Monthly Archives: April 2011

Cara Memanen Listrik Dari Arus Laut Di Selat


Selat menyimpan arus laut yang relatif tak pernah berhenti. Dengan mengandalkan dinamika pasang surut saja, tim peneliti berhasil memanen arus listrik dari arus laut yang mengalir di Selat Flores, di dekat Larantuka, Nusa Tenggara Timur.

Arus yang keluar menuju Samudra Hindia biasanya jauh lebih kencang,” kata Erwandi, ketua tim perekayasa pembangkit listrik tenaga arus laut (PLTAL), Senin (25/4), dalam diskusi yang diselenggarakan PT PLN (Persero) di Jakarta.

Dari hasil pemantauan, sepanjang tahun di Selat Flores bisa didapat kecepatan arus laut minimum 0,6 meter per detik dan maksimum 4,3 meter per detik atau rata-rata 1,8-2 meter per detik.

Tim Erwandi dibentuk tahun 2008 di Surabaya di bawah naungan Unit Pelaksana Teknis (UPT) Balai Pengkajian dan Penelitian Hidrodinamika pada Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT).

Uji coba pertama kali dilangsungkan pada akhir Maret 2010, dilanjutkan bulan Juni 2010. Uji coba tahap pertama menggunakan ukuran bilah turbin dua meter dengan diameter putaran turbin juga dua meter.

”Ada tiga bilah turbin yang dipasang dengan material bahan dari aluminium,” kata Erwandi.

Erwandi menggunakan turbin Darrieus tipe H, yaitu tipe vertikal yang menggunakan tiga bilah turbin. Uji coba pertama untuk menghasilkan listrik dengan daya 2.000 watt. Hasil evaluasi menunjukkan, bilah berbahan aluminium kurang efektif.

”Bilah aluminium menjadi bengkok-bengkok sehingga perlu diganti dengan material yang lebih kuat,” kata Erwandi.

Kekuatan turbin

Uji coba tahap kedua dilaksanakan pada 26 Maret 2011. Erwandi mengubah target perolehan listrik menjadi 10.000 watt dan meningkatkan kekuatan turbin. ”Poros dan bilah turbinnya diganti dengan logam baja antikarat (stainless steel),” kata Erwandi.

Ukuran diameter putar turbin dan panjang bilah turbin juga ditingkatkan. Diameternya diubah dari dua meter menjadi 3,6 meter, sedangkan panjang bilah turbin menjadi 2,5 meter.

Lokasi uji coba sama, sekitar 100 meter dari dermaga penyeberangan Dusun Tanah Merah, Desa Wureh, Kecamatan Adonara Barat, Pulau Adonara, NTT.

”Lokasi itu cukup fenomenal karena arus lautnya lebih kencang dibandingkan lokasi di sekitarnya,” kata Erwandi.

Penambahan panjang bilah dan diameter putar turbin pada uji coba tahap kedua membawa konsekuensi tersendiri. Beberapa saat setelah instalasi PLTAL diceburkan, meski baru setengah, sudah berputar sangat kencang. ”Kecepatan arus laut waktu itu 3,8 meter per detik,” kata Erwandi.

Hanya sesaat instalasi PLTAL diceburkan, telah terseret arus sepanjang 50 meter. Padahal, bobot instalasi mencapai 8.000 kilogram ditambah 8.000 kilogram beban pemberat yang ditenggelamkan dengan empat jangkar.

”Uji coba untuk kapasitas listrik 10.000 watt itu dihentikan untuk sementara sampai selesai dievaluasi untuk perbaikannya,” kata Erwandi.

Salah satu solusi untuk uji coba berikutnya adalah menambah beban pemberat.

Dasar laut

Erwandi mengatakan, salah satu faktor penyebab hanyutnya instalasi PLTAL yang akan dievaluasi adalah kondisi dasar laut. Struktur dasar laut di Adonara saat ini tengah diselidiki dengan pengambilan gambar di dalam air.

”Dasar laut pada posisi yang makin sempit dan makin dangkal menyebabkan arus laut makin kencang, tetapi ini perlu dipastikan dengan cara mengambil gambar dasar laut,” kata Erwandi.

Teknologi pembangkit listrik yang menggunakan energi terbarukan arus laut ini sudah diaudit oleh Pusat Audit Teknologi BPPT. Menurut Erwandi, teknologi itu menempati level 7 menuju level 8. Jika menempati posisi puncak pada level 9, diartikan sudah siap dikomersialkan.

”Efisiensi putaran turbin sudah cukup tinggi, mencapai 42 persen tanpa generator, dan 32 persen sampai 35 persen setelah dipasang generator,” kata Erwandi.

Efisiensi putaran turbin maksimal diperhitungkan mencapai 59 persen. Kecepatan arus laut melambat saat pergantian arah arus laut pasang dan surut mencapai setengah sampai satu jam.

Erwandi memperkirakan, listrik dari pembangkit listrik tenaga arus laut di perairan selat akan sangat melimpah. Di Selat Flores saja mampu membangkitkan listrik 300 megawatt, padahal selat di Indonesia jumlahnya mencapai ribuan.

Iklan

Perilaku Seksual Laba Laba Berubah Tergantung Tingkat Lapar dan Kenyang


Rasa lapar bisa memengaruhi laba-laba betina dalam memilih pasangan kawin. Perubahan cuaca dan lingkungan dapat mengakibatkan kelangkaan bahan makanan. Dampaknya ternyata berhubungan dengan kecenderungan pemilihan pasangan dan reproduksi serangga, khususnya laba-laba.

Untuk mengamati sejauh mana rasa lapar memengaruhi laba-laba betina dalam memilih pasangan beserta tingkat agresivitasnya, para peneliti University of Cincinnati melakukan studi terhadap laba-laba serigala betina (Schizocosa ocreata), jenis laba-laba yang sering ditemui di Kanada dan timur Amerika. Laba-laba serigala betina terkenal mempunyai potensi agresivitas tinggi, bahkan cenderung kanibal saat didekati laba-laba jantan yang berupaya memikatnya.

Ada tiga kondisi laba-laba betina yang diamati, laba-laba yang cukup makan, laba-laba yang kelaparan dalam waktu yang belum terlalu lama, dan laba-laba yang kelaparan dalam waktu lama. Ketiganya menunjukkan perilaku yang berbeda.

Secara umum, laba-laba jantan berbadan besar dengan jumbai kaki yang besar paling diminati laba-laba betina, baik yang kenyang maupun yang kelaparan. Laba-laba jantan itu juga lebih terhindar dari kemungkinan dikanibal oleh laba-laba betina. Dengan begitu, kemungkinan peningkatan populasi laba-laba jantan berkualitas yang “menarik” ini pun semakin tinggi.

Namun, laba-laba jantan berukuran kecil dengan kaki pendek besar peluang menjadi korban. Laba-laba yang cukup makan tidak terlalu memedulikan laba-laba jantan kecil dan lebih pemilih laba-laba besar sebagai pasangan. Laba-laba yang lapar jangka pendek tidak terlalu tertarik kawin dan sangat agresif terhadap laba-laba jantan kecil. Sementara laba-laba betina yang lapar jangka panjang malah suka kawin dan agresif.

“Hasil studi ini menunjukkan laba-laba betina yang lapar mengubah kecenderungannya. Mereka kawin dengan laba-laba jantan yang disukainya dan memangsa yang tidak diminatinya,” kata George Uetz, profesor biologi di University of Cincinnati.

Menurut Uetz, studi ini memberikan indikasi terhadap apa yang akan terjadi apabila perubahan lingkungan memengaruhi sumber makanan pada populasi hewan. Sekaligus membawa titik cerah mengenai efek yang mungkin terjadi pada preferensi pemilihan pasangan kawin dalam jangka pendek maupun jangka panjang saat sumber makanan langka serta potensi dinamika populasinya dalam jangka panjang.

Jeruk Kinnow Tanpa Biji dan Manis Kini Bisa Ditanam Di Tanah Tandus


Manis, tanpa biji, kulitnya tipis dan mudah dikupas, serta dapat ditumbuhkan di padang pasir. Itulah jeruk sempurna… hasil rekayasa genetika.

Departemen Plant Biology dari University of California di Riverside mengumumkan kesuksesan peneliti mereka membuat KinnowLS, jeruk hasil rekayasa genetika yang dibuat berdasarkan jeruk kinnow yang biasa tumbuh di India dan Pakistan. Kinnow sendiri sebetulnya merupakan hasil rekayasa genetika oleh UC Riverside 10 tahun yang lalu.

KinnowLS dibuat dengan memborbardir tanaman muda dengan sinar X, sinar gamma, dan berbagai bahan kimia. Beberapa pertanian di daerah panas di California sudah diberi izin untuk menumbuhkan pohon jeruk ini dan akan menghasilkan KinnowLS tiga tahun lagi.

Jeruk ini belum akan dikomersialkan setidaknya sampai lima tahun lagi karena saat ini masih dalam versi coba-coba. Jenis jeruk rekayasa yang tahan kondisi ekstrim tentu harapan bagi ketahanan pangan di masa depan, tetapi keamanan introduksi ke alam liar tentu masih menjadi pertimbangan utama untuk dikaji lebih lanjut

Cara Membuat Oli Bekas Menjadi Bahan Bakar Kendaraan


DIPERKIRAKAN lebih dari 30,3 miliar liter oli bekas dihasilkan setiap tahun oleh kendaraan di seluruh dunia. Sebagian didaur ulang menjadi oli baru dan sisanya dibakar dalam tungku panas yang tidak seluruhnya proses tersebut aman bagi lingkungan.

Saat ini, peneliti dari Universitas Cambridge mengumumkan bahwa dengan menggunakan gelombang microwave, limbah oli bekas tersebut dapat diubah menjadi bahan bakar kendaraan. Para ilmuwan telah menggunakan proses yang disebut pyrolysis untuk mendaur ulang oli dengan metode berbeda.

Minyak yang dipanaskan pada suhu tinggi dalam ketidakadaan oksigen menyebabkan oli terpecah menjadi beberapa campuran gas, cairan, dan meterial padat. Gas-gas dan cairan dapat diubah menjadi bahan bakar. Ilmuwan di Cambrige menyatakan bahwa proses pyrolysis tradisional tidak dapat memanaskan oli secara merata sehingga proses perubahan menjadi bahan bakar sangat sulit dan tidak praktis.

Untuk mengatasi hal itu para ilmuwan tersebut menambah material penyerap gelombang microwave dalam sampel limbah oli sebelum melakukan proses pyrolysis yang kali ini memanfaatkan gelombang microwave.

Penambahan material tersebut ternyata membuat limbah oli menjadi panas secara merata yang membuat hampir 90% limbah oli dengan mudah diubah ke dalam sebuah campuran bensin dan solar konvensional.

Pimpinan penelitian Howard Chase, seorang profesor biochemical engineering, meyakini bahwa proses pyrolysis unik yang mereka lakukan menunjukkan potensi besar untuk dapat ditingkatkan dalam skala komersial.

Hasil penelitian ini dipresentasikan di acara National Meeting & Exposition of the American Chemical Society yang ke-241 yang digelar di Anheim, California, AS

Fuel Cell Teknologi Ramah Lingkungan Yang Tepat Dalam Keadaan Darurat


Bencana seperti gempa bumi selalu datang tiba-tiba dan tidak bisa diramalkan. Gempa besar yang melanda Aceh beberapa tahun lalu dan gempa besar yang baru terjadi di Jepang setidaknya melumpuhkan jaringan listrik yang menjadi sumber tenaga hampir semua perangkat modern saat ini.

Tidak terkecuali pendukung komunikasi seluler yang saat itu pasti sangat dibutuhkan jasanya. Yang paling umum, tenaga cadangan menggunakan jenis baterai dengan kapasitas terbatas, setelah itu juga akan mati jika pasokan listrik tidak pulih.

Sementara itu, kondisi darurat untuk negeri ini bukan hanya bergantung pada bencana saja. Pasokan listrik dari PLN yang tidak andal, sering mati tiba-tiba, membuat layanan darurat menjadi perhatian serius bagi para operator seluler.

Selain baterai, mesin diesel kecil dan sumber listrik tenaga alternatif, seperti panel sel surya dan kincir angin, juga banyak digunakan. Namun, dari semua tenaga cadangan yang paling menarik adalah pembangkit fuel-cell atau sel bahan bakar yang ternyata sudah diterapkan di negeri ini.

Operator 3 (baca: Tri) milik PT Hutchison CP Telecommunication membuat gebrakan dengan memasang fuel-cell untuk 472 BTS yang mengoperasikan jaringannya. Ini merupakan jumlah sel hidrogen terbesar di kawasan Asia Tenggara saat ini.

”Pengoperasian BTS bertenaga hidrogen ini mencakup wilayah di Sumatera, Jawa, Bali, dan Lombok. Proses konvergensi penggunaannya sudah 80 persen berjalan dan diperkirakan akhir bulan ini akan selesai,” kata Manjot Mann, Presiden Direktur Tri, dalam peluncuran beberapa waktu lalu.

Pembangkit energi sangat ramah lingkungan yang dibangun Tri secara bertahap sejak 2009 merupakan awal yang baik. Meski sementara masih untuk cadangan, nantinya juga akan mampu menjadi energi utama jika infrastruktur jaringan hidrogen sudah memungkinkan.

Ramah lingkungan

Kelebihan dari pembangkit bahan bakar ini adalah unsur ramah lingkungan yang tinggi, selain keuntungan lain. Hasil reaksi kimia antara gas hidrogen dan oksigen dari udara yang menghasilkan listrik hanya berupa uap air.

”Penggunaan sel hidrogen ini bukan hanya tanpa polusi, tetapi juga tidak menimbulkan suara sehingga lebih disukai tetangga. Selain itu, pemeliharaan juga mudah dan tidak perlu sering- sering dilakukan karena tidak ada komponen bergerak seperti diesel,” kata Benoit Hansen, Chief Technical Officer Tri, dalam perbincangan dengan Kompas.

Selain itu, pemakaian perangkat ini juga tidak banyak memakan tempat seperti halnya sel surya.

”Untuk tenaga angin juga kurang ideal, seperti di daerah Pulau Jawa sulit mendapatkan angin yang cukup,” kata Hansen yang didampingi Mustafa Kapasi (Head of Marketing Tri).

Yang menarik, sel hidrogen ini mampu menghasilkan daya yang cukup besar dibandingkan energi alternatif lainnya dan bisa memberikan cadangan listrik yang lebih tahan lama. Mungkin investasi awal lebih mahal, tapi dalam pengoperasiannya nanti biayanya akan menjadi lebih murah, antara lain karena penghematan biaya perawatan.

Hanya memang solusi positif dalam mengurangi dampak lingkungan ini belum mendapat dukungan pemerintah secara nyata. Belum ada insentif khusus bagi yang menerapkan energi alternatif yang ramah lingkungan, kecuali hanya kata-kata sangat mendukung saja.

Energi seperti sel bahan bakar ini memiliki rentang pengembangan yang luas, mulai dari kebutuhan penyetruman ulang gadget sampai kebutuhan industri. Jepang termasuk negara yang agresif mengembangkan fuel-cell untuk kebutuhan charger gadget, bahkan secara lokal sudah dikomersialkan.

Dalam waktu dekat tidak tertutup kemungkinan teknologi ini segera dipasarkan untuk kebutuhan cadangan listrik rumah tangga. Setidaknya bisa mengurangi ketergantungan pada pasokan listrik yang tidak stabil.

Teknologi Dripping Irrigation Dari China Mampu Meningkatkan Produktivitas Tebu


Ada yang menarik perhatian begitu menjejakkan kaki di area perkebunan tebu milik Guangken Sugar Group, anak perusahaan GuangDong Agribusiness Corporation Group. Sebuah perusahaan negara di bawah Kementerian Pertanian China.

GSG merupakan perusahaan gula terintegrasi dari hulu hingga hilir, mulai dari budidaya, pengolahan, hingga pemasaran produk. Baik dalam bentuk gula maupun hasil sampingnya.

Kelebihan GSG dalam mengelola perkebunan tebunya adalah menggunakan mekanisasi.

Dalam bidang irigasi, GSG mengembangkan sistem irigasi model dripping atau irigasi tetes yang dikontrol otomatis oleh komputer. Jaringan irigasi model dripping berada di tengah hamparan lahan tebu.

”Dengan adanya irigasi tetes, produktivitas tebu bisa dinaikkan 20 ton per hektar,” ujar Wakil Direktur Biro Pertanian Zhanjiang Huang Guogiang, pertengahan Februari lalu.

Irigasi model tetes sangat membantu di China. Maklum, topografi China tidak seperti Indonesia. Meski lahan banyak hamparan, pasokan air irigasi model tradisional, seperti memanfaatkan dam atau bendung, tidak akan bisa menjangkau ke semua area pertanian.

Tanpa merancang sistem irigasi yang sesuai kondisi lingkungan, produksi tanaman tebu tidak akan optimal. Beda dengan di Indonesia. Iklim di Jawa relatif tegas, kecuali belakangan ini hujan berkepanjangan.

Sebelumnya, Oktober-Maret musim hujan, sedangkan April-September musim kemarau. Pola iklim tegas sangat memudahkan teknis budidaya. Apalagi pada masa-masa pemasakan, tebu tidak banyak butuh air agar rendemen gula tinggi.

Di area tebu milik GSG di Zhanjiang, Guangdong, pasokan air terbatas. Meski pada saat pemasakan kondisi ini sangat membantu, tetapi mengganggu pada saat pertumbuhan karena kurangnya pasokan air. Irigasi model tetes dapat mengatasi masalah kekurangan air.

Mengairi lahan 30 hektar

Sistem irigasi ini mampu menjangkau dan mengairi tanaman tebu seluas 30 hektar. Menurut Wu Guizhou, Director Foreign Economic Office GDA, irigasi tetes beroperasi selama 18 jam, setara dengan curah hujan 30 mm per hari.

Zhang Li Fu, Deputi Kepala Produksi dan Teknologi Zhanjiang State Farm Bureau, mengatakan, prinsipnya bagaimana menyedot air dari dalam tanah atau dari sumber lain, lalu dipompa untuk menyiram tanaman tebu.

Di sepanjang bentangan pipa horizontal terdapat selang atau pipa kecil yang disusun vertikal dan dirancang khusus. Ketika air bertekanan melewatinya, langsung disemprotkan ke segala arah.

Agar mampu menjangkau pengairan hingga 30 hektar di sekelilingnya, bentangan pipa itu bisa diputar, dengan poros utama tetap pada saluran isap. Sistem pemutarnya tidak menggunakan cara otomatis, tetapi mekanis. Ditarik oleh kendaraan yang dirancang khusus.

Ini mungkin dilakukan karena di sepanjang bentangan pipa, pada jarak 10-15 meter, dipasang tiang-tiang penyangga beroda. Roda-roda itulah yang ditarik berputar, menjangkau hamparan tanaman tebu.

Menurut Wu Guizhou, investasi yang dibutuhkan sekitar 1 juta yuan (Rp 1,4 miliar) untuk peralatan dan penggalian sumur. Sistem irigasi bisa menggunakan tenaga listrik ataupun generator berbahan bakar solar.

Dengan mengadopsi sistem irigasi tetes, peningkatan produktivitas terjadi sangat nyata. Kalau tanpa ada irigasi, tanaman tebu hanya mengandalkan pasokan air hujan. Dalam situasi iklim tak menentu seperti sekarang, itu merupakan hambatan.

Sebelum ada irigasi sistem dripping, produktivitas per hektar tanaman tebu di GSG hanya 90 ton per hektar. Dengan irigasi tersebut, produktivitas bisa ditingkatkan hingga 110 ton.

Alat panen

Mesin pemanen tebu (harvester) yang dirancang khusus juga sangat menarik perhatian.

Jika ingin memanen, mesin pemangkas tebu tinggal diarahkan pada lajur tanaman. Roda bergerak di lajur yang kosong. Jika mesin tinggal dijalankan, tanaman tebu secara otomatis terpangkas, terpotong-potong dalam ukuran tertentu, dan dipisahkan dari sampah daun.

Sebuah truk mengiringi jalannya mesin pemanen. Bak truk diarahkan tepat di bawah lubang pemasok tebu dari mesin pemanen hingga bak truk terisi tebu hasil panen. Truk yang berisi tebu langsung meluncur ke area penampungan, selanjutnya dibawa ke pabrik gula.

Begitu mesin pemanen selesai bekerja, mesin pembalik lahan langsung jalan. Mesin membalikkan lahan di sekitar rumpun tebu dan menimbunnya, sementara sampah tertimbun secara otomatis dan langsung dapat dijadikan pupuk.

Tidak banyak tenaga manusia yang dibutuhkan. Hanya perlu dua-tiga orang untuk mengoperasikan mesin pemanen dan truk pengangkut. Selain lebih cepat, penggunaan mesin pemanen juga sangat efisien.

Dirut PT Industri Gula Nusantara Kamadjaya mengatakan, sistem irigasi dan mekanisasi dalam pemanenan tebu ini sangat cocok diterapkan di area perkebunan tebu yang datar dan kerap mengalami kekeringan.

Di Indonesia, sistem seperti ini bisa dikembangkan di luar Jawa karena di sana banyak tempat yang memungkinkan dilakukan sistem pengairan secara modern. Apalagi lahan yang tersedia masih sangat luas.

Biomassa Adalah Emas Hijau Baru Dari Limbah


Limbah hasil panen di pertanian dan perkebunan berupa cangkang, tandan kosong, jerami, dan serasah selama ini dianggap obyek tak berguna. Namun, penelitian menunjukkan, selain pakan dan papan, dari limbah ini juga dihasilkan beragam produk yang tergolong baru dan bernilai ekonomis tinggi, serta ramah lingkungan.

Memiliki hutan dan perkebunan luas, Indonesia yang berada di wilayah tropis dan beriklim basah menjadi produsen utama biomassa di dunia. Dengan melonjaknya harga bahan bakar fosil, belakangan ini biomassa mulai banyak digunakan sebagai bahan bakar nabati. Apalagi jenis energi ini ramah lingkungan dan terbarukan.

Selain sebagai bahan bakar nabati berupa bioetanol dan biodiesel, biomassa juga diolah menjadi berbagai produk kimia untuk menggantikan senyawa petrokimia yang berasal dari bahan bakar minyak. Hal ini yang kemudian mendorong berkembangnya biokilang (biorefinery), yaitu mengolah habis biomassa dengan cara ramah lingkungan sehingga tak menyisakan limbah.

Forum Ekonomi Dunia meramalkan, tahun 2020 industri biokilang akan berkontribusi 230 miliar dollar AS pada ekonomi global dan penggunaan biomasa dalam produksi bahan kimia akan meningkat 9 persen.

Pemanfaatan biomassa untuk energi dan bahan kimia bernilai ekonomis tergolong perkembangan baru setelah pengolahan yang konvensional, yaitu untuk pakan, sandang, dan papan.

Agar tidak mengganggu pasokan bahan baku untuk pangan, pengolahan biomassa untuk energi dan bahan kimia memanfaatkan limbah pertanian dan perkebunan, serta sumber nabati yang tidak dibudidayakan untuk bahan pangan.

Mempertimbangkan hal tersebut, peneliti di Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) pada Balai Besar Teknologi Pati dan Pusat Teknologi Bioindustri memanfaatkan limbah perkebunan kelapa sawit berupa cangkang sawit, tandan kosong, dan batang yang tak produktif.

Biokilang

Pengolahan biomassa dengan teknik biokilang, menurut Agus Eko Tjahjono, perekayasa utama bioenergi dari BPPT, mulai digalakkan di badan riset itu sejak lima tahun lalu.

Indonesia yang merupakan produsen terbesar minyak kelapa sawit berpotensi menghasilkan biomassa dari perkebunan sawit. Dari cangkang dan tanda kosong kelapa sawit dihasilkan bioetanol dan biodiesel.

”Cangkang diolah menjadi karbon aktif dan biogas,” kata Indra Budi Susetyo, Kepala Program Sawit BPPT

Dalam hal ini BPPT telah merancang bangun biokilang untuk menghasilkan bioetanol generasi kedua. ”Tiga tahun ke depan bioetanol ini sudah pada tahap komersial,” kata Agus.

Bioetanol generasi kedua, menurut Unggul Priyanto, Deputi Teknologi Instrumentasi Energi dan Material BPPT, memanfaatkan serat berupa limbah kayu, tandan kosong kelapa sawit, dan sekam padi sehingga tidak berkompetisi dengan kebutuhan pangan. Adapun bioetanol generasi pertama menggunakan bahan baku pati-patian.

Selain itu, dikembangkan pula teknologi proses pembuatan biodiesel dari limbah kelapa sawit dengan proses gasifikasi. Biodiesel ini juga sudah sampai generasi kedua. ”Rencananya kami mengembangkan biodiesel dan bioetanol ke tahap pilot plant bekerja sama dengan Mitsubishi,” kata Unggul.

Limbah gliserol

Selain menjadi minyak goreng dan mentega, minyak kelapa sawit juga diolah menjadi biodiesel. Namun, pengolahan minyak sawit mentah (CPO) yang berupa trigliserida menjadi biodiesel yang berbentuk metil ester menghasilkan produk samping, yaitu gliserol.

”Persentase gliserol hanya 10 persen dari total produksi. Namun, volumenya akan besar, yaitu 2 juta ton bila dikaitkan dengan rencana produksi bahan bakar nabati sebesar 20 juta ton tahun 2015,” kata Witono Basuki, Direktur Pusat Teknologi Bioindustri BPPT.

Karena itu, dikembangkan teknik pengolahan gliserol menjadi produk berguna, antara lain minyak Omega 3 (Poly Unsaturated Fatty Acid/PUFA), asam suksinat, dan propandiol untuk bahan baku plastik. Minyak Omega 3 selama ini untuk mengobati penyakit jantung, Alzheimer, dan antikanker. ”Teknik penguraian gliserol di biokilang sudah berhasil dalam skala laboratorium. Kini dikembangkan ke skala komersial,” ujar Witono.

”Selain itu, juga diteliti penggunaan CPO untuk pelumas karet dan menjadi polimer untuk bahan pelapis,” kata Indra.

Terkait dengan itu, Maret lalu dilakukan penandatanganan kesepakatan dan perjanjian kerja sama antara Pusat Teknologi Bioindustri BPPT dan Umsicht (lembaga riset di bawah Fraunhofer Institute Jerman yang bergerak di bidang lingkungan, keamanan dan teknologi energi).

Kerja sama dilakukan dalam pengembangan produksi terpadu BBN dan bahan kimia (metil ester atau biodiesel, asam suksinat, protein, pupuk, dan biogas) dari berbagai biomassa.

Peneliti di Pusat Teknologi Bioindustri BPPT mengkaji enzim lipase untuk produksi biodiesel untuk menggantikan sodium hidroksida (NaOH) sebagai katalis.

Penggunaan senyawa kimia ini memerlukan perlakuan awal karena sensitif terhadap air dan memiliki asam lemak bebas pada bahan bakunya. Cara ini perlu energi besar untuk pemurnian dan membuat limbah cair menjadi bersifat basa.

Peneliti mengatasi hal itu dengan menggunakan enzim lipase yang berasal dari isolat mikroba tanah sebagai penggantinya. Hasilnya, produksi metil ester itu tidak menimbulkan limbah cair dan gliserol sehingga tidak perlu prosses pemurnian lebih lanjut.

Kerja sama itu juga untuk aplikasi katalis nanoreaktor untuk meningkatkan kecepatan reaksi dan kestabilan enzim.