Monthly Archives: April 2014

Spesies Hiu Bisa Berjalan Di Laut Ternate Terancam Punah


Habitat spesis hiu berjalan atau lebih dikenal hemiscyllum Halmahera, di perairan laut Ternate terancam punah. Wawan Kurniawan, Sekretaris Komunitas Peduli Laut (KPL) Maluku Utara mengatakan, setidaknya di beberapa titik penyelaman sudah tidak terlihat spesis hiu tersebut. Bahkan wilayah yang biasa menjadi tempat hiu berjalan pun kini jumlahnya terlihat mulai berkurang.

“Enam tahun lalu, hampir semua perairan laut Ternate dengan mudah dapat dijumpai hiu ini. Namun sekarang untuk melihat spesis ini kita harus bersabar,”kata Wawan kepada Tempo, Rabu, 30 April 2014. Menurut Wawan, secara umum faktor yang paling banyak mempengaruhi habitat spesis hiu berjalan adalah faktor manusia. Lima tahun terakhir manusia banyak melakukan pembangunan yang tidak ramah lingkungan. Pemerintah Kota Ternate pun cenderung giat membangun dengan cara mereklamasi pantai.

“Ini yang membuat spesis ini terancam punah. Padahal kami semua tahu spesis ini adalah endimik Halmahera yang berpotensi bisa menarik wisatawan.” kata Wawan. “Karena itu seharusnya pembangunan di Ternate harus lebih sensitif ekologi laut.”

Muhammad Akang Idris, Koordinator Nasijaha Diving Club mengatakan, banyak spesis biota laut di perairan Ternate yang berpotensi bisa menarik wisatawan. Namun habitatnya banyak terancam. Karenanya itu, untuk menjaga habitat biota laut di Ternate, pemerintah Kota sudah harus mulai berpikir untuk tidak membangun dengan merusak ekologi laut. “Jika hal ini bisa dilakukan, yakin dan percaya generasi mendatang masih akan dapat merasakan kekayaan laut di Ternate,”ujar Akang.

Penemuan hiu berjalan bermula dari foto yang diambil oleh penyelam asal Inggris, Graham Abbott, di perairan selatan Halmahera pada tahun 2007. Hasil foto Abbot kemudian dikirimkan ke Conservation International (CI) untuk menanyakan apakah foto menunjukkan spesies hiu berjalan sama dengan yang ditemukan di Kaimana dan Cendrawasih, yang baru saja ditemukan saat itu.

Pada tahun 2012, dari hasil penelitian secara mendalam, diketahui hiu berjalan yang berada di perairan laut Maluku Utara merupakan spesis baru dari kelompok Hiu. Secara resmi, hiu berjalan Halmahera diumumkan sebagai spesies baru lewat publikasi di Journal of Ichtyology yang terbit pada Juli 2013.

Gas Xenon Yang Hilang Ternyata Berkumpul Di Perut Bumi


Sebagian besar gas xenon diprediksi telah lama menghilang secara misterius dari atmosfer. Gas ini memiliki karakter khas dan tergolong sebagai gas mulia karena tidak terikat dengan atom lain. Penelitian terbaru menunjukkan ada jawaban untuk memecahkan teka-teki menghilangnya gas xenon. Para peneliti memperkirakan gas itu bereaksi dan terikat secara kimia dengan besi dan nikel di inti bumi.

Selain xenon, gas mulia lainnya adalah helium dan neon. Gas-gas itu tidak reaktif dan sulit bereaksi dengan bahan kimia lain. Peneliti telah lama mempelajari gas xenon untuk meneliti evolusi bumi dan atmosfernya. Masalahnya, kadar xenon di atmosfer ternyata 90 persen lebih rendah dari yang sudah diprediksi sebelumnya berdasarkan kadar gas mulia lainnya, seperti argon dan kripton. “Menghilangnya xenon adalah sebuah isu yang sudah lama dipertanyakan,” kata Yanming Ma, pemimpin riset yang juga ahli fisika dan kimia dari Universitas Jilin di Chanchun, Cina.

Sebelumnya xenon diperkirakan lepas dari atmosfer bumi ke luar angkasa. Sebagian besar ilmuwan berpendapat gas itu tersembunyi di bagian interior bumi. Namun upaya untuk menemukan di mana xenon bisa bereaksi sehingga membentuk senyawa stabil selalu gagal. Dalam riset sebelumnya, peneliti menemukan bahwa lapisan es atau sedimen lainnya di bumi tidak mungkin bisa menangkap xenon. “Penelitian sebelumnya untuk mencari xenon di inti bumi juga selalu gagal,” kata Ma, seperti ditulis Livescience, 22 April 2014.

Inti bumi terbuat dari nikel dan besi dengan ukuran sepertiga dari total massa planet. Eksperimen yang dilakukan pada 1997 menunjukkan xenon tidak mungkin bereaksi dengan besi. “Setelah diperiksa, kami menemukan eksperimen itu dilakukan dengan tekanan hanya 150 gigapascal, sangat jauh dari tekanan inti bumi sebenarnya yang mencapai 360 gigapascal,” kata Ma.

Tekanan inti bumi memang sangat kuat. Ukuran satu gigapascal setara dengan sekitar sembilan kali tekanan di Palung Mariana, tempat terdalam di lautan yang mencapai 10.971 kilometer. Ma dan koleganya mengukur, jika struktur besi dan xenon berbeda, keduanya bisa membentuk senyawa. Perhitungan mereka menunjukkan bahwa pada tekanan dan temperatur ekstrem di inti bumi, xenon bisa terikat dengan besi dan nikel sekaligus.

Molekul paling stabil terdiri dari satu atom xenon dan tiga atom besi (XeFe3) atau satu atom xenon dengan tiga atom nikel (XeNi3). Molekul XeFe3 membentuk struktur persegi. Adapun molekul XeNi3 membentuk struktur dengan ujung atas dan bawah heksagonal. Laporan riset yang dimuat dalam jurnal Nature Chemistry, 20 April 2014, menunjukkan inti bumi mungkin menyimpan seluruh xenon yang selama ini diperkirakan hilang. “Eksperimen dengan tekanan tinggi selanjutnya bisa mengkonfirmasi prediksi kami,” kata Ma.

Namun eksperimen menggunakan tekanan tinggi bisa sangat berbahaya karena membutuhkan suhu tinggi hingga 5.727 derajat Celsius. Jika gagal dikontrol, temperatur setinggi itu bisa merusak berlian yang digunakan untuk menciptakan tekanan tinggi. “Ini menjadi halangan utama eksperimen,” kata Ma. Meski berhasil menghitung keberadaan xenon, para peneliti belum bisa memastikan efek apa yang mungkin terjadi pada evolusi inti bumi.

Mobil Listrik ITS Di Uji Coba Dari Jakarta Ke Surabaya


nstitut Teknologi Sepuluh November Surabaya (ITS) akan menguji coba Mobil Listrik Nasional (Molina) dalam Tour de Java pada 2-6 Mei 2014. Uji coba dimulai dari Jakarta hingga berakhir di Surabaya.

Molina menempuh rute perjalanan Jakarta-Bandung-Tasikmalaya-Purwokerto-Yogyakarta-Madiun-Surabaya dengan jarak sekitar 700 kilometer. “Setiap titik pemberhentian di Bandung dan Yogyakarta, kami pamerkan mobil ini kepada siswa-siswa SMA,” kata Ketua Tim Molina, Nur Yuniarto, saat peluncuran di ITS, Jumat, 25 April 2014.

Dua mobil listrik ini dinamai EZZY ITS ver 1.0 dan EZZY ITS ver 1.1. Keduanya memiliki spesifikasi berbeda, khususnya soal komponen dapur pacu. EZZY ITS ver 1.0 mengadopsi jenis engine supercar DOHC 24v Type 6 Cylinder.

Mesinnya memakai pabrikan YASA 750 Brushless DC Motor dengan daya 50 kilowatt. Adapun EZZY ITS ver 1.1 mengusung mesin jenis permanent magnet brushless DC dengan daya 30 KW. Konsumsi energi dua Molina ini 5,3 kilometer per Kwh. “Sekali cas baterai empat jam,” ujar anggota tim lainnya, Agus Mukhlisin.

Selain Molina, ITS juga mengikutsertakan mobil tenaga surya, Sapuangin, dan mobil Lowo Ireng Supercar. Mobil Sapuangin pernah dilombakan dalam ajang World Sollar Challenge di Australia. Adapun mobil Lowo Ireng Supercar mengusung mesin Mitsubishi Gallant V6 Twin Turbo berkapasitas 2.500 CC.

Khusus Lowo Ireng, kata Nur, pihaknya hanya merekonstruksi aerodinamika dan membuat Electronic Control Unit. “Mesin dikasih dan Lowo Ireng tetap memakai BBM. Kami hanya bertugas mendesain tampilan dan membuat ECU,” kata Nur.

Rektor ITS Triyogi Yuwono mengatakan ide membikin Molina tercetus setelah Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mendorong ITS agar membuat prototipe mobil listrik. Pihaknya belum melangkah untuk mematenkan hak cipta dan memproduksi massal. “Belum ada rencana produksi massal. Mungkin 2019 baru bisa, dengan catatan melibatkan universitas, pemerintah, dan industri,” katanya.

Terumbu Karang Bermutasi Genetik Karena Pemanasan Global


Musim panas adalah waktu yang tepat untuk pergi berenang di laut. Dengan temperatur air sekitar 28 derajat Celsius, orang merasa nyaman berendam di air laut.

Namun, bagi sebagian besar organisme laut, suhu seperti itu sangat mematikan. Penelitian dari Universitas Stanford menunjukkan koral bisa mengaktifkan dan mematikan gen tertentu untuk menyesuaikan diri dan bertahan hidup di lautan yang semakin menghangat.

Perubahan iklim menyebabkan pemanasan air laut dan membuat masa depan koral dan terumbu karang yang menjadi sumber kehidupan terancam. Studi yang dipimpin Profesor Steve Palumbi, Direktur Hopkins Marine Station di Stanford, menemukan beberapa koral laut bisa menyesuaikan fungsi internal untuk menghadapi air yang menghangat 50 kali lebih cepat daripada yang mereka bisa lakukan ketika beradaptasi selama evolusi.

Palumbi mengatakan suhu pada terumbu karang sangat bervariasi. Hal itu menunjukkan bahwa koral laut memiliki kemampuan untuk menghadapi kadar panas yang berbeda.

“Studi kami menunjukkan mereka sanggup melakukukannya dan itu membantu mereka di masa depan ketika laut menghangat,” kata Palumbi seperti ditulis laman resmi Universitas Stanford, Jumat, 25 April 2014.

Terumbu karang merupakan sumber kehidupan dan tempat perlindungan organisme laut saat terjadi badai. Penangkapan ikan berlebihan, polusi, kenaikan suhu dan kadar asam di atmosfer akibat perubahan iklim telah menghancurkan separuh dari struktur terumbu karang di seluruh dunia dalam 20 tahun terakhir. Terumbu karang dikenal sangat sensitif. Kenaikan suhu laut sedikit saja bisa membunuh koral dalam struktur sepanjang nyaris dua kilometer.

Dalam studi itu, peneliti menemukan temperatur air laut di perairan dangkal bisa mencapai 35 derajat Celsius dan cukup untuk membunuh nyaris semua terumbu karang. Peneliti lalu membuat koloni terumbu karang di dua kolam dengan suhu yang berbeda untuk melihat kemampuan adaptasinya.

Di sana mereka mendapatkan terumbu karang dari kolam air dingin bisa mentoleransi suhu yang lebih tinggi di kolam hangat. Meskipun tingkat toleransi suhu panas hanya separuh dari koloni di kolam air hangat, terumbu karang dari kolam air dingin bisa mengembangkan kemampuan yang sebelumnya hanya didapatkan dari evolusi selama beberapa generasi.

Seperti manusia, koral juga memiliki gen adaptif yang bisa diaktifkan ketika kondisi eksternal berubah. Temuan ini menunjukkan beberapa koral laut bisa menghadapi efek pemanasan air laut melalui sistem adaptasi ganda berdasarkan genetik dan penyesuaian fisik terhadap kondisi lokal.

Namun, Palumbi mengingatkan bahwa karakter koral yang bisa beradaptasi pada perubahan suhu bukan jawaban utama dalam menghadapi isu perubahan iklim. Koral bakal tidak sanggup menghadapi kenaikan suhu yang terus terjadi. Koral juga berada dalam ancaman polusi dan naiknya kadar asam.

Krustea Spesies Baru Ditemukan Di Dasar Laut Antartika


Para peneliti Inggris yang menggunakan wahana khusus untuk mengeksplorasi dasar laut secara tidak sengaja menemukan spesies baru yang tampak seperti krustasea. Wahana itu merekam ribuan binatang mirip kutu pohon mengerubungi tulang-belulang paus minke di dasar perairan selatan di sekitar Antartika.

Binatang-binatang itu tampaknya hidup dengan mengandalkan tulang-belulang paus sebagai sarang. “Mereka betul-betul menyelimuti tulang-belulang paus itu, ada sekitar 500-6.000 spesimen dalam satu meter persegi,” kata Katrin Linse, peneliti dan pemimpin riset dari British Antarctic Survey, seperti ditulis Livescience, 23 April 2014.

Menggunakan lengan robot yang dimiliki wahana bahwa laut, para peneliti mengangkat sebagian tulang paus itu ke atas kapal RSS James Cooksaw. Tes genetik menunjukkan binatang dengan panjang tubuh sekitar 3,7 milimeter itu merupakan spesies baru. Spesies itu berkerabat dekat dengan krustasea yang hidup di perairan dangkal Laut Utara di sebelah timur Laut Eropa. Krustasea baru Antartika itu dinamakan Jaera tyleri.

Awalnya para peneliti hanya mencari sumber hidrotermal yang melontarkan air panas kaya mineral dari dasar lautan sebelum mereka menemukan ribuan J. tyleri merayap di atas kerangka paus. Sangat jarang bisa menemukan sisa-sisa tubuh paus yang dikenal sebagai puing paus di dasar laut. “Sulit sekali menemukan puing paus di sana. Itu seperti mencari jarum dalam tumpukan jerami,” kata Linse. Peneliti menelusuri dasar laut untuk mencari habitat J. tyleri yang lain. Namun, spesies itu ternyata hanya ditemukan hidup di tulang paus.

Linse mengatakan penemuan puing paus itu merupakan kesempatan besar bagi peneliti untuk memeriksa kondisi ekologi dari habitat unik itu, termasuk spesies apa saja yang berdiam di sana. Ini bukan temuan puing paus minke pertama di Antartika. Mei tahun lalu peneliti mengidentifikasi puing paus minke di dasar laut Antartika. Puing paus itu dipenuhi beragam spesies mulai dari siput laut, isopoda, hingga cacing.

Astrofotografi Solusi Menentukan Puasa Secara Bersamaan Karena Dapat Dibuktikan Lewat Foto dan Video


Perbedaan penentuan awal dan akhir Ramadhan mengusik penulis Agus Mustofa. Setelah menulis buku berjudul ‘Jangan asal Ikut-ikutan Hisab & Rukyat’, kini dia akan menggelar Workshop Astrofotografi.

Teknik astrofotografi itulah yang ingin diperkenalkan Agus kepada khalayak umum. Ia menggandeng pakar Astrofotografi asal Prancis, Thierry Legault. Insinyur yang menjadi konsultan pesawat Boeing, Airbus dan Aerospace itu berhasil memotret bulan sabit sangat tipis menjelang Ramadhan pada 8 Juli 2013.

Menurut Agus, teknik Astrofotografi ala Thierry bisa menjadi solusi kontroversi hisab dan rukyat. “Teknik ini bisa diadaptasi menjadi jalan tengah antara hisab dan rukyat yang seringkali berbeda,” kata Agus, Kamis 24 April 2014.

Agus mengatakan metode penyatuan hisab rukyat yang digunakan adalah Rukyat Qobla Ghurub yaitu teknik merukyat hilal sebelum maghrib. Dengan cara itu, pembuktian hadirnya bulan sabit awal Ramadhan ataupun Syawal tidak perlu menunggu saat matahari tenggelam atau maghrib. Tetapi bisa dilakukan di siang atau pagi hari. Tahun ini misalnya, pergantian bulan hijriyah dari Syakban ke Ramadhan akan terjadi pada 27 Juni 2014 pukul 15.09 WIB.

Dengan metode Rukyat Qobla Ghurub itu, tim Astrofotografi sudah bisa memotret dan merekam secara video posisi bulan sebelum ijtimak dan sesudahnya di waktu Ashar. Saat-saat peralihan dari bulan Syakban ke bulan Ramadan, akan dipotret dan direkam secara video selama 2-3 jam. Sementara itu, petugas rukyat pemerintah masih akan menunggu saat-saat maghrib, dimana hampir bisa dipastikan bulan sabit atau hilal tidak akan terlihat di tahun ini, disebabkan ukurannya yang masih sangat tipis. Yakni, hanya sekitar 0,5 derajat saja.

Dengan kondisi itu, para penganut hisab akan memutuskan Ramadan sudah datang, dan akan memulai puasa pada 28 Juni 2014. Sedangkan para penganut rukyat, karena tidak bisa melihat hilal, baru akan memulai puasa pada 29 Juni 2014. Tetapi, jika pemerintah bersepakat dengan hasil pemotretan dan rekaman video astrofotografi ini, bisa dipastikan awal puasa tahun ini akan terjadi bersamaan. “Karena, insya Allah bulan sabit sudah akan terlihat dan bisa dibuktikan secara visual dengan foto maupun video pada sore hari, sekitar pukul 15.09 wib di tanggal 27 Juni 2014,” ujar mantan wartawan media cetak ini.

Ilmuwan Pecahkan Misteri Kelainan Otak Karena Perkawinan Antar Saudara


Kasus kelainan otak yang tergolong langka di Turki sudah lama memusingkan dunia kedokteran. Penyakit yang diidap beberapa anggota keluarga di bagian timur Turki diperkirakan sudah ada dalam 400 tahun terakhir.

Menggunakan teknologi pemetaan gen, para peneliti akhirnya berhasil mengungkap satu mutasi genetik yang menyebabkan kelainan otak itu terjadi.

Tim peneliti dari Baylor College of Medicine dan Austrian Academy of Sciences serta tim gabungan dari Universitas California, Universitas Yale, dan Academic Medical Center dari Belanda menjalankan riset dan pemetaan gen tersebut.

Mereka melakukan studi terhadap keluarga yang memiliki anak dengan kelainan neurologi langka. Kelainan neurologi itu diperkirakan berasal dari mutasi genetik yang dikenal sebagai penyakit Mendelian. Kondisi ini muncul akibat adanya perkawinan antarkerabat yang lazim dilakukan warga di bagian timur Turki.

Laporan yang dimuat dalam jurnal Cell menyebutkan kedua tim peneliti berhasil mengidentifikasi kelainan saraf yang muncul dari varian tunggal genetik bernama CLP1. Mereka yang lahir dengan kelainan ini mewarisi dua salinan gen cacat yang mempengaruhi kesehatan sel saraf. Anak-anak dengan kelainan itu memiliki otak berukuran lebih kecil dengan bentuk tak sempurna, otot lemah, tidak bisa bicara, dan rentan terserang kejang.

Kelainan otak ini pertama kali dikenali Dr Ender Karaca pada 2006. Dia terus mempelajarinya selama menjalani masa pelatihan sebagai ahli genetika di Turki pada 2007. Karaca dan koleganya melakukan beberapa tes genetik dasar terhadap para keluarga itu, tapi tak berhasil memecahkan masalah.

“Kami mengikuti mereka selama bertahun-tahun,” kata Karaca, peneliti dari departemen molekuler dan genetika manusia di Baylor, seperti dikutip Reuters, Jumat, 25 April 2014.

Penelitiannya makin intens saat Dr James Lupski dari Center for Mendelian Genomics di Baylor merekrutnya setelah konferensi tentang genetika di Istanbul pada 2010. Tes genetika lanjutan mengidentifikasi lima keluarga yang memiliki mutasi CLP1 dengan karakter yang sama.

Uji coba di laboratorium menunjukkan tikus-tikus yang memiliki mutasi gen CLP1 juga mengembangkan ciri serupa dengan manusia yang menderita kelainan otak tersebut.

Adapun Murat Gunel, profesor genetika dan neurobiologi di Yale, dan koleganya meneliti mekanisme dasar dari perkembangan otak manusia. Dengan memeriksa lebih dari 2.000 sampel DNA anak-anak penderita kelainan otak ini, mereka menemukan ada hubungan kelainan pertumbuhan otak dengan mutasi gen CLP1.

Penelitian menunjukkan kasus kelainan otak yang teridentifikasi pada empat keluarga yang tidak berelasi ternyata dihubungkan dengan satu mutasi spontan gen CLP1. Menurut perhitungan, mutasi gen ini sudah terjadi selama 16 generasi atau sekitar 400 tahun.

Menurut Gunel, tingginya angka perkawinan antarkerabat di Turki dan Timur Tengah memicu munculnya kelainan otak langka ini. “Tanpa pernikahan semacam itu, anak-anak mungkin tak akan mewarisi dua mutasi pada gen yang sama,” katanya.