Monthly Archives: September 2010

Indonesia Bersama GE Bekerja Sama Memanfaatkan Energi Angin


Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi menyepakati kerja sama pengembangan energi terbarukan bersama perusahaan internasional GE. Kerja sama itu di antaranya target memproduksi listrik dengan sumber energi angin yang mencapai 80 megawatt.

”Saat ini pelaksanaan kerja sama sudah disepakati selama tiga tahun. Kemungkinan nantinya terus diperpanjang,” kata Kepala Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) Marzan Azis Iskandar, Rabu (29/9), dalam konferensi pers setelah penandatanganan nota kesepahaman dengan GE di Jakarta.

Marzan didampingi Direktur GE Power & Water Indonesia Gatot Prawiro dan President GE Energy Asia Pasific Kenji Uenishi. Menurut Marzan, realisasi anggaran untuk pengembangan energi terbarukan sekarang ini sedang diupayakan melalui program hibah bersaing dari lembaga keuangan Global Environment Facility (GEF).

Gatot Prawiro mengatakan, teknologi pembangkit listrik tenaga angin cukup efektif dengan didukung produksi turbin angin berkapasitas 1 megawatt hingga 1,5 megawatt. Lokasi yang diprioritaskan yaitu wilayah Indonesia bagian timur.

”Kerja sama juga mencakup peningkatan kualitas sumber energi batu bara dengan teknologi yang lebih bersih, yaitu dengan menghasilkan gas sintetis dari batu bara,” kata Gatot.

Menurut Gatot, GE telah mengukur potensi energi angin untuk pembangkit listrik di Indonesia. Melalui nota kesepahaman dengan BPPT, diharapkan menjadi pemercepat realisasinya yang ditargetkan mencapai 80 megawatt.

Perusahaan GE juga menjadi salah satu pelopor dalam pengembangan daur gasifikasi batu bara yang terintegrasi. Pengembangan teknologi itu menghasilkan gas batu bara, dikenal sebagai syngas atau gas sintetis batu bara.

Deputi Bidang Teknologi Informasi, Energi, dan Material BPPT Unggul Priyanto mengatakan, pengembangan energi terbarukan mutlak dilakukan. Saat ini potensi geotermal atau panas bumi menjadi energi terbarukan yang juga harus diprioritaskan.

Dari potensi 28.000 megawatt dari panas bumi yang ada di Indonesia, instalasi terpasang masih di bawah 4 persen, yaitu 1.118 megawatt. Menurut Unggul, geotermal paling menjanjikan. Selain itu, potensi energi matahari dengan sumber daya tak terbatas juga patut dikembangkan.

Permukaan Bumi Semakin Cepat Bergeser Ke Arah Kutub Utara


Permukaan bumi bergerak secara perlahan ke arah kutub utara sebesar 0,035 inci atau 0,88 milimeter setiap tahun diukur dari pusat massa bumi. Pergeseran itu diketahui dari perubahan massa air di seluruh bumi digabungkan dengan faktor post-glacial rebound atau saat permukaan bumi naik akibat tertekan massa yang berat dari lapisan es atau glasier pada akhir zaman es.

Saat lapisan es itu turun, permukaan tanah di bawahnya justru naik secara berkelanjutan. Dari pemodelan diketahui, pergerakan akan terjadi ke arah kutub utara terhadap pusat massa bumi. Pergeseran itu lebih besar dari perkiraan ilmuwan sebelumnya.

Peneliti Laboratorium Jet Propulsi NASA, Xiaoping Wu, di Pasadena, California, Senin (27/9), mengatakan, pemodelan yang dilakukan sebelumnya memperkirakan pergerakan itu hanya mencapai 0,019 inci atau 0,48 milimeter per tahunnya.

Cepatnya pergerakan itu diduga disebabkan oleh mencairnya lapisan es Laurentide yang menyelimuti wilayah Kanada dan bagian utara Amerika Serikat pada zaman es.

Cara Mencegah Ledakan Pada Tabung Gas Elpiji 3 Kg Pertamina


Ledakan gas petroleum cair yang marak terjadi akibat kebocoran dari sistem kompor gas elpiji mendorong upaya pencegahannya. Salah satunya dengan memasang sistem detektor gas dan memasang cip di tabung gas.

Desain prototipe sistem elektronik untuk deteksi telah dibuat Pusat Konversi dan Konservasi Energi Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT). Sistem ini dilengkapi sensor gas. Seperti detektor api, sistem detektor ini dihubungkan dengan alarm yang akan berbunyi ketika sensor ”menangkap” gas.

Uji coba detektor yang dirancang tim BPPT sudah dilakukan dengan hasil yang baik untuk mendeteksi adanya kebocoran gas. Penerapan selanjutnya, menurut Arya Rezavidi, Kepala Pusat Audit Teknologi BPPT, perlu bekerja sama dengan industri untuk memproduksinya.

Sementara itu, BPPT juga mendesain sistem pelacakan tabung gas (automated inventory tracking system). Sistem ini terdiri dari cip elektronik, backbone data akuisisi, transmiter, penerima data, prosesor, dan basis data.

Cip ini dapat melacak keluar masuknya tabung silinder ke lokasi penyimpanan. Cip berfungsi sebagai pengidentifikasi tabung yang berisikan informasi perihal identitas tabung, tanggal pembuatan, nama pembuat tabung, kode pelanggan, kode distributor, karakteristik tabung, jenis regulator atau selang, tanggal pengetesan, tanggal terakhir diisi, serta rekam jejak maintenance terakhir. Pengisian data pada memori cip dengan radio frekuensi.

Dengan adanya pengelolaan data pada cip elektronik, dapat diperoleh reliabilitas dari perintah tentang pengisian tabung serta pelacakan pihak yang melakukan pengisian tabung, melakukan pemeliharaan, pengujian ulang, dan pendeteksi kebocoran.

Sistem pendeteksi telah berhasil diterapkan di India sejak Maret 2008, yaitu untuk 500.000 tabung elpiji pada tahap awal. Kini, sistem tersebut telah dijual di pasaran. ”Setiap cip harganya Rp 8.000,” ungkap Arya.

Dalam penggunaannya, cip dipasang di botol baru oleh Pertamina. Dengan penggunaan sistem cip ini, dapat dilacak pihak-pihak yang harus bertanggung jawab.

”Jika terjadi ledakan dapat diketahui pengisian terakhir. Karena itu, alat ini dapat menjadi barang bukti. Semua ikut bertanggung jawab, termasuk agen,” kata Arya yang menjadi Ketua Tim Teknis Perbaikan Sistem Kompor Elpiji.

”Penggunaan sistem deteksi ini juga untuk menghindari penggunaan botol selundupan. Seperti black box pesawat. Dalam Standar Nasional Indonesia yang diamandemen telah dimasukkan kewajiban pemasangan sistem deteksi ini. Penggunaannya sendiri telah disetujui Pertamina,” ujar Arya.

22 Persen atau 4000 Tumbuhan Terancam Punah


Analisis global yang dilakukan peneliti Kebun Raya Kerajaan (KRK) Kew, Museum Sejarah Alam (MSA) London, dan Persatuan Konservasi Alam Internasional (IUCN) menunjukkan, lebih dari seperlima atau 22 persen dari 4.000 jenis tumbuhan yang sudah dikaji terancam punah.

Jumlah spesies tumbuhan di seluruh dunia diperkirakan mencapai 380.000 jenis, tetapi sebagian besar datanya sangat kurang. Famili yang paling terancam berasal dari Gymnospermae (berbiji terbuka). Sedangkan habitat tumbuhan yang paling rentan adalah di hutan hujan tropis akibat konversi lahan untuk pertanian dan perkebunan.

Jumlah spesies yang terancam hilang itu masuk Indeks Daftar Merah Sampel dan akan ditetapkan untuk dilindungi pada Pertemuan Keanekaragaman Hayati PBB, pertengahan Oktober mendatang di Nagoya, Jepang. Indeks spesies terancam itu diumumkan di KRK Kew, Selasa (28/9). Daftar itu disusun dari data 8 juta awetan spesies tumbuhan dan jamur milik KRK Kew, 6 juta spesimen herbarium milik MSA London, dan data digital dari jaringan kerja KRK Kew di seluruh dunia.

Direktur KRK Kew Stephen Hopper mengatakan, tumbuhan yang masuk dalam daftar itu berarti berada dalam ancaman karena hilangnya habitat mereka akibat ulah manusia. ”Hilangnya tumbuhan tidak dapat terus dibiarkan karena ia adalah basis kehidupan bumi.

Tumbuhan menyediakan udara bersih, air, makanan, serta energi. Semua makhluk hidup bergantung pada tumbuhan,” katanya.

Masyarakat Pedesaan Indonesia Sudah Mampu Mandiri Energi Tanpa Campur Tangan Pemerintah


Masyarakat pedesaan menegaskan bahwa mereka sebenarnya mampu untuk mandiri energi dan bahwa di dalam masyarakat pada mulanya sudah ada tatanan sosial sehingga mereka mampu mengatur diri sendiri.

Hal itu diungkapkan Ki Upat, salah seorang tokoh adat di Kasepuhan Cipta Gelar, Desa Simaresmi, Kecamatan Cisolok, Kabupaten Sukabumi. Direktur Eksekutif Institute for Essential Services Reform (IESR) Fabby Tumiwa menegaskan, saat ini sekitar 40 persen penduduk Indonesia masih miskin energi.

Kondisi itu terungkap dalam acara peluncuran film Air, Tahu, dan Internet produksi IESR di Jakarta, Rabu (29/9). Film tersebut merekam pengalaman dua dusun, Kasepuhan Cipta Gelar, dan Dusun Cibuluh, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, dalam membangun pembangkit listrik tenaga mikro hidro (PLTMH) di Jawa Barat. Hadir empat warga dari dua dusun tersebut.

Pada acara itu digelar diskusi dengan pembicara Fabby; keempat warga dusun; Haris dari Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral yang menyampaikan soal kebijakan Kementerian ESDM tentang energi baru dan terbarukan; serta Ivan Hadar, konsultan untuk Tujuan Pembangunan Milenium pada Program Pembangunan PBB (UNDP).

Fabby menjelaskan, saat ini IESR sedang melakukan program Access to Energy yang berusaha menghadirkan akses energi yang terjangkau dan berkelanjutan bagi rakyat Indonesia, khususnya masyarakat miskin.

”Saat ini 40 persen penduduk belum menikmati listrik. Sementara sekitar 20 persen penduduk desa belum menikmati listrik,” ujarnya. Yang dibutuhkan sekarang adalah akses pada energi yang terbuka kepada rakyat miskin. Menurut dia, salah satu solusi adalah energi baru dan terbarukan yang biasa sus

Rasman, yang hadir bersama Ridwan dari Dusun Cibuluh, mengisahkan, dia semula adalah pembalak liar dan pernah ditangkap polisi yang akhirnya berbalik melestarikan hutan. Penduduk desa menyadari hutan yang terjaga bisa menjaga listrik di dusun itu tetap hidup.

Kini Dusun Cibuluh memiliki PLTMH yang menghasilkan listrik untuk 120 rumah, masing-masing 100 watt dengan iuran bulanan Rp 10.000-Rp 25.000. Industri tahu rumahan bisa berproduksi lagi.

Sementara Dusun Cipta Gelar yang memiliki sarjana teknik kimia, seperti David yang kemarin hadir, kini memiliki internet gratis untuk warga. Mereka mendapat bantuan dari Dinas Komunikasi dan Informatika Provinsi Jawa Barat.

Tentang pemeliharaan PLTMH, kedua dusun menarik iuran dari warga, dilengkapi dengan kerja gotong royong yang mereka lakukan jika muncul masalah dengan PLTMH.

Sementara Haris dari Kementrian ESDM memaparkan kebijakan energi nasional. Di mana sekarang dicanangkan visi 25/25 yang berarti, pada tahun 2025, penggunaan energi baru dan terbarukan mencapai 25 persendari penggunaan energi nasional.

Haris mengakui, program pengalihan dari energi fosil ke energi baru dan terbarukan masih terhambat antara lain peraturan yang tidak tuntas diturunkan sampai ke tingkat implementasi.

Ivan menegaskan, kemandirian adalah kunci untuk memberantas kemiskinan. Dia melihat usaha mikro lebih mampu mengurangi kemiskinan. Indonesia, dari data laporan pencapaian target MDGs, dikatakan on the track. Jumlah penduduk miskin dengan batas pendapatan 1 dollar AS per hari terus berkurang meski secara kualitas, keluarga dengan pendapatan 1 dollar per hari berarti hidup pada kondisi ekonomi subsisten

Pemerintah Diminta Mencabut Celah Pada Undang Undang Pemakaian Lahan Gambut


Koalisi sejumlah lembaga swadaya masyarakat lingkungan hidup menuntut pemerintah mencabut sejumlah aturan dan kebijakan yang membuka peluang eksploitasi gambut dan hutan alam. Tanpa pencabutan aturan dan kebijakan itu, kerja sama penurunan emisi karbon dari pembalakan dan deforestasi antara Indonesia dan Norwegia akan gagal.

Sejumlah lembaga swadaya masyarakat (LSM), antara lain Greenpeace, Wahana Lingkungan Hidup Indonesia, Koordinator Forum Masyarakat Sipil untuk Keadilan Iklim, Bank Information Center, HuMa, dan Sawit Watch, mengumumkan platform bersama penyelamatan iklim Indonesia di Jakarta, Rabu (29/9). Platform itu merinci tiga tahapan moratorium pembalakan hutan dalam pelaksanaan kerja sama penurunan emisi karbon Indonesia dan Norwegia.

Koordinator Forum Masyarakat Sipil Indonesia untuk Keadilan Iklim Giorgio Budi Indrarto menyatakan, inti dari kerja sama kedua negara adalah mengurangi tingkat emisi karbon pada masa mendatang dari proyeksi kondisi saat ini. ”Akan tetapi, sampai saat ini masih banyak aturan dan kebijakan yang membuka celah pembalakan dan pembukaan lahan gambut atau hutan. Padahal, target penurunan emisi karbon Indonesia yang terbesar dari pembukaan lahan gambut dan hutan alam,” kata Giorgio.

Aturan dan kebijakan yang harus dicabut demi mengurangi emisi karbon, antara lain, Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 2 Tahun 2008 tentang Jenis dan Tarif atas Jenis Penerimaan Negara Bukan Pajak yang Berasal dari Penggunaan Kawasan Hutan untuk Kepentingan Pembangunan di luar Kegiatan Kehutanan yang Berlaku pada Departemen Kehutanan, PP Nomor 10 Tahun 2010 tentang Tata Cara Perubahan Peruntukan dan Fungsi Kawasan Hutan, serta PP Nomor 24 Tahun 2010 tentang Penggunaan Kawasan Hutan. Koalisi LSM itu juga merekomendasikan pencabutan Keputusan Presiden Nomor 32 Tahun 1990 tentang Pengelolaan Kawasan Lindung dan Peraturan Menteri Pertanian (Permentan) Nomor 14 Tahun 2009 tentang Pedoman Pemanfaatan Lahan Gambut untuk Budidaya Kelapa Sawit.

”Aturan dan kebijakan itu membuka celah untuk mengeksploitasi lahan gambut dan hutan alam. PP Nomor 10 Tahun 2010 membuka peluang mengganti status kawasan hutan lindung dan kawasan konservasi menjadi kawasan yang boleh dieksploitasi,” ujarnya.

Giorgio juga menyatakan, moratorium eksploitasi hutan seharusnya didasarkan pada kriteria kelayakan, bukan didasarkan pada jangka waktu perjanjian Indonesia dan Norwegia mengurangi emisi karbon dari pemanfaatan lahan gambut dan hutan alam.

Setengah hati

Kepala Departemen Mitigasi Risiko Sosial dan Lingkungan Sawit Watch Norman Jiwan menyatakan, pemerintah juga masih setengah hati untuk melindungi kawasan gambut. ”Pengaturan lahan gambut berkedalaman kurang dari 3 meter boleh dibuka untuk perkebunan, sebagaimana diatur Permentan Nomor 14 Tahun 2009, tidak memiliki dasar ilmiah. Kenyataannya, jika bagian lahan gambut berkedalaman kurang dari 3 meter dikeringkan, akan memengaruhi hidrologi lahan gambut yang lebih dalam. Itu berarti pelepasan karbon dalam jumlah besar tetap terjadi,” kata Norman.

Norman menyatakan, hingga tahun 2010, total izin lokasi perkebunan kelapa sawit yang telah diterbitkan pemerintah daerah dan pemerintah pusat telah mencapai luasan 26,7 juta hektar.

Kenali Ciri Ciri Penyakit Auto Imun Sindrom Guillain-Barre Sebelum Terlambat


Jangan sepelekan penyakit flu yang tampaknya biasa. Demikian juga jika bagian tubuh tertentu kerap merasa kebas, kesemutan, atau nyeri. Bisa jadi itu tanda-tanda awal terjadinya sindrom Guillain-Barré, yaitu saat sistem kekebalan tubuh justru menjadi jahat dan menyerang tubuh.

Sindrom Guillain-Barré atau SGB kerap juga disebut radang polineuropati demyelinasi akut (acute inflammatory demyelinating polyneuropathy/AIDP). Atau dengan bahasa lain, peradangan akut yang menyebabkan rusaknya sel saraf, yang tidak jelas penyebabnya.

Penyakit itu dapat menyerang siapa saja. Belum ada yang bisa memprediksi kedatangannya, progresnya, hingga tingkat keparahannya. Pernah terjadi, dokter ahli saraf dan penyakit dalam pun meninggal karena sindrom ini.

Georges Guillain, Jean-Alexandre Barré, dan André Strohl menemukan sindrom tersebut pada tahun 1916. Mereka mendiagnosis dua tentara yang menunjukkan keabnormalan pada peningkatan produksi spinal fluid protein.

Saat ini diagnosis SGB dapat dilakukan dengan menganalisis cairan otak. Kenaikan jumlah sel darah putih pada cairan otak mengindikasikan terjadinya infeksi. Selain itu, bisa juga dilakukan dengan electrodiagnostic, yaitu dengan memeriksa normal tidaknya konduksi sel-sel saraf.

Kasus SGB terakhir terjadi di Kota Semarang, Jawa Tengah. Pasien RS Islam Sultan Agung, Semarang, bernama Susanti (28) akhirnya meninggal dunia karena sindrom ini. Serangan SGB yang diderita Susanti rupanya sudah parah hingga menyerang otot paru-parunya dan menyebabkan infeksi. Kondisinya terus menurun, dan Susanti tidak tertolong lagi.

Angka kejadian SGB tergolong kecil, 1:100.000. Di RSUP dr Kariadi (RSDK) Semarang, setiap tahun rata-rata ditemukan sekitar lima sampai tujuh kasus. Dari sejumlah pasien itu, ada yang bisa sembuh, ada yang tidak.

Tidak jelas

Spesialis saraf Amien Husni dari RSDK Semarang menjelaskan, hingga kini penyebab dari penyakit autoimun tersebut masih tidak diketahui. Demikian juga pemicunya.

Lazimnya, ketika tubuh terinfeksi penyakit, virus, atau bakteri, tubuh menghasilkan antibodi untuk melawan antigen (zat yang merusak tubuh). Pada kasus SGB, antibodi justru menjadi jahat dan menyerang sistem saraf tepi. Selaput myelin yang menyelubungi sel saraf dihancurkan (demyelinasi) sehingga sel sarafnya rusak. Kerusakan mulai dari pangkal ke tepi atau dari bawah ke atas.

Kerusakan itu menyebabkan kelumpuhan motorik dan menimbulkan gangguan sensibilitas pada penderita. Jika kerusakan terjadi sampai pangkal saraf (radiks), dapat menyebabkan kelainan pada sumsum tulang belakang.

Pada kasus Susanti, SGB ditemukan dua minggu setelah Susanti menjalani operasi usus buntu. Setelah itu serangan mulai dari kaki Susanti yang kemudian tidak dapat digerakkan. Kelumpuhan itu pun merambat hingga ke tangan dan anggota tubuh lain. Susanti juga tidak dapat berbicara.

Pada penyakit autoimun yang lain, serangan yang terjadi serupa, tetapi pada lokasi yang berbeda. Meski demikian, mekanisme terjadinya juga tidak dapat dipahami: antibodi yang dihasilkan justru menyerang tubuh. Kasus multiple sclerosis, misalnya, demyelinasi terjadi pada saraf pusat. Adapun pada myasthenia, antibodi merusak hubungan antara saraf dan otot.

Kelumpuhan pada SGB biasanya terjadi dari bagian tubuh bawah ke atas atau dari luar ke dalam secara bertahap. Kejadiannya pun tidak dapat diperkirakan. Pada beberapa kasus kelumpuhan terjadi sangat cepat dan pada kasus yang lain kejadiannya bisa lebih lambat.

Pada kasus yang parah kerusakan selaput myelin mencapai paru-paru dan melemahkan otot-otot pernapasan. Paru-paru pun tidak dapat bekerja dan penderita harus dibantu dengan ventilator.

Dengan kelemahan tersebut, sangat mungkin terjadi infeksi di dalam paru-paru karena kemampuan pertukaran gas dan kemampuan membersihkan saluran pernapasan berkurang. Itu yang menyebabkan kondisi penderita semakin parah.

Gejala lain yang dirasakan penderita SGB adalah kehilangan sensitivitas, seperti rasa kesemutan, kebas (mati rasa), rasa terbakar, atau nyeri. Pola persebarannya tidak teratur dan tidak simetris, bisa berubah setiap saat.

Biasanya, kata Amien, penderita SGB sebelumnya menderita infeksi virus seperti influenza satu atau dua minggu sebelumnya. Bisa jadi hal itu didorong oleh virus influenza, atau reaksi imun terhadap virus influenza.

Tidak terjadi infeksi

Sindrom ini, seperti penyakit autoimun yang lain, termasuk self remittance disease. Sebenarnya penderita dapat sembuh dengan sendirinya dalam jangka waktu sekitar enam bulan. Dengan catatan, tidak terjadi infeksi pada tubuh penderita.

”Yang menyebabkan kematian biasanya karena terjadi gagal napas dan infeksi yang timbul. Namun, itu juga tidak dapat dipastikan,” kata Amien.

Penanganan pada penderita SGB biasanya dilakukan dengan plasma exchange, tindakan yang mirip cuci darah, dengan mengganti plasma darah menggunakan alat bernama plasmaferesis. Hal itu dapat menolong penderita untuk bertahan atau mencapai kondisi yang lebih baik. Namun, tidak semua rumah sakit memiliki alat ini.

Alternatif lain adalah dengan pemberian intravenous immunoglobulin (IVIg) dosis tinggi selama lima hari untuk meningkatkan kekebalan tubuh. Namun, obat ini tidak murah, bahkan tergolong sangat mahal, dan tak semua pasien mampu membeli.

Ada satu cara lagi yang dimungkinkan, yaitu dengan pemberian kortikosteroid dosis tinggi. Kortikosteroid biasanya diberikan sebagai antiradang. Walaupun dalam banyak literatur disebutkan pemberian kortikosteroid tidak dapat memberi pengaruh yang berarti, pada beberapa kasus, kata Amien, ternyata dapat membantu.

Harga kortikosteroid pun jauh lebih murah dari pada immunoglobulin. Dengan demikian, pasien yang tidak mampu biasanya diberikan terapi ini dan pada beberapa kasus ternyata berhasil.

Bagi mereka yang berhasil sembuh, SGB tetap menyisakan kelemahan fungsi tubuh. Sebab, sel saraf merupakan jaringan yang paling ”bodoh” sehingga ketika rusak tidak bisa lagi kembali normal dengan sendirinya.

Penderita yang pulih dari SGB harus menjalani terapi dan latihan secara teratur untuk dapat menggerakkan kembali anggota tubuhnya, seperti berjalan, makan, berbicara, atau menulis. Setelah satu tahun atau lebih, 85 persen penderita bisa kembali normal.

Penyakit yang bisa sedemikian jahat ini pun tidak dapat dicegah. Akan tetapi, Amien mengatakan, jika dapat terdeteksi sedini mungkin dan mendapat penanganan lebih cepat, kemungkinan sembuhnya bisa lebih besar.

Oleh karena itu, berhati-hatilah dan cermati setiap gejala yang muncul. Sebab, sindrom ini termasuk dalam acute inflammatory, terjadi secara mendadak dan meradang dalam waktu yang sangat cepat.