Category Archives: Dunia Binatang

Ikan Hiu Tertua Berumur 211 Tahun Yang Sudah Buta Ditemukan Di Greenland


Seekor hiu besar dan memiliki mata hampir buta yang hidup di perairan dingin Atlantik utara kini ditetapkan oleh para ilmuwan sebagai hewan vertebrata tertua di dunia yang masih hidup. Jenis Hiu Greenland (Somnious microcephalus) itu diperkirakan berusia 272 tahun. Para ilmuwan meyakini, umur hiu itu bisa mencapai 500 tahun.

Dengan umur tersebut, hiu tersebut lahir sejak abad pertama penjajahan Belanda di Indonesia, lahir pada tahun yang sama dengan surat kabar Bataviasche Nouvelles yang menandai awal sejarah pers di Indonesia. Usia hiu tersebut melebihi usia seekor paus bowhead (Balena mysticetus) yang berusia 211 tahun dan ikan Koi betina bernama Hanako yang sebelumnya diyakini sebagai vertebrata tertua, berusia 226 tahun.

Peter Bushnell, ahli fisiologi kelautan yang juga meneliti hiu itu, mengatakan, para ilmuwan kelautan sudah mengetahui bahwa hiu Greenland memiliki umur yang panjang. Hiu Greenland dalam penelitian ini punya panjang 6 meter. Para peneliti percaya, hiu itu bisa tumbuh lebih panjang lagi. Studi pada tahun 1963 mengungkap bahwa hiu Greenland tumbuh hanya 1 cm per tahun.

“Hiu Greenland memiliki tubuh yang sangat besar tetapi tumbuh dengan lambat. Ini menandakan bahwa mereka memiliki usia hidup yang panjang,” kata Bushnell. Pengukuran usia dalam riset ini dilakukan dengan level radiokarbon-14 pada lensa mata hiu. Pengukuran merefleksikan level radiokarbon-14 di lautan ketika lensa mata tersebut terbentuk.

Pengukuran pada rentang waktu 2010-2013 terhadap 28 spesies hiu Greenland betina mengungkap bahwa hiu terbesar dengan panjang 5,02 meter dari sejumlah 28 hiu tersebut memiliki usia antara 272 dan 512 tahun.

Apa rahasia umur panjang hiu itu? Bushnel seperti dikutip Nature pada 11 Agustus 2016 lalu mengungkapkan bahwa itu terkait energi dan lingkungan.

“Usia panjang hiu Greenland itu kemungkinan disebabkan karena spesies tersebut mengeluarkan jumlah energi yang sangat sedikit berkat suhu tubuhnya yang dingin dan ukurannya yang besar,” ujar Bushnell.

Fakta Menarik Seputar Bunglon Jika Dimasukan Dalam Ruangan Penuh Cermin


Bunglon sudah lama dikenal sebagai si jago menyamar, dengan kemampuannya berubah warna kulit sesuai situasi dan kondisi di sekitarnya. Kemampuan kamuflase bunglon menarik minat para ilmuwan untuk meneliti hewan tersebut. Di antara pertanyaan-pertanyaan tentang bunglon, ada satu yang unik dan menggelitik: apa warna bunglon jika berada di dalam ruangan penuh cermin?

Bunglon jantan. “Warna bunglon bukan sekedar untuk kamuflase,” kata Eli Greenbaum, ahli genetik evolusioner Universitas Texas di El Paso. Warna tersebut juga berubah seiring perubahan suhu atau emosi. Bunglon jantan menjadi emosional ketika mereka melihat pejantan lain yang berpotensi menjadi saingannya di habitat atau dalam perebutan betina.

“Bunglon jantan, dalam banyak kasus, akan berubah warna dalam sekejap sebagai respon ketika ia melihat pejantan lain, termasuk ketika melihat pantulan bayangannya di cermin,” kata Daniel F. Hughes, peneliti di lab Greenbaum. Bunglon jantan yang melihat “saingannya” dalam cermin akan berubah warna dari hijau menjadi kuning, oranye, atau bahkan merah. Demikian ungkap Michel C. Milinkovitch, ahli biofisika di Universitas Jenewa.

Bagaimana kulit bunglon jantan bisa berubah warna?

Para ilmuwan berpikir bahwa sel pembawa pigmen di permukaan kulit bunglon mengontrol perubahan warna tersebut. Sementara ruang di antara nanokristal dalam lapisan kulit yang lain berfungsi memantulkan cahaya secara berbeda.

Ketika bunglon dalam kondisi tenang, nanokristal-nanokristal tersebut saling berdekatan dan memantulkan warna biru dan hijau, yang membuat warna kulit reptil tersebut berwarna hijau.

Ketika merasa terganggu, ruang antar nanokristal meluas. Hal ini menyebabkan lebih banyak cahaya dengan panjang gelombang lebih besar, seperti merah cerah dan oranye dapat dipantulkan, dan membuatnya tampak mencolok bagi kompetitor.

Pejantan yang dikalahkan akan berubah warna menjadi lebih gelap, yang bisa diartikan sebagai “Tolong tinggalkan aku sendiri”, menurut studi yang dilakukan oleh tim ilmuwan Arizona State University. Ini adalah kemampuan penting, mengingat bahwa reptil lamban ini akan kesulitan untuk melarikan diri.

Bunglon betina

Lantas, apa yang terjadi jika bunglon betina ditempatkan dalam ruangan penuh cermin?

“Bunglon betina mengubah warna kulit untuk mengkomunikasikan status seksual mereka pada para pejantan,” ujar Hughes. Bunglon mediterania betina, contohnya, menampilkan warna kuning sebagai sinyal penerimaan ajakan kawin, menurut studi pada 1998.

Sinyal sosial bunglon betina mungkin lebih sedikit karena mereka memilih, sedangkan para pejantan berkompetisi agar bisa dipilih.

Ketika bunglon betina menatap pantulan bayangan dirinya, reaksinya kemungkinan lebih halus dibanding reaksi pejantan.

“Komunikasi antar betina pada bunglon secara umum tak begitu dipahami, dan mungkin tampak kurang jelas jika dibandingkan dengan komunikasi antar pejantan,” pungkas Hughes

Pulau Enggano Jadi Tempat Penemuan Spesies Unik Di Indonesia


“Diasingkan” dari Sumatera oleh proses geologi, Pulau Enggano yang terletak di Provinsi Bengkulu kini memberi kejutan bagi Indonesia. Ekspedisi penelitian yang dilakukan oleh Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) mengungkap flora serta fauna khas dan belum dikenal sebelumnya. Jenis baru flora bahkan dijumpai pada bangsa tanaman yang sudah dikenal luas. Jahe misalnya. Peneliti LIPI menemukan jahe yang tidak seperti jahe umumnya yang dibuat wedang. Jahe yang dinamai Zingiber engganoensis itu berbeda dengan jahe lain dari daunnya yang lebih tipis serta bunganya yang khas.

Jahe baru dari Enggano (Zingiber engganoensis) dan kerabat terdekatnya, Zingiber spectabile. Amir Hamidy, koordinator ekspedisi Enggano, mengungkapkan bahwa kebaruan spesies jahe itu telah dikonfirmasi dengan analisis DNA. “Bulan depan mungkin sudah akan terbit publikasi spesies baru ini,” ungkapnya dalam konferensi pers di LIPI, Kamis (5/11/2015).

Salak hutan yang dikoleksi di Pulau Enggano lewat Ekspedisi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia. lain dengan salak biasanya, jenis ini memiliki buah yang tersusun menjuntai. Selain jahe, peneliti juga meyakini bahwa jenis salak yang ditemukan di Enggano merupakan jenis baru. Salak itu sekarang dideskripsikan sebagai asam kelubi (Eleiodoxa conferta). Namun, penampakannya mirip dengan salak umumnya, Sallaca affinis. Peneliti menduga, salak itu khas Enggano.

Ninox sp dan Alcedo sp, burung hantu dan burung raja udang yang diyakini jenis baru dari Enggano. Dari golongan fauna, peneliti LIPI meyakini ada dua jenis burung baru. Salah satu jenis burung baru adalah burung hantu, Ninox spp. Jenis lain adalah raja udang, Alcedo spp. Raja udang di Enggano berbeda signifikan dengan jenis yang sama di Pagai dan Mentawai. Dari golongan katak, Amir sebagai peneliti amfibi meyakini ada dua jenis baru. Ia mengatakan, setiap katak memiliki bahasa yang berbeda untuk menarik pasangan. “Bahasa antara katak di Bengkulu dengan di Enggano berbeda. Kalau sudah bahasanya berbeda, berarti jenisnya juga berbeda,” ujarnya.

Dari spesies-spesies yang telah didata, peneliti memperkirakan ada 14 spesies yang diyakini pasti baru. “Satu tumbuhan, 2 katak sudah yakin baru karena analisis genetiknya sudah keluar, 2 kelelawar, 1 jenis ikan, 2 jenis udang, 2 jenis capung, dan 4 jenis kupu-kupu,” urai Amir.

Ular tikus Enggano (Coelognathus enganensis). Enggano tidak hanya memberi kejutan karena jenis-jenisnya baru, tetapi juga karena adanya jenis yang tak diduga bisa ditemukan. Salah satunya adalah ular Coelognathus enganensis. Selama 80 tahun, ular itu menghilang. Ekspedisi Enggano pada April-Mei 2015 lalu berhasil menemukannya kembali.

Kejutan lain adalah udang jenis Macrobrachium bariense dan M placidulum. Biasanya, dua jenis udang tersebut dijumpai di timur garius Wallacea atau secara umum di timur Sulawesi. Namun, untuk pertama kalinya, dua jenis itu dijumpai di bagian barat Indonesia. Dua jenis udang itu dijumpai dalam ukuran yang lebih kecil. Bila di timur garis Wallace ukurannya antara 20-30 sentimeter, di Enggano ukurannya hanya 10-15 sentimeter. Karena itu, para peneliti LIPI meyakini bahwa dua udang tersebut merupakan jenis baru.

Beragam kejutan berupa keanekaragaman hayati bisa dijumpai di Enggano karena pulau tersebut terpisah dari Sumatera. “Karena mengalami isolasi, perkembangan evolusi biotanya juga berbeda. Jadi, biota di Enggano sangat khas dan endemisitasnya tinggi,” kata Amir.

Spesies Baru Tikus Berhidung Babi Ditemukan Di Sulawesi


Tim ilmuwan dari Museum Zoologi Bogor, Pusat Penelitian Biologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Lousiana State University, dan Museum Victoria mengungkap genus baru tikus, yang disebut tikus hidung babi. Genus baru itu ditemukan di hutan perawan wilayah Tolitoli, Sulawesi, yang jarang dijamah. Hanya satu dua pencari rotan yang mencapai wilayah itu. Temuan ini memberi pengetahuan tentang penyebaran tikus celurut yang ternyata bisa mencapai wilayah lebih ke utara dan lebih tinggi dari yang diduga. Riset dipublikasikan di Journal of Mammalogy edisi Oktober 2015.

Anang Setiawan Achmadi, Jake Esselstyn, Kevin Rowe, dan Heru Handika sedang melakukan ekspedisi penelitian ke hutan wilayah Gunung Dako ketika menjumpai genus tikus itu pada tahun 2012. Tim memasang perangkap jepit dan umpan di suatu dataran di hutan berketinggian lebih dari 1.500 meter. Perangkap jepit adalah perangkat umum yang biasa dipakai untuk mengoleksi hewan pengerat liar.

“Yang pertama menemukan tikus ini Kevin. Dia berteriak. Kami yang masih di kamp dan mendengar langsung curiga ada sesuatu yang mengejutkan,” kata Anang. Begitu Kevin membawa spesimen ke kamp, seluruh tim kegirangan. Mereka langsung melakukan analisis singkat dan meyakini bahwa tikus yang dijebak adalah jenis baru. Saat melakukan analisis di laboratorium, tim mengungkap bahwa spesimen tikus yang ditangkap sangat khas dan berbeda dengan lainnya sehingga bahkan layak disebut genus baru.

Secara ilmiah, tikus baru ini dinamai Hyorhinomys stuempkei. Nama genus “Hyorhinomys” diambil dari kata “hyro” yang berarti “babi”, “rhino” yang berarti “hidung”, dan “mys” yang berarti “tikus”. Sementara itu, nama spesies “Stuempkei” diambil dari nama samaran Gerolf Steiner, Harald Stuempke. Dia adalah penulis buku fiksi The Snouter yang bercerita tentang adanya tikus yang terpapar radiasi sehingga hidungnya menjadi panjang.

Anang mengatakan, “Ciri yang sangat menonjol dari tikus ini adalah hidungnya yang seperti hidung babi.” Hewan itu dikatakan seperti hidung babi karena bentuknya yang besar, rata, dan berwarna merah muda. Ciri lainnya adalah adanya rambut yang sangat panjang di bagian dekat saluran kencing. “Kami belum pernah menemukan tikus celurut memiliki rambut urogenital yang sepanjang ini, mencapai 5 sentimeter. Kami belum tahu fungsinya apa.”

Karakteristik unik lain dari tikus baru ini adalah gigi serinya yang putih. Kebanyakan tikus memiliki gigi seri oranye. Sementara itu, telinganya juga besar. “Di Australia, Hyorhinomys lebih terlihat seperti tikus bilby, dengan kaki belakang yang besar, telinga besar dan panjang, serta moncong yang panjang dan meruncing,” ungkap Kevin.

Ciri itu merupakan salah satu karakteristik tikus pengerat karnivora yang memakan cacing tanah, larva kumbang, dan serangga kecil. Temuan tikus ini menantang pandangan ilmuwan tentang penyebaran celurut di Sulawesi saat ini. Sejauh ini, celurut dikatakan hanya menyebar hingga wilayah Sulawesi bagian tengah dan di dataran rendah.

Wilayah Tolitoli sudah terlalu ke utara. “Untuk sampai ke sana, ada barrier yang harus dilewati. Bagaimana celurut ini sampai ke sana, ini masih menjadi pertanyaan,” kata Anang. Sementara itu, celurut hingga saat ini ditemukan hanya pada ketinggian di bawah 1.500 meter di atas permukaan laut. Tikus hidung babi ditemukan di ketinggian 1.600 meter di atas permukaan laut. Temuan ini menambah daftar tikus-tikus unik di bumi sebelumya. Sebelumnya, keberadaan sejumlah tikus diungkap, yakni tikus ompong (Paucidentomys vermidax) dan tikus air mamasa (Waiomys mamasae).

Kevin mengungkapkan, “Kami masih kagum kita bisa berjalan ke pelosok hutan di Sulawesi dan menemukan beberapa spesies baru mamalia yang sangat berbeda dari spesies yang telah diketahui, atau bahkan genus sekalipun.” Anang menuturkan, penemuan genus baru yang ketiga dalam kurun waktu 5 tahun terakhir adalah bukti nilai penting kawasan hutan dan pegunungan di Pulau Sulawesi. Masih banyak “harta karun terpendam” keanekaragaman yang harus dijaga.

Hal ini menunjukkan pentingnya konservasi bagi masyarakat Indonesia. Jangan sampai keanekaragaman hayati punah sebelum diungkap dan diketahui manfaatnya.

Ida Tri Susanti Ditangkap Polisi Karena Pamer Foto Bunuh Kucing Hutan


Ida Tri Susanti yang mengunggah foto dia sedang memamerkan pembunuhan sejumlah kucing hutan di Facebook akhirnya diperiksa polisi pada Minggu, 18 Oktober 2015. Foto pembunuhan kucing hutan yang dilindungi undang-undang itu diunggah akun Facebook Ida Tri Susanti pada 12 September 2015. Ketika foto pembunuhan kucing hutan itu diunggah kembali di halaman Facebook Profauna Indonesia, kecaman keras langsung datang dari netizen. Hingga Senin pagi, 19 Oktober 2015, informasi tersebut sudah disebar 3.535 kali. Netizen mengecam aksi mahasiswi Jurusan Matematika Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Jember itu.

Begitu mendapat informasi dugaan perburuan dan pembunuhan kucing hutan itu, lembaga Protection of Forest & Fauna langsung berkoordinasi dengan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (KSDA) Jember. Tim KSDA dan Kepolisian Resor Jember merespons cepat informasi itu. Hanya dalam hitungan jam, Ida Tri Susanti sudah dimintai keterangan di Polres Jember. “Berburu dan memperdagangkan kucing hutan itu melanggar hukum, dan pelakunya terancam pidana hukuman penjara maksimum 5 tahun,” kata Swasti Prawidya Mukti, juru kampanye Profauna, dalam pernyataannya yang diunggah di laman resmi Profauna.

Setelah aksi sadis Ida Tri, kini foto pembunuhan kucing hutan kembali beredar di dunia maya. Kali ini, foto mengerikan tersebut diunggah akun Aghaa Karebaa Sandall Jepidswallo. Pemuda asal Makassar itu mengunggah foto pembantaian kucing hutan pada Selasa, 29 September 2015. Dalam foto tersebut, tampak dua pemuda hendak memotong leher kucing hutan. Pada gambar lain, seorang pemuda memegang kucing yang sudah dimutilasi. Satu tangan memegang tubuh kucing yang sudah disayat, sementara tangan lain memegang isi perut si kucing malang.

Perlakuan tak kalah sadis juga dilakukan akun Rrahhmmatt Budiimann. Pemuda asal Bengkulu ini mengunggah foto pembantaian pada 15 Oktober 2015, sehari setelah perayaan Tahun Baru 1437 Hijriah. Di dalam foto itu, tampak ia bersama rekan-rekannya menguliti seekor kucing hutan. Foto itu dia beri keterangan “Sambut 1 Muharram dengan ini”. Pembunuhan yang cenderung menjadi pembantaian tersebut sontak membuat netizen marah.

Meski akun dua pemuda itu sudah nonaktif, netizen sempat meng-capture laman Facebook mereka sehingga foto itu beredar. Akun Ebi Heriyanto berkomentar, “Hayo buruan laporin lagi ke polres setempat. Share bbm, fb, wa, dll. Biar cepet ditangkap.” Setelah Ida Tri Susanti, perempuan asal Jember dan dua pria asal Makassar dan Bengkulu, kini satu lagi pria asal Banyuwangi dengan akun Achmad Yusuf mengunggah foto perlakuan sadisnya terhadap kucing hutan hasil buruannya.

Dalam akun sosial medianya, ia mengunggah tiga gambar. Dari tiga gambar itu, foto pertama menampilkan dua ekor kucing hutan direbahkan miring dalam keadaan terbujur kaku. Sedangkan gambar kedua dan ketiga memajang gambar dirinya sambil memegang leher dua kucing hutan dari sisi yang berbeda. Berbeda dengan dua akun pelaku yang memajang foto kucing hutan sebelumnya, akun sosial media milik Achmad Yusuf hingga kini masih bisa diakses. Hal itu membuat banyaknya netizen terus menyampaikan pendapatnya pada halaman facebook milik Yusuf.

Salah satunya pemilik akun bernama, Wya Made Wahana. Sebelumnya akun Wya Made mencatumkan undang-undang dan lampiran PP terkait satwa liar yang dilindungi. Ia berkomentar, “Anda Sedang dalam pencarian…. Saudari Ida susanti sudah d amankan kemaren.” Ida Tri Susanti yang mengunggah foto dia sedang memamerkan pembunuhan sejumlah kucing hutan di Facebook akhirnya diperiksa polisi pada Minggu, 18 Oktober 2015. Foto pembunuhan kucing hutan yang dilindungi undang-undang itu diunggah akun Facebook Ida Tri Susanti pada 12 September 2015.

Ketika foto pembunuhan kucing hutan itu diunggah kembali di halaman Facebook Profauna Indonesia, kecaman keras langsung datang dari netizen. Hingga Senin pagi, 19 Oktober 2015, informasi tersebut sudah disebar 3.535 kali. Netizen mengecam aksi mahasiswi Jurusan Matematika Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Jember itu. Begitu mendapat informasi dugaan perburuan dan pembunuhan kucing hutan itu, lembaga Protection of Forest & Fauna langsung berkoordinasi dengan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (KSDA) Jember. Tim KSDA dan Kepolisian Resor Jember merespons cepat informasi itu. Hanya dalam hitungan jam, Ida Tri Susanti sudah dimintai keterangan di Polres Jember.

“Berburu dan memperdagangkan kucing hutan itu melanggar hukum, dan pelakunya terancam pidana hukuman penjara maksimum 5 tahun,” kata Swasti Prawidya Mukti, juru kampanye Profauna, dalam pernyataannya yang diunggah di laman resmi Profauna. Setelah aksi sadis Ida Tri, foto pembunuhan kucing hutan kembali beredar di dunia maya. Kali ini, foto mengerikan tersebut diunggah akun Aghaa Karebaa Sandall Jepidswallo. Pemuda asal Makassar itu mengunggah foto pembantaian kucing hutan pada Selasa, 29 September 2015.

Dalam foto tersebut, tampak dua pemuda hendak memotong leher kucing hutan. Pada gambar lain, seorang pemuda memegang kucing yang sudah dimutilasi. Satu tangan memegang tubuh kucing yang sudah disayat, sementara tangan lain memegang isi perut si kucing malang. Perlakuan tak kalah sadis juga dilakukan akun Rrahhmmatt Budiimann. Pemuda asal Bengkulu ini mengunggah foto pembantaian pada 15 Oktober 2015, sehari setelah perayaan Tahun Baru 1437 Hijriah.

Di dalam foto itu, tampak ia bersama rekan-rekannya menguliti seekor kucing hutan. Foto itu dia beri keterangan “Sambut 1 Muharram dengan ini”. Pembunuhan yang cenderung menjadi pembantaian tersebut sontak membuat netizen marah. Meski akun dua pemuda itu sudah nonaktif, netizen sempat meng-capture laman Facebook mereka sehingga foto itu beredar. Akun Ebi Heriyanto berkomentar, “Hayo buruan laporin lagi ke polres setempat. Share bbm, fb, wa, dll. Biar cepet ditangkap.”

Setelah Ida Tri Susanti–perempuan asal Jember–dan dua pria asal Makassar serta Bengkulu, kini ada satu lagi pria yang ditengarai asal Banyuwangi, Jawa Timur, dengan akunnya bernama Achmad Yusuf mengunggah foto perlakuan sadis terhadap kucing hutan hasil buruannya di media sosial Facebook. Dalam akun Facebook-nya, ia mengunggah tiga gambar. Dari tiga gambar itu, foto pertama menampilkan dua ekor kucing hutan direbahkan miring dalam keadaan terbujur kaku. Sedangkan, gambar kedua dan ketiga memajang gambar dirinya memegang leher dua kucing hutan dari sisi yang berbeda.

Salah satu foto yang ditampilkan dalam akun itu terdapat caption, yang kutipan aslinya berbunyi, “Berburu gadis dan janda..dpetnya mlah rase dan mcan rembah..gppa drpda gk dapet hahaHa,” demikian akun Achmad Yusuf menuliskan komentarnya, pada Rabu, 14 Oktober 2015. Macan rembah yang dimaksud Yusuf adalah jenis kucing liar yang banyak hidup di wilayah Indonesia. Jenis kucing kecil ini memiliki banyak nama, seperti Blacan, Macan Rembah, Kucing Emas, Kucing Batu, Kucing Bakau, Meong Congkok, dan Macan Akar.

Berbeda dengan dua akun pelaku yang memajang foto kucing hutan sebelumnya, akun sosial media milik Achmad Yusuf hingga kini masih bisa diakses oleh netizen. Hal itu membuat banyak netizen terus menyampaikan pendapatnya pada halaman Facebook milik Yusuf. Tindakan Achmad Yusuf sontak mendapat reaksi beragam dari netizen. Hingga kini, sudah 83 komentar, yang mayoritas mengecam aksi lelaki ini dan disebar sebanyak 1.038 kali. Tujuan para netizen ialah agar polisi segera mengambil tindakan atas masalah ini.

Adapun Ida Tri, yang mengunggah foto sedang memamerkan aksi pembunuhan terhadap sejumlah kucing hutan di Facebook, akhirnya diperiksa polisi pada Ahad, 18 Oktober 2015. Foto pembunuhan kucing hutan yang dilindungi undang-undang itu diunggah di akun Facebook-nya pada 12 September 2015. Ketika foto pembunuhan kucing hutan itu diunggah kembali di halaman Facebook Profauna Indonesia, kecaman keras langsung datang dari netizen. Hingga Senin, 19 Oktober 2015, informasi itu sudah disebar 3.535 kali. Netizen mengecam aksi mahasiswi Jurusan Matematika, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Jember itu.

Begitu mendapat informasi dugaan perburuan dan pembunuhan kucing hutan, Lembaga Protection of Forest & Fauna langsung berkoordinasi dengan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (KSDA) Jember. Tim KSDA dan Kepolisian Resor Jember merespons cepat informasi itu. Hanya dalam hitungan jam, Ida Tri Susanti sudah dimintai keterangan di Polres Jember. “Berburu dan memperdagangkan kucing hutan itu melanggar hukum, dan pelakunya terancam pidana hukuman penjara maksimum 5 tahun,” kata Swasti Prawidya Mukti, juru kampanye Profauna dalam pernyataannya yang diunggah di laman resmi Profauna.

Setelah aksi sadis Ida Tri, foto pembunuhan kucing hutan kembali beredar di dunia maya. Kali ini, foto mengerikan tersebut diunggah akun Aghaa Karebaa Sandall Jepidswallo. Pemuda asal Makassar itu mengunggah foto pembantaian kucing hutan pada Selasa, 29 September 2015. Dalam foto tersebut, tampak dua pemuda hendak memotong leher kucing hutan. Pada gambar lain, seorang pemuda memegang kucing yang sudah dimutilasi. Satu tangan memegang tubuh kucing yang sudah disayat, sementara tangan lain memegang isi perut si kucing malang.

Perlakuan tak kalah sadis juga dilakukan akun Rrahhmmatt Budiimann. Pemuda asal Bengkulu ini mengunggah foto pembantaian pada 15 Oktober 2015, sehari setelah perayaan Tahun Baru 1437 Hijriah. Di dalam foto itu, tampak ia bersama rekan-rekannya menguliti seekor kucing hutan. Foto itu dia beri keterangan “Sambut 1 Muharram dengan ini”. Pembunuhan, yang cenderung menjadi pembantaian tersebut, sontak membuat netizen marah.

Meski akun dua pemuda itu sudah nonaktif, netizen sempat meng-capture laman Facebook mereka sehingga foto itu beredar. Akun Ebi Heriyanto berkomentar, “Hayo buruan laporin lagi ke polres setempat. Share bbm, fb, wa, dll. Biar cepet ditangkap.”

Udang Warna Merah Ditemukan Di Danau Buton Sulawesi Tenggara


180153_udang1

Di Buton, ada sebuah danau yang menjadi rumah bagi udang merah yang dikeramatkan warga setempat. Traveler yang penasaran boleh saja berkunjung ke sana, tapi tidak boleh membawa pulang atau memakan udang merah tersebut. Salah satu tempat yang wajib dikunjungi saat ke Buton, Sulawesi Tenggara adalah Danau Udang Merah yang berukuran sekitar 70×25 m di dekat Pantai Koguna di Desa Mopano, Kecamatan Lasalimo Selatan. Danau itu menjadi habitat bagi udang merah yang dianggap sakral oleh warga setempat.

180212_udang2

“Udang merah ini ditemukan sejak tahun 1971. Ini danau bersemayamnya udah merah. Kenapa udang ini merah? Dari orang-orang tua kita tanyakan itu memang sejak mereka temukan sudah merah. Tempat ini memang dianggap sakral,” ujar Juriadin, Camat Lasalimo Selatan ketika ditemui di Danau Udang Merah, Buton, Selasa (25/8/2015) kemarin.

Ukuran udang yang tinggal di danau ini tidak terlalu besar dan warnanya benar-benar merah seperti cabai. Udang yang sama persis pun cukup sulit ditemukan di tempat lain. Spesies udang ini juga berkembang biak secara alami di danau, tanpa campur tangan manusia.

Juriadin mengatakan bahwa tidak ada yang tahu pasti dari mana udang merah itu berasal, serta kenapa tidak ada spesies hewan lain yang hidup bersama udang tersebut di danau. Baik warga setempat ataupun turis yang datang juga tidak disarankan untuk berenang bersama di danau, apalagi menyantap udang merah. “Ini juga tidak bisa kita makan. Pernah dicoba ada yang makan, bentol-bentol, sudah hampir sekarat. Sejak saat itu ketika kita komunikasikan dengan para orang tua itu tidak bisa (dimakan-red). Pamali kata orang sini,” jelas Juriadin.

180242_udang3

Udang merah pun tidak boleh seenaknya di bawa pergi dari danau. Selain karena udang tersebut tidak bisa hidup terlalu lama di luar habitatnya, ditakutkan akan ada bahaya yang menimpa jika sembarangan mengambil udang. Jadi harus izin dulu dengan para tetua desa kalau ingin membawa hewan merah itu

Mengenal Jenis Jenis Mutiara Unggulan Indonesia Beserta Daftar Harganya


Sudah bukan suatu rahasia lagi jika Indonesia kaya akan hasil lautnya. Tak hanya terkenal akan sumber daya ikan, laut Indonesia juga menyimpan potensi besar mutiara. Kualitas mutiara laut asal Indonesia sudah menggaung hingga telinga pasar internasional. Namun sayangnya, popularitas tersebut sering dibajak oleh negara-negara lain yang juga memiliki potensi yang sama dalam sumber daya mutiara laut ini.

Seorang ahli biota laut asal Australia, Joseph Taylor, mengatakan Indonesia merupakan pusat mutiara laut selatan (South Sea Pearl) terbesar di dunia. “Sayangnya, di dalam negeri (Indonesia) orang tidak tahu kualitasnya bagus,” kata Joseph saat berbincang dengan CNN Indonesia baru-baru ini.

Pria yang juga memiliki bisnis mutiara di beberapa kota di Indonesia itu mengatakan kebanyakan mutiara yang diperdagangkan di dalam negeri merupakan mutiara jenis Chinese Fresh Water Pearl atau mutiara air tawar yang ilegal. Dimana kualitasnya jauh dari kualitas mutiara Indonesia khusus South Sea Pearl yakni dari genus kerang Pinctada maxima.

Ia menggambarkan, untuk setiap satu kerang Chinese fresh water pearl, induk kerang bisa menghasilkan 40 butir mutiara dalam waktu yang singkat dan dihargai sekitar US$ 1-15 per gram mutiara untuk setiap ekspor. Sangat jauh berbeda dengan South Sea Pearl dari genus kerang Pinctada maxima asli laut Indonesia, yang hanya sanggup menghasilkan 1 butir mutiara dalam satu indukan kerang sehingga bisa dihargai Us$ 25 – US$ 100 per gram mutiara untuk setiap ekspor.

Perbedaan harga yang jauh inilah yang menyebbkan konsumen Indonesia lebih sering membeli dan mengimpor mutiara imitasi dan palsu dibandingkan membeli South Sea Pearl. “Dari 100 persen produksi, 90 persen pasti kami ekspor keluar, sisanya untuk kami perdagangkan di dalam negeri,” katanya.

Joseph mengatakan kendala yang dihadapi para eksportir mutiara saat ini yaitu tidak adanya sertifikasi mutiara dari pemerintah. Akibat tanpa adanya sertifikasi, selama ini sering terjadi klaim sepihak kerang asal Indonesia oleh negara lain ketika sudah sampai di tingkat pengepul internasional (trader).

“Saya pernah lihat ada mutiara hasil budidaya kami di Indonesia dijual di toko Australia dibilang itu produk dari Australia, sering sekali itu,” katanya.Joseph meneruskan, budidaya mutiara adalah salah satu aktivitas laut yang berkelanjutan dan ramah lingkungan. Tenaga kerja yang bergerak di bidang mutiara Indonesia saat ini mencapai 5,000 orang tetap dan 1,500 orang musiman.

Menurut data ekspor kerang, South Sea Pearl banyak diproduksi di Indonesia, Australia, Filipina, dan Myanmar. Mutiara South Sea Pearl adalah salah satu jenis mutiara yang terbesar dan mahal di dunia dengan ukuran 8 mm sampai 22 mm dengan warna putih sampai keemasan.

Data per tahun 2013 hingga 2014 menyebutkan, estimasi produksi lokal South Sea Pearl berhasil menembus 5,400 kilo gram atau nyaris 50 persen dari total estimasi produksi global yakni 12,700 kilo gram. Sedangkan untuk nilai ekspor mutiara mentah Indonesia berhasil menyumbangkan US$ 65-70 juta atau 30 persen dari nilai ekspor global yang mencapai US$ 200 juta.

Walaupun Indonesia terbesar dalam jumlah produksi South Sea Pearl (42 persen) nilai produk hanya 32 persen. “Ini terjadi karena mutu mutiara Indonesia rata-rata belum mencapai potensi terbaik. Kalau mutu bisa sampai potensi, nilai ekspor akan naik paling tidak 50 persen dengan jumlah produksi yang sama,” kata Joseph.

Pusat trading mutiara laut termasuk South Sea Pearl masih tetap di Jepang dan hampir 80 persen daripada semua mutiara laut (South Sea Pearl, Akoya dan Black Pearl) akan masuk ke Jepang sebelum didistribusikan ke negara lain.

Khusus di Indonesia, daerah penghasil mutiara South Sea Pearl adalah Papua Barat (Raja Ampat), NTB (Lombok/Sumbawa), Bali (Buleleng/Karang Asem/Negara, NTT (Labuan Bajo/Maumere/Laruntuka/Alor/Kupang), Maluku Selatan (Aru/Seram/Banda/Tual/Tanimbar), Maluku Utara (Halmaherah), Sulawesi (Manado/Bitung/Sulawesi Tengah/Kendari), Sumatera (Lampung), Jawa (Banyuwangi Madura).