Monthly Archives: Januari 2014

Obssesive Corbuzier’s Diet Diisukan Menyebabkan Kelumpuhan


Mentalis Deddy Corbuzier membantah isu diet Obsessive Corbuzier’s Diet atau OCD yang dipopulerkannya beberapa waktu terakhir mengakibatkan kelumpuhan. Deddy Corbuzier mengalami insiden pada akhir pekan lalu saat sedang berada di sebuah pusat kebugaran. Dia sempat pingsan setelah bagian punggung hingga kaki kirinya memanas.

Deddy masih tampil dalam acara The Next Mentalist, Ahad, 26 Januari 2014, dengan kursi roda. Ia menyayangkan fotonya ketika pingsan disebarkan di dunia maya. Deddy lalu menjelaskan perihal sakitnya. Setelah itu, muncul isu Deddy lumpuh akibat OCD. “Hal bodoh oleh orang bodoh yang hanya bisa mengatakan kebodohan,” kata dia dalam akun Facebook-nya. “Otot saya masih bekerja karena sangat kuat yg dibantu oleh OCD.”

Dia menambahkan pada bagian akhir tulisannya ini bahwa dirinya berharap bisa kembali berjalan pada pekan ini atau pekan berikutnya. “And if i can then i will try again and again till it works! Problems come, TRY ME!”

Menurut Deddy, dirinya membutuhkan istirahat di rumah sakit selama sepekan dan belajar berjalan setelah dua bulan. Punggungnya sempat mendapat suntikan delapan kali untuk menghilangkan rasa sakit.

Dia berharap bisa menjadi lebih relaks dan kembali berjalan tanpa operasi. “Thanks doc for trying ur best!” dia melanjutkan. “So now im on a wheel chair. All hurt.” Deddy telah mencoba berjalan menggunakan bantuan tongkat.

Pada hari kedua, Deddy mencoba melepaskan tongkat dan sempat jatuh beberapa kali. “Goal saya tanpa operasi minggu depan saya berdiri lagi di atas kaki saya berjalan lagi dan say hi to you all,” katanya. Dia berharap insiden ini tidak terulang karena bisa menyebabkan kelumpuhan. Mentalis Deddy Corbuzier mengalami insiden pada akhir pekan lalu saat sedang berada di sebuah pusat kebugaran. Dia sempat pingsan setelah bagian punggung hingga kaki kirinya memanas. Akhirnya, dia tampil dalam acara The Next Mentalist, Ahad, 26 Januari 2014, dalam keadaan duduk di kursi roda.

Insiden di pusat kebugaran memunculkan isu Deddy mengalami kelumpuhan akibat diet OCD (Obssesive Corbuzier’s Diet) terlalu berlebih. Dari hasil pemeriksaan itu diketahui bahwa saraf tulang punggung Deddy terjepit oleh tulang ekornya akibat kecelakaan beberapa tahun lalu. Deddy membantah OCD mengakibatkan kelumpuhan.

Dokter spesialis olahraga, Michael Triangto, mengatakan penyebab seseorang melakukan pemeriksaan Lumbosacral adalah kesalahan yang terjadi pada bagian tulang belakang. Keadaan ini terjadi karena ada tekanan yang terlalu besar pada bagian tulang belakang, khususnya pinggang. Dalam kasus Deddy, kecelakaan ditambah beban olahraga yang terlalu berat memicu kondisi tulang belakangnya yang sudah salah semakin parah.

“Salah satu penyebab biasanya berupa gerakan angkat beban berlebih dan bertumpu di pinggang, akhirnya menekan otot yang kemudian menekan saraf,” kata Michael saat dihubungi melalui sambungan telepon, Rabu, 29 Januari 2014.

Diet OCD yang dilakukan Deddy juga bukan penyebab utama kelumpuhannya. OCD, menurut Michael, hanyalah pencetus. “Jadi tubuh sudah stres ditambah angkat beban yang berlebih dan diet yang berlebih juga, tapi bukan OCD penyebabnya, itu hanya pencetus,” katanya.

Pesulap Deddy Corbuzier mengunggah foto tokoh Profesor Charles Xavier dari film populer X-Men dan foto dirinya, yang sama-sama duduk di kursi roda pada sekitar pukul tujuh malam kemarin. Dua foto berbeda ini digabung, lalu diberi komentar tertulis dengan huruf kapital semua pada foto di akun @corbuzier.

“Profesor Charles Xavies, saya siap menggantikan posisi Anda,” begitu tertulis pada bagian foto Deddy. Lalu pada bagian foto Xavier ada tulisan, “Lanjutkan Master.” Keduanya tertulis dalam bahasa Inggris. Deddy lalu mencuit sambil tertawa, “Hahaha ini lucu,” kata dia kembali dalam bahasa Inggris.

Deddy Corbuzier menggunakan kursi roda setelah mengalami insiden ketika sedang berada di sebuah pusat latihan gymnasium pada Ahad, 29 Januari 2013 lalu. Dia mengaku sempat pingsan setelah mengalami tubuh yang memanas pada bagian punggung hingga kaki kirinya. “Saat terbangun, seluruh badan saya kejang dan bergetar kencang,” kata dia bercerita pada akun Facebooknya, yang diunggah kemarin. Saat itu para pengunjung gymnasium telah mengerumuninya.

Dia mengaku mengalami kesulitan bernafas dan sempat tidak bisa melihat meskipun matanya terbuka. Mulutnya lalu bergerak miring ke kiri seperti mengalami gejala stroke. Seorang dokter yang juga anggota gymnasium itu lalu memintanya agar terus berbicara agar tidak tertidur. Menurut Deddy, jika dia tertidur, maka dia tidak akan bisa bangun lagi alias koma.

Pengunjung gymnasium lalu membawanya ke sebuah rumah sakit untuk diobati. Dia mendapat suntikan morfin untuk menghentikan kejang dan pemindaian. Berdasarkan hasil pemeriksaan, ternyata apa yang dialaminya diakibatkan trauma kecelakaan sekitar lima tahun lalu. “Kecelakaan itu menyebabkan tulang ekor saya menjepit syaraf-syaraf di punggung saya,” kata dia. “Hingga saya mengalami kelumpuhan di punggung dan kaki saat itu.”

Iklan

Untung Rugi Membangun Rumah Dengan Sistem Upah Harian dan Borongan


Saat membangun rumah, orang tentu memerlukan tenaga tukang. Namun, seringkali kita kesulitan cara memilih tukang, termasuk menghitung biayanya. Menggunakan tukang perlu kecermatan agar hasilnya memuaskan dan biaya yang dikeluarkan tidak membengkak. Jika tukang yang digunakan sudah dikenal, memilihnya tentu bukan pekerjaan sulit.

Ada dua macam upah yang perlu diterapkan dalam membayar tukang, yakni sistem harian dan borongan. Masing-masing memiliki kelebihan dan kelemahan, simak berikut ini:

Sistem harian

Sistem harian memiliki kelebihan, yaitu tukang harus bekerja terus tanpa ada kesempatan menganggur. Untuk mengefisienkan pekerjaan tukang, Anda harus menyiapkan terlebih dahulu material serta gambar teknik yang menerangkan apa saja yang perlu diganti, dirobohkan dan dibangun.

Sisi positif lainnya, jika pekerjaan tukang dalam dua hari tidak memuaskan, Anda bisa langsung menghentikan pekerjaannya dan mengganti dengan tukang lain. Ini bisa langsung Anda lakukan tanpa harus menunggu hingga pekerjaan selesai.

Namun, sistem ini juga ada kekurangannya. Anda harus terus menerus mengawasi kerja tukang. Jika tidak diawasi, bukan tidak mungkin mereka tidak bekerja karena semakin lama proyek waktu yang dibutuhkan untuk mengerjakan proyek, maka semakin banyak upah yang akan mereka terima.

Dilihat dari cara dan biayanya, sistem harian ini lebih tepat jika Anda pakai untuk renovasi dengan volume pekerjaan kecil, seperti mengganti letak pintu, keramik lantai, atau mengecat dengan ukuran kecil. Selain itu, akan lebih tepat jika Anda mempunyai waktu yang cukup banyak untuk mengawasi pekerjaan.

Sistem borongan

Pada sistem borongan setidaknya terdapat dua pola, borongan upah tenaga dan borongan secara keseluruhan. Perbedaannya, pada sistem borongan upah tenaga, Anda hanya membayar upah tukang saja. Adapun materialnya tetap Anda siapkan sendiri.

Ini berbeda dengan pola borongan keseluruhan, karena biaya atau upah tenaga dan bahan (material) diserahkan kepada tukang atau mandor. Jika Anda akan menggunakan sistem borongan, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan agar kerja tukang bisa lebih esien.

Untuk memakai sistem ini, ada baiknya Anda menyiapkan gambar kerja berikut spesifkasi pekerjaan yang direncanakan. Meski menyerahkan pekerjaan kepada tukang, Anda harus turut mengawasi hasil pekerjaannya. Hal ini mengingat tukang yang dibayar borongan biasanya ingin buru-buru selesai tanpa memperhatikan kualitas pekerjaaannya.

Dilihat dari sisi harga, biaya borongan pola upah lebih murah daripada sistem borongan utuh. Besar biaya keduanya tergantung dari luasan bangunan yang dibangun.

Ikan Purba Kancra Bodas Hanya Bisa Hidup Di Kolam Cibulan Kuningan


SEMILIR angin berembus sejuk menerpa pepohonan besar yang tumbuh di sekeliling mata air Cibulan di kaki Gunung Ciremai, Jawa Barat. Sejumlah wisatawan asyik berenang di kolam, bercengkerama dengan ikan-ikan langka bersisik besar yang bentuknya panjang mirip perpaduan ikan mas dan ikan arwana. Sebuah harmoni yang terpadu.

Itulah sekilas suasana keseharian kolam ikan dan Sumur Tujuh Cibulan, Desa Manis Kidul, Kecamatan Jalaksana, Kabupaten Kuningan, Jabar. Warga setempat menamai hewan keramat yang hidup di air bening itu sebagai ”ikan dewa” atau ikan kancra bodas dalam bahasa setempat.

Ikan-ikan dewa yang suka bergerombol itu sudah ada sejak ratusan tahun lalu di kolam Cibulan. Perkembangbiakannya lambat, tetapi tingkat kematiannya rendah. ”Setiap tahun ikan itu ada yang mati, satu atau dua,” ujar Iman Sariman (31), juru kunci atau kuncen Sumur Tujuh Cibulan.

Dari penelitian Pusat Penelitian dan Pengembangan Limonologi LIPI, ikan yang beratnya 1 kilogram hingga 15 kilogram dan panjangnya bisa sampai 75 sentimeter itu merupakan ikan asli Kuningan. Menurut penuturan Slamet Riyadi, karyawan senior Dinas Pariwisata Kabupaten Kuningan, dan beberapa penduduk, rombongan ikan purba (Labeobarbus doumensis) itu hanya hidup di kolam Cibulan, Cigugur, Pasawahan, Linggarjati, dan Darmaloka.

Kelima kolam itu terletak di kaki Gunung Ciremai, mulai dari lereng utara (Pasawahan) yang melengkung seperti bulan sabit hingga lereng tenggara (Cigugur) dan lereng selatan (Darmaloka). Di ujung lengkungan itu terletak kolam keramat Cibulan. ”Jangankan di tempat yang jauh, di kolam di bawah kelima kolam itu, dengan air yang berasal dari kolam ini, ikan-ikan itu tidak bisa hidup,” ujar Slamet Riyadi. LIPI menamakan hewan air itu ikan tambra.

Berdasarkan karakteristiknya, ikan dewa itu baru hidup di sumber air yang jernih, bersih, dan mengalir secara terus-menerus. Mata air jenis ini hanya bisa timbul jika lingkungan hutannya lestari dan pepohonan lebat.

Sejarah karuhun

Bagi warga di Cibulan, keberadaan ikan dewa terkait dengan kisah Ki Gede Padara, yang oleh warga disebut Ki Gedeng Padara, seorang petapa sakti, leluhur (karuhun) desa.

Alkisah Cigugur yang terletak 3 kilometer di atas Kota Kuningan pada sekitar tahun 1430 bernama Dusun Padara. Kala itu, warga setempat memerlukan sumber air. Ki Gede lalu bersemadi seraya menancapkan sebilah keris di sebuah kaki bukit yang masih hijau di Gunung Ciremai.

Saat itu, ada suara bergemuruh seperti tanah berguguran, yang kemudian dinamakan Cigugur. Dari bawah akar pohon kemudian keluar air, yang selanjutnya ditampung dalam sebuah kolam dan terus ke hilir dusun. Ki Gede lalu menangkap ikan kancra bodas dari tiga sungai, yakni Sungai Cilutung di Majalengka, Sungai Cisanggarung di Kuningan, dan Sungai Cijolang di perbatasan Jawa Barat-Jawa Tengah sekarang. Ikan tersebut kemudian dimasukkan ke kolam Cigugur.

Waktu itu, ketiga sungai berair sangat jernih karena hutan-hutan di sekitarnya masih utuh. Karena kondisi lingkungan jernih dan sama dengan air yang keluar dari bukit Cigugur, ikan-ikan itu hidup dan berkembang biak.

Ki Gede lalu berpesan kepada warganya agar tak mengganggu ikan-ikan tersebut untuk kehidupan anak cucu mereka. Ki Gede, menurut cerita masyarakat Cigugur, adalah seorang wiku atau orang sakti. Karena kesaktiannya, bagian tubuh dalamnya bisa dilihat dari luar. Slamet Riyadi memperkirakan, Ki Gede Padara adalah tokoh Sunda Wiwitan Cigugur.

Di usia tuanya, Ki Gede jatuh sakit dan menyatakan diri ingin meninggal seperti manusia biasa. Berita itu sampai kepada Syekh Maulana Syarif Hidayatulah atau Sunan Gunung Jati di Cirebon.

Sunan Gunung Jati pun kaget melihat beningnya tubuh si sakti. Namun, ia menyanggupi keinginan Ki Gede. Karuhun Cigugur yang memiliki ilmu kehalusan budi itu menuruti apa yang disarankan Sunan Gunung Jati mengucapkan dua kalimat syahadat. Namun, baru satu kali Ki Gede mengucapkan, tubuhnya menghilang atau kata penduduk Cigugur, ngahiang atau tilem.

Masa itu, Islam tengah disebarkan oleh para wali yang berpusat di Cirebon. Sesampainya di Kuningan, para wali menemukan sumber mata air di Cibulan, 10 kilometer arah utara Cigugur. Para wali lalu menanamai ikan di kolam Cibulan ikan kancra bodas. Sunan Gunung Jati diperkirakan membawa ikan itu ke Cibulan setelah ikan-ikan itu berkembang biak di Cigugur.

Konservasi

Ki Gede Padara adalah pemimpin yang visioner dan punya kelebihan melihat masa depan. Ia menitipkan ikan kancra bodas agar terus dipelihara dan tidak dimakan karena ikan ini tidak cocok untuk konsumsi manusia. ”Kalau digoreng tak mau kering, banyak keluar lemak dan dagingnya tak enak,” ungkap Slamet.

Kehidupan ikan menjadi indikator bahwa sumber air masih bersih, tidak tercemar, dan hutannya lestari. Karena itu, konservasi di Gunung Ciremai harus terus dilakukan keturunannya agar ikan-ikan itu tetap hidup dan berkembang biak.

Binatang Yang Hidup Dipulau Kecil Lebih Jinak


Mungkin kita pernah menyaksikan beragam foto atau video tentang hewan-hewan jinak di Kepulauan Galapagos, Samudera Pasifik. Sebuah tempat yang pernah dijadikan Charles Darwin dalam menggagas teori revolusi.

Teori revolusi yang digagas Darwin meyakini suatu organisme akan mengalami perubahan struktur, fungsi dan perilaku dalam keadaan lingkungan berbeda. Setelah 150 tahun penelitian Darwin, tim peneliti dari Universitas California Riverside, Univesitas Indiana, Universitas Purdue, serta Universitas Fort Wayne and George Washington, mempublikasi sebuah studi yang menunjukkan bahwa kadal pulau lebih jinak ketimbang kadal darat.

“Studi yang kami lakukan mengkonfirmasi observasi Darwin dan sejumlah anekdot tentang kejinakan hewan pulau,” kata Theodore Garland, professor biologi dari Universitas California Riverside seperti dikutip dari laman sciencedaily.com.

“Pandangan Darwin sekali lagi terbukti benar dan tetap menjadi sumber penting serta inspirasi bagi peneliti biologi saat ini,” kata dia. Studi yang dilakukan Garland dan koleganya dapat dilihat melalui dunia maya dalam situs Proceedings of the Royal Society B.

Mereka juga akan mempublikasikan studinya dalam sebuah jurnal bulan depan.

Dalam penelitiannya itu para peneliti menganalisa spesies kadal pulau dan kadal darat dari lima benua baik di atlantik, lautan pasifik, serta Laut Karibia dan Mediterania. Hasil penelitian mereka menunjukkan bahwa teori hewan pulau lebih jinak memang benar.

Semakin jauh pulau itu dari daratan, maka kadal semakin jinak dan mudah didekati.”Teori Darwin tentang kecilnya kemungkinan organisme melarikan diri saat berada di pulau, terjadi pula terhadap kadal yang tersebar di benua dan kepulauan,” ujar Garland.

Menurut dia, respon hewan melarikan diri berkurang di dalam pulau, karena langkanya pemangsa di sana.

Planet Ceres Semburkan Air Secara Rutin


Planet kerdil Ceres, salah satu objek paling menarik dalam tata surya, menyemburkan uap air dari permukaannya yang berselimut es, demikian menurut hasil penelitian yang dipublikasikan di jurnal Nature. Menggunakan teleskop inframerah Herschel milik Badan Antariksa Eropa (European Space Agency/ESA), para peneliti melihat semburan uap air secara periodik dari Ceres, obyek terbesar dalam sabuk asteroid yang ada di antara orbit Mars dan Jupiter.

Temuan itu datang hanya setahun sebelum pesawat antariksa Dawn milik Badan Antariksa Amerika Serikat (NASA) dijadwalkan melihat lebih dekat ke Ceres, benda bulat dengan diameter sekitar 590 mil atau kurang dari sepertiga ukuran bulan. “Ini untuk pertama kalinya terdeteksi dengan jelas di Ceres atau objek dalam sabuk asteroid lain dan memberikan bukti bahwa Ceres punya permukaan ber-es dan atmosfer,” kata Michael Küppers dari ESA di Spanyol, yang memimpin penelitian tersebut.

Pertanyaannya adalah apakah yang menyebabkan semburan uap air dari dua lokasi di Ceres. Salah satu idenya, menurut para peneliti, adalah bahwa matahari kadang cukup menghangatkan bagian permukaannya yang ber-es sehingga uap air muncul. Kemungkinan lainnya, kata mereka, adalah bahwa ada air cair di bawah permukaan beku Ceres dan uap itu adalah muntahan geiser atau gunung api es.

Para ilmuwan menduga Ceres mengandung batu di bagian dalamnya dan terbungkus dengan mantel es, yang jika meleleh jumlahnya akan lebih banyak air dibandingkan jumlah air yang ada di Bumi. Ceres ditemukan tahun 1801, lebih dari satu abad sebelum penemuan planet paling kecil dan paling jauh, Pluto, pada 1930. Planet kerdil itu merupakan satu dari sedikit tempat di tata surya yang memiliki air selain Bumi.

Satu pertanyaan besar tentang penemuan uap air di Ceres adalah apakah itu berarti ada peluang untuk kehidupan. “Salah satu hal yang menarik di sini adalah kemungkinan adanya air cair selain es,” kata Marc Rayman dari Laboratorium Propulsi Jet NASA. “Pastinya semua kehidupan yang kita tahu bergantung pada air. Dan dengan demikian ini adalah bagian dari pertanyaan besar tentang dimana kehidupan bisa ada,” kata direktur misi dan perekayasa Dawn itu dalam wawancara lewat telepon dengan kantor berita Reuters.

Ia mengatakan, masih terlalu dini untuk menyatakan bahwa Ceres adalah kandidat tempat yang kuat untuk kehidupan mikrobia. “Kalau menurut saya ini lebih menunjukkan bahwa Ceres mungkin satu tempat yang baik untuk mencari tahu dan lebih memahami tentang tempat-tempat kehidupan bisa terbentuk–dan mungkin tempat-tempat terbentuknya kehidupan,” jelasnya.

“Ada jauh lebih banyak hal dari air yang dibutuhkan untuk kehidupan. Dan apakah Ceres memiliki bahan-bahan itu–yang mencakup antara lain sumber energi dan semua nutrisi yang dibutuhkan kehidupan, bahan kimia lain. Itu terlalu dini untuk dikatakan,” katanya.

Rayman mengatakan para ilmuwan berencana menggunakan peralatan di pesawat Dawn untuk memetakan permukaan Ceres, mengukur ketinggian permukaan, membuat katalog kandungan mineral dan mempelajari struktur interior Ceres.

Dawn dijadwalkan tiba di Ceres pada Maret atau April 2015.

Universitas Negeri Yogyakarta Temukan Deodorant Anti Bakteri Dari Daun Beluntas


Tim mahasiswa Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Negeri Yogyakarta memanfaatkan ekstrak pucuk daun beluntas sebagai bahan baku pembuatan deodorant spray antibakteri. “Pembuatan deodorant spray itu dilakukan dengan cara mencampur ekstrak pucuk daun beluntas (Pluchea indica (L) less) pada berbagai konsentrasi dengan alkohol dan akuades,” kata koordinator tim mahasiswa Anita Ekantini di Yogyakarta, Minggu.

Menurut dia, dalam daun beluntas terkandung senyawa fitokimia yakni senyawa tanin, fenol, flavonoid, sterol, dan alkaloid yang berpotensi sebagai sumber antioksidan dan antibakteri. Pembuatan ekstrak pucuk daun beluntas, kata dia, dilakukan dengan cara paling sederhana, yakni menghaluskan pucuk daun beluntas dengan blender kemudian memeras dan menyaringnya.

“Dengan metode itu didapatkan hasil ekstrak pucuk daun beluntas yang berwarna hijau tua. Untuk menghilangkan warna hijau, kami menggunakan norit (arang aktif) sebagai penyerap zat warna,” katanya. Ia mengatakan norit tiga gram dicampurkan dengan ekstrak pucuk daun beluntas sebanyak 100 mililiter. Dari penyampuran itu didapatkan cairan yang berwarna hitam.

“Campuran itu dimasukkan ke dalam botol dan kemudian didiamkan selama 12 jam. Campuran antara ekstrak pucuk daun beluntas dan norit disaring dengan kertas saring,” katanya. Menurut dia, tujuan dari penyaringan itu adalah untuk memisahkan antara norit dengan ekstrak pucuk daun beluntas. Penyaringan itu dilakukan tiga kali untuk mendapatkan ekstrak pucuk daun beluntas yang jernih.

“Setelah didapatkan sari dari pucuk daun beluntas, kemudian dibuat ekstrak dengan berbagai konsentrasi yakni 100 persen, 75 persen, 50 persen, dan 25 persen,” katanya. Ia mengatakan pembuatan varian konsentrasi dari ekstrak pucuk daun beluntas itu dengan cara mengencerkan ekstrak pucuk daun beluntas konsentrasi 100 persen dengan akuades.

“Berdasarkan hasil pengujian aktivitas antibakteri dalam ekstrak pucuk daun beluntas terhadap bakteri Staphylococcus epidermidis diketahui bahwa konsentrasi ekstrak yang paling efektif untuk membunuh bakteri Staphylococcus epidermidis adalah konsentrasi 100 persen,” katanya.

Anggota tim mahasiswa Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (MIPA) Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) itu adalah Indarti, Sri Kusyani, Chandra Dewi Puspitasari, dan Yuli Subekti.

Setelah Gempa Kebumen Zona Selatan Menjadi Aktif dan Berpotensi Tsunami


Gempa yang mengguncang Kebumen, Jawa Tengah, kemarin bisa memicu lindu lebih dahsyat yang berpotensi tsunami. “Lokasi gempa ini daerah baru. Ribuan tahun lalu merupakan zona aktif, sudah tidur sekian lama,” kata Kepala Bidang Mitigasi Bencana Geologi pada Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi, Gede Suantika, kepada Tempo kemarin.

Dalam situasi tidur lama, menurut Suantika, ia menyimpan energi yang bisa melepaskan gempa bermagnitudo lebih besar. “Bisa aja patahan aktif itu melalui Kuningan, Cilacap, Bumiayu, dan daerah Pantai Selatan, lalu menyebabkan zona itu teraktivasi kembali,” ujarnya.

Apalagi, gempa kemarin berada di subduksi atau pertemuan dua lempeng, yakni Indo-Australia dan Eurasia. “Gempa yang terjadi di zona ini biasanya berkekuatan besar dan bisa dirasakan sampai jauh,” ujarnya.

Lindu berkekuatan 6,5 pada skala Richter kemarin berpusat di koordinat 8 derajat Lintang Selatan dan 109,2 derajat Bujur Timur. Pusat gempa berada di kedalaman 80 kilometer dari permukaan dasar laut.

Pakar gempa dari Geoteknologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Bandung, Danny Hilman, berpandangan sama dengan Suantika. “Dari analisis tektonik, masih ada potensi energi besar yang bisa lepas karena sudah lama belum ada gempa besar,” katanya. “Kekuatannya bisa sampai 9 skala Richter. Tapi kapan dan di mana, tidak bisa diprediksi,” ujarnya.

Secara terpisah, Kepala Pusat Gempa Bumi dan Tsunami Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika, Suhardjono, menjelaskan, setelah gempa pertama pada pukul 12.14 WIB, seismograf telah mencatat ada lima hingga enam kali gempa susulan hingga sekitar pukul 16.30. Namun gempa susulan ini tak terasa karena berkekuatan di bawah 5 pada skala Richter.(baca:Mengapa Gempa Kebumen Tak Berpotensi Tsunami?)
“Kalau di mesin, terlihat. Tapi di daratan tidak terasa,” ujarnya.

Suhardjono juga mengatakan, posisi Indonesia yang berada di pertemuan lempeng Indo-Australia dengan lempeng Eurasia membuat wilayah ini rentan terhadap gempa bumi. “Pertemuan lempeng itu dari barat Sumatera sampai Selat Sunda, belok kiri sampai NTT, masuk ke Laut Banda. Daerah-daerah ini yang menjadi titik-titik potensi gempa.”