Sering Mendengarkan Polusi Suara Musik Dapat Menyebabkan Gemuk


Paparan polusi suara bisa membuat seseorang stres bahkan meningkatkan tekanan darah. Tak hanya itu, baru-baru ini penelitian di Swedia menemukan hubungan antara paparan polusi suara dengan timbunan lemak di perut.

Studi yang dilakukan para peneliti di Institute of Environmental Medicine di Karolinska Institute, Stockholm menemukan bahwa paparan polusi suara dalam jangka panjang bisa memengaruhi metabolisme dan menyebabkan timbunan lemak di daerah perut. Ketua peneliti, Charlotta Eriksson menuturkan polusi suara harus diakui sebagai bahaya kesehatan lingkungan.

“Studi kami bersifat observasional sehingga kedua hal ini lebih memiliki keterkaitan, bukan sebagai sebab dan akibat. Tapi, bisa jadi lewat studi ini polusi suara dapat lebih dipertimbangkan sebagai ancaman kesehatan yang lebih berbahaya dari sebelumnya,” terang Eriksson.

Dikutip dari Newsmaxhealth, Kamis (28/5/2015), untuk studi ini Eriksson dan rekannya mengumpulkan data lebih dari 5.000 orang yang tinggal di lima daerah pinggiran kota dan pedesaan di sekitar Stockholm. Para peserta sebelumnya sudah berpartisipasi dalam Stockholm Diabetes Prevention Program sejak 1992-1998. Di tahun 2002 dan 2006 saat peserta berusia 43-66 tahun, mereka diminta mengisi kuisioner.

Pertanyaan kuisioner berisi bagaimana gaya hidup peserta, kondisi kesehatannya, tingkat stres psikologis, insomnia, serta seberapa banyak paparan polusi suara yang dialami peserta. Selain itu, tekanan darah dan ukuran pinggang serta pinggul peserta juga diperiksa. Hasilnya, ditemukan bahwa pada wanita terdapat peningkatan ukuran pinggang dan pinggul sebesar 0,08 inci untuk setiap tambahan 5 desibel paparan polusi suara.

“Sedangkan pada pria, ukuran pinggang-pinggulnya meningkat 0,06 inci untuk setiap tambahan 5 desibel paparan polusi suara. Mekanisme utama yang mendasari hubungan ini adalah polusi suara bisa meningkatkan kadar stres kortisol yang mampu merangsang akumulasi lemak di daerah perut. Polusi suara juga berpengaruh pada kualitas tidur yang berkaitan dengan jumlah lemak di dalam perut,” tutur Eriksson.

Sementara, Dr David Katz, Direktur Yale University Prevention Research Center mengatakan polusi suara yang berasal dari suara pesawat, mobil, atau kereta api akan lebih parah dampaknya pada kesehtan ketika dibarengi pula dengan pola hidup tidak sehat. “Misalnya pada masyarakat kurang mampu yang tinggal di pinggir rel kereta, ditambah pola makan yang tidak tepat, maka risiko berbagai penyakit dan obesitas makin tinggi,” kata Dr Katz.

Penjelasan Ilmiah Secara Fisika Suara Terompet Di Langit


Sebelum fenomena suara terompet di langit ramai terjadi, jauh sebelum itu pernah ada fenomena suara yang dikenal dengan istilah The Hum. Fenomena suara gemuruh ini terjadi di sejumlah tempat, seperti di Taos, New Mexico; Bristol, Inggris; Largs, Skotlandia; sampai ke Bondi, Australia. Laporan awal soal Hum sebetulnya pertama kali muncul pada 1950-an. Orang-orang melaporkan adanya suara dengungan berfrekuensi rendah, debaran, atau gemuruh. Bunyinya pun cukup lama terdengar.

Tapi secara umum Hum hanya bisa didengar di dalam ruangan, dan terdengar lebih keras pada malam hari ketimbang saat siang hari. Selain itu, ia hanya terjadi di daerah pedesaan atau yang agak terpencil. Mungkin karena frekuensinya rendah, Hum tak terdengar di kota yang berisik.

Sejumlah penelitian sudah dilakukan untuk mengungkap misteri Hum. Pada 2003 konsultan akustik Geoff Leventhall dari Surrey, Inggris, meneliti suara itu. Hasilnya, dia mendapati hanya dua persen orang yang hidup di daerah yang terdengar Hum, yang mendengar suara itu. Mayoritas berusia 55 sampai 70 tahun. Seperti dilansir Livescience, menurut mereka yang mendengar suara itu—biasa disebut sebagai hummers—suara Hum itu seperti bunyi mesin diesel yang idle dan suara itu terasa ‘menyiksa’. Malah, ada kasus bunuh diri yang mempersalahkan fenomena ini sebagai penyebabnya.

“Ini seperti semacam siksaan, kadang-kadang Anda seperti ingin berteriak saja,” kata Katie Jacques, dari Leeds, Inggris, seperti dilansir BBC. “Malam yang buruk, saya susah tidur.” Bristol, Inggris, adalah tempat pertama di Bumi yang secara resmi disebut tempat terjadinya Hum. Pada 1970-an disebut ada 800 orang di kota pantai itu yang mendengar Hum. Waktu itu mereka menduga suara timbul dari lalu lintas dan bunyi pabrik yang beroperasi 24 jam.

Lalu pada 1991 Hum terdengar di Taos, New Mexico. Malah suara ini terdengar selama bertahun-tahun dan meresahkan sebagian warga di kota itu. Satu tim dari Los Alamos National Laboratory, Universitas New Mexico, Sandia National Laboratories, dan ilmuwan lain belum berhasil mengidentifikasi sumber suara itu. Suara Hum yang lain terdengar di Windsor, Ontario. Begitu juga di Bondi, daerah pantai di Australia. Daily Telegraph pernah mengulas bunyi, yang disebut telah menyebabkan ‘kegilaan’ kepada orang-orang.

Kebanyakan peneliti yang menginvestigasi Hum menyatakan suara itu adalah nyata, bukan hasil dari histeria massal atau bunyi dari luar Bumi. Penyebabnya disebut macam-macam. Mulai dari tekanan tinggi di jalur pipa gas, perangkat komunikasi, radiasi elektromagnetik berfrekuensi rendah namun masih bisa didengar telinga manusia. Ada juga yang menyebutkan itu faktor dari alam, termasuk kegiatan seismik seperti gempa yang amat kecil yang bisa disebabkan oleh gelombang laut. Ada juga yang punya hipotesis bahwa Hum disebabkan kegiatan militer atau dampak komunikasi di kapal selam.

Selama puluhan tahun suara aneh berfrekuensi rendah mengganggu banyak orang di sejumlah tempat di Bumi. Ilmuwan dari Centre National de la Recherche Scientifique mengklaim telah menemukan penyebab suara itu. Menurut mereka, suara The Hum terjadi akibat dari aktivitas mikroseismik pada gelombang lautan yang menghantam dasar laut. Hantaman yang berlangsung dalam jangka waktu lama dan konstan ini disebut menghasilkan suara gemuruh atau debaran.

“Tekanan gelombang pada dasar laut menghasilkan gelombang seismik yag menyebabkan Bumi mengalami vibrasi,” kata Fabrice Ardhuin, peneliti senior di sana, seperti dilansir The Independent pada April lalu. Gelombang berkelanjutan memproduksi suara yang berlangsung selama 13 sampai 300 detik. Tapi suara ini hanya bisa didengar sebagian orang yang sensitif pada suara itu, atau perangkat seismik.

Suara seperti terompet dari langit yang memekakkan telinga warga di Jerman, Australia, Amerika Serikat, dan Kanada beberapa waktu lalu ada yang menduganya berasal dari luar Bumi, tepatnya suara alien. Benarkah demikian? “Audio atau suara itu butuh perambat, sementara di luar Bumi itu tidak ada atmosfer. Tidak mungkin suara misterius itu datangnya dari luar angkasa, karena tidak ada perambatnya,” tutur Kepala Lapan, Prof Thomas Djamaluddin saat dihubungi .

Menurut Thomas, suara terompet seperti Sangkakala tersebut sudah jelas berasal dari Bumi yang dirambat ke atmosfernya. Walaupun ia sendiri belum bisa menyatakan mengenai penyebab pastinya apa, namun ia menekankan sumber suara tersebut datangnya dari planet kita sendiri. “Belum tahu juga saya apakah itu asalnya dari bencana alam di Bumi atau lainnya, yang jelas bukan dari luar Bumi,” tekan Djamaluddin. Ia menambahkan, apabila ada unsur yang memang berasal dari luar angkasa, kemungkinan besar itu adalah benda antariksa seperti komet, asteroid, hingga meteor yang betul-betul jatuh atau menabrak Bumi, bukan berupa audio atau suara.

Sementara menurut pendapat badan antariksa Amerika Serikat, NASA, suara terompet tersebut bisa dibandingkan dengan musik latar yang biasanya dapat didengar di klasik film fiksi ilmiah. Namun, para pakar menekankan bahwa suara yang datang dari Bumi bukan fiksi ilmiah. Emisi radio alami dari planet Bumi seperti ini yang sangat banyak dan lumrah terjadi, kata NASA. “Jika manusia memiliki antena radio–bukan–telinga, kita akan mendengar sebuah simfoni luar biasa dari suara-suara aneh yang datang dari planet kita sendiri,” juru bicara dari NASA menjelaskan, seperti dikutip dari Tech Times.

Suara keras mirip terompet dari langit sempat bikin ketakutan banyak warga di sejumlah negara seperti Jerman, Australia, Amerika Serikat, dan Kanada masih misteri. Suara gemuruh keras dari angkasa tersebut diyakini seperti campuran suara terompet, logam berdecit, dan mesin pesawat. Fenomena aneh itu nyatanya sudah pernah terjadi selama beberapa tahun belakang yaitu sejak 2008 di negara bagian California dan Texas hingga Negeri Kanguru. Situs StrangeSounds.org bahkan mengumpulkan sekitar 150 video rekaman suara aneh yang kerap terjadi tersebut.

Tak sedikit yang beranggapan suara menyeramkan itu adalah terompet sangkakala Tuhan ataupun berasal dari peradaban alien. Baca: Suara Seperti Terompet Terdengar dari Langit Mengutip laporan situs berita Union Tribune San Diego, para ilmuwan mengatakan suara tersebut bisa berasal dari bencana alam seperti gempa bumi, gelombang air pasang, sampai ledakan gas metana.

Sementara itu, peneliti dari U.S. Geological Survey, David Hill menuturkan, gempa bumi kecil di bawah permukaan Bumi bisa memancarkan suara yang berasal dari pecahan kerak Bumi. Selain itu, Hill juga berpendapat, suara tersebut bisa saja terpancar dari meteor. Teori lainnya dari analisis program riset pemerintah AS High Frequency Active Auroral Research Program (HAARP) menyatakan suara itu berasal dari pengaruh dari lini daya listrik, radiasi elektromagnetik, tekanan tinggi gas, dan jalur komunikasi perangkat nirkabel.

Fenomena yang mengejutkan itu membuat para warga merekam menggunakan kamera ponsel dan mengunggahnya ke YouTube. Baca: NASA Jelaskan Soal Suara Terompet dari Langit “Ini adalah kedua kalinya saya mendengar suara ini. Pertama kalinya terjadi pada 19 Juni 2013 pada pukul antara 9 sampai 9.30 pagi. Tapi tidak cukup intens,” kata seorang warga bernama Kimberly Wookey yang mengunggah video rekaman ke akun YouTube miliknya, sebagai dikutip dari Tech in Times.

Suara Trumpet Sangkakala Terdengar Di Atas Langit Eropa dan Amerika


Ada kegemparan yang muncul belakangan ini terkait dengan suara aneh yang muncul dari langit. Suara aneh ini bak suara terompet dan terdengar kencang. Di situs berbagi video YouTube ada beberapa penampakannya. Diketahui sejumlah negara di Kanada, Australia, Jerman dan Amerika Serikat warganya mengalami kejadian mendengar suara tersebut. Salah satu warga yang mendengar suara dari langit tersebut adalah Kimberly Wookey yang merekam suara misterius tersebut dan mengunggahnya ke situs jejaring sosial.

“Ini adalah kedua kalinya saya mendengar suara ini. Pertama kalinya terjadi pada 19 Juni 2013 pada pukul antara 9 sampai 9.30 pagi. Tapi tidak cukup interns,” katanya di akun YouTube miliknya, yang dikutip dari Tech in Times. Bila menelusuri lebih jauh, keriuhan ini sudah terjadi sejak 2012. Kemudian berlanjut hingga 2013, dan 2014 dan menyebar terjadi di beberapa kota. Tapi sayangnya, hingga kini belum juga terpecahkan suara misterius itu.

Tanggal 29 Agustus 2013, Wookey mengaku ia dibangunkan oleh suara keras, yang diketahui ia telah mendengar sebelumnya. Dia berkata bahwa dia pergi untuk melihat anaknya yang juga ketakutan oleh suara. Wookey menambahkan bahwa dia tidak percaya bahwa peristiwa memiliki hubungan dengan agama, atau bahwa suara bisa berasal dari alien, kereta atau konstruksi. Dia, bagaimanapun, percaya bahwa peristiwa tersebut terjadi karena fenomena geofisika yang bisa dijelaskan dengan pendekatan ilmiah. Orang-orang dari berbagai belahan dunia ketakutan dan sekaligus penasaran setelah mereka mendengar apa yang mereka yakini sebagai suara mirip terompet yang terdengar dari langit namun lokasinya tak diketahui.

Diketahui sejumlah negara di Kanada, Australia, Jerman dan Amerika Serikat mendengar suara tersebut. Bahkan beberapa di antaranya merekam menggunakan kamera ponsel dan mengunggahnya ke YouTube. Salah satu warga yang mendengar suara dari langit tersebut adalah Kimberly Wookey yang merekam suara misterius tersebut dan mengunggahnya ke situs jejaring sosial. “Ini adalah kedua kalinya saya mendengar suara ini. Pertama kalinya terjadi pada 19 Juni 2013 pada pukul antara 9 sampai 9.30 pagi. Tapi tidak cukup interns,” katanya di akun YouTube miliknya, yang dikutip dari Tech in Times.

Dalam entri lain, tanggal 29 Agustus 2013, Wookey mengaku ia dibangunkan oleh suara keras, yang diketahui ia telah mendengar sebelumnya. Dia berkata bahwa dia pergi untuk melihat anaknya yang juga ketakutan oleh suara. Wookey menambahkan bahwa dia tidak percaya bahwa peristiwa memiliki hubungan dengan agama, atau bahwa suara bisa berasal dari alien, kereta atau konstruksi. Dia, bagaimanapun, percaya bahwa peristiwa tersebut terjadi karena fenomena geofisika yang bisa dijelaskan dengan pendekatan ilmiah.

Sementara itu Aaron Traylor, warga Montana, mengatakan bahwa telah menderita mimpi buruk setelah ia mengunggah suara menakutkan tersebut. Dia menceritakan bagaimana istrinya membangunkannya satu malam karena ia berteriak dalam tidurnya. Suara aneh di langit yang terdengar di sejumlah kota di Eropa dan AS memunculkan berbagai spekulasi. Mulai dari yang mengutip dalil agama yakni suara sangsakala hingga yang ilmiah sebagai fenomena alam.

Tapi hingga kini tak bisa terjawab jelas, dari mana suara yang menyeramkan itu berasal. Di situs berbagi video YouTube ada beberapa peristiwa yang merekam suara keras membahana itu. Melihat fenomena tersebut, para ilmuwan di Badan Penerbangan dan Antariksa Nasional (NASA) percaya kebisingan berpotensi berasal dari “kebisingan latar belakang” Bumi. “Jika manusia memiliki antena radio–bukan–telinga, kita akan mendengar sebuah simfoni luar biasa dari suara-suara aneh yang datang dari planet kita sendiri,” juru bicara dari NASA menjelaskan, seperti dikutip dari Tech Times.

NASA mengatakan bahwa suara tersebut bisa dibandingkan dengan musik latar yang biasanya dapat didengar di klasik film fiksi ilmiah. Namun, para pakar menekankan bahwa suara yang datang dari Bumi bukan fiksi ilmiah. Emisi radio alami dari planet Bumi seperti ini yang sangat banyak dan lumrah terjadi.

Hingga kini mungkin ribuan orang yang dari berbagai kota yang mendengar suara itu. Fenomena aneh itu tak juga terjawab. Suara bak terompet yang besar dan terdengar beberapa kali ini bagi yang mendengarnya amat mengejutkan.Suara misterius bak terompet terdengar beberapa kali dari langit. Peristiwa ini terjadi di sejumlah kota di AS, Eropa, Kanada, hingga Australia. Sejumlah analisa muncul, mulai dari terompet sangkakala seperti yang tertulis di kitab suci, adanya makhluk asing, sampai suara gempa bumi.

Suara bak terompet ini sudah ramai sejak 2012, namun hingga 2015 ini tak juga terpecahkan. Di situs berbagi video YouTube tayangan soal suara aneh ini juga banyak diabadikan. Kemudian, lembaga antariksa AS NASA juga sudah membuat analisa soal suara itu, tapi tak memuaskan. Nah, Lembaga Antariksa dan Penerbangan Nasional (LAPAN) pun sudah mendengar soal isu suara aneh ini. “Belum tahu juga saya apakah itu asalnya dari bencana alam di Bumi atau lainnya, yang jelas bukan dari luar Bumi,” kata Kepala Lapan, Prof Thomas Djamaluddin.

Thomas mengungkapkan apabila ada unsur yang memang berasal dari luar angkasa, kemungkinan besar itu adalah benda antariksa seperti komet, asteroid, hingga meteor yang betul-betul jatuh atau menabrak Bumi, bukan berupa audio atau suara. Sementara menurut pendapat badan antariksa Amerika Serikat, NASA, suara terompet tersebut bisa dibandingkan dengan musik latar yang biasanya dapat didengar di klasik film fiksi ilmiah. Namun, para pakar menekankan bahwa suara yang datang dari Bumi bukan fiksi ilmiah. Emisi radio alami dari planet Bumi seperti ini yang sangat banyak dan lumrah terjadi, kata NASA.

Cara Menggunakan Mortar Untuk Mencegah Ubin dan Keramik Pecah dan Retak


Selama ini, masyarakat cenderung tidak memperhatikan bagaimana mengaplikasikan perekat ubin, pengisi nat, pelapis anti bocor, pelapis batu alam, dan aplikasi acian. Akibatnya, ubin atau keramik mudah pecah atau rusak. Produsen perekat ubin PT Adiwisesa Mandiri telah mengedukasi masyarakat, khususnya para tukang dan kontraktor, dengan mengadakan workshop atau pelatihan selama sehari penuh sejak 2012.

Menurut Direktur PT Adiwisesa Mandiri Building Albertus Indra Sasmitra, kesadaran masyarakat dalam menggunakan mortar atau perekat, masih sangat kurang. “Di Indonesia masih kecil kesadaran untuk memakai mortar. Untuk high rise memang sudah umum digunakan. Tapi kalau untuk residensial, sebagian besar masih konvensional,” ujar Albertus, di Kantor Pusat AM, Jakarta, Rabu (20/5/2015).

Hingga saat ini, lanjut Albertus, konsumen senang memilih keramik, keran, atau toilet. Konsumen bahkan mau datang langsung ke toko. Namun, menempel benda-benda tersebut pada permukaan atau media tertentu, tidak pernah dipikirkan dan menyerahkannya pada tukang. Sayangnya, seringkali para tukang mempertahankan metode konvensional, yaitu dengan cara mengayak pasir, baru kemudian dicampur dengan air. Metode seperti ini tidak efektif karena menghabiskan waktu dan tenaga. Kesadaran konsumen dalam menggunakan perekat ubin atau mortar diakui masih kurang. Masyarakat masih bertahan dengan cara konvensional. Perekat cara lama dihasilkan dengan mengayak pasir dan semen, kemudian dicampur air.

Meski sudah membudaya dalam proses konstruksi, menurut Direktur PT Adiwisesa Mandiri Building Albertus Indra Sasmitra, lama kelamaan metode ini akan ditinggalkan oleh kontraktor. “Penggunaan perekat sudah sangat populer di Eropa, Amerika, dan negara-negara maju lainnya. Di Indonesia, masih sedikit sekali yang sudah menggunakan mortar,” ujar Albertus di Kantor Pusat AM, Jakarta, Kamis (20/5/2015). Ia menuturkan, penggunaan perekat mulai umum digunakan pada bangunan-bangunan tinggi. Sementara di residensial, keberadaannya masih sangat jarang. Penyebabnya, para tukang yang biasa disewa oleh pemilik bangunan, tidak memahami betul bagaimana mengaplikasikan perekat.

Selama ini, tukang-tukang yang bekerja membangun rumah tidak menjadikan pekerjaannya sebagai profesi tetap. Mereka dasarnya adalah petani yang pada saat sepi atau masa tidak panen, baru pergi ke kota untuk menjadi tukang. Dengan demikian, wajar saja para tukang ini tidak paham betul tentang konstruksi bangunan yang baik. Sementara para konsumen seringkali lebih tertarik memilih sendiri keramik, cat, keran, atau toilet. Untuk perekat, konsumen menyerahkan kepada tukang. Karena para tukang ini tidak fokus dalam pekerjaannya serta masih menggunakan metode lama, tidak jarang kualitas perekat yang dihasilkan di tiap proyek, berbeda-beda.

Selain itu, jika menggunakan metode lama, lanjut Albertus, banyak kesempatan untuk mengakali bahan-bahan perekat. Misalnya, pada tempat-tempat di rumah yang jarang dilewati, atau area yang tidak dibebankan furnitur berat, maka campuran pasirnya lebih banyak daripada semen. “Kalau menggunakan perekat yang sudah ada, tidak perlu lagi mengayak dulu. Kadar adonannya sudah pas, pasirnya pun pilihan,” kata Albertus.

Dengan menggunakan perekat baru, tambah dia, konsumen tidak perlu khawatir kualitasnya akan berkurang. Mortar yang baik harus bisa menjamin mutu lantai tidak akan meledak. Untuk mengedukasi tukang dan stakeholder, Adiwisesa pun menyediakan Truck Wacker sejak 2013. Truk ini merupakan fasilitas dari perusahaan untuk memberikan informasi bagaimana mengaplikasikan perekat ubin, pengisi nat, pelapis anti bocor, pelapis batu alam, dan aplikasi acian dengan benar.

Melalui truk ini, konsumen atau tukang, bisa mendapatkan penjelasan langsung dari pegawai Adiwisesa. Kegiatan ini merupakan rangkaian program Corporate Social Responsibility (CSR) perusahaan melalui program “Ayo Membangun” di Jakarta. “Sebelumnya kita rutin mengadakan workshop, kita yang mendatangi. Tahun ini diubah penyampaiannya, yaitu dengan menyediakan wadah untuk edukasi bagaimana membangun rumah yang baik,” ujar National Sales & Marketing Manager Jenmie Srihartaty.

Selain itu, metode ini juga tidak menjamin kualitas perekatnya kuat dan tahan lama, karena bisa saja campurannya kurang. Padahal, fungsi mortar yang baik harus memiliki jaminan mutu bagus, misalnya tidak membuat ubin meledak (popping). Pemakaian mortar juga memungkinkan konsumen tidak perlu membongkar ubin seluruhnya, namun bisa langsung ditimpakan dengan ubin yang baru. Hal ini cukup disarankan, karena selain lebih bersih juga hemat waktu.

Mulai 2013, Adiwisesa menggagas cara pengedukasian baru yaitu menyediakan satu truk khusus bernama Truck Wacker. Melalui truk ini, konsumen atau tukang, bisa mendapatkan penjelasan langsung dari pegawai Adiwisesa. Kegiatan ini merupakan rangkaian program Corporate Social Responsibility (CSR) perusahaan melalui program “Ayo Membangun” di Jakarta. “Sebelumnya kita rutin mengadakan workshop, kita yang mendatangi. Tahun ini diubah penyampaiannya, yaitu dengan menyediakan wadah untuk edukasi bagaimana membangun rumah yang baik,” ujar National Sales & Marketing Manager Jenmie Srihartaty.

Jenmie menuturkan, perusahaan tengah mencanangkan 100 acara di 7 cabang AM untuk mengedukasi masyarakat. Mereka bekerja sama dengan para mitra yang punya visi serupa, yaitu pemasok bahan baku dari Jerman. Sudah sewajarnya konsumen menggunakan mortar sebagai perekat karena hemat waktu, lebih bersih, dan efisien.

Produksi mortar atau perekat menjadi salah satu indutri penunjang properti yang menjanjikan. Pasalnya, belum banyak yang memahami pentingnya perekat ini di dalam konstruksi bangunan. Direktur PT Adiwisesa Mandiri Building Albertus Indra Sasmitra mengatakan hal tersebut di Kantor Pusat AM, Jakarta, Rabu (20/5/2015). “High rise building setidaknya di atas 50 persen yang sudah menggunakan perekat. Residensial masih sangat sedikit,” ujar Albertus.

Ia menuturkan, penggunaan perekat sudah sangat populer di Eropa, Amerika, dan negara-negara maju lainnya. Namun tidak demikian di Indonesia. Para kontraktor ataupun tukang, masih menggunakan metode lama, yaitu membuat perekat sendiri. Mereka bertahan dengan cara lama ini karena berpikir biayanya lebih murah dibandingkan membeli perekat instan seperti yang diproduksi oleh Adiwisesa. Meski begitu, Albertus yakin metode ini lama kelamaan akan tergerus oleh waktu.

Nantinya, end user atau konsumen lebih menginginkan perekat yang instan. Hal ini dimungkinkan karena rumah-rumah yang ada saat ini, khususnya di kota besar, memiliki halaman yang kecil. Sementara pasir yang diayak untuk membuat perekat, membutuhkan tempat yang luas. Dengan demikian, jika pemilik ingin mengganti keramik atau ubin dan para tukang bertahan dengan cara lama, mau tidak mau, pasir harus diayak di luar halaman rumah atau di jalan. “Tahu sendiri kalau mengayak itu butuh paling tidak 5 meter. Itu tidak sedikit lho. Lama-lama bisa ganggu tetangga juga,” jelas Albertus.

Ada pun pada bangunan tinggi di atas lima lantai, tambah dia, mengayak juga menyulitkan. Ia menggambarkan, para tukang ini harus mengangkut ayakan sampai ke beberapa lantai saat pembangunan gedung. Hal ini, sangat tidak praktis. Oleh sebab itu, Albertus yakin, ceruk pasar untuk perekat ini masih sangat luas. Ditambah lagi, pembuatan kolam renang juga semakin umum. “Kami juga sediakan perekat untuk ubin kolam renang. Sekarang sudah banyak permintaan kolam renang di rumah. Biasanya, konsumen ingin buat kolam renang yang dempet dengan dinding rumah. Kalau perekatnya asal-asalan, air bisa merembes,” sebut Albertus.

Dengan tingkat kaporit yang tinggi, lanjut dia, maka potensi korosi juga ikut meningkat. Kalau sudah bocor dan lembab dinding bisa terkelupas. Perawatannya malah semakin mahal. Tidak sampai di situ, Albertus menambahkan, bukti lainnya ceruk pasar perekat cukup besar adalah karena pembangunan properti di Indonesia terus meningkat. Mengingat kebutuhan rumah masih tinggi, yaitu 13 juta unit. Dalam setahun, pemerintah setidaknya membangun 800.000 unit.

Tehnik Membuat Stem Cell Cultur Jaringan Dari Kerutan Kulit Berhasil Ditemukan


Para peneliti di Brown University mengembangkan teknik canggih dalam membentuk jaringan kultur sel. Teknik ini menggunakan kerutan lembar grafena (serat karbon berskala atom dalam tubuh makhluk hidup) untuk meniru lingkungan tubuh yang kompleks dalam bentuk tiga dimensi. “Ternyata cukup mudah membentuk tekstur kultur sel dengan grafena,” kata Ian Y. Wong, asisten profesor teknik yang juga anggota tim, seperti dikutip dari Science Daily edisi 22 April 2015.

Di dalam tubuh, jaringan tersebut berkembang lebih kompleks. Atas dasar itu, dalam empat dekade terakhir, para ilmuwan mencoba untuk menguak misteri jaringan kultur sel. Beberapa penelitian akhirnya menunjukkan, bahwa lingkungan fisik sel mempengaruhi terbentuknya fisiologi dan ekspresi genetik.

Namun, membuat permukaan tekstur sel yang berukuran lebih kecil dari skala spektrometer tidaklah mudah. Karena itu, tim ilmuwan dari Brown mengubah pola pikir mereka dalam penelitian kali ini. Yakni, bermula dari kultur grafena, karbon berukuran nano.

Tim membuat tekstur permukaan sel dengan menggunakan grafena oksida yang terbuat dari bahan silikon karet. Grafena diregangkan terlebih dulu sebelum diterapkan dalam kultur jaringan sel. Setelah mengering, rentangan tersebut kemudian dilepaskan dan dikembalikan ke ukuran normal. Saat itulah kerutan sel terbentuk.

Keunikan dari kerutan ini ialah dari segi fleksibilitasnya. Mehrdada Kiani, anggota penelitian, mengatakan kerutan dapat dibentuk sesuai keinginan. “Dengan metode ini Anda akan mendapatkan banyak kerutan sel,” ujarnya.

Kiani dan tim kemudian membagi pita grafena tersebut menjadi empat persegi panjang kecil, yang kemudian ditempatkan dalam cawan petri bersama sel firoblastik, sel yang berfungsi sebagai penyembuh luka, milik manusia dan tikus. Di dalam tubuh, sel firoblastik tumbuh di sudut jaringan kultur sel. Fisik sel ini cenderung kurus panjang, mirip dengan sel yang tumbuh di kerut grafena.

Langkah berikutnya, tulis para peneliti dalam jurnal Carbon, ialah melihat respons dari kerutan grafena tersebut. Hasil menunjukkan perbedaan besar pada tiap sel firoblastik. Di sel grafena datar, sel firoblastik tumbuh tidak teratur. Sedangkan di sel kerut grafena, firoblastik tumbuh memanjang dan selaras dengan kerut. “Fitur morfologis ini memperlihatkan sel kerut lebih cocok secara biologis,” kata Evelyn Kendall Williams, anggota tim.

Artinyna, Wong mengklaim, sel kerut grafena terbukti dalam mempengaruhi tumbuh kembang sel pada tubuh. Cara ini, kata dia, dapat dipraktekkan dalam metode biomimetik guna membentuk jaringan implan atau bahkan implan saraf.

Hanya, memang pekerjaan tersebut masih jauh. Tim berencana untuk mengujinya kembali dalam berbagai bentuk dan ukuran. Wakil Presiden Brown University bidang penelitian juga sepakat menambah dana penelitian ini. Rencananya, penelitian ini akan tetap berkolaborasi dengan laboratorium yang dipimpin Robert Hurt, seorang pakar yang berfokus pada penelitian karbon nanomaterial.

Sel Sentriol Yang Berfungsi Seperti Mata-mata Berhasil Ditemukan


Ilmuwan Ecole Polytechnique Fédérale de Lausanne (EPFL) menemukan bahwa sel sentriol, sel berstruktur tabung, bisa bertindak sebagai pembawa informasi temurun sel juga pembawa penyakit ke embrio sel yang sedang berkembang. Sentriol terdiri dari beberapa protein.

Sel ini sedang menjadi fokus banyak penelitian karena mutasi pada proteinnya membuat mereka dapat menjadi sumber utama penyakit. Di antaranya, kelainan perkembangan sel, kesulitan sistem pernapasan, kemandulan pria, dan kanker.

Selama ini, menurut Pierre Gonczy, pakar biologi molekuler dari EPFL, sel sentriol hanya dilihat sebagai batu lompatan sebuah embrio sel untuk berkembang.

“Tapi, kami menunjukkan bahwa sel ini juga mewarisi informasi searah kepada embrio sel beserta dampaknya yang tidak diketahui,” ujar dia, seperti dikutip dari Science Daily. “Dia seperti ‘mata-mata’ ganda.”

Temuan yang diterbitkan dalam jurnal Cell Research edisi April 2015 ini menunjukkan bahwa sentriol origin muncul dari sel telur yang dibuahi oleh sel dari kromosom milik ayah. Sel ini kemudian bertahan dalam puluhan divisi embrio sel yang sedang berkembang.

Fungsi sel sentriol paling terkenal mungkin kemampuan mereka dalam pembelahan sel. Sentriol memastikan bahwa kromoson sampai ke sel anak. Namun, mereka juga ditemukan di silia, struktur bulu mata panjang, yang berarti ini juga memungkinkannya untuk berada di bagian tubuh lain, seperti saluran pernapasan.

Selama reproduksi, kedua orang tua sama-sama memberikan kontribusi materi genetik mereka. Ibu juga memberikan sel mitokondrianya ke dalam tubuh anak melalui sentriol.

Gonczy dan timnya di Swiss Institute for Experimental Cancer Research EPFL menemukan bahwa sentriol dapat membawa informasi malfungsi sel, baik dari ayah atau ibu, ke embrio sel yang sedang berkembang.

Penelitian Gonczy dan timnya berbasiskan cacing Caenorhabditis elegans, yang biasa digunakan sebagai model organisme perkembangan embrio sel dan penyakit genetik pada manusia. Laiknya spesies lain, termasuk manusia, sentriol di C. elegans hanya menyumbangkan sel sperma. Tim mencari tahu seberapa jauh sentriol origin dari pejantan mengubah telur yang dibuahi menjadi embrio dan sel penuh, serta dampaknya.

Karena itu, tim pun memodifikasi sentriol dari sepasang C. elegans melalui rekayasa genetika. Ini dilakukan supaya protein sentriol dapat terlihat saat diberi sinyal pendar DNA. Singkat cerita, mereka menemukan kontribusi protein sentriol dari pejantan dapat bertahan sampai sepuluh generasi sel. “Ini pertama kalinya kita mengetahui sentriol dapat bertahan dengan gigi dalam embrio yang berkembang,” kata Gonczy

Lebih menarik lagi ialah implikasi penelitian ini terhadap dunia biologi pada umumnya, Gonczy mengklaim. Alasannya, belum pernah diketahui sebelumnya bahwa sentriol dapat bertahan dalam beberapa siklus sel. Menurut dia, studi ini dapat mengubah paradigma berpikir dan memahami lebih dalam mengenai biologi organel.

Lebih jauh, studi ini berimplikasi terhadap penanganan penyakit yang disebabkan sentriol. “Caranya dengan memahami bagaimana sentriol patogen dapat masuk ke dalam embrio anak,” kata Gonczy. “Itu yang akan kami kerjakan selanjutnya dalam laboratorium.”

Capung Rubyspot Merah Harus Bertarung Sampai Mati Sebelum Kawin


Mengapa hewan perlu bertarung dengan anggota dari spesies lain? Sebuah studi selama sembilan tahun dari para peneliti biologi dari University of California, Los Angeles, berusaha menjawab pertanyaan ini. Menurut mereka, untuk memperoleh akses kawin terhadap betina dari spesies lain.

Para ilmuwan mengamati dan menganalisis perilaku 100 ekor serangga Hetaerina, atau biasa juga dikenal dengan capung rubyspot. Serangga ini tersebar di sepanjang sungai di Texas, Arizona dan Meksiko. Capung rubyspot jantan selalu merespon dengan agresif pejantan dari spesies sama yang memasuki wilayah mereka. Sebaliknya, mereka akan saling cuek ketika pejantan dari spesies lain datang. Dengan catatan, tidak untuk mengawini betina dari spesies mereka.

Betina hampir selalu menolak jika diajak kawin dengan laki-laki dari spesies berbeda. Tapi, tidak mencoba untuk menghindari pejantan yang datang, terutama mereka yang berasal dari spesies dan memiliki kemiripan warna.

“Ternyata kompetisi capung rubyspot untuk kawin begitu kental,” kata Gregory Grether, profesor ekologi dan evolusi biologi di UCLA, yang juga peneliti utama studi, seperti dikutip dari Science Daily edisi 23 April 2015. Temuan Grether dan timnya ini diterbitkan dalam Proceedings of the Royal Society B.

Grether bekerja sama dengan Kenichi Okamoto, peneliti pascadoktoral di North Carolina State University, mengembangkan model matematis untuk memprediksi persaingan antarspesies capung rubyspot itu.

Umumnya, kata Jonathan Dury, penulis utama studi ini, dalam satu lokasi terdapat dua spesies rubyspot. Namun, agresi antarspesies lambat laun menghilangkan perbedaan substansial dalam hal warna tubuh. Sebagian besar spesies yang Dury dan Grether pelajari memiliki sedikit perbedaan warna.

Capung rubyspot jantan juga biasanya sulit membedakan betina dari spesies mereka sendiri dan spesies lainnya saat hendak memutuskan betina mana yang akan dikawini. “Saya menduga itu penyebab gigihnya agresi antarspesies,” ujar Dury. Penyebab lainnya lantaran serangga ini hanya hidup dalam beberapa pekan dan hanya memiliki kesempatan kawin selama beberapa jam.

Grether percaya bahwa temuannya ini juga berlaku pada spesies lainnya, khususnya dalam hal kawin dan teritori. Dia berniat untuk melanjutkan studinya terhadap spesies lain, seperti burung. Sedangkan implikasinya pada manusia, kata Grether, terkait dengan pola reproduksi dan agresi antar spesies. Kedua faktor tersebut memainkan peran penting dalam evolusi manusia.

Manusia modern telah ada setidaknya sejak 200 ribu tahun lalu dan Neanderthal baru diduga punah pada 40 ribu tahun lalu. “Sudah ada bukti genetik kalau kedua jenis manusia ini telah mengalami perkawinan,” dia menjelaskan. Agresi dan evolusi, menurut Grether, masih menjadi sesuatu yang belum terjelaskan.