Monthly Archives: Oktober 2015

Ida Tri Susanti Ditangkap Polisi Karena Pamer Foto Bunuh Kucing Hutan


Ida Tri Susanti yang mengunggah foto dia sedang memamerkan pembunuhan sejumlah kucing hutan di Facebook akhirnya diperiksa polisi pada Minggu, 18 Oktober 2015. Foto pembunuhan kucing hutan yang dilindungi undang-undang itu diunggah akun Facebook Ida Tri Susanti pada 12 September 2015. Ketika foto pembunuhan kucing hutan itu diunggah kembali di halaman Facebook Profauna Indonesia, kecaman keras langsung datang dari netizen. Hingga Senin pagi, 19 Oktober 2015, informasi tersebut sudah disebar 3.535 kali. Netizen mengecam aksi mahasiswi Jurusan Matematika Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Jember itu.

Begitu mendapat informasi dugaan perburuan dan pembunuhan kucing hutan itu, lembaga Protection of Forest & Fauna langsung berkoordinasi dengan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (KSDA) Jember. Tim KSDA dan Kepolisian Resor Jember merespons cepat informasi itu. Hanya dalam hitungan jam, Ida Tri Susanti sudah dimintai keterangan di Polres Jember. “Berburu dan memperdagangkan kucing hutan itu melanggar hukum, dan pelakunya terancam pidana hukuman penjara maksimum 5 tahun,” kata Swasti Prawidya Mukti, juru kampanye Profauna, dalam pernyataannya yang diunggah di laman resmi Profauna.

Setelah aksi sadis Ida Tri, kini foto pembunuhan kucing hutan kembali beredar di dunia maya. Kali ini, foto mengerikan tersebut diunggah akun Aghaa Karebaa Sandall Jepidswallo. Pemuda asal Makassar itu mengunggah foto pembantaian kucing hutan pada Selasa, 29 September 2015. Dalam foto tersebut, tampak dua pemuda hendak memotong leher kucing hutan. Pada gambar lain, seorang pemuda memegang kucing yang sudah dimutilasi. Satu tangan memegang tubuh kucing yang sudah disayat, sementara tangan lain memegang isi perut si kucing malang.

Perlakuan tak kalah sadis juga dilakukan akun Rrahhmmatt Budiimann. Pemuda asal Bengkulu ini mengunggah foto pembantaian pada 15 Oktober 2015, sehari setelah perayaan Tahun Baru 1437 Hijriah. Di dalam foto itu, tampak ia bersama rekan-rekannya menguliti seekor kucing hutan. Foto itu dia beri keterangan “Sambut 1 Muharram dengan ini”. Pembunuhan yang cenderung menjadi pembantaian tersebut sontak membuat netizen marah.

Meski akun dua pemuda itu sudah nonaktif, netizen sempat meng-capture laman Facebook mereka sehingga foto itu beredar. Akun Ebi Heriyanto berkomentar, “Hayo buruan laporin lagi ke polres setempat. Share bbm, fb, wa, dll. Biar cepet ditangkap.” Setelah Ida Tri Susanti, perempuan asal Jember dan dua pria asal Makassar dan Bengkulu, kini satu lagi pria asal Banyuwangi dengan akun Achmad Yusuf mengunggah foto perlakuan sadisnya terhadap kucing hutan hasil buruannya.

Dalam akun sosial medianya, ia mengunggah tiga gambar. Dari tiga gambar itu, foto pertama menampilkan dua ekor kucing hutan direbahkan miring dalam keadaan terbujur kaku. Sedangkan gambar kedua dan ketiga memajang gambar dirinya sambil memegang leher dua kucing hutan dari sisi yang berbeda. Berbeda dengan dua akun pelaku yang memajang foto kucing hutan sebelumnya, akun sosial media milik Achmad Yusuf hingga kini masih bisa diakses. Hal itu membuat banyaknya netizen terus menyampaikan pendapatnya pada halaman facebook milik Yusuf.

Salah satunya pemilik akun bernama, Wya Made Wahana. Sebelumnya akun Wya Made mencatumkan undang-undang dan lampiran PP terkait satwa liar yang dilindungi. Ia berkomentar, “Anda Sedang dalam pencarian…. Saudari Ida susanti sudah d amankan kemaren.” Ida Tri Susanti yang mengunggah foto dia sedang memamerkan pembunuhan sejumlah kucing hutan di Facebook akhirnya diperiksa polisi pada Minggu, 18 Oktober 2015. Foto pembunuhan kucing hutan yang dilindungi undang-undang itu diunggah akun Facebook Ida Tri Susanti pada 12 September 2015.

Ketika foto pembunuhan kucing hutan itu diunggah kembali di halaman Facebook Profauna Indonesia, kecaman keras langsung datang dari netizen. Hingga Senin pagi, 19 Oktober 2015, informasi tersebut sudah disebar 3.535 kali. Netizen mengecam aksi mahasiswi Jurusan Matematika Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Jember itu. Begitu mendapat informasi dugaan perburuan dan pembunuhan kucing hutan itu, lembaga Protection of Forest & Fauna langsung berkoordinasi dengan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (KSDA) Jember. Tim KSDA dan Kepolisian Resor Jember merespons cepat informasi itu. Hanya dalam hitungan jam, Ida Tri Susanti sudah dimintai keterangan di Polres Jember.

“Berburu dan memperdagangkan kucing hutan itu melanggar hukum, dan pelakunya terancam pidana hukuman penjara maksimum 5 tahun,” kata Swasti Prawidya Mukti, juru kampanye Profauna, dalam pernyataannya yang diunggah di laman resmi Profauna. Setelah aksi sadis Ida Tri, foto pembunuhan kucing hutan kembali beredar di dunia maya. Kali ini, foto mengerikan tersebut diunggah akun Aghaa Karebaa Sandall Jepidswallo. Pemuda asal Makassar itu mengunggah foto pembantaian kucing hutan pada Selasa, 29 September 2015.

Dalam foto tersebut, tampak dua pemuda hendak memotong leher kucing hutan. Pada gambar lain, seorang pemuda memegang kucing yang sudah dimutilasi. Satu tangan memegang tubuh kucing yang sudah disayat, sementara tangan lain memegang isi perut si kucing malang. Perlakuan tak kalah sadis juga dilakukan akun Rrahhmmatt Budiimann. Pemuda asal Bengkulu ini mengunggah foto pembantaian pada 15 Oktober 2015, sehari setelah perayaan Tahun Baru 1437 Hijriah.

Di dalam foto itu, tampak ia bersama rekan-rekannya menguliti seekor kucing hutan. Foto itu dia beri keterangan “Sambut 1 Muharram dengan ini”. Pembunuhan yang cenderung menjadi pembantaian tersebut sontak membuat netizen marah. Meski akun dua pemuda itu sudah nonaktif, netizen sempat meng-capture laman Facebook mereka sehingga foto itu beredar. Akun Ebi Heriyanto berkomentar, “Hayo buruan laporin lagi ke polres setempat. Share bbm, fb, wa, dll. Biar cepet ditangkap.”

Setelah Ida Tri Susanti–perempuan asal Jember–dan dua pria asal Makassar serta Bengkulu, kini ada satu lagi pria yang ditengarai asal Banyuwangi, Jawa Timur, dengan akunnya bernama Achmad Yusuf mengunggah foto perlakuan sadis terhadap kucing hutan hasil buruannya di media sosial Facebook. Dalam akun Facebook-nya, ia mengunggah tiga gambar. Dari tiga gambar itu, foto pertama menampilkan dua ekor kucing hutan direbahkan miring dalam keadaan terbujur kaku. Sedangkan, gambar kedua dan ketiga memajang gambar dirinya memegang leher dua kucing hutan dari sisi yang berbeda.

Salah satu foto yang ditampilkan dalam akun itu terdapat caption, yang kutipan aslinya berbunyi, “Berburu gadis dan janda..dpetnya mlah rase dan mcan rembah..gppa drpda gk dapet hahaHa,” demikian akun Achmad Yusuf menuliskan komentarnya, pada Rabu, 14 Oktober 2015. Macan rembah yang dimaksud Yusuf adalah jenis kucing liar yang banyak hidup di wilayah Indonesia. Jenis kucing kecil ini memiliki banyak nama, seperti Blacan, Macan Rembah, Kucing Emas, Kucing Batu, Kucing Bakau, Meong Congkok, dan Macan Akar.

Berbeda dengan dua akun pelaku yang memajang foto kucing hutan sebelumnya, akun sosial media milik Achmad Yusuf hingga kini masih bisa diakses oleh netizen. Hal itu membuat banyak netizen terus menyampaikan pendapatnya pada halaman Facebook milik Yusuf. Tindakan Achmad Yusuf sontak mendapat reaksi beragam dari netizen. Hingga kini, sudah 83 komentar, yang mayoritas mengecam aksi lelaki ini dan disebar sebanyak 1.038 kali. Tujuan para netizen ialah agar polisi segera mengambil tindakan atas masalah ini.

Adapun Ida Tri, yang mengunggah foto sedang memamerkan aksi pembunuhan terhadap sejumlah kucing hutan di Facebook, akhirnya diperiksa polisi pada Ahad, 18 Oktober 2015. Foto pembunuhan kucing hutan yang dilindungi undang-undang itu diunggah di akun Facebook-nya pada 12 September 2015. Ketika foto pembunuhan kucing hutan itu diunggah kembali di halaman Facebook Profauna Indonesia, kecaman keras langsung datang dari netizen. Hingga Senin, 19 Oktober 2015, informasi itu sudah disebar 3.535 kali. Netizen mengecam aksi mahasiswi Jurusan Matematika, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Jember itu.

Begitu mendapat informasi dugaan perburuan dan pembunuhan kucing hutan, Lembaga Protection of Forest & Fauna langsung berkoordinasi dengan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (KSDA) Jember. Tim KSDA dan Kepolisian Resor Jember merespons cepat informasi itu. Hanya dalam hitungan jam, Ida Tri Susanti sudah dimintai keterangan di Polres Jember. “Berburu dan memperdagangkan kucing hutan itu melanggar hukum, dan pelakunya terancam pidana hukuman penjara maksimum 5 tahun,” kata Swasti Prawidya Mukti, juru kampanye Profauna dalam pernyataannya yang diunggah di laman resmi Profauna.

Setelah aksi sadis Ida Tri, foto pembunuhan kucing hutan kembali beredar di dunia maya. Kali ini, foto mengerikan tersebut diunggah akun Aghaa Karebaa Sandall Jepidswallo. Pemuda asal Makassar itu mengunggah foto pembantaian kucing hutan pada Selasa, 29 September 2015. Dalam foto tersebut, tampak dua pemuda hendak memotong leher kucing hutan. Pada gambar lain, seorang pemuda memegang kucing yang sudah dimutilasi. Satu tangan memegang tubuh kucing yang sudah disayat, sementara tangan lain memegang isi perut si kucing malang.

Perlakuan tak kalah sadis juga dilakukan akun Rrahhmmatt Budiimann. Pemuda asal Bengkulu ini mengunggah foto pembantaian pada 15 Oktober 2015, sehari setelah perayaan Tahun Baru 1437 Hijriah. Di dalam foto itu, tampak ia bersama rekan-rekannya menguliti seekor kucing hutan. Foto itu dia beri keterangan “Sambut 1 Muharram dengan ini”. Pembunuhan, yang cenderung menjadi pembantaian tersebut, sontak membuat netizen marah.

Meski akun dua pemuda itu sudah nonaktif, netizen sempat meng-capture laman Facebook mereka sehingga foto itu beredar. Akun Ebi Heriyanto berkomentar, “Hayo buruan laporin lagi ke polres setempat. Share bbm, fb, wa, dll. Biar cepet ditangkap.”

Iklan

Cara Membuat Limbah Batu Bara Menjadi Aspal Untuk Jalan Raya


Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) melansir telah menandatangani kesepakatan bersama Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), berikut Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PU-Pera) terkait pemanfaatan fly ash dan bottom ash. Asal tahu, fly ash (abu terbang) dan bottom ash (abu dasar) merupakan limbah yang dihasilkan dari Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) batubara. Di mana kedua limbah tersebut akan digunakan untuk pembangunan infrastruktur pekerjaan umum dan perumahan rakyat.

“Sampai tahun ini saja pembangkit batubara telah mengonsumsi hampir 80 juta ton per tahun. Kalau Program 35.000 MW jalan, maka di akhir tahun 2019 diperkirakan ada 180 juta ton hingga 209 juta ton batubara yang dibakar dan lima persen dari volume tersebut, sekitar delapan hingga sembilan juta ton akan menjadi fly ash dan bottom ash,” ujar Direktur Jenderal Ketenagalistrikan Jarman seperti dikutip dari laman resminya, Minggu (18/10).

Seperti diketahui, saat ini PLTU batubara masih mendominasi sistem pembangkitan listrik di Indonesia. Selain karena memiliki biaya produksi yang paling murah, banyaknya cadangan sumber daya batubara di Indonesia yang ditaksir mencapai 29,48 miliar ton turut menjadikan alasn dipakainya batubara sebagai bahan baku energi ketimbang sumber energi primer lainnya.

Berangkat dari besarnya potensi tersebut, pemerintah pun berencana menjadikan fly ash dan bottom ash sebagai bahan baku proyek infrastruktur. “Dengan memanfaatkan limbah Bahan Berbahaya dan Beracun (B3), artinya kita juga menghemat sumber daya. Kita membantu melaksanakan penurunan target emisi sebesar 26 persen dan lingkungan pun terjaga dengan baik,” ujar Direktur Jenderal Pengelolaan Sampah, Limbah, dan Bahan Berbahaya dan Beracun KLHK Tuti Hendrawati Mintarsih.

Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Kementerian PU-Pera Arie Setiadi Moerwanto menambahkan fly ash dan bottom ash sendiri akan dimanfaatkan dalam pembuatan paving blok, batako, konstruksi beton. Adapun dipakainya dua limbah tersebut dimaksudkan untuk mengurangi semen, dan dapat dimanfaatkan pula untuk stabilisasi tanah dasar, khususnya jenis tanah ekspasif.

Tahun 2018 Seluruh Listrik Di Bali Akan Didapat Dari Energi Hijau Terbaharukan


Pemerintah Provinsi Bali menargetkan, pada tiga tahun mendatang, seluruh tenaga listrik bersumber pada daya energi baru terbarukan. Target ini bakal dicapai dengan beberapa langkah yang dibantu Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral. “Semua pembangunan dan pengembangan di Bali harus berdasar pada keberlanjutan energi dan ketahanan lingkungan alam,” ujar Gubernur Bali I Made Mangku Pastika, sebagaimana dikutip dari siaran pers, Ahad, 18 Oktober 2015.

Made menyatakan Bali mempunyai potensi energi bersih, seperti tenaga sinar matahari (sel surya), tenaga angin, dan arus laut. Salah satu gedung yang sudah memakai teknologi ini adalah Bandara Internasional Ngurah Rai, yang memakai energi surya berkapasitas 4 megawatt. Dalam waktu dekat, kantor Pemprov Bali juga bakal berenergi baru terbarukan.

Staf Khusus Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral William Sabandar menyatakan asistensi lembaganya dilakukan melalui tiga langkah. Tahap pertama, pembangkit listrik tenaga uap di Denpasar bakal dialihkan ke tenaga gas yang efisien dan ramah lingkungan. Jika tahap ini selesai, Kementerian mencari potensi listrik bersih hingga ke daerah pedesaan. Eksplorasi mencakup penghitungan kapasitas dan daya transmisi dengan memperhatikan pertumbuhan konsumsi jangka menengah.

Selanjutnya, Kementerian berencana membangun pusat energi bersih di Bali. Lembaga ini bertujuan mendukung pemerintah mereformasi sektor energi dan menjadi jembatan penanaman modal bagi energi bersih. “Nanti tidak hanya Bali, semua daerah harus punya pusat energi bersih,” kata William. Pemerintah melalui Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) berencana menjadikan Bali sebagai provinsi dengan pemanfaatan energi bersih 100 persen pada 2018 mendatang.

Berangkat dari rencana tersebut, pemerintah berkomitmen akan mendorong Bali untuk berfokus pada pengembangan energi baru dan terbarukan (EBT). “Pada bulan Juli tahun ini, Kementerian ESDM telah menandatagani nota kesepahaman dengan Gubernur Bali. Ini untuk membentuk langkah-langkah sistematis dalam rangka mencapai 100 persen energi bersih pada tahun 2018” jelas Menteri ESDM, Sudirman Said dalam sambutannya pada Renewable Energy Forum di Nusa Dua, Bali, Sabtu (17/10).

Menyusul adanya program energi bersih 100 persen, Sudirman bilang pemerintah pusat menyatakan bakal mendorong pengembangan EBT yang bersumber dari tenaga solar (matahari), angin, dan arus laut. Ini mengingat kawasan yang dikenal dengan julukan ‘Pulau Dewata’ tersebut memiliki potensi sumber EBT. Di mana contoh pengembangan tenaga solar di Bali, ditandai dengan ditempatkan panel surya dengan kapasitas 4 MW di Bandar Udara Ngurah Rai yang disusul pemasangan di kantor Gubernur Bali dalam waktu dekat. “Penggunaan teknologi energi baru tidak hanya terbatas membantu penyebaran akses energi untuk semua lapisan masyarakat, namun juga turut menjaga lingkungan alam, sehingga kesehatan masyarakat akan turut terjaga,” tutur Sudirman.

Di kesempatan yang sama, Gubernur Bali, I Made Mangku Pastika mengatakan, bahwa program pengembangan energi baru terbarukan merupakan hal yang sangat penting dalam rangka menjaga keberlanjutan energi. Pastika memastikan akan mengembangakan pemanfaatan EBT di Bali secara konsisten dan berkelanjutan. “Semua pembangunan dan pengembangan di Bali harus berdasar pada keberlanjutan energi dan ketahanan lingkungan alamm,” ujar Pastika.

Cara Mengawetkan Bawang Secara Alami Dengan Rumah Bawang


rumahbawangKomoditas bawang merah bisa disimpan di tempat tertentu agar bisa tahan lama. Dengan begitu, bisa lebih menguntungkan ketika panen raya dan mencegah harga jatuh. Bawang merah dengan penanganan pasca panen yang baik sebetulnya bisa disimpan sampai enam bulan. Sigit Nugraha, seorang peneliti dari Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Pasca Panen Kementerian Pertanian menyebutkan, pada 2007 pihaknya berhasil merancang ‘rumah bawang’ untuk menyimpan bawang merah.

‘Rumah bawang’ bisa dibangun di tengah sawah dan bisa menyimpan bawang merah selama 6 bulan. Setelah dipanen, bawang merah perlu dikering dan dianginkan di bawah sinar matahari selama 7-9 hari untuk mencegah busuk. Namun repotnya, cara ini sulit dilakukan jika matahari ternyata tidak muncul. ‘Rumah bawang’ dibangun dengan menerapkan sistem pengeringan-penyimpanan atau instore drying. Ruang dapat diatur sesuai kondisi optimum untuk proses pengeringan dan penyimpanan bawang merah.

“Bawang merah teknik penyimpanannya supaya bisa tahan 6 bulan yaitu dengan instore dryer. Peneliti kita dari Balai Besar Pasca Panen sudah bisa membuatnya. Bangunan itu tidak perlu energi listrik karena pakai panas matahari. Sebab yang diperlukan bawang merah itu hanya sirkulasi udara dan matahari saja,” ungkap Rudi Tjahtjohutomo, Kepala Balai Besar Pascapanen Kementerian Pertanian kepada detikFinance di Palembang, Sumatera Selatan, Jumat (16/10/2015).

Rudi menjelaskan, bangunan tersebut bisa menampung 5-10 ton bawang merah dengan ukuran 6×6 meter dengan tinggi 3 meter. “Kapasitas 5-10 ton. Atap bangunan terbuat dari fibre glass transparan yang dilengkapi dengan aerasi. Dinding dari fibre glass atau plastik juga bisa. Rangka dari besi atau kayu,” jelasnya. ‘Rumah bawang’ ini, kata Rudi, sudah direplikasi dengan bantuan biaya dari Bank Indonesia.

“Sudah direplikasi, di Kalteng sudah ada. Itu sudah dipakai petani terbukti bisa menyimpan bawang merah selama 6 bulan,” ucapnya. Rencananya, lanjut Rudi, dryer ini akan dibangun di daerah sentra-sentra bawang merah. Bawang yang sudah dipanen, setelah disortir, bisa disimpan di dalam bangunan tersebut. ‘Rumah bawang’ tidak perlu listrik.

“Pakai tenaga matahari dan windblower untuk memutar udara. Kalau di dalam panas, akan mengeluarkan suhu dari dalam. Kalau matahari terlalu terik, lapisan terpal di atas akan digulung. Kalau panas sedang, bisa dibuka. Ini praktis sekali,” terangnya. Bawang merah yang dikeringkan dalam bangunan ini hanya butuh waktu 3 hari. Jika dibanding teknik penjemuran di lahan sawah atau bahu jalan, membutuhkan waktu 9 hari dan risiko terkena hujan.

Keuntungan lainnya, lanjut Rudi, risiko susut pun berkurang. Petani di Banturung, Kecamatan Bukit Batu, Kota Palangkaraya sudah pernah mencobanya. “Sudah dicoba oleh petani di Banturung ada 3 unit di sana bisa bertahan enam bulan dengan penyusutan hanya 4-5%. Sangat sederhana bentuknya dan sangat sesuai karena bisa dibangun di dekat sawah petani bawang merah,” kata dia.