Category Archives: Matematika

Kisah dr Roebiono Kertopati Si Genuis Pembuat Sandi Untuk Lawan Belanda


Kesuksesan pembuatan sistem sandi tak lepas dari sosok dr Roebiono Kertopati. Ia ditunjuk langsung oleh Menteri Pertahanan Amir Sjarifoeddin untuk membuat sistem sandi. Ia dipilih meski tak memiliki latar belakang pendidikan formal di bidang persandian.

Tak banyak cerita yang mengungkap mengenai orang yang juga pernah menjadi dokter pribadi Presiden Soekarno ini. Namun, buku “Konsep Naskah Sejarah Persandian di Indonesia” yang ditulis oleh Tim Penulisan Sejarah Persandian Indonesia terbitan Jakarta 1986 menyebutkan, kecakapannya di dunia intelijen tak diperoleh melalui pendidikan formal, pun kemampuannya dalam menyusun sandi.

Semuanya berdasar pada pengalaman pribadi Roebiono saat bertugas sebagai dokter. “Memang tidak banyak referensi mengenai dr Roebiono, mungkin terkait dengan posisinya yang berkaitan dengan rahasia negara,” kata Tampil Chandra Noor Gultom, Subbag Infomed-Bagian Humas dan Kerja sama Museum Sandi, kepada Kompas.com beberapa waktu lalu.

Roebiono lahir dari keluarga ningrat Raden Ngabehi Soewardjo Kertopati pada tanggal 11 Maret 1914. Ia telah memiliki keinginan besar untuk menjadi dokter sehingga melanjutkan belajar kedokteran di NIAS, Surabaya. Kariernya sebagai dokter dimulai pada tahun 1941 dengan bekerja sebagai dokter di GOW Indisch Arts.

Lalu ia kemudian pindah bekerja di Sydney, Australia, ia bertugas sebagai tenaga medis pada Allied Intelligence Bureau. Sedikit demi sedikit Roebiono bersentuhan dengan dunia intelijen. Ia banyak bertemu dengan orang-orang yang sedang melaksanakan operasi yang bersifat rahasia. Beberapa di antaranya bahkan menceritakan kepada Roebiono mengenai operasi yang mereka lakukan.

Hal itu membuat pengetahuannya mengenai intelijen makin banyak. Tampaknya itu cukup menjadi dasar bagi Menteri Pertahanan Amir Sjarifoeddin untuk menunjuk dr Roebiono untuk menyusun sebuah sistem sandi. Namun, sebenarnya pengetahuan dr Roebiono mengenai sandi masih minim. Meski begitu, ia tetap menerima penugasan yang diberikan kepadanya.

Hingga akhirnya dengan penuh ketelitian disusun sebuah buku sandi bernama Buku Code C yang berisi sekitar 10.000 kata termasuk tanda baca, awalan, dan akhiran, penamaan, serta bentuk lain yang dijumpai dalam teks berita. Sistem kode yang dipakai adalah sistem kode angka. Sistem kode ini berupa bilangan-bilangan yang dipakai sebagai penjumlah dari kode yang telah ada. Angka dari nol sampai sembilan dan pemakaiannya sebagai penjumlah dapat ditentukan sesuka pemakai.

Sistem yang dibuat Roebiono ini termasuk sebagai sistem yang kuat dan dikenal sebagai sistem double encipherment. “Ia adalah jenius yang dimiliki oleh Indonesia. Kepintarannya tak diragukan lagi, ia menguasai empat bahasa serta mampu menulis dengan dua tangan dalam waktu bersamaan,” imbuh Tampil. Roebiono dikenal sebagai pendiri Dinas Kode pada Kementerian Pertahanan Bagian B yang berubah menjadi Jawatan Sandi dan sekarang menjadi Lembaga Sandi Negara.

Ia menjabat sebagai Ketua Lembaga Sandi negara selama 38 tahun sejak pertama kali berdiri tanggal 4 April 1946. Roebiono dianggap paling mampu mengelola persandian di Indonesia dan menjadi penentu kebijaksanaan persandian Indonesia. Pada tanggal 23 Juli 1984, Roebiono meninggal dunia karena sakit. Ia dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta. Semasa hidupnya, ia telah mendapat 11 bintang jasa dari Pemerintah Indonesia.

Kemerdekaan Indonesia memang sudah dikumandangkan pada 17 Agustus 1945. Namun situasi di dalam negeri masih carut marut. Apalagi Belanda masih terus berusaha mengambil alih Republik sepanjang tahun 1946-1949. Di masa genting ini, pemerintahan yang sudah terbentuk merasa perlu menjaga informasi rahasia dari musuh.

“Indonesia merasa tidak aman, apalagi ada beberapa informasi yang bocor,” kata Tampil Chandra Noor Gultom, Subbag Infomed-Bagian Humas dan Kerja sama Museum Sandi. Saat itu Indonesia yang baru merdeka belum memiliki sistem pengamanan informasi yang baik. Termasuk soal belum adanya sistem sandi yang mampu mengamankan informasi yang bersifat rahasia. Tampil menjelaskan, Indonesia memang telah memiliki sistem persandian. Namun, itu dikelola oleh masing-masing kementerian.

Sistem persandian yang digunakan untuk menyembunyikan informasi itu pun masih sangat sederhana dan sama sekali tidak didukung dengan pengetahuan mengenai kriptologi. “Jika kurir tertangkap, Belanda dengan mudah memecahkan sandi-sandi tersebut,” terang Tampil. Informasi yang dibawa kurir berisi perintah-perintah untuk melaksanakan suatu operasi. Jika sampai terpecahkan, operasi bisa gagal

Kondisi yang mendesak untuk mengamankan informasi ini membuat Menteri Pertahanan saat itu Amir Syarifoeddin meminta Dr. Roebiono Kertopati untuk membuat sistem sandi atau kode yang akan digunakan oleh seluruh kementerian. Dr. Roebiono dipilih karena telah memiliki beberapa pengalaman di bidang intelijen. Kepintarannya tak diragukan lagi. Ia menguasai empat bahasa serta mampu menulis dengan dua tangan dalam waktu bersamaan.

Buku Konsep Naskah Sejarah Persandian di Indonesia terbitan Jakarta 1986 menyebut bahwa sistem sandi bikinan Dr Roebiono dapat dikategorikan sebagai sistem yang kuat. Dibutuhkan sebuah buku acuan untuk membaca sandi-sandi tersebut. Roebiono menulis Buku Kode C, berisi 10.000 kata termasuk tanda baca, awalan dan akhiran, penamaan serta bentuk lain yang dijumpai dalam teks berita.

Buku yang kemudian digandakan sebanyak 6 eksemplar tersebut yang menjadi acuan dalam pembuatan dan pembacaan sandi. Sandi akan sulit terpecahkan, kecuali Buku Code C jatuh ke tangan musuh. Kesuksesan pembuatan sandi ini akhirnya berhasil menghubungkan informasi rahasia di wilayah kedaulatan Indonesia serta delegasi Indonesia di berbagai negara.

Iklan

Persoalan Matematika Yang Jawabannya Hanya Dipahami 1 Orang Ahli Dari Jepang


Dua pekan lalu, puluhan matematikawan top dari pelbagai kampus di dunia berkumpul di Universitas Oxford, Inggris. Mereka datang jauh-jauh ke Inggris hanya demi satu hal: memahami jawaban soal matematika, a + b = c.

Bagi yang pengetahuan matematikanya pas-pasan, soal itu tampak seperti materi pelajaran anak-anak yang baru belajar mengenal bilangan. Padahal, soal yang lebih dikenal sebagai Konjektur ABC ini merupakan salah satu misteri terbesar dalam matematika.

Konjektur ABC dilontarkan oleh matematikawan Prancis, Joseph Oesterle, dan David Masser, profesor matematika di Universitas Basel, Swiss, sekitar 30 tahun lalu. Ada sejumlah matematikawan yang mengajukan proposal jawaban atas soal itu, tapi tak satu pun diterima dan terbukti benar.

Suatu pagi pada 30 Agustus 2012, Shinichi Mochizuki mengunggah empat artikel sepanjang 500 halaman ke Internet. Doktor matematika pada umur 23 tahun dari kampus kondang Universitas Princeton, Amerika, ini bekerja di Institut Riset untuk Sains Matematika di Universitas Kyoto, Jepang. Di artikel panjang itu, Shinichi mengklaim telah menemukan jawaban atas Konjektur ABC.

Shinichi tak mengirim artikelnya ke jurnal matematika. Dia hanya memajang artikelnya di Internet, tanpa berkoar-koar kepada matematikawan lain. Hingga seorang temannya di kantor, Akio Tamagawa, menemukannya dan mengirimkan jawaban Shinichi kepada matematikawan lain di sejumlah kampus, salah satunya Ivan Fesenko dari Universitas Nottingham, Inggris.

Ivan segera mengunduh artikel Shinichi dan buru-buru membacanya. Dahinya segera berkerut-kerut. “Tak mungkin untuk memahami jawaban Shinichi,” kata Ivan kepada Scientific American. Merasa penasaran, Ivan mengirim jawaban Shinichi kepada sejumlah matematikawan spesialis geometri aritmatika, bidang yang ditekuni Shinichi.

Tapi reaksi mereka kurang-lebih serupa dengan Ivan Fesenko. “Mencermati jawaban Shinichi, kamu akan merasa tengah membaca artikel dari masa depan atau dari luar angkasa,” kata Jordan Ellenberg, matematikawan dari Universitas Wisconsin, Madison, Amerika Serikat. Di artikelnya penuh bertebaran istilah baru dan tool matematika yang dibuat oleh Shinichi untuk menopang argumentasinya. “Dia benar-benar membuat dunianya sendiri,” kata Moon Duchin, matematikawan dari Universitas Tuft, Amerika.

Tiga tahun sudah “jawaban” soal a + b = c itu dipelototi para matematikawan, tapi tak satu pun yang bisa sungguh-sungguh memahami atau menyimpulkan apakah jawaban Shinichi itu benar atau salah. Tak aneh jika Shinichi pun hampir frustrasi melihat tak ada satu pun sejawatnya yang memahami artikelnya. Menurut Shinichi, paling tidak butuh waktu 500 jam untuk memahami artikel 500 halaman itu. Untuk memahami artikelnya, kata Shinichi seperti dikutip Nature, matematikawan lain harus “menonaktifkan” pola pikir yang selama ini mereka ikuti.

“Sungguh mengecewakan, tak ada satu orang pun yang bisa menyimpulkan apakah jawaban itu benar atau salah,” kata Minhyong Kim, matematikawan dari Universitas Oxford, kepada New Scientist. Kim sudah sangat lama kenal dengan Shinichi, sejak masih kuliah di Princeton. Tapi Kim juga bersimpati kepada para matematikawan yang mengkritik gaya eksentrik Shinichi.

Dia enggan meninggalkan Kyoto. Jenius matematika dari Jepang itu menolak menjelaskan artikelnya dalam forum terbuka di luar Jepang. Kendati sangat lancar berbahasa Inggris, dia juga menolak memberikan kuliah soal artikelnya dengan bahasa Inggris. Kepada wartawan, Shinichi juga sangat irit bicara.

Gayanya mirip sekali dengan jenius lain, Grigori Perelman, matematikawan dari Rusia. Perelman adalah satu-satunya orang yang berhasil memecahkan “Tujuh Soal Matematika Abad Ini” dari Institut Clay, yakni Konjektur Poincare. Tapi Perelman menolak hadiah US$ 1 juta yang diberikan oleh Institut Clay. “Aku sudah punya semua yang aku butuhkan,” Perelman memberi alasan.

Menurut Kim, Shinichi bukan orang yang sangat tertutup. “Dia hanya sangat berfokus pada matematika.” Satu hal lagi yang membedakan Shinichi dengan Perelman, dia orang yang ramah dan sangat rapi. “Kantornya paling rapi di antara semua kantor matematikawan yang pernah aku saksikan seumur hidupku,” kata Ivan Fesenko.

Lokakarya di kampus Oxford dua pekan lalu kembali menemui jalan buntu. Kendati Shinichi bersedia menjelaskan jawabannya lewat Skype, matematikawan yang hadir dalam pertemuan selama beberapa hari itu tetap tak benar-benar paham.

“Tak ada yang paham apa yang sebenarnya terjadi,” kata Felipe Voloch dari Universitas Texas, Amerika. Shinichi dan sejawatnya sama-sama frustrasi. “Aku tak mengerti mengapa dia membuatnya sedemikian abstrak,” kata matematikawan dari Universitas Purdue, Arthur Jackson. Minhyong Kim, sahabat lama Shinichi dan ketua panitia lokakarya, mengatakan dia mengerti ide besar Shinichi, tapi belum paham penjelasannya.

Tehnik Ular Menyuntikan Racun Kedalam Tubuh Mangsanya Ternyata Sesuai Dengan Ilmu Geometri dan Fisika


Banyak orang percaya bahwa ular menyuntikkan bisa beracun ke dalam tubuh korbannya menggunakan taring berlubang. Faktanya, sebagian besar ular dan reptil berbisa lainnya tak mempunyai gigi taring berlubang. Kini para fisikawan mengetahui trik yang digunakan binatang itu untuk memasukkan bisa beracunnya ke dalam kulit korbannya.

Selama bertahun-tahun, Leo von Hemmen, ahli biofisika di TU Muenchen, dan Bruce Young, ahli biologi di University of Massachusetts Lowell, telah meneliti indra pendengaran ular. Ketika mendiskusikan toksisitas ular, mereka menyadari bahwa hanya sedikit ular yang menginjeksikan bisanya ke tubuh korban menggunakan taring berlubang. Meski sebagian besar reptil berbisa tak memiliki taring berlubang, mereka adalah predator efektif.

Hanya sekitar sepertujuh dari seluruh ular berbisa, seperti ular derik, mengandalkan trik taring berlubang. Ular lainnya mengembangkan sistem lain, seperti ular mangrove pit viper (Boiga dendrophila). Menggunakan taring kembarnya, ular Boiga melubangi kulit korbannya. Bisa mengalir masuk ke luka di antara gigi dan jaringan. Namun ada cara lain yang lebih mudah, banyak taring mempunyai lekukan untuk mengalirkan bisa ke dalam luka.

Para ilmuwan penasaran bagaimana metode sederhana seperti itu bisa sangat berhasil dari sudut pandang evolusioner. Bulu burung, misalnya, dapat dengan mudah mengibaskan bisa yang mengalir sepanjang lekukan terbuka. Untuk mengungkap misteri itu, mereka menyelidiki tegangan permukaan dan kekentalan berbagai bisa ular. Pengukuran tersebut memperlihatkan bahwa bisa ular sangatlah kental.

Tegangan permukaan bisa ular cukup tinggi, hampir sama dengan air. Hal itu menyebabkan energi permukaan menarik tetesan bisa ke lekukan taring, lalu menyebar. Dalam perjalanan evolusi, ular beradaptasi terhadap mangsanya menggunakan kombinasi geometri lekukan taring optimal dan viskositas bisa. “Ular yang memangsa burung mengembangkan lekukan yang lebih dalam agar cairan bisa kental tak tersapu oleh bulu burung,” kata von Hemmen.

Para ilmuwan juga menemukan jawaban bagaimana ular memasukkan bisanya ke kulit mangsanya dan memicu timbulnya efek mematikan. Dalam soal ini, ular mengembangkan trik dalam evolusinya. Ketika ular menyerang, lekukan taring dan jaringan di sekitarnya membentuk sebuah kanal. Jaringan akan menyerap bisa lewat kanal tersebut.

Bisa ular memiliki struktur khusus untuk mendukung efek tersebut. Sama seperti saus tomat, yang menjadi lebih cair ketika dikocok, tekanan yang muncul dari isapan itu menyebabkan kekentalan bisa berkurang, membuatnya dapat mengalir dengan mudah melewati kanal dengan cepat karena pengaruh tegangan permukaan.

Von Hemmen menyebut karakteristik substansi ini sebagai cairan non-Newtonian. Trik ini sangat praktis bagi ular. Selama tak ada mangsa yang terlihat, bisa dalam lekukan taring akan tetap kental dan lengket. “Ketika ular menyerang, cairan beracun akan mengalir sepanjang lekukan taring, memasuki luka, dan menimbulkan efek mematikan,” katanya.

Banyak Dosen Malas Meneliti Karena Kurang Prasarana


Lemahnya budaya meneliti, sarana-prasarana yang tak memadai, serta kebijakan pemerintah yang kurang mendukung menyebabkan banyak dosen enggan meneliti. Untuk karier di perguruan tinggi, mereka lebih suka menyiasati angka kredit dari publikasi di jurnal nasional.

”Banyak dosen mengeluhkan tingginya beban mengajar sehingga tugas meneliti terabaikan,” kata Ketua Laboratorium Mikrobioteknologi Universitas Mataram Muhamad Ali saat dihubungi Kamis (9/12).

Persaingan mendapatkan dana penelitian sangat ketat. Kebijakan pemerintah yang menekankan pada riset berbasis produk membuat dosen ilmu dasar sulit bersaing merebutkan dana yang terbatas. Saat proposal penelitian disetujui, banyak dosen, khususnya di Indonesia timur, terkendala peralatan dan akses informasi ilmiah yang terbatas.

Seusai meneliti, sebagian dosen memilih memublikasikan hasilnya di jurnal lokal intraperguruan tinggi atau jurnal nasional. Selain lebih mudah dan lebih cepat pemuatannya, angka kredit atau kum-nya tidak berbeda jauh dengan hasil penelitian yang dimuat jurnal internasional.

”Pembatasan maksimal dua publikasi per semester untuk setiap dosen justru menghambat penelitian,” ungkapnya.

Koordinator Penelitian Unit Penelitian Kesehatan Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran Bandung Ahmad Faried mengatakan, di luar persoalan teknis meneliti, seperti menyusun proposal penelitian yang detail, peneliti masih dibebani hal- hal birokratis, seperti penyusunan laporan kemajuan penelitian dan pelaporan dana penelitian sesuai sistem keuangan negara.

”Muncul ketakutan di antara peneliti, uang penelitiannya sedikit, tapi pelaporannya rumit. Risikonya pun berat,” ujarnya.

Publikasi internasional

Saat akan memublikasikan hasil penelitian, banyak dosen kesulitan menuliskannya. Format penulisan jurnal internasional jauh berbeda dengan penyusunan tesis ataupun disertasi.

”Ketika jurnal sudah terbit, peneliti juga harus siap untuk menerima pertanyaan, kritik, ataupun gugatan dari akademisi lain di seluruh dunia,” ujar Faried.

Dekan Fakultas Ekologi Manusia Institut Pertanian Bogor Arif Satria menyatakan, diperlukan pelatihan dan pendampingan bagi dosen untuk bisa menembus jurnal internasional. Meski dunia penelitian Indonesia belum semaju negara lain, kualitas hasil penelitiannya tidak kalah.

Publikasi internasional sangat bermanfaat untuk berbagai pengetahuan dan membangun jejaring dengan ilmuwan internasional. Jejaring ini bisa membuat peneliti Indonesia dikenal di kalangan akademisi global.

”Peneliti Indonesia harus punya keinginan untuk bisa memiliki pengaruh di dunia internasional di bidang keilmuannya. Keterbatasan yang ada seharusnya tidak mematahkan semangat untuk terus meneliti,” ujarnya

Matematikawan Dari Seluruh Dunia Berkumpul Hari Ini


”Oleh pembuktiannya atas lemma fundamental dalam teori bentuk automorfik dengan memperkenalkan metode geometri-aljabar baru….”

Demikian kutipan bagi salah satu pemenang Medali Fields 2010: Ngo Bao Chau (38) dari Universite Paris-Sud, Orsay, Perancis.

Ia merupakan orang kelahiran Vietnam pertama yang memenangi penghargaan yang disetarakan dengan Hadiah Nobel di bidang Matematika pada Kongres Matematikawan Internasional 2010 di Hyderabad, India, 19-27 Agustus. Penghargaan diberikan langsung oleh Presiden India Pratibha Patil pada acara pembukaan, Kamis (19/8).

Lebih dari 3.000 matematikawan dari seluruh penjuru dunia— termasuk enam dari Indonesia— hadir di Balai Sidang Internasional Hyderabad dalam perhelatan terbesar bagi matematikawan sedunia yang diselenggarakan sekali dalam empat tahun sejak tahun 1897. Kongres tahun ini diselenggarakan oleh International Mathematical Union bekerja sama dengan Universitas Hyderabad.

Selain Chau, ada tiga pemenang Medali Fields tahun ini: Elon Lindenstrauss (40) dari Hebrew University, Israel; Stanislav Smirnov (40) dari Universitas Geneva, Swiss; dan Céldric Villani (37), Direktur Institut Henri Poincaré Paris, Perancis. Masing-masing berprestasi luar biasa dalam Matematika. Mereka tergolong muda dan telah berjabatan fungsional guru besar, sesuatu yang langka dalam sistem pendidikan tinggi di Indonesia saat ini. Salah satu syarat bagi penerima Medali Fields: usia tak lebih dari 40 tahun.

Baru 52 matematikawan

Medali Fields mulai dianugerahkan pada 1936 dalam Kongres Matematikawan Internasional (KMI) di Oslo. Hingga saat ini, 52 matematikawan telah memenanginya. Tiga di antaranya berasal dari Jepang, satu dari Cina, dan satu dari Afrika Selatan. Nama kusala ini diambil dari nama matematikawan Kanada, John Charles Fields, salah seorang di balik sukses penyelenggaraan KMI 1924 di Toronto dan donor untuk penghargaan ini.

Kusala ini berupa sebuah medali emas 14 karat berdiameter 64 mm dan uang 15.000 dollar Kanada. Sisi depan medali bergambar kepala Archimedes menghadap ke kanan. Tulisan yang mengitari sisi depan medali itu berbahasa Latin dengan arti ”Mengangkat seseorang dan menguasai dunia”, adaptasi dari ayat sajak ”Astronomicon” karya penyair Romawi, Manilius.

Dalam penyerahan Medali Fields kali ini, tak terjadi kontroversi seperti pada KMI 2006 di Madrid. Saat itu, salah seorang pemenang, Grigory Perelman (St Petersburg, Rusia), menolak menerima penghargaan itu karena alasan tertentu. Pada awal tahun ini, Grigory Perelman dianugerahi Hadiah Milenium dari Clay Mathematics Institute karena keberhasilannya memecahkan Konjektur Poincaré, satu dari tujuh masalah Hadiah Milenium.

Kontroversi kali ini justru datang dalam rencana penganugerahan doktor honoris causa dari Universitas Hyderabad kepada juara dunia catur asal India, Viswanathan Anand. Rencana itu batal dilaksanakan setelah Anand menolak menerima penganugerahan itu karena Kementerian Pengembangan Sumber Daya Manusia mempertanyakan status warga negaranya. Anand kini bermukim di Spanyol.

Dalam kongres ini, Anand bermain catur secara simultan melawan 40 matematikawan. Ia berhasil memenangi 39 partai dan 1 partai berakhir remis. Satu-satunya matematikawan yang dapat menahannya remis ialah anak berusia 14 tahun, Srikar Varadaraj dari Bangalore, yang juga matematikawan termuda yang menyajikan makalah dalam KMI 2010.

Sukses India dalam KMI 2010 berdampak positif bagi perkembangan Matematika di negara itu yang banyak melahirkan matematikawan besar: Srinivasa Ramanujan dan SS Srinivasa Varadhan (pemenang Hadiah Abel 2007). Hal ini juga akan memotivasi anak-anak di India belajar Matematika. Indonesia perlu banyak belajar dari India apabila ingin pada 20 tahun mendatang ada orang Indonesia yang memenangi Medali Fields.

Dharma Lesmono Dosen Jurusan Matematika Unpar, Bandung

Cara Menginpretasikan Data Statistik


Interpretasi data yang keliru akan menyebabkan keliru pula pemahaman dan kesimpulan tentang suatu persoalan. Masyarakat akan bingung. Perencanaan pembangunan yang dirancang juga akan salah arah dan kurang cerdas.

Terkait interpretasi data, cukup menggelitik membaca tulisan Rieke Diah Pitaloka (RDP) di Kompas (31/7) berjudul ”Impersonalisasi Kaum Papa”. Menurutnya, data kemiskinan BPS menyesatkan. Teknik pengukuran garis kemiskinan dari Susenas telah mereduksi pengertian kemiskinan sebagai degradasi kualitas hidup manusia secara nonkuantitatif dan personal.

Definisi bekerja yang digunakan BPS juga dipandang menyesatkan karena mengabaikan mereka yang berpendapatan rendah dan membutuhkan bantuan. Akibatnya, Jahra, penderita tumor ganas di mata kiri, mengalami kesulitan pengobatan karena namanya tidak tercantum di dalam data penerima Jamkesmas.

Kemiskinan dan pekerjaan

Data kemiskinan BPS yang oleh RDP dihubungkan dengan kasus Jahra cukup sulit dipahami bagaimana mengaitkannya secara langsung. Angka kemiskinan BPS, yaitu penduduk yang berada di bawah garis kemiskinan, adalah data kemiskinan makro yang bersifat agregatif, tidak dapat dan memang tidak ditujukan untuk menggambarkan kemiskinan orang per orang. Hampir tidak ada kaitan antara data makro Susenas yang diperoleh dari proses sampling survei yang diulas oleh RDP dan kasus individual yang dialami oleh Jahra. Ini mengindikasikan tantangan besar kita terkait bagaimana memahami data.

Mungkin yang dimaksud oleh penulisnya adalah data mikro jumlah penduduk miskin hasil Pendataan Program Perlindungan Sosial tahun 2008 (PPLS 2008). Jika demikian, data jenis ini pun tidak seharusnya diterjemahkan sebagai satu-satunya rujukan. Jangankan dalam masa dua tahun, setiap semester data jumlah penduduk miskin akan mengalami perubahan di lapangan. Mereka yang semula dikategorikan sebagai miskin, dalam beberapa bulan dapat berubah menjadi tidak miskin atau sebaliknya.

Data PPLS 2008, yang sudah dua tahun usianya, yang dikumpulkan BPS, akan lebih ideal jika dipandang sebagai panduan awal yang memang diperlukan untuk mengeksekusi program bantuan. Di sisi lain, mereka yang tidak miskin, tetapi tengah mengalami kesulitan seperti penduduk cacat, anak-anak yatim dari keluarga sederhana, penduduk yang tertimpa musibah, atau mereka yang tiba-tiba mengalami kesulitan memang perlu dibantu.

Ini memerlukan semacam kebijakan khusus dari instansi pengelola program atau pemerintah daerah untuk dapat menambah ragam tipologi manusia sasaran dan kemungkinan menambah usulan anggaran. Jumlah populasi penduduk seperti ini idealnya dihitung dengan cara berbeda dari ukuran yang digunakan untuk menentukan kemiskinan.

Kemiskinan memiliki multidimensi dan sulit diukur. Karena kesulitan tersebut, dunia menggunakan ilmu statistik dengan batasan-batasan tertentu, yang umumnya didasarkan pada kemampuan seseorang memenuhi kebutuhan hidup yang paling dasar. BPS menghitung angka kemiskinan, makro dan mikro, atas dasar kebutuhan primer tersebut pada interval waktu tertentu dan tidak menggunakan ukuran di luar standar yang ada, termasuk tidak mengukur mereka yang dalam kategorisasi Amartya Sen sebagai yang tengah dililit kesulitan, apalagi kesulitan sesaat. Poverty tidak sama dengan difficulty atau sudden difficulty.

Ukuran terkait penduduk yang bekerja, yang dipersoalkan oleh RDP, dengan definisi minimal 1 jam dalam seminggu dan dilakukan secara berturut-turut juga bukan masalah. Statistik berkepentingan menunjukkan seberapa besar mereka yang bekerja dengan jam kerja yang paling rendah, dan pendekatan tersebut justru memperkaya pemahaman terhadap permasalahan ketenagakerjaan.

Upah dan jenis pekerjaan yang diklaim RDP sangat menentukan kemiskinan seseorang memang benar dan itu secara tidak langsung telah diperhitungkan. Sekumpulan variabel untuk mendapatkan angka kemiskinan individual pada PPLS 2008 telah merefleksikan pendapatan yang rendah, jenis pekerjaan serabutan, dan varian ketertinggalan pencapaian sosial ekonomi masyarakat Indonesia.

”Mutant Statistics”

Angka kemiskinan makro tidak dapat langsung dihubungkan dengan kasus orang per orang. Fokusnya berbeda. Di sini dirasakan, pemahaman kita terhadap data sangat diperlukan. Enrico Giovannini, Kepala Divisi Statistik Organisation for Economic Co-operation and Development, mengatakan, salah satu tantangan besar dunia sekarang ini bukan terletak pada kualitas data statistik resmi saja, melainkan semakin banyak kelompok di masyarakat, yang suaranya mendominasi opini publik, yang salah dalam menginterpretasikan data statistik.

Dalam sebuah artikel berjudul Statistics and Politics in a ”Knowledge Society”, Giovannini bahkan mengatakan: ”Data based on shaky methodology can be quoted in public debate as ’fact’. Even correct data can be incorrectly interpretated, resulted in what some call as ’mutant Statistics’” (interpretasi yang tidak sebenarnya dan dicampur dengan interpretasi personal). PBB melalui 10 fundamental principles of official statistics memberi peringatan kuat: ”The statistical agencies are entitled to comment on erroneous interpretation and misuse of statistics”.

Kita memahami kegundahan Rieke Diah Pitaloka, tetapi kita juga semakin memahami bahwa dibutuhkan rekonsiliasi besar antara BPS sebagai produsen data dan para pemerhati pembangunan untuk senantiasa meletakkan pemaknaan data pada tempat yang semestinya.

Jousairi Hasbullah Analis Statistik Sosial, Bekerja di BPS

Cara Sederhana Menetapkan Awal Bulan Hijriah dan Ramadhan Dalam Penanggalan Islam


Ramadhan sebentar lagi tiba. Namun, kapan sebenarnya bulan puasa tersebut dimulai dan diakhiri selalu menjadi pertanyaan umat Islam. Pengetahuan awal dan akhir bulan itu menjadi penting karena terkait dengan waktu pelaksanaan ibadah puasa Ramadhan yang telah ditentukan waktunya.

Dalam penanggalan Islam atau kalender Hijriah, satu tahun terdiri atas 12 bulan dengan jumlah hari 354 hari atau 355 hari untuk tahun kabisat. Ramadhan adalah bulan kesembilan dengan jumlah hari berubah-ubah antara 29 hari dan 30 hari, sama seperti bulan-bulan Hijriah lainnya.

Berbeda dengan sistem penanggalan umum atau kalender Masehi yang biasa digunakan untuk kepentingan bisnis, jumlah hari dalam kalender Hijriah tidak dapat dipastikan sebelumnya, tetapi hanya bisa diperkirakan dengan mengacu kepada ketentuan tertentu.

Bulan baru dalam kalender Hijriah diawali dengan terlihatnya hilal atau bulan sabit muda tipis sebelum Matahari terbenam.

Bagi kelompok umat Islam yang mengacu kepada metode rukyat atau pengamatan, hilal itu harus bisa dilihat langsung, baik dengan mata telanjang maupun dengan bantuan teleskop.

Namun, sebagian kelompok umat Islam lain yang menganut metode hisab atau perhitungan, dapat terlihatnya hilal itu bukan menjadi persoalan. Awal bulan baru cukup ditentukan dengan penghitungan bahwa hilal sudah terbentuk.

Bagi penganut metode rukyat, cara rukyat hanya digunakan untuk menentukan awal bulan Ramadhan, Syawal, dan Zulhijah. Hal itu dilakukan karena pada bulan-bulan tersebut ada ketentuan ibadah wajib yang harus dilakukan umat Islam. Sedangkan pada sembilan bulan lainnya, awal bulan cukup dilakukan dengan penghitungan bahwa hilal sudah terbentuk, tanpa perlu dibuktikan.

Jika hilal sudah terlihat sebelum matahari terbenam, malam itu juga awal bulan Hijriah dimulai. Harus diingat bahwa awal hari dalam penanggalan Hijriah dimulai sesudah matahari terbenam, bukan pukul 00.00 seperti pergantian hari dalam kalender umum. Singkatnya, awal hari dimulai sesudah waktu magrib.

Bulan sabit tipis itu dapat terlihat setelah terjadinya konjungsi atau ijtimak, yaitu saat Bulan dan Matahari terletak pada bujur ekliptika yang sama. Dalam astronomi, saat ini dijadikan penanda datangnya fase bulan baru (newmoon).

Ekliptika adalah jalur semu benda langit mengelilingi benda langit tertentu. Penentuan posisi benda langit itu menggunakan koordinat-koordinat tertentu mirip dengan penentuan tempat di Bumi yang menggunakan garis bujur dan lintang.

Pengaruh berbagai kondisi

Kehadiran bulan baru dan keberadaan hilal itu dapat dihitung dengan presisi tinggi, yaitu mulai dari tinggi hilal di atas ufuk, posisinya dari Matahari, besaran cahaya hilal, hingga lama cahaya hilal itu tampak. Meski demikian, persoalan mengamati hilal bukan persoalan gampang.

Penampakan hilal sangat dipengaruhi oleh kondisi cuaca, kondisi atmosfer Bumi, dan lokasi pengamatan. Inilah yang membuat sulit memberikan informasi yang akurat kapan bulan baru akan dimulai.

Kurangnya pemahaman dan ketelitian dalam mengamati hilal juga dapat menimbulkan kesalahan. Bisa jadi cahaya tipis terang di langit yang disangka hilal ternyata bukan hilal yang sesungguhya. Benda langit yang bisa mengganggu pengamatan hilal dapat berupa planet atau bintang terang yang secara kebetulan berada di dekat posisi Bulan.

Awal bulan

Secara umum, ada tiga cara penentuan awal bulan yang digunakan oleh organisasi massa Islam di Indonesia, yaitu dengan rukyatul hilal atau melihat hilal, dilakukan oleh Nahdlatul Ulama; hisab wujudul hilal atau penghitungan terbentuknya hilal yang dianut Muhammadiyah; serta kriteria imkanur rukyat yang digunakan Kementerian Agama Indonesia, Brunei, Malaysia, dan Singapura.

Kriteria imkanur rukyat menerapkan batas minimal hilal bisa dilihat. Metode ini diperoleh dengan memadukan data hasil rukyat jangka panjang yang didukung oleh data hisab.

Syarat minimal hilal dapat teramati yang kini digunakan adalah tinggi hilal saat Matahari terbenam minimal 2 derajat dan jarak busur antara Bulan dan Matahari minimal 3 derajat. Saat Matahari terbenam, umur hilal minimal adalah delapan jam setelah ijtimak.

Meski merupakan pemaduan antara metode hisab dan rukyat, kriterianya pun masih menimbulkan perdebatan. Karena itu, sistem ini juga banyak ditolak, baik yang berpedoman pada cara rukyat maupun hisab.

Di luar tiga kriteria itu, sejumlah ormas Islam juga memiliki metode penghitungan awal bulan sendiri-sendiri. Kondisi inilah yang membuat awal Ramadhan, Idul Fitri, dan Idul Adha di Indonesia sering kali berbeda-beda.

Upaya penyatuan penentuan awal bulan Hijriah sudah coba dilakukan oleh berbagai pihak, baik para astronom, peneliti ilmu falak, maupun tokoh-tokoh agama. Namun, upaya penyatuan itu masih sulit dilakukan karena setiap kelompok berpegang teguh pada kriteria yang dianutnya. Kriteria yang mereka pegang mereka anggap paling sesuai dengan ketentuan agama yang diyakininya.

Ramadhan 1431 H

Berdasarkan data Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Kementerian Agama, ijtimak awal Ramadhan 1431 H atau 2010 terjadi pada 29 Syakban 1431—bertepatan dengan Selasa, 10 Agustus 2010 pukul 10.09 WIB. Saat Matahari terbenam pada hari itu, ketinggian hilal di seluruh Indonesia berada antara 1 derajat 15 menit dan 2 derajat 50 menit.

Meski keputusan awal Ramadhan masih harus menunggu sidang isbat (penetapan) Kementerian Agama pada Selasa petang esok, berdasarkan pengalaman, laporan pengamatan hilal selama ini dan dengan ketinggian hilal seperti tersebut di atas, kemungkinan besar 1 Ramadhan 1431 H jatuh bertepatan dengan Rabu, 11 Agustus 2010. Artinya, shalat tarawih diperkirakan mulai dilakukan pada Selasa malam.

Maklumat Pimpinan Pusat Muhammadiyah sudah menetapkan 11 Agustus sebagai 1 Ramadhan. Berdasarkan perhitungan yang dilakukan Muhammadiyah, tinggi hilal di Yogyakarta saat matahari terbenam pada 10 Agustus adalah 2 derajat 30 menit 3 detik. Artinya, hilal saat itu sudah wujud. Posisi hilal di seluruh wilayah Indonesia sudah berada di atas ufuk saat Matahari terbenam.

Sementara itu, data hisab dari Lajnah Falakiyah Nahdlatul Ulama juga menyebutkan hal sama, yaitu 1 Ramadhan jatuh pada 11 Agustus. Tinggi hilal saat diamati di Jakarta pada 10 Agustus telah mencapai 2 derajat 22 menit 16 detik. Lama hilal terlihat hanya 11 menit 41 detik. Meski sudah memenuhi ketentuan lama hilal dapat dilihat, dengan prinsip rukyat yang dianut NU, ketentuan awal Ramadhan menunggu pengamatan NU dan keputusan sidang isbat Kementerian Agama.

Selamat menyambut Ramadhan….