Monthly Archives: Mei 2008

Alamat Internet Versi Lama Tidak Dapat Digunakan Lagi Tahun 2011


Alamat Internet Protocol versi 4 (IPv4) yang digunakan untuk mengalamati komputer online di seluruh dunia, diperkirakan akan habis terpakai pada 2011 sehingga Internet Engineering Task Force (IETF) telah menyiapkan protocol baru versi 6 (IPv6).

Menurut Kepala Bidang Sistem Komunikasi Multimedia Pusat Teknologi Informasi dan Komunikasi BPPT Dr Hary Budiarto, IPv6 didesain untuk mengatasi kelemahan IPv4 seperti alokasi pengalamatan yang terbatas dan dirancang sebagai langkah evolusioner
internet protocol versi 4 itu.

IPv4 adalah sebuah jenis pengalamatan jaringan yang digunakan di dalam protokol jaringan TCP/IP yang menggunakan protokol IP versi 4. IP versi ini memiliki keterbatasan yakni hanya mampu mengalamati sebanyak 4 miliar host komputer di seluruh dunia.

Contoh alamat IPv4 adalah 192.168.0.3.

Berbeda dengan versi 4 yang hanya 32-bit, IPv6 memiliki ruang alamat 128-bit yang bisa memberi alokasi alamat unik sebanyak dua pangkat 128 atau 3,4 x 10 pangkat 38 yang jauh lebih unggul.

“Namun komponen jaringan IPv6 harus memiliki Router IPv6 karena jika tidak maka jaringan IPv6 tidak terbentuk,” kata Hary di Jakarta, Senin.

IPv6 ini dapat diinstalasi seperti normalnya meng-“upgrade” software pada peralatan internet dan dapat beroperasi (interoperable) dengan internet protocol yang saat ini dipakai (IPv4), ujarnya.

Ia mencontohkan, untuk windows XP belum dilengkapi IPv6 sehingga harus di-“upgrade”, sedangkan Windows Vista sudah menggunakan IPv6, demikian pula IGOS Nusantara versi terbaru sudah dilengkapi IPv6.

Karena prospek IPv6 di masa mendatang itulah BPPT kemudian merancang router yang khusus untuk penggunaan IPv6, terutama untuk kelas pengguna rumahan hingga usaha kecil menengah (UKM) atau disebut “Small Office Home Office” yang membutuhkan router murah dan dan mudah diterapkan.

Pengembangan router dengan menggunakan personal computer (PC) bisa dilakukan tetapi memerlukan pengaturan dan manajemen yang tak mudah bagi pengguna biasa, tambahnya.

Untuk ini BPPT mengembangkan router dengan memanfaatkan prosesor INTEL IXP425 dengan fitur yang “plug and play” dengan pendekatan “open source” (LINUX) sehingga bebas biaya lisensi dan harganya menjadi lebih murah, katanya.

Taxoplasma Menyebabkan Pria Terlihat Dungu Dan Wanita Terkesan Seksi


Si dia makin lama makin tulalit dan nggak nyambung? Wah, jangan-jangan si dia terinfeksi parasit. Karena menurut para peneliti dari Australia ada sebuah parasit yang jika tertelan bersama makanan bisa memberikan efek yang berbeda antara pria dan wanita. Pada pria ia akan menyebabkan wajah dungu yang menyebalkan, sebaliknya pada para wanita, mata mereka yang makin besar, tatapan hampa hingga terlihat makin seksi jika terinfeksi parasit ini.

Toxoplasma gondii, nama parasit ini, biasanya ditemukan pada daging mentah, daging yang kurang masak dan tertelan, atau pun lewat kotoran kucing yang terinfeksi. Parasit ini juga berbahaya bagi wanita hamil karena bisa menyebabkan keguguran dan kecacatan pada janin. Pada orang yang memiliki sistem kekebalan tubuh rendah, parasit tokso bahkan bisa mengakibatkan kematian.

Pada penelitian terbaru yang dilakukan oleh peneliti dari Sidney University of Technology, infeksi parasit toxoplasma ini menimbulkan dampak yang berbeda pada pria dan wanita. “Pria yang terinfeksi akan memiliki IQ yang rendah dan kurangnya konsentrasi. Selain itu mereka juga jadi anti sosial, pencemburu, suka mengambil risiko, dan terlihat kurang menarik di mata wanita karena memiliki moon face hingga terlihat bodoh,” kata Dr Nicky Boulter, seperti dikutip majalah Australasian Science.

Di lain pihak, lanjut Boulter, parasit ini menyebabkan wanita yang terinfeksi jadi memiliki muka lebih ramah, ceria serta naiknya dorongan seksual yang dibarengi dengan penurunan kemampuan mengendalikan diri. Wajah moon face ini memiliki efek yang berbeda di wanita karena akan membuat mereka terlihat lebih bernafsu dan dungu sedangkan banyak pria dan wanita mengasosiasikan wajah dungu dan mata yang besar sebagai seksi.

Sebanyak 40 persen populasi dunia diduga telah terinfeksi parasit ini. Parasit ini sebenarnya sudah sejak lama diketahui oleh para ahli namun tak terlalu jadi perhatian karena pada orang yang sehat infeksi parasit ini tidak akan merusak kesehatan.

Bill Gates Anak Sumbang Dana Buat Penelitian Flu Burung Dan HIV Di Indonesia


Bill Gates, pemilik Microsoft Corporation sekaligus pendiri Bill & Melinda Gates Foundation, dalam kunjungannya ke Jakarta pada 8-9 Mei 2008 akan melangsungkan pembicaraan dengan pemerintah Indonesia tentang rencana pengembangan vaksin flu burung.

“Pemerintah Indonesia dan Bill Gates akan membahas kerjasama di bidang penanganan flu burung, khususnya dalam upaya pengembangan vaksin di Indonesia,” kata Menko Kesra Aburizal Bakrie, di Jakarta, Selasa.

“Sekarang ini belum ada vaksin flu burung untuk manusia, yang ada adalah vaksin flu burung untuk hewan,” katanya.

Aburizal Bakrie menambahkan, “Pembicaraan tentang kerja sama ini sudah jauh ‘advance’, tetapi belum sampai tahap kesimpulan,” katanya.

Ia juga menyebutkan bahwa pembahasan ini masih sebatas program belum sampai ke nilai bantuan.

“Pastinya nilai bantuan itu akan sangat mahal,” kata Menko Kesra.

Bill Gates merupakan salah satu orang terkaya di dunia, dengan estimasi kekayaan sekitar 56 miliar dolar AS, atau sekitar Rp513,9 triliun. Kekayaannya mencapai 71 persen dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) Indonesia 2007 yang mencapai sekitar Rp723 triliun.

Menurut sejumlah sumber, Bill & Melinda Gates Foundation sampai 2005 telah mendonasikan dana sebesar total 27 dolar AS ke lebih dari 100 negara, untuk kegiatan nirlaba, seperti pemberantasan TBC, malaria dan penanggulangan HI

Malaysia Memakai Nyamuk Mutan Untuk Membasmi Demam Berdarah


Peribahasa “Lain ladang lain ilalang, lain lubuk lain ikannya” amat tepat di sini. Jika Indonesia masih memakai sistem kuno untuk mengatasi demam berdarah dengue dengan pengasapan, bubuk abate, ataupun pemberantasan nyamuk demam berdarah dengan teknik mulut yaitu program 3M (menguras bak air, menutup tempat air, dan mengubur barang-barang bekas), Malaysia sudah lebih maju, cerdas dan kreatif dalam memilih memberantas penyakit itu dengan senjata baru: pasukan nyamuk mutan.

Nyamuk yang dipakai tentu bukan nyamuk sembarangan. Semuanya telah diseleksi sebelum disebar untuk memerangi epidemi demam berdarah yang rutin menyerang negara itu. Jutaan prajurit nyamuk Aedes aegypti itu juga sudah dimodifikasi secara genetik sehingga membawa gen pembunuh.

Sebagai tahap awal, Pulau Ketam di Negara Bagian Selangor akan menjadi tempat pertama uji coba massal terapi baru ini, pertengahan 2008. Pulau itu memiliki populasi nyamuk Aedes yang cukup signifikan dibanding wilayah lain di Malaysia.

Seperti di negara tropis lainnya, demam berdarah dengue menjadi epidemi yang menakutkan di Malaysia. Jumlah korbannya meningkat sekitar 16 persen setiap tahun. Rekor tertinggi terjadi pada 2004, yaitu 102 orang tewas. Menteri Kesehatan Liow Tiong Tai menyatakan pada tiga bulan pertama tahun ini hampir 10 ribu orang telah terjangkit, 25 orang di antaranya meninggal.

Uji coba penyebaran nyamuk mutan ini dilakukan oleh Institut Penyelidikan Perubatan Kementerian Kesihatan Malaysia bekerja sama dengan Oxitec, perusahaan bioteknologi Inggris yang sebagian sahamnya dimiliki Universitas Oxford. Percobaan ini dilakukan menyusul percobaan laboratorium yang sukses dilakukan tahun lalu.

Rencananya, jutaan nyamuk mutan jantan yang disebar akan membawa gen pembunuh. Begitu nyamuk ini bertemu dengan nyamuk betina dan kawin, dia akan menularkan gen mematikan itu ke nyamuk betina.

Nyamuk betina memang sasaran para prajurit ini karena merekalah pembawa virus demam berdarah dan memiliki belalai yang bisa menembus kulit serta menulari manusia. Nyamuk betina pula yang bertanggung jawab terhadap meningkatnya populasi nyamuk Aedes, apalagi siklus perkembangbiakan Aedes aegypti sangat singkat, yakni 5-7 hari.

Begitu nyamuk betina bertelur di air, hari pertama ia langsung menjadi jentik. Pada hari keempat ia akan menjadi pupa (kepompong), kemudian akan meninggalkan rumah pupanya menjadi nyamuk.

Nantinya, setelah tertular dengan gen mutan, nyamuk betina akan tertular gen pembunuh dan mati. Bila ia sempat menetaskan larva sebelum mati, larva atau jentik yang dilahirkan sang betina juga akan mati. Dengan demikian, populasi nyamuk akan ditekan dan bahkan menurun drastis.

Oxitec sudah merilis iklan di beberapa media massa untuk merekrut entomologis, ahli serangga, dan peneliti lain membantu uji coba di Pulau Ketam. Uji coba di pulau yang berjarak 30 menit naik perahu motor dari Pelabuhan Klang, Selangor, itu akan berlangsung selama setahun guna memantau perubahan populasi nyamuk.

Kepala Divisi Kesehatan Publik Oxcitec, Seshadri S. Vasan, menyatakan uji coba ini dijalankan karena percobaan pertama di laboratorium menunjukkan “hasil yang menggembirakan”. Uji coba pertama di dunia ini menggunakan jenis teknologi yang berbeda dan terbaru. “Teknologi ini merupakan terobosan dalam penanganan demam berdarah, yang tiap tahun kian menunjukkan perkembangan yang mengkhawatirkan,” ujarnya.

Oxitec berharap mampu menyebar pasukan mutannya ke seluruh Malaysia dalam tiga tahun ke depan untuk mengatasi wabah demam berdarah. “Apalagi terbukti selama ini upaya pemberantasan, dengan pengasapan dan upaya pembersihan, tidak bisa menekan eskalasi epidemi demam berdarah,” ujarnya.

Kementerian Kesihatan Malaysia dan lembaga terkait belum memberikan pernyataan soal rencana ini. Soalnya, belum lagi uji coba digelar, kecaman datang dari berbagai organisasi lingkungan, yang mengkhawatirkan Aedes mutan itu akan mencemari ekosistem serta menimbulkan mutasi baru pada hewan dan lingkungan habitatnya.

“Seperti makhluk mutan lainnya, begitu mereka dilepas ke alam, bagaimana mencegah mereka berinteraksi dengan serangga lain dan memproduksi mutan yang lebih berbahaya dibanding nyamuk Aedes,” kata Gurmit Singh, Ketua Pusat Teknologi Lingkungan dan Pembangunan di negara itu.

PROSES PEMBUATAN NYAMUK DEMAM BERDARAH MUTAN
Jantan mutan ini bersaing dengan jantan normal dalam memperebutkan betina. Jika serangga betina kawin dengan jantan mutan, ia tidak akan bisa memproduksi telur dan larva sehingga generasi baru serangga berkurang. Pelepasan rutin jutaan serangga jantan steril bisa memusnahkan seluruh populasi.

Cara ini bisa memberantas populasi lalat screw-worm di Amerika Serikat, Venezuela, Meksiko, Guatemala, Panama, dan Belize, juga beberapa jenis lalat lain dan nyamuk malaria di Israel, Karibia, Selandia Baru, dan Sub-Sahara Afrika. Tapi cara ini gagal memusnahkan nyamuk Aedes aegypti.

Kegagalan itu terjadi karena radiasi yang dipakai mensterilisasi nyamuk jantan membuat jantan mutan menjadi loyo dan lemah sehingga tidak mampu bersaing dengan jantan normal. Cara yang dikembangkan Oxitec (Oxford Insect Technologies) sedikit lebih maju. Dikenal dengan nama RIDL (release of insects carrying a dominant lethal) atau pelepasan serangga dominan mematikan.

Dengan teknik baru ini, Aedes tidak diradiasi, tapi disusupi gen mematikan. Nyamuk mutan tidak mati karena diberi zat aditif internal lewat makanan. Nyamuk juga diberi penanda genetik, seperti fluorescence, sehingga mudah dipantau oleh peneliti.

Cara baru ini juga tidak membuat nyamuk menjadi loyo, sebaliknya menjadi gagah dan “ngejos” sehingga menarik betina. “Buktinya, hasil laboratorium menunjukkan, lebih dari 50 persen betina memilih jantan mutan dibanding jantan normal,” kata Kepala Divisi Kesehatan Publik Oxcitec Seshadri S. Vasan.

Teknologi Pengawetan Mayat Berkembang Dengan Sistem Injeksi Plastik


Aula California Science Center mendadak berganti rupa bak galeri seni yang dipenuhi patung manusia bergaya seperti atlet. Ada yang berpose sedang memanah, pelari halang rintang, pebasket, bahkan perempuan sedang berlutut. Memang tampak aneh karena semuanya tak ada yang memiliki kulit, tapi jangan salah, semua figur itu adalah manusia asli.

Pakar anatomi Jerman, Gunther von Hagens, sengaja memamerkan jasad manusia yang telah diawetkan lewat proses plastination yang telah dipatenkannya tersebut. Dalam pameran “Body Worlds 3 & The Story of the Heart” di California Science Center di Los Angeles, Amerika Serikat, itu, Hagens mempertunjukkan lebih dari 200 mayat yang telah dikuliti epidermisnya sehingga daging dan jaringan ototnya terlihat jelas.

Tak seluruh jasad dikuliti habis, beberapa masih memiliki sepotong kulit, kuku, atau alis. “Saya ingin setiap orang mengetahui keindahan itu lebih dalam daripada sebatas kulit,” kata doktor dari University of Heidelberg itu.

Lewat proses plastination yang dikembangkannya, Hagens mengawetkan mayat manusia dengan memasukkan plastik solid sebagai pengganti cairan tubuh alami, seperti air, darah, dan lemak. Tak sekadar mengawetkan jaringan tubuh, plastination juga memberikan ketegaran, yang memungkinkan mayat dan organnya dipertontonkan dalam sebuah pameran tanpa pengunjung harus menutup hidung dari sengatan bau formalin. Mayat juga tampil utuh, sama sekali tidak kering keriput atau perlu bermeter-meter kain seperti mumi.

Melalui jasad yang telah melalui proses plastination, Hagens menyebutkan plastinates, pria berusia 63 tahun itu ingin memperlihatkan keindahan tubuh manusia sampai ke organ dalamnya. Dia juga ingin orang mau mengubah gaya hidupnya menjadi lebih sehat dengan memperlihatkan bagaimana rokok dan minuman keras bisa merusak tubuh.

Beberapa pengunjung pameran memang berhenti merokok setelah melihat perbandingan paru-paru off-white orang yang tidak merokok dengan paru-paru perokok yang dipenuhi bintik hitam gelap. “Orang bisa melihat struktur dan fungsi tubuh yang sehat dan tidak,” ujarnya.

Meski begitu, ada satu figur yang membuat beberapa orang bergidik, yaitu potongan janin dari usia yang bervariasi, mulai dari sesaat setelah pembuahan sampai 32 pekan. Pertumbuhan mulai dari cuma bintik kecil sampai menyerupai bayi mungil bisa terlihat jelas.

Pameran yang mempertontonkan mayat ini jelas memancing kontroversi dan perdebatan panjang soal batasan moralitas, seni, dan ilmu pengetahuan. Pemuka agama juga melancarkan kritik karena pertunjukan ini dianggap tidak etis dan terlalu eksplisit bagi anak-anak. Bahkan ada yang menjuluki pria yang selalu mengenakan topi fedora itu sebagai Dr Frankenstein. Namun, hal itu sama sekali tak menyurutkan niat Hagens untuk meneruskan kegiatannya, membantu orang memahami fungsi tubuhnya.

Tak cuma cercaan, Hagens juga harus berhadapan dengan para penegak hukum. Pertengahan April lalu, polisi Jerman dan petugas bea-cukai yang berjumlah 120 orang menggeledah fasilitas tempat Hagens mengawetkan jenazahnya di Heidelberg dan Guben. Mereka mencurigai adanya orang asing yang dipekerjakan secara ilegal di sana sejak 2005.

Hagens juga pernah dituduh melakukan perdagangan mayat secara ilegal. Jasad yang dipamerkannya diduga berasal dari para narapidana, tunawisma, dan orang sakit jiwa yang tidak punya keluarga sehingga tak ada yang mempertanyakan jenazahnya ketika mereka meninggal.

Semua tudingan itu dibantah keras Hagens. Dia menegaskan semua pembelian spesimen dari koleksi rumah sakit atau museum dilakukan secara hati-hati untuk menghindari masalah etika. Dia juga menjual beberapa mayat yang didonasikan kepada institusinya setelah mengalami plastination selama setahun.

Semua jasad yang digunakan Hagens dalam pamerannya memang berasal dari sumbangan pribadi. Ketika mereka setuju menyumbangkan jenazahnya, ada klausul yang mengizinkan jasad itu dijual ke organisasi riset setelah plastination.

Penjualan plastinates ke berbagai universitas dan institusi pendidikan memang tak bisa dihindari. Ongkos untuk mengawetkan satu mayat dengan proses ini butuh biaya yang bervariasi, Rp 348,2-678,2 juta.

Meski dikritik habis-habisan, toh pameran itu selalu dipenuhi orang yang ingin tahu. Diperkirakan jutaan orang telah menyaksikan pameran Hagens. Di Jepang, tak kurang dari dua setengah juta orang berduyun-duyun mengunjungi pameran yang berlangsung sejak 1996-1998 itu. Di Berlin, dalam waktu kurang dari tujuh bulan, 1,4 juta orang juga memadati pameran itu.

Tak sekadar menyaksikan, jumlah orang yang bersedia menyumbangkan tubuhnya setelah meninggal untuk institusi Hagens juga terus meningkat. Sampai Januari 2008, daftar nama donasi tubuh di Institute of Plastination mencapai 8.244 donor hidup dari seluruh dunia. Dari jumlah itu, 7.076 orang adalah warga Jerman dan 659 orang Amerika. Sedangkan donor yang telah meninggal terdiri atas 538 warga Jerman dan 8 dari Amerika.

Eulinda Clarke-Akalann dari Sommerset, Inggris, menyatakan dia ingin mendonasikan tubuhnya karena takut dikubur hidup-hidup. “Saya merasa dengan melakukan hal ini saya bisa membantu memajukan riset medis dan memberikan pencerahan bagi banyak orang tentang tubuh manusia,” ujarnya.

BERAWAL DARI MELIHAT TUKANG DAGING
“Saya melihat spesimen pertama saya tertanam dalam cetakan polimer dan saya ingin tahu mengapa polimer itu dituangkan di bagian luar spesimen, padahal memasukkan polimer ke dalamnya akan menyeimbangkan dari dalam ke luar,” kata Hagens dalam situs Body Worlds.

Pertanyaan itu terus berada di otaknya, sampai beberapa pekan kemudian Hagens menyiapkan serangkaian irisan ginjal manusia untuk sebuah proyek riset. Proses umum yang dilakukan adalah menanam ginjal itu ke dalam parafin dan menyayatnya setipis mungkin. “Namun, proses itu terlalu melelahkan karena saya hanya memerlukan setiap sayatan ke-50,” ujarnya.

Suatu hari, Hagens melihat penjual mengiris daging dan mendapat ide menggunakan alat pengiris daging untuk memotong ginjal. Kemudian dia memasukkan ginjal ke dalam plexiglas cair dan memakai vacuum untuk mengekstraksi gelembung udara yang terbentuk ketika mengaduknya dalam bahan pengawet.

Pada saat mengamati gelembung itu, Hagens kembali mendapat gagasan menginfus sayatan ginjal dengan plastik dan menempatkannya di bawah sebuah vacuum. Penginfusan dilakukan setelah ginjal dibuat jenuh dengan acetone. Vacuum akan mengekstraksi acetone dalam bentuk gelembung. “Itu sama saja seperti mengekstraksi udara keluar,” ujarnya.

Dalam eksperimen pertamanya, banyak sekali gelembung acetone yang terbentuk, tapi setelah satu jam ginjal itu berubah warna menjadi hitam pekat dan mengerut. Eksperimen itu jelas gagal total, tapi Hagens tidak menyerah.

Sepekan kemudian, Hagens mengulangi eksperimennya menggunakan karet silikon. Pengetahuan dasarnya di bidang kimia fisik membuat dia tahu bahwa efek menghitamnya organ itu terjadi karena indeks pembiasan plexiglas dan penyusutan ginjal disebabkan oleh proses penyerapan yang terlalu cepat.

Hagens mengubah proses menjadi lebih lambat dan memakai tiga kali perendaman silikon untuk menghindari perendaman tunggal, yang membuat pengawetan terlampau cepat. Pada 10 Januari 1977 itulah, Hagens akhirnya bisa membuat sampel plastination pertamanya.

Cumi Cumi Dengan Mata Super Besar


Sebuah bola mata yang lebih besar daripada piring porselen makan malam. Tim ilmuwan kelautan internasional di Selandia Baru menemukannya pada cumi-cumi laut dalam yang sudah langka, Mesonychoteuthis hamiltoni atau yang juga dikenal dengan cumi kolosal.

Diameter mata cumi itu terukur sekitar 11 inci, dengan lensanya yang setara dengan buah jeruk. “Ini adalah bola mata terbesar dalam sejarah dan yang pernah dipelajari dalam dunia hewan,” kata Eric Warrant, profesor indra penglihatan khusus hewan invertebrata dari University of Lund, Swedia.

Warrant adalah anggota tim yang meneliti jasad si cumi di Museum Te Papa Tongarewa. Sejak ditemukan terdampar di lepas pantai Laut Ross, Antartika Utara, tahun lalu, spesimen cumi kolosal yang pernah didapat itu memang dibekukan di museum nasional Selandia Baru itu. Panjangnya 26 kaki, berat sekitar lima kuintal, dengan satu dari sepasang bola matanya masih melekat di tempatnya.

Lensa matanya yang superbesar berperan menjaring sebanyak mungkin cahaya di laut dalam dan gelap yang diselaminya. Dengan kemampuannya itu, cumi kolosal masih bisa berburu dengan baik di kedalaman 6.500 kaki. Pemburu yang agresif, begitu jenis cumi ini dikenal.

TBC Membunuh Lebih Banyak Daripada Flu Burung


Risiko kematian penderita Tuberculosis (TBC) jauh lebih besar dari kematian yang diakibatkan penyebaran virus Flu Burung atau Avian Influenza (AI).

Direktur Pengendalian Penyakit Menular Langsung (P2ML) (Depkes), Tjandra Yoga, di Solo, Sabtu, mengatakan, jika dilihat dari angka kematian yang terjadi, setiap tahun terjadi 88.000 kematian akibat TBC di Indonesia.

“Jika jumlah tersebut dibagi 365 hari dalam setahun, rata-rata terjadi 200 kematian akibat TBC dalam sehari,” katanya.

Ia membandingkan dengan penyebaran flu burung di negara ini yang telah menyebabkan 133 orang terjangkiti, di mana 108 penderita di antaranya meninggal dunia.

“Namun, yang harus tetap diwaspadai dari flu burung ialah jika sampai terjadi pandemi,” katanya.

Ia menuturkan, pada kasus TBC, terjadi penurunan jumlah penderita dibanding tahun 1990 lalu.

Saat ini, lanjut dia, jumlah penderita TBC di Indonesia mencapai sekitar 250.000 orang.

Mengalami penurunan dibanding tahun 1999, yang mencapai sekitar 282.000 penderita.

“Demikian juga dengan angka kematian akibat TBC, dari 193.000 per tahun pada tahun 1990-an, kina hanya sekitar 88.000 per tahun,” katanya.

Salah satu upaya yang dinilai berhasil dalam menekan penderita TBC ini ialah dengan adanya strategi directly observed treatment shortcourse (DOTS), yakni pengawasan langsung melalui pengobatan jangka pendek.

Namun, ia juga mengakui bahwa belum seluruh rumah sakit di Indonesia ini telah mengaplikasi sistem ini.

“Baru sekitar 20-30 persen rumah sakit yang telah mengaplikasikan sistem ini,” katanya.

Bahkan yang lebih parah lagi, dia menambahkan, ialah minimnya, bahkan hampir tidak ada dokter praktik yang menggunakan strategi DOTS itu.