Monyet Bonobo Ternyata Memiliki Perasaan Yang Sensitif Seperti Manusia


Bonobo ternyata juga memiliki sensitifitas dan tahu cara menghibur individu lain, seperti halnya manusia. Hal tersebut terungkap dalam hasil riset peneliti Yerkes National Primate Research Center, Emory University, yang dipublikasikan di jurnal PLoS ONE. Zanna clays Ph.D. yang memimpin studi ini dan rekannya melakukan penelitian pada bonobo berusia 3-7 tahun di Taman Nasional Lola ya Bonobo di Kongo. Bonobo usia 3-7 tahun setara dengan anak-anak TK.

Berdasarkan hasil penelitian, Clay menuturkan, “Hasil penelitian kami menunjukkan bahwa untuk bonobo, kepekaan terhadap emosi individu lain muncul di usia dini dan tidak membutuhkan proses berpikir yang berkembang saat dewasa.” Sensitifitas pada bonobo bisa dijumpai lewat perilaku menghibur atau melerai. Sifat ini, selain pada manusia dan bonobo, juga dijumpaim pada simpanse, anjing, gajah dan beberapa jenis burung. Belum ada monyet yang terbukti memiliki sifat ini.

Perilaku menghibur ini ditunjukkan lewat pelukan, mendandani maupun aktivitas seksual. Lewat perilaku ini, individu bonobo beruapa menurunkan tekanan pada individu yang dihibur. Berkurangnya tekanan ditunjukkan lewat berkurangnya individu bonobo tertentu menggaruk-garuk dirinya. Di Lola ya Bonobo, aktivitas melerai atau menghibur ditunjukkan lewat adanya individu yang melerai individu lain yang terlibat konflik. Dalam beberapa bulan di Lola ya Bonobo, peneliti mengobservasi 350 konflik, berupa saling pukul, saling dorong dan lainnya.

Peneliti menemukan, bonobo yang dibesarkan dengan baik oleh induknya memiliki sensitifitas lebih tinggi. Di Lola ya Bonobo, sebagian besar bonobo adalah yatim piatu karena orang tuanya dibunuh atau diambil sebagai hewan peliharaan.
Clays seperti dikutip Physorg, Rabu (30/1/203), mengatakan, “Kami menemukan hubungan erat pertemanan dan kekeluargaan, dimana bonobo cenderung menenangkan mereka yang secara emosional dekat.”

Bonobo merupakan primata besar yang memiliki kedekatan dengan manusia. Biolog Frans de Waal yang tekun meneliti spesies ini mengungkapkan bahwa salah satu yang menonjol dari bonobo adalah aktivitas seksualnya. Bonobo menggunakan seks sebagai alat meredakan konflik. Christopher Ryan, peneliti yang menguak misteri seksualitas manusia dalam bukunya Sex At Dawn, mengungkapkan bahwa manusia bisa belajar banyak hal dari bonobo tentang cinta dan seksualitas sambil merenungkan kemiripannya. Beberapa yang bisa dipelajari adalah sebagai berikut.

Lebih banyak seks = lebih sedikit konflik
Saat dua pejantan bonobo tegang dan ingin berkelahi, bonobo lain mulai bercinta satu sama lain. Alhasil, kondisi yang semula tegang mereda. Bonobo kemudian saling bercinta. Ini mungkin tampak seperti orgy pada manusia, tetapi intinya, bercinta lebih baik daripada bertengkar. Hubungan yang sama antara seks dan konflik pada bonobo, berdasarkan penelitian, juga dijumpai pada manusia. Seks pada manusia juga memiliki peran untuk meredakan konflik meskipun bukan dalam bentuk ramai-ramai seperti pada bonobo.

Peran betina
Pada bonobo, betina punya peran penting dalam mengatur. Yang luar biasa, dengan kekuatan betina, seluruh kelompok bisa hidup lebih baik. Ini mengajari betapa penting peran perempuan dalam hidup manusia.

Kekuatan persahabatan antarbetina
Meskipun betina bonobo punya ukuran 20 persen lebih kecil dari jantan, betina kuat bila bersatu. Sekali pejantan melecehkan satu betina, betina lain akan bersatu menyerang pejantan. Solidaritas betina, dipadu dengan seks, membuat pejantan bersikap lebih “sopan”.

Seks bukan cuma soal orgasme
Bonobo juga romantis, mengajarkan manusia bahwa seks tak melulu soal orgasme. Bonobo pandai membelai, mencium, saling berpegang tangan dan kaki, serta saling memandang saat berhubungan seksual. Bila manusia melakukannya, pasangan pasti akan lebih senang.

Cemburu sama sekali tak romantis
Bonobo sama sekali tak khawatir tentang pasangannya. Mereka tak mengekang pasangan maupun menggosipkan banyak hal tentangnya. Bonobo menikmati hubungan yang sehat. Walaupun, memang, bonobo bukan penganut monogami.

Hasil studi terbaru tentang Bonobo, salah satu jenis kera besar kerabat manusia, mengejutkan. Bonobo ternyata lebih terbuka dibanding manusia. Mereka suka berbagi dengan individu asing atau belum dikenalnya. Ilmuwan mengetahuinya setelah mempelajari bonobo di Taman Margasatwa Loya ya Bonobo di Kinshasha, Kongo. Ilmuwan menyebut, hasil penelitian ini adalah “salah satu fakta paling gila yang pernah ditemukan”.

“Ini kelihatan gila bagi kita, tapi Bonobo memilih untuk berbagi dengan individu asing. Mereka mencoba memperluas jaringan,” kata Brian Hare, profesor antropologi evolusi di Duke University, yang memimpin penelitian. Seperti dikutip Physorg, Rabu (2/1/2012), Hare berpendapat bahwa berbagi dengan individu asing lebih bernilai untuk memperluas pertemanan daripada membagi dengan yang sudah dikenal untuk mempertahankan pertemanan.

Hare melakukan beberapa eksperimen sebelum sampai pada kesimpulan tersebut. Ia meletakkan makanan tepat di tengah pagar yang memisahkan dua bonobo, satu yang dikenal, satu yang tidak. Bonobo tahu bagaimana membuka pagar dan mengakses kandang lain. Bonobo bisa saling berpandangan. Penelitian mengungkap, dari sebanyak 14 bonobo yang diikutsertakan dalam eksperimen, 9 di antaranya memilih untuk berbagi makanan dengan individu asing. Hanya dua individu yang memilih berbagai dengan yang sudah dikenal, sementara 3 memakannya sendiri.

Hare kemudian melakukan eksperimen untuk mengetahui motivasi bonobo berbagi. Pada set eksperimen pertama, bonobo diberi akses untuk berinteraksi. Pada set eksperimen kedua, bonobo hanya diminta berbagi, tetapi tak diberi akses berinteraksi. Hasil menunjukkan bahwa reaksi bonobo berbeda. “Bonobo peduli satu sama lain. Mereka akan berbagi meskipun hanya memiliki benefit sedikit, tetapi ketika tak melihat benefit apa pun, mereka takkan berbagi.” Hasil penelitian dipublikasikan di jurnal PLoS ONE, kemarin.

Karena Penisnya Bulat, Monyet Tibet Dimasukan Dalam Spesies Baru


Monyet dari Tibet dinyatakan sebagai jenis baru gara-gara bentuk penisnya yang tidak biasa. Bila kebanyakan monyet dan kera memiliki ujung penis berbentuk panah atau runcing, monyet baru itu punya ujung penis yang bulat bak bola. Kera yang dinamai Macaca leucogenys tersebut ditemukan di tenggara Tibet, wilayah antara Himalaya Selatan dan Indo-Burma. Wilayah itu dikenal kaya akan keanekaragaman hayati, tetapi jarang dieksplorasi.

Ilmuwan menemukan monyet itu dengan metode kamera jebak. Mereka memasang kamera di empat wilayah ngarai di Modog, Tibet. Dari pemotretan dengan kamera jebak itu, ilmuwan berhasil mendapatkan 700-an foto. “Foto kami benar-benar menunjukkan perbedaan antara monyet baru ini dan spesies lainnya,” kata Peng-Fei-Fan dari Dali University, yang terlibat riset, seperti dikutip New Scientist, Kamis (9/4/2015).

Selain memiliki kepala penis yang bulat, M leucogenys juga unik karena memiliki buah zakar yang begitu hitam dan berambut tebal, rambut tebal yang mengelilingi leher, serta pipi yang putih. Meski begitu berbeda, Michael A Schillaci dari University of Toronto di Kanada mengatakan, ciri-ciri yang ditemukan tak cukup untuk mengatakan bahwa M leucogenys adalah jenis baru. Menurut dia, analisis DNA harus dilakukan.

Terlepas dari bisa atau tidaknya spesies monyet itu sebagai jenis baru, keberlangsungan hidupnya terancam. Perburuan satwa dan penebangan hutan berlangsung marak. Pembangunan PLTU di habitat M leucogenys juga mengancam keberlanjutannya. Penemuan spesies baru ini dipublikasikan di American Journal of Primatology. Riset taksonomi ini unik karena pengambilan spesimen untuk identifikasi tidak dilakukan secara langsung demi menghargai hak satwa dan supaya tidak membunuhnya.

Peti Harta Karun Tambora Akan Dibongkar Oleh Tim Peneliti LIPI


Kekayaan alam hayati Tambora hingga saat ini masih tersembunyi. Belum banyak publikasi yang mengungkap keragaman jenis hewan, tumbuhan, dan mikroba di gunung tersebut. Tim peneliti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) pada Kamis (16/4/2015) hari ini berangkat ke Tambora, melakukan ekspedisi penelitian mengungkap harta karun hayati yang tersembunyi di gunung yang pernah meletus hebat tahun 1815 itu.

“Kami akan lakukan penelitian selama 15 hari,” kata Cahyo Rahmadi, pimpinan tim ekspedisi Tambora kepada Rabu (15/4/2015). Cahyo menuturkan, selama ini publikasi penelitian tentang keanekaragaman hayati Tambora baru pada golongan burung. Padahal, akibat peristiwa letusan 100 tahun lalu, ekosistem Tambora pasti punya kekhasan.

“Akibat letusan, ekosistemnya berubah total. Tentu banyak vegetasi yang sebenarnya masih pioneer, dari fauna itu relatif recent (baru mengolonisasi),” katanya. Salah satu yang menarik dikaji adalah keragaman hewan tak bertulang belakang dengan pergerakan terbatas. Ketika letusan, golongan dengan pergerakan terbatas pasti punah di ekosistem Tambora. “Kita bisa lihat apakah ada sekarang di sana. Kalau ada bagaimana keragamannya. Kita bisa juga melihat bagaimana mereka mengolonisasi,” ungkap Cahyo.

Sayang, Cahyo mengatakan bahwa untuk membandingkan keragaman sebelum dan sesudah letusan sulit. Pasalnya, sebelum letusan, belum ada pendataan keragaman hayati di wilayah tersebut. Tim ekspedisi ini terdiri dari 16 peneliti, mencakup pakar serangga, pakar ikan, pakar botani, pakar bangsa laba-laba, dan lainnya. Ekspedisi ini diprakarsai oleh Komando Pasukan Khusus TNI Angkatan Darat.

Tim akan mencari wilayah yang masih terjaga baik agar bisa merepresentasikan keragaman hayati di Tambora. Dari sisi ketinggian, wilayah penelitian yang dipilih berada di tengah-tengah. “Kalau sempat kami juga akan ke puncaknya,” kata Cahyo yang merupakan pakar bangsa laba-laba (Arachnida) dari Pusat Penelitian Biologi LIPI.

PT Pindad Kembangkan Sub Machine Gun PM-2 Untuk Pasukan Khusus


PT Pindad terus berinovasi. Setelah gagal dengan pemasaran senapan PM-1 karena paling maksimal cuma berfungsi sebagai senjata penjaga hutan, perusahaan alutsista Indonesia itu mempersiapkan PM-2. PM-2 yang merupakan jenis sub-machine gun atau pistol mitraliur tersebut punya kaliber 9 mm, sama dengan pendahulunya. Senjata ini memanfaatkan receiver SS-2 dan memiliki sentuhan Daewook K7, senjata produksi Korea yang kini jadi andalan TNI.

Sudah ada tiga prototipe PM-2. Untuk prototipe PM-2V1 dan PM2-V2, desainnya masih terlihat mengadopsi receiver konvensional. Sementara itu, PM-2V3 sudah menggunakan pengokang depan HK MP5 sampai varian rail interface system (RIS) yang digunakan pada SS-1 R5.

HK MP5 merupakan sub-machine gun produksi Jerman yang digunakan pasukan Kopassus untuk melakukan operasi Woyla, melawan pembajakan pesawat Garuda Indonesia rute Tanlangbetutu, Palembang, ke Polonia pada 28 Maret 1981. SS-1 R5 sendiri merupakan senjata produksi Pindad yang telah digunakan oleh pasukan elite Indonesia. Senjata ini menggunakan RIS yang dirancang dengan fitur free float untuk lebih mengupayakan akurasi kerja senjata.

PM-2 juga punya beragam jenis popor atau gagang senapan. Beberapa pilihan tangkai senapan antara lain lipat besi ala SS-1, senapan serbu produksi Pindad, yang diperpendek hingga popor teleskopik empat posisi yang mengambil dari carbine M4 produksi Amerika Serikat.

Sedikit modifikasi dilakukan. Ukuran lubang magasin atau peluru menjadi 5,56 mm. Perubahan memengaruhi rigiditas magasin. Bibir lubang magasin dipertebal sehingga penembak bisa memasukkan magasin lebih mudah.

Bagian tiang pejera dilindungi cincin atau ghost ring. Pisirnya bermodel diopter biasa. PM-2 sendiri masih menganut mekanisme blowback yang sederhana.

Untuk amunisi, Pindad membekali PM-2 dengan beberapa pilihan, antara lain MU-1TJ (peluru standar NATO tipe 9 x 19 mm FMJ), MU-1M (peluru high accuracy, dibuat dengan kontrol kualitas yang lebih baik), MU-1S (peluru subsonic, dibuat khusus untuk operasi senyap) MU-1H (peluru hampa, dibuat berbentuk crimp atau bintang dilapisi lilin untuk menahan mesiu di dalamnya), serta MU-1K (peluru karet, untuk operasi antihuru-hara).

Spesifikasi Pindad PM-2
Tahun rilis: 2007
Kaliber: 9 x 19 mm
Sistem operasi: blowback
Panjang total: 625 mm (popor terentang), 417 mm (popor terlipat)
Panjang laras: 195 mm
Bobot kosong: 2,9 kg
Jarak tembak efektif: 150 meter
Kecepatan tembak: 550 peluru per menit
Kecepatan proyektil: peluru MU-1TJ (380 meter/detik), MU-S (300 meter/detik)
Magasin: 32 peluru

PT Dirgantara Indonesia Kembangkan Pesawat Penumpang Jenis Baru


PT Dirgantara Indonesia (DI) sedang merencanakan kelahiran pesawat komersial baru yang digadang-gadang mampu bersaing dengan jenis ATR 42 dan Q300. “Sekarang sedang dalam tahap perencanaan. Kami akan evaluasi dulu kelayakan dan nilai ekonomisnya. Kalau layak, kami akan mulai kembangkan tahun depan,” kata Presiden Direktur PT DI Budi Santoso. Pesawat yang dinamai N-245 dan direncanakan memiliki kapasitas angkut 50 orang tersebut ditargetkan mampu melayani rute jarak dekat yang perlu pelayanan, tetapi dengan jumlah permintaan penumpang rendah.

“Misalnya rute Tanjung Karang ke Palembang, tidak ada pesawatnya sekarang. Nanti kami layani dengan N-245. Ya targetnya untuk jarak 100-200 mil laut, 400 kilometer, setara Jakarta ke Semarang,” kata Budi. Ditemui di sela National Innovation Forum 2015 yang diadakan di Puspiptek Serpong, Senin (13/4/2015), Budi mengungkapkan, N-245 bisa dikatakan sebagai bentuk modifikasi karena beberapa rancangan pada bagian pesawatnya diambil dari CN-235.

“(Desain) sayapnya itu kami ambil dari desain CN-235 dan N-295. Sama. Sayap itu sudah bisa untuk angkut beban 23 ton. Sudah proven. Untuk badannya, kami sedang mikir ambil dari CN-235. Itu untuk bentuknya. Kalau panjang, kan nanti bisa disambung,” kata Budi. Bagian yang baru dirancang adalah ekor. Menurut Budi, perancangan ulang bagian ekor diperlukan karena ekor pesawat CN-235 atau pesawat lain akan terlalu berat jika diaplikasikan.

Karena tidak merancang semua bagian dari awal, pengembangan N-245 bakal jauh lebih murah. “Kalau bikin pesawat dari nol, biayanya 1,5 miliar dollar AS sampai 2 miliar dollar AS. N-250 sekarang sudah hampir 2 miliar dollar AS. Untuk N-245, cuma 150 juta dollar AS, sudah sampai prototipe,” kata Budi. Budi percaya bahwa permintaan penumpang terhadap pesawat jarak dekat akan semakin tinggi seiring pertumbuhan ekonomi. Ia mengatakan, bila N-245 terwujud dan dijual, maskapai bisa mencapai break even point dengan hanya membeli 50-70 pesawat.

Pesawat komersial baru yang digagas PT Dirgantara Indonesia punya konsep berbeda dengan biasanya, yakni bukan mengandalkan ketangguhan teknologi seperti umumnya pesawat baru dibuat, melainkan mengandalkan kekuatannya untuk melayani penumpang. Presiden Direktur PT Dirgantara Indonesia Budi Santoso mengungkapkan, pesawat baru itu ditargetkan akan melayani rute-rute pendek, misalnya Tanjung Karang-Palembang, Jakarta- Cirebon, dan lainnya.

Pesawat yang diberi nama N-245 itu mungkin saja punya target tujuan akhir sama jauhnya dengan pesawat biasa, tetapi memiliki beberapa pemberhentian untuk menurunkan dan menaikkan penumpang di titik tersebut. Istilahnya ialah multihop atau spoke to spoke. Sebagai contoh ialah pesawat terbang dari Jakarta dengan target akhir Surabaya. Namun, pesawat tersebut berhenti di Cirebon dan Semarang untuk naik turun penumpang. “Jadi, seperti KRL,” kata Budi saat ditemui di National Innovation Forum di Puspiptek Serpong, Senin (13/4/2015).

Ya, mungkin sekarang sudah ada pesawat yang melayani jarak tertentu dengan pemberhentian di antaranya. Namum, rute N-245 bakalan lebih pendek, maksimal hanya 200 mil laut sekali terbang. Budi mengatakan, N-245 awalnya bisa dikonsentrasikan ke rute pendek dengan minat penumpang kecil. Namun, pada masa depan, pesawat tersebut bisa dioperasikan lebih luas. Budi percaya, minat warga Indonesia untuk naik pesawat walaupun dengan jarak pendek bakal tumbuh.

Pesawat direncanakan memiliki kapasitas angkut 50 penumpang. N-245 diharapkan mampu bersaing dengan pesawat jenis ATR 42 dan Q 300. Syukur jika N-245 juga bisa menggantikan pesawat seperti ATR 72 yang kini dipakai maskapai macam Garuda Indonesia untuk rute pendek. Budi menuturkan, N-245 adalah pengembangan dari CN-235. Sayap pesawat tersebut akan menggunakan sayap yang sebelumnya dikembangkan untuk CN-235. Untuk badan pesawat, dasarnya adalah badan CN-235 yang kemudian dimodifikasi bagian ekornya.

Saat ini, N-245 tengah memasuki tahap perencanaan. Ke depan, akan ada simulasi dan evaluasi secara ekonomi sebelum pengembangannya. Bila memang memungkinkan secara ekonomi, N-245 akan mulai dikembangkan tahun depan. Budi mengatakan, pengembangan N-245 bakal lebih murah. Bila pengembangan pesawat N-250 sudah menelan biaya hampir 2 miliar dollar AS, pengembangan N-245 hanya akan menelan biaya sekitar 150 juta dollar AS.

Ia juga menambahkan, keuntungan pengembangan juga akan dicapai lebih cepat. Dengan adanya 50-70 pembelian saja, keuntungan sudah akan didapat. “Sekarang waktunya kita juga harus berpikir ekonomi,” kata Budi.

Kronologi Letusan Gunung Tambaro Yang Mengubah Sejarah Dunia


Tepat 200 tahun lalu, Tambora marah besar. Amarahnya secara langsung dan tidak langsung menewaskan 88.000 orang. Tiga kerajaan tamat riwayatnya, Napoleon kalah perang, tahun tanpa musim panas terjadi, dan kelaparan serta wabah melanda dunia. Bagaimana sesungguhnya bencana itu terjadi? Tak banyak dokumen yang bisa menjadi rujukan untuk menceritakannya. Tiga dokumen berharga antara lain The History of Java (1817) dari Raffles, gubernur Inggris penguasa Jawa saat Tambora meletus, memoir Raffles (1830), dan Asiatic Journal volume 1 (1816).

Menurut dokumen itu, Tambora sebenarnya sudah mulai aktif tahun 1812, sering mengeluarkan asap hitam. Namun, banyak orang yang menganggap bahwa Tambora kala itu sudah “punah” atau bukan gunung berapi aktif. Erupsi besar pertama dimulai pada 5 April 1815, berlangsung selama 2 jam. Merujuk pada dokumen Raffles dan Asiatic Journal, Richard B Stothers dalam makalahnya di jurnal Science 15 Juni 1984 mengatakan, gemuruh aktivitas Tambora pada tanggal itu terdengar hingga kota Makassar (berjarak 380 km), Jakarta (1260 km), dan bahkan Maluku (1400 km).

Dalam memoirnya, Raffles menceritakan, “Gemuruh itu awalnya dikaitkan dengan adanya meriam pada jarak jauh, sedemikian sehingga tentara dibariskan di Yogyakarta untuk mengantisipasi serangan pihak lain dan kapal juga dibariskan di pantai mewaspadai kondisi sulit.” Raffles seperti dikutip Clive Oppenheimer dalam makalahnya di jurnal Progress in Physical Geology pada 2003 melanjutkan, “Namum pada pagi hari berikutnya, abu tipis menghapus semua keraguan, dan seiring erupsi terus terjadi, suara terdengar begitu dekat, terdengar begitu dekat di setiap daerah sehingga dikaitkan dengan letusan gunung Merapi, Kelut, dan Bromo.”

Orang yang tinggal di wilayah sekitar Tambora meminta pemerintah di Bima untuk melihat situasi. Pihak berwenang kemudian mengirim seseorang bernama Israel, tiba di sekitar Tambora pada 9 April 1815. Tapi belum sempat penyelidikan dimulai, tanggal 10 April 1815 sekitar pukul 19.00 WITA, Tambora kembali mengamuk. Kali itu, erupsinya berlangsung kurang dari 3 jam namun dengan skala lebih besar. Letusannya menurut volcanic explosivity index mencapai skala 7 dari 8. Hanya gunung Toba yang meletus 74.000 tahun lalu dengan magnitudo 8 yang mengalahkannya.

Cerita terbaik kedahsyatan letusan pada malam datang dari Letnan Owen Phillip. Dia diutus Raffles ke Sumbawa membawa beras dan menyelidiki dampak letusan pada 5 April. Di Dompu, dia bertemu raja Sanggar yang ajaibnya selamat dari bencana letusan, mengungsi. ”Sekitar pukul 7 malam pada 10 April (1815), tiga kolom muncul dari puncak Gunung Tambora. (Semuanya terlihat berasal dari kawah) Setelah naik secara terpisah ke ketinggian, ketiga kolom bergabung secara aneh dan mengerikan,” demikian Phillips menceritakan kemudian pada Raffles.

Phillip melanjutkan, “Dalam sekejap, seluruh bagian gunung di Sanggar tampak bagai cairan api, melebar ke segala arah. Api dan kolom asap terus saja membumbung hingga gelap sebab banyaknya material yang jatuh mengaburkannya sekitar pukul 8 malam.” Abu kemudian mulai turun antara pukul 9 hingga 10 malam. Kemudian, pohon-pohon yang tercerabut dari akarnya serta batu-batu raksasa mulai terlempar ke Sanggar antara pukul 10 hingga 11 malam. Stothers dalam makalahnya mengatakan, kolom erupsi mungkin musnah akibat massanya sendiri sebelum pukul 10 malam dan kaldera terbentuk pada saat yang sama.

Awan panas lalu turun gunung dan menerjang desa Tambora, meluluhlantakkannya. Lalu, angin ribut terjadi di Sanggar. Angin ribut yang terjadi sekitar 1 jam itu tak mencapai Bima yang terjarak 60 kilometer dari Tambora. Material vulkanik mengalir ke lautan, menyebabkan tsunami. Gelombang tsunami dengan ketinggian 4 meter mencapai Sanggar pukul 10.00 malam. Gelombang menjalar hingga Besuki di Jawa bagian timur, mencapai wilayah itu dengan ketinggian sekitar 1 – 2 meter beberapa saat kemudian. Tsunami juga diperkirakan mencapai Madura dengan ketinggian 1 meter.

“Mawar laut setinggi hampir 12 kaki yang tak pernah terjadi sebelumnya menghantam Sanggar yang cuma seperti sebulir padi, menghanyutkan rumah dan apapun yang ada dalam jangkauannya,” demikian cerita Phillip tentang tsunami. Suara ledakan mulai terdengar pukul 11 malam. Setelah itu, suara tersebut tak berhenti hingga 15 April 1815. Suara terdengar hingga Cirebon, Bengkulu, Makassar, Ternate dan sejumlah wilayah Indonesia lainnya. Abu pun menghujani banyak kota.

Dalam The History of Java, Raffles menceritakan penafsiran koresponden dari Gresik tentang gemuruh dan abu. Menurut koresponden Gresik itu, banyak warga mengaitkan gelap dan abu akibat letusan Tambora sebagai peristiwa pernikahan Nyi Loro Kidul dengan putranya. Suara gemuruh adalah ucapan selamat dari prajuritnya dan abu adalah ampas senjatanya. Kota Bima sendiri tetap gelap hingga pukul 12 siang pada 12 April 1815. Sementara di Makassar, hingga 11 April 1815 pukul 8.00, langit tetap gelap. Pada dasarnya, seluruh kota dalam radius 600 km terdampak oleh hujan abu dan letusan hingga gelap 2 hari.

Udara di sejumlah kota setelah letusan awalnya panas tetapi kemudian terasa dingin. Hingga wilayah Jakarta, dilaporkan bahwa udara berbau nitrogen. Di Tambora sendiri, asap masih terlihat hingga tanggal 23 April 1815. Sementara, getaran akibat aktivitas vulkanik masih terjadi hingga 23 Agustus 1815. Letusan Tambora kali itu memangkas badannya sendiri. Semula berketinggian sekitar 4.300 meter, kini Tambora hanya 2.850 meter. Letusan juga mengakibatkan terbentuknya kaldera selebar 6 kilometer dan sedalam 600-an meter.

Begitulah letusan dahsyat itu terjadi tepat 200 tahun lalu. Setelah berlalu, saatnya kini mengambil pelajaran dari peristiwa itu. Indonesia rawan bencana gempa dan gunung api. Oleh karena itu, penting untuk mengenal gunung dan mewaspadainya. Hidup di gunung yang membawa kesuburan boleh, tetapi tidak mengabaikan risikonya. Letusan Tambora sendiri berdampak besar pada iklim global saat itu. Tahun tanpa musim panas terjadi di Eropa. Gagal panen terjadi di China dan wabah melanda Amerika. Bagaimana cerita dampak itu?

Di belahan utara, salju biasanya turun antara bulan Desember hingga Maret. Namun akibat letusan dahsyat Tambora 1815 lalu, salju pernah turun pada bulan Juni 1816. Salju pada bulan musim panas itu adalah satu diantara sekian dampak salah satu letusan gunung terbesar sepanjang masa tersebut. Aerosol dan sulfat yang disemburkan Tambora ke atmosfer memicu pendinginan global.

Catatan Chester Dewey, profesor matematika dan ilmu alam di William College Massachusetts menyatakan, “kebekuan jarang terjadi pada musim panas, namun kali ini di mana-mana beku.” Catatan Dewey yang dikutip dalam publikasi Clive Oppenheimer di jurnal Progess in Physical Geology tahun 2003 tersebut menggambarkan kondisi cuaca pada 1816, tahun yang sering dijuluki tanpa musim panas.”Tanggal 6 Juni suhu 44 derajat sepanjang hari dan beberapa kali turun salju. 7 Juni tidak begitu beku namun tanah begiru dingin dan air beku di mana-mana,” catatnya lagi.

Bukan hanya wilayah Massachusetts, pada 6 Juni 1816, salju turun di sejumlah wilayah Amerika Utara, termasuk jantung dunia New York, kemudian Albany, Maine, dan Dennysville. Di Quebec, Kanada, salju terakumulasi hingga ketebalan 30 cm dari 6-10 Juni 1816.Cuaca dingin terjadi pula di Amerika Utara bagian selatan, meliputi Trenton, New Jersey, dan lainnya. Kondisi itu bertahan tiga bulan hingga panen pun gagal.

KR Briffa dan PD Jones melakukan analisis lingkaran pohon untuk menguak cuaca setahun setelah letusan Tambora di Eropa. Dalam publikasinya di jurnal Nature tahun 1992, dia menemukan bahwa musim panas tahun 1992 memang luar biasa dingin, terdingin sejak 1750.Suhu musim panas di Eropa 1-2 derajat Celsius lebih dingin dari rata-rata tahun 1810-1819 dan 3 derakjat Celsius lebih dingin dari rata-rata tahun 1951-1970.Tahun 1998, Briffa kembali memublikasikan makalah di Nature tentang efek Tambora pada pendinginan global. Ia menyatakan, Tambora menciptakan salah satu musim panas terdingin dalam 6 abad, kedua terdingin setelah tahun 1601 akibat letusan Huaynaputina di Peru.

Briffa menambahkan, Eropa juga mengalami musim dingin yang lebih banyak badai akibat letusan gunung yang kini tingginya tinggal 2.850 meter itu. Suhu dingin mengakibatkan krisis terbesar di dunia barat pada era modern. Begitu Tambora meletus, suhu dingin menyebabkan kalahnya Napoleon Bonaparte. Selanjutnya, suhu dingin juga menyebabkan ternak kekurangan makanan, gagal panen, kelaparan, dan wabah.Di Bima, abu letusan Tambora mencemari air. Akibatnya, manusia yang meminum terserang diare. Kuda-kuda juga mati.

Di Bengal, antara tahun 1816-1817, wabah kolera melanda. Sementara, wilayah North Carolina gagal panen. Dan, di New England, hewan ternak kekurangan makanan dan banyak yang mati. Orang-orang Wales kelaparan hingga harus berjalan jauh mencari makanan. Demikianlah dampak letusan Tambora pada iklim dunia. Gunung api sanggup melumpuhkan, memengaruhi iklim dunia. Tapi, manusia lebih mampu lagi. Emisi karena gunung berapi ditakir antara 0,15 – 0,26 gigaton per tahun. Namun, emisi karena manusia mencapai 35 gigaton per tahun. Bukan tak mungkin kelaparan, penyakit, dan kerugian besar terjadi akibat perilaku manusia yang memengaruhi iklim.

Hingga sebelum meletus pada April 1815, Gunung Tambora di Semenanjung Sanggar, Pulau Sumbawa, Nusa Tenggara Barat, itu tertidur panjang. Selain catatan John Crawfurd pada tahun 1812, nyaris tak ada sumber lain yang menyebut mengenai aktivitas gunung ini sebelum letusan. John Crawfurd, dokter dari Skotlandia yang berlayar melewati pantai Sumbawa pada tahun itu, melihat asap yang membubung tinggi dari puncak Tambora. Bahkan, abu tipis jatuh di geladak kapalnya. Namun, 10.000 penduduk di tiga kerajaan yang berada di lereng gunung yakni Tambora, Pekat, dan Sanggar, tidak menyadari bahwa gunung itu telah terbangun. Periode letusan Tambora yang sangat panjang membuat aktivitas gunung tak terekam oleh masyarakat lokal.

Dari analisis geologi yang dilakukan belakangan, Tambora diduga pernah meletus tahun 740 dan 3050 sebelum Masehi. Letusan pada 1815 dianggap yang terkuat. Terkuat yang tercatat dalam sejarah manusia, tapi bisa jadi letusan-letusan sebelumnya juga sangat kuat, hanya tak tercatat.Deskripsi tentang Gunung Tambora sebelum 1815 sangat minim, termasuk tentang keberadaan kerajaan-kerajaan di kaki gunung ini. Namun, dengan menghitung material vulkanik yang dilontarkan Tambora dalam letusan kolosal 1815, para peneliti menyimpulkan bahwa ketinggian gunung ini sebelum letusan itu 4.200 meter di atas permukaan laut (mdpl). Bandingkan dengan Gunung Kerinci, gunung api tertinggi di Indonesia saat ini yang 3.805 mdpl.

Volume material vulkanik yang dilontarkan ke udara mencapai 100-150 kilometer persegi. Tinggi payung letusan diperkirakan mencapai 30-40 kilometer (km) di atas gunung, sedangkan energi letusan mencapai 1,44 x 1027 Erg atau setara dengan 171.428,60 kekuatan bom atom yang dijatuhkan di Hiroshima pada 1945.Dalam waktu cepat, material vulkanik itu memenuhi langit Bumi, hingga menciptakan tahun tanpa musim panas di Eropa setahun kemudian. Di masa lalu, transportasi utama antarpulau masih dilakukan dengan kapal. Transportasi udara baru ditemukan 88 tahun kemudian, saat Wright bersaudara menemukan pesawat terbang pada Desember 1903. Bayangkan kekacauannya jika letusan Tambora ini terjadi saat ini. Lalu-lintas udara di dunia bakalan lumpuh.

Letusan itu memangkas tubuh Tambora hingga nyaris separuhnya menjadi 2.730 mdpl. Tubuh gunung yang kosong menciptakan lubang menganga dengan kedalaman hingga 1.100 meter dan lebar 6,2 km. Kaldera ini salah satu yang terbesar di Indonesia, setelah Rinjani di Lombok dan Toba di Sumatera Utara.Setelah 1815, di dasar kawah Tambora muncul anak gunung api. Warga setempat menyebutnya Doro Api Toi, bahasa Bima yang artinya gunung api kecil. Terakhir, Tambora meletus 1967, tetapi sangat kecil, tak sampai skala 1 dalam VEI, dibandingkan letusan Tambora pada 1815 yang mencapai 7 skala VEI. Walaupun tak ada lagi aktivitas seismik yang berarti sejak letusan 1815, PVMBG terus memantau gunung ini. Pusat pemantauannya berada di Doro Peti.

Awal Agustus 2011, aktivitas Doro Api Toi meninggi, ditandai gempa vulkanik terus-menerus dan asap putih tebal membubung hingga 20 meter dari puncak. Pada 29 Agustus 2011, tercatat 14 gempa vulkanik dalam dari Tambora, dan sehari kemudian PVMBG menaikkan status menjadi Waspada level II. Pada 8 September status dinaikkan menjadi Waspada level III. Namun, aktivitas anak gunung ini kembali menurun.Agustus 2014 lalu, kami menuruni kaldera Tambora dan melihat anak gunung telah tumbuh hingga setinggi sekitar 30 meter. Asap putih tebal menguar dari Doro Api Toi tanpa henti, menandakan dapur magma di perut Tambora masih menyala.

Namun, bagi PVMBG, Tambora memang bukan prioritas.Kepala Badan Geologi Kementerian ESDM Surono, dalam berbagai kesempatan mengatakan, setelah menemukan keseimbangan dengan letusan besar 1815, Tambora membutuhkan waktu panjang untuk kembali mengumpulkan daya.Menurut Surono, PVMBG juga telah membuat peta Kawasan Rawan Bencana Gunung Tambora. Dalam peta, Tambora dibagi dua zona, kawasan bahaya dan waspada. Kawasan bahaya berpotensi terdampak langsung aliran awan panas dan lava meliputi wilayah 58,7 kilometer persegi. Adapun daerah waspada berpotensi terkena aliran lahar dan hujan batu apung, seluas 185 kilometer persegi.

Sekalipun diyakini tidak akan meletus dalam waktu dekat, letusan Tambora harusnya menjadi penanda sejarah tentang begitu labilnya kondisi geologi Nusantara. Sayang, hingga dua abad letusan Tambora, gunung ini sepertinya lebih banyak dikenal di luar negeri daripada di Indonesia. Literasi tentang Tambora dalam khazanah Nusantara sangat minim. Bahkan, di Tambora sendiri, baru hari-hari ini saja gunung ini dibicarakan. Itu pun kebanyakan bukan dari aspek kegunungapian ataupun jejak peradaban yang terkubur karena letusannya. Barangkali, gagasan Ketua Tim Penelitian Situs Tambora, Sony Wibisono, dari Pusat Arkeologi Nasional (Pusarnas), untuk membuat Situs Tambora sebagai ekomuseum penting untuk diwujudkan.

Ekomuseum ini dapat mengangkat kembali Tambora sebagai tempat wisata, tempat pembelajaran sejarah, tempat konservasi sumber daya alam, dan sarana pemberdayaan masyarakat. Jika Pompeii bisa direkonstruksi dan menjadi tempat belajar warga dunia, kenapa Tambora dilupakan? Padahal, dampaknya jauh lebih hebat dibandingkan Vesuvius yang mengubur Pompeii, dan peristiwanya ratusan tahun lebih muda. April 1815, Gunung Tambora di Pulau Sumbawa, Nusa Tenggara Barat, meletus hebat. Dunia Barat didera ”tahun tanpa musim panas” setahun setelah itu. Belakangan, mereka mengenal Tambora sebagai, ”…penyebab krisis kemanusiaan terbesar pada era modern” (Clive Oppenheimer, 2003). Tahun-tahun setelah letusan itu juga dikenal di Barat sebagai ”Eighteen Hundred and Froze to Death” (Erik Conway, 2009).

Kegagalan panen dan wabah penyakit menular seperti tipus, disentri, hingga kolera, yang kemudian melanda dunia, menempatkan Tambora sebagai pembunuh global. Di Nusantara, dampak letusan melenyapkan dua kerajaan di lerengnya, Kerajaan Tambora dan Kerajaan Pekat, serta menghancurkan Kerajaan Sanggar. Kehancuran dan kematian massal juga melanda Lombok dan Bali hingga bertahun-tahun kemudian.

Jika kehancuran di sekitar Tambora disebabkan terpaan awan panas, kematian massal berskala global justru disebabkan pendinginan Bumi pasca letusan. Total penurunan suhu Bumi mencapai 0,4–0,7 derajat celsius (Richard B Stother, 1984), tetapi di beberapa tempat lebih tinggi, seperti di New England dan Selat Inggris yang turun hingga 2,5 derajat celsius (Sigurdsson, 2000). Dampaknya adalah kegagalan panen global.

Menurut Sigurdsson (2000), Benjamin Franklin kemungkinan adalah orang pertama yang menghubungkan letusan gunung api dengan anomali cuaca, ketika tahun 1784 dia menemukan ”kabut basah” dan musim dingin tak biasa yang melanda Eropa. Franklin berspekulasi bahwa kabut itulah yang mendinginkan musim panas, berasal dari asap tabrakan meteor atau letusan gunung api di Iceland (Gunung Laki meletus pada 1783). Hipotesis itu terkonfirmasi ketika Gunung Krakatau di Selat Sunda meletus tahun 1883 dan menciptakan perubahan cuaca global. Saat itu dunia telah terhubung oleh teknologi telegraf sehingga kabar letusannya mendunia dalam waktu singkat. Orang dengan cepat bisa menghubungkan langit jingga dan anomali cuaca di berbagai belahan dunia dengan letusan Krakatau.

Sebaliknya, letusan Tambora pada 1815 nyaris tak diketahui masyarakat Barat. Selama lebih dari seratus tahun, mereka tidak tahu penyebab ”tahun tanpa musim panas” pada 1816. Baru pada tahun 1920-an, WJ Humphreys, peneliti di kantor meteorologi AS, menemukan hubungan antara cuaca buruk pada 1816 dan letusan Tambora. Dia berteori, abu yang terlontar telah menghalangi sinar matahari ke Bumi. Teori itu belakangan dibantah ahli lain yang menyatakan bahwa pendinginan bumi tersebut disebabkan aerosol asam sulfat dari Tambora.

Setelah itu, pada 1960-an, ahli meteorologi Hubert Lamb membuat indeks yang membandingkan jumlah semburan partikel gunung api saat meletus sehingga dampak letusan terhadap iklim bisa diukur. Erupsi Krakatau pada 1883 berada di indeks 1.000. Letusan Tambora memiliki skor tertinggi, 4.200. Kini, para ilmuwan mengetahui, gunung api berpengaruh terhadap perubahan iklim global dalam dua cara; memanaskan sekaligus mendinginkan. Karbon dioksida yang rutin dikeluarkan gunung api dalam aktivitasnya menyumbang gas rumah kaca sehingga berpotensi menyebabkan pemanasan global. Namun, menurut hitungan Lembaga Survei Geologi Amerika Serikat (USGS), sumbangan emisi karbon seluruh gunung api dunia relatif kecil, hanya 0,26 giga ton per tahun, dibandingkan dengan emisi dari faktor antropogenik yang 35 giga ton per tahun.

Gunung api lebih signifikan mendinginkan Bumi. Selama letusan besar, sejumlah gas, aerosol, dan abu dilontarkan ke stratosfer. Abu yang dilontarkan akan cepat jatuh sehingga tidak berdampak pada perubahan iklim. Namun, gas-gas vulkanik, seperti sulfur dioksida, mampu memantulkan sinar matahari sehingga berdampak pada pendinginan Bumi. Sosialisasi terkait potensi bencana erupsi Gunung Tambora di Kabupaten Dompu, Nusa Tenggara Barat, kepada masyarakat yang bermukim di kaki dan lereng gunung itu masih minim. Padahal, sosialisasi penting untuk menanamkan kesadaran dan kesiapan masyarakat jika sewaktu-waktu bencana terjadi.

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Nusa Tenggara Barat (NTB) menggelar geladi kesiagaan bencana erupsi Gunung Tambora di Lapangan Dusun Pancasila, Desa Tambora, Kecamatan Pekat, Dompu, Selasa (7/4). Acara simulasi penanganan erupsi Tambora itu melibatkan warga desa, semua BPBD kabupaten dan kota di NTB, serta instansi terkait.

Kepala BPBD Dompu Imran M Hasan mengatakan, dari 12 desa di Kecamatan Pekat, baru sebagian yang telah mendapat sosialisasi kebencanaan. Kecamatan Pekat adalah wilayah di Dompu yang bersentuhan langsung dengan gunung setinggi 2.850 meter di atas permukaan laut itu.Terdapat empat desa di Pekat dengan kerawanan tinggi yakni Doro Peti, Sori Tatanga, Sori Nomo, dan Nanga Kara. Keempat desa itu posisinya paling dekat dengan Tambora dan terkena dampak paling parah dari erupsi dahsyat tahun 1815. “Dari keempat desa itu, baru Doro Peti yang sudah mendapatkan sosialisasi bencana erupsi tahun 2012 lalu,” kata Imran.

Camat Pekat Syaifullah menambahkan, keempat desa itu terletak di sisi selatan Tambora yang merupakan jalur lintasan lahar erupsi pada tahun 1815. Jumlah penduduk di keempat desa itu pun padat yakni separuh dari total 35.000 jiwa warga di seluruh Kecamatan Pekat. Imran mengatakan, idealnya sosialisasi kebencanaan di desa-desa di Tambora dilakukan minimal sekali dalam setahun. Hal itu dilakukan agar secara rutin mengingatkan warga akan potensi bahaya, dan cara menekan risiko jika erupsi terjadi.

Namun, Imran menambahkan, hal tersebut terkendala minimnya anggaran yang dimiliki BPBD Dompu. Dalam setahun, kemampuan anggaran daerah untuk membiayai BPBD hanya Rp 500 juta-Rp 600 juta. “Paling tidak kami membutuhkan anggaran Rp 1 miliar. Namun, itu sulit dipenuhi jika mengandalkan APBD kabupaten yang terbatas. Kami berharap pemerintah pusat memberi perhatian,” katanya.Terkait masalah itu, fasilitator manajemen bencana dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Agus Sardiyarso, yang hadir dalam geladi itu, mengatakan, sosialisasi kepada warga adalah tanggung jawab pemerintah daerah. Agus menambahkan, status Tambora saat ini masih Normal atau level I. Tahun 2011, status Tambora pernah Siaga (level III) atau satu level sebelum erupsi.

Pulau Sulawesi Termasuk Daerah Yang Berpotensi Tsunami


Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika mengungkapkan Pulau Sulawesi termasuk daerah yang memiliki potensi tsunami, sehingga warga tetap harus waspada terhadap tanda tanda tsunami.

“Penyebab tsunami di Sulawesi, termasuk Sulawesi Selatan, adalah karena adanya patahan- patahan kecil,” kata Muhammad Karnaen, Staf Geofisika Balai Besar Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Wilayah IV Makassar saat sosialisasi informasi BMKG di Makassar, Kamis, 16 April 2015.

Karnaen mengatakan, tanda-tanda datangnya tsunami antara lain terjadi gempa kuat dengan getaran lebih dari satu menit, air laut surut secara mendadak, burung laut terbang ke darat, angin kencang dari arah laut, dan gelombang seperti tembok hitam yang mendekati pantai.

“Jangan seperti kejadian di Aceh. Karena air surut tiba-tiba, waktu itu banyak masyarakat yang berkumpul di pantai menangkap ikan. Tidak lama kemudian datanglah tsunami,” ujar Karnaen.

Menurut Karnaen, sejarah tsunami di Sulawesi Selatan yang pertama adalah saat terjadi gempa Tinambung yang terjadi pada 11 April 1967. Gempa itu menimbulkan tsunami yang menewaskan 58 orang, 100 orang luka luka, 13 orang hilang. Saat itu juga terjadi tanah longsor dengan intensitas gempa 7 sampai 8 MMI.

Kedua, gempa Majene yang menimbulkan tsunami pada 23 Februari 1969. Menyebabkan 64 orang meninggal, 97 orang luka luka, dan 1287 tempat tinggal dan masjid mengalami kerusakan. Dermaga pelabuhan pecah sepanjang 50 meter akibat gelombang laut setinggi 1,5 sampai 4 meter.

Ketiga, gempa Ulaweng Mamuju pada 8 April 1993 pada kedalaman 31 kilometer. “Tidak ada korban jiwa dalam peristiwa ini,” kata Karnaen.

Kepala Sub Bidang Pelayanan Jasa BMKG Wilayah IV Makassar Sujarwo mengatakan untuk tindakan mitigasi, BMKG telah memanfaatkan jasa satelit agar satu jam sebelum terjadi tsunami, informasi sudah bisa sampai ke masyarakat melalui pesan singkat ke nomor telpon.

“Kami sekarang juga mengandalkan media dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah untuk meneruskan informasi cepat sampai ke masyarakat,” kata Sujarwo.

Menurut Sujarwo, untuk memperkuat data meteorologi BMKG telah mengusulkan agar peralatan informasi meteorologi ditambah. Misalnya alat automatic wheather station (AWS) dan automatic rain gauge (ARG). Karena saat ini jumlahnya hanya satu untuk setiap kabupaten, dengan kemampuan jangkauan hanya 5 sampai 10 kilometer.

Sebagai proyek percontohan penguatan peralatan, BMKG akan melakukannya di Kota Makassar. Rencananya, Makassar akan dibagi menjadi lima zona wilayah prakiraan, sehingga setiap zona bisa mencakup 2 sampai 3 kecamatan. “Mudah-mudahan tahun depan anggarannya disetujui,” ujar Sujarwo.

Menurut Sujarwo, untuk pengadaan alat-alat itu BMKG masih mengimpornya. Harga automatic rain gauge sekitar Rp 70 juta dan automatic wheather station sekitar 500 juta. “Kita punya produk serupa yang diciptakan anak dalam negeri, tapi masih berupa prototype. Sementara kami harus menggunakan alat yang sudah teruji kualitasnya,” kata Sujarwo.