Category Archives: Perang

Kisah dr Roebiono Kertopati Si Genuis Pembuat Sandi Untuk Lawan Belanda


Kesuksesan pembuatan sistem sandi tak lepas dari sosok dr Roebiono Kertopati. Ia ditunjuk langsung oleh Menteri Pertahanan Amir Sjarifoeddin untuk membuat sistem sandi. Ia dipilih meski tak memiliki latar belakang pendidikan formal di bidang persandian.

Tak banyak cerita yang mengungkap mengenai orang yang juga pernah menjadi dokter pribadi Presiden Soekarno ini. Namun, buku “Konsep Naskah Sejarah Persandian di Indonesia” yang ditulis oleh Tim Penulisan Sejarah Persandian Indonesia terbitan Jakarta 1986 menyebutkan, kecakapannya di dunia intelijen tak diperoleh melalui pendidikan formal, pun kemampuannya dalam menyusun sandi.

Semuanya berdasar pada pengalaman pribadi Roebiono saat bertugas sebagai dokter. “Memang tidak banyak referensi mengenai dr Roebiono, mungkin terkait dengan posisinya yang berkaitan dengan rahasia negara,” kata Tampil Chandra Noor Gultom, Subbag Infomed-Bagian Humas dan Kerja sama Museum Sandi, kepada Kompas.com beberapa waktu lalu.

Roebiono lahir dari keluarga ningrat Raden Ngabehi Soewardjo Kertopati pada tanggal 11 Maret 1914. Ia telah memiliki keinginan besar untuk menjadi dokter sehingga melanjutkan belajar kedokteran di NIAS, Surabaya. Kariernya sebagai dokter dimulai pada tahun 1941 dengan bekerja sebagai dokter di GOW Indisch Arts.

Lalu ia kemudian pindah bekerja di Sydney, Australia, ia bertugas sebagai tenaga medis pada Allied Intelligence Bureau. Sedikit demi sedikit Roebiono bersentuhan dengan dunia intelijen. Ia banyak bertemu dengan orang-orang yang sedang melaksanakan operasi yang bersifat rahasia. Beberapa di antaranya bahkan menceritakan kepada Roebiono mengenai operasi yang mereka lakukan.

Hal itu membuat pengetahuannya mengenai intelijen makin banyak. Tampaknya itu cukup menjadi dasar bagi Menteri Pertahanan Amir Sjarifoeddin untuk menunjuk dr Roebiono untuk menyusun sebuah sistem sandi. Namun, sebenarnya pengetahuan dr Roebiono mengenai sandi masih minim. Meski begitu, ia tetap menerima penugasan yang diberikan kepadanya.

Hingga akhirnya dengan penuh ketelitian disusun sebuah buku sandi bernama Buku Code C yang berisi sekitar 10.000 kata termasuk tanda baca, awalan, dan akhiran, penamaan, serta bentuk lain yang dijumpai dalam teks berita. Sistem kode yang dipakai adalah sistem kode angka. Sistem kode ini berupa bilangan-bilangan yang dipakai sebagai penjumlah dari kode yang telah ada. Angka dari nol sampai sembilan dan pemakaiannya sebagai penjumlah dapat ditentukan sesuka pemakai.

Sistem yang dibuat Roebiono ini termasuk sebagai sistem yang kuat dan dikenal sebagai sistem double encipherment. “Ia adalah jenius yang dimiliki oleh Indonesia. Kepintarannya tak diragukan lagi, ia menguasai empat bahasa serta mampu menulis dengan dua tangan dalam waktu bersamaan,” imbuh Tampil. Roebiono dikenal sebagai pendiri Dinas Kode pada Kementerian Pertahanan Bagian B yang berubah menjadi Jawatan Sandi dan sekarang menjadi Lembaga Sandi Negara.

Ia menjabat sebagai Ketua Lembaga Sandi negara selama 38 tahun sejak pertama kali berdiri tanggal 4 April 1946. Roebiono dianggap paling mampu mengelola persandian di Indonesia dan menjadi penentu kebijaksanaan persandian Indonesia. Pada tanggal 23 Juli 1984, Roebiono meninggal dunia karena sakit. Ia dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta. Semasa hidupnya, ia telah mendapat 11 bintang jasa dari Pemerintah Indonesia.

Kemerdekaan Indonesia memang sudah dikumandangkan pada 17 Agustus 1945. Namun situasi di dalam negeri masih carut marut. Apalagi Belanda masih terus berusaha mengambil alih Republik sepanjang tahun 1946-1949. Di masa genting ini, pemerintahan yang sudah terbentuk merasa perlu menjaga informasi rahasia dari musuh.

“Indonesia merasa tidak aman, apalagi ada beberapa informasi yang bocor,” kata Tampil Chandra Noor Gultom, Subbag Infomed-Bagian Humas dan Kerja sama Museum Sandi. Saat itu Indonesia yang baru merdeka belum memiliki sistem pengamanan informasi yang baik. Termasuk soal belum adanya sistem sandi yang mampu mengamankan informasi yang bersifat rahasia. Tampil menjelaskan, Indonesia memang telah memiliki sistem persandian. Namun, itu dikelola oleh masing-masing kementerian.

Sistem persandian yang digunakan untuk menyembunyikan informasi itu pun masih sangat sederhana dan sama sekali tidak didukung dengan pengetahuan mengenai kriptologi. “Jika kurir tertangkap, Belanda dengan mudah memecahkan sandi-sandi tersebut,” terang Tampil. Informasi yang dibawa kurir berisi perintah-perintah untuk melaksanakan suatu operasi. Jika sampai terpecahkan, operasi bisa gagal

Kondisi yang mendesak untuk mengamankan informasi ini membuat Menteri Pertahanan saat itu Amir Syarifoeddin meminta Dr. Roebiono Kertopati untuk membuat sistem sandi atau kode yang akan digunakan oleh seluruh kementerian. Dr. Roebiono dipilih karena telah memiliki beberapa pengalaman di bidang intelijen. Kepintarannya tak diragukan lagi. Ia menguasai empat bahasa serta mampu menulis dengan dua tangan dalam waktu bersamaan.

Buku Konsep Naskah Sejarah Persandian di Indonesia terbitan Jakarta 1986 menyebut bahwa sistem sandi bikinan Dr Roebiono dapat dikategorikan sebagai sistem yang kuat. Dibutuhkan sebuah buku acuan untuk membaca sandi-sandi tersebut. Roebiono menulis Buku Kode C, berisi 10.000 kata termasuk tanda baca, awalan dan akhiran, penamaan serta bentuk lain yang dijumpai dalam teks berita.

Buku yang kemudian digandakan sebanyak 6 eksemplar tersebut yang menjadi acuan dalam pembuatan dan pembacaan sandi. Sandi akan sulit terpecahkan, kecuali Buku Code C jatuh ke tangan musuh. Kesuksesan pembuatan sandi ini akhirnya berhasil menghubungkan informasi rahasia di wilayah kedaulatan Indonesia serta delegasi Indonesia di berbagai negara.

Iklan

Kapal Induk Termahal AS Dengan Senjata Laser Akan Segera Melaut


Kapal induk termahal yang pernah dibuat Amerika Serikat, USS Gerald R. Ford (CVN 78) akan segera melaut pada September tahun ini. Uji pelayaran dari kapal perang ini akan dilakukan pada Juli mendatang. Seperti diberitakan CNN, Kamis (7/4), “kapal induk super” ini dibuat dengan dana hampir US$13 miliar atau lebih dari Rp170 triliun. Sean J. Stackley, pejabat tinggi Angkatan Laut AS mengatakan, kapal induk yang telah dibangun sejak tahun 2009 itu telah 97 persen selesai.

Stackley dalam pemaparannya kepada Komisi Angkatan Bersenjata Senat AS menjelaskan, kapal induk berbobot 100 ribu ton dan panjang 335 meter itu akan melakukan uji pelayaran pada Juli mendatang dan dikirim ke galangan kapal Angkatan Laut dua bulan kemudian. Diharapkan, September kapal ini siap beroperasi.

Kapal itu disebut sebagai yang termahal yang pernah dibuat oleh AS. Nama kapal induk itu diambil dari presiden ke-38 AS yang meninggal dunia tahun 2006. Ford pernah menjabat sebagai perwira Angkatan Laut di kapal induk USS Monterey pada Perang Dunia II dan pensiun dengan pangkat letnan jenderal. Kapal Induk Gerald R. Ford mengalami peningkatan performa yang signifikan dibanding kapal induk sebelumnya dari kelas Nimitz.

Laksamana AL Jonathan Greenert saat memperkenalkan USS Ford tahun 2013 mengatakan kapal induk ini akan membawa pesawat tempur, drone, dan memiliki senjata laser. USS Ford memiliki teknologi baru yang lebih canggih dalam hal peluncuran pesawat. Pada kapal induk sebelumnya, jet tempur diluncurkan dengan sistem ketapel, namun pada USS Ford menggunakan Sistem Peluncuran Pesawat Tempur Elektromagnet, EMALS.

Berkat EMALS, geladak kapal tempat landasan pacu bisa dikurangi ukurannya. Dengan sistem ini juga, USS Gerald R. Ford bisa meluncurkan 25 persen pesawat tempur lebih banyak per hari ketimbang kelas Nimitz dan mengurangi jumlah awak hingga 25 persen. Angkatan laut memperkirakan, sistem ini akan membuat AL berhemat hingga US$4 miliar untuk ongkos operasi hingga 50 tahun ke depan.

Stackley mengatakan, kapal induk lainnya dari kelas Ford juga tengah dibuat. Di antaranya adalah USS John F. Kennedy (CVN 79), yang telah rampung 18 persen per Maret tahun ini dan akan melaut pada 2020. Kapal induk ketiga dari kelas Ford, USS Enterprise (CVN 80), akan mulai dibuat pada 2018. Stackley mengajukan anggaran Angkatan Laut untuk lima tahun ke depan kepada Senat. AL AS berencana menghabiskan dana hingga US$81,3 miliar dalam jangka waku lima tahun untuk membangun 38 kapal perang.

Armada baru diperlukan untuk mengganti kapal selam rudal balistik kelas-Ohio, sembilan kapal selam serang kelas-Virginia, 10 kapal perusak kelas-Burke, dan beberapa kapal kecil permukaan. Target AL AS adalah memiliki armada perang Angkatan Laut yang terdiri dari 308 kapal pada 2021, berdasarkan laporan Stackley

Amerika Serikat Telah Berhasil Kembangkan Senjata Laser Seperti Film Star War


Tiga puluh tiga tahun lalu, lima tahun setelah George Lucas merilis film Star Wars: A New Hope, Presiden Amerika Serikat Ronald Reagan menyampaikan pidato soal anggaran pertahanan dan ancaman nuklir dari Uni Soviet. Menurut Presiden Reagan, pada saat Amerika menahan diri untuk mengembangkan senjata, Uni Soviet malah melipatgandakan kekuatan militernya.

Dalam pidatonya yang belakangan dikenal sebagai pidato “Star Wars” itu, Presiden Reagan mengusulkan Amerika membangun sistem pertahanan strategis. Salah satu ide dalam sistem pertahanan ini, seperti yang diusulkan oleh mantan Direktur Lawrence Livermore National Laboratory Edward Teller kepada Presiden Reagan, adalah menembak misil yang mengancam wilayah Amerika dengan laser sinar-X dari satelit yang berada di orbit bumi.

Kala itu, ide senjata laser Dr Teller ini seperti kisah dalam film sains-fiksi belaka. Sebab, di laboratorium pun, walaupun sudah ada sejumlah penelitian, laser sinar-X ini belum ada kala itu. Tapi mimpi itu tinggal sejengkal lagi jadi kenyataan. Bahkan Tiongkok, membuntuti Amerika, turut membuat senjata laser ala Star Wars. Sudah beberapa tahun penguasa di Beijing menugasi Akademi Rekayasa Fisika dan Jiuyuan Hi-Tech Equipment Corporation merancang senjata laser.

Persis setahun lalu, Angkatan Laut Amerika Serikat memamerkan hasil uji coba senjata laser yang dipasang di kapal perang USS Ponce. Dalam video pendek itu, meriam Laser Weapon System buatan Raytheon Company berhasil menembak jatuh pesawat tanpa awak. Beberapa pekan lalu, giliran militer Negeri Panda unjuk gigi. Di layar televisi CCTV, senjata laser Low Altitude Guardian II (LAG II) berhasil menembak jatuh target di udara.

“Kami tak mengetesnya lagi. Ini sudah bisa bekerja,” kata Laksamana Muda Matthew L. Klunder, Direktur Pusat Riset Angkatan Laut Amerika, dikutip Guardian. Senjata laser energi tinggi itu, menurut Laksamana Klunder, dikembangkan sebagai upaya mereka mencari jenis teknologi senjata baru masa depan. Selama uji coba, meriam laser di USS Ponce berhasil menghancurkan seluruh sasaran selama 12 kali uji coba. “Masa depan itu ada di sini,” kata Peter Morrison, peneliti di Kantor Riset Angkatan Laut Amerika.

Tak seperti cahaya yang dihasilkan lampu yang menyebar ke pelbagai arah dengan banyak panjang gelombang, laser hanya terdiri atas satu panjang gelombang dan bergerak satu arah, sehingga energi yang dipancarkan benar-benar terfokus, membuatnya bisa menjadi senjata. Ada pelbagai jenis laser, bergantung pada sumber energi dan proses menghasilkannya. Mid-Infrared Advanced Chemical Laser (MIRACL), yang dikembangkan oleh Angkatan Udara Amerika misalnya, menggunakan sumber energi dari reaksi deuterium florida.

Keunggulan dari senjata laser ini adalah kecepatan tembakan, sangat jauhnya jangkauan, keleluasaan mengatur kekuatan, dan tidak adanya jejak. Ketika meriam sudah menembakkan laser, hampir tak mungkin targetnya berkelit karena laser melesat secepat kecepatan cahaya. Jika sumber energinya mencukupi, meriam laser bisa menembakkan “amunisi” nyaris tak terbatas. “Harga satu kali tembakan bisa kurang dari US$ 1,” kata Laksamana Klunder. Bandingkan dengan harga satu misil, yang bisa mencapai ratusan ribu dolar AS.

Namun laser bukan tanpa nilai minus. Untuk menghasilkan laser dengan kekuatan weapon-grade, perlu sumber energi sangat besar. Karena laser ini panas, perlu pendingin untuk mesinnya. Yang pasti, meriam laser tak bisa menembak target tersembunyi atau sasaran yang terhalang bukit. Memasang senjata laser di kendaraan tempur di darat atau kapal barangkali tak kelewat sulit. Lantaran butuh sumber energi sangat besar, yang paling pelik adalah memasang senjata laser pada pesawat jet tempur. Masalah lain, turbulensi dan atmosfer di atas sana membuat energi laser tersebar, sehingga kekuatan tembakan tak optimal.

Tapi Laboratorium Riset Angkatan Udara America Serikat (AFRL) yakin mereka bisa mengatasi masalah itu dalam lima tahun. Pada 2020, peneliti di AFRL yakin mereka bisa memasang senjata laser pada jet tempur, seperti F-16 atau F-22 Raptor. “Kami lihat teknologinya terus berubah dan makin matang. Ini titik balik bagi pertahanan nasional,” kata Kelly Hammett, Kepala Insinyur AFRL, kepada CNN, beberapa hari lalu. Menurut Jenderal Herbert “Hawk” Carlisle, Komandan Komando Tempur Angkatan Udara Amerika, senjata laser akan mengubah konsep perang dalam 20 atau 25 tahun mendatang.

Spesifikasi Sukhoi Su-35 Milik TNI AU


Rencana Pemerintah Indonesia untuk mengganti armada pesawat tempur F-5E Tiger milik TNI AU yang dianggap sudah berumur kini kian mengerucut ke satu pilihan. Setelah sempat didekati oleh konsorsium Eropa yang menawarkan jet tempur Eurofighter Typhoon serta pabrikan Swedia SAAB yang langsung menghadirkan JAS 39 Gripen-nya di Bandara Halim Perdanakusuma, Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu mengindikasikan pilihan pemerintah jatuh ke penempur Rusia, Sukhoi Su-35.

Seperti apa kecanggihan pesawat tempur rancangan Sukhoi dan dibangun oleh IPTN-nya Rusia, Komsomolsk-on-Amur Aircraft Production Association (KnAAPO), ini? Apa yang menjadikannya unggul dari kontestan lain calon pengganti F-5E Tiger?

Sukhoi mengembangkan Su-35 berdasarkan pesawat tempur generasi sebelumnya, Su-27 yang juga telah dimiliki oleh TNI-AU. Pengembangan Su-35 lebih dititikberatkan pada pengembangan airframe (rangka), elektronika sensor, dan avionik pesawat. Di bidang airframe, Sukhoi mendesain Su-35 agar rangkanya lebih kuat sehingga memiliki umur yang lebih panjang dibanding generasi Su- sebelumnya. Selain itu, dengan rangka yang lebih kokoh, Su-35 bisa diajak bermanuver lebih ekstrem lagi.

Sukhoi mengklaim rangka umur Su-35 bisa bertahan selama 6.000 jam, setara dengan 30 tahun operasi. Sementara itu, waktu antar-servis (between-repairs period) juga diklaim meningkat hingga 1.500 jam atau setara dengan 10 tahun operasi. Radar cross-section (RCS) yang diklaim lebih kecil oleh Sukhoi dalam generasi Su-35. Materi komposit yang lebih ringan dipilih untuk mengurangi bobot pesawat hingga 20 persen dari generasi sebelumnya. Garis bidang pesawat juga telah dimodifikasi sehingga mengurangi bidang pantulan radar (RCS/radar cross section).

Sementara itu, intake (corong masuk udara) mesin didesain lebih besar agar memberi suplai aliran udara yang lebih baik. Perbedaan lain, flaperon (sayap penggerak pesawat) dibuat lebih besar dan tidak memiliki canard (sayap kecil di moncong pesawat), seperti Su-30MKI. Rem udara (airbrake) yang sebelumnya terpasang di punggung Su-27 kini juga dihilangkan. Fungsi airbrake tersebut digantikan dengan active rudder yang terdapat di kedua sirip tegak pesawat.

Su-35 yang oleh NATO diberi julukan Flanker E tersebut oleh Sukhoi dikategorikan sebagai pesawat tempur generasi 4++. Artinya, ini merupakan versi penyempurnaan dari generasi 4 sebelumnya (Su-27), tetapi memiliki fitur layaknya pesawat tempur generasi 5. Oleh Angkatan Udara Rusia, Su-35 dijadikan sebagai tulang punggung hingga nanti pesawat tempur siluman (stealth) generasi berikutnya, yaitu PAK-FA, resmi dioperasikan.

Kokpit
Su-35 memiliki konsep kokpit dengan kendali (control colum) utama di tengah dan memiliki kursi lontar zero-zero K-36D-3.5E buatan Zvesda. Tipe zero-zero berarti pilot bisa eject dari pesawat meski berada dalam kondisi diam (zero speed zero altitude). Joystick dan throttle pesawat juga telah menganut konsep HOTAS (Hands on Throttle and Stick), artinya lokasi semua tombol kendali yang dibutuhkan bisa diakses di dua batang kendali tersebut, termasuk mengganti tampilan layar, memilih menu, mengaktifkan persenjataan dan sebagainya. Dengan menganut konsep tersebut, pilot diharapkan tetap siaga karena kedua tangannya tetap memegang stick kendali pesawat. Selain kemampuan HOTAS, helm yang dipakai pilot juga dilengkapi dengan teknologi HMS (helmet mounted sight), layar kecil untuk menampilkan informasi penting di depan kaca helm.

Dari segi antarmuka, Su-35 memiliki konsep all-glass cockpit dengan layar LCD digital modern. Di dalam kokpit terdapat dua layar LCD dengan ukuran masing-masing 22,5 x 30 cm resolusi 1.400 x 1.050 piksel yang menampilkan berbagai informasi. LCD ini berfungsi untuk menerima, memproses, dan mentransmisikan data dalam berbagai format, entah itu grafis, angka, tampilan TV, dan sebagainya. LCD juga bisa digunakan untuk mengirim sinyal video dalam format digital ke unit video recording jika dibutuhkan.

Sementara itu, bagian HUD (head up display), atau layar kecil di atas dashboard, juga memiliki ukuran yang lebar, dengan bidang pandang 30 x 20 derajat. Sistem-sistem yang lain di dalam kokpit itu termasuk sistem navigasi satelit dan radio, peta digital, sistem optik dan elektronik untuk misi pengintaian, serta sistem komunikasi digital. Pesawat juga memiliki dua buah antena radio UHF dan VHF, sistem coding suara dan radio, serta sistem Link-16 untuk bertukar data antar-pesawat.

Semua sistem tersebut dilayani oleh dua komputer utama yang memproses dan mentransmisikan data ke pilot dalam kondisi krusial sehingga membantu mengurangi beban kerja pilot.

Sistem radar
Walau memiliki airframe dan avionik baru, Su-35 tetap menggunakan radar seperti yang dipakai dalam Su-27. Radar buatan Irbis ini menganut desain PESA (Passive Electronic Scanning Array). Berbeda dengan metode AESA (Active Electronic Scanning Array), PESA hanya membutuhkan satu rumah sensor dan antena untuk memancarkan dan menerima sinyal. Sensor radar bisa dibelokkan 120 derajat secara horizontal dan 60 derajat secara vertikal. Semua relatif terhadap sumbu utama pesawat. Sensor bisa dibelokkan hingga 120 derajat ke atas atau bawah dengan kontrol elektronik dan tambahan mekanikal jika dibutuhkan.

Mata Irbis ini tergolong tajam. Sensornya bisa menjejak permukaan seluas 3 meter persegi dari jarak 400 km, atau 0,01 meter persegi dari jarak 90 km. Sementara itu, target darat bisa diidentifikasi sejauh 200 km. Yang mengagumkan, radar Irbis bisa memantau dan mengikuti 30 target udara secara simultan dan bisa mengunci dan menembak 8 sasaran sekaligus dengan misil udara-udara aktif, atau dua target dengan misil udara-udara semi-aktif.

Jumah target yang bisa dilacak dan dikunci oleh radar Irbis dalam Su-35. Sementara itu, untuk target darat, radar Irbis bisa mengunci empat target darat dan mengunci dan menembak dua target sekaligus. Semua itu bisa dilakukan tanpa meninggalkan monitor ruang udara. Artinya, radar bisa memonitor dan melacak target di udara dan di darat yang telah diidentifikasi sebelumnya, sembari mencari target lain secara bersamaan.

IRST
“Mata” lain yang dimiliki Su-35, seperti generasi sebelumnya, adalah IRST (Infra-Red Sighting and Tracking). Unit ini bisa dikenali dari tonjolan bulat yang biasanya terpasang di depan kaca kokpit. KnAAPO IRST yang berada di depan kaca kanopi Su-35. IRST milik Su-35 berguna untuk mendeteksi target secara pasif melalui panas yang dipancarkan target tersebut. Varian IRST yang dipakai Su-35 adalah OLS-35 yang bisa mendeteksi target udara lewat panas yang dipancarkannya dari jarak 50 km saat berhadap-hadapan (head-on) dan 90 km di kuadran belakang.

Sistem ini juga bisa mengukur jarak target dengan pesawat hingga 20 km dan target darat sejauh 30 km. IRST milik Su-35 bisa memonitor dan mengikuti empat target udara yang berbeda dan mengarahkan misil berpemandu laser ke arah sasaran.

Mesin
Saat ini, Su-35 mengusung dua mesin turbofan Saturn 117S (AL-41A) yang merupakan modifikasi dari mesin sebelumnya, AL-31. Nantinya, Su-35 bakal mendapatkan pasokan mesin baru, yaitu AL-41F dengan kemampuan super-cruise dengan daya thrust 15.000 kg. Untuk saat ini, mesin AL-41A yang dipakai di generasi awal memiliki kipas (fan) dan turbin (high pressure/low pressure) yang baru serta sistem kontrol digital di dalamnya. Modernisasi ini diklaim oleh Sukhoi bisa meningkatkan thrust hingga 16 persen, atau sekitar 14.500 kgf. Dalam mode maximum burner-free, thrust yang dihasilkan mencapai 8.800 kgf.

Jika dibandingkan dengan mesin AL-31F yang diapakai Su-27 saat ini, kemampuannya meningkat 2 hingga 2,7 kali. Sebagai contoh, masa between-repair period akan meningkat dari sebelumnya 500 hingga 1.000 jam (periode operasi sebelum overhaul pertama adalah 1.500 jam). Periode overhaul mesin yang telah dimodifikasi akan meningkat menjadi antara 1.500 hingga 4.000 jam.

Su-35 memiliki 12 weapon station yang berada di sayap, wingtip, dan badan pesawat. Persenjataan Su-35 mampu menggotong cukup banyak arsenal dalam sekali angkut. Ini adalah tuntutan sebagai pesawat multi-peran (multi-role). Di kedua sayapnya, terdapat enam cantelan misil dan dua wingtip rail yang ada di ujung sayap. Selain itu, masih ada pula dua cantelan di bawah masing-masing mesin dan dua lagi di perut pesawat sehingga total Su-35 memiliki 12 hard point yang bisa dipasangi dengan berbagai jenis misil udara-udara, udara-darat, atau sistem reconnaisance untuk misi mata-mata atau penyusupan.

Su-35 saat ini kompatibel dengan berbagai macam persenjataan. Daftarnya mencakup 4 jenis roket, 7 jenis misil, dan 4 jenis bom berbeda. Ditambah dengan sebuah kanon 30 mm GSh-301 di “pundak” kanan pesawat yang bisa memuntahkan 150 butir peluru dalam satu menit.

Daftar performa dan spesifikasi Su-35:
Panjang: 21,9 m
Bentang sayap: 15,3 m
Tinggi: 5,9 m

Bobot takeoff maksimal: 34.500 kg

Jumlah mesin: 2 Saturn 117S dengan TVC (Thrust Vector Control)
Daya dorong: 14.500 kg

Payload:
Tangki bahan bakar internal: 11.500 kg
Persenjataan: 8.000 kg

Daya jelajah:
Sea level (normal): 1.580 km
In-altitude (lebih tinggi): 3.600 km
Dengan dua tangki ksternal PTB-2000: 4.500 km

Ketinggian maksimum: 59.000 kaki (sekitar 18.000 m)

Rasio Thrust to weight:
Maximum load: 0,84:1
Normal load: 1,14:1

Akselerasi:
600 km per jam-1.100 km per jam: 13,8 detik
1.000 km per jam-1.300 km per jam: 8 detik

Kecepatan menanjak: 55.100 feet per menit, atau setara 280 m per detik

Kecepatan:
Maksimum: Mach 2,25
Super-cruise dengan mesin AL-41F: Mach 1,6
Sea level: 1.400 km per jam

G load: 9G
Jarak yang dibutuhkan untuk takeoff/landing: 400-450 m/650 m

PT Pindad Kembangkan Sub Machine Gun PM-2 Untuk Pasukan Khusus


PT Pindad terus berinovasi. Setelah gagal dengan pemasaran senapan PM-1 karena paling maksimal cuma berfungsi sebagai senjata penjaga hutan, perusahaan alutsista Indonesia itu mempersiapkan PM-2. PM-2 yang merupakan jenis sub-machine gun atau pistol mitraliur tersebut punya kaliber 9 mm, sama dengan pendahulunya. Senjata ini memanfaatkan receiver SS-2 dan memiliki sentuhan Daewook K7, senjata produksi Korea yang kini jadi andalan TNI.

Sudah ada tiga prototipe PM-2. Untuk prototipe PM-2V1 dan PM2-V2, desainnya masih terlihat mengadopsi receiver konvensional. Sementara itu, PM-2V3 sudah menggunakan pengokang depan HK MP5 sampai varian rail interface system (RIS) yang digunakan pada SS-1 R5.

HK MP5 merupakan sub-machine gun produksi Jerman yang digunakan pasukan Kopassus untuk melakukan operasi Woyla, melawan pembajakan pesawat Garuda Indonesia rute Tanlangbetutu, Palembang, ke Polonia pada 28 Maret 1981. SS-1 R5 sendiri merupakan senjata produksi Pindad yang telah digunakan oleh pasukan elite Indonesia. Senjata ini menggunakan RIS yang dirancang dengan fitur free float untuk lebih mengupayakan akurasi kerja senjata.

PM-2 juga punya beragam jenis popor atau gagang senapan. Beberapa pilihan tangkai senapan antara lain lipat besi ala SS-1, senapan serbu produksi Pindad, yang diperpendek hingga popor teleskopik empat posisi yang mengambil dari carbine M4 produksi Amerika Serikat.

Sedikit modifikasi dilakukan. Ukuran lubang magasin atau peluru menjadi 5,56 mm. Perubahan memengaruhi rigiditas magasin. Bibir lubang magasin dipertebal sehingga penembak bisa memasukkan magasin lebih mudah.

Bagian tiang pejera dilindungi cincin atau ghost ring. Pisirnya bermodel diopter biasa. PM-2 sendiri masih menganut mekanisme blowback yang sederhana.

Untuk amunisi, Pindad membekali PM-2 dengan beberapa pilihan, antara lain MU-1TJ (peluru standar NATO tipe 9 x 19 mm FMJ), MU-1M (peluru high accuracy, dibuat dengan kontrol kualitas yang lebih baik), MU-1S (peluru subsonic, dibuat khusus untuk operasi senyap) MU-1H (peluru hampa, dibuat berbentuk crimp atau bintang dilapisi lilin untuk menahan mesiu di dalamnya), serta MU-1K (peluru karet, untuk operasi antihuru-hara).

Spesifikasi Pindad PM-2
Tahun rilis: 2007
Kaliber: 9 x 19 mm
Sistem operasi: blowback
Panjang total: 625 mm (popor terentang), 417 mm (popor terlipat)
Panjang laras: 195 mm
Bobot kosong: 2,9 kg
Jarak tembak efektif: 150 meter
Kecepatan tembak: 550 peluru per menit
Kecepatan proyektil: peluru MU-1TJ (380 meter/detik), MU-S (300 meter/detik)
Magasin: 32 peluru

Kronologi Letusan Gunung Tambaro Yang Mengubah Sejarah Dunia


Tepat 200 tahun lalu, Tambora marah besar. Amarahnya secara langsung dan tidak langsung menewaskan 88.000 orang. Tiga kerajaan tamat riwayatnya, Napoleon kalah perang, tahun tanpa musim panas terjadi, dan kelaparan serta wabah melanda dunia. Bagaimana sesungguhnya bencana itu terjadi? Tak banyak dokumen yang bisa menjadi rujukan untuk menceritakannya. Tiga dokumen berharga antara lain The History of Java (1817) dari Raffles, gubernur Inggris penguasa Jawa saat Tambora meletus, memoir Raffles (1830), dan Asiatic Journal volume 1 (1816).

Menurut dokumen itu, Tambora sebenarnya sudah mulai aktif tahun 1812, sering mengeluarkan asap hitam. Namun, banyak orang yang menganggap bahwa Tambora kala itu sudah “punah” atau bukan gunung berapi aktif. Erupsi besar pertama dimulai pada 5 April 1815, berlangsung selama 2 jam. Merujuk pada dokumen Raffles dan Asiatic Journal, Richard B Stothers dalam makalahnya di jurnal Science 15 Juni 1984 mengatakan, gemuruh aktivitas Tambora pada tanggal itu terdengar hingga kota Makassar (berjarak 380 km), Jakarta (1260 km), dan bahkan Maluku (1400 km).

Dalam memoirnya, Raffles menceritakan, “Gemuruh itu awalnya dikaitkan dengan adanya meriam pada jarak jauh, sedemikian sehingga tentara dibariskan di Yogyakarta untuk mengantisipasi serangan pihak lain dan kapal juga dibariskan di pantai mewaspadai kondisi sulit.” Raffles seperti dikutip Clive Oppenheimer dalam makalahnya di jurnal Progress in Physical Geology pada 2003 melanjutkan, “Namum pada pagi hari berikutnya, abu tipis menghapus semua keraguan, dan seiring erupsi terus terjadi, suara terdengar begitu dekat, terdengar begitu dekat di setiap daerah sehingga dikaitkan dengan letusan gunung Merapi, Kelut, dan Bromo.”

Orang yang tinggal di wilayah sekitar Tambora meminta pemerintah di Bima untuk melihat situasi. Pihak berwenang kemudian mengirim seseorang bernama Israel, tiba di sekitar Tambora pada 9 April 1815. Tapi belum sempat penyelidikan dimulai, tanggal 10 April 1815 sekitar pukul 19.00 WITA, Tambora kembali mengamuk. Kali itu, erupsinya berlangsung kurang dari 3 jam namun dengan skala lebih besar. Letusannya menurut volcanic explosivity index mencapai skala 7 dari 8. Hanya gunung Toba yang meletus 74.000 tahun lalu dengan magnitudo 8 yang mengalahkannya.

Cerita terbaik kedahsyatan letusan pada malam datang dari Letnan Owen Phillip. Dia diutus Raffles ke Sumbawa membawa beras dan menyelidiki dampak letusan pada 5 April. Di Dompu, dia bertemu raja Sanggar yang ajaibnya selamat dari bencana letusan, mengungsi. ”Sekitar pukul 7 malam pada 10 April (1815), tiga kolom muncul dari puncak Gunung Tambora. (Semuanya terlihat berasal dari kawah) Setelah naik secara terpisah ke ketinggian, ketiga kolom bergabung secara aneh dan mengerikan,” demikian Phillips menceritakan kemudian pada Raffles.

Phillip melanjutkan, “Dalam sekejap, seluruh bagian gunung di Sanggar tampak bagai cairan api, melebar ke segala arah. Api dan kolom asap terus saja membumbung hingga gelap sebab banyaknya material yang jatuh mengaburkannya sekitar pukul 8 malam.” Abu kemudian mulai turun antara pukul 9 hingga 10 malam. Kemudian, pohon-pohon yang tercerabut dari akarnya serta batu-batu raksasa mulai terlempar ke Sanggar antara pukul 10 hingga 11 malam. Stothers dalam makalahnya mengatakan, kolom erupsi mungkin musnah akibat massanya sendiri sebelum pukul 10 malam dan kaldera terbentuk pada saat yang sama.

Awan panas lalu turun gunung dan menerjang desa Tambora, meluluhlantakkannya. Lalu, angin ribut terjadi di Sanggar. Angin ribut yang terjadi sekitar 1 jam itu tak mencapai Bima yang terjarak 60 kilometer dari Tambora. Material vulkanik mengalir ke lautan, menyebabkan tsunami. Gelombang tsunami dengan ketinggian 4 meter mencapai Sanggar pukul 10.00 malam. Gelombang menjalar hingga Besuki di Jawa bagian timur, mencapai wilayah itu dengan ketinggian sekitar 1 – 2 meter beberapa saat kemudian. Tsunami juga diperkirakan mencapai Madura dengan ketinggian 1 meter.

“Mawar laut setinggi hampir 12 kaki yang tak pernah terjadi sebelumnya menghantam Sanggar yang cuma seperti sebulir padi, menghanyutkan rumah dan apapun yang ada dalam jangkauannya,” demikian cerita Phillip tentang tsunami. Suara ledakan mulai terdengar pukul 11 malam. Setelah itu, suara tersebut tak berhenti hingga 15 April 1815. Suara terdengar hingga Cirebon, Bengkulu, Makassar, Ternate dan sejumlah wilayah Indonesia lainnya. Abu pun menghujani banyak kota.

Dalam The History of Java, Raffles menceritakan penafsiran koresponden dari Gresik tentang gemuruh dan abu. Menurut koresponden Gresik itu, banyak warga mengaitkan gelap dan abu akibat letusan Tambora sebagai peristiwa pernikahan Nyi Loro Kidul dengan putranya. Suara gemuruh adalah ucapan selamat dari prajuritnya dan abu adalah ampas senjatanya. Kota Bima sendiri tetap gelap hingga pukul 12 siang pada 12 April 1815. Sementara di Makassar, hingga 11 April 1815 pukul 8.00, langit tetap gelap. Pada dasarnya, seluruh kota dalam radius 600 km terdampak oleh hujan abu dan letusan hingga gelap 2 hari.

Udara di sejumlah kota setelah letusan awalnya panas tetapi kemudian terasa dingin. Hingga wilayah Jakarta, dilaporkan bahwa udara berbau nitrogen. Di Tambora sendiri, asap masih terlihat hingga tanggal 23 April 1815. Sementara, getaran akibat aktivitas vulkanik masih terjadi hingga 23 Agustus 1815. Letusan Tambora kali itu memangkas badannya sendiri. Semula berketinggian sekitar 4.300 meter, kini Tambora hanya 2.850 meter. Letusan juga mengakibatkan terbentuknya kaldera selebar 6 kilometer dan sedalam 600-an meter.

Begitulah letusan dahsyat itu terjadi tepat 200 tahun lalu. Setelah berlalu, saatnya kini mengambil pelajaran dari peristiwa itu. Indonesia rawan bencana gempa dan gunung api. Oleh karena itu, penting untuk mengenal gunung dan mewaspadainya. Hidup di gunung yang membawa kesuburan boleh, tetapi tidak mengabaikan risikonya. Letusan Tambora sendiri berdampak besar pada iklim global saat itu. Tahun tanpa musim panas terjadi di Eropa. Gagal panen terjadi di China dan wabah melanda Amerika. Bagaimana cerita dampak itu?

Di belahan utara, salju biasanya turun antara bulan Desember hingga Maret. Namun akibat letusan dahsyat Tambora 1815 lalu, salju pernah turun pada bulan Juni 1816. Salju pada bulan musim panas itu adalah satu diantara sekian dampak salah satu letusan gunung terbesar sepanjang masa tersebut. Aerosol dan sulfat yang disemburkan Tambora ke atmosfer memicu pendinginan global.

Catatan Chester Dewey, profesor matematika dan ilmu alam di William College Massachusetts menyatakan, “kebekuan jarang terjadi pada musim panas, namun kali ini di mana-mana beku.” Catatan Dewey yang dikutip dalam publikasi Clive Oppenheimer di jurnal Progess in Physical Geology tahun 2003 tersebut menggambarkan kondisi cuaca pada 1816, tahun yang sering dijuluki tanpa musim panas.”Tanggal 6 Juni suhu 44 derajat sepanjang hari dan beberapa kali turun salju. 7 Juni tidak begitu beku namun tanah begiru dingin dan air beku di mana-mana,” catatnya lagi.

Bukan hanya wilayah Massachusetts, pada 6 Juni 1816, salju turun di sejumlah wilayah Amerika Utara, termasuk jantung dunia New York, kemudian Albany, Maine, dan Dennysville. Di Quebec, Kanada, salju terakumulasi hingga ketebalan 30 cm dari 6-10 Juni 1816.Cuaca dingin terjadi pula di Amerika Utara bagian selatan, meliputi Trenton, New Jersey, dan lainnya. Kondisi itu bertahan tiga bulan hingga panen pun gagal.

KR Briffa dan PD Jones melakukan analisis lingkaran pohon untuk menguak cuaca setahun setelah letusan Tambora di Eropa. Dalam publikasinya di jurnal Nature tahun 1992, dia menemukan bahwa musim panas tahun 1992 memang luar biasa dingin, terdingin sejak 1750.Suhu musim panas di Eropa 1-2 derajat Celsius lebih dingin dari rata-rata tahun 1810-1819 dan 3 derakjat Celsius lebih dingin dari rata-rata tahun 1951-1970.Tahun 1998, Briffa kembali memublikasikan makalah di Nature tentang efek Tambora pada pendinginan global. Ia menyatakan, Tambora menciptakan salah satu musim panas terdingin dalam 6 abad, kedua terdingin setelah tahun 1601 akibat letusan Huaynaputina di Peru.

Briffa menambahkan, Eropa juga mengalami musim dingin yang lebih banyak badai akibat letusan gunung yang kini tingginya tinggal 2.850 meter itu. Suhu dingin mengakibatkan krisis terbesar di dunia barat pada era modern. Begitu Tambora meletus, suhu dingin menyebabkan kalahnya Napoleon Bonaparte. Selanjutnya, suhu dingin juga menyebabkan ternak kekurangan makanan, gagal panen, kelaparan, dan wabah.Di Bima, abu letusan Tambora mencemari air. Akibatnya, manusia yang meminum terserang diare. Kuda-kuda juga mati.

Di Bengal, antara tahun 1816-1817, wabah kolera melanda. Sementara, wilayah North Carolina gagal panen. Dan, di New England, hewan ternak kekurangan makanan dan banyak yang mati. Orang-orang Wales kelaparan hingga harus berjalan jauh mencari makanan. Demikianlah dampak letusan Tambora pada iklim dunia. Gunung api sanggup melumpuhkan, memengaruhi iklim dunia. Tapi, manusia lebih mampu lagi. Emisi karena gunung berapi ditakir antara 0,15 – 0,26 gigaton per tahun. Namun, emisi karena manusia mencapai 35 gigaton per tahun. Bukan tak mungkin kelaparan, penyakit, dan kerugian besar terjadi akibat perilaku manusia yang memengaruhi iklim.

Hingga sebelum meletus pada April 1815, Gunung Tambora di Semenanjung Sanggar, Pulau Sumbawa, Nusa Tenggara Barat, itu tertidur panjang. Selain catatan John Crawfurd pada tahun 1812, nyaris tak ada sumber lain yang menyebut mengenai aktivitas gunung ini sebelum letusan. John Crawfurd, dokter dari Skotlandia yang berlayar melewati pantai Sumbawa pada tahun itu, melihat asap yang membubung tinggi dari puncak Tambora. Bahkan, abu tipis jatuh di geladak kapalnya. Namun, 10.000 penduduk di tiga kerajaan yang berada di lereng gunung yakni Tambora, Pekat, dan Sanggar, tidak menyadari bahwa gunung itu telah terbangun. Periode letusan Tambora yang sangat panjang membuat aktivitas gunung tak terekam oleh masyarakat lokal.

Dari analisis geologi yang dilakukan belakangan, Tambora diduga pernah meletus tahun 740 dan 3050 sebelum Masehi. Letusan pada 1815 dianggap yang terkuat. Terkuat yang tercatat dalam sejarah manusia, tapi bisa jadi letusan-letusan sebelumnya juga sangat kuat, hanya tak tercatat.Deskripsi tentang Gunung Tambora sebelum 1815 sangat minim, termasuk tentang keberadaan kerajaan-kerajaan di kaki gunung ini. Namun, dengan menghitung material vulkanik yang dilontarkan Tambora dalam letusan kolosal 1815, para peneliti menyimpulkan bahwa ketinggian gunung ini sebelum letusan itu 4.200 meter di atas permukaan laut (mdpl). Bandingkan dengan Gunung Kerinci, gunung api tertinggi di Indonesia saat ini yang 3.805 mdpl.

Volume material vulkanik yang dilontarkan ke udara mencapai 100-150 kilometer persegi. Tinggi payung letusan diperkirakan mencapai 30-40 kilometer (km) di atas gunung, sedangkan energi letusan mencapai 1,44 x 1027 Erg atau setara dengan 171.428,60 kekuatan bom atom yang dijatuhkan di Hiroshima pada 1945.Dalam waktu cepat, material vulkanik itu memenuhi langit Bumi, hingga menciptakan tahun tanpa musim panas di Eropa setahun kemudian. Di masa lalu, transportasi utama antarpulau masih dilakukan dengan kapal. Transportasi udara baru ditemukan 88 tahun kemudian, saat Wright bersaudara menemukan pesawat terbang pada Desember 1903. Bayangkan kekacauannya jika letusan Tambora ini terjadi saat ini. Lalu-lintas udara di dunia bakalan lumpuh.

Letusan itu memangkas tubuh Tambora hingga nyaris separuhnya menjadi 2.730 mdpl. Tubuh gunung yang kosong menciptakan lubang menganga dengan kedalaman hingga 1.100 meter dan lebar 6,2 km. Kaldera ini salah satu yang terbesar di Indonesia, setelah Rinjani di Lombok dan Toba di Sumatera Utara.Setelah 1815, di dasar kawah Tambora muncul anak gunung api. Warga setempat menyebutnya Doro Api Toi, bahasa Bima yang artinya gunung api kecil. Terakhir, Tambora meletus 1967, tetapi sangat kecil, tak sampai skala 1 dalam VEI, dibandingkan letusan Tambora pada 1815 yang mencapai 7 skala VEI. Walaupun tak ada lagi aktivitas seismik yang berarti sejak letusan 1815, PVMBG terus memantau gunung ini. Pusat pemantauannya berada di Doro Peti.

Awal Agustus 2011, aktivitas Doro Api Toi meninggi, ditandai gempa vulkanik terus-menerus dan asap putih tebal membubung hingga 20 meter dari puncak. Pada 29 Agustus 2011, tercatat 14 gempa vulkanik dalam dari Tambora, dan sehari kemudian PVMBG menaikkan status menjadi Waspada level II. Pada 8 September status dinaikkan menjadi Waspada level III. Namun, aktivitas anak gunung ini kembali menurun.Agustus 2014 lalu, kami menuruni kaldera Tambora dan melihat anak gunung telah tumbuh hingga setinggi sekitar 30 meter. Asap putih tebal menguar dari Doro Api Toi tanpa henti, menandakan dapur magma di perut Tambora masih menyala.

Namun, bagi PVMBG, Tambora memang bukan prioritas.Kepala Badan Geologi Kementerian ESDM Surono, dalam berbagai kesempatan mengatakan, setelah menemukan keseimbangan dengan letusan besar 1815, Tambora membutuhkan waktu panjang untuk kembali mengumpulkan daya.Menurut Surono, PVMBG juga telah membuat peta Kawasan Rawan Bencana Gunung Tambora. Dalam peta, Tambora dibagi dua zona, kawasan bahaya dan waspada. Kawasan bahaya berpotensi terdampak langsung aliran awan panas dan lava meliputi wilayah 58,7 kilometer persegi. Adapun daerah waspada berpotensi terkena aliran lahar dan hujan batu apung, seluas 185 kilometer persegi.

Sekalipun diyakini tidak akan meletus dalam waktu dekat, letusan Tambora harusnya menjadi penanda sejarah tentang begitu labilnya kondisi geologi Nusantara. Sayang, hingga dua abad letusan Tambora, gunung ini sepertinya lebih banyak dikenal di luar negeri daripada di Indonesia. Literasi tentang Tambora dalam khazanah Nusantara sangat minim. Bahkan, di Tambora sendiri, baru hari-hari ini saja gunung ini dibicarakan. Itu pun kebanyakan bukan dari aspek kegunungapian ataupun jejak peradaban yang terkubur karena letusannya. Barangkali, gagasan Ketua Tim Penelitian Situs Tambora, Sony Wibisono, dari Pusat Arkeologi Nasional (Pusarnas), untuk membuat Situs Tambora sebagai ekomuseum penting untuk diwujudkan.

Ekomuseum ini dapat mengangkat kembali Tambora sebagai tempat wisata, tempat pembelajaran sejarah, tempat konservasi sumber daya alam, dan sarana pemberdayaan masyarakat. Jika Pompeii bisa direkonstruksi dan menjadi tempat belajar warga dunia, kenapa Tambora dilupakan? Padahal, dampaknya jauh lebih hebat dibandingkan Vesuvius yang mengubur Pompeii, dan peristiwanya ratusan tahun lebih muda. April 1815, Gunung Tambora di Pulau Sumbawa, Nusa Tenggara Barat, meletus hebat. Dunia Barat didera ”tahun tanpa musim panas” setahun setelah itu. Belakangan, mereka mengenal Tambora sebagai, ”…penyebab krisis kemanusiaan terbesar pada era modern” (Clive Oppenheimer, 2003). Tahun-tahun setelah letusan itu juga dikenal di Barat sebagai ”Eighteen Hundred and Froze to Death” (Erik Conway, 2009).

Kegagalan panen dan wabah penyakit menular seperti tipus, disentri, hingga kolera, yang kemudian melanda dunia, menempatkan Tambora sebagai pembunuh global. Di Nusantara, dampak letusan melenyapkan dua kerajaan di lerengnya, Kerajaan Tambora dan Kerajaan Pekat, serta menghancurkan Kerajaan Sanggar. Kehancuran dan kematian massal juga melanda Lombok dan Bali hingga bertahun-tahun kemudian.

Jika kehancuran di sekitar Tambora disebabkan terpaan awan panas, kematian massal berskala global justru disebabkan pendinginan Bumi pasca letusan. Total penurunan suhu Bumi mencapai 0,4–0,7 derajat celsius (Richard B Stother, 1984), tetapi di beberapa tempat lebih tinggi, seperti di New England dan Selat Inggris yang turun hingga 2,5 derajat celsius (Sigurdsson, 2000). Dampaknya adalah kegagalan panen global.

Menurut Sigurdsson (2000), Benjamin Franklin kemungkinan adalah orang pertama yang menghubungkan letusan gunung api dengan anomali cuaca, ketika tahun 1784 dia menemukan ”kabut basah” dan musim dingin tak biasa yang melanda Eropa. Franklin berspekulasi bahwa kabut itulah yang mendinginkan musim panas, berasal dari asap tabrakan meteor atau letusan gunung api di Iceland (Gunung Laki meletus pada 1783). Hipotesis itu terkonfirmasi ketika Gunung Krakatau di Selat Sunda meletus tahun 1883 dan menciptakan perubahan cuaca global. Saat itu dunia telah terhubung oleh teknologi telegraf sehingga kabar letusannya mendunia dalam waktu singkat. Orang dengan cepat bisa menghubungkan langit jingga dan anomali cuaca di berbagai belahan dunia dengan letusan Krakatau.

Sebaliknya, letusan Tambora pada 1815 nyaris tak diketahui masyarakat Barat. Selama lebih dari seratus tahun, mereka tidak tahu penyebab ”tahun tanpa musim panas” pada 1816. Baru pada tahun 1920-an, WJ Humphreys, peneliti di kantor meteorologi AS, menemukan hubungan antara cuaca buruk pada 1816 dan letusan Tambora. Dia berteori, abu yang terlontar telah menghalangi sinar matahari ke Bumi. Teori itu belakangan dibantah ahli lain yang menyatakan bahwa pendinginan bumi tersebut disebabkan aerosol asam sulfat dari Tambora.

Setelah itu, pada 1960-an, ahli meteorologi Hubert Lamb membuat indeks yang membandingkan jumlah semburan partikel gunung api saat meletus sehingga dampak letusan terhadap iklim bisa diukur. Erupsi Krakatau pada 1883 berada di indeks 1.000. Letusan Tambora memiliki skor tertinggi, 4.200. Kini, para ilmuwan mengetahui, gunung api berpengaruh terhadap perubahan iklim global dalam dua cara; memanaskan sekaligus mendinginkan. Karbon dioksida yang rutin dikeluarkan gunung api dalam aktivitasnya menyumbang gas rumah kaca sehingga berpotensi menyebabkan pemanasan global. Namun, menurut hitungan Lembaga Survei Geologi Amerika Serikat (USGS), sumbangan emisi karbon seluruh gunung api dunia relatif kecil, hanya 0,26 giga ton per tahun, dibandingkan dengan emisi dari faktor antropogenik yang 35 giga ton per tahun.

Gunung api lebih signifikan mendinginkan Bumi. Selama letusan besar, sejumlah gas, aerosol, dan abu dilontarkan ke stratosfer. Abu yang dilontarkan akan cepat jatuh sehingga tidak berdampak pada perubahan iklim. Namun, gas-gas vulkanik, seperti sulfur dioksida, mampu memantulkan sinar matahari sehingga berdampak pada pendinginan Bumi. Sosialisasi terkait potensi bencana erupsi Gunung Tambora di Kabupaten Dompu, Nusa Tenggara Barat, kepada masyarakat yang bermukim di kaki dan lereng gunung itu masih minim. Padahal, sosialisasi penting untuk menanamkan kesadaran dan kesiapan masyarakat jika sewaktu-waktu bencana terjadi.

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Nusa Tenggara Barat (NTB) menggelar geladi kesiagaan bencana erupsi Gunung Tambora di Lapangan Dusun Pancasila, Desa Tambora, Kecamatan Pekat, Dompu, Selasa (7/4). Acara simulasi penanganan erupsi Tambora itu melibatkan warga desa, semua BPBD kabupaten dan kota di NTB, serta instansi terkait.

Kepala BPBD Dompu Imran M Hasan mengatakan, dari 12 desa di Kecamatan Pekat, baru sebagian yang telah mendapat sosialisasi kebencanaan. Kecamatan Pekat adalah wilayah di Dompu yang bersentuhan langsung dengan gunung setinggi 2.850 meter di atas permukaan laut itu.Terdapat empat desa di Pekat dengan kerawanan tinggi yakni Doro Peti, Sori Tatanga, Sori Nomo, dan Nanga Kara. Keempat desa itu posisinya paling dekat dengan Tambora dan terkena dampak paling parah dari erupsi dahsyat tahun 1815. “Dari keempat desa itu, baru Doro Peti yang sudah mendapatkan sosialisasi bencana erupsi tahun 2012 lalu,” kata Imran.

Camat Pekat Syaifullah menambahkan, keempat desa itu terletak di sisi selatan Tambora yang merupakan jalur lintasan lahar erupsi pada tahun 1815. Jumlah penduduk di keempat desa itu pun padat yakni separuh dari total 35.000 jiwa warga di seluruh Kecamatan Pekat. Imran mengatakan, idealnya sosialisasi kebencanaan di desa-desa di Tambora dilakukan minimal sekali dalam setahun. Hal itu dilakukan agar secara rutin mengingatkan warga akan potensi bahaya, dan cara menekan risiko jika erupsi terjadi.

Namun, Imran menambahkan, hal tersebut terkendala minimnya anggaran yang dimiliki BPBD Dompu. Dalam setahun, kemampuan anggaran daerah untuk membiayai BPBD hanya Rp 500 juta-Rp 600 juta. “Paling tidak kami membutuhkan anggaran Rp 1 miliar. Namun, itu sulit dipenuhi jika mengandalkan APBD kabupaten yang terbatas. Kami berharap pemerintah pusat memberi perhatian,” katanya.Terkait masalah itu, fasilitator manajemen bencana dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Agus Sardiyarso, yang hadir dalam geladi itu, mengatakan, sosialisasi kepada warga adalah tanggung jawab pemerintah daerah. Agus menambahkan, status Tambora saat ini masih Normal atau level I. Tahun 2011, status Tambora pernah Siaga (level III) atau satu level sebelum erupsi.

Kapal Musashi Ditemukan Di Filipina


Setelah tenggelam 70 tahun lalu pada masa Perang Dunia II dan hilang, kapal legendaris milik Jepang, Musashi, berhasil ditemukan di lepas pantai Filipina.

Miliuner Paul Allen memimpin ekspedisi untuk menemukan salah satu kapal perang terbesar yang pernah dibuat itu. Dengan menggunakan kapal M/Y Octopus sebesar 125 meter, Allen menemukan kapal itu teronggok di kedalaman laut Sibuyan.

“Penemuan ini bukan hanya akan membantu menarasikan peristiwa Perang Dunia II tetapi juga mendekatkan pada keluarga yang kehilangan anggota keluarganya,” demikian siebutkan dalam situs Allen seperti dikutip Livecsience, Kamis (5/3/2015).

Musashi dan Yamato termasuk dalam kapal perang tercanggih yang pernah ada. Yamato tenggelam pada 7 April 1945. Tahun 1980, kapal itu ditemukan di perairan 290 km barat daya Kyushu. Kapal terbelah menjadi dua, berada pada kedalaman 340 meter.

Musashi sendiri berhasil ditenggelamkan oleh Amerika pada 24 Oktober 1944 saat perang di Teluk Leyte. Sekitar 1.000 awak kapal tewas. Sejak saat itu, nasib awak kapal dan bangkainya misterius.

Allen belum menguraikan banyak soal kapal sepanjang 263 meter dan volume 66.250 metrik ton itu. Meskipun demikian, tweet Allen mengindikasikan bahwa kapal tersebut ditemukan pada kedalaman 1 km.

Tim peneliti merilis video kapal Musashi. Video memperlihatkan sejumlah bagian kapal seperti sistem peluncur serta roda pada katup mesin.

Allen telah lama menaruh perhatian pada soal teknologi. Dia merupakan salah satu pendukung misi SpaceShipOne. Tahun 2012, dia juga mendukung misi James Cameroon ke dasar Palung Mariana.