Monthly Archives: Mei 2011

Pembangkit Listrik Tenaga Mikroba Ditemukan Oleh Tim Dari University of East Anglia di Inggris


Mikroba ternyata dapat dimanfaatkan sebagai sumber listrik alami. Menurut para ilmuwan, organisme mikroskopik yang sebagian besar berupa satu sel ini mampu melepaskan muatan listrik kecil.

Salah satu mikroba bermuatan listrik yang telah ditemukan memiliki “kabel” super kecil yang ‘keluar’ dari dinding sel mereka. Menurut laporan Jurnal Proceedings of the National Academy of Sciences, Amerika Serikat, dari ‘tentakel’ kecil itu, bakteri tersebut membersihkan diri dari minyak atau polusi uranium.

“Temuan ini dapat digunakan sebagai alternatif sumber listrik,” kata penulis utama Tom Clarke dari University of East Anglia di Inggris.

Dengan ditemukannya struktur mikroba tersebut, maka peneliti dapat membuat desain elektroda khusus supaya bakteri tadi dapat melepaskan energi listriknya dan bisa digunakan manusia.

Saat ini, para peneliti itu sedang membuat sebuah perangkat menyerupai baterai yang diisi dengan mikroba berlistrik. Baterai tersebut rencananya dapat digunakan sebagai tenaga lampu atau telepon selular.

Tehnik Ular Menyuntikan Racun Kedalam Tubuh Mangsanya Ternyata Sesuai Dengan Ilmu Geometri dan Fisika


Banyak orang percaya bahwa ular menyuntikkan bisa beracun ke dalam tubuh korbannya menggunakan taring berlubang. Faktanya, sebagian besar ular dan reptil berbisa lainnya tak mempunyai gigi taring berlubang. Kini para fisikawan mengetahui trik yang digunakan binatang itu untuk memasukkan bisa beracunnya ke dalam kulit korbannya.

Selama bertahun-tahun, Leo von Hemmen, ahli biofisika di TU Muenchen, dan Bruce Young, ahli biologi di University of Massachusetts Lowell, telah meneliti indra pendengaran ular. Ketika mendiskusikan toksisitas ular, mereka menyadari bahwa hanya sedikit ular yang menginjeksikan bisanya ke tubuh korban menggunakan taring berlubang. Meski sebagian besar reptil berbisa tak memiliki taring berlubang, mereka adalah predator efektif.

Hanya sekitar sepertujuh dari seluruh ular berbisa, seperti ular derik, mengandalkan trik taring berlubang. Ular lainnya mengembangkan sistem lain, seperti ular mangrove pit viper (Boiga dendrophila). Menggunakan taring kembarnya, ular Boiga melubangi kulit korbannya. Bisa mengalir masuk ke luka di antara gigi dan jaringan. Namun ada cara lain yang lebih mudah, banyak taring mempunyai lekukan untuk mengalirkan bisa ke dalam luka.

Para ilmuwan penasaran bagaimana metode sederhana seperti itu bisa sangat berhasil dari sudut pandang evolusioner. Bulu burung, misalnya, dapat dengan mudah mengibaskan bisa yang mengalir sepanjang lekukan terbuka. Untuk mengungkap misteri itu, mereka menyelidiki tegangan permukaan dan kekentalan berbagai bisa ular. Pengukuran tersebut memperlihatkan bahwa bisa ular sangatlah kental.

Tegangan permukaan bisa ular cukup tinggi, hampir sama dengan air. Hal itu menyebabkan energi permukaan menarik tetesan bisa ke lekukan taring, lalu menyebar. Dalam perjalanan evolusi, ular beradaptasi terhadap mangsanya menggunakan kombinasi geometri lekukan taring optimal dan viskositas bisa. “Ular yang memangsa burung mengembangkan lekukan yang lebih dalam agar cairan bisa kental tak tersapu oleh bulu burung,” kata von Hemmen.

Para ilmuwan juga menemukan jawaban bagaimana ular memasukkan bisanya ke kulit mangsanya dan memicu timbulnya efek mematikan. Dalam soal ini, ular mengembangkan trik dalam evolusinya. Ketika ular menyerang, lekukan taring dan jaringan di sekitarnya membentuk sebuah kanal. Jaringan akan menyerap bisa lewat kanal tersebut.

Bisa ular memiliki struktur khusus untuk mendukung efek tersebut. Sama seperti saus tomat, yang menjadi lebih cair ketika dikocok, tekanan yang muncul dari isapan itu menyebabkan kekentalan bisa berkurang, membuatnya dapat mengalir dengan mudah melewati kanal dengan cepat karena pengaruh tegangan permukaan.

Von Hemmen menyebut karakteristik substansi ini sebagai cairan non-Newtonian. Trik ini sangat praktis bagi ular. Selama tak ada mangsa yang terlihat, bisa dalam lekukan taring akan tetap kental dan lengket. “Ketika ular menyerang, cairan beracun akan mengalir sepanjang lekukan taring, memasuki luka, dan menimbulkan efek mematikan,” katanya.

Ditemukan Sebuah Suku Amazon Yang Tidak Mengenal Tua dan Usia Serta Konsep Waktu


Sebuah suku Amazon tidak memiliki konsep waktu atau tanggal. Orang-orang Amondawa, Brasil, ini bahkan tidak memiliki kata-kata untuk waktu, minggu, bulan, atau tahun, kata Chris Sinha, dari University of Portsmouth.

Dia berpendapat ini adalah pertama kalinya para ilmuwan mampu membuktikan waktu tidak menjadi konsep manusia universal, seperti yang diduga sebelumnya.

Profesor Sinha, yang melaporkan temuannya dalam jurnal Language and Cognition, mengatakan, “Untuk Amondawa, waktu tidak muncul dalam cara yang sama seperti halnya bagi kita.”

“Kami sekarang bisa memastikan bahwa ada paling tidak satu bahasa dan budaya yang tidak memiliki konsep waktu sebagai sesuatu yang dapat diukur, dihitung, atau berbicara tentang itu secara abstrak.”

“Ini tidak berarti bahwa Amondawa adalah ‘orang di luar waktu’, tetapi mereka hidup di dunia peristiwa,” ujarnya.

Anggota tim, termasuk ahli bahasa Wany Sampaio dan antropolog Vera da Silva Sinha, menghabiskan delapan minggu bersama orang Amondawa untuk meneliti bagaimana bahasa mereka menyampaikan konsep-konsep seperti ‘minggu depan’ atau ‘tahun lalu’.

Tidak ada kata untuk konsep-konsep tersebut, hanya ada pembagian siang dan malam dan musim hujan dan kering. Mereka juga menemukan tidak ada orang di masyarakat itu yang memiliki usia.

Sebaliknya, mereka mengubah nama mereka untuk mencerminkan tahapan kehidupan mereka dan posisi mereka dalam masyarakat mereka.

Sebagai contoh, seorang anak kecil akan menyerahkan nama mereka ke saudara yang baru lahir dan mengambil nama baru.

“Kita memiliki begitu banyak metafora untuk waktu–kita berpikir tentang waktu sebagai sesuatu–kita mengatakan akhir pekan ini hampir berakhir, dia akan menghadapi ujian, dan seterusnya, dan kami pikir pernyataan seperti itu adalah obyektif, tetapi mereka tidak,” kata Profesor Sinha. “Orang-orang Amondawa tidak berbicara seperti ini dan tidak berpikir seperti ini, mereka belajar bahasa lain.”

“Bagi mereka waktu bukanlah uang, mereka tidak berlomba melawan waktu untuk menyelesaikan sesuatu dan tidak ada yang membahas minggu depan atau tahun depan. Mereka bahkan tidak memiliki kata-kata untuk minggu, bulan, atau tahun,” tambahnya. “Anda bisa mengatakan mereka menikmati kebebasan tertentu.”

Pertama terhubung dengan dunia luar pada tahun 1986, orang-orang Amondawa melanjutkan cara hidup tradisional mereka seperti berburu, memancing, dan menanam.

Tapi, sekarang seiring dengan pengaruh modern, seperti listrik dan televisi, mereka mulai menggunakan bahasa Portugis, menempatkan bahasa mereka sendiri di bawah ancaman kepunahan.

Ribuan Benda Purbakala dan Juga Emas Ditemukan di Kota Cina Medan Marelan


Arkeolog Perancis Daniel Perret dan para arkeolog dari Balai Arkeologi Medan menemukan ribuan pecahan benda-kuno di situs Kota Cina Medan Marelan setelah ekskavasi di situs itu sejak 28 April 2011. “Temuan tersebut diantaranya, fragmen keramik, gerabah, uang tiongkok kuno, manik-manik , tulang, kerang, peleburan besi, bata kuno, batu pecahan arca serta serpihan lembaran emas kono,” kata Daniel Perret di medan, Minggu.

Penelitian itu, sambungnya, akan berakhir minggu depan. Sementara arkeolog Balai Arkeologi Medan Ari sadewo, mengatakan, satu minggu penelitian yang tersisa akan digunakan untuk menganalisis seluruh temuan hasil ekskavasi. “Ekskavasi tersebut menunjukkan apresiasi dan perhatian dunia internasional yang begitu penting terhadap penyingkapan misteri sejarah dan arkeologi di Kota Cina yang memiliki peranan penting pada abad ke 11 hingga 15 di Sumatera Timur,” katanya.

Penelitian dan ekskavasi arkeologi di Situs Kota Cina oleh Ecole francaise d’Extreme Orient (EFEO) Prancis itu, kembali menegaskan arti pentingnya Situs Kota Cina sebagai salah satu bandar perniagaan utama di Sumatera Timur pada abad 11. Penelitian ini juga telah mempertegas kembali peranan Situs Kota Cina dalam segitiga arkeologi di Sumatera Utara yang menghubungkan Barus, Portibi dan Kota Cina sebagaimana ditegaskan Daniel Perret dalam bukunya: Kolonialisme dan Etnisitas (2010).

Selama tiga minggu ekskavasi, dibuka 6 kotak ekskavasidi tiga titik berbeda dengan ukuran 5 x 5 meter dengan kedalaman 0,5 hingga 1,5 meter. Ketua Pusat Studi Sejarah dan Ilmu-Ilmu Sosial, Universitas Negeri Medan itu, mengatakan, penelitian tersebut secara perlahan akan mengungkap misteri kota kuno di utara kota Medan yang situsnya kurang mendapat perhatianpemerintah Kota Medan.

Penelitian dan ekskavasi itu sendiri didanai oleh pemerintah Perancis melalui Lembaga Kajian Prancis untuk Asia (EFEO) sejak 28 April 2011 dan dipimpin Daniel Perret. Penelitian ini melibatkan 30 orang peneliti dan tenaga pembantu lapangan dalam kerangka kerjasama antara Pusat Arkeologi Nasional, Balai Arkeologi Medan, Universitas Negeri Medan dan Museum Kota Cina. Hasil penelitian tersebut akan memperkuat hipotesis tentang peran Kota Cina sebagai bandar perniagaan di Sumatra Timur pada abad 11 sebagaimana ditegaskan Dr. Edwards McKinnon dalam disertasi doktoralnya di Cornell University Amerika Serikat yang telah meneliti situs Kota Cina pada 1972-1977. “Atas dasar itu pula, kiranya Pemko Medan perlu mengambil tindakan berupa langkah-langkah penyelamatan Situs Kota Cina sebelum seluruhnya tergerus oleh masyarakat,” katanya

Tengkorak Mastodon Gajah Bergading Empat Ditemukan di Chile


Tengkorak mastodon yang terpelihara dengan sangat baik –yang relatif sama dengan gajah saat ini– ditemukan di Santiago, Chile, selama kegiatan penggalian di satu instalasi pengolahan air, kata salah seorang ilmuwan yang terlibat dalam temuan itu, Selasa (17/5).

“Ini adalah kerangka tengkorak gomphothere (mastodon) dalam kondisi yang sangat bagus,” kata ahli paleontologi Rafael Labarca kepada AFP.

Mastodon itu memiliki dua sampai empat gading dan mati sekitar 10.000 tahun lalu. “Kerangka tersebut ditemukan pada 15 Februari, selama pekerjaan untuk memperluas instalasi pengolahan air di Santiago oleh perusahaan Prancis, Suez, dan perusahaan Chile, Andes.

Satu rahang bawah dan tulang punggung mastodon ditemukan pada 2008 di Chile selatan, tapi itu untuk pertama kali para ahli paleantologi Chile pernah menemukan satu kerangka utuh, kata Labarca. Penelitian tersebut, yang didanai oleh perusahaan Prancis, Suez, dan dilakukan di bawah pengawasan Museum Nasional Natural History, diharapkan dapat menghasilkan keterangan paling lambat pada akhir tahun ini mengenai gaya hidup dan gerakan migrasi hewan itu.

Ilmuwan Cina Temukan Spesies Baru Dinosaurus T-Rex


Para ilmuwan Cina mengungkapkan bahwa mereka telah menemukan spesies-spesies baru dari dinosaurus therapoda raksasa di provinsi selatan negeri itu, Shandong. Spesies-spesies baru yang digambarkan keluarga dekat dari Tyrannosaurus rex (T. rex) itu dinamai “Zhuchengtyrannus magnus”. Para pakar peleontologi memastikan spesies-spesies baru itu setelah mendapati rahang atas yang unik menyusul pemeriksaan tengkorak dan tulang rahang yang ditemukan di kota Zhucheng.

Tulang kuno ini diperkirakan berpanjang 11 meter dan setinggi 4 meter, dengan berat mendekati 7 ton. “Kami menemukan dua macam fosil tyrannosaurus di sini dan identitas salah satunya masih belum jelas,” kata Xu Xing, peneliti pada Institut Paleontologi dan Paleontropologi Vertebrata, Akademi Sains Cina.

“Kami menamai genus baru ini Zhuchengtyrannus magnus, yang artinya `Raksasa dari Zhucheng` karena tulang belulang ditemukan di Zhucheng,” kata Xu. Tulang belulang purbakala itu beberapa cm lebih pendek dibandingkan tulang belulang serupa pada spesies T. Rex. Sehingga, tak ada keraguan lagi bahwa Zhuchengtyrannus adalah tyrannosaurus besar, kata Xu seperti dikutip Xinhua. Menurut Xu, Zhuchengtyrannus magnus adalah anggota dari kelompok therapoda spesial yang disebut tyrannosaurines yang ada di Amerika Utara dan Asia sebelah timur selama Periode Cretaceous Akhir yang berumur antara 65 sampai 99 juta tahun.

Semua tyrannosaurus adalah karnivora (pemakan daging), berkaki dua yang umumnya juga memiliki tangan kecil dan tengkorak besar. Diantara keluarga tyrannosaurus, para tyrannosaurines adalah yang terbesar dan memiliki ciri hanya mempunyai dua jari di setiap tangannya dan rahang yang sangat kuat yang bisa mencabik tulang yang digigitnya. Mereka adalah predator (hewan pemangsa), sekaligus juga pemakan bangkai.Galian fosil di Zhucheng mengandung salah satu dari konsentrasi tulang dinosaurus terbesar di dunia. Setidaknya 10 spesies dinosaurus ditemukan di tiga rangkaian ekskavasi sejak 1960-an, termasuk Tyrannosaurus dan Hadrosaurus.

Anak Indonesia Dari Sekolah Jubilee International School Abu Dhabi Juara Olimpiade Robot Internasional


Prestasi membanggakan berhasil diraih oleh putra-putri Indonesia di Abu Dhabi dalam Kompetisi Rancang Robot di Olimpiade Robot Internasional (WRO) Arabia yang meliputi kawasan Timur Tengah dan Afrika Utara.

Kompetisi yang diselenggarakan pada 4 Mei 2011 itu diikuti oleh 1.500 pelajar dari negara-negara Uni Emirat Arab, Arab Saudi, Qatar, Kuwait, Bahrain, Oman, dan Mesir, demikian siaran pers Kedubes RI di Abu Dhabi yang diterima ANTARA Sabtu.

Tim dari sekolah Jubilee International School Abu Dhabi, UAE, yang diwakili oleh Sita Ilmidani Taribi (11 tahun), Suta Ilmidani Taribi (11) dan Adinda Naura Salsabila (10) berhasil merebut juara pertama di tingkat Sekolah Dasar.

Mereka adalah putra-putri dari kalangan professional asal Indonesia yang bekerja di industri perminyakan Abu Dhabi.

KBRI Abu Dhabi mencatat terdapat 248 pelajar/mahaiswa Indonesia yang sedang menempuh pendidikan dari tingkat dasar hingga master dan doktor di berbagai sekolah/universitas setempat yang memiliki akreditasi internasional.

Para pelajar asal Indonesia tersebut berhasil merebut juara pertama pada jenis Kategori Umum (Regular) dengan merancang dan memprogram sebuah robot dalam jangka waktu tertentu.

Juri menetapkan ketiga anak Indonesia tersebut sebagai pemenang karena robot rancangan mereka berhasil dengan sangat baik melalui serangkaian tugas yang ditentukan panitia, yakni melalui lorong yang berliku-liku dalam waktu sesingkat mungkin dan naik turun tangga di permukaan yang tidak rata.

Menurut Kepala Badan Pendidikan Abu Dhabi (ADEC), Dr Mugheer Al Khaili, pemenang kompetisi WRO Arabia 2011 akan diikutkan dalam kompetisi sejenis tingkat internasional yang akan diselenggarakan pada November 2011 di Abu Dhabi juga. WRO Arabia 2011 yang diselenggarakan oleh Abu Dhabi Education Council (ADEC) mempertandingkan tiga kategori yaitu Regular, Open dan Football category, dengan tiga kelompok umur: Elementary (SD), Junior High (SMP) dan High School (SMA).

Dubes RI M. Wahid Supriyadi dalam sambutannya yang disampaikan di tengah-tengah acara pertemuan masyarakat bersamaan dengan kedatangan Kepala BKPM, Gita Wirjawan, menyatakan kegembiraannya karena hal ini dapat mengangkat nama baik Indonesia di UAE. Indonesia selama ini lebih dikenal sebagai salah satu negara pengirim pembantu terbanyak.