Monthly Archives: Desember 2014

Ilmuwan Teliti Fosil Sel Mata Ikan Dinosaurus


Fosil sel batang dan sel kerucut yang merupakan bagian dari organ penglihatan, baru pertama kali ditemukan. Temuan tersebut mengungkapkan sel mata setidaknya sudah ada sejak 300 juta tahun lalu. Ia ditemukan dari ikan purba Acanthodes bridge.

Ikan yang memiliki panjang 10 sentimeter ini merupakan nenek moyang dari ikan berahang, termasuk ikan berkerangka tulang, seperti barakuda dan hiu. Peneliti berhasil mencatat salah satu fosil sel batang dan sel kerucut mata dari ikan ini. “Ini temuan yang mengejutkan, karena biasanya jaringan tersebut hancur,” ujar pemimpin penelitian Gengo Tanaka, yang juga seorang ahli paleontologi, seperti dikutip dari Livescience, Senin, 29 Desember 2014.

Penglihatan memang tergantung dari jumlah pigmen yang menyerap cahaya. Pigmen tersebut berbentuk batang dan kerucut. Pigmen kerucut peka terhadap warna dan detail halus, serta membantu memahami perubahan yang cepat. Sedangkan pigmen batang lebih sensitif terhadap cahaya, bertanggung jawab untuk penglihatan periferal dan penglihatan malam hari. Kedua pigmen ini berada di lapisan jaringan bagian belakang mata atau biasa disebut retina.

Myllokunmingia mungkin salah satu makhluk bertulang punggung dan memiliki sistem mata kamera dasar. Makhluk ini hidup pada 520 juta tahun lalu. Hanya, evolusi penglihatan memang belum banyak diketahui lantaran jaringan lunak mata biasanya cepat hancur setelah makhluk hidup mati.

Untuk mempelajari lebih lanjut tentang evolusi penglihatan, tim ilmuwan dari Kumamoto University, Jepang, meneliti spesimen fosil ikan A. bridge yang pernah hidup 300 juta tahun lalu. Fosil ini digali di Kansas, Amerika Serikat, dan selama ini disimpan di National Museum of Nature and Science di Tokyo.

Tim Tanaka menemukan beberapa butiran pigmen, yang jika dilihat dari kandungan kimia, mirip dengan yang ada di ikan modern. Pigmen tersebut, kata Tanaka, dapat menyerap cahaya dan mengandung eumelanin. A. bridge diperkirakan tinggal di perairan dangkal yang terkena langsung dengan matahari. Tempat tinggalnya tersebut, menurut Tanaka, dapat membantu membentuk banyak warna dalam pigmen. “Dengan menganalisis spesimen fosil ini, kita dapat merekonstruksi warna dari hewan yang sudah punah,” kata Tanaka. Temuan ini telah diterbitkan dalam jurnal Nature Communications, 23 Desember 2014 lalu.

Daftar Alat Teknologi Canggih Yang Dipakai Mencari AirAsia Yang Hilang


Pemerintah melibatkan sejumlah pihak untuk membantu pencarian pesawat AirAsia yang hilang. Selain Badan SAR Nasional, ada pula Tentara Nasional Indonesia serta Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi. Tiga negara tetangga yaitu Australia, Malaysia, Singapura, dan Korea Selatan pun menawarkan bantuan teknologi untuk mendeteksi pesawat AirAsia yang mengangkut 155 penumpang dan tujuh awak tersebut. Berikut beberapa teknologi yang dikerahkan untuk mencari AirAsia yang dipiloti Irianto tersebut:

1. Kapal Baruna Jaya (BPPT)
Teknologi pindai yang digunakan adalah multibeam echosounder, sidescan sonar, dan marine magnometer geometric. Kemampuan alat itu dapat memindai objek logam anomali bawah laut dengan kedalaman hingga 3.000 meter. Pernah dilibatkan dalam pencarian pesawat Adam Air pada 2007. Biaya operasional sebesar Rp 150 juta per hari.

2. Hercules C-130 (TNI AU, Malaysia, dan Singapura). Teknologi yang digunakan adalah Radar AN/APS-128B Sea Search. Frekuensi X band radar tersebut dapat memindai target berupa kapal besar. Dengan jarak pindai 185,2 kilometer, titik pencarian dipusatkan di bagian utara, barat, dan timur perairan Tanjung Pandang, Belitung.

3. Boeing 737 Surveilance (TNI AU). Teknologi pindai menggunakan Radar Double Agent AN/APS-505 (V)5 dan sistem navigasi INS LTN-72R, dapat mendeteksi sasaran di permukaan laut dan udara dengan jarak 474.112 kilometer. Titik pencarian di sekitar Perairan Belitung.

4. APC-3 Orion (Australia dan Korea Selatan). Teknologi pindai adalah menggunakan digital multi-mode radar, electronic support measures, electro-optics detectors (infra-red and visual), magnetic anomaly detectors, dan acoustic detectors. Kemampuan pindai, dapat mendeteksi objek logam di bawah air.

Suara Desahan Wanita Saat Bercinta Tingkatkan Kualitas Orgasme Pria


Umumnya saat bercinta, pasangan suami istri mengharapkan mencapai titik klimaks di mana masing-masing pasangan sukses memperoleh kepuasan bercinta. Nah, sekarang pertanyaannya, apa saja sih yang memengaruhi kualitas orgasme?
Menurut terapis seks, Ava Cadell PhD, ada beberapa hal yang memengaruhi keberhasilan Anda dan pasangan dalam mencapai puncak kenikmatan, salah satunya adalah suara. Cadell mengungkapkan, suara adalah layaknya pijatan dari dalam tubuh.

“Suara memengaruhi sel-sel di dalam tubuh Anda yang merespon getaran dan melepaskan energi. Jadi, meskipun Anda dan suami melakukan hubungan seks dengan penuh gairah, Anda mungkin tak menyadari bahwa kekuatan di baliknya adalah suara-suara yang Anda atau suami keluarkan,” ujar Cadell.

Selanjutnya, Cadell menjelaskan, suara, desahan, atau erangan yang Anda keluarkan dapat menjadi informasi bagi suami bahwa Anda merasa sangat puas dan bergairah. Selain itu, suara-suara tersebut juga membantu suami mencapai kenikmatan yang intens dan lebih cepat dari pada bila tidak ada desahan.

Oleh karena itu, Cadell tidak menyarankan untuk “tutup mulut” saat bercinta. Mengapa demikian? Sebab, tidak mengeluarkan desahan atau erangan saat bercinta sangat ampuh dalam mengurangi kenikmatan bercinta dengan suami. Suami akan merasa permainannya tidak menarik sehingga ego dan harga dirinya jatuh.

“Untuk mencoba sesuatu yang baru, saat mulut Anda menempel di tubuh suami, mengeranglah atau berdehamlah sedikit untuk menciptakan getaran. Bercintalah sambil mendesah atau mengerang. Mungkin sensasi ini terdengar aneh, namun sangat luar biasa bagi banyak pria karena dapat meningkatkan ego pria yang pada akhirnya meningkatkan kualitas orgasme mereka,” jelas Cadell.

Teknologgi Heads Up Display HUD Telah Digunakan di Motor


Teknologi Heads Up Display (HUD) kini tak hanya digunakan di mobil saja, tetapi juga akan dipakai di kendaraan bermotor roda dua. Penggunaan teknologi HUD di helm itu diyakini akan meningkatkan konsentrasi pengendara, sehingga berkendara pun lebih aman.

Seperti diwartakan Forbes, Senin (29/12/2014), adalah Bikesystems, sebuah perusahaan asal Inggris yang telah mengembangkan teknologi HUD untuk sepeda motor itu. Pabrikan itu mengklaim teknologi HUD di helm, merupakan yang pertama di dunia. Soalnya, Perusahaan pesaing baru akan merilisnya pada 2015.

Pada dasarnya, sistem HUD yang dipasang di helm itu bisa meningkatkan keselamatan. Sebab, pengendara tidak harus memecah konsentrasi dan penglihatan jika melirik panel instrumen pada motor. Selain itu, teknologi ini juga menggabungkan fitur tambahan seperti kamera belakang, sistem kamera untuk memberikan peringatan kecepatan dan GPS. Sistem yang akan menampilkan informasi di kaca helm ini tidak memerlukan baut, lem maupun metode pemantekan lainnya yang bisa mempengaruhi fungsi helm.

Managing Director Bikesystems Dave Vout mengatakan, hal itulah yang membuat pesaingnya belum mampu menghasilkan fitur yang dapat digunakan. Menurutnya, mereka kurang memperkirakan jumlah pekerjaan dan waktu yang dibutuhkan. “Bikesystems layaknya gunung es. Pada saat kami harus mulai menjual, ada empat tahun penelitian dan uji coba lapangan yang harus dilakukan,” tambahnya.

Untuk menampilkan informasinya, fitur HUD akan menyesuaikan warna tampilannya. Jika cahaya di luar cerah, maka tampilan huruf dan gambar pada informasi memiliki warna yang kontras dengan cahaya. “Ada potensi yang serius untuk gangguan ketika Anda meletakkan sesuatu yang begitu dekat dengan mata Anda. Jadi kami menghabiskan banyak waktu untuk memastikan itu menampilkan apa yang Anda inginkan pada saat yang tepat,” kata Vout.

Misteri Musnahnya Peradaban Cina Kuno Terkuak


Sebuah penelitian mengungkap bahwa sebuah gempa bumi hampir 3.000 tahun yang lalu diduga menjadi penyebab hilangnya salah satu peradaban kuno Cina secara misterius. Gempa besar itu diduga telah menyebabkan bencana tanah longsor, yang membendung sumber air utama budaya Sanxingdui dan mengalihkannya ke lokasi baru.

“Hal itu, pada gilirannya, telah memacu budaya Cina kuno tersebut untuk bergerak lebih dekat ke aliran sungai baru,” ujar salah satu penulis penelitian, Niannian Fan, peneliti ilmu sungai di Universitas Tsinghua di Chengdu, Cina, dalam pertemuan tahunan ke-47 American Geophysical Union di San Francisco, 18 Desember lalu, sebagaimana dikutip Live Science, Rabu, 24 Desember 2014.

Pada tahun 1929, seorang petani di Provinsi Sichuan menemukan batu giok dan batu artefak ketika memperbaiki selokan limbah yang berlokasi sekitar 24 mil (40 kilometer) dari Chengdu. Namun signifikansi temuan itu tidak dipahami sampai tahun 1986, ketika arkeolog menggali dua lubang harta Zaman Perunggu, seperti giok, sekitar 100 gading gajah, dan patung perunggu setinggi 8 kaki (2,4 meter).

“Temuan itu menunjukkan kemampuan teknis mengesankan yang tidak ditemukan di tempat lain di dunia pada saat itu,” kata Peter Keller, seorang ahli geologi dan presiden Bowers Museum di Santa Ana, California, yang saat ini menggelar pameran dari beberapa harta karun tersebut.

Harta, yang telah rusak dan terkubur seolah-olah mereka dikorbankan, itu berasal dari peradaban yang hilang yang sekarang dikenal sebagai Sanxingdui, sebuah kota bertembok di tepi Sungai Minjiang. “Ini adalah misteri besar,” kata Keller, yang tidak terlibat dalam penelitian ini.

Arkeolog sekarang percaya bahwa budaya yang sengaja dibongkar sendiri itu berusia antara 3.000 dan 2.800 tahun yang lalu. “Penjelasan mengapa ia menghilang adalah perang dan banjir, tapi kedua alasan itu tidak terlalu meyakinkan,” kata Fan kepada Live Science.

Sekitar 14 tahun yang lalu, arkeolog menemukan sisa-sisa kota kuno lain yang disebut Jinsha dekat Chengdu. Situs Jinsha, meskipun tidak memiliki perunggu Sanxingdui, tapi memiliki mahkota emas dengan motif ukiran berupa ikan, panah, dan burung yang serupa dengan temuan tongkat emas di Sanxingdui, kata Keller. Hal itu membuat beberapa ahli percaya bahwa orang-orang dari Sanxingdui mungkin telah berpindah ke Jinsha.

Tapi mengapa hal itu tetap menjadi misteri? Fan dan rekan-rekannya bertanya-tanya apakah sebuah gempa bumi mungkin telah menyebabkan tanah longsor yang membendung sungai di pegunungan dan mengalihkannya ke Jinsha. Bencana itu mungkin telah mengurangi pasokan air Sanxingdui, memacu penduduknya untuk berpindah.

Lembah di mana Sanxingdui berada memiliki dataran banjir luas, dengan 7 kilometer dinding bertingkat tinggi yang tidak mungkin dipotong oleh sungai kecil yang sekarang melaluinya, kata Fan.

Beberapa catatan sejarah mendukung hipotesis mereka. Pada 1099 SM, penulis kuno mencatat gempa di ibu kota dinasti Zhou, di Provinsi Shaanxi, kata Fan. Meskipun tempat itu kira-kira 250 mil (400 kilometer) dari situs bersejarah Sanxingdui, kebudayaan terakhir itu tidak menuliskannya pada saat itu. “Sehingga mungkin episentrum gempa benar-benar dekat dengan Sanxingdui-tapi tidak tercatat,” kata Fan. Bukti geologi juga menunjukkan bahwa sebuah gempa bumi terjadi di wilayah itu antara 3.330 dan 2.200 tahun yang lalu, ia menambahkan.

Sekitar waktu yang sama, sedimen geologi menunjukkan banjir besar terjadi, dan dokumen Dinasti Han The Chronicles of the Kings of Shu mencatat banjir kuno mengalir dari gunung di tempat yang menunjukkan aliran yang dialihkan, kata Fan. Sekitar 800 tahun kemudian, warga Jinsha membangun dinding untuk mencegah banjir.

Senjata Pemusnah Massal Kepiding Ditemukan


Dunia berutang budi kepada ahli biologi Simon Fraser University, Regine Gries. Lengannya telah menjadi makanan empuk bagi lebih dari seribu kutu busuk alias kepinding setiap pekan selama lima tahun. Dia dan suaminya, profesor biologi Gerhard Gries, mencari cara untuk menaklukkan epidemi kepinding global tersebut.

Bekerja sama dengan ahli kimia SFU, Robert Britton, dan tim mahasiswa, mereka akhirnya menemukan solusi, yakni satu set penarik kimia atau feromon, yang memikat kepinding ke dalam perangkap, dan menjaga mereka tetap di sana.

Bulan ini, setelah serangkaian uji coba sukses di apartemen penuh kepinding di Metro Vancouver, mereka telah menerbitkan hasil penelitian, Bedbug aggregation pheromone finally identified di jurnal kimia Angewandte Chemie.

Penelitian dilakukan bersama perusahaan asal Victoria, Contech Enterprises Inc, mengembangkan umpan dan perangkap efektif pertama dan terjangkau untuk mendeteksi dan memantau infestasi kepinding. Diharapkan karya mereka tersedia secara komersial tahun depan.

“Tantangan terbesarnya adalah mendeteksi kutu busuk pada tahap awal,” kata Gerhard, yang menjadi Kepala Riset Industrial NSERC di Multimodal Animal Communication Ecology, sebagaimana dikutip Sciencedaily baru-baru ini.

“Perangkap ini akan membantu tuan tanah, penyewa, dan profesional pengendalian hama menentukan apakah sebuah tempat memiliki masalah kepinding, sehingga mereka dapat mengobatinya dengan cepat. Ini juga akan berguna untuk memantau efektivitas pengobatan itu,” tambahnya.

Ini adalah solusi yang telah ditunggu dunia. Selama dua dekade terakhir kepinding umum (Cimex lectularius), yang telah diberantas di negara-negara industri, muncul kembali sebagai momok global. Serangga jahat ini tidak hanya merajalela di perumahan miskin tetapi juga hotel dan apartemen mahal, serta tempat-tempat umum seperti toko, bioskop, perpustakaan, bahkan angkutan umum.

Sebelumnya hama penghisap darah ini tidak dianggap sebagai pembawa penyakit. Namun, para ilmuwan baru-baru ini menemukan mereka dapat mengirimkan patogen yang menyebabkan penyakit Chagas, yang lazim di Amerika Tengah dan Selatan. Sampai sekarang, alat pendeteksi dan monitor hama ini menjadi mahal dan sangat menantang secara teknis untuk digunakan.

Penelitian ini didanai dengan hibah industri Natural Sciences and Engineering Research Council of Canada yang bermitra dengan Contech Enterprises Inc

Akar Wangi Mampu Tembus Tanah Hingga 15 Meter dan Cegah Tanah Longsor


Akar wangi selama ini dikenal sebagai bahan baku kerajinan tangan. Namun, ternyata, akar wangi bisa tertancap hingga 15 meter di bawah permukaan tanah hingga bisa mencegah longsor, termasuk di Banjarnegara.

“3 Ton akar wangi akan kami kirimkan ke Banjarnegara, ini berguna untuk mencegah longsor karena akarnya bisa menghujam ke dalam tanah sampai 15 meter,” kata Wakil Ketua Paguyuban Budidaya Trembesi (Budiasi) Wayan Budi, saat dihubungi, Jumat (26/12/2014) melalu staf penerangan Kopassus, Mayor Achmad Munir.

Wayan menambahkan selain mengirimkan 3 ton akar wangi, pihaknya juga akan mengirimkan 10 ribu bibit pohon untuk penghijauan di lokasi longsor Banjarnegara.

“10 ribu pohon itu 85 persen tanaman keras dan 15 persennya tanaman buah,” kata Wakil Ketua Paguyuban Budiasi, Wayan Budi.

Pihaknya tak akan menyerahkan akar wangi dan bibit pohon begitu saja. Edukasi bagi para remaja di kawasan longsor juga akan diberikan agar para generasi muda bisa merawat pohon dan menjaga lingkungannya supaya bisa lestari.

“Untuk tahap pertama, kami akan kirimkan 2 ribu bibit pohon dulu dan 500 lg akar wangi untuk ditanam. Distribusinya akan dibantu Kopassus,” jelas Wayan.

Paguyuban Budiasi, menurut situsnya, paguyubanbudiasi dot org, adalah yayasan yang bergerak di bidang lingkungan yang didirikan oleh Danjen Kopassus Mayjen TNI Doni Monardo. Paguyuban ini melakukan pembibitan untuk penghijauan melibatkan aktivis lingkungan dan warga sekitar, dan dibagikan gratis pada masyarakat. Nama Paguyuban Budiasi sendiri adalah nama yang diberikan Presiden keenam, SBY.

Sumur Injeksi Lebih Berguna Dalam Tangani Banjir dan Tenggelamnya Jakarta


“Kalau miring, kacanya mestinya pecah, lift-nya nggak jalan. Itu semestinya,” kata Sutanto kepada detikFinance September lalu. Menyambung soal penurunan permukaan air tanah dan persoalan banjir, Mohajit yang juga anggota asosiasi ilmuwan bergensi Humboldt Network Germany ini menjelaskan solusi penanganan banjir selama ini lebih banyak mempercepat mengalirnya air menuju sungai dan laut, yang mengakibatkan air banjir terbuang cuma-cuma.

“Penyediaan waduk penampung juga tepat namun memerlukan lahan dan biaya yang cukup tinggi, dan kendalanya selalu pada saat pembebasan lahan,” jelasnya. Mohajit menawarkan solusi dengan sitem sumur injeksi, yang biayanya jauh lebih murah dibandingkan dengan menyediakan waduk atau membuat sodetan yang membuang air cuma-cuma kelaut.

“Biayanya bisa mencapai sepersepuluh dari biaya membuat sodetan atau menyiapkan waduk baru,” terang pria kelahiran Ambarawa ini. Menurutnya teknologi sumur injeksi ini telah digunakan oleh Pemerintah Jerman untuk mengelolah sumber daya alam menjadi lebih berguna. Pemerintah Jerman mengunakan tekhnologi ini untuk menjaga kestabilan tanah sehingga bangunan yang ada diatasnya stabil dan tidak bergerak. Selain itu sistem ini juga berfungsi untuk mencegah intrusi air laut kedaratan.

Teknologi sistem injeksi tidak memerlukan lahan yang luas seperti halnya membuat waduk atau sodetan. “Cukup pilh area yang selalu banjir, lahan seluas 2 meter persegi sudah bisa menjadi sebuah sumur injeksi.” lanjutnya. Teknologi ini juga tidak memerlukan teknologi mutakhir karena sistem injeksi ini memanfaatkan gaya grativitasi bumi.

“Karena memanfaatkan grativitasi bumi maka biayanya cukup murah, satu sumur injeksi memerlukan dana sekitar Rp 500 juta,” jelasnya. Secara di atas kertas, untuk mengatasi banjir besar dengan limpahan air dititik maksimal 800 meter kubik/detik atau dalam keadaan siaga satu maka diwilayah Jakarta dibutuhkan 2.000 sumur injeksi.

“Pemerintah hanya mengeluarkan anggaran sekitar Rp 1 triliun dan ini jauh lebih murah dibandingkan dengan membuat sodetan atau waduk,” jelasnya.

Peralatan Dari Batu Yang Berusia 1,2 Juta Tahun Ditemukan Di Turki


Para ilmuwan telah menemukan alat batu bertanggal tertua di Turki. Temuan itu mengungkapkan bahwa manusia melewati pintu gerbang dari Asia ke Eropa jauh lebih awal daripada yang diperkirakan sebelumnya, sekitar 1,2 juta tahun lalu.
Menurut penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Quaternary Science Reviews, kesempatan menemukan sebuah serpihan kuarsit di sekitar Sungai Gediz, Turki barat, itu memberikan wawasan baru tentang kapan dan bagaimana manusia purba tersebar dari Afrika dan Asia.

Para peneliti dari Royal Holloway, University of London, bersama-sama dengan tim internasional dari Inggris, Turki, dan Belanda menggunakan peralatan presisi tinggi untuk menentukan tanggal endapan dari sungai kuno itu untuk memberikan kerangka waktu yang akurat kapan manusia menduduki daerah itu.

“Penemuan ini sangat penting untuk menentukan waktu dan rute penyebaran manusia purba ke Eropa. Penelitian kami menunjukkan serpihan tersebut adalah artefak bertanggal paling awal dari Turki yang pernah tercatat dan dijatuhkan oleh hominin awal lebih dari satu juta tahun lalu,” ujar Profesor Danielle Schreve dari Departemen Geografi di Royal Holloway, sebagaimana dikutip Sciencedaily, Selasa, 23 Desember 2014.

Para peneliti menggunakan penanggalan radioisotopic presisi tinggi dan pengukuran paleomagnetic dari aliran lava untuk membuktikan bahwa manusia purba yang ada di daerah itu sekitar 1,24 juta dan 1,17 juta tahun lalu. Sebelumnya, fosil hominin tertua di Turki barat ditemukan pada 2007 di Koçabas, tapi penanggalan alat batu dan temuan lain itu tidak pasti.

“Serpihan ini adalah temuan sangat menarik,” kata Profesor Schreve. “Saya telah mempelajari sedimen, dan mata saya tertarik pada batu merah muda di permukaan. Ketika saya membaliknya untuk melihat lebih jelas, fitur artefak itu tampak jelas,” ujar Schreve.

“Dengan bekerja sama dengan ahli geologi dan penanggalan, kami telah mampu menentukan kronologi temuan ini dan memberi cahaya baru pada perilaku nenek moyang kita yang paling jauh.” Simak berita tekno lainnya di sini

10 Proyek Gagal NASA Yang Dirahasiakan


Roket Antares dari Orbital Sciences meledak beberapa detik setelah lepas landas, Selasa, 28 Oktober 2014. Rencananya kendaraan peluncur tersebut membawa Cygnus, alat yang memuat dua ribu kilo lebih bahan makanan dan perlengkapan eksperimen, menuju Stasiun Antariksa Internasional. Peluncuran Antares ini merupakan proyek Lembaga Antariksa Amerika Serikat atau NASA. Ledakan tersebut membuat NASA dan Orbital Sciences merugi US$ 1,9 miliar atau setara Rp 23,8 triliun. Namun ternyata, sebelumnya NASA juga pernah mengalami kegagalan saat meluncurkan roket ke luar angkasa. Berikut beberapa kegagalan tersebut, menurut situs Popular Science.

1. Satelit NOAA-19
NOAA-19 adalah satelit pemantau cuaca dan kondisi atmosfer Bumi. NOAA-19 juga memantau kondisi gunung dan memotret alur lahar ketika meletus. Satelit ini tiba-tiba hilang di ruang angkasa. Ilmuwan NASA yang berkantor di Lockheed-Martin Facility di California, Amerika Serikat, gagal merekam pantauan terakhir satelit ini.

2. Mars Climate Orbiter (MCO)
Alat ini memiliki tugas sebagai “otak” dari misi eksplorasi Mars. MCO berfungsi menerima sinyal yang dikirimkan satelit untuk mempelajari atmosfer planet merah tersebut. Namun ilmuwan dari subkontraktor Lockheed-Martin membuat perangkat lunak MCO dengan satuan koordinat metrik yang tidak digunakan NASA. Akibatnya satelit yang memantau Mars menghantam atmosfer pada sudut yang salah dan terbakar.

3. Deep Space 2
Satelit ini dikirim ke Mars dengan pesawat tanpa awak bernama Mars Polar Lander. Deep Space 2 bertugas mengumpulkan data tentang air dan komposisi kandungan bahan kimia di Mars. Nahas, sama seperti MPL, keberadaan DS2 tak diketahui hingga kini.

4. Mars Polar Lander (MPL)
MPL merupakan kendaraan tanpa awak yang diluncurkan pada 1998 untuk meneliti Mars. Sebagai kendaraan peluncur, pesawat ini harusnya sudah dirancang untuk mendarat di planet merah tersebut dan mendukung penelitian Deep Space 2. Tapi, MPL tak pernah mendarat. Rusaknya pemancar pesawat ini menyebabkan keberadaannya tak diketahui hingga kini.

5. Space-Based Infrared System (SBIRS)
SBIRS harusnya dapat menjawab kebutuhan Angkatan Udara untuk melacak peluncuran rudal balistik. Sistem ini terdiri dari satelit yang terbang tinggi dan rendah. Meskipun baru akan diaktifkan tahun depan, proyek senilai US$10 miliar (setara Rp 120 trilun) ini dituding oleh banyak pihak tak dapat berfungsi. Sebab, salah satu satelit langsung mati saat mencapai orbit bumi.

6. Genesis
Genesis dirancang untuk menangkap potongan-potongan dari matahari. Dia pun dikirim ke ruang angkasa untuk mengumpulkan angin matahari di lembaran yang dirancang khusus dari emas, berlian, dan safir. Dengan mempelajari potongan matahari, para ilmuwan berharap dapat mempelajari komposisi tata surya.

Bukannya menangkap potongan dan kembali ke bumi, Genesis malah sulit kembali. Satelit ini diduga akan hancur jika melewati atmosfer bumi dengan muatan tersebut. Para ilmuwan NASA pun akhirnya berusaha membawa muatan tersebut dengan pesawat bantuan.

7. Teleskop ruang angkasa Hubble
Teleskop ini menjadi yang pertama dapat melihat bintang-bintang di ruang angkasa tanpa terhalang atmosfer. Hanya, lensa bawaan teleskop ini tak dapat beradaptasi dengan cepat saat memperhatikan bintang yang tak memiliki gravitasi. Akhirnya para ilmuwan menambahkan lensa baru yang cocok. Hubble pun dapat digunakan.

8. NASA Helios
Helios bukan alat untuk memantau ruang angkasa. Pesawat tanpa awak bertenaga surya ini dirancang untuk terbang di wilayah atmosfer. Masalahnya, pada penerbangan pertamanya, Helios menabrak angin kuat dan jatuh ke Samudera Pasifik.

9. Demonstration for Autonomous Rendezvous Technology (DART) Spacecraft
Menyerah dari peluncuran pesawat ulang-alik dan satelit yang memerlukan biaya perawatan mahal dan berisiko, NASA menciptakan DART untuk menghubungkan satu satelit dengan satelit lain. Tujuannya, mengumpulkan seluruh data dalam satu “rumah”. Tapi para ilmuwan salah memperhitungkan jarak orbit pesawat ini. Akhinya, DART menabrak satelit dan jatuh ke laut.

10. The Orbiting Carbon Observatory (OCO) Satellite
NASA menciptakan OCO dengan tujuan melihat karbon dioksida bergerak di atmosfer. Target ke depannya, satelit ini dapat memetakan proses pemanasan global dan perubahan iklim. Sayangnya, OCO tak pernah berhasil masuk ke orbit bumi. Dia jatuh ke laut setelah 17 menit lepas landas. Simak