyata, bukan hasil dari histeria massal atau bunyi dari luar Bumi. Penyebabnya disebut macam-macam. Mulai dari tekanan tinggi di jalur pipa gas, perangkat komunikasi, radiasi elektromagnetik berfrekuensi rendah namun masih bisa didengar telinga manusia. Ada juga yang menyebutkan itu faktor dari alam, termasuk kegiatan seismik seperti gempa yang amat kecil yang bisa disebabkan oleh gelombang laut. Ada juga yang punya hipotesis bahwa Hum disebabkan kegiatan militer atau dampak komunikasi di kapal selam.

Selama puluhan tahun suara aneh berfrekuensi rendah mengganggu banyak orang di sejumlah tempat di Bumi. Ilmuwan dari Centre National de la Recherche Scientifique mengklaim telah menemukan penyebab suara itu. Menurut mereka, suara The Hum terjadi akibat dari aktivitas mikroseismik pada gelombang lautan yang menghantam dasar laut. Hantaman yang berlangsung dalam jangka waktu lama dan konstan ini disebut menghasilkan suara gemuruh atau debaran.

“Tekanan gelombang pada dasar laut menghasilkan gelombang seismik yag menyebabkan Bumi mengalami vibrasi,” kata Fabrice Ardhuin, peneliti senior di sana, seperti dilansir The Independent pada April lalu. Gelombang berkelanjutan memproduksi suara yang berlangsung selama 13 sampai 300 detik. Tapi suara ini hanya bisa didengar sebagian orang yang sensitif pada suara itu, atau perangkat seismik.

Suara seperti terompet dari langit yang memekakkan telinga warga di Jerman, Australia, Amerika Serikat, dan Kanada beberapa waktu lalu ada yang menduganya berasal dari luar Bumi, tepatnya suara alien. Benarkah demikian? “Audio atau suara itu butuh perambat, sementara di luar Bumi itu tidak ada atmosfer. Tidak mungkin suara misterius itu datangnya dari luar angkasa, karena tidak ada perambatnya,” tutur Kepala Lapan, Prof Thomas Djamaluddin saat dihubungi .

Menurut Thomas, suara terompet seperti Sangkakala tersebut sudah jelas berasal dari Bumi yang dirambat ke atmosfernya. Walaupun ia sendiri belum bisa menyatakan mengenai penyebab pastinya apa, namun ia menekankan sumber suara tersebut datangnya dari planet kita sendiri. “Belum tahu juga saya apakah itu asalnya dari bencana alam di Bumi atau lainnya, yang jelas bukan dari luar Bumi,” tekan Djamaluddin. Ia menambahkan, apabila ada unsur yang memang berasal dari luar angkasa, kemungkinan besar itu adalah benda antariksa seperti komet, asteroid, hingga meteor yang betul-betul jatuh atau menabrak Bumi, bukan berupa audio atau suara.

Sementara menurut pendapat badan antariksa Amerika Serikat, NASA, suara terompet tersebut bisa dibandingkan dengan musik latar yang biasanya dapat didengar di klasik film fiksi ilmiah. Namun, para pakar menekankan bahwa suara yang datang dari Bumi bukan fiksi ilmiah. Emisi radio alami dari planet Bumi seperti ini yang sangat banyak dan lumrah terjadi, kata NASA. “Jika manusia memiliki antena radio–bukan–telinga, kita akan mendengar sebuah simfoni luar biasa dari suara-suara aneh yang datang dari planet kita sendiri,” juru bicara dari NASA menjelaskan, seperti dikutip dari Tech Times.

Suara keras mirip terompet dari langit sempat bikin ketakutan banyak warga di sejumlah negara seperti Jerman, Australia, Amerika Serikat, dan Kanada masih misteri. Suara gemuruh keras dari angkasa tersebut diyakini seperti campuran suara terompet, logam berdecit, dan mesin pesawat. Fenomena aneh itu nyatanya sudah pernah terjadi selama beberapa tahun belakang yaitu sejak 2008 di negara bagian California dan Texas hingga Negeri Kanguru. Situs StrangeSounds.org bahkan mengumpulkan sekitar 150 video rekaman suara aneh yang kerap terjadi tersebut.

Tak sedikit yang beranggapan suara menyeramkan itu adalah terompet sangkakala Tuhan ataupun berasal dari peradaban alien. Baca: Suara Seperti Terompet Terdengar dari Langit Mengutip laporan situs berita Union Tribune San Diego, para ilmuwan mengatakan suara tersebut bisa berasal dari bencana alam seperti gempa bumi, gelombang air pasang, sampai ledakan gas metana.

Sementara itu, peneliti dari U.S. Geological Survey, David Hill menuturkan, gempa bumi kecil di bawah permukaan Bumi bisa memancarkan suara yang berasal dari pecahan kerak Bumi. Selain itu, Hill juga berpendapat, suara tersebut bisa saja terpancar dari meteor. Teori lainnya dari analisis program riset pemerintah AS High Frequency Active Auroral Research Program (HAARP) menyatakan suara itu berasal dari pengaruh dari lini daya listrik, radiasi elektromagnetik, tekanan tinggi gas, dan jalur komunikasi perangkat nirkabel.

Fenomena yang mengejutkan itu membuat para warga merekam menggunakan kamera ponsel dan mengunggahnya ke YouTube. Baca: NASA Jelaskan Soal Suara Terompet dari Langit “Ini adalah kedua kalinya saya mendengar suara ini. Pertama kalinya terjadi pada 19 Juni 2013 pada pukul antara 9 sampai 9.30 pagi. Tapi tidak cukup intens,” kata seorang warga bernama Kimberly Wookey yang mengunggah video rekaman ke akun YouTube miliknya, sebagai dikutip dari Tech in Times.

Cara Menggunakan Mortar Untuk Mencegah Ubin dan Keramik Pecah dan Retak


Selama ini, masyarakat cenderung tidak memperhatikan bagaimana mengaplikasikan perekat ubin, pengisi nat, pelapis anti bocor, pelapis batu alam, dan aplikasi acian. Akibatnya, ubin atau keramik mudah pecah atau rusak. Produsen perekat ubin PT Adiwisesa Mandiri telah mengedukasi masyarakat, khususnya para tukang dan kontraktor, dengan mengadakan workshop atau pelatihan selama sehari penuh sejak 2012.

Menurut Direktur PT Adiwisesa Mandiri Building Albertus Indra Sasmitra, kesadaran masyarakat dalam menggunakan mortar atau perekat, masih sangat kurang. “Di Indonesia masih kecil kesadaran untuk memakai mortar. Untuk high rise memang sudah umum digunakan. Tapi kalau untuk residensial, sebagian besar masih konvensional,” ujar Albertus, di Kantor Pusat AM, Jakarta, Rabu (20/5/2015).

Hingga saat ini, lanjut Albertus, konsumen senang memilih keramik, keran, atau toilet. Konsumen bahkan mau datang langsung ke toko. Namun, menempel benda-benda tersebut pada permukaan atau media tertentu, tidak pernah dipikirkan dan menyerahkannya pada tukang. Sayangnya, seringkali para tukang mempertahankan metode konvensional, yaitu dengan cara mengayak pasir, baru kemudian dicampur dengan air. Metode seperti ini tidak efektif karena menghabiskan waktu dan tenaga. Kesadaran konsumen dalam menggunakan perekat ubin atau mortar diakui masih kurang. Masyarakat masih bertahan dengan cara konvensional. Perekat cara lama dihasilkan dengan mengayak pasir dan semen, kemudian dicampur air.

Meski sudah membudaya dalam proses konstruksi, menurut Direktur PT Adiwisesa Mandiri Building Albertus Indra Sasmitra, lama kelamaan metode ini akan ditinggalkan oleh kontraktor. “Penggunaan perekat sudah sangat populer di Eropa, Amerika, dan negara-negara maju lainnya. Di Indonesia, masih sedikit sekali yang sudah menggunakan mortar,” ujar Albertus di Kantor Pusat AM, Jakarta, Kamis (20/5/2015). Ia menuturkan, penggunaan perekat mulai umum digunakan pada bangunan-bangunan tinggi. Sementara di residensial, keberadaannya masih sangat jarang. Penyebabnya, para tukang yang biasa disewa oleh pemilik bangunan, tidak memahami betul bagaimana mengaplikasikan perekat.

Selama ini, tukang-tukang yang bekerja membangun rumah tidak menjadikan pekerjaannya sebagai profesi tetap. Mereka dasarnya adalah petani yang pada saat sepi atau masa tidak panen, baru pergi ke kota untuk menjadi tukang. Dengan demikian, wajar saja para tukang ini tidak paham betul tentang konstruksi bangunan yang baik. Sementara para konsumen seringkali lebih tertarik memilih sendiri keramik, cat, keran, atau toilet. Untuk perekat, konsumen menyerahkan kepada tukang. Karena para tukang ini tidak fokus dalam pekerjaannya serta masih menggunakan metode lama, tidak jarang kualitas perekat yang dihasilkan di tiap proyek, berbeda-beda.

Selain itu, jika menggunakan metode lama, lanjut Albertus, banyak kesempatan untuk mengakali bahan-bahan perekat. Misalnya, pada tempat-tempat di rumah yang jarang dilewati, atau area yang tidak dibebankan furnitur berat, maka campuran pasirnya lebih banyak daripada semen. “Kalau menggunakan perekat yang sudah ada, tidak perlu lagi mengayak dulu. Kadar adonannya sudah pas, pasirnya pun pilihan,” kata Albertus.

Dengan menggunakan perekat baru, tambah dia, konsumen tidak perlu khawatir kualitasnya akan berkurang. Mortar yang baik harus bisa menjamin mutu lantai tidak akan meledak. Untuk mengedukasi tukang dan stakeholder, Adiwisesa pun menyediakan Truck Wacker sejak 2013. Truk ini merupakan fasilitas dari perusahaan untuk memberikan informasi bagaimana mengaplikasikan perekat ubin, pengisi nat, pelapis anti bocor, pelapis batu alam, dan aplikasi acian dengan benar.

Melalui truk ini, konsumen atau tukang, bisa mendapatkan penjelasan langsung dari pegawai Adiwisesa. Kegiatan ini merupakan rangkaian program Corporate Social Responsibility (CSR) perusahaan melalui program “Ayo Membangun” di Jakarta. “Sebelumnya kita rutin mengadakan workshop, kita yang mendatangi. Tahun ini diubah penyampaiannya, yaitu dengan menyediakan wadah untuk edukasi bagaimana membangun rumah yang baik,” ujar National Sales & Marketing Manager Jenmie Srihartaty.

Selain itu, metode ini juga tidak menjamin kualitas perekatnya kuat dan tahan lama, karena bisa saja campurannya kurang. Padahal, fungsi mortar yang baik harus memiliki jaminan mutu bagus, misalnya tidak membuat ubin meledak (popping). Pemakaian mortar juga memungkinkan konsumen tidak perlu membongkar ubin seluruhnya, namun bisa langsung ditimpakan dengan ubin yang baru. Hal ini cukup disarankan, karena selain lebih bersih juga hemat waktu.

Mulai 2013, Adiwisesa menggagas cara pengedukasian baru yaitu menyediakan satu truk khusus bernama Truck Wacker. Melalui truk ini, konsumen atau tukang, bisa mendapatkan penjelasan langsung dari pegawai Adiwisesa. Kegiatan ini merupakan rangkaian program Corporate Social Responsibility (CSR) perusahaan melalui program “Ayo Membangun” di Jakarta. “Sebelumnya kita rutin mengadakan workshop, kita yang mendatangi. Tahun ini diubah penyampaiannya, yaitu dengan menyediakan wadah untuk edukasi bagaimana membangun rumah yang baik,” ujar National Sales & Marketing Manager Jenmie Srihartaty.

Jenmie menuturkan, perusahaan tengah mencanangkan 100 acara di 7 cabang AM untuk mengedukasi masyarakat. Mereka bekerja sama dengan para mitra yang punya visi serupa, yaitu pemasok bahan baku dari Jerman. Sudah sewajarnya konsumen menggunakan mortar sebagai perekat karena hemat waktu, lebih bersih, dan efisien.

Produksi mortar atau perekat menjadi salah satu indutri penunjang properti yang menjanjikan. Pasalnya, belum banyak yang memahami pentingnya perekat ini di dalam konstruksi bangunan. Direktur PT Adiwisesa Mandiri Building Albertus Indra Sasmitra mengatakan hal tersebut di Kantor Pusat AM, Jakarta, Rabu (20/5/2015). “High rise building setidaknya di atas 50 persen yang sudah menggunakan perekat. Residensial masih sangat sedikit,” ujar Albertus.

Ia menuturkan, penggunaan perekat sudah sangat populer di Eropa, Amerika, dan negara-negara maju lainnya. Namun tidak demikian di Indonesia. Para kontraktor ataupun tukang, masih menggunakan metode lama, yaitu membuat perekat sendiri. Mereka bertahan dengan cara lama ini karena berpikir biayanya lebih murah dibandingkan membeli perekat instan seperti yang diproduksi oleh Adiwisesa. Meski begitu, Albertus yakin metode ini lama kelamaan akan tergerus oleh waktu.

Nantinya, end user atau konsumen lebih menginginkan perekat yang instan. Hal ini dimungkinkan karena rumah-rumah yang ada saat ini, khususnya di kota besar, memiliki halaman yang kecil. Sementara pasir yang diayak untuk membuat perekat, membutuhkan tempat yang luas. Dengan demikian, jika pemilik ingin mengganti keramik atau ubin dan para tukang bertahan dengan cara lama, mau tidak mau, pasir harus diayak di luar halaman rumah atau di jalan. “Tahu sendiri kalau mengayak itu butuh paling tidak 5 meter. Itu tidak sedikit lho. Lama-lama bisa ganggu tetangga juga,” jelas Albertus.

Ada pun pada bangunan tinggi di atas lima lantai, tambah dia, mengayak juga menyulitkan. Ia menggambarkan, para tukang ini harus mengangkut ayakan sampai ke beberapa lantai saat pembangunan gedung. Hal ini, sangat tidak praktis. Oleh sebab itu, Albertus yakin, ceruk pasar untuk perekat ini masih sangat luas. Ditambah lagi, pembuatan kolam renang juga semakin umum. “Kami juga sediakan perekat untuk ubin kolam renang. Sekarang sudah banyak permintaan kolam renang di rumah. Biasanya, konsumen ingin buat kolam renang yang dempet dengan dinding rumah. Kalau perekatnya asal-asalan, air bisa merembes,” sebut Albertus.

Dengan tingkat kaporit yang tinggi, lanjut dia, maka potensi korosi juga ikut meningkat. Kalau sudah bocor dan lembab dinding bisa terkelupas. Perawatannya malah semakin mahal. Tidak sampai di situ, Albertus menambahkan, bukti lainnya ceruk pasar perekat cukup besar adalah karena pembangunan properti di Indonesia terus meningkat. Mengingat kebutuhan rumah masih tinggi, yaitu 13 juta unit. Dalam setahun, pemerintah setidaknya membangun 800.000 unit.