Category Archives: Lingkungan Hidup

Ribuan Danau Biru Muda Pembawa Bencana Muncul Di Antartika


Ribuan danau bermunculan di bagian timur Antartika. Danau itu terlihat cantik dengan warna biru cerahnya. Namun, kecantikan itu sebenarnya pertanda buruk.

Ribuan danau yang disebut supraglasial itu menjadi petunjuk bahwa bagian timur Antartika pun terdampak perubahan iklim.

“Timur Antartika adalah bagian benua yang diasumsikan relatif stabil. Tak ada perubahan yang besar. Wilayah itu sangat dingin. Namun, akhir-akhir ini, danau supraglasial di permukaan es teridentifikasi,” ungkap Stewart Jamieson dari Durham University.

Jamieson dan rekannya melakukan penelitian dengan data satelit dari Badan Penerbangan dan Antariksa Amerika Serikat (NASA). Peneliti mengungkap bahwa dalam kurun waktu tahun 2000-2013, ada 8.000 danau supraglasial yang terbentuk.

Terbentuknya danau-danau itu tak lepas dari kenaikan suhu akibat perubahan iklim. Selama 37 hari dalam kurun waktu 2012-2013, suhu di wilayah Antartika positif atau di atas titik beku air. Suhu rata-rata pada bulan Januari mencapai 0,8 derajat celsius.

Dibandingkan dengan kurun waktu 2007-2008 ketika suhu di atas titik beku air hanya terjadi 5 hari serta suhu rata-rata pada bulan Januari -1,8 derajat celsius, jumlah danau yang terbentuk selama 2012-2013 lebih banyak 36 buah.

“Kami menemukan bahwa terbentuknya danau ini, secara tidak mengejutkan, berkaitan dengan suhu udara di wilayah itu. Jadi, jumlah maksimum danau, total luas danau, serta kedalaman danau akan mencapai jumlah terbesar apabila suhu memuncak,” ujar Jamieson.

Danau itu memang tidak permanen. Namun, airnya bisa mengalir ke wilayah lain atau bergerak ke lapisan es bagian bawah sehingga mengganggu kestabilan es lain. Bila terus berlanjut, hal itu bisa memicu pelelehan es berjumlah besar dan berkontribusi pada kenaikan muka air laut secara global.

“Ukuran danaunya mungkin tak begitu besar untuk menimbulkan dampak saat ini. Namun, bila suhu terus menghangat pada masa depan, kita akan menyaksikan danau-danau ini bertambah ukuran dan jumlahnya,” terangnya seperti dikutip Science Alert, Senin (22/8/2016).

Juli tahun 2016 dinyatakan sebagai bulan dengan suhu terpanas sejak pencatatan dimulai. Suhu pada bulan tersebut 0,84 derajat celsius lebih tinggi dari suhu rata-rata antara tahun 1950 dan 1980. Rekor suhu Bumi telah terpecahkan selama 10 bulan berturut-turut.

Iklan

Daftar Kesepakatan Konvensi Perubahan Iklim Paris 2015


Konvensi Perubahan Iklim 2015 di Paris telah berakhir dengan lahirnya kesepakatan baru yang disebut Kesepakatan Paris untuk penanganan perubahan iklim global. Walau konvensi yang harusnya berakhir tanggal 11 Desember 2015 itu harus diperpanjang satu hari karena sulitnya menemukan kesepakatan. “Bagi politisi, ini adalah kesepakatan yang adil dan ambisius, namun hal ini justru sebaliknya. Kesepakatan ini pasti akan gagal dan masyarakat sedang ditipu. Masyarakat terdampak dan rentan terhadap perubahan iklim mestinya mendapat hal yang lebih baik dari kesepakatan ini. Mereka yang paling merasakan dampak terburuk dari kegagalan politisi dalam mengambil tindakan,” kata Dipti Bathnagar, Koordinator Keadilan Iklim dan Energi Friends of the Erath International dalam keterangan persnya.

Menurut Bathnagar, negara-negara maju telah menggeser harapan sangat jauh dan memberikan rakyat kesepakatan palsu di Paris. Melalui janji-janji dan taktik intimidasi, negara-negara maju telah mendorong sebuah kesepakatan yang sangat buruk. Negara maju, khususnya Amerika Serikat dan Uni Eropa mestinya membagi tanggung jawab yang adil untuk menurunkan emisi, memberikan pendanaan dan dukungan alih tekhnologi bagi negara-negara berkembang untuk membantu mitigasi dan adaptasi perubahan iklim.

Namun di Paris, negara-negara kaya berupaya membongkar konvensi perubahan iklim untuk memastikan kepentingan mereka sendiri. Kurniawan Sabar, Manajer Kampanye WALHI (Friends of the Earth Indonesia) menegaskan, bagi Indonesia, kesepakatan di Paris akan memberikan dampak sangat signifikan bagi masyarakat dan keberlanjutan lingkungan. “Kesepakatan iklim di Paris, tidak memberikan jaminan perubahan sistem pengelolaan sumber daya alam di Indonesia, dan dengan demikian, lingkungan dan masyarakat Indonesia yang rentan dan terdampak perubahan iklim akan berada dalam kondisi yang semakin mengkhawatirkan,” jelasnya.

Sikap pemerintah Indonesia yang sangat pragmatis dan tidak memainkan peran strategis dalam negosiasi di Paris, sesungguhnya telah meletakkan Indonesia sebagai negara yang hanya mengikut pada kesepakatan dan kepentingan negara maju. Pemerintah Indonesia lebih mementingkan dukungan program yang merupakan bagian dari mekanisme pasar yang telah dibangun oleh negara-negara maju dalam negosiasi di Paris. “Kita tidak bisa berharap perbaikan sistem pengelolaan sumber daya alam di Indonesia yang lebih maju, jika pengelolaan hutan, pesisir dan laut, dan energi Indonesia masih menjadi bagian dari skema pasar, khususnya hanya untuk memenuhi hasrat negara maju untuk mitigasi perubahan iklim,” kata Kurniawan.

Ia melanjutkan, “Dukungan yang dimaksudkan pemerintah Indonesia dari Kesepakatan Paris tidak akan berarti dan tidak akan berhasil tanpa perbaikan tata kelola hutan dan gambut, pesisir dan laut, menghentikan penggunaan energi dari sumber kotor batubara, serta menghentikan kejahatan korporasi dalam pengelolaan sumber daya alam di Indonesia.”

Sebagai catatan kritis, beberapa masalah penting yang menjadi analisis group Friends of the Earth terkait Kkesepakatan Paris, yakni, pertama, Kesepakatan Paris menegaskan bahwa 2 derajat Celcius atau 2C merupakan tingkat maksimum kenaikan temperatur global, dan bahwa setiap negara harus meningkatkan upaya untuk membatasi peningkatan temperatur hingga batas 1,5 dearajat Celcius.

Hal ini tidak akan berarti tanpa mensyaratkan negara-negara maju untuk memangkas emisi mereka secara drastis dan memberikan dukungan finansial sesuai tanggung jawab yang adil, serta memberikan beban tambahan kepada negara-negara berkembang. Kedua, tanpa kompensasi untuk memperbaiki kerusakan lingkungan, negara-negara yang rentan akan menaggung berbagai masalah dan beban dari krisis yang sebenarnya bukan diciptakan oleh mereka. Ketiga, tanpa finansial yang memadai, negara-negara miskin akan dijadikan sebagai pihak yang harus menaggung beban dari krisis yang tidak berasal dari mereka. Pendanaan tersedia, namun kemauan politik tidak ada.

Keempat, satu-satunya kewajiban yang mengikat secara hukum bagi negara maju adalah mereka harus melaporkan seluruh pendanaan yang mereka sediakan. Kelima, pintu sangat terbuka bagi pasar untuk mengeksploitasi krisis iklim tanpa pembatasan secara spesifik dalam teks. Hal ini menjadi kartu bebas bagi poluter terbesar dalam sejarah. Dalam kasus REDD+ misalnya, yang terjadi negara-negara maju akan mendukung proyek perkebunan yang merusak di negara-negara berkembang dan bukannya berupaya mengurangi emisi dari bahan bakar fosil di negeri mereka sendiri.

Pada hari akhir negosiasi iklim di Paris, lebih dari 2.000 orang aktivis federasi Friends of the Earth International bersama ribuan masyarakat Paris melakukan aksi untuk menyampaikan pesan global bagi keadilan klim dan perdamaian (Climate Justice Peace) yang tersebar di tengah kota Paris. Aksi ini sebagai bagian dari gerakan masyarakat sipil yang dimobilisasi Friends of the Earth International untuk menilai dan menyampaikan tuntutan masyarakat sipil untuk keadilan iklim selama proses Konferensi Perubahan Iklim PBB di Paris.

Sebanyak 195 negara peserta KTT Perubahan Iklim PBB atau COP di Paris, Perancis akhirnya mengeluarkan Kesepakatan Paris (Paris Agreement) sebagai pengganti Protokol Kyoto untuk memerangi dampak perubahan iklim. Kesepakatan Paris merupakan kesepakatan internasional mengikat sebagai komitmen bersama dunia untuk melakukan pengurangan emisi gas rumah kaca yang diberlakukan pasca 2020. Presiden Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) PBB tentang Perubahan Iklim (Conference of Parties/COP) ke-21, Laurent Fabius mengumumkan Paris Agreement pada Sabtu (12/12/2015) malam waktu Paris.

Kesepakatan Paris menyebutkan negara-negara dunia berkomitmen menjaga ambang batas kenaikan suhu bumi di bawah 2 derajat celcius (2C) dan berupaya menekan hingga 1,5 C.”Saya melihat semuanya positif, tidak ada yang keberatan. Karena itu Kesepakatan Paris diterima,” kata Fabius. Ia juga menyebutkan Kesepakatan Paris membuat seluruh delegasi bisa pulang dengan bangga karena mampu menghasilkan yang terbaik untuk generasi mendatang. “Usaha yang dilakukan bersama-sama akan lebih kuat daripada bertindak sendiri, karena tanggung jawab kita sangat besar,” kata Menteri Luar Negeri Perancis itu.

Presiden Perancis, Francois Hollande menyampaikan apresiasi kepada seluruh delegasi negara-negara peserta KTT Ikim yang sudah berunding selama 12 hari. “Kita sudah melakukannya, meraih kesepakatan yang ambisius, kesepakatan yang mengikat, kesepakatan global. Anda bisa bangga kepada anak cucu kita,” katanya. Setidaknya terdapat lima poin penting dalam kesepakatan ini. Pertama, upaya mitigasi dengan cara mengurangi emisi dengan cepat untuk mencapai ambang batas kenaikan suhu bumi yang disepakati yakni di bawah 2 C dan diupayakan ditekan hingga 1,5 C.

Kedua, sistem penghitungan karbon dan pengurangan emisi secara transparan. Ketiga, upaya adaptasi dengan memperkuat kemampuan negara-negara untuk mengatasi dampak perubahan iklim. Keempat, memperkuat upaya pemulihan akibat perubahan iklim, dari kerusakan. Kelima bantuan, termasuk pendanaan bagi negara-negara untuk membangun ekonomi hijau dan berkelanjutan. Dalam kesepakatan ini, usulan Indonesia terakomodasi di dalamnya seperti diferensiasi atau perbedaan kewajiban antara negara maju dan berkembang, pogram REDD, implementasi aksi dari kesepakatan Paris, finansial, dan transformasi teknologi dan peningkatan sumberdaya manusia. COP 21 Paris, Perancis digelar 30 November 2015 dan berakhir pada 13 Desember 2015 di Le Bourget.

Daftar Tanaman Untuk Mengikat dan Meningkatkan Sumber Daya Air Tanah


Jenis pohon apa yang Anda tanam di rumah? Apakah sekadar untuk menghijaukan dan menghias pekarangan, atau difungsikan sebagai penyerapan air? Pilihan pohon untuk ditanam di rumah sebaiknya juga disesuaikan dengan kondisi wilayah setempat. Faktor seperti tingkat curah hujan juga memengaruhi dalam memilih pohon yang tepat ditanam di halaman rumah.

Philip Mahalu dari lembaga penelitian internasional bidang kehutanan, Cifor, mengatakan prinsipnya menanam satu pohon saja di halaman rumah akan memberikan manfaat bagi rumah tangga. Terutama pada rumah tangga yang kerapkali mengalami masalah air, seperti kekurangan pasokan air karena minimnya daerah resapan yang berdampak pada keringnya sumber air.

“Sebaiknya sisakan lahan di rumah untuk menanam pohon karena dengan cara ini penyerapan air lebih maksimal, namun perhatikan juga jenis pohonnya,” paparnya dalam sesi sharing bersama orangtua dan pendamping delegasi Konferensi Anak Indonesia 2010, di Gedung Kompas Gramedia, Jalan Panjang Kebon Jeruk, beberapa waktu lalu. Jika kekeringan menjadi sumber masalah di rumah, pilih pohon yang tingkat penyerapannya tinggi. Philip menyarankan sejumlah pohon yang bisa menjawab masalah ini:

  • Bambu
    Philip menjelaskan tanaman bambu menyerap 90 persen air hujan, 10 persennya menguap. Bayangkan jika pekarangan rumah Anda ditanamkan bambu, jumlah air yang menyerap ke tanah dan terserap ke sumber air akan berkelimpahan. Setelah dua tahun menanam bambu, kata Philip, debit air di sumur akan meningkat.
  •  Pohon jati
    Bagi Anda yang memiliki halaman luas, pohon jati bisa menjadi sumber air yang berlimpah. Hal ini terbukti di Gunungkidul, Yogyakarta. Masalah kekeringan tak lagi dialami masyarakat yang tinggal di kawasan hutan sejak gerakan menanam pohon jati digalakkan beberapa tahun lalu.Hebatnya, kata Philip, jika batang pohon jati dipotong, maka akan tumbuh tunas baru. Meski saat musim kering, pohon jati sedikit menipu, ia meranggas namun tetap menyerap air. Selain menyerap air, manfaat lain dari pohon jati di antaranya daun yang bisa digunakan untuk membungkus makanan.
  • Rumput
    Rumput akar wangi misalnya, bisa tumbuh di segala jenis tanah, kata Philip. Hebatnya rumput setinggi 1-1,5 meter ini memiliki akar tiga meter yang memiliki daya serap tinggi. Rasanya tak sulit menyisakan lahan di rumah untuk menanam rumput untuk mengingkatkan debit air di rumah.

Philip menyebutkan sejumlah tanaman lain yang berfungsi pengikat air atau pencegah erosi di antaranya,

  • Beringin,
  • Bisbul (sejenis kesemek),
  • Rambutan,
  • Nangka,
  • Manggis, dan
  • Matoa (tanaman asal Papua semacam pohon rambutan).

Namun sejumlah pohon memang lebih tepat ditanam dalam lahan umum yang lebih besar, seperti beringin. Rasanya tak mungkin menanam beringin di area rumah yang terbatas lahannya, bukan?

Nah, tanaman pohon yang tepat ditanam di kawasan bercurah hujan tinggi, di antaranya pinus, cemara, kelapa sawit, ekaliptus (kayu putih), dan lamtoro.

“Tanaman ini memiliki tingkat penguapan yang tinggi seperti ini cocok ditanam pada kawasan bercurah hujan tinggi,” jelas Philip.

Jadi, jika masih mengalami kekeringan di rumah Anda, segera sediakan lahan, tanam pohon dengan penyerapan tinggi.

Karena Ulah Mbah Sadiman Gemar Tanam Beringin Kini Wonogiri Tidak Pernah Kekeringan Lagi


Saya tak pernah berpikir untuk bisa memetik hasil kerja saya ini. Bahkan ketika nanti saya sudah tiada, saya juga tak ingin diperlakukan berlebihan. Saya hanya ingin berbuat kebaikan bagi sesama selama saya masih bisa. Saya pasti senang kalau didukung, tapi sebenarnya asal tidak diganggu saja sebenarnya saya sudah cukup senang meskipun itu masih juga sering terjadi.” Kalimat itu meluncur begitu saja dari Sadiman, lelaki tua asal Dusun Dali, Desa Geneng, Bulukerto, Wonogiri, Jateng.

Wajahnya sudah terlihat sepuh, giginya sudah banyak yang tanggal, namun semangat menyala-nyala masih tercermin dari kilatan padangan matanya. Jangan tanya lagi soal kemampuan fisiknya, kaki lelaki 65 tahun itu layaknya tak menapak tanah ketika harus naik turun gunung meskipun sembari memikul beban. Napasnya tetap teratur, tak tersengal-sengal.

Mbah Sadiman, demikian dia biasa disapa, memang hanya warga biasa di kampungnya. Bahkan rumah 9 x 6 meter berlantai tanah yang dia huni bersama istrinya seperti terselip di antara rumah-rumah warga lain yang cukup besar dan kokoh. Dia dan istri menghidupi diri sebagai petani penggarap lahan tumpangsari di areal Perhutani. Yang paling menopang hidupnya adalah menjual rumput di areal hutan untuk dijual di pasar.

Yang istimewa dari Mbah Sadiman adalah dedikasinya kepada lingkungan. Sendirian lelaki tua ini melakukan penanaman pohon-pohon pengikat air di areal lahan hutan, lahan milik negara yang hasilnya pasti tak akan dinikmatinya. Bukan setahun dua tahun dia melakukan itu, namun sudah 19 tahun terakhir. Bukan pula hanya menanam, namun juga marawat dan membesarkannya. Termasuk menyulami atau menanaminya lagi jika tanaman sebelumnya mati. Sendirian.

Luasan areal yang dia tanami tak kurang dari 100 hektar lahan hutan di Bukit Gendol dan Bukit Ampyangan, yang merupakan lereng Gunung Lawu sisi tenggara. Jaraknya sekitar 100 km dari Kota Solo. Lokasi tersebut merupakan kawasan perbatasan Jawa Tengah dengan Jawa Timur. Sadiman memaparkan ketika masih kanak-kanak dia merasakan sendiri sumber air yang cukup melimpah bersumber dari kedua bukit tersebut. Namun sumber air itu semakin berkurang ketika kayu-kayu hutan di kedua bukit dijarah warga untuk dijadikan bahan bangunan maupun dijual.

Puncak dari kerusakan hutan di kedua bukit itu, kata dia, terjadi pada tahun 1964 ketika terjadi kebakaran besar. Seluruh tanaman di hutan itu hangus terbakar. Kondisi hutan gundul itu dibiarkan selama bertahun-tahun sehingga sumber air semakin kritis. Banyak lahan pertanian yang dibiarkan karena kesulitan air, bahkan warga dan ternak mengalami kekurangan air bersih.

Pemerintah kemudian memutuskan untuk menghijaukan kembali Bukit Gendol dan Ampyangan dengan membuat hutan produktif. Kedua bukit itu dijadikan hutan pinus di bawah pengawasan Perhutani. Selama bertahun-tahun Sadiman bekerja sebagai penyadap getah pinus.

“Setiap hari saya naik gunung ini, saya amati dan saya pikirkan kondisinya. Ternyata pohon pinus tidak banyak membantu mengikat air alam. Jika penghujan sering banjir, jika kemarau tetap saja kami kekurangan air. Setelah itu sejak tahun 1996 saya putuskan untuk menanam pohon beringin di lokasi-lokasi yang tidak ada tanamannya. Saya minta izin penjaga hutan, ternyata diperbolehkan,” ujarnya. Ikuti terus kisah Mbah Sadiman pahlawan penghijauan. Karena dedikasinya menanam pohon beringin, wilayah itu kini tak pernah kekeringan.

Udang Warna Merah Ditemukan Di Danau Buton Sulawesi Tenggara


180153_udang1

Di Buton, ada sebuah danau yang menjadi rumah bagi udang merah yang dikeramatkan warga setempat. Traveler yang penasaran boleh saja berkunjung ke sana, tapi tidak boleh membawa pulang atau memakan udang merah tersebut. Salah satu tempat yang wajib dikunjungi saat ke Buton, Sulawesi Tenggara adalah Danau Udang Merah yang berukuran sekitar 70×25 m di dekat Pantai Koguna di Desa Mopano, Kecamatan Lasalimo Selatan. Danau itu menjadi habitat bagi udang merah yang dianggap sakral oleh warga setempat.

180212_udang2

“Udang merah ini ditemukan sejak tahun 1971. Ini danau bersemayamnya udah merah. Kenapa udang ini merah? Dari orang-orang tua kita tanyakan itu memang sejak mereka temukan sudah merah. Tempat ini memang dianggap sakral,” ujar Juriadin, Camat Lasalimo Selatan ketika ditemui di Danau Udang Merah, Buton, Selasa (25/8/2015) kemarin.

Ukuran udang yang tinggal di danau ini tidak terlalu besar dan warnanya benar-benar merah seperti cabai. Udang yang sama persis pun cukup sulit ditemukan di tempat lain. Spesies udang ini juga berkembang biak secara alami di danau, tanpa campur tangan manusia.

Juriadin mengatakan bahwa tidak ada yang tahu pasti dari mana udang merah itu berasal, serta kenapa tidak ada spesies hewan lain yang hidup bersama udang tersebut di danau. Baik warga setempat ataupun turis yang datang juga tidak disarankan untuk berenang bersama di danau, apalagi menyantap udang merah. “Ini juga tidak bisa kita makan. Pernah dicoba ada yang makan, bentol-bentol, sudah hampir sekarat. Sejak saat itu ketika kita komunikasikan dengan para orang tua itu tidak bisa (dimakan-red). Pamali kata orang sini,” jelas Juriadin.

180242_udang3

Udang merah pun tidak boleh seenaknya di bawa pergi dari danau. Selain karena udang tersebut tidak bisa hidup terlalu lama di luar habitatnya, ditakutkan akan ada bahaya yang menimpa jika sembarangan mengambil udang. Jadi harus izin dulu dengan para tetua desa kalau ingin membawa hewan merah itu

Kawasan Bunga Abadi Edelweis Di Gunung Ciremai Habis Terbakar


Lebih dari 50 persen kawasan “bunga abadi” alias edelweiss di puncak Gunung Ciremai, Kuningan, Jawa Barat, kini sudah ludes terbakar. Api terus merambat hingga hampir melingkari puncak Gunung Ciremai. Hal itu dikatakan Avo Juhartono, Jumat (22/8/2015) malam, di posko utama Lambosir, Kecamatan Linggarjati, Kabupaten Kuningan.

Avo adalah satu dari sejumlah petugas Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Kuningan, yang baru saja turun gunung setelah bermalam tiga hari di lokasi kebakaran. DiaI menjelaskan, sebelum turun, api terus meluas karena angin kencang. Lebih dari 50 persen ladang bunga edelweiss ludes terbakar. “Api sudah menjalar ke kawasan edelweiss yang berada pada ketinggian sekitar 2400 meter di atas permukaan laut (Mdpl). Bahkan api juga sudah mulai ke atas, ke kawasan Perdu, Cantigi, dan lainnya. Banyak orang yang merasa kehilangan mendengar kabar ini, khususnya mereka yang cinta alam,” ungkap Avo.

Di sela waktu istirahatnya, Avo menyampaikan, ia bersama tim gabungan BPBD, Taman Nasional Gunung Ciremai, pecinta alam, dan elemen masyarakat lainya, diberangkatkan pada 18 Agustus lalu.

Mereka berupaya melakukan pemadaman api secara manual, yakni dengan melakukan penyekatan terhadap rambatan api. Meski sudah dilakukan pemutusan, petugas Pusat Pengendalian Operasional Penanggulangan Bencana (Pusdalop PB) BPBD Kabupaten Kuningan itu, menyebutkan, api tetap saja cepat merambat karena angin yang besar. Selain itu, para petugas juga kesulitan karena medan yang sangat terjal dan sulit dijangkau.

Berdasarkan informasi, Avo menyebutkan, kebakaran dimulai dari kawasan Sadarehe Kabupaten Majalengka, pada Jumat lalu (14/8/2015). Api terus merambat ke Kawah Burung Majalengka, dan terus meluas hingga memasuki kawasan Pengasinan, yang masuk jalur pendakian Linggarjati, Kabupaten Kuningan.

Avo, juga belum dapat memastikan berapa luas hektar hutan yang terbakar pada kebakaran kali ini. “Hingga saat ini, kami belum dapat memastikan berapa hektar luas areal hutan, kawasan edelweiss dan kawasan lainnya yang ludes terbakar pada kebakaran kali ini,” kata dia.

Menghitung Untung dan Rugi Terkena Dampak El Nino


El Nino, “Anak Lelaki” , karena biasa mencapai puncak pada bulan Desember, telah menampakkan diri. Banyak negara di berbagai belahan bumi tergugah karena akan terjadi anomali iklim: kekeringan dan banjir bandang bakal terjadi bersamaan dengan panen yang lebih baik, angin topan berkurang, dan musim dingin lebih hangat.

El Nino dan La Nina adalah fase yang memiliki sifat berlawanan dalam siklus alamiah El Niño-Southern Oscillation (ENSO). Siklus memiliki periode antara dua dan tujuh tahun. Badan meteorologi dari berbagai belahan bumi-belahan bumi utara, belahan bumi selatan, dan ekuator-mengonfirmasikan akan terjadi El Nino kuat pada Agustus-Desember tahun ini.

Namun, pakar iklim dari Badan Meteorologi Jepang (JMA) Ikuo Yoshikawa mengatakan, “Kami tidak bisa mengatakan apakah El Nino akan berlanjut hingga musim semi (awal tahun depan), tetapi kami bisa mengatakan bahwa ada peluang besar akan berlanjut ke musim dingin.” Tahun ini, El Nino berawal pada Maret 2015. Wakil Direktur Badan Atmosfer dan Kelautan Nasional AS (NOAA) Mike Halpert, awal Juli lalu, mengatakan, “El Nino bukan kiamat. Jadi, tak perlu bersembunyi di bawah tempat tidur. Realitasnya, di Amerika, El Nino bisa membawa hal baik.”

Halpert benar saat dia berbicara tentang AS. Secara nasional, saat terjadi El Nino pada 1997-1998, berdasarkan penelitian tahun 1999, AS justru menangguk keuntungan ekonomi nyaris mencapai 22 miliar dollar AS (jika dipatok kurs Rp 10.000, setara Rp 220 triliun atau sekitar 9 persen APBN Indonesia 2015). Keuntungan ekonomi juga bakal dinikmati Tiongkok, Meksiko, dan Eropa.

Kebalikannya, kemalangan terjadi di sejumlah negara di belahan bumi lainnya, di ekuator dan selatan ekuator. Berdasarkan penelitian yang diprakarsai PBB, negara seperti Peru, Ekuador, Bolivia, Kolombia, dan Venezuela menderita kerugian sekitar 11 miliar dollar AS (sekitar Rp 110 triliun). Menurut Pan-American Health Organization, banjir bandang di Peru meluluhlantakkan jembatan, permukiman, sejumlah rumah sakit, tanaman pangan, serta menelan 354 korban jiwa dan 112 orang hilang.

Negara-negara Australia, India, dan sebagian Indonesia akan mendapat kerugian dan bencana. Menurut peneliti dari Dana Moneter Internasional (IMF), Kamiar Mohaddes, yang juga pakar ekonomi dari Universitas Cambridge, London, EL Nino juga akan memangkas habis produk domestik bruto (GDP). Meski dampak El Nino bisa diprediksi, pakar di International Research Institute for Climate and Society (IRICS) di Columbia University, AS, Tony Branston mewanti-wanti apa yang bakal terjadi setelah ini masih menyisakan tanda tanya.

Proses dalam sistem iklim merupakan hasil interaksi dari atmosfer dan laut. Perubahan pada salah satu sistem akan mengubah pola iklim global. Menurut Tri Wahyu Hadi dari kelompok keahlian sains atmosfer Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian (FITB) ITB, akibat permukaan laut di timur Samudra Pasifik menghangat, tekanan udara pantai barat Amerika Latin melemah sehingga angin timuran pun melemah. Uap air yang seharusnya tertiup hingga Pasifik Barat bergeser ke Pasifik Tengah.

Di India, yang seharusnya pada Juli-Agustus memasuki puncak musim hujan, juga mengalami kekeringan dari penyebab yang sama. Pola musim yang juga dipengaruhi angin monsun di India telah menyebabkan terjadinya monsun musim panas. Angin yang bertiup ke barat dari Pasifik bercampur angin monsun yang bergerak dari selatan Asia.

Perbedaan dampak El Nino yang berbeda-beda di berbagai belahan dunia antara lain dipengaruhi pola musim setiap wilayah. Penyebab lainnya adalah besarnya suplai uap air dari Samudra Pasifik yang bertambah akibat EL Nino dan tekanan udara di atas permukaan laut yang memengaruhi kecepatan angin. “Terjadi perubahan transpor uap air dari samudra yang amat luas. Sistem iklim ini besar, tetapi saling memengaruhi,” kata Tri Wahyu.

Belum terlalu tegas apakah El Nino tahun ini benar-benar lebih kuat atau lebih lemah daripada tahun 1997-1998. Apa pun kondisinya, dampak ekonomi akan lebih besar karena tata perdagangan internasional yang banyak berubah. Menurut pakar risiko dan iklim Michael Ferrari dari firma Where Inc di Colorado, AS, jaringan perdagangan dunia yang semakin kompleks mengakibatkan tingkat kerentanan terhadap kelancaran suplai barang semakin tinggi.

Kini, banyak negara mulai bersiap sejak dini. Pemerintah Peru mengumumkan gerakan pencegahan darurat bulan ini untuk 14 negara bagian dari total 25 negara bagian. Dana yang disiapkan mencapai 70 juta dollar AS (sekitar Rp 945 miliar dengan kurs Rp 13.500).

Hilopito Cruchaga, Direktur Pertahanan Sipil di Piura, Peru utara, mengatakan, pemerintah telah membersihkan bantaran-bantaran sungai dari berbagai kotoran dan puing, memperkuat tepi sungai dengan bebatuan, dan memperkuat penampungan air. Kantong-kantong pasir dan batu-batu telah disiapkan di sisi sungai.

“Jika suhu Pasifik tetap setinggi ini hingga akhir Agustus, saya khawatir kami akan mengalami ‘kiamat’,” kata Hilopito. Becermin pada Peru, apakah Indonesia belajar juga pada pengalaman 18 tahun lalu?