Monthly Archives: November 2010

Segitiga Pengaman Pencegah HIV dan AIDS


Akhir tahun 1991, kota Surabaya dihebohkan oleh berita seorang perempuan pekerja seks komersial (PSK) di kompleks pelacuran Dolly dinyatakan HIV positif. Akibatnya, kompleks pelacuran itu jadi sepi. Susahnya, si perempuan PSK itu sudah pindah dari Dolly. Setelah ia ditemukan di kompleks pelacuran lain di selatan Surabaya, ia pun ”diamankan” di Markas Koramil Sawahan sebagai ”titipan” Camat Sawahan agar bisnis jasa seks di Dolly berjalan seperti biasa lagi.

Ada persepsi yang salah bahwa si PSK yang malang itu adalah sumber penularan HIV/ AIDS, padahal ia justru korban yang ”tertular” oleh para pelanggan mereka yang enggan menggunakan kondom. Pada gilirannya mereka kemudian memang menularkan HIV kepada pelanggan lainnya yang juga enggan menggunakan kondom. Dan pelanggan lainnya itu, ketika berhubungan seks dengan istrinya, si istri pun ikut tertular. Jika si istri hamil, maka akan menulari sang janin.

Saat ini sudah ribuan kaum ibu yang tak pernah berselingkuh dan ribuan pula bayi yang lahir di Indonesia terinfeksi HIV. Semua ini terjadi karena kampanye penggunaan kondom terkendala oleh sikap puritan sebagian masyarakat yang memandang bahwa mempromosikan penggunaan kondom untuk pencegahan AIDS itu sama dengan mempromosikan perzinaan dan seks bebas. Hingga kini hampir semua stasiun TV di Indonesia enggan menyiarkan iklan layanan masyarakat (ILM) tentang perlunya penggunaan kondom bagi para pria yang doyan ”jajan”. Mereka mungkin masih trauma ketika ILM kondom dengan penyanyi Harry Roesli diprotes dan dituntut untuk dihentikan penayangannya.

Sudah tahap matang

Fenomena ribuan kaum ibu dan bayi di Indonesia tertular HIV menunjukkan epidemi AIDS di negeri ini sudah mencapai tahap matang, terutama memang terkonsentrasi di beberapa provinsi, seperti DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Timur, Bali, Papua, dan Papua Barat. Menurut dr Nafsiah Mboi, SpA MPH, Sekretaris Komisi Penanggulangan AIDS, yang memicu penularan HIV di Indonesia adalah 3,1 juta pria dewasa yang membeli jasa seks komersial dari sekitar 230.000 perempuan PSK. Situasi ini mengancam 1,6 juta perempuan yang telah menikah.

Data Kementerian Kesehatan juga menunjukkan bahwa jumlah kumulatif kasus AIDS di kalangan perempuan di Indonesia hingga akhir Desember 2009 menunjukkan rekor tertinggi dipegang oleh ibu rumah tangga (sebanyak 1.970 kasus), sementara hanya 604 kasus pada penjaja seks.

Kaum pria yang biasa membeli jasa seks komersial sesungguhnya adalah ”jembatan” (bridge) dalam jejaring atau mata rantai penularan HIV, bukan para perempuan PSK yang lebih statis dan pasif. Di sinilah peran sentral kaum pria, apakah mereka mau atau enggan melindungi diri sendiri dengan perilaku seks aman, termasuk memakai kondom jika berhubungan seks tak aman.

Mengapa kondom yang sebenarnya secara internasional diakui sebagai sarana paling ampuh untuk membendung penularan HIV lewat hubungan seks justru kurang populer di Indonesia? Selain kampanye kondom masih dituding sebagai promosi seks bebas dan mitos kondom berpori, amat rendahnya kebiasaan (habitus) menggunakan kondom di Indonesia juga merupakan kesalahan program Keluarga Berencana (KB) di Indonesia yang memarginalkan peran kaum pria. Akibatnya, penggunaan kondom sebagai alat kontrasepsi hanya kurang dari 1 persen.

Penutupan satu demi satu lokalisasi pelacuran secara tidak langsung juga mempersulit penanggulangan HIV/AIDS di Indonesia. Kramat Tunggak di Jakarta misalnya ditutup tahun 1999. Tersiar kabar, Dolly pun bakal mengikuti jejak Kramat Tunggak. Razia terhadap para perempuan PSK juga marak terjadi di mana-mana.

Pelacuran sebagai ”profesi” tertua di muka Bumi akan selalu liat. Ditutup dan dirazia di suatu tempat, maka akan bermunculan di tempat-tempat lain. Semuanya mengikuti hukum supply and demand (penawaran dan permintaan). Selama demand hajat seks kaum pria masih tinggi, maka supply akan selalu mengimbanginya. Terbukti dengan ditutupnya Kramat Tunggak, lokasi pelacuran pun pindah ke kafé-kafé di jalan besar yang tak jauh dari Kramat Tunggak.

Menyambut Hari AIDS Sedunia yang jatuh pada hari ini, kiranya perlu dipikirkan bagaimana kita tidak mempertentangkan lagi pendekatan moral dan hukum di satu pihak dengan pendekatan kesehatan masyarakat di pihak lain.

Pendekatan moral lazim berkaitan dengan upaya mengampanyekan hubungan seks yang ”halal” (hanya antara suami-istri yang sah). Misalnya kampanye ”Katakan Tidak untuk Seks di Luar Nikah” yang merupakan bentuk demand reduction (untuk seks komersial yang tidak ”halal”). Namun, tak bisa dimungkiri kenyataan, sereligius apa pun suatu bangsa, tetap saja sekitar 20 persen kaum pria dewasanya melakukan hubungan seks bukan dengan pasangan tetap atau istri mereka.

Pendekatan hukum nyata dalam bentuk penutupan lokalisasi pelacuran dan razia para PSK, yang merupakan bentuk supply reduction. Padahal, praktik prostitusi mustahil hanya dibendung di hilir jika tidak digarap di hulunya, yaitu kemiskinan di perkotaan/pedesaan yang jadi pemasok para PSK.

Selama masih cukup banyak kaum pria ”jajan” dan sulit memberantas prostitusi, penggunaan kondom adalah upaya mengurangi kemudaratan (harm reduction), terutama bagi kaum pria yang tak bisa membendung hajat seksual mereka.

Seyogianya pendekatan hukum (supply reduction) dan moral (demand reduction) dalam penanggulangan AIDS di Indonesia tidaklah perlu dipertentangkan dengan pendekatan kesehatan masyarakat (harm reduction). Idealnya, ketiga pendekatan ini dipadukan menjadi ”Segitiga Pengaman”. Penganut dua pendekatan pertama tak boleh merasa pendekatan mereka yang paling benar dan memojokkan pendekatan ketiga. Sayangnya, pendekatan kesehatan masyarakat masih menjadi anak tiri di Indonesia.

Iklan

Eniya Listiani Dewi Periset Fuel Cell Terima Habibie Award


Periset fuel cell atau sel bahan bakar dari Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi, Eniya Listiani Dewi, menerima anugerah Habibie Award. Inovasi teknologinya di bidang energi berbahan bakar hidrogen dengan hasil limbah air murni yang ramah lingkungan.

”Ini pencapaian penghargaan yang paling susah karena dipersyaratkan ada pencapaian kolaborasi dengan industri, kepemilikan paten, dan hak merek,” kata Eniya, Selasa (30/11).

Program riset Eniya saat ini bisa menghasilkan energi listrik 1.000 watt dengan bahan bakar hidrogen. Kolaborasi dengan industri sudah ditempuh dengan PT Arbe Etyrindo di bidang polimer kemasan produk elektronik.

Eniya memperoleh tiga hak paten, meliputi paten membran elektrofikasi, educational kit (lembar pendidikan) sel bahan bakar, dan reaktor biohidrogen. Hak merek dimiliki Eniya dengan nama ThamriON untuk membran elektrofikasi dan Omaf untuk educational kit-nya.

”Reaktor biohidrogen ini menghasilkan hidrogen dari biomassa,” kata Eniya.

Menurut Eniya, teknologi sel bahan bakar merupakan teknologi masa depan sebagai alternatif sumber energi baru yang ramah lingkungan. Pengembangannya kini masih pada skala laboratorium, masih menuntut pengembangan untuk skala industri.

Eniya meraih Habibie Award untuk Bidang Ilmu Rekayasa. Selain itu, penghargaan serupa juga diberikan kepada Adrian Bernard Lapian untuk Bidang Ilmu Budaya. Ahmad Syafii Maarif dan Franz Magnis-Suseno masing-masing menerima Habibie Award untuk Bidang Khusus Harmoni Kehidupan Beragama.

Bernard Lapian merupakan sejarawan senior dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) untuk bidang sejarah maritim di Indonesia. Syafii Maarif sebagai Penasihat Pimpinan Pusat Muhammadiyah, sedangkan Franz Magnis merupakan rohaniwan dari Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara.

Habibie Award disampaikan dalam rangka peringatan ulang tahun ke-11 The Habibie Center yang dihadiri oleh Wakil Presiden Boediono serta mantan Presiden Baharuddin Jusuf Habibie

Ikan Di Finlandia Bisa Berubah-ubah Ukuran


Hewan dan manusia bisa bertambah bobot dan lebih gemuk dan mengurus tergantung asupan makanan yang dikonsumsi. Namun, apa yang terpikir di kepala Anda saat ada hewan yang tubuhnya memendek dan memanjang sesuai dengan musim. Ada lho ikan yang seperti itu.

Fenomena langka itu menjadi topik peneliti dari Finlandia dan Norwegia yang hasil penelitiannya dipublikasikan dalam jurnal Functional Ecology. Ini merupakan peneliti dari dua negara tersebut, juga merupakan fenomena pengecilan tubuh pertama yang ditemukan pada ikan.

Para peneliti mengungkapkan, pengecilan itu terjadi saat musim dingin. Mereka mendeskripsikan, pengecilan atau penyusutan ukuran tubuh itu dipicu oleh sebuah kondisi yang dinamai over winter anorexia, saat di mana nafsu makan ikan tersebut menurun drastis kala musim dingin.

Untuk sampai pada kesimpulan tersebut, tim peneliti yang dipimpin Ari Huusko dari Finnish Game and Fisheries Research Institute di Paltamo melakukan percobaan dengan kelompok salmonid, seperti ikan salmon dan trout. Para peneliti tersebut membuat kolam eksperimen yang telah didesain sedemikian rupa sehingga memiliki kondisi seperti musim dingin di wilayah subtropis.

“Kami dihadapkan pada fakta yang tak terduga dan belum pernah didokumentasikan sebelumnya. Ikan benar-benar mengecil dalam kondisi musim dingin. Salmon muda menunjukkan pengecilan ukuran tubuh yang signifikan, sebesar 10 persen dari panjang tubuhnya,” kata para peneliti dalam publikasinya.

Peneliti belum mengetahui secara pasti mekanisme biologis yang menyebabkan pengecilan tubuh itu. Namun, peneliti menduga bahwa hal tersebut berkaitan dengan berkurangnya cairan, seperti gel, yang terdapat di tulang belakang yang memicu pengecilan ukuran tubuh.

Letusan Toba Ternyata Tidak Seburuk Yang Diperkirakan


Letusan raksasa Gunung Toba yang terjadi 74.000 tahun lalu memicu perdebatan di kalangan ilmuwan. Perdebatan terutama berkisar tentang efek dari letusan gunung tersebut.

Studi terdahulu tentang Gunung Toba menyebutkan bahwa letusan 74.000 tahun yang lalu itu menyebabkan penggelapan langit dan menurunkan suhu bumi sebesar 10 derajat celsius selama setengah dekade. Antropolog pun mengatakan, letusan tersebut juga mempengaruhi proses evolusi manusia, menyebabkan fenomena yang disebut genetic bottleneck, suatu kondisi ketika populasi spesies tertentu terbunuh atau terhambat dalam bereproduksi.

Namun, studi yang dilakukan oleh beberapa ilmuwan sesudahnya menyebutkan bahwa efek letusan Toba tak seburuk yang diduga. Berdasarkan hasil penelitian vulkanolog Stephen Self Open University di Milton Keynes, Inggris, dan pakar paleobiologi Michael Rampino dari New York University, AS, misalnya, penurunan suhu bumi hanya antara 3 dan 5 derajat celsius.

Penelitian antropologis oleh Michael Petraglia dari University of Oxford Inggris juga menyebutkan hasil yang kontroversial. Hasil dari penelitian yang didasarkan pada kondisi salah satu situs arkeologis di India itu menyebutkan bahwa manusia-manusia yang tinggal di dekat Gunung Toba justru mampu selamat dan bertahan hidup dengan lebih mudah.

Baru-baru ini, seorang ahli pembuat model iklim dari Max-Planck Institute for Meteorology di Hamburg, Jerman, Claudia Timmreck, melakukan sebuah penelitian untuk melihat lagi efek dari letusan Toba. Ia membuat sebuah model iklim yang dikatakan menyerupai kondisi iklim setelah letusan Toba pada masa itu. Penelitian berfokus pada partikel sulfat aerosol yang terbentuk dari gas sulfur dioksida, partikel yang menyebabkan pemantulan sinar matahari sehingga menyebabkan pendinginan temperatur Bumi.

Berdasarkan data hasil penelitian, diketahui bahwa Gunung Toba mengeluarkan 850 juta metrik ton sulfur dioksida ke atmosfer. Penelitian juga menghasilkan kesimpulan bahwa efek letusan Gunung Toba tidak seburuk yang diduga selama ini. Penurunan suhu Bumi, misalnya, hanya antara 3 dan 5 derajat celsius secara global. Perubahan temperatur secara ekstrem hanya terjadi di Afrika dan India selama dua tahun saja, dengan kondisi temperatur berkurang hingga 10 derajat celsius pada tahun pertama dan 5 derajat celsius pada tahun kedua.

Hasil penelitian yang dipublikasikan di Geophysical Research Letters edisi terbaru November tersebut juga menunjukkan bahwa akumulasi partikel sulfur di udara juga akan lenyap dalam beberapa tahun saja. F juga mengatakan, letusan tidak sampai menghabisi populasi flora dan fauna yang ada. Namun, peristiwa itu diakui membuat banyak proses kehidupan menjadi sulit.

Menanggapi hasil penelitian tersebut, Petraglia setuju bahwa efek letusan Toba memang buruk. Namun, dampaknya pada manusia tidaklah sebegitu serius. “Populasi (manusia) selamat, tapi menghadapi kondisi lingkungan yang buruk selama beberapa tahun,” katanya. Ia juga mengatakan, perlu dilakukan juga observasi lapangan sebagai tahap lanjut dari penelitian tersebut.

Sementara itu, Stanley Ambrose dari University of Illinois yang setuju dengan terjadinya fenomena genetic bottleneck mengatakan bahwa kajian Timmreck memiliki kelemahan. Salah satunya karena peneliti memulai riset dengan kondisi iklim modern, bukan menyimulasikan kondisi iklim 74.000 tahun yang lalu.

Teknologi Ramah Lingkungan dari Mazda


Mazda Motor Corporation meluncurkan teknologi ramah lingkungan untuk produk kendaraannya yang disebut Skyactiv. Teknologi Skyactiv diterapkan pada mesin bensin, mesin diesel, sistem persneling, bodi kendaraan, dan rangka kendaraan yang tujuannya adalah menghemat bahan bakar.

Mazda mengklaim, dengan menggunakan teknologi Skyactiv, penggunaan bahan bakar pada kendaraan Mazda dapat dihemat sampai 30 kilometer per liter! Dengan menggunakan teknologi Skyactiv, tingkat polusi udara juga berkurang. Penggunaan teknologi ramah lingkungan ini merupakan gebrakan Mazda pada peringatan hari ulang tahunnya yang ke-90.

Teknologi Skyactiv diluncurkan dalam acara Mazda Brand Forum 2010 di Tokyo, Jepang, Kamis (21/10) dihadapan wartawan dari Indonesia, Malaysia, Filipina, Ekuador, Peru, Arab Saudi, Kolombia, Uni Emirat Arab, dan Afrika Selatan. Acara tersebut diisi dengan presentasi tentang teknologi Skyactiv oleh para petinggi Mazda. Dalam acara tersebut juga ditampilkan sejumlah bagian mobil yang menggunakan teknologi Skyactiv, seperti mesin, rangka, dan bodi kendaraan.

Alih-alih mengembangkan mesin berteknologi hibrida seperti yang dikembangkan industri otomotif Jepang lainnya, Mazda tidak berminat beralih ke mobil hibrida, yang memadukan mesin berbahan bakar minyak dan baterai, tetapi murni mesin berbahan bakar bensin atau solar.

Representative Director, Chairman of the Board, President and CEO Mazda Motor Corporation Takashi Yamanouchi mengatakan, mobil berteknologi Skyactiv akan diproduksi secara massal di Jepang mulai pertengahan tahun 2011.

Menurut Director Senior Managing Executive Officer, In charge of R & D and Program Management Mazda Motor Corporation Seita Kanai, Mazda menyiapkan dua jenis mesin Skyactiv, yaitu Skyactiv-G berbahan bakar bensin dan Skyactiv-D berbahan bakar solar.

”Skyactiv-G merupakan mesin generasi mendatang yang efisien dengan sistem injeksi langsung. Mesin ini merupakan mesin bensin dengan rasio kompresi tertinggi di dunia, yaitu 14:1,” katanya (umumnya rasio kompresi mesin bensin berada di kisaran 9.7:1 hingga 11:1).

Namun, dengan rasio kompresi setinggi itu, tentunya diperlukan bahan bakar dengan oktan yang ekstratinggi pula.

Kanai menambahkan, mesin Skyactiv-D juga merupakan mesin diesel yang bersih dengan rasio kompresi 14:1. Mesin tersebut merupakan mesin diesel dengan rasio kompresi terendah di dunia (umumnya rasio kompresi mesin diesel terbaru berada pada kisaran 18:1).

Selain menggunakan mesin dengan teknologi ramah lingkungan, teknologi Skyactiv juga menggunakan sistem persneling otomatik dan manual yang baru. Sistem transmisi tersebut berukuran lebih kecil dan ukurannya ringan. Sistem transmisi baru itu menjanjikan kenyamanan saat dioperasikan oleh pengemudi.

Kecepatan Teknologi Broadband Indonesia Masih Sebatas Kata Kata


Koneksi broadband atau jaringan telekomunikasi pita lebar semakin menjadi kebutuhan, terutama ketika perangkat mobile broadband mulai membanjiri pasar. Namun, kehadiran gadget-gadget pintar itu terasa terlalu cepat sehingga tidak atau belum didukung jaringan yang memadai.

Sepertinya selalu ada kesenjangan penerapan teknologi komunikasi, selalu terlambat. Bahkan, kalau toh sudah ada, penerapannya tidak maksimal. Operator sudah sangat berbangga memiliki sekian ribu BTS, tetapi tidak pernah dijelaskan BTS dengan kualitas seperti apa.

Terminologi seperti broadband, akses unlimited sudah menjadi jargon sehari-hari yang dijual operator saat ini. Terkesan canggih, tetapi bisa berarti tidak bermakna apa-apa karena keluhan berkaitan dengan layanan itu masih banyak muncul di sana-sini.

Hadirnya ponsel-ponsel canggih (smartphone) menjadi tidak ada artinya ketika koneksi broadband tidak bisa diandalkan. Barang canggih itu hanya berfungsi seperti ponsel biasa, sekadar komunikasi suara dan SMS, selebihnya fitur yang tidak memerlukan jaringan.

Hal ini menjadi semakin terasa ketika mulai muncul iPhone, terlebih lagi ponsel canggih berbasis Android dalam setahun ini. Meski berfitur canggih, ya tetap saja terlihat ”dungu” dengan koneksi broadband yang tersendat-sendat.

Bisa jadi ini karena sampai sekarang operator masih melihat koneksi suara sebagai primadona sehingga koneksi data masih tetap nomor dua. Selain luasnya negeri ini juga merupakan kendala, apalagi daya beli masyarakat juga masih rendah.

Walaupun vendor jaringan Ericsson akhir tahun lalu menemukan bahwa lalu lintas data sudah melebihi suara di tingkat global. Trafik itu meningkat 280 persen tiap tahun selama dua tahun terakhir dan diperkirakan akan meningkat dua kali lipat pada lima tahun ke depan.

Akankah perubahan seperti ini juga akan terjadi di negeri ini?

Korelasi

Sebuah studi yang dibuat Ericsson belum lama ini memperlihatkan adanya korelasi yang positif antara pengembangan penetrasi broadband dan tambahan pertumbuhan GDP, termasuk terciptanya pekerjaan baru. Misalnya seperti setiap penambahan 1.000 pengguna broadband akan menciptakan sekitar 80 pekerjaan baru.

Mats Otterstedt, Presiden Direktur Ericsson Indonesia, beberapa waktu lalu mengungkapkan, ”Indonesia memiliki potensi pertumbuhan di bidang mobile broadband yang menakjubkan. Sebagai negara keempat dengan populasi terbesar, Indonesia merupakan pasar besar dengan permintaan akan layanan telekomunikasi yang besar pula.”

Raksasa jaringan dari Swedia itu melihat pertumbuhan mobile broadband di Indonesia seiring dengan pertumbuhan indikator sosial ekonomi negara. Mobile broadband telah berkembang menjadi syarat utama bagi masyarakat Indonesia untuk mendapatkan koneksi internet.

Pada kesempatan yang berbeda, pihak GSMA (Asosiasi GSM) pada Selasa (16/11) mengungkapkan hasil riset independen yang menekankan pada dampak positif alokasi spektrum frekuensi untuk komunikasi bergerak di Asia Pasifik. Laporan yang dibuat GSMA dan Boston Consulting Group itu tentang alokasi pada pita frekuensi 700 MHz untuk komunikasi broadband.

Apabila pihak pemerintah di kawasan Asia Pasifik mengalokasikan frekuensi itu untuk komunikasi bergerak, maka akan memberikan keuntungan ekonomis dan sosial yang lebih besar dibandingkan dengan jika hanya digunakan untuk layanan seperti siaran. Sepertinya harmonisasi pita frekuensi 700 MHz ini memberi isyarat bagi masuknya teknologi Long Term Evolution (LTE), sebuah teknologi komunikasi yang saat ini bisa disebut para-generasi keempat (4G).

Riset itu memperlihatkan, alokasi pita 700 MHz untuk LTE akan meningkatkan jumlah pelanggan internet di Indonesia sampai 22 persen, Korea hingga 14 persen, India 21 persen, dan Malaysia 23 persen. Di negeri ini akan bertambah 9,7 juta pelanggan internet hingga tahun 2020.

Barangkali hal ini juga akan memberi jalan pada teknologi LTE di Indonesia untuk membuka kemacetan broadband. Akan tetapi, lalu muncul pertanyaan lain, bagaimana dengan WiMAX, teknologi pra-4G yang bahkan sudah mulai menjalankan aktivitas pembangunan infrastrukturnya?

Detektor Gempa Rumah Tangga Buatan Indonesia


Indonesia yang terletak pada pertemuan tiga lempeng aktif dunia, yakni Lempeng Eurasia, Lempeng India-Australia, dan Lempeng Pasifik, membuat negara kepulauan ini rawan gempa. Hingga kini belum ada alat yang mampu memperkirakan kapan dan di mana gempa akan terjadi.

Kenyataan ini diperparah dengan konstruksi gedung dan rumah-rumah di Indonesia yang tidak mengikuti kaidah tahan gempa. Tidak heran jika bencana gempa sering kali menimbulkan banyak korban jiwa.

Berangkat dari keinginan memperkecil dampak primer gempa berupa jatuhnya korban jiwa, tiga mahasiswa Fakultas Teknik Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta, Jawa Tengah, yakni Tatang Kukuh Wibawa, Ali Zakaria, dan Fitrianto, menciptakan detektor gempa sederhana berbiaya murah yang dapat dipasang di rumah-rumah.

Detektor ini berhasil memenangi juara 1 Kompetisi Rancang Bangun 2010 tingkat nasional yang berlangsung 22-23 Oktober 2010 di Universitas Udayana, Bali. Ada 10 finalis yang berkompetisi dalam ajang tersebut.

Detektor ini pada prinsipnya bertumpu pada bandul besi yang akan bergetar akibat guncangan gempa.

Jika getaran gempa cukup besar, bandul tersebut akan menyentuh lempengan yang berbentuk lingkaran (ring) yang dipasang di sekitarnya.

Persentuhan bandul dengan ring yang disambungkan dengan sistem relai listrik itu akan langsung membunyikan alarm yang dipasang pada sistem rangkaian detektor.

Kotak plastik

Bandul dan ring ini semacam sensor terhadap terjadinya gempa. Detektor ini dihidupi tenaga baterai 9 volt yang tahan satu tahun. Seusai lomba, mereka menyempurnakan detektor dengan mengemasnya dalam kotak makanan plastik dari yang semula terpasang pada papan kayu.

”Kami dapat masukan dari para juri, angin kencang bisa saja menggerakkan bandul, bukan hanya gempa. Kami kemudian memasukkan bandul ke dalam kotak plastik agar tidak ada kekuatan lain yang dapat menggerakkannya, kecuali gempa,” kata Tatang saat dijumpai di Kampus UNS, Rabu (24/11) di Surakarta.

Untuk memindahkan ke kotak plastik, mereka memperkecil ukuran bandul dan ring setelah sebelumnya skalanya mereka sesuaikan lagi.

Ternyata perbaikan ini juga mampu mengurangi biaya produksi, dari semula Rp 100.000 per unit menjadi Rp 50.000 per unit. Ketiganya bermimpi, alat ini dapat dipasang di rumah-rumah sebagai peringatan dini yang efektif.

”Gempa dapat terjadi kapan saja. Kalau terjadi malam hari, siapa yang akan membangunkan warga. Kalau mereka punya alat ini, harapannya mereka akan terbangun saat alarm berbunyi, lalu menyelamatkan diri,” kata Ali.

Mengolah data

Untuk mewujudkan mimpi terhadap keberadaan detektor gempa sederhana, ketiganya lantas mengolah data percepatan tanah dan massa bangunan.

Mereka memakai studi kasus bangunan lima lantai yang berbentuk kotak. Mereka menghitung simpangan maksimal goyangan akibat gempa pada lantai 1 gedung dan memperoleh angka 11 cm. Angka ini lantas diterapkan pada diameter ring.

”Angka simpangan ini kami reduksi saat menetapkan diameter ring menjadi separuhnya saja. Karena jika dibuat penuh seperti simpangan, berarti rumah sudah roboh. Padahal, kami ingin alat ini sebagai peringatan,” kata Ali.

Detektor ini harus dipasang pada pertemuan balok dan kolom rumah. Menurut Tatang, pihaknya ingin segera mematenkan detektor ini, mengingat nilai pentingnya.

”Setelah dipatenkan, kami berharap pemerintah bersedia mengambil alih untuk produksi massal alat ini agar dapat dipasang di rumah-rumah karena manfaatnya yang besar,” kata Tatang bersemangat.

Saat ini ketiganya berkeinginan mengalibrasi alat dan menguji keandalan alat ciptaan mereka di laboratorium. Alat ini dapat disesuaikan dengan kondisi percepatan tanah di suatu wilayah dengan memperkecil atau memperbesar diameter ring.