Monthly Archives: Juni 2015

Laut Di Pulau Ai Kepulauan Banda Maluku Tengah Berubah Jadi Merah Darah


air laut pulau ai banda maluku berubah jadi darahWarga Pulau Ai, Kepulauan Banda, Kabupaten Maluku Tengah, digegerkan dengan fenomena perubahan air laut di kawasan tersebut, Minggu (21/6/2015). Warga geger dan panik lantaran air laut di wilayah tersebut tiba-tiba saja berubah menjadi merah.Kondisi ini membuat warga yang umumnya bermata pencaharian sebagai nelayan itu enggan melaut seperti biasanya. Warga mengaku memilih tidak melaut karena takut terjadi sesuatu.

Baca : Air Sungai Bontang Mendadak Berubah Memjadi Merah Seperti Darah

Baca Juga : Danau Di Bukit Raje Mandare Berubah Warna Jadi Merah Darah

Salah satu tokoh masyarakat setempat, Ahmad Ali, mengatakan saat dihubungi dari Ambon bahwa perubahan air laut dari kebiruan menjadi merah seperti darah membuat warga pesisir di pulau itu kini merasa sangat khawatir. Warga khawatir karena kejadian itu baru pertama disaksikan. “Hampir semua masyarakat di pulau ini dibuat geger saat melihat air laut berubah seperti darah,” kata Ahmad.

Fenomena itu pun menimbulkan berbagai spekulasi di masyarakat yang mendiami pulau kecil di gugusan Kepulauan Banda itu. Warga beranggapan, air laut yang tiba-tiba berubah seperti darah itu pertanda bahwa sesuatu akan terjadi.
Ini pasti pertanda sesuatu akan terjadi, tetapi kita belum tahu apa yang akan terjadi. Semoga bukan pertanda bahaya,” kata Alwi, salah satu warga lain.

Perubahan air laut menjadi seperti darah ini spontan membuat warga pesisir yang umumnya bermata pencaharian sebagai nelayan di pulau itu memilih tidak melaut dan hanya beraktivitas di rumah. “Tidak ada yang berani melaut. Kami sendiri takut ke laut karena memang air lautnya seperti darah,” katanya.

Tak hanya warga Pulau Ai, fenomena perubahan air laut menjadi seperti darah itu juga memicu kehebohan tersendiri di media sosial, seperti Facebook. Salah satu pengguna akun Facebook bernama Salman bahkan berspekulasi bahwa perubahan itu adalah pesan kepada warga pulau itu agar lebih berhati-hati. “Air laut berubah seperti darah. Ini sebuah pertanda agar warga lebih hati-hati pada bulan puasa ini,” kata Salman.

Daftar Sayuran Yang Semakin Dimasak Semakin Bergizi


Walau sayuran dalam bentuk segar dianggap sebagian orang lebih sehat, tapi ada beberapa jenis sayuran yang kadar nutrisinya meningkat setelah ia dimasak.

“Dulu orang menganggap memasak bisa menurunkan kadar nutrisi dalam sayuran jika dibandingkan dengan yang segar. Tapi hal itu tak selalu benar,” kata Rui Hai Liu, profesor ilmu makanan di Cornell University.

Ia menjelaskan, banyak nutrisi dalam sayur dan buah yang terikat di dinding sel. “Proses memasak membantu melepaskannya, sehingga nutrisi itu lebih gampang diserap tubuh,” kata profesor yang meneliti tentang efek panas pada makanan ini.

Berikut adalah beberapa sayuran yang sebaiknya dimasak dulu sebelum dikonsumsi.

– Tomat
Apakah itu dipanggang, goreng, atau ditumbuh halus menjadi saus spageti, proses pemanasakan akan meningkatkan fitokimia dalam tomat, yakni likopen. Zat ini terbukti bisa menurunkan risiko kanker dan penyakit jantung. Likopen adalah zat yang memberi warna merah pada tomat.

Menurut penelitian yang dilakukan Liu tahun 2002, pemanasan tomat selama 30 menit di suhu 80 derajat celcius akan meningkatkan level penyerapan likopen sampai 35 persen. Walau pemasakan akan menurunkan kadar vitamin C, tapi bisa meningkatkan kemampuan antioksidannya sampai 62 persen.

– Bayam
Sayuran berdaun hijau ini sangat kaya nutrisi, tetapi tubuh kita akan menyerap lebih banyak kalsium dan zat besi di dalamnya jika bayam sudah dimasak. Ini karena bayam mengandung asam oksalat yang bisa menghambat penyerapan zat besi dan kalsium tetapi akan dipecah di bawah suhu tinggi. Sebuah penelitian menunjukkan, merebus bayam di air mendidih lalu menyiraminya dengan air dingin bisa menurunkan kadar oksalat sampai 40 persen.

– Wortel
Proses pemasakan akan memunculkan karotenoid, zat pelawan kanker, di dalam wortel. Studi tahun 2008 menunjukkan bahwa merebus wortel sampai agak lembek akan meningkatkan konsentrasi karotenoid sampai 14 persen. Sementara itu menggorengnya bisa menurunkan kadar karotenoid sekitar 13 persen.

– Asparagus
Studi tahun 2009 menyebutkan, memasak akan meningkatkan level 6 nutrisi penting di dalam asparagus sampai 16 persen. Salah satu dari zat tersebut adalah asam phenolic yang bisa menurunkan risiko kanker.

– Jamur
Secangkir jamur yang dimasak memiliki kandungan niacin, potasium, magnesium, zinc, dua kali lipat dibanding versi mentahnya. Selain itu, terkadang jamur mentah bisa mengandung sedikit racun sehingga memang perlu dimasak.

Petani Jagung Mulai Gunakan Teknologi Untuk Tingkatkan Produktivitas Lahan


Sejumlah petani jagung di Jawa Timur siap menerapkan teknologi pertanian guna mengurangi volume impor komoditas tersebut, khususnya guna memenuhi kebutuhan industri pakan ternak di Indonesia.

“Langkah itu seperti teknik budi daya terbaik, penggunaan benih unggul, advokasi, dan sosialisasi kepada petani serta penanganan pascapanen yang baik. Upaya ini menjadi upaya nyata mewujudkan peningkatan produksi di pertanian jagung,” kata Ketua Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) Indonesia, Winarno Thohir.

Winarno mengemukakan itu melalui siaran pers tentang Panen Jagung di lahan seluas 24 ribu hektare, di Taman Teknologi Pertanian Desa Banyubang Kecamatan Solokuro, Kabupaten Lamongan, Jumat.

Apabila hal itu terwujud, yakin dia, mimpi Indonesia untuk swasembada di berbagai komoditas pertanian utama dapat terealisasi. Hal itu juga sesuai dengan cita-cita pemerintahan Presiden Joko Widodo sehingga perlu ada dukungan semua pemangku kepentingan.

“Kami harap pemerintah bisa memperkuat infrastruktur dan regulasi tentang penggunaan teknologi mutakhir dalam bidang pertanian,” ujarnya.

Oleh sebab itu, jelas dia, Indonesia bisa belajar dari pengalaman negara yang sukses meningkatkan produktivitas pertaniannya seperti Brazil dan Filipina. Pemanfaatan teknologi pertanian mutakhir juga diharapkan bisa mengatasi permasalahan mahalnya biaya Sumber Daya Manusia (SDM) di bidang pertanian.

“Dengan pemanfaatan teknologi terkini, biaya produksi bisa dipangkas dan produktifvitas per hektar lahan bisa ditingkatkan. Selain itu, terobosan teknologi juga diperlukan dalam menghadapi musim yang tidak menentu akibat perubahan iklim,” paparnya.

Ketua Kelompok Tani Agribisnis Perdana dari Kecamatan Solokuro, Kabupaten Lamongan, H Sholahuddin menyatakan, kini petani jagung di Indonesia masih menghadapi berbagai tantangan. Misalnya, serangan gulma, hama dan penyakit serta perubahan iklim yang berakibat penurunan potensi hasil pertanian.

“Dampaknya, hal itu bisa menghilangkan potensi pendapatan petani,” ucapnya.

Di sisi lain, kata dia, mahalnya tenaga kerja di bidang pertanian juga berpotensi menurunkan pendapatan petani. Dengan demikian, pemanfaatan berbagai teknologi mutakhir termasuk bioteknologi diharapkan bisa meningkatkan produktivitas pertanian dan kesejahteraan petani.

“Kalau dari sisi peningkatan produktivitas ada potensi sebesar sembilan ton per hektare yang bisa dioptimalkan. Padahal, dari posisi saat ini 6,7 ton sampai tujuh ton per hektare sedangkan di sisi lahan masih ada sekitar 5.000 hektare yang bisa dijadikan lahan tanam baru,” tuturnya.

Kepala Dinas Pertanian Provinsi Jawa Timur, Wibowo Ekoputro melanjutkan, target produksi pada tahun 2015 di Jatim mencapai 6,2 juta ton pipil kering. Angka itu meningkat dari produksi tahun lalu yang tercatat 5,7 juta ton dan di Jatim produksi jagung terpusat di Sumenep, Tuban, dan Lamongan.

“Dominasi 60 persen atau sekitar 3,5 juta ton dari jumlah itu diserap oleh industri pakan ternak. Dengan terobosan teknologi, upaya ini bisa menjadi salah satu langkah untuk memperkuat posisi Jatim sebagai daerah penyangga produksi jagung nasional,” katanya.

Bulan Pluto Charon Berjalan Tidak Teratur dan Tidak Punya Orbit


Sistem di Pluto ternyata aneh dan rumit, tak seperti yang diduga sebelumnya. Observasi Teleskop Antariksa Hubble mendapati empat bulan terkecil yang mengelilingi Pluto dan bulan terbesarnya, Charon, bergoyang dan jungkir balik tak tentu arah. Keempat bulan terkecil di Pluto adalah: Nix, Hydra, Kerberos, dan Styx.

“Kalau Anda berdiri di Nix, matahari mungkin terbit di barat dan tenggelam di timur satu hari, dan kemudian terbit di timur dan tenggelam di utara, pada hari lain,” kata Mark Showalter, peneliti senior di SETI Institute di Mountain View, California, seperti dilansir media, Kamis (4/6).

Sampai saat ini, hanyalah Hyperion, bulannya Saturnus, yang diketahui memiliki rotasi yang kacau seperti itu di sistem Tata Surya kita. Dalam tulisannya di Jurnal Nature, Rabu (3/6) kemarin, Showalter dan Douglas Hamilton dari Universitas Maryland, College Park, menulis bahwa gerakan yang kacau balau itu disebabkan oleh tarikan gravitasi Charon.

Charon sendiri diperkirakan terbentuk di tengah sistem Pluto pada 4 miliar tahun lalu dan sejak saat itu ia menyebabkan kekacauan rotasi di Pluto. Soalnya, Pluto dan Charon memiliki ukuran yang hampir sama. Alih-alih satu mengorbit ke yang lain, Charon dan Pluto diduga sama-sama mengorbit di sebuah pusat gravitasi yang sama. Inilah yang disebut oleh astronom sebagai “binary planet”.

Sedangkan keempat bulan kecil-kecil lebih seperti bola liar karena tak punya gravitasi internal untuk menarik mereka berada pada bentuk putaran yang tetap. Jadi, saban keempat bulan ini melintasi Charon, mereka akan mengalami guncangan gravitasi yang membuat pergerakan mereka kacau.

Menurut para ahli itu, kalau Charon ditarik keluar dalam sebuah model komputer, maka pergerakan keempat bulan kecil akan lebih teratur. Keempat bulan keci di Pluto itu sebenarnya belum lama ditemukan. Nix dan Hydra ditemukan pada 2005. Lalu Kerberos dan Styx ditemukan pada 2011 dan 2012.

Seluruh sistem Pluto ini berada pada jarak 300 miliar mil dari Bumi. Teleskop seperti Hubble hanya mampu merekam mereka seperti titik cahaya yang amat kecil. Showalter dan tim melihat keanehan pergerakan bulan di Pluto tatkala melihat titik-titik itu bergerak tak tentu dan kadang-kadang lebih terang atau malah meredup dalam rentang waktu satu dekade data Hubble.

Awalnya mereka mengira bisa membuat pola. Tapi akhirnya mereka menyadari hal itu tak bisa dipolakan. “Ini benar-benar situasi yang tak bisa diprediksi,” kata Showalter.

Cacing Cacing Juga Bermunculan dan Berbaris Di Texas


Di Texas, Amerika Serikat, juga ditemukan cacing-cacing yang bermunculan dari tanah. Anehnya, mereka seperti berkerumun dan ‘berbaris’ di garis tengah jalan tol. Kawasan tempat kemunculan cacing itu memang baru saja dilanda banjir besar baru-baru ini. Tapi kemunculan cacing dan posisinya yang ‘berbaris’ itu menimbulkan tanda tanya tersendiri. Ribuan cacing berkerumun dalam kelompok-kelompok, persis spageti, di Eisenhower State Park di Denison, Texas. Ranger di taman itu mengatakan, cacing-cacing itu membentuk barisan kerumunan cacing di tengah jalan, di garis pemisah.

“Kami masih bertanya-tanya, mengapa mereka berbaris di tengah jalan,” kata Ben Herman, pengawas taman itu, kepada ABC News. Kemunculan cacing dari dalam tanah bukanlah hal baru. Selain pengaruh musim penghujan, ada juga kasus kemunculan cacing sebelum terjadinya gempa bumi. Tapi kemunculan cacing di Texas ini aneh betul. Ada yang menduga itu ada kaitan dengan banjir dan posisi jalan raya yang memang paling tinggi dari area sekitarnya. Dan garis tengah jalan raya adalah area tertinggi di jalan itu.

Cacing disebut memang suka berkumpul dalam kelompok besar dan saling berkomunikasi melalui kontak tubuh. Mereka cenderung berkerumun secara massal ketika ada kondisi yang tak semestinya dan mencari tempat yang aman bersama-sama. Munculnya cacing-cacing tanah ke permukaan dan pesan berantai telah meresahkan warga Yogyakarta dan sekitarnya, yang pernah menjadi korban gempa dahsyat pada 2006. Meski para pakar yang dihubungi mengatakan fenomena itu tak ada kaitannya dengan gempa besar, wajar saja jika warga resah. Soalnya, sebelum gempa besar melanda Yogyakarta pada 27 Mei 2006, fenomena yang sama terjadi. Tak cuma cacing, perilaku aneh juga diperlihatkan burung, ular, dan hewan lainnya.

Munculnya cacing-cacing tanah di permukaan mulai terjadi sekitar 10-12 hari sebelum gempa melanda. Saat itu musim kemarau dan cacing bermunculan di mana-mana, tak hanya di permukaan tanah. Kemunculan cacing makin tinggi sekitar dua hari sebelum gempa terjadi. Tapi untuk fenomena yang disebut terjadi baru-baru ini, Kepala Badan Geologi Surono mengatakan fenomena itu lebih kepada masa transisi musim hujan ke musim kemarau.

Mbah Rono, demikian ia akrab dipanggil, mengatakan tak yakin selama selama sembilan tahun sejak 2006 ada energi yang cukup untuk menyebabkan gempa sebesar 2006. Gempa besar di kawasan Yogyakarta, kata Mbah Rono, pernah juga terjadi pada 1943. Artinya perlu cukup waktu yang lama untuk kemudian terjadi gempa yang besar pada 2006. Profesor Sunarno dari Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada juga berpendapat serupa. Menurutnya, masyarakat tak perlu panik karena fenomena cacing lebih kepada perubahan musim. Lagi pula, menurut Sunarno, belum ada bukti empirik bahwa keluarnya cacing dari dalam tanah kemudian akan disusul terjadinya gempa bumi

asyarakat Yogyakarta heboh dengan munculnya fenomena cacing tanah yang keluar dari dalam tanah dalam keadaan lemas. Situasi ini mengingatkan pada keadaan sebelum terjadinya gempa besar pada 2006. Tapi pakar yang dihubungi CNN Indonesia menyatakan fenomena itu tak ada hubungannya dengan gempa. Kepala Badan Geologi Surono mengatakan fenomena itu lebih kepada masa transisi musim hujan ke musim kemarau.

Mbah Rono, demikian ia akrab dipanggil, mengatakan tak yakin selama selama sembilan tahun sejak 2006 ada energi yang cukup untuk menyebabkan gempa sebesar 2006. “Gunung Merapi pun dalam status yang normal,” katanya . Gempa besar di kawasan Bantul, Yogyakarta, kata Mbah Rono, pernah juga terjadi pada 1943. Artinya perlu cukup waktu yang lama untuk kemudian terjadi gempa yang besar pada 2006. Masyarakat, kata Mbah Rono, tak perlu panik. Namun tetap diminta selalu waspada sebab ada atau tidak fenomena cacing, kawasan selatan Pulau Jawa memang termasuk rawan gempa.

Menurut Mbah Rono, pihaknya selalu memantau aktivitas tektonik maupun vulkanik di sekitar Yogyakarta. Namun kedatangan gempa, katanya, tak bisa diramalkan oleh siapapun. Profesor Sunarno dari Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada juga berpendapat serupa. Menurut ahli fisika ini, masyarakat tak perlu panik karena fenomena cacing lebih kepada perubahan musim. Lagi pula, menurut Sunarno, belum ada bukti empirik bahwa keluarnya cacing dari dalam tanah kemudian akan disusul terjadinya gempa bumi.

Alat Early Warning System (EWS) yang dimiliki Sunarno dan timnya pun tak mendeteksi adanya aktivitas bumi yang patut dikhawatirkan akhir-akhir ini. “Semua dalam keadaan stabil,” tuturnya. Sunarno menduga, keluarnya cacing dari dalam tanah terjadi karena perubahan kelembaban tanah ke arah musim kemarau. “Cuaca akhir-akhir ini pun sering cepat berubah, mendung mendadak yang berarti terjadinya kondensasi karena penguapan air tanah yang cukup besar,” katanya.

Cacing Tanah Mampu Deteksi Gempa Di Bantul


Warga Bantul khawatir bakal terjadi gempa besar setelah banyak cacing tanah keluar ke permukaan semenjak awal awal pekan ini. Mereka masih trauma dengan gempa yang terjadi tahun 2006 yang menewaskan 5.700 orang. “Fenomena alam itu perlu dikaji secara ilmiah,” kata Prasetyadi, pakar geologi Universitas Pembangunan Nasional (UPN) Veteran Yogyakarta, Rabu, 3 Juni 2015. Dianggap saja hipotesis dulu, ujarnya, jangan langsung dianggap benar atau disalahkan.

Prasetyadi belum pernah menemukan hasil riset yang membahas keterkaitan sensor hewan dengan pertanda gempa. Menurut dia pengamatan ilmiah mengenai respon hewan terhadap perilaku tanah menjelang bencana, banyak ditemukan di kajian mengenai erupsi genung berapi. “Di fenomena gunung api, getaran gempa dan peningkatan suhu tanah bersifat lokal dan di permukaan sehingga mudah tertangkap sensor hewan, tapi kalau gempa bumi dinamikanya ada di dalam (lapisan tanah),” kata dia.

Namun, katanya, mengabaikan pertanda alam berupa kasus banyak cacing keluar dari tanah di Bantul begitu saja juga tidak memberikan edukasi secara tepat ke publik. Padahal, respon kekhawatiran masyarakat ke fenomena ini menandakan telah ada kesadaran meluas mengenai kewaspadaan terhadap bencana gempa bumi. “Waspada boleh, namun harus obyektif.”

Prasetyadi menyimpulkan saat ini ada dua hipotesis mengenai penyebab banyak cacing keluar dari tanah. Di satu sisi ada isu yang menganggapnya pertanda akan ada gempa bumi besar karena ada kesaksian fenomena semacam ini pernah terjadi menjelang bencana besar di Bantul dan Klaten pada 27 Mei 2006. Namun, ada kemungkinan besar cacing tanah keluar ke permukaan akibat efek perubahan cuaca saja.

Cara paling tepat untuk menguji dua hipotesis itu, menurut Prasetyadi, ialah dengan memantau peristiwa keluarnya cacing tanah itu di Bantul dan daerah lain. Apabila kasus ini terjadi di Bantul dan daerah lain yang sama-sama mengalami peningkatan suhu dan terguyur hujan mendadak di masa pancaroba selama awal pekan ini, maka membuktikan pemicunya cuaca. “Paling mudah, bandingkan antara Bantul dengan Kulonprogo atau Kebumen, di sana apa juga ada kasus cacing keluar dari tanah,” kata dia.

Kalau temuan kasus cacing keluar dari tanah memang hanya ada di Bantul, Prasetyadi menyarankan ada kajian lebih rinci. Dia mengusulkan ada pemetaan di kawasan mana saja di sekitar Bantul ada kasus cacing tanah keluar ke permukaan. “Apa sesuai dengan jalur titik rawan gempa atau tidak,” kata Prasetyadi.

Menurut dia kajian seperti ini bisa bermanfaat menambah variabel mengenai metode deteksi gempa bumi yang saat ini belum banyak mengamati dari kasus respon hewan. Pengamatan mendetail kemudian perlu dilakukan terhadap aktivitas lempeng dan sesar aktif di sekitar Bantul. “Kalau memang kasus cacing keluar dari tanah hanya di jalur rawan gempa, malah bisa jadi trigger untuk kajian ilmiah deteksi bencana,” dia menambahkan.

Meskipun demikian, dia berpendapat hipotesis cacing tanah bisa merespon pertanda gempa lemah. Alasan Prasetyadi, aktivitas lempeng di pusat gempa paling dangkal sekalipun biasanya ada di kedalaman hampir mencapai 10 atau belasan kilometer. “Sementara habitat cacing hanya beberapa meter atau centi meter saja di bawah permukaan tanah,” kata dia.

Daftar Kutukan Prasasti Nusantara Di Indonesia


Lord Minto yang berani membawa Prasasti Sangguran, entah kebetulan atau memang terkutuk, ternyata bernasib sial. Inilah keadaan rumah keluarga Lord Minto VII di Hawick, Roxburghshire, Skotlandia, sekarang. Rumah itu berjarak sekitar 650 meter dari kawasan padang golf yang luas dan dikelilingi perbukitan di perbatasan Inggris dan Skotlandia. Kondisi prasasti yang dibawa ke sana itu kini sangat memprihatinkan. Permukaannya tertutup lumut dan mengalami pelapukan karena harus menghadapi cuaca ekstrem Skotlandia tanpa pelindung dan perawatan sama sekali dari profesional.

Prasasti itu dapat sampai ke sana karena Letnan Gubernur Jenderal Jawa Sir Thomas Stamford Raffles. Saat berkuasa di sini, ia membawa prasasti tersebut dari Jawa Timur untuk dihadiahkan kepada atasannya, Gubernur Jenderal Lord Minto I—yang bernama lengkap Sir Gilbert Elliot-Murray-Kynynmound—di India. Maka Prasasti Sangguran dikenal juga dengan nama Batu Minto.

Pada Juni 1813, kapal Matilda yang membawa Batu Minto dari Surabaya melego jangkar di Pelabuhan Kolkata, India. Lord Minto sangat senang. Seperti terungkap dalam suratnya kepada Raffles, ia menyebut prasasti itu pesaing alas patung Peter yang Agung di St Petersburg, Rusia. Begitu senangnya sampai ia menyuruh agar batu asal Jawa itu diletakkan di kampung halamannya, di puncak bukit Minto Craigs, di sebelah utara Sungai Tevoit, Skotlandia.

Namun sebuah tragedi terjadi. Lord Minto tak pernah bisa melihat batu asal Sangguran itu di Skotlandia. Enam bulan setelah menerima batu itu, Lord Minto dicopot dari jabatannya sebagai gubernur jenderal tanpa diketahui sebab-musababnya. Dia pulang ke Inggris dalam keadaan tidak sehat. Ia wafat di Stevenage pada 21 Juni 1814 dalam perjalanan menuju Skotlandia. Letnan Gubernur Jenderal Jawa Sir Thomas Stamford Raffles, yang mengusung Prasasti Sangguran untuk dihadiahkan kepada Lord Minto, ternyata bernasib setali tiga uang.

Setelah pemberlakuan Konvensi London, Agustus 1814, ia ditarik pulang ke Inggris dan digantikan oleh John Fendall. Meski kembali ke Hindia Timur pada 1818 sebagai Gubernur Bengkulu, pada 1823 Raffles dipulangkan lagi. Ia meninggal sehari sebelum ulang tahunnya yang ke-45, 5 Juli 1826. Sampai sekarang, posisi pasti makamnya di Hendon, Inggris, tidak pernah bisa ditentukan.

Hal serupa terjadi pada Bupati Malang yang bertanggung jawab atas pemindahan tugu tapal batas Desa Sangguran itu, Kiai Tumenggung Kartanegara alias Kiai Ranggalawe. Ia diyakini mulai memerintah pada 1770 dan wafat pada 1820. Namun memori penduduk terhadap Kiai Ranggalawe seperti terhapus. Terbukti, keberadaan situs makam sang Bupati tidak pernah diketahui.

Apakah kematian Lord Minto, Raffles, dan Bupati Malang itu ada kaitannya dengan kutukan tugu tapal batas Desa Sangguran tersebut? Yang jelas, di lokasi situs Punden Sangguran (lebih-kurang 50 meter dari pinggir jalan alternatif Batu-Malang), kini berdiri pondok yang kayunya mulai lapuk. Bagi Dwi Cahyono, arkeolog dan dosen Jurusan Sejarah Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Malang, Prasasti Sangguran juga memuat pelbagai data lain yang, kendati fragmentaris, sangat penting.

“Prasasti itu, misalnya, bisa sebagai sumber informasi untuk mengetahui sejarah alutsista (alat utama sistem persenjataan) kita di masa lalu,” katanya. Prasasti Sangguran, menurut Dwi, menjadi satu-satunya prasasti di Pulau Jawa yang memberikan informasi adanya wilayah yang dihuni komunitas ahli pembuat logam. Dari prasasti itu didapat informasi bahwa Sangguran adalah desa yang dihuni para pandai besi. “Mereka dianggap berjasa karena telah membuatkan banyak persenjataan dan perkakas rumah tangga yang dibutuhkan kerajaan,” ujar Dwi.

Menurut Dwi Cahyono, arkeolog dan dosen Jurusan Sejarah Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Malang, pondok itu dibangun oleh komunitas penghayat kepercayaan saat kampanye pemilihan kepala daerah Kota Batu pada 2012. Mereka, kata Dwi, mengadakan nyadran dan ritual lain untuk menghormati Punden Sangguran atau Punden Mojorejo.

“Ada anggota parlemen Kota Batu yang rajin ke sana untuk bernazar,” ujar Dwi ketika menemani mengunjungi Punden Mojorejo. Setahu Dwi, banyak juga orang dari luar Malang, seperti Surabaya, Kediri, dan Tulungagung, mendatangi Punden Mojorejo mencari berkat di situ. Mereka biasanya membawa sesajen. Maka Pemerintah Kota Batu memutuskan membuat larangan pada papan pengumuman yang didirikan tepat di depan pondok. Inti larangan itu: siapa pun tidak boleh melanggar Pasal 15 Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1992 tentang benda cagar budaya.

“Punden ini mengarah ke timur, menghadap ke Gunung Wukir. Kalau dari posisi Gunung Wukir, Punden Mojorejo berada di sisi baratnya,” kata Dwi, 53 tahun. Menurut dia, dalam Pararaton, yakni kitab yang berisi kisah raja-raja penguasa Pulau Jawa yang ditulis pada 1613 Masehi, Gunung Wukir disebut dengan nama Rabut Jalu, gunung suci tempat orang bersemadi. Ahli epigrafi dari Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia, Hasan Djafar—yang menerjemahkan isi Prasasti Sangguran di atas—menjelaskan bahwa Desa Sangguran yang dijadikan sima adalah daerah suci yang tak boleh diganggu para patih, wahuta, dan petugas kerajaan, seperti petugas pemungut pajak.

Prasasti ini dibuat atas perintah Raja Mataram Sri Maharaja Rakai Pangkaja Dyah Wawa Sri Wijayalokanamottungga pada 850 Saka atau 928 Masehi. Ditulis dengan aksara Jawa kuno, bagian depan (recto) sebanyak 38 baris, bagian belakang (verso) 45 baris, dan samping (margin) kiri 15 baris. Bagian pembuka (manggala) ditulis dalam bahasa Sanskerta.

“Prasasti Sangguran sangat penting untuk merekonstruksi aspek masyarakat dan kebudayaan pada masa Kerajaan Mataram, sekitar awal abad ke-10,” tutur Hasan. Dalam sejarah Indonesia kuno, prasasti ini merupakan prasasti terakhir Kerajaan Mataram ketika pusat pemerintahan masih berkedudukan di Medang, Jawa Tengah—sebelum dipindahkan ke Tamwlang, Jawa Timur, oleh Sri Maharaja Rake Hino Dyah Sindok Sri Isanawikrama Dharmmotunggadewa. Prasasti ini juga menceritakan pergeseran kekuasaan di antara penguasa Kerajaan Mataram.

Dwi Cahyono, arkeolog di Malang, menduga ahli keris Mpu Gandring juga tinggal di Desa Sangguran. Ken Arok pun memesan keris kepada Mpu Gandring di Desa Sangguran. Berbekal keris itu, Ken Arok membunuh Tunggul Ametung dan memperluas pengaruh Tumapel, yang saat itu dikuasai Kerajaan Kediri, sampai ia menghancurkan Kerajaan Kediri dan mendirikan Kerajaan Singosari. Namun, jauh sebelum masa Ken Arok, kata Dwi, Desa Sangguran sudah dikenal Kerajaan Mataram sebagai desa pembuat senjata.

Karena Prasasti Sangguran amat penting, menurut para arkeolog, seharusnya dikembalikan ke Indonesia. Upaya pemulangan Batu Minto itu, kata Peter Carey—sejarawan asal Inggris, pernah digagas Nigel Bullough, Indonesianis asal Inggris yang memiliki nama Jawa Hadi Sidomulyo. Menurut Carey, dia tahu bahwa Bullough melakukan negosiasi pemulangan Prasasti Sangguran sejak 2003.

“Jauh sebelum saya ke sini, Nigel Bullough sudah punya niat bernegosiasi dengan keluarga Lord Minto,” kata Carey . Bullough, yang ditemui di Universitas Surabaya Training Center di Desa Tamiajeng, Kecamatan Trawas, Kabupaten Mojokerto, akhir Maret lalu, menolak memberikan komentar ihwal proses negosiasi pengembalian Prasasti Sangguran dengan keluarga Lord Minto itu. “Case closed. Saya tidak mau bercerita apa pun soal Batu Minto,” ujar Bullough.

Ada nada kekecewaan dalam ekspresi Bullough. Dia sendiri pernah secara rinci membuat laporan mengenai proses negosiasi tim Departemen Kebudayaan dan Pariwisata dengan Lord Minto VII. Laporan yang bersifat rahasia itu dikirimkan Bullough kepada Carey pada 2011 ketika ada rencana membuat acara peringatan 200 tahun Raffles. Laporan itu kemudian tersebar luas.

Dari laporan tersebut terungkap bahwa Bullough mengenal Lord Minto VII dan lantas mengirim surat elektronik yang menjelaskan betapa bernilainya obyek yang diwariskan pendulunya itu, dan memintanya memberikan pertimbangan yang serius atas masa depan benda tersebut. Dijelaskan dalam surat itu bahwa Batu Minto merupakan benda cagar budaya yang dipindahkan dari tempatnya di Indonesia lebih dari 200 tahun lalu. Kehilangan itu sangat disesalkan dan pengembaliannya begitu diharapkan.

Korespondensi berlanjut hingga membuahkan pertemuan. Tim arkeolog dari Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata, yang terdiri atas Sekretaris Direktur Jenderal Sejarah dan Purbakala Sri Rahayu Budiarti, Direktur Peninggalan Sejarah dan Purbakala Soeroso, Kepala Balai Konservasi Peninggalan Borobudur Dukut A. Santoso, dan Nigel Bullough dari Yayasan Nandiswara, berangkat menyambangi batu prasasti itu pada 19 Februari 2006 saat musim semi. Mereka bertemu dengan Lord Minto VII di Kedutaan Besar Republik Indonesia untuk Kerajaan Inggris di London.

Hari Untoro Drajat, yang menjabat Direktur Jenderal Sejarah dan Purbakala ketika itu, membenarkan kabar bahwa pihaknya membentuk tim. Menurut Hari, ia mendapat laporan tentang keberadaan Prasasti Sangguran itu dari Bullough. “Saya minta Kepala Balai Konservasi Peninggalan Borobudur, Pak Dukut, ikut serta untuk melihat kemungkinan mengangkut prasasti itu,” ujarnya.

Mantan Direktur Peninggalan Sejarah dan Purbakala Soeroso masih mengingat jelas keberangkatan mereka ke London. “Kami ke sana untuk memastikan apa yang disampaikan Pak Nigel Bullough, yang sudah lama melakukan pendekatan, dan apakah Lord Minto VII bersedia mengembalikan,” katanya.

Menurut Soeroso, dalam pertemuan di KBRI pada siang hari 21 Februari 2006 itu, Lord Minto VII menyatakan tak berkeberatan melepas prasasti tersebut. Namun ia mengingatkan perlunya persetujuan dewan pengawas (trustees), yang bertanggung jawab atas pengelolaan aset yang dimilikinya. Berdasarkan konsultasi dengan beberapa pihak, termasuk British Museum dan Victoria and Albert Museum,Lord Minto VII menginginkan kompensasi atas Prasasti Sangguran yang dimilikinya.

Singkatnya, pengembalian itu tidak gratis. Hari Untoro menegaskan, sejak awal, tim yang diberangkatkannya disiapkan untuk tidak membayar atau memberikan kompensasi. Alasannya, jika membayar kompensasi, itu berarti mereka mengakui barang tersebut milik si pemegang prasasti. Hari juga mengatakan pemerintah menyiapkan skenario. Bila Lord Minto VII mau mengembalikan prasasti tersebut secara cuma-cuma, pemerintah melalui Duta Besar Indonesia untuk Inggris saat itu, Marty Natalegawa, akan memberikan penghargaan kepadanya. Juga biaya akomodasi di Indonesia jika bangsawan itu ingin melihat tempat untuk meletakkan prasasti tersebut. “Itu kami juga siap,” ujar Hari.

Tapi Lord Minto VII menolak. Karena itu, diupayakan jalan lain melalui pendekatan personal. Pemerintah, kata Hari, lalu meminta bantuan Hashim Djojohadikusumo, pengusaha yang punya hobi mengoleksi benda kuno. “Kami memang minta bantuan beliau mendekati Lord Minto lagi. Karena Minto tetap minta kompensasi, ya, tidak negosiasi lagi,” ujar Hari. Hashim, kata Hari, juga siap membantu ongkos pemulangan dan konservasi prasasti itu.

Menurut Peter Carey, Lord Minto VII banyak mendapat bisikan orang di sekelilingnya tentang harga prasasti bila diukur dengan harga lelang. “Mula-mula prasasti itu ditawarkan 50-70 ribu pound sterling,” ujarnya. Kemudian harga penawarannya berubah karena para pembisik Lord Minto VII menyebutkan, jika dilempar ke pasar lelang Amerika, prasasti itu bisa bernilai US$ 500 ribu. “Bisikan ini membuat Minto merasa akan ditipu jika melepasnya dengan nilai 50 ribu pound sterling,” kata Carey.

Pribadi Sutiono, mantan Kepala Fungsi Penerangan KBRI London, membenarkan, pada awalnya Lord Minto tidak minta apa-apa, tapi kemudian berubah karena hartanya dalam penguasaan family trustees. “KBRI berkeberatan memberikan kompensasi, karena itu warisan nasional kita,” ujarnya. Pribadi mengatakan KBRI menghentikan negosiasi pada 2006. Soal negosiasi yang dilakukan pengusaha Hashim setelah itu, Pribadi mengatakan tak mengetahuinya. KBRI dan Departemen Luar Negeri tidak pernah diajak berunding lagi. “Seutuhnya itu antara keluarga Lord Minto dan tim Pak Hari karena KBRI sudah kadung mutung dengan negosiasi kompensasi.”

Direktur Jenderal Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Kacung Marijan mengaku mengetahui perihal Batu Minto dan pengiriman tim negosiasi ke Skotlandia. Tapi dia mengatakan belum membaca laporannya. “Mereka minta dibayar mahal, tapi saya tidak tahu berapa banyak,” ujarnya. Dia juga mengatakan upaya membawa pulang prasasti itu harus tetap melalui jalur diplomasi negara. Jika ada pihak swasta atau pribadi yang akan membantu, Kacung mempersilakan, “Asalkan (prasasti tersebut) tidak dimiliki oleh pribadi itu.