Monthly Archives: Mei 2012

Tanggal 4 Juni Akan Ada Pesta Di Langit Indonesia


-Pekan kedua Juni merupakan saat yang menyenangkan penggemar astronomi karena bisa menyaksikan gerhana bulan sebagian dan transit Venus. “Ini seperti pesta langit buat Indonesia,” ujar Ketua Program Studi Astronomi Institut Teknologi Bandung, Taufiq Hidayat, saat ditemui di Ritz Carlton Pacific Place, Jakarta, Senin 28 Mei 2012.

Pada Senin, 4 Juni 2012, bulan terbit dengan sebagian permukaannya tertutup bayangan bumi. Peristiwa ini dikenal sebagai gerhana bulan sebagian dan berlangsung selama dua jam.

Indonesia bagian timur seperti Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Maluku, dan Papua menjadi tempat terbaik untuk menyaksikan gerhana bulan sebagian. Dari daerah ini, masyarakat bisa menyaksikan piringan bulan perlahan ditutup oleh bayangan. Peristiwa ini mulai terjadi pada pukul 18.59 WIT.

Di wilayah barat Indonesia, seperti Sumatera, Jawa, dan Kalimantan, peristiwa gerhana hanya berlangsung selama satu jam hingga pukul 19.06 WIB. Pasalnya, proses awal gerhana sudah terjadi ketika bulan belum terbit. Di Indonesia, gerhana bulan berikutnya baru bisa disaksikan pada 15 April 2014. Ketika itu seluruh permukaan bulan masuk ke dalam bayangan bumi.

Pada Rabu, 6 Juni 2012, fenomena transit Venus bisa disaksikan di seluruh wilayah Indonesia ketika matahari terbit. Transit terjadi ketika planet Venus melintas di depan matahari menciptakan bulatan hitam yang bergerak perlahan.

“Ini peristiwa langka yang baru bisa disaksikan 105 tahun lagi. Ini peristiwa sekali seumur hidup,” ujar Taufiq.

Transit langka ini berlangsung selama enam jam. Wilayah timur Indonesia seperti Papua, Maluku, dan Sulawesi lagi-lagi menjadi tempat observasi terbaik. Di daerah ini transit bisa disaksikan sejak pukul 07.09 WIT. Ketika itu matahari baru muncul di balik horizon dan Venus masuk perlahan ke dalam piringan surya. DI wilayah lain, seperti Sumatera, Jawa, Kalimantan, dan Bali baru menyaksikan peristiwa ini saat Venus sudah berada di dalam piringan matahari.

Transit terakhir yang pernah disaksikan manusia terjadi pada tahun 2004. Transit venus, kata Taufiq terjadi berpasang-pasangan dengan jarak 8 tahun. Setiap pasang transit berjarak dengan variasi 105 dan 122 tahun. Transit berikutnya baru terjadi pada 2117.

Sepanjang sejarah, manusia baru menyaksikan tujuh kali transit. Tiga transit terakhir mendapat sambutan meriah dari seluruh dunia. Kemeriahan tersebut dipastikan akan terjadi lagi pada tahun ini. Hanya segelintir negara saja yang tak bisa menyaksikan transit seperti Brazil, Afrika Selatan, dan Portugal. Negara lain di seluruh Asia, Australia, Eropa, Amerika Utara bisa menyaksikan fenomena ini.

Yesus Wafat 3 April Tahun 33


Kapan persisnya tanggal wafatnya Yesus Kristus? Sekelompok ilmuwan yang menelitinya menyebut kematian Yesus datang pada 3 April tahun 33. Penetapan tanggal ini disesuaikan dengan bunyi salah satu ayat Alkitab yang menyebut terjadi gempa besar di hari kematiannya.

Penelitian yang dimotori International Geology Review menentukan tanggal itu setelah melihat aktivitas gempa di sekitar Laut Mati, yaitu sekitar 13 mil atau 20,9 km dari Jerusalem. Injil Matius, Bab 27, mengatakan bahwa saat Yesus terbaring meregang nyawa di kayu salib, gempa bumi mengguncang daerah itu, mengaduk kuburan dan membuat langit menjadi gelap.

Berdasar fakta itu, peneliti menyelidiki hal-hal yang tekstual, catatan geologi, dan data astronomi untuk mencari tanggal yang paling mungkin untuk kematian Yesus.

Geologis Jefferson Williams dari Supersonic Geophysical, dan rekan-rekannya dari German Research Center for Geosciences, mempelajari sampel tanah dari pantai Ein Gedi Spa, di samping Laut Mati.

Setelah meneliti lapisan lebih dalam dari tanah, dua gempa bumi terdeteksi dengan melihat lapisan-lapisan sedimen yang disebut varves, yang terbangun setiap tahun.

Sebuah gempa bumi besar diketahui telah terjadi pada tahun 31 sebelum Masehi, dan gempa besar berikutnya terjadi antara tahun 26 – 36 setelah Masehi. Para peneliti mengatakan bahwa petunjuk ini, dikombinasikan dengan kalender Yahudi dan petunjuk astronomi, menunjukkan bahwa Jumat 3 April tahun 33 adalah kemungkinan terjadinya gempa besar itu.

Satu petunjuk lain dalam kitab-kitab Injil juga dapat mendukung teori ini – tiga dari empat injil kanonik melaporkan kegelapan dari tengah hari sampai pukul 03.00 pada hari setelah penyaliban.

Williams mengatakan bahwa hal ini bisa saja disebabkan oleh badai debu. Sekarang dia sedang mencari suatu sampel tanah untuk melihat apakah ia dapat menemukan bukti tentang hal ini juga.

Padang Pasir Uzbekistan 50 Tahun Yang Lalu Adalah Lautan


Di tengah padang pasir Uzbekistan, Anda mungkin tersandung di pemandangan yang aneh, bangkai beberapa kapal di tengah terik matahari. Bukan karena sisa tsunami, kapal-kapal itu sudah teronggok sejak 50 tahun lampau, ketika daerah itu masih menjadi daerah perairan bernama Laut Aral.

Sebelum 1960, daerah adalah daerah kaya yang penuh dengan ikan dan dermaga perdagangan yang ramai untuk masyarakat sekitar. Kemudian, dalam waktu beberapa tahun, air laut mengering, ikan banyak yang mati, dan tidak ada yang tersisa kecuali kapal berkarat itu.

Laut – sebenarnya sebuah danau, tapi dijuluki ”laut” karena merupakan salah satu danau terbesar di dunia – adalah tindakan yang direncanakan oleh Pemerintah Uni Soviet saat itu. Laut Aral merupakan salah satu danau terbesar di dunia, mencakup luas 26.300 mil persegi, atau setara 4.232,57 km persegi. Sekarang, wilayah ini hanya ada sebagai sekitar 2.000 mil persegi air, dibagi menjadi empat danau yang lebih kecil.

Bencana bagi Laut Aral bermula saat pemerintah Soviet ingin menggunakan air untuk mengairi bagian lain dari padang pasir untuk produksi kapas dan tanaman perkebunan lain. Air dari Laut Aral, dialirkan ke sana.

Irigasi dimulai pada 1940-an, dengan bangunan besar kanal untuk mengalihkan air dari sungai-sungai yang mengisi danau. Ketika air terkuras, salinitas air meningkat, dan jutaan ikan mati. Diperkirakan sekitar 50 sampai 75 persen air terkuras saat itu.

Sejak tahun 1960, ketinggian air turun sekitar 20 cm. Sejak 1970, jumlah penurunan lebih besar lagi, mencapai 61 cm pertahun.

Pada 1980-an, karena air makin habis untuk keperluan irigasi, permukaan air turun pada tingkat tertinggi yang belum pernah terjadi di masa lalu, rata-rata 89 cm pertahun – dan pada titik ini, danau mulai mengering.

Penduduk setempat menghadapi rentetan masalah, seperti sekaratnya industri perikanan dan sumber kehidupan mereka seperti terampas. Tak ada pilihan, migrasi besar-besaran pun terjadi. Laut Aral, kini tinggal cerita.

Cara Mengubah Virus Menjadi Energi Listrik


ada suatu masa, perajin sepatu di Cibaduyut, Bandung, dapat merancang sepatu penghasil listrik. Sambil melangkah, konsumen mengisi baterai telepon selulernya dengan kabel yang terhubung ke sepatu yang dikenakan atau dia dapat menyimpan listrik itu di dalam satu gadget dan menjualnya ke pengepul energi alternatif.

Inovasi lain bisa dilakukan oleh produsen komputer atau laptop. Mereka melapisi lembaran film di bawah papan ketik atau keypad. Ketika tuts ditekan atau mengetik, tercipta listrik sehingga perangkat elektronik tersebut tidak lagi membutuhkan listrik dari sumber-sumber tradisional selama ini.

Masa dan mimpi semacam itu kian dekat dengan ditemukannya virus penghasil listrik oleh peneliti dari University of California. Virus tersebut diciptakan oleh Byung Yang Lee dan peneliti lainnya di Laboratorium Physical Biosciences milik Departemen Energi Amerika Serikat.

Mereka menamakan virus ini M13, yang mengalami modifikasi genetik untuk membangkitkan energi ketika diberi tekanan. “Virus ini mengubah energi gerak menjadi energi listrik,” ujar Lee dalam laporan ilmiah yang terbit dalam jurnal Nature Nanotechnology pada 13 Mei lalu.

Dalam ilmu fisika bahan, sifat yang dimiliki M13 dikenal sebagai efek piezoelektrik. Bahan seperti ini akan membangkitkan energi ketika volumenya dipampatkan. Efek ini telah banyak dipelajari pada kristal dan polimer organik.

Pada bahan organik, pembuatannya amat rumit karena melibatkan zat beracun yang dicampurkan melalui proses rumit dalam suhu dan tekanan tinggi. Bahan piezoelektrik yang pernah diciptakan peneliti antara lain tulang, fibril kolagen, dan tabung nanopeptida.

M13 berbentuk batang. Panjang virus mencapai 880 nanometer atau seperempat kali lebih kecil daripada partikel asap rokok. Adapun ketebalannya hanya 6,6 nanometer atau tiga kali diameter rantai DNA. Terdapat 2.700 molekul protein yang menyusun dinding virus dengan lima protein yang menjulur di setiap ujung batang.

Dinding virus bisa diuraikan menjadi kerucut-kerucut protein dengan sudut bukaan sebesar 40 derajat. Selimut protein tersusun atas sembilan protein memanjang dengan salah satu ujung bertemu di ujung kerucut. Pengukuran lebih jauh menunjukkan struktur ini memiliki simetri rotasi dan simetri bidang miring. “Struktur simetri seperti ini biasanya memiliki sifat piezoelektrik,” ujar dia.

Setelah membuktikan kemampuan virus, peneliti meningkatkan kemampuannya dengan memanfaatkan teknik rekayasa genetika. Caranya adalah menambahkan empat asam amino bermuatan negatif ke salah satu ujung protein penyusun virus. Protein tambahan ini disebut residu, berguna memperbesar perbedaan tegangan pada ujung-ujung protein. Dengan demikian, terjadi peningkatan drastis voltase virus.

Virus hasil modifikasi kemudian dibariskan ke dalam sehelai lapisan film. Pekerjaan ini seperti menyusun keping Lego, dengan kepala virus ditempelkan ke ekor virus lain. Susunan virus ini seolah-olah membentuk jalinan kabel berukuran nano.

Penyusunan ini tidak terlalu rumit. Bentuk virus yang seperti batang memudahkan peneliti untuk menumpuknya satu sama lain. Mereka menggambarkannya seperti menyusun sumpit agar tersusun saling bersisian. Dengan sedikit goyangan dari luar, sumpit-sumpit akan saling sejajar. “Sifat alami virus batang berbaris rapi,” ujar dia.

Selembar film ternyata tidak cukup. Peneliti menumpuk lembaran berisi virus ini untuk menangguk lebih banyak listrik. Percobaan demi percobaan berujung pada kesimpulan bahwa efek piezoelektrik paling besar dihasilkan oleh 20 tumpukan film berisi virus.

Pengujian kemampuan virus dilakukan melalui demonstrasi di laboratorium. Peneliti membuat pembangkit listrik tenaga virus sederhana yang terdiri atas lempeng emas sebagai elektrode, kabel, pengukur tegangan, dan monitor liquid crystal display sederhana.

Tumpukan film berisi virus diisolasi ke dalam lapisan polydimethylsiloxane (PDMS) transparan. Ujung-ujung lembaran film terhubung dengan elektrode emas yang disambungkan dengan kabel. Tegangan pada ujung kabel terjadi ketika peneliti menekan PDMS dan virus yang ada di dalamnya.

Saat ditekan, molekul protein pada virus saling berdekatan. Pengetatan ukuran ini membuat terjadinya loncatan tegangan. Arus mengalir pada satu arah sehingga listrik tercipta. Pembacaan melalui voltmeter menunjukkan arus yang dihasilkan adalah sebesar enam nanoampere dan tegangan 400 milivolt.

Energi yang dihasilkan pembangkit listrik tenaga virus ini setara dengan seperempat tegangan baterai AAA yang lazim digunakan sehari-hari. Terbukti, ketukan peneliti diterjemahkan menjadi angka “1” di monitor LCD.

Selepas penelitian, peneliti berpikir mengambil langkah maju. Anggota penelitian, Seung-Wuk Lee mengatakan, virus bisa menggandakan diri dengan cepat, yaitu satu juta replika dalam satu jam. Karena itu, energi listrik yang dihasilkan tak akan ada habisnya. “Energi yang dihasilkan tiada henti,” ujar Seung-Wuk.

Prospek energi dari virus juga semakin menjanjikan karena peneliti bisa menjinakkan virus. Menurut mereka, M13 tidak mengancam keselamatan manusia. Hanya bakteri tertentu yang bisa diserang oleh virus.

Peneliti membidik peralatan elektronik kecil untuk aplikasi pembangkit listrik tenaga virus. Hal ini sangat mungkin dilakukan karena teknologi nano membuat peralatan elektronik akan semakin kecil dan irit daya. “Penelitian kami membuka jalan bagi pembuatan pembangkit listrik personal,” ujar Seung-Wuk, “teknologi ini bisa dipakai pada perangkat nano atau alat elektronik berbasis virus.”

Lembar film yang mengandung virus nantinya bisa ditempelkan pada sol sepatu, papan ketik, atau perangkat lain. Ketika cadangan bahan bakar fosil mulai habis, virus ini dapat menjadi sumber energi alternatif yang ramah lingkungan.

Ditemukan Inovasi Baru Yaitu Alat Suntik Tanpa Jarum Suntik


Tak lama lagi, injeksi bisa dilakukan tanpa menggunakan jarum suntik. Setidaknya jika alat rekaan Massachusetts Institute of Technology (MIT) ini lolos uji dan bisa dipasarkan secara luas.

Alat buatan institut teknologi nomor wahid di Amerika Serikat ini kecil saja. Namun alat ini memiliki tekanan supertinggi yang membuat obat yang akan disuntikkan mampu melalui kulit tanpa perlu ”melubangi” kulit. Perangkat ini dapat diprogram untuk memberikan obat dalam berbagai dosis untuk berbagai kedalaman–merupakan ”perbaikan” dari jet-injection system yang sekarang sudah tersedia secara komersial.

Para peneliti mengatakan manfaat lain teknologi ini adalah dapat membantu mengurangi potensi cedera akibat jarum suntik. Asal tahu saja, berdasar estimasi Centers for Disease Control and Prevention, petugas kesehatan di rumah sakit kerap tanpa sengaja menusuk diri mereka sendiri dengan jarum sebanyak 385 ribu kali setiap tahun. Alat ini juga akan mampu menganulir kecemasan pasien yang secara reguler harus menyuntik diri mereka sendiri, semisal suntik insulin bagi penderita diabetes.

“Jika Anda takut jarum dan harus secara berkala menyuntik diri sendiri, kepatuhan dapat menjadi masalah,” kata Catherine Hogan, seorang ilmuwan penelitian di Departemen Teknik Mesin MIT dan anggota tim peneliti. “Kami pikir ini jenis teknologi yang dapat menolong beberapa fobia seputar jarum suntik.”

Dalam beberapa dekade terakhir, para ilmuwan telah mengembangkan berbagai alternatif untuk jarum suntik. Sebagai contoh, nicotine patches–semacam plester dengan obat-obatan tertentu–perlahan melepaskan obat melalui kulit. Tetapi plester ini hanya dapat melepaskan molekul obat dengan ukuran tertentu untuk melewati pori-pori kulit, sehingga membatasi jenis obat yang dapat disampaikan. Yang terbaru adalah jet-injector system, yang mampu mengantarkan obat melalui pori-pori dengan memanfaatkan tekanan tinggi alat itu.

Tim MIT yang dipimpin oleh Ian Hunter merekayasa jet-injection system yang memberikan berbagai dosis sampai kedalaman tertentu dengan cara yang terkontrol. Desain ini dibangun pada mekanisme yang disebut Lorentz-force actuator–magnet kecil yang kuat dikelilingi oleh kumparan kawat yang melekat pada piston di dalam ampul obat. Ketika dioperasikan, interaksi dengan medan magnet menghasilkan kekuatan yang mendorong piston ke depan, mendepak obat pada tekanan yang sangat tinggi, hampir mencapai kecepatan suara di udara.

Bentuk gelombang yang dihasilkan umumnya terdiri dari dua tahap yang berbeda: fase awal, tekanan tinggi terjadi saat perangkat menyemprotkan obat pada kecepatan tinggi sehingga mampu menembus kulit dan mencapai kedalaman yang diinginkan, kemudian fase berikutnya adalah tekanan yang lebih rendah sehingga obat yang telah masuk mengalir dengan lambat dan dengan mudah dapat diserap oleh jaringan di sekitarnya.

Melalui pengujian, berbagai jenis kulit mungkin memerlukan berbagai bentuk gelombang yang berbeda untuk memberikan volume obat yang memadai.

“Jika saya ”menembak” kulit bayi untuk memberikan vaksin, saya tidak memerlukan tekanan sebanyak yang diperlukan untuk menembus kulit saya,” kata Hogan. “Kami dapat menyesuaikan profil tekanan dan itulah keindahan dari perangkat ini.”

Samir Mitragotri, seorang profesor Teknik Kimia di University of California, juga sedang mengembangkan cara baru untuk memberikan obat, termasuk melalui injeksi berkecepatan jet ini. Mitragotri, yang tidak terlibat dengan penelitian, melihat teknologi yang dikembangkan MIT ini sebagai langkah yang menjanjikan di luar desain jet-injection system, yang saat ini beredar di pasar.

Piramida Gunung Padang Akan Dibuat Sketsanya dan Tim Ahli Jermanpun Berminat


Tim Terpadu Penelitian Mandiri Gunung Padang sudah melakukan analisis teknologi terhadap kemungkinan ‘piramida’ di Gunung Padang. Sketsa gambar pun sudah dibuat. Bagaimana bentuknya? Berdasarkan gambar yang dibuat oleh Ir Pon Purajatnika, situs yang terletak di Cianjur, Jawa Barat itu, mirip dengan piramida di Mesir. Namun bentuknya memang tidak sempurna mengerucut.

Ratusan batuan berundak-undak menghiasi sekeliling bangunan. Sementara tangga tradisional juga dibangun sebagai jalan menuju puncak yang berbentuk mirip tempat pemujaan atau upacara tertentu. Andi Arief, selaku dewan pengarah tim terpadu ini mengatakan, teknologi yang digunakan untuk penelitian awal situs tersebut adalah georadar dan geothermal. Sebagai kesimpulan awal, Andi dan tim peneliti meyakini ada sebuah bangunan buatan manusia yang dibuat pada zaman purba namun tertutup tanah karena bencana.

Saat ini, tim baru selesai melakukan pengeboran sampel di gunung tersebut. Dalam temuan sementara, ada sejumlah batuan dan mineral yang ditemukan untuk diteliti lebih lanjut di laboratorium Universitas Indonesia. “Jadi ini belum eskavasi, masih pengeboran sampai 30 cm. Dan itu pun dilubangi sedikit saja, bukan merusak seluruhnya,” kata Andi saat ditemui di kantornya, Jl Veteran, Jakarta, Senin (21/5/2012).

Hasil pengambilan sampel dan hipotesa awal lewat pendekatan teknologi nanti akan diserahkan ke otoritas berwenang. Bila fakta-fakta yang ditemukan mendukung kesimpulan awal soal situs purba di lokasi tersebut, maka penggalian besar-besaran baru dilakukan.”Sistem penganggaran kita masih harus menunggu fakta dulu. Jadi kita harus temukan dulu faktanya, baru bisa eskavasi,” terangnya. Sebelumnya banyak pihak meyakini bahwa Situs Gunung Padang merupakan sebuah punden berundak. Situs itu mirip dengan situs Lebak Sibedug di Banten.

Meski belum dilakukan penggalian besar-besaran, situs Gunung Padang sudah memberi banyak temuan menakjubkan. Selain tembikar dan batuan unik, kini ditemukan juga batu-batu yang diduga memiliki gambar aksara kuno di dalamnya. “Yang belum tersosialisasi ada batu beraksara, di batu itu seperti huruf atau kata,” kata asisten staf khusus presiden bidang bantuan sosial dan bencana, Erick Ridzky, saat ditemui di kantornya, Jl Veteran, Jakarta, Senin (21/5/2012). Menurut Erick, di batu tersebut ada gambar dan simbol yang diyakini memiliki makna tertentu. Belum jelas dari zaman apa batu itu berasal, yang pasti banyak dijumpai di situs Gunung Padang.

Dari gambar yang ditunjukkan, terlihat batu-batu itu berwarna hitam. Simbol-simbol yang terlihat hampir menyerupai gambar tertentu, seperti hewan atau bentuk bangunan. “Di setiap batu ada garis di bagian pojok kanan bawah. Itu seperti semacam tanda untuk orang membaca,” terangnya. Meski begitu, Erick tak mau buru-buru membuat kesimpulan. Dia akan membawa temuan ini ke ahli yang bisa membaca tulisan kuno atau paleografi. Sementara temuan lain, kini masih diteliti di laboratorium geotek Universitas Indonesia. “Kita akan lihat nanti hasilnya,” ucap Erick.

Kabar soal situs Gunung Padang, Cianjur, Jawa Barat, membuat para peneliti asing tergerak. Mereka berharap bisa ikut terlibat dalam proses penelitian hingga penggalian nanti.

“Sudah ada yang ngontak, peneliti Jerman dan Singapura, dan negara-negara lain,” kata Staf Khusus Presiden Bidang Bantuan Sosial dan Bencana, Andi Arief, kepada detikcom di kantornya, Jl Veteran, Jakarta, Senin (21/5/2012). Andi mengkoordinasi para peneliti yang tergabung dalam Tim Terpadu Penelitian Mandiri Gunung Padang. Menurut Andi, para peneliti asing itu tertarik karena situs Gunung Padang menyimpan potensi sumber ilmu pengetahuan baru soal sejarah Indonesia, bahkan dunia. Mereka juga ingin mengetahui soal latar belakang bangunan tersebut.

Meski begitu, mantan aktivis ’98 ini tak mau memberi izin pada peneliti asing hingga proses penelitian selesai. Dia menilai, para peneliti lokal masih banyak yang mampu bekerja dengan baik. “Kita akan membuka diri untuk masalah kaidah intelektual. Tapi untuk membantu proses penggalian atau penelitian, kita masih mampu,” tegasnya. Sekadar informasi, tim terpadu ini terdiri dari 30 orang dengan berbagai latar belakang. Andi Arief bersama rektor UI Gumilar Sumantri dan ahli lainnya duduk sebagai tim pengarah. Sedangkan untuk tim teknis, dikomandoi oleh Arkeolog UI Ali Akbar dan Danny Hilman untuk urusan geologi. Diketahui situs Gunung Padang merupakan sebuah punden berundak. Bangunan itu dibangun di masa prasejarah.

Tertangkap Foto Bukan Hanya Manusia Saja … Galaxy Ternyata Juga Suka Memangsa Temannya Sendiri


Pakar astronomi kini memperkirakan bahwa Centaurus A terbentuk karena penggabungan dua galaksi berbeda — dan foto terbaru ini mendukung teori tersebut. Jejak debu dalam foto yang baru dirilis ini diperkirakan adalah sisa-sisa galaksi spiral yang terkoyak-koyak oleh galaksi eliptis raksasa.

Fenomena ini akan terus terlihat di langit kita dan butuh ratusan juta tahun lagi sebelum ‘perebutan galaksi’ ini benar-benar menghilang.

Centaurus A terletak sekitar 12 juta tahun cahaya dari Bumi. Ia memiliki pusat lubang hitam dengan massa 100 juta kali lebih besar dari Matahari. Ahli astronomi percaya bahwa lubang hitam inilah yang memproduksi frekuensi radio luar biasa besarnya, sekaligus menghasilkan nukleus yang bercahaya dan fitur-fitur jet.

Teleskop Observatorium Eropa Selatan di Chile menangkap gambar galaksi ini selama 50 jam. Citra-citra yang mereka dapatkan menampilkan detail mengagumkan dari sistem yang sudah dipelajari secara mendalam tersebut.

“Centaurus A ini menarik karena ia adalah galaksi radio terdekat dengan kita, sehingga lebih mudah untuk dipelajari,” kata juru bicara Observatorium Eropa Selatan Richard Hook kepada Yahoo! News. “Ada semacam jejak debu di sekitar pusatnya, yang sebenarnya merupakan satu galaksi tersedot oleh galaksi lain.”

“Citra ini sebenarnya punya pencahayaan yang sangat panjang, artinya menunjukkan struktur yang cukup halus. Ini adalah foto terbaik dari sistem Centaurus A yang pernah kami ambil,” dia menambahkan.

Centaurus A mendapat nama tersebut karena ia adalah sumber gelombang radio pertama yang ditemukan di konstelasi Centaurus pada 1950an. Centaurus pertama ditemukan oleh astronom Inggris James Dunlop di observatorium Parramatta di Australia, pada 4 Agustus 1826.