Monthly Archives: Juli 2013

Ilmuwan Temukan Terapi Gen Untuk Sembuhkan Down Sindrom


Kabar gembira bagi para penderita sindrom Down. Tim ilmuwan dari University of Massachusetts Medical School di Worcester, Amerika Serikat, telah menemukan cara baru untuk menyembuhkan kelainan genetik itu.

Penelitian dilakukan dengan mengambil sel kulit dari laki-laki penderita sindrom Down dan “memutar ulang” mereka kembali ke tahap embrio.

“Kromosom ekstra yang menyebabkan sindrom Down harus dibungkam,” kata pemimpin penelitian, Jeanne Lawrence, seperti dikutip Newscientist, Jumat 19 Juli 2013.

Penderita sindrom Down memiliki salinan ekstra kromosom 21 yang mengubah cara sel-sel mereka berkembang. Ke dalam kromosom ekstra ini, Lawrence dan timnya menyisipkan salinan gen XIST. Gen yang ditemukan dalam kromosom X ini berfungsi membungkamnya. Gen XIST biasanya diperlukan untuk menekan satu dari dua kromosom X pada wanita.

Pengaktifan gen XIST seketika membungkam ekspresi kromosom 21. Akibatnya, sel-sel tubuh dapat berkembang normal dan dalam dua pekan telah membentuk kumpulan neuron yang membentuk sistem saraf pusat. “Efek ini tidak dijumpai pada sel yang tidak disisipi XIST,” ujar Lawrence.

Aktivasi gen XIST juga mencegah ekspresi gen APP pada kromosom ekstra yang memicu pembentukan beta-amiloid, protein yang berkaitan dengan penyakit Alzheimer dan yang mempercepat perkembangan sindrom Down.

Robin Lovell-Badge dari National Institute of Medical Research di London mengatakan intervensi dalam embrio hidup tidak mungkin dilakukan. “Saya tidak yakin cara ini bisa diterapkan di semua sel bersamaan dengan diagnosis sindrom Down,” kata dia mengomentari penelitian Lawrence.

Adapun menurut Elizabeth Fisher dari University College London, temuan Lawrence tetap berpotensi digunakan untuk mengobati beberapa gejala sindrom Down. Caranya dengan membungkam kromosom di daerah tertentu pada tubuh.

Spesies Katak Berkumis Ditemukan Di London dan China


spesies katak berkumisSebuah kumis pada manusia tidak dapat menjadi tolok ukur mengenai kualitas hidup seorang pria. Namun, bagi katak emei, kumis yang berkualitas merupakan suatu bagian tubuh yang sangat penting.

Katak emei berkumis (Leptobrachium boringii) banyak ditemukan di Williamburg, New York; Hackney, London; Mission district, San Fransisco; dan pada sungai berarus tenang di daerah pegunungan terpencil di barat daya China.

Kumis pada katak emei jantan tumbuh pada awal musim kawin. Kumis inilah yang menjadi senjata bagi katak emei jantan untuk mempertahankan sarang yang nantinya akan ia gunakan untuk menarik katak betina.

Sebagian besar amfibi bersifat lembut. “Dalam sebuah perkelahian, biasanya amfibi hanya bergulat,” ujar Cameron Hudson dari University of Guelph di Ontario, Kanada. Namun, sifat ini tidak terlihat pada katak emei berkumis jantan. Katak emei berkumis jantan memiliki tubuh yang lebih besar daripada betina. Hal ini seakan menjadi tanda mengenai sifat keras mereka.

Selama masa kawin, 10 hingga 16 duri tumbuh di atas bibir mereka. Duri inilah yang pada akhirnya disebut kumis pada jenis katak emei. “Mereka setajam pensil. Mereka akan menusuk ketika Anda mengambil mereka,” ujar Hudson.

Katak emei menghabiskan sebagian besar waktunya di dalam hutan, tetapi pada bulan Februari dan Maret mereka masuk ke sungai untuk berkembang biak. Katak emei berkumis jantan akan masuk ke sungai beraliran deras dan memilih batu sebagai sarangnya. Mereka menghabiskan beberapa minggu berenang di sekitaran batu yang mereka pilih untuk menarik betina. Mereka melakukan itu tanpa adanya asupan makanan.

Hudson dan seorang temannya, Jinzhong Fu, memantau kehidupan katak emei berkumis selama dua minggu di bentangan sepanjang 300 meter dari sungai dekat Gunung Emei di Sinchuan, China. Mereka menangkap dan menandai 77 katak, kemudian memeriksa katak mana yang menempati sebuah sarang setiap harinya.

Hudson menyaksikan tujuh pertarungan antar-katak jantan dan berhasil mengabadikannya ke dalam lima film. Hudson memperkirakan, setidaknya ada 14 perkelahian dalam satu bentangan sungai tersebut karena terdapat banyak pejantan yang “terpaksa” menyerahkan sarangnya kepada pejantan lain.

Para pejantan bertarung di bawah air, menanduk perut satu sama lain, dan menusukkan kumis duri ke dalam katak lain.

“Saya belum pernah melihat mereka saling membunuh, tetapi mereka punya banyak luka tusukan,” kata Hudson seperti dikutip New Scientist, Jumat (5/7/2013).

Katak emei betina mengunjungi pejantan di sarang mereka dan meletakkan telurnya pada bagian batu yang terendam air untuk dibuahi oleh pejantan tersebut. Jika pekerjaannya telah selesai, katak betina akan langsung kembali ke hutan. Sementara katak jantan tinggal untuk merawat telur tersebut.

Selain berjiwa petarung, katak emei berkumis jantan juga merupakan seorang ayah yang baik. Ketika Hudson meneliti gen dari katak jantan dan telur yang mereka lindungi, ia menemukan bahwa banyak pejantan merawat telur yang bukan milik mereka. Mereka mungkin mengusir pejantan sebelumnya dan mengambil alih telur serta sarangnya.

“Saya tidak yakin jika mereka merawat telur lainnya, tetapi yang pasti mereka tidak menyakiti telur itu,” ujar Hudson.

Tidak jelas mengapa pejantan tidak menghancurkan telur saingan mereka. Memiliki telur tambahan mungkin berarti mereka dapat bertahan hidup ketika predator menyerang sarangnya. Kemungkinan lain betina lebih menyukai pejantan yang sudah memiliki telur. Mereka tampak memiliki kualitas yang lebih tinggi.

Satu hal yang masih menjadi pertanyaan adalah bagaimana kumis dapat membuat pejantan tampak lebih tangguh. Panjang kumis duri pada katak emei cenderung sama sehingga panjang jelas bukanlah faktor yang menentukan. Hudson mengatakan bahwa ukuran dan kekuatan seorang pejantan mungkin yang menjadi jawabannya. Pejantan yang kuat bisa mendorong kumis duri mereka lebih jauh ke dalam perut saingannya.

Dalam pengamatan yang dilakukannya, Hudson mengatakan jika betina terakhir datang pada awal Maret. Setelah masa itu, para pejantan berhenti bertarung dan duri mereka pun rontok. Setelah telurnya menetas, para pejantan kembali ke hutan dan meninggalkan berudu untuk bertahan hidup seorang diri.

40 Persen Pasangan Masih Tetap Berponsel Ria Sambil Bercinta


Kecanduan teknologi telah memberikan dampak di hampir segala sendi kehidupan, tak terkecuali terhadap kehidupan seks pasangan suami istri. Saking tidak bisa lepas, 40 persen pasangan masih sempat memainkan ponsel sembari bercinta dan dari jumlah tersebut 60 persen dilakukan ketika memberi/menerima oral seks bahkan sebanyak 20 persen mengabadikan aksinya untuk kenang-kenangan atau ditunjukan pada teman selingkuhnya.

Sebuah studi yang dilakukan perusahaan teknologi Jumio mengungkap betapa teknologi, khususnya ponsel begitu ‘nyandu’ di kehidupan manusia modern. Selain bercinta, menyetir mobil juga dilakukan sambil memainkan ponsel oleh 55 persen responden.

Hasil pengamatan terhadap 1.102 responden pengguna ponsel alias telepon seluler menunjukkan, orang dewasa muda paling susah melepaskan diri dari ketergantungan tersebut. Di kelompok usia 18-34 tahun, 37 persen responden berhubungan seks sambil memainkan ponsel.

Ketergantungan terhadap teknologi juga bisa diamati dalam kegiatan lain yang tidak kalah privat, yakni saat mandi. Sebanyak 12 persen responden dalam studi tersebut mengatakan tidak pernah lupa membawa ponsel dan memainkannya di kamar mandi.

Lebih dari 30 persen responden mengecek ponselnya meski saat sedang asyik nonton di bioskop, sementara 19 persen juga melakukannya saat sedang ibadah. Bahkan saat sedang berkencan dengan pasangan untuk makan malam, 33 persen tidak bisa menjauhkan jemarinya dari ponsel.

“Orang melihat ponsel sebagai kepanjangan dari hidupnya. Mereka membawanya ke manapun mereka pergi, mulai dari kamar mandi hingga di kendaraan umum, dari kencan makan malam sampai kamar tidur,” kata Marc Barach dari Jumio seperti dikutip dari Daily Mail, Jumat (12/7/2013).

Penelitian lain yang melibatkan 2.021 pengguna ponsel menunjukkan bahwa kecanduan teknologi sebenarnya sangat mengganggu kehidupan pribadi. Sebanyak 12 persen responden menilai, pasangan yang tak bisa berhenti mengecek ponsel adalah sebuah masalah.

Scan Otak Membuktikan Orang Narsis dan Arogan Ternyata Sangat Rendah Diri


Orang yang menderita gangguan kepribadian narsisme memiliki kelainan strukturan di suatu wilayah di otak yang berkaitan dengan empati. Narsisme adalah suatu keadaan mencintai diri sendiri secara berlebihan. Ini ditandai dengan sikap arogansi ekstrim.

Peneliti menggunakan pencitraan resonansi magnetik untuk memindai otak dari 34 orang. “Hasilnya, sebanyak 17 orang menderita gangguan narsisme,” tulis Live Science, Senin, 24 Juni 2013. Penderita narsisme menderita kekurangan wilayah abu-abu di bagian korteks serebral. Wilayah abu-abu ini disebut abu insula anterior kiri. Bagian ini terdiri atas neuron sel tubuh dan sel-sel otak non-neuron yang memberikan nutrisi dan energi pada neuron.

Menurut American Psychiatric Association, penderita narsisme sebenarnya memiliki rasa hendah diri, tapi diproyeksikan dengan menampilkan arogansi dan kesombongan. Stefan Röpke, profesor psikiatri dari Universitätsmedizin Berlin, Jerman juga mengungkapkan, salah satu ciri narsisme adalah kurangnya rasa empati mereka. Umumnya, pasien mampu mengenali apa yang orang lain rasakan dan pikirkan, tetapi secara lahiriah menunjukkan sedikit kasih sayang

Insula anterior kiri yang diduga terlibat dengan fungsi kognitif dan regulasi emosi, juga telah dikaitkan dengan generasi kasih sayang dan empati. “Narsisme sudah lama dikaitkan dengan empati, tapi baru sekarang ditemukan bahwa ini secara struktural berhubungan dengan otak,” ujar Röpke.

Temuan ini juga menunjukkan bahwa terlepas dari gangguan kepribadian, insula anterior kiri memainkan peran penting dalam perasaan dan ekspresi kasih sayang, kata Röpke. Berhati-hatilah jika Anda memiliki kepribadian narsistik. Ternyata bukan cuma membuat orang di sekeliling Anda tidak suka, bersikap narsis bisa juga membahayakan jantung Anda.

Bahaya narsistik terhadap jantung diungkapkan peneliti dari University of Michigan, Amerika Serikat. Psikolog Sara Konrath meneliti 106 mahasiswa laki-laki dan perempuan untuk mengungkap keterkaitan ini. Dia mengukur kadar narsisme setiap partisipan dan hormon kortisol yang menyebabkan stres.

Pada penelitian terdahulu ditemukan bahwa seseorang yang memiliki skor tinggi dalam skala narsisme menunjukkan peningkatan kadar kortisol ketika terancam. Karena itu, Konrath dan rekannya betul-betul ingin mengetahui pengaruh kortisol lebih lanjut. Ini dilakukan untuk melihat apakah orang yang narsis memiliki kadar hormon stres lebih tinggi secara keseluruhan.

Ternyata, itulah yang mereka temukan. Para peneliti mengukur kadar kortisol pada air liur mahasiswa. Partisipan kemudian diberikan 40 pertanyaan untuk menilai kecenderungan narsistik mereka. Tes diberikan dengan berbagai variasi bentuk narsisme: ada narsisme yang berkualitas dan bermanfaat, seperti menyebabkan kepemimpinan yang kuat. Di sisi lain, narsisme lainnya berdampak buruk karena orang yang narsis sangat memfokuskan eksploitasi diri dan hak mereka.

Menariknya, Konrath dan timnya menemukan bahwa orang dengan skor tinggi pada aspek narsisme negatif menunjukan kadar yang tinggi pada kortisol. Sementara mereka dengan skor tinggi pada aspek narsisme positif tidak seperti itu. Kecenderungan itu lebih terlihat pada laki-laki dibanding perempuan. Mungkin karena fakta lebih banyak pria cenderung narsis.

Konsekuensi dari tingginya kadar kortisol yang kronis telah didokumentasikan dengan baik pada penelitian sebelumnya. Kortisol, hormon yang meningkat saat seseorang merasa terancam dan cemas, mengaktivasi respons stres tubuh, meningkatkan detak jantung, mengasah indra dan membakar banyak energi untuk menjaga tubuh agar tetap waspada. “Seseorang dengan sifat narsistik cenderung defensif, menjadi agresif ketika superioritasnya terancam,” kata Konrath. Kenyataan ini dapat meningkatkan kortisol dan membuat jantung rentan terkena penyakit.

Temuan ini juga menyarankan bahwa baik perawatan primer dokter dan profesional kesehatan mental harus lebih memperhatikan hubungan antara pikiran dan tubuh.

Terbukti Tinggal Dekat Pantai Meningkatkan Kesehatan


Studi yang dilakukan di Universitas Exeter, Devon, Inggris, menyimpulkan banyaknya manfaat kesehatan dari menghabiskan waktu di dekat laut. Penelitian ini dipresentasikan Rabu lalu pada konferensi kebijakan ilmu pengetahuan, yang diselenggarakan oleh American Geophysical Union. Peneliti melakukan beberapa percobaan untuk menentukan apakah pantai mempengaruhi kesehatan seseorang.

“Bukan rahasia lagi, pantai membuat seseorang menjadi rileks,” ujar Michael White, salah satu peneliti, pada Daily Mail, Senin, 1 Juli 2013. Para peneliti mempelajari data sensus di Inggris. Mereka menemukan kesehatan orang yang tinggal di dekat pantai lebih baik.

Menurut White, rumah semakin dekat dengan pantai secara signifikan meningkatkan kesejahteraan seseorang. Pindah ke rumah di tepian laut juga dapat mengurangi stres dan mendorong aktivitas fisik.

Dalam sebuah eksperimen, peneliti meminta responden memberikan nilai pada gambar pantai, sawah, dan kota. Hasilnya, pantai mendapat nilai tertinggi.

Para peneliti terus mempelajari mafaat pantai bagi kesehatan seseorang. Salah satu penelitian yang sedang berjalan, meneliti manfaat pantai bagi seseorang yang baru saja melakukan operasi gigi.

Dari hasil penelitian terungkap, pantai bisa meredam rasa sakit yang mereka derita. Penemuan ini menjadi gerbang awal bagi pengobatan baru. Salah satu penyelenggara studi tersebut, Lora Fleming mengatakan bahwa pantai diharapkan dapat menjadi media terapi penyembuhan baru.