Monthly Archives: Mei 2011

Pembangkit Listrik Tenaga Mikroba Ditemukan Oleh Tim Dari University of East Anglia di Inggris


Mikroba ternyata dapat dimanfaatkan sebagai sumber listrik alami. Menurut para ilmuwan, organisme mikroskopik yang sebagian besar berupa satu sel ini mampu melepaskan muatan listrik kecil.

Salah satu mikroba bermuatan listrik yang telah ditemukan memiliki “kabel” super kecil yang ‘keluar’ dari dinding sel mereka. Menurut laporan Jurnal Proceedings of the National Academy of Sciences, Amerika Serikat, dari ‘tentakel’ kecil itu, bakteri tersebut membersihkan diri dari minyak atau polusi uranium.

“Temuan ini dapat digunakan sebagai alternatif sumber listrik,” kata penulis utama Tom Clarke dari University of East Anglia di Inggris.

Dengan ditemukannya struktur mikroba tersebut, maka peneliti dapat membuat desain elektroda khusus supaya bakteri tadi dapat melepaskan energi listriknya dan bisa digunakan manusia.

Saat ini, para peneliti itu sedang membuat sebuah perangkat menyerupai baterai yang diisi dengan mikroba berlistrik. Baterai tersebut rencananya dapat digunakan sebagai tenaga lampu atau telepon selular.

Tehnik Ular Menyuntikan Racun Kedalam Tubuh Mangsanya Ternyata Sesuai Dengan Ilmu Geometri dan Fisika


Banyak orang percaya bahwa ular menyuntikkan bisa beracun ke dalam tubuh korbannya menggunakan taring berlubang. Faktanya, sebagian besar ular dan reptil berbisa lainnya tak mempunyai gigi taring berlubang. Kini para fisikawan mengetahui trik yang digunakan binatang itu untuk memasukkan bisa beracunnya ke dalam kulit korbannya.

Selama bertahun-tahun, Leo von Hemmen, ahli biofisika di TU Muenchen, dan Bruce Young, ahli biologi di University of Massachusetts Lowell, telah meneliti indra pendengaran ular. Ketika mendiskusikan toksisitas ular, mereka menyadari bahwa hanya sedikit ular yang menginjeksikan bisanya ke tubuh korban menggunakan taring berlubang. Meski sebagian besar reptil berbisa tak memiliki taring berlubang, mereka adalah predator efektif.

Hanya sekitar sepertujuh dari seluruh ular berbisa, seperti ular derik, mengandalkan trik taring berlubang. Ular lainnya mengembangkan sistem lain, seperti ular mangrove pit viper (Boiga dendrophila). Menggunakan taring kembarnya, ular Boiga melubangi kulit korbannya. Bisa mengalir masuk ke luka di antara gigi dan jaringan. Namun ada cara lain yang lebih mudah, banyak taring mempunyai lekukan untuk mengalirkan bisa ke dalam luka.

Para ilmuwan penasaran bagaimana metode sederhana seperti itu bisa sangat berhasil dari sudut pandang evolusioner. Bulu burung, misalnya, dapat dengan mudah mengibaskan bisa yang mengalir sepanjang lekukan terbuka. Untuk mengungkap misteri itu, mereka menyelidiki tegangan permukaan dan kekentalan berbagai bisa ular. Pengukuran tersebut memperlihatkan bahwa bisa ular sangatlah kental.

Tegangan permukaan bisa ular cukup tinggi, hampir sama dengan air. Hal itu menyebabkan energi permukaan menarik tetesan bisa ke lekukan taring, lalu menyebar. Dalam perjalanan evolusi, ular beradaptasi terhadap mangsanya menggunakan kombinasi geometri lekukan taring optimal dan viskositas bisa. “Ular yang memangsa burung mengembangkan lekukan yang lebih dalam agar cairan bisa kental tak tersapu oleh bulu burung,” kata von Hemmen.

Para ilmuwan juga menemukan jawaban bagaimana ular memasukkan bisanya ke kulit mangsanya dan memicu timbulnya efek mematikan. Dalam soal ini, ular mengembangkan trik dalam evolusinya. Ketika ular menyerang, lekukan taring dan jaringan di sekitarnya membentuk sebuah kanal. Jaringan akan menyerap bisa lewat kanal tersebut.

Bisa ular memiliki struktur khusus untuk mendukung efek tersebut. Sama seperti saus tomat, yang menjadi lebih cair ketika dikocok, tekanan yang muncul dari isapan itu menyebabkan kekentalan bisa berkurang, membuatnya dapat mengalir dengan mudah melewati kanal dengan cepat karena pengaruh tegangan permukaan.

Von Hemmen menyebut karakteristik substansi ini sebagai cairan non-Newtonian. Trik ini sangat praktis bagi ular. Selama tak ada mangsa yang terlihat, bisa dalam lekukan taring akan tetap kental dan lengket. “Ketika ular menyerang, cairan beracun akan mengalir sepanjang lekukan taring, memasuki luka, dan menimbulkan efek mematikan,” katanya.

Ditemukan Sebuah Suku Amazon Yang Tidak Mengenal Tua dan Usia Serta Konsep Waktu


Sebuah suku Amazon tidak memiliki konsep waktu atau tanggal. Orang-orang Amondawa, Brasil, ini bahkan tidak memiliki kata-kata untuk waktu, minggu, bulan, atau tahun, kata Chris Sinha, dari University of Portsmouth.

Dia berpendapat ini adalah pertama kalinya para ilmuwan mampu membuktikan waktu tidak menjadi konsep manusia universal, seperti yang diduga sebelumnya.

Profesor Sinha, yang melaporkan temuannya dalam jurnal Language and Cognition, mengatakan, “Untuk Amondawa, waktu tidak muncul dalam cara yang sama seperti halnya bagi kita.”

“Kami sekarang bisa memastikan bahwa ada paling tidak satu bahasa dan budaya yang tidak memiliki konsep waktu sebagai sesuatu yang dapat diukur, dihitung, atau berbicara tentang itu secara abstrak.”

“Ini tidak berarti bahwa Amondawa adalah ‘orang di luar waktu’, tetapi mereka hidup di dunia peristiwa,” ujarnya.

Anggota tim, termasuk ahli bahasa Wany Sampaio dan antropolog Vera da Silva Sinha, menghabiskan delapan minggu bersama orang Amondawa untuk meneliti bagaimana bahasa mereka menyampaikan konsep-konsep seperti ‘minggu depan’ atau ‘tahun lalu’.

Tidak ada kata untuk konsep-konsep tersebut, hanya ada pembagian siang dan malam dan musim hujan dan kering. Mereka juga menemukan tidak ada orang di masyarakat itu yang memiliki usia.

Sebaliknya, mereka mengubah nama mereka untuk mencerminkan tahapan kehidupan mereka dan posisi mereka dalam masyarakat mereka.

Sebagai contoh, seorang anak kecil akan menyerahkan nama mereka ke saudara yang baru lahir dan mengambil nama baru.

“Kita memiliki begitu banyak metafora untuk waktu–kita berpikir tentang waktu sebagai sesuatu–kita mengatakan akhir pekan ini hampir berakhir, dia akan menghadapi ujian, dan seterusnya, dan kami pikir pernyataan seperti itu adalah obyektif, tetapi mereka tidak,” kata Profesor Sinha. “Orang-orang Amondawa tidak berbicara seperti ini dan tidak berpikir seperti ini, mereka belajar bahasa lain.”

“Bagi mereka waktu bukanlah uang, mereka tidak berlomba melawan waktu untuk menyelesaikan sesuatu dan tidak ada yang membahas minggu depan atau tahun depan. Mereka bahkan tidak memiliki kata-kata untuk minggu, bulan, atau tahun,” tambahnya. “Anda bisa mengatakan mereka menikmati kebebasan tertentu.”

Pertama terhubung dengan dunia luar pada tahun 1986, orang-orang Amondawa melanjutkan cara hidup tradisional mereka seperti berburu, memancing, dan menanam.

Tapi, sekarang seiring dengan pengaruh modern, seperti listrik dan televisi, mereka mulai menggunakan bahasa Portugis, menempatkan bahasa mereka sendiri di bawah ancaman kepunahan.

Ribuan Benda Purbakala dan Juga Emas Ditemukan di Kota Cina Medan Marelan


Arkeolog Perancis Daniel Perret dan para arkeolog dari Balai Arkeologi Medan menemukan ribuan pecahan benda-kuno di situs Kota Cina Medan Marelan setelah ekskavasi di situs itu sejak 28 April 2011. “Temuan tersebut diantaranya, fragmen keramik, gerabah, uang tiongkok kuno, manik-manik , tulang, kerang, peleburan besi, bata kuno, batu pecahan arca serta serpihan lembaran emas kono,” kata Daniel Perret di medan, Minggu.

Penelitian itu, sambungnya, akan berakhir minggu depan. Sementara arkeolog Balai Arkeologi Medan Ari sadewo, mengatakan, satu minggu penelitian yang tersisa akan digunakan untuk menganalisis seluruh temuan hasil ekskavasi. “Ekskavasi tersebut menunjukkan apresiasi dan perhatian dunia internasional yang begitu penting terhadap penyingkapan misteri sejarah dan arkeologi di Kota Cina yang memiliki peranan penting pada abad ke 11 hingga 15 di Sumatera Timur,” katanya.

Penelitian dan ekskavasi arkeologi di Situs Kota Cina oleh Ecole francaise d’Extreme Orient (EFEO) Prancis itu, kembali menegaskan arti pentingnya Situs Kota Cina sebagai salah satu bandar perniagaan utama di Sumatera Timur pada abad 11. Penelitian ini juga telah mempertegas kembali peranan Situs Kota Cina dalam segitiga arkeologi di Sumatera Utara yang menghubungkan Barus, Portibi dan Kota Cina sebagaimana ditegaskan Daniel Perret dalam bukunya: Kolonialisme dan Etnisitas (2010).

Selama tiga minggu ekskavasi, dibuka 6 kotak ekskavasidi tiga titik berbeda dengan ukuran 5 x 5 meter dengan kedalaman 0,5 hingga 1,5 meter. Ketua Pusat Studi Sejarah dan Ilmu-Ilmu Sosial, Universitas Negeri Medan itu, mengatakan, penelitian tersebut secara perlahan akan mengungkap misteri kota kuno di utara kota Medan yang situsnya kurang mendapat perhatianpemerintah Kota Medan.

Penelitian dan ekskavasi itu sendiri didanai oleh pemerintah Perancis melalui Lembaga Kajian Prancis untuk Asia (EFEO) sejak 28 April 2011 dan dipimpin Daniel Perret. Penelitian ini melibatkan 30 orang peneliti dan tenaga pembantu lapangan dalam kerangka kerjasama antara Pusat Arkeologi Nasional, Balai Arkeologi Medan, Universitas Negeri Medan dan Museum Kota Cina. Hasil penelitian tersebut akan memperkuat hipotesis tentang peran Kota Cina sebagai bandar perniagaan di Sumatra Timur pada abad 11 sebagaimana ditegaskan Dr. Edwards McKinnon dalam disertasi doktoralnya di Cornell University Amerika Serikat yang telah meneliti situs Kota Cina pada 1972-1977. “Atas dasar itu pula, kiranya Pemko Medan perlu mengambil tindakan berupa langkah-langkah penyelamatan Situs Kota Cina sebelum seluruhnya tergerus oleh masyarakat,” katanya

Tengkorak Mastodon Gajah Bergading Empat Ditemukan di Chile


Tengkorak mastodon yang terpelihara dengan sangat baik –yang relatif sama dengan gajah saat ini– ditemukan di Santiago, Chile, selama kegiatan penggalian di satu instalasi pengolahan air, kata salah seorang ilmuwan yang terlibat dalam temuan itu, Selasa (17/5).

“Ini adalah kerangka tengkorak gomphothere (mastodon) dalam kondisi yang sangat bagus,” kata ahli paleontologi Rafael Labarca kepada AFP.

Mastodon itu memiliki dua sampai empat gading dan mati sekitar 10.000 tahun lalu. “Kerangka tersebut ditemukan pada 15 Februari, selama pekerjaan untuk memperluas instalasi pengolahan air di Santiago oleh perusahaan Prancis, Suez, dan perusahaan Chile, Andes.

Satu rahang bawah dan tulang punggung mastodon ditemukan pada 2008 di Chile selatan, tapi itu untuk pertama kali para ahli paleantologi Chile pernah menemukan satu kerangka utuh, kata Labarca. Penelitian tersebut, yang didanai oleh perusahaan Prancis, Suez, dan dilakukan di bawah pengawasan Museum Nasional Natural History, diharapkan dapat menghasilkan keterangan paling lambat pada akhir tahun ini mengenai gaya hidup dan gerakan migrasi hewan itu.

Ilmuwan Cina Temukan Spesies Baru Dinosaurus T-Rex


Para ilmuwan Cina mengungkapkan bahwa mereka telah menemukan spesies-spesies baru dari dinosaurus therapoda raksasa di provinsi selatan negeri itu, Shandong. Spesies-spesies baru yang digambarkan keluarga dekat dari Tyrannosaurus rex (T. rex) itu dinamai “Zhuchengtyrannus magnus”. Para pakar peleontologi memastikan spesies-spesies baru itu setelah mendapati rahang atas yang unik menyusul pemeriksaan tengkorak dan tulang rahang yang ditemukan di kota Zhucheng.

Tulang kuno ini diperkirakan berpanjang 11 meter dan setinggi 4 meter, dengan berat mendekati 7 ton. “Kami menemukan dua macam fosil tyrannosaurus di sini dan identitas salah satunya masih belum jelas,” kata Xu Xing, peneliti pada Institut Paleontologi dan Paleontropologi Vertebrata, Akademi Sains Cina.

“Kami menamai genus baru ini Zhuchengtyrannus magnus, yang artinya `Raksasa dari Zhucheng` karena tulang belulang ditemukan di Zhucheng,” kata Xu. Tulang belulang purbakala itu beberapa cm lebih pendek dibandingkan tulang belulang serupa pada spesies T. Rex. Sehingga, tak ada keraguan lagi bahwa Zhuchengtyrannus adalah tyrannosaurus besar, kata Xu seperti dikutip Xinhua. Menurut Xu, Zhuchengtyrannus magnus adalah anggota dari kelompok therapoda spesial yang disebut tyrannosaurines yang ada di Amerika Utara dan Asia sebelah timur selama Periode Cretaceous Akhir yang berumur antara 65 sampai 99 juta tahun.

Semua tyrannosaurus adalah karnivora (pemakan daging), berkaki dua yang umumnya juga memiliki tangan kecil dan tengkorak besar. Diantara keluarga tyrannosaurus, para tyrannosaurines adalah yang terbesar dan memiliki ciri hanya mempunyai dua jari di setiap tangannya dan rahang yang sangat kuat yang bisa mencabik tulang yang digigitnya. Mereka adalah predator (hewan pemangsa), sekaligus juga pemakan bangkai.Galian fosil di Zhucheng mengandung salah satu dari konsentrasi tulang dinosaurus terbesar di dunia. Setidaknya 10 spesies dinosaurus ditemukan di tiga rangkaian ekskavasi sejak 1960-an, termasuk Tyrannosaurus dan Hadrosaurus.

Anak Indonesia Dari Sekolah Jubilee International School Abu Dhabi Juara Olimpiade Robot Internasional


Prestasi membanggakan berhasil diraih oleh putra-putri Indonesia di Abu Dhabi dalam Kompetisi Rancang Robot di Olimpiade Robot Internasional (WRO) Arabia yang meliputi kawasan Timur Tengah dan Afrika Utara.

Kompetisi yang diselenggarakan pada 4 Mei 2011 itu diikuti oleh 1.500 pelajar dari negara-negara Uni Emirat Arab, Arab Saudi, Qatar, Kuwait, Bahrain, Oman, dan Mesir, demikian siaran pers Kedubes RI di Abu Dhabi yang diterima ANTARA Sabtu.

Tim dari sekolah Jubilee International School Abu Dhabi, UAE, yang diwakili oleh Sita Ilmidani Taribi (11 tahun), Suta Ilmidani Taribi (11) dan Adinda Naura Salsabila (10) berhasil merebut juara pertama di tingkat Sekolah Dasar.

Mereka adalah putra-putri dari kalangan professional asal Indonesia yang bekerja di industri perminyakan Abu Dhabi.

KBRI Abu Dhabi mencatat terdapat 248 pelajar/mahaiswa Indonesia yang sedang menempuh pendidikan dari tingkat dasar hingga master dan doktor di berbagai sekolah/universitas setempat yang memiliki akreditasi internasional.

Para pelajar asal Indonesia tersebut berhasil merebut juara pertama pada jenis Kategori Umum (Regular) dengan merancang dan memprogram sebuah robot dalam jangka waktu tertentu.

Juri menetapkan ketiga anak Indonesia tersebut sebagai pemenang karena robot rancangan mereka berhasil dengan sangat baik melalui serangkaian tugas yang ditentukan panitia, yakni melalui lorong yang berliku-liku dalam waktu sesingkat mungkin dan naik turun tangga di permukaan yang tidak rata.

Menurut Kepala Badan Pendidikan Abu Dhabi (ADEC), Dr Mugheer Al Khaili, pemenang kompetisi WRO Arabia 2011 akan diikutkan dalam kompetisi sejenis tingkat internasional yang akan diselenggarakan pada November 2011 di Abu Dhabi juga. WRO Arabia 2011 yang diselenggarakan oleh Abu Dhabi Education Council (ADEC) mempertandingkan tiga kategori yaitu Regular, Open dan Football category, dengan tiga kelompok umur: Elementary (SD), Junior High (SMP) dan High School (SMA).

Dubes RI M. Wahid Supriyadi dalam sambutannya yang disampaikan di tengah-tengah acara pertemuan masyarakat bersamaan dengan kedatangan Kepala BKPM, Gita Wirjawan, menyatakan kegembiraannya karena hal ini dapat mengangkat nama baik Indonesia di UAE. Indonesia selama ini lebih dikenal sebagai salah satu negara pengirim pembantu terbanyak.

Gigi Mahluk Purba Oang Pandak Ditemukan Di Dusun Batu Gong Koto Beringin-Kumun


Peneliti dan budayawan Kerinci Iskandar Zakaria mengatakan, temuan warga yang diduga gigi manusia purba itu bisa menjadi data yang memperkuat asumsi tentang keberadaan “orang Pandak” yang selama ini dianggap hanya mitologi.

“Temuan gigi itu bisa menjadi data awal untuk penelitian lebih lanjut,” katanya disela-sela meninjau langsung lokasi temuan gigi diduga manusia purba di Dusun Batu Gong Koto Beringin-Kumun Kecamatan Kumun-Debai Kota Sungaipenuh, Jambi, Sabtu.

Selain dugaan fosil makluk purba Kingkong atau sejenis temua ini juga berkemungkinan fakta baru bagi keberadaan makluk mitologi Orang Pandak di Kerinci selama ini. Bisa jadi fosil ini adalah tulang belulangnya, ujarnya.

Hal tersebut diungkapkannya setelah dia bisa memastikan dugaannya kalau gigi dan fosil temuan warga Kumun Pardinal tersebut pastilah milik makluk berkaki dua, bukan berkaki empat seperti dugaan warga setempat.

Hal yang pasti bukan gigi makluk berkaki empat seperti kerau, kuda atau pun gajah. Bentuk giginya lurus-lurus seperti gigi manusia, hanya saja ukurannya besar-besar. Sepertinya makluk ini pemakan tumbuhan maupun daging atau berjenis Omnivora.

Sementara dihubungkan dengan keberadaan `Orang Pandak` yang selama ini hanya dianggap mitos, secara fisiologis memang ukurannya hanyalah maksimum 80 cm.

Namun makluk tersebut memiliki bagian kepala yang besar yang muka atau wajah yang menyorong ke depan layaknya wajah binatang primata kera.

Dengan kepala besar itu tidak menutup kemungkinan giginya bisa seukuran panjang delapan centimeter dan lebar 2,5 centimeter.

Hingga saat ini, memang belum pernah ada temuan tentang kerangka makluk yang masih dianggap mitos tersebut. Diakui Iskandar warga memang banyak yang mengaku sering bertemu dengan makluk berciri badang penuh bulu tersebut.

“Nah, dengan temuan ini, bisa saja memperkuat asumsi bahwasanya keberadaan Orang Pandak di Kerinci tersebut bukan sebatas mitos atau cerita mulut ke mulut semata, kalau fosil dan gigi ini berhasil di teliti dengan tepat di laboraterium nantinya,” ujarnya.

Sementara Pardinal, warga Kumun Hilir yang pertama menemukan gigi dan tumpukan belulang yang disangka fosil manusia purba tersebut mengakui beberapa ruas tulang yang masih tersisa ukurangnya memang beruas pendek-pendek.

Kalau ruas tulasng yang kita temukan bersama gigi ini ukurannya pendek-pendek, jadi mungkin saja ukuran tubuhnya tidak tinggi seperti Kingkong, tambahnya.

Guna memperoleh kepastian tentang kesimpulan dari temuan diduga fosil manusia purba tersebut, Iskandar mengaku akan segera mengirim sampel serpihan belulang yang masih bisa didapatkannya dari bekas galian ke laboraterium BP3 di Jakarta untuk diteliti lebih lanjut.

Peneliti dan budayawan Kerinci Iskandar Zakaria yang meninjau lokasi temuan gigi diduga manusia purba di dusun Batu Gong Koto Beringin-Kumun Kecamatan Kumun-Debai Kota Sungaipenuh Kerinci, Jambi memperkirakan temuan warga tersebut adalah fosil makluk purba.

“Dari pengamatan dan pemeriksaan awal kami, gigi-gigi besar ini memang diduga kuat dari makluk purba, tapi tidak bisa kita pastikan manusia atau binatang,” katanya di Sungaipenuh, Sabtu.

Iskandar bahkan berani memastikan kalau empat buah gigi besar tersebut bukanlah dari makluk berkaki empat melainkan makluk berkaki dua, karena struktur giginya tidak bengkok seperti gigi makluk berkaki empat pada umumnya.

Empat gigi yang masih tersisa utuh tersebut rata berukuran 8 cm dengan lebar i,5 cm dan tinggi 1 cm. Menurut Pardinal (31) warga desa Kumun Hilir yang berprofesi sebagai penambang pasir dan batu, penemu pertama gigi dan fosil tersebut mengakui masih ada gigi lainnya dan bahkan fosil berupa tulang belulang yang disimpan rekannya.

“Bisa jadi ini gigi binatang, tapi binatang yang berjalan denga dua kaki, entah itu Kingkong, gorilla, bahkan mungkin memang benar gigi manusia purba Homo Kerincineinsis seperti diduga para ahli arkeologi sebelumnya,” ucapnya.

Bahkan gigi tersebut adalah sisa dari kerangka makluk yang selama ini dianggap mitologi masyarakat Kerinci yakni Orang Pandak.

Saat Pardinal menunjukkan lokasi temuannya, Iskandar yang menggali-gali bekas galian tersebut kembali menemukan sisa-sisa belulang yang sudah sangat rapuh seperti halnya tanah. Dia pun langsung mengambil serpihan belulang itu untuk jadi sampel yang akan dikirimkannya ke laboraterium BP3 Kemebudpar di Jakarta.

“Kami akan kirim sampel fosil tulang yang sudah lapuk ini ke laboraterium BP3 di Jakarta guna diteliti lebih lanjut untuk bisa memastikan ini fosil makluk purba jenis apa,” ujarnya.

Sementara Pardinal warga yang menemukan pertama keberadaan fosil dan gigi-gigi besar tersebut mengaku saat menemukan benda tersebut sempat kaget karena mendapati tulang belulang dan tengkorak di galian tempatnya membuka jalan menuju lokasi dia menambang pasir dan batu.

“Saat itu kami terkejut mendapati tulang besar-besar seperti itu. Sebagian rekan-rekan mengira itu adalah gigi kerbau, karenanya sebagian tulang yang sudah keropos itu dibuang ke sungai sementara beberapa gigi dan tulang yang masihkuat disimpannya,” lanjutnya.

Pardinal mengaku sangat bahagia ada pihak yang berikutnya mengapresiasi temuan yang telah disimpannya semenjak pertengahan 2009 lalu itu.

“Tentu saja saya sangat bahagia Pak Iskndar dan tim serta rekan-rekan wartawan sudi mengapresiasi dan menelaah temuan saya ini. Pasalnya selama ini oleh warga saya dipandang sinis sementara yang datang ke sini lainnya adalah para makelar barang-barang antik yang hanya berniat membeli temuan saya ini,” katanya.

Pelajar SMAN 1 Malingping Presentasikan Karya Ilmiah Ke Menteri Pendidikan Amerika Serikat


Pelajar SMAN 1 Malingping, Kecamatan Malingping, Kabupaten Lebak, Banten, diundang Kementerian Pendidikan Amerika Serikat untuk mempersentasikan tulisan karya ilmiah sosial tentang kehidupan nelayan.

“Kami merasa bangga pelajar SMA Malingping bisa tampil di Amerika Serikat untuk menyampaikan makalah karya ilmiah kehidupan nelayan dengan menggunakan bahasa Inggris,” kata Kepala Bidang SMP dan SMA/SMK Dinas Pendidikan Kabupaten Lebak, H Asep Komar di Rangkasbitung, Kamis (19/5).

Ia mengatakan, keberhasilan pelajar SMA Malingping setelah menjuarai tingkat nasional lomba karya ilmiah remaja (KIR) yang diselenggarakan Kementerian Pendidikan Nasional.

Pelajar yang meraih juara KIR tingkat nasional atas nama Febrian dan Alanikika dan mereka berada di negara Paman Sam selama sepekan.

Kedua pelajar tersebut karena mereka sangat tertarik dengan tulisan ilmiah kehidupan sosial nelayan.

Sebab penilaian karya ilmiah remaja tingkat nasional itu salah satunya tim juri dari Amerika Serikat.

“Saya berharap prestasi yang sudah diraih pelajar Lebak terus dapat menjadikan motivasi bagi sekolah-sekolah lainya,” jelasnya.

Sementara itu, Kepala SMAN 1 Malingping, Kabupaten Lebak, Supadran mengatakan, saat ini kedua pelajar itu sudah pulang kembali ke Tanah Air setelah menyampaikan presentasi karya ilmiah di Amerika Serikat.

Kementerian Amerika Serikat juga memberikan penghargaan hasil penelitian sosial tentang karya ilmiah kehidupan nelayan.

Bahkan, Menteri Pendidikan Amerika Serikat memberikan apreasiasi terhadap kedua pelajar asal Kecamatan Malingping, Kabupaten Lebak.

“Siswa kami tidak menyangka bisa tampil di Amerika Serikat dan mampu menyampaikan karya ilmiah dengan luar biasa,” ujarnya

Daftar Perilaku Seks Wanita dan Pria Berdasarkan Usia


Perilaku seksual tentunya bervariasi pada setiap tahap kehidupan kita. Seksolog Tracey Cox dalam buku bestseller ‘Sextasy’ mengungkapkan karakter dan perilaku seksual pria dan wanita berdasarkan rentang usia.

Usia 20-an
Kebanyakan mereka pada usia ini tak bisa berhenti membayangkan seks setiap dua jam. Pada usia ini, perempuan biasanya ingin lebih bebas berimajinasi dalam hal seks. Mereka juga ingin berbagi fantasi seks dan bahkan ingin mencoba biseksualitas. Sebuah studi pada tahun 2006 melibatkan sekitar 2.000 orang menemukan, 76 persen wanita mencoba tidur dengan sesama jenis serta mencapai orgasme (sedangkan untuk wanita dengan pria, tercatat 50 persen).

Usia 20an adalah masa di mana laki-laki dan wanita muda sangat tertantang mencoba berbagai posisi seks. Bahkan Tracey Cox mengklaim, satu dari 3 wanita pernah mencoba threesome di awal usia dua puluhan.

Usia 30-an
Usia 30an adalah saat untuk bereksperimen. Hampir semua orang usia 30-an mengaku pernah melakukan seks di tempat terbuka. Tak seperti anak remaja yang melakukan seks outdoor sebagai bentuk paling umum dari eksperimennya, kebanyakan pasangan 30-an lebih menyukai aktivitas seks di tempat semi-publik seperti pantai, kebun atau di bangku taman di dalam kegelapan. Seperti ada yang lebih erotis dari ekspansi seks ini!

Selain itu, hal yang paling populer pada kelompok 30an adalah seks di kamar mandi atau bath-tub. Melakukan “kinky” seks juga menempati rating yang tinggi. Mereka mengklaim menikmati seks melalui berbagai fantasi mulai dari dominatrix, bondage, sampai flogging.

Dalam analisa Cox, usia 30-an adalah saat di mana para wanita menjadi seperti teman pasangan gay pria. Wanita tulen mencintai pria gay; sedangkan pria gay mencintai wanita tulen. Sebuah riset di Swedia memberi penjalasan mengapa keduanya bisa saling tertarik. Mereka rupanya sama-sama mencintai keseragaman serta hal-hal yang berbau wanita seperti make-up, creambath, menicure dll. Sedangkan pria tulen dan lesbian lebih mampu mencintai keragaman dan berpikiran terbuka.

Usia 30an juga ditandai dengan kehadiran anak dalam rumah tangga, sehingga gairah seks secara alami akan menurun. Tetapi Cox menekankan, selama kehamilan pasangan dapat berhubungan seks 4 hingga 5 kali dalam sebulan.

Kebanyakan pasangan mengerem aktivitas seks selama tujuh minggu setelah proses persalinan. Tetapi empat bulan kemudian mereka kembali melakukan seks empat atau 5 kali dalam sebulan. Cox menyatakan, enam bulan setelah persalinan, rata-rata pasangan kembali melakukan seks tiga hingga 5 kali dalam satu bulan.

Bila Anda tak mampu memenuhi gairah seks seperti biasanya, Anda tak perlu berkecil hati. Ingat, ini hanyalah sementara, jadi tetaplah menyentuh dan memeluk pasangan. Jika bayi Anda menyita waktu untuk berhubungan seks, cobalah untuk melakukan seks instan.

Kebanyakan wanita pada usia 30-an, kata Cox, mengalami rata-rata orgasme lebih tinggi. Sekitar 90 persen wanita di atas 30-an secara teratur mengalami orgasme, sedangkan wanita yang lebih muda hanya 23 persen saja.

Usia 40-an
Pria di usia 40an lebih mungkin mengalami problem ereksi. Ini juga usia ketika para wanita cenderung tidak setia pada pasangannya. para wanita secara seksual juga sangat menuntut, sehingga seringkali lebih tertarik untuk berhubungan seks pria lebih muda daripada suaminya yang telah mulai tua. Karena itulah pria pada usia ini lebih sering terjebak pornografi atau menikmati chating berbau seks.

Jika Anda berpikir usia 40an adalah masa turunnya libido, cobalah untuk berpikir lagi. Walaupun aktivitas seks sudah agak menurun dari sebelumnya, sudah saatnya Anda mengubah strategi. Tak perlu lagi kaku dengan frekuensi seks dalam seminggu, tetapi penekanan pada kualitas seks yang lebih baik.