Monthly Archives: Oktober 2009

Penelitian Tentang Gajah Purba Dilanjutkan


Tim Vertebrata Museum Geologi Bandung melanjutkan penelitian gajah purba di Dukuh Sunggun, Desa Medalem, Kecamatan Randublatung, Kabupaten Blora, Jawa Tengah. Mereka menggali sejumlah fosil gajah yang masih tertinggal di lokasi itu.

Mereka didampingi peneliti dari Universitas Wollongong Australia Dr Gert Van Den Bergh, sementara penelitian dan penggalian itu berlangsung pada 1-7 Desember 2009.

Ketua Tim Vertebrata Museum Geologi Bandung Fachroel Aziz mengatakan, sejumlah fosil yang didapat antara lain fosil leher gajah dan sebagian tulang belakang. Tim belum menemukan fosil tulang siku, tapak kaki, dan jari gajah.

Gert memastikan, fosil itu merupakan fosil gajah purba species Elephas hysudrindicus yang diperkirakan hidup antara 200.000-300.000 tahun lalu. Untuk  memastikan umur fosil gajah itu, tim akan membawa pasir kwarsa untuk diteliti di Unversitas Macqarie, Australia.

“Penelitian akan menggunakan metode Opticle Stimulated Lumination atau OSL,” kata dia.

Iklan

Sumur Mataram Kuno Ditemukan Kembali Masih Berair


Sebuah sumur yang diduga berasal dari zaman kerajaan Mataram Kuno, ditemukan warga di areal persawahan, Dusun Cibuk Kidul, Margoluwih, Seyegan, Sleman, DI Yogyakarta. Sumur itu diduga bagian dari pemukiman masyarakat kuno Mataram pada abad ke 7-8 Masehi.

Sumur itu terkubur sekitar satu meter di dalam tanah. Seorang warga bernama Parman, yang pertama kali menemukannya secara tidak sengaja saat menggali tanah liat untuk usaha batu batanya di lokasi tersebut, sekitar dua minggu lalu.

“Namun, dia tidak memberitahukan kepada siapapun soal penemuan itu, sampai kemarin,” kata Ny Karsinah (58), pemilik lahan yang menyewakan tanahnya kepada Parman, ketika ditemui di lokasi, Jumat (20/11).

Sumur itu berdiameter sekitar 50 cm dengan kedalaman sekitar satu meter. Tak seperti sumur biasanya, pinggiran sumur itu berlapiskan gerabah, bahan yang biasa digunakan untuk membuat kendi. Di sekitar sumur juga ditemukan puluhan batu bata merah yang berukuran tiga kali lebih besar dari bata biasa dan dua arca kepala Nandi.

Kepala Seksi Pelestarian dan Pemanfaatan Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala Yogyakarta Tri Hartono mengatakan dari dugaan sementara, kemungkinan besar sumur itu berasal dari masa klasik abad 7-8 Masehi, atau periode Kerajaan Mataram Kuno. Sumur itu diperkirakan bagian dari perkampungan masyarakat zaman tersebut.

Dugaan ini, lanjut Tri, diperkuat dengan banyaknya temuan arkeologis lain di sekitar Kecamatan Seyegan. “Namun, hal itu masih dugaan, hasil pastinya masih harus menunggu penelitian. Salah satunya yakni mencocokkan sumur itu dengan temuan-temuan arkeologis sebelumnya di sekitar lokasi,” ujar Tri.

Buaya Purba dengan Taring Babi Hutan, Gigi Tikus dan Moncong Lebar


Sejenis buaya sepanjang 6 meter yang memiliki tiga pasang taring seperti taring babi hutan, pernah menjelajahi wilayah Afrika bagian utara jutaan tahun lalu. Pada masa yang sama, di tempat yang tak jauh, jenis buaya lain dengan moncong lebar dan datar hidup dengan berburu ikan. Masih di wilayah tersebut, jenis buaya lain sepanjang satu meter dengan gigi pengerat mencari ulat dan mengunyah tanaman.

Tiga spesies yang baru ditemukan fosilnya itu diperkenalkan oleh peneliti Paul Sereno dari Universitas Chicago dan Hans Larsson dari Universitas McGill di Montreal, Kamis (19/11). Mereka bicara dalam konferensi pers yang diselenggarakan National Geographic Society.

“Spesies-spesies ini membuka jendela mengenai dunia buaya di bagian utara benua itu,” ujar Sereno tentang hewan-hewan yang hidup 100 juta tahun lalu itu.

Menurut para peneliti, buaya-buaya itu bisa bergerak lincah di daratan untuk mengejar mangsa dan menyelam di air. “Mereka memiliki kaki yang mampu digunakan berlari dan ekor yang bisa dipakai mengayuh di air. Kemampuan itulah yang membuat mereka bisa selamat di masa dinosaurus,” papar Sereno.

Ketiga spesies yang ditemukan itu adalah:

Kaprosuchus saharicus, disebut juga “Buaya Celeng” ditemukan di Niger. Pemakan daging sepanjang 6 meter ini memiliki moncong yang berisi tiga pasang taring untuk memotong daging. Taring di rahang atas dan bawah itu mirip taring babi hutan, sesuatu yang belum pernah dilihat sebelumnya pada buaya.

Araripesuchus rattoides, atau dijuluki “Buaya Tikus” ditemukan di Maroko. Hewan sepanjang satu meter ini makan ulat dan tanaman. Ia memiliki gigi seperti tikus di rahang bawahnya untuk menggali tanah.

Laganosuchus thaumastos,  atau “Buaya Pancake” di Niger dan Maroko. Panjangnya sekitar 6 meter dan makanannya ikan. Hewan ini memiliki kepala datar seperti panekuk sepanjang satu meter dan gigi-gigi tegak di rahangnya. Diduga ia menangkap ikan dengan membuka rahangnya dan menanti ikan lewat.

Sebagai tambahan, para peneliti juga menemukan fosil dari dua spesies buaya yang telah dikenal sebelumnya, yakni:

Anatosuchus minor, alias “Buaya Bebek” yang ditemukan di Niger. Buaya sepanjang satu meter yang memiliki moncong lebar dan hidung mirip pinokio ini memangsa ikan, kodok, dan ulat. Ia memiliki sensor khusus di ujung moncongnya untuk mencari mangsa di perairan dangkal.

Araripesuchus wegeneri,  atau “Buaya Anjing” ditemukan di Niger. Hewan sepanjang satu meter ini memakan tumbuhan dan memiliki hidung mengarah ke depan seperti hidung anjing.

Sereno fokus meneliti buaya purba di Gurun Sahara sejak ia menemukan fosil Sarcosuchus imperator, buaya sepanjang 12 meter yang diduga beratnya mencapai 8 ton dan kemudian dikenail sebagai “SuperCroc.”