Category Archives: Astronomi

Asal Mula Penamaan Fenomena Bulan Biru


Fenomena bulan biru menyapa dunia. Bulan biru bukan berarti bulan yang berwarna biru, melainkan merupakan purnama kedua yang muncul dalam bulan yang sama. Mengapa purnama kedua disebut bulan biru? Mengapa bukan hitam, hijau, atau warna lainnya? Hingga kini, alasan pastinya tak diketahui.

Yang jelas, seperti diberitakan Christian Science Monitor hari ini, istilah bulan biru setidaknya sudah dipakai selama 500 tahun. Maknanya juga terus mengalami perubahan. Penggunaan istilah bulan biru paling awal adalah pada tulisan Kardinal Thomas Wolsey, penasihat Raja Henry VIII dari Inggris.

Dalam naskah itu, Wolsey menuliskan, “Membuatmu percaya bahwa bulan itu biru.” Bulan biru kala itu bermakna sesuatu yang absurd, sulit dijelaskan. Tahun 1700-an, istilah bulan biru ditemukan dalam beberapa naskah. Arti bulan biru saat itu “tidak akan pernah”.

Sementara itu, pada tahun 1821, istilah “bulan biru” muncul pada buku tentang kisah kelas pekerja. Kalimat dengan frasa itu berbunyi, “Aku belum melihatmu bulan biru ini.”Bulan biru kala itu berarti waktu yang sangat lama. Catatan kaki pada buku tersebut menyebut bahwa istilah “bulan biru” banyak digunakan sebagai bahasa sehari-hari.

Istilah bulan biru mencapai popularitas pada abad ke-19. Saat itulah, muncul frasa, “Once in A Blue Moon”. Saat itu, dalam Almanak Petani Maine, bulan biru diartikan sebagai bulan ketiga dalam triwulan yang memiliki empat purnama. Biasanya, satu triwulan hanya punya tiga purnama.Mengapa bulan ketiga disebut biru? Kemungkinan pertama, istilah diadopsi dari bahasa Ceko yang menyebut bulan ketiga biru.

Teori lain, sebutan biru berasal dari bahasa Perancis, “La Deux Lune”, yang jika diucapkan akan mirip dengan “Blue Moon”.Teori ketiga menyatakan, bulan ketiga disebut bulan biru karena menandakan kelangkaan dan ketidakberuntungan.

Tahun 1946, artikel “Once in a Blue Moon” di majalah Sky and Telescope yang ditulis James Hugh Pruett keliru mendefinisikan bulan biru sebagai bulan kedua dalam bulan yang sama.Menurut astronom John P Millis, definisi seperti yang dijelaskan Pruett sangat populer sehingga banyak penulis pun lebih sering menggunakannya daripada definisi Almanak Petani Maine.

Fenomena bulan biru mendapat banyak perhatian dari warga di penjuru dunia. Kehidupan warga kota yang jauh dari soal astronomi mungkin membuat fenomena bulan biru dikagumi walaupun biasa saja.

Iklan

Alam Semesta Terbukti Tidak Punya Awal dan Akhir


Kajian terbaru fisikawan Kanada dan Mesir menyatakan bahwa dunia tidak mengenal awal dan akhir. Big bang tidak pernah ada. Ahmed Farag Ali dari Zewail City of Science and Technology di Mesir dan Saurya Das dari University of Leithbridge di Kanada menemukan kenyataan itu ketika berupaya mempelajari singularitas, obyek mampat sangat kecil saat big bang terjadi.

Untuk memahami singularitas, fisikawan harus mengawinkan mekanika kuantum – hukum fisika yang berlaku pada obyek sangat kecil – dengan relativitas umum yang diajukan oleh Albert Einstein. Ali dan Das berupaya memahami singularitas dengan sebuah persamaan yang dikembangkan oleh Amal Kumar Raychaudhuri, profesor pembimbing Das saat kuliah S-1 di Presidency University di Kolkata, India.

Ketika kedua fisikawan itu mengutak-atiknya, mereka menemukan bahwa persamaan itu mendeskripsikan fluida yang tersusun atas partikel kecil. Ali dan Das menduga bahwa fluida yang dideskripsikan dalam persamaan tersusun atas graviton. Graviton sendiri merupakan partikel yang telah lama diduga keberadaannya di alam semesta walaupun belum berhasil ditemukan.

Dengan persamaan pula, dua fisikawan itu berusaha memprediksi perilaku fluida hingga jauh ke masa lalu. Yang mengejutkan, lewat studi tersebut, mereka tidak menemukan singularitas. Artinya, dunia tidak punya awal. “Dunia akan bertahan selamanya. Dunia tidak punya akhir. Dengan kata lain, tidak ada singularitas,” kata Das.

Astronom menemukan bintang purba berusia yang hampir seumur dengan alam semesta, berusia 11,2 miliar tahun. Bintang yang dinamai Kepler 444 tersebut diketahui memiliki lima planet seukuran Bumi. Memberikan ilustrasi soal bintang dan planet purba itu, kepada BBC, Rabu (28/1/2015), Tiago Campante dari University of Birmingham mengatakan, “Saat Bumi terbentuk, planet-planet dalam sistem (Kepler 444) sudah lebih tua dari planet kita saat ini.”

Ia mengatakan, penemuan Kepler 444 dan planet-planet yang mengelilinginya sangat berharga, membantu para ilmuwan untuk menguak apa yang terjadi pada masa pembentukan planet. Tata surya yang dikepalai Kepler 444 terbilang sistem keplanetan yang mampat. Berada pada jarak 117 tahun cahaya dari Bumi, Kepler 444 memiliki planet-planet yang semua terletak pada jarak yang lebih dekat dengan Merkurius-Matahari.

Meski Kepler 444 hanya berukuran 3/4 Matahari dan memiliki suhu 700 derajat Celsius lebih dingin, dengan jarak yang sangat dekat, seluruh planet yang ada di sekelilingnya menjadi dunia yang terus menerus digoreng. Panasnya luar biasa. Tahun-tahun di planet-planet sistem Kepler 444 yang ukurannya hanya sebesar Merkurius dan Venus berlalu sangat cepat. Satu tahun di planet-planet itu setara dengan 10 hari di Bumi. Mendambakan tinggal di salah satu planet di sistem tersebut adalah mimpi. Zona layak huni, tempat di mana suhu pas sehingga air bisa didapatkan dalam bentuk cair, saja berada pada lokasi yang enam kali lebih jauh dari letak planet terluarnya.

Meski tak mungkin menjadi lokasi tempat tinggal manusia, Campante yang terlibat riset mengatakan bahwa temuan sistem keplanetan ini sangat penting. Temuan memberi petunjuk bahwa planet seukuran Bumi sudah ada jauh lebih lama dari yang diduga. “Kita dengan demikian menunjukkan bahwa planet seukuran Bumi sudah terbentuk hampir selama hampir 13,8 miliar tahun sejarah semesta,” demikian Campante dan rekan menulis di Astrophysical Journal.

Campante mengatakan, bila planet seukuran Bumi sudah ada miliaran tahun lalu, kehidupan mungkin juga sudah ada. “Mungkin ada peradaban di luar sana yang dimulai beberapa miliar tahun. bayangkan teknologinya,” paparnya. Astronom menemukan Kepler 444 beserta planet-planetnya dengan menganalisis data yang diperoleh oleh wahana Kepler. Kepler adalah misi yang diluncurkan oleh Badan Penerbangan dan Antariksa Amerika Serikat (NASA) tahun 2009. Ribuan planet telah ditemukan lewat misi Kepler.

Diberitakan Nature Middle East, 28 Januari 2015 lalu, Das juga menuturkan bahwa kajiannya juga berhasil memecahkan teka-teki tentang energi gelap, energi yang berkontribusi pada pengembangan alam semesta. Ketika Das menentukan massa tertenti graviton, mereka menemukan bahwa densitas gravitasi fluida sama dengan materi gelap. Kesesuaian itu menjelaskan tentang kekuatan yang dimiliki energi gelap.

Hasil riset atau pemodelan Ali dan Das dipublikasikan baru-baru ini di jurnal Physical Letters B. Mengomentari hasil pemodelan itu, Brian Koberlein, pakar komunikasi sains dari Rochester Institite of Technology, mengungkapkan bahwa tidak ada singularitas belum tentu tidak ada big bang. Menurut Koberlein, big bang adalah teori yang sudah sangat kuat sehingga tidak akan goyah. Ia mengatakan, paper terbaru Ali dan Das tidak mendatangkan kemajuan pandangan dalam kosmologi.

Cara Memotret Komet Lovejoy


Fenomena langit mengagumkan yang hanya terjadi sekali seumur hidup kembali bisa disaksikan warga Indonesia. Komet C/2014 Q2 Lovejoy akan melintasi langit Tanah Air dan mencapai kecerlangan maksimum pada bulan Januari ini. Hal itu bisa dilihat dari seluruh Indonesia. Kepala Observatorium Bosscha, Mahasena Putra, mengungkapkan, komet Lovejoy adalah komet yang ditemukan oleh astronom amatir asal Australia, Terry Lovejoy, pada 17 Agustus 2014 dengan bantuan teleskop 0,2 meter Schmidt–Cassegrain.

Komet itu sejatinya bernama C/2014 Q2, tetapi kemudian lebih sering disebut dengan istilah komet Lovejoy, sesuai dengan penemunya. C/2014 Q2 sendiri merupakan komet kelima yang ditemukan oleh Terry Lovejoy sehingga bukan komet pertama yang disebut Lovejoy.Seperti banyak komet, Mahasena menjelaskan bahwa Lovejoy berasal dari Awan Oort, gudang komet di tepian Tata Surya. “Karena ada gangguan, lalu ada komet yang keluar dan masuk ke bagian dalam Tata Surya,” kata Mahasena.

Penampakan komet Lovejoy bisa dikatakan sebagai fenomena sekali seumur hidup karena hanya terjadi satu kali dalam kurun waktu ribuan tahun. Setelah penampakan tahun ini, Lovejoy baru akan tampak 8.000 tahun kemudian. Muhammad Rayhan, astronom amatir dan salah satu pembina Himpunan Astronom Amatir Jakarta (HAAJ), mengungkapkan, Minggu (11/1/2015) adalah waktu terbaik untuk mengamati komet itu. “Karena Lovejoy akan mencapai puncak kercelangannya malam ini,” katanya.

Lovejoy akan tampak dengan magnitudo 6. Magnitudo menyatakan kecerlangan benda langit, semakin kecil nilainya, maka benda langit akan tampak semakin terang. Planet-planet yang bisa terlihat dengan mata telanjang biasanya memiliki nilai magnitudo negatif.Menurut Rayhan, magnitudo 6 merupakan batas benda langit bisa dilihat dengan mata telanjang. Jadi, secara teoritis komet Lovejoy bisa dilihat tanpa alat bantu seperti binokuler dan teleskop.

“Dengan catatan langit harus cerah, bebas dari awan dan polusi cahaya,” jelas Rayhan saat dihubungi hari ini. Dengan syarat itu, maka warga kota besar seperti Jakarta sulit untuk mengamati komet Lovejoy tanpa alat bantu. Meski demikian, tak perlu putus asa. Untuk bisa mengamati Lovejoy, hanya perlu peralatan sederhana. Publik bisa memanfaatkan binokuler ataupun kamera DSLR. Untuk kamera, cukup melakukan pengaturan diafragma lebar, exposure lama, dan fokus manual.

Untuk malam ini hingga lima hari ke depan, Lovejoy akan tampak di rasi Taurus. “Rasi Taurus akan terbit awal malam (tepat setelah senja). Posisinya di atas kepala, agak ke utara,” kata Rayhan. Lovejoy akan tampak sepanjang malam sebagai obyek berwarna hijau. Bila malam ini terlewat, publik masih berpotensi menyaksikannya dengan mata telanjang hingga lima hari ke depan dan dengan alat bantu seperti binokuler sepanjang Januari. Jangan lewatkan!

Momen ketika komet C/2014 Q2 alias Lovejoy melintasi langit Yogyakarta berhasil diabadikan oleh tim astronom amatir dari Penjelajah Langit dan Taman Pintar Astro Club. Dalam video tersebut, komet Lovejoy tampak sebagai bola putih dengan pendaran berwarna hijau. Video berdurasi 1 menit 4 detik itu menunjukkan gerak lambat komet di langit kota pelajar itu.Eko Hadi G, astronom amatir dari Penjelajah Langit yang terlibat dalam pengamatan dan pengambilan video tersebut, mengungkapkan bahwa timnya mengabadikan Lovejoy pada Minggu (11/1/2015) dari Taman Pintar, Yogyakarta. Saat itu, langit kebetulan cerah.

“Pada saat pembuatan video itu, kita menggunakan metode timelapse. Sekitar 6-7 foto diambil dalam waktu kurang lebih 78 detik atau sekitar 1 menit 18 detik dengan ISO 3200,” kata Eko.”Foto kita ambil continous. Instrumen yang kita gunakan adalah kamera DSLR dan teleskop yang sudah bisa tracking dengan fokus sekitar 1,9 meter,” imbuh Eko dalam percakapan, Kamis (15/1/2015).Sayang, video tak menggambarkan ekor komet. Eko menuturkan, penyebabnya adalah polusi cahaya yang tinggi di lokasi pengambilan video. Tim tidak dapat memaksimalkan shutter saat pengambilan gambar.

“Per gambar kita ambil 13 detik. Di atas itu, komet sudah tidak tampak hijau dan mulai berwarna putih. Seandainya pengambilan gambar bisa diambil di lokasi yang jauh dari pusat kota, kita bisa maksimalkan gambar yang ada. Pakai shutter 90 detik berani,” urainya.Video yang diambil oleh Penjelajah Langit dan Taman Pintar Astro Club melengkapi dokumentasi melintasnya komet Lovejoy di langit Indonesia. Sebelumnya, sejumlah astronom amatir Tanah Air sudah mengabadikannya lewat foto.

Komet Lovejoy ditemukan astronom amatir Australia, Terry Lovejoy, pada 17 Agustus 2014 lewat pengamatan dengan teleskop 0,2 meter Schmidt–Cassegrain. Lovejoy punya nama asli C/2014 Q2, tetapi lebih sering disebut Lovejoy, sesuai nama penemunya.Terry Lovejoy sendiri sudah menemukan lima komet, salah satunya C/2011 W3, yang juga disebut komet Lovejoy. Penampakan C/2014 Q2 Lovejoy adalah fenomena sekali seumur hidup. Komet ini pernah melintas 11.500 tahun lalu. Setelah saat ini, Lovejoy baru akan tampak 8.000 tahun lagi.

Ingin mengamati dan mengabadikan komet Lovejoy tetapi bingung mencari posisi sang komet? Senin (12/1/2014), sejumlah astronom amatir Indonesia yang berhasil memotret komet bernama asli C/2014 Q2 itu berbagi tips.Sebelum memulai, pastikan kondisi cuaca dan lingkungan menguntungkan. Agar dapat melihat sang komet, cuaca harus cerah, atau setidaknya hanya tertutupi oleh awan tipis. Jangan berharap menjumpai komet dalam kondisi mendung tebal dan hujan.

Selain memastikan cuaca, Anda perlu juga mencari wilayah pas untuk mengamati. Wilayah yang memiliki polusi cahaya minim adalah yang paling tepat. Namun, bisa juga memilih lokasi yang relatif gelap di perkotaan dan mengamati dari atap gedung bertingkat.Bila cuaca menguntungkan dan lokasi tepat ditemukan, langkah awal adalah mencari posisi komet. Bagi yang sering mengamati benda langit, pencarian tak akan sulit sebab Lovejoy akan terang dalam 3-4 hari ke depan.

Namun demikian, bagi yang jarang atau bahkan belum pernah melakukan pengamatan, pencarian posisi Lovejoy mungkin sulit. Pasalnya, walau diketahui bahwa Lovejoy berada di rasi Taurus, posisi rasi itu sendiri dulit untuk ditemukan.Astronom amatir dari Jogja Astro Club, Danang D Saputra, berbagi cara termudah. Ia mengatakan, Lovejoy bisa diamati sekaligus diabadikan dengan menggunakan kamera DSLR biasa. Untuk mengetahui posisi Lovejoy, Danang mengatakan, “kamera dihadapkan ke utara, kemudian diarahkan ke atas sekitar 85 derajat.” Jadi, Anda diminta untuk menghadap ke utara dan mendongakkan kepala ke atas.

Waktu terbaik untuk memotret adalah setelah pukul 19.00 WIB. Semakin malam, Lovejoy semakin bergerak ke barat. Jadi, sesuaikan arah kamera dengan waktu pengamatan yang Anda lakukan. Bila mengamati setelah pukul 00.00 WIB misalnya, arahkan kamera ke utara-barat.Apabila ingin mengamati dan memotret Lovejoy sekaligus belajar rasi bintang, Anda bisa pula mengunduh aplikasi astronomi gratis Stellarium. Aplikasi ini banyak digunakan oleh astronom amatir di seluruh dunia.

Usai mengunduh, Danang menyarankan untuk meng-update. Komet kemudian bisa dicari dengan meng-klik tombol pencarian obyek planet dan mengetik Lovejoy. Stellarium akan menunjukkan posisi komet beserta bintang-bintang yang ada di sekelilingnya.Nah, begitu mengetahui, Anda bisa membandingkan pemandangan langit di Stellarium dengan di langit yang nyata. Arahkan kamera ke utara dan atas, potret, lalu bandingkan. Lakukan hingga komet ditemukan.

Agar dapat memotret Lovejoy, pengaturan kamera perlu dilakukan. “Cukup di setting manual dengan ISO diatas 500 dan shutter speed diatas 20 detik,” ungkap Danang yang hingga kini sudah mendapatkan dua foto komet Lovejoy.Sementara itu, astronom amatir Muflih Arisa Adnan dari observatorium Imah Noong di Lembang, Bandung, menambahkan, “saya sarankan utk menggunakan exposure dan ISO yang tinggi.”

Modifikasi pengaturan bisa dilakukan begitu Lovejoy berhasil ditemukan. “Misal sudah terlihat boleh lah nanti ISO dikurangi sedikit agar noise-nya tidak begitu besar,” ungkap Muflih.Komet selalu memiliki ekor gas dan debu. Namun, karena relatif redup, acapkali ekor tak terlihat saat dipotret. Nah, Muflih punya trik. “Kalau ada waktu, ambil banyak frame lalu di-stack pakai software agar ekornya terlihat,” terangnya.

Baik Danang maupun Muflih mengungkapkan, Lovejoy relatif mudah untuk ditemukan. Komet akan tampak sebagai titik berwarna hijau, lebih terang dari benda-benda langit lain di sekitar rasi Orion dan Taurus. Jadi, ayo abadikan!Komet Lovejoy ditemukan astronom amatir Australia, Terry Lovejoy, pada 17 Agustus 2014 lewat pengamatan dengan teleskop 0,2 meter Schmidt–Cassegrain. Lovejoy punya nama asli C/2014 Q2, tetapi lebih sering disebut Lovejoy, sesuai nama penemunya.

Terry Lovejoy sendiri sudah menemukan lima komet, salah satunya C/2011 W3, yang juga disebut komet Lovejoy. Penampakan C/2014 Q2 Lovejoy adalah fenomena sekali seumur hidup. Setelah saat ini, komet itu baru akan tampak 8.000 tahun lagi.

Jumat Tanggal 13 Jadi Keramat Karena Tepat Bulan Purnama


Bulan purnama mungkin fenomena biasa, terjadi setiap bulan. Namun, bagaimana dengan purnama yang jatuh pada hari Jumat tanggal 13? Purnama pada Jumat tanggal 13 jatuh pada 13 Juni 2014 besok pada pukul 04.13 GMT dini hari nanti atau pukul 11.13 WIB besok. Meski purnama jatuh pada siang hari di Indonesia, fenomena ini masih bisa dilihat secara online di situs Slooh dot com.

Apa istimewanya purnama pada Jumat tanggal 13? Tak ada sebenarnya. Fenomena ini hanya dianggap istimewa karena terjadi pada hari dan tanggal yang dianggap keramat. Frekuensi terjadinya bulan purnama pada Jumat tanggal 13 lebih menarik untuk diketahui.

Dikutip dari Universe Today, Rabu (11/6/2014), antara tahun 1930 hingga 2030, ada 15 purnama yang jatuh pada tanggal 13. Sebelum 13 Juni 2014, purnama pada tanggal 13 jatuh pada 13 Agustus 2011. Sementara itu, sesudah besok, purnama pada Jumat tanggal 13 akan terjadi pada 13 Oktober 2019.

Antara tahun 1992 hingga 2014, purnama pada Jumat terjadi setiap 2-3 tahun sekali. Namun, setelah tahun ini, ada beberapa keunikan. Jarak antara purnama Jumat tanggal 13 tahun 2014 dengan sesudahnya adalah 5 tahun.

Selain itu, pada tahun 2025, bakal ada dua purnama Jumat tanggal 13, yaitu pada 13 Januari 2025 dan 13 April 2025. Hingga saat ini, belum diketahui bagaimana pola purnama Jumat tanggal 13.

Purnama Jumat tanggal 13 besok istimewa sebab merupakan purnama Jumat tanggal 13 pertama yang jatuh pada bulan Juni sejak tahun 1919. Setelah besok, purnama Jumat tanggal 13 baru akan jatuh pada bulan Juni tahun 2098.

Asteroid Besar Yang Melintas Di Langit Jakarta Hari Minggu Bikin Heboh


Sejumlah warga Jakarta, Bogor, dan Tangerang Selatan dihebohkan oleh penampakan benda langit bercahaya, Ahad sore, 8 Juni 2014. Diduga, benda itu merupakan meteor atau asteroid yang melintasi orbit bumi. Penampakan benda langit ini terekam dalam foto dan ramai beredar di media sosial Twitter.

Akun @koze_ng pada sekitar pukul 18.46 mencuitkan, “Di wilayah Serpong, Tangsel (Tangerang Selatan) juga terlihat benda yang diduga meteor.” Cuitan itu disertai sebuah foto yang menunjukkan benda kecil berwarna putih melintasi langit. Benda itu terlihat melesat dan memiliki jejak ekor.

Tidak hanya di Tangerang Selatan, penampakan serupa terlihat di wilayah Bogor, Jawa Barat. Pemilik akun Twitter @aditadits mencuitkan, “Benda diduga meteor terlihat di daerah Bogor, Jabar,” pada sekitar pukul 18.05. Cuitan itu juga disertai foto langit dengan benda yang tampak bercahaya melintasi langit dan menukik ke arah bumi.

Dua hari lalu, situs space.com menerbitkan berita yang menyebutkan bahwa pada hari ini, 8 Juni 2014, ada sebuah asteroid yang dinamakan 2014 HQ124 akan melintas di dekat orbit bumi. Keberadaan asteroid ini terdeteksi oleh Mark Boslough, ahli asteroid dari Sandia National Laboratories, New Mexico, Amerika Serikat. “Asteroid ini akan melintas tapi tidak akan sampai menabrak bumi,” ujar dia seperti dikutip dari space.com.

Mark mengatakan, jika asteroid ini sampai menabrak bumi, hal ini akan sangat berbahaya, karena ukurannya cukup besar. “Bisa menghancurkan sebuah kota besar.” Asteroid 2014 HQ124 ini memiliki lebar 335 meter dan melintas pada jarak sekitar 1,25 juta kilometer dari bumi, atau 3,25 kali jarak bumi dengan bulan, dengan kecepatan mencapai 50.000 kilometer per jam. “Jarak ini sangat jauh dan aman bagi bumi.”

Dihubungi terpisah, ahli meteor dari Lempaga Penerbangan dan Antariksa (Lapan) Abdur Rachman mengatakan tidak mengetahui ada meteor atau asteroid yang melintas dekat orbit bumi pada hari ini. “Saya justru baru tahu,” ujar dia. Tapi, kata dia, kalaupun benar benda langit yang terlihat pada sore itu asteroid atau meteor, benda itu bersifat sporadik. “Bukan bagian dari hujan meteor atau asteroid.”

Rachman menjelaskan, berdasarkan data yang dia miliki, sebetulnya pada Ahad pagi, 8 Juni 2014, langit Indonesia dilintasi oleh reruntuhan bekas roket milik India yang sudah rusak. “Reruntuhannya terbakar dan jatuh, melewati langit Indonesia, tapi tidak berbahaya karena jaraknya jauh.” Dia ragu jika benda yang terlihat pada Ahad sore merupakan sisa-sisa roket tersebut. “Soalnya roket ini jatuhnya sekitar pukul 10.30.”

Menurut Rachman, ada dua kemungkinan jika memang ada benda langit yang jatuh. “Pertama terbakar habis di atmosfer, atau kedua, sampai ke permukaan bumi.” Jika karakteristik benda itu besar dan padat, ujar dia, bukan tidak mungkin bisa sampai jatuh ke bumi. “Kalau ada yang jatuh di bumi, pasti akan ada yang melaporkan,” ujar dia.

Dia mengimbau, jika ada warga yang menemukan batu mencurigakan atau ada benda langit jatuh di wilayahnya, diharapkan segera menghubungi LAPAN. “Kami yang berwenang untuk memeriksa.” – Badan antariksa Amerika Serikat (NASA) membenarkan bahwa pada Ahad, 8 Juni 2014, ada asteroid yang melintas dekat orbit bumi. Asteroid itu bernama 2014 HQ124 yang ditemukan oleh survey inframerah NASA bernama NEOWISE pada 23 April 2014 lalu.

Seperti dikutip dari situs ibtimes.com, pada Jumat, 6 Juni 2014, NASA merilis perngumuman bahwa asteroid 2014 HQ124 akan melewati orbit bumi pada Ahad, 8 Juni 2014. Asteroid ini akan melewati bumi pada jarak 777 ribu mil atau 1,25 juta kilometer. Jarak ini tiga kali jarak antara bumi dengan bulan. NASA memperkirakan asteroid ini memiliki ukuran antara 800 hingga 1.300 kaki.

Manajer program objek dekat bumi NASA, Don Yeomans menyebutkan asteroid ini tidak akan jatuh ataupun menabrak bumi. “Peluangnya nol walaupun sesekali akan menabrak bumi seperti kejadian di Rusia tahun lalu,” kata dia seperti dikutip ibtimes. Dia juga menjelaskan bahwa peristiwa ini bukanlah kejadian unik. “Perlintasan asteroid semacam ini sudah sangat sering dan selalu dalam kurun beberapa tahun sekali.”

Berdasarkan analisis progran NEOWISE dan perhitungan sejumlah ahli astronomi, perlintasan asteroid 2014 HQ124 ini akan kembali bersinggungan dengan orbit bumi pada tahun 2200. Namun potensi bahaya yang ditimbulkan kepada bumi sangat kecil. Meski begitu, NASA mengklasifikasikan asteroid ini sebagai benda langit yang cukup berbahaya, mengingat ukurannya yang besar dan berkecepatan tinggi.

Sebelumnya, sejumlah warga Jakarta, Bogor, dan Tangerang Selatan dihebohkan dengan penampakan benda langit bercahaya, Ahad sore, 8 Juni 2014. Diduga benda itu merupakan meteor ataupun asteroid yang melintasi orbit bumi. Penampakan benda langit ini terekam dalam foto dan ramai beredar di media sosial Twitter.

Gerhana Matahari Akan Terjadi Di Indonesia Selasa Siang


Selasa (29/4/2014), bulan akan berada di antara bumi dan matahari. Akibatnya, matahari akan tertutup, menyebabkan fenomena yang disebut sebagai gerhana matahari. Dari wilayah Indonesia, gerhana besok akan tampak sebagai gerhana matahari sebagian. Matahari akan tampak seperti apel yang baru sekali digigit. Sejumlah 62 kabupaten/kota yang tersebar di enam provinsi berpotensi menyaksikan fenomena astronomi menarik ini.

Enam provinsi yang dimaksud adalah Daerah Istimewa Yogyakarta, Jawa Tengah, Jawa Timur, Bali, Nusa Tenggara Barat, dan Nusa Tenggara Timur. Sementara sejumlah kabupaten/kota itu antara lain Wonosari, Wates, Bantul, Wonogiri, Banyuwangi, Jember, Gianyar, Denpasar, Mataram, Bima, Waingapu, Waikabubak, dan Baa.

Astronom amatir Ma’rufin Sudibyo mengatakan, durasi gerhana bervariasi untuk masing-masing wilayah. Durasi gerhana terlama adalah di Baa, yakni selama 64 menit. Waktu terbaik untuk menyaksikan puncak gerhana juga bervariasi, tetapi berkisar antara pukul 13.59 – 14.06 untuk Indonesia barat dan 15.07 – 15.21 untuk Indonesia tengah.

Sementara itu, besarnya permukaan matahari yang “digigit” oleh bulan, disebut magnitudo gerhana, juga bervariasi. Untuk wilayah Indonesia, magnitudo gerhana matahari besok berkisar antara 0,2 – 7,6 persen. Artinya, hanya 0,2 – 7,6 persen dari piringan matahari yang tertutup bulan.

Atas dasar magnitudo itulah, Ma’rufin mengatakan bahwa gerhana besok tetap sulit untuk diamati. Pengamatan harus dilakukan dengan teleskop berkualitas baik. Gerhana matahari besok merupakan gerhana pertama pada tahun 2014. Sejatinya, fenomena besok merupakan gerhana matahari cincin.

Disebut gerhana matahari cincin karena pada lokasi yang paling optimal untuk menyaksikan puncak fenomenanya, bagian matahari yang akan tampak hanya koronanya. Gerhana matahari cincin terjadi ketika jarak bumi, bulan, dan matahari terletak pada satu garis lurus, tetapi jarak antara bumi dan matahari tergolong jauh.

Akibat dari jarak bumi dan matahari yang jauh, bayang-bayang inti bulan tidak jatuh di permukaan bumi, tetapi di satu titik di angkasa. Yang jatuh di permukaan bumi adalah bayang-bayang tambahan (atumbra). Di wilayah itulah gerhana matahari cincin bisa dilihat. Untuk besok, gerhana matahari cincin hanya bisa dilihat di wilayah utara Antartika. Puncak gerhana akan terjadi pada pukul 13.03 WIB.

Menurut astronom amatir Ma’rufin Sudibyo, di Antartika, sebesar 98,68 piringan matahari akan tertutup bulan. Matahari akan tampak 77 persen lebih redup dari biasanya. Sementara Indonesia menyaksikan gerhana matahari sebagian karena wilayahnya merupakan tempat jauhnya penumbra, bukan atumbra. Bagi warga Indonesia yang ingin menyaksikan fenomena gerhana besok, Ma’rufin yang dihubungi, Senin (28/4/2014), mengatakan, cara paling praktis adalah bergabung dengan komunitas astronomi terdekat.

Beberapa komunitas astronomi yang menggelar pengamatan antara lain Jogja Astro Club, Surabaya Astronomy Club, Observatorium As-Salam Surakarta, dan Lajnah Falakiyyah Jawa Timur. Ma’rufin tidak menganjurkan pengamatan secara langsung dengan menatap matahari atau tidak langsung dengan menatap pantulan sinar matahari pada air yang tenang.

Menurut Ma’rufin, pengamatan secara langsung maupun tidak langsung berbahaya karena berpotensi merusak penglihatan. Pengamatan dengan teleskop yang tidak dilengkapi dengan filter matahari juga berbahaya. Dengan teleskop yang tak dilengkapi filter, cahaya matahari yang ditangkap 100 kali lebih besar dibanding yang akan lewat pengamatan langsung.

Gerhana matahari terjadi di sebagian wilayah Indonesia Selasa (29/4/2014). Tak seperti gerhana bulan yang berlangsung lama, gerhana matahari berlangsung dalam waktu yang lebih terbatas. Oleh sebab itu, mengetahui waktu terbaik untuk mengamatinya sangat perlu. Waktu terbaik untuk mengamati gerhana matahari sebagian besok dari sebagian wilayah Indonesia bervariasi. Demikian juga durasi dan magnitudo atau persentase piringan matahari yang tertutup oleh bulan.

Berikut waktu pengamatan gerhana dari 62 kabupaten/kota di enam provinsi di Indonesia yang berpotensi melihat gerhana matahari. Data merupakan hasil olahan astronom amatir, Ma’rufin Sudibyo, dengan perangkat lunak Emapwin 1.21. Gerhana matahari besok adalah gerhana pertama pada 2014. Gerhana itu sebenarnya adalah gerhana matahari cincin. Namun, hanya wilayah utara Antartika yang bisa mengamati matahari saat berbentuk cincin besok.

Sementara banyak wilayah di Indonesia yang berpotensi menyaksikan gerhana tetap sulit untuk mengobservasinya. Empat belas hari setelah terjadinya gerhana bulan pada 15 April 2014 lalu, Indonesia kembali berpeluang menyaksikan fenomena astronomi menarik lainnya, yakni gerhana matahari sebagian.

Gerhana matahari sebagian pada Selasa (29/4/2014) besok bisa dilihat di 62 kabupaten/kota yang tersebar di enam provinsi, yakni Daerah Istimewa Yogyakarta, Jawa Tengah, Jawa Timur, Bali, Nusa Tenggara Barat, dan Nusa Tenggara Timur. Meski dalam teorinya 62 kabupaten/kota di enam provinsi tersebut bisa menyaksikan gerhana matahari, kenyataannya fenomena gerhana yang terjadi tidak mudah untuk diamati di semua wilayah itu.

Astronom amatir, Ma’rufin Sudibyo, mengatakan, hanya di beberapa wilayah gerhana matahari bisa diamati dengan mudah. Dalam percakapan, Senin (28/4/2014) hari ini, Ma’rufin mengatakan, titik ideal untuk mengamati gerhana besok adalah di Baa, NTT.

Titik ideal untuk mengamati gerhana besok ditentukan berdasarkan durasi gerhana dan magnitudo gerhana atau persentase piringan matahari yang tertutup oleh bulan. Baa mengalami durasi gerhana paling lama, 64 menit. Magnitudo gerhana juga paling besar, sebesar 7,6 persen. Ma’rufin mengungkapkan, di Baa, gerhana bisa diamati dengan teleskop yang lebih sederhana. Namun, pengamatan tetap perlu didukung dengan filter matahari. Pengamatan langsung dengan mengarahkan teleskop pada matahari sangat berbahaya.

Selain Baa, wilayah yang tergolong baik untuk mengamati gerhana besok adalah di Sabu Barat dan Kupang, Nusa Tenggara Timur. Di wilayah itu, matahari akan tampak seperti apel yang baru saja digigit di satu sisinya. Di Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara Barat, magnitudo gerhana lebih kecil. Bahkan, di banyak wilayah Jawa, magnitudo gerhana kurang dari 1 persen. Jadi, sangat sulit untuk mengamati dengan perangkat sederhana.

Gerhana matahari sebagian pada Selasa (29/4/2014) merupakan fenomena astronomi menarik sekaligus menantang dalam pengamatannya. Dalam perhitungan, ada sejumlah 62 kabupaten/kota di enam provinsi di Indonesia yang berpotensi untuk menyaksikannya. Namun, pengamatan tetap sulit. Salah satu faktornya adalah magnitudo gerhana yang kecil. Magnitudo gerhana adalah persentase piringan matahari yang tertutup bulan saat terjadinya gerhana.

Di banyak wilayah di Jawa, magnitudo kurang dari 1 persen. Gerhana tak bisa diamati dengan peralatan yang sederhana. Hanya di wilayah Nusa Tenggara Timur gerhana bisa diamati dengan perangkat yang lebih sederhana. Itu pun, magnitudo gerhana hanya 7,6 persen. Lalu, bagaimana caranya agar bisa tetap mengamati gerhana besok? Teleskop canggih memang membantu, tetapi bagaimana jika tak semua orang punya?

Astronom amatir Ma’rufin Sudibyo mengatakan, gerhana matahari sebagian kali ini memang fenomena yang sulit diamati publik. “Saya pribadi lebih menganjurkan untuk melihat streaming saja, jika menghendaki,” katanya Senin (28/4/2014). Meski demikian, bila ingin mengamati secara langsung, Ma’rufin menganjurkan untuk bergabung dengan komunitas astronomi terdekat. Dengan bergabung, kesempatan mengamati lebih besar, demikian juga keamanannya. Pengamatan gerhana matahari harus ekstra hati-hati. Pengamatan tak bisa dilakukan dengan menatap matahari secara langsung. Ma’rufin mengungkapkan, komunitas-komunitas astronomi di berbagai wilayah telah membuat jadwal pengamatan.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Balai 3 akan menggelar pengamatan di Denpasar. Jogja Astro Club akan menggelar pengamatan di Parangkusumo. Sementara komunitas Obervatorium As-Salam akan menggelar pengamatan di Pacitan. Lajnah Falakiyyah Nahdlatul Ulama (NU) Jawa Timur bekerja sama dengan Kantor Kementerian Agama akan menggelar pengamatan di Jember. BMKG Pusat bidang gravitasi dan tanda waktu bekerja sama dengan BMKG Kupang akan mengamati dari Kupang.

Astronom Temukan Obyek Langka Bintang Hamil


Astronom menemukan bintang yang semula hanya ada dalam teori, sebuah bintang yang “hamil” atau berisi bintang lain. Bintang yang berisi bintang disebut dengan obyek Thorne Zytkow, atau disebut juga bintang hibrida. Teori tentang adanya bintang ini dikemukakan oleh Kip Thorne dan Anna Zytkow pada 1975. Bintang yang mengagumkan itu ditemukan dengan teleskop 6,5 meter Magellan Ckay di Las Campanas, Cile.

Tim astronom yang dipimpin oleh Emily Levesque dari University of Colorado Boulder tengah mengamati spektrum cahaya sebuah bintang raksasa merah bernama HV 2112. Saat pengamatan, keanehan pun terlihat. Nidia Morrel dari Carnegie Observatory mengatakan, “Saya tak tahu apa itu, tetapi saya tahu saya menyukainya.”

Analisis kemudian mengungkap bahwa bintang raksasa merah ini memiliki unsur rubidium, litium, dan molibdenum yang berlebih. Kandungan rubidium, litium, dan molibdenum tersebut dalam jumlah berlebih merupakan ciri dari obyek Thorne Zytkow. Berdasarkan kandungan itu, astronom kemudian menyatakan bahwa bintang raksasa merah yang ditemukan sejatinya obyek Thorne Zytkow.

Obyek Thorne Zytkow terbentuk ketika bintang raksasa merah menelan bintang neutron, sebuah bintang produk supernova. Zytkow, yang pertama mengemukakan teori adanya obyek itu, mengaku senang dengan penemuan terbaru ini. “Saya sangat senang bahwa konfirmasi lewat observasi dari teori kami mulai muncul,” ungkapnya seperti dikutip Nature World News, Rabu (4/6/2014).