Category Archives: Listrik

Solo Resmikan Pusat Sains


Pemerintah Kota Surakarta meresmikan operasional Solo Science Center, Jumat, 21 November 2014. Pusat sains tersebut terletak di gedung Solo Techno Park di kawasan Jebres. Kepala Badan Perencanaan dan Pembangunan Daerah Surakarta Agus Joko Witiarso mengatakan pusat sains itu dibangun untuk menarik minat pelajar dalam memahami dasar-dasar ilmu pengetahuan dan teknologi. “Agar pelajar dan masyarakat umum bisa merasakan mudahnya memahami prinsip iptek,” katanya.

Menurut Agus, dengan praktek langsung, pusat sains akan menjadi pelengkap pembelajaran sekolah untuk mengenalkan iptek secara mudah. Di Solo Science Center pelajar bisa merasakan dan menyentuh langsung sebuah teknologi yang biasanya hanya diketahui secara teori. Alat peraga iptek terdiri dari berbagai tema, seperti Fisika, Matematika, Energi, sampai robotik.

Agus menyebut Surakarta ingin punya taman teknologi seperti Yogyakarta dengan taman pintar. “Untuk membedakan, kami lebih menekankan ke teknologi, misalnya ke depan akan mencari hibah simulasi pesawat,” katanya. Masyarakat bisa mengakses pusat sains setiap hari kerja dari pukul 08.00 sampai pukul 15.00 tanpa dipungut biaya.

Direktur Pusat Peragaan Iptek Kementerian Pendidikan Tinggi dan Riset Teknologi Ari Hendrarto mengatakan pusat sains dimaksudkan untuk menggambarkan kegiatan sains. Sehingga sains lebih menyenangkan dan lebih mudah diterima ketika bisa dipraktekkan. “Kalau di museum kita tidak boleh menyentuh koleksi, kalau di sini wajib menyentuh dan mencoba,” katanya.

Sumba Jadi Ikon Energi Terbarukan Di Indonesia


Pemerintah menetapkan Pulau Sumba sebagai ikon untuk potensi energi terbarukan. Program tersebut merupakan proyek percontohan untuk penyediaan akses energi yang dapat diandalkan kepada masyarakat di pulau-pulau kecil dan sedang melalui pengusahaan energi terbarukan.

“Kami sangat mendukung program-program energi terbarukan sebagai sumber energi alternatif nonfosil, termasuk di Pulau Sumba,” kata Direktur Aneka Energi Baru Terbarukan Direktorat Jenderal Energi Baru dan Terbarukan dan Konservasi Energi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, Alihudin Sitompul, di seminar bertajuk Sumba Iconic Island di Hotel Bidakara, Rabu, 13 Februari 2013.

Usulan Sumba sebagai ikon energi terbarukan sudah dimulai sejak 2009 lalu. Program tersebut diinisiasi oleh organisasi internasional Hivos, Badan Pembangunan Nasional, dan Kementerian ESDM. Melalui program ini, pemerintah menargetkan terwujudnya ketersediaan energi yang berasal dari energi terbarukan sebesar 100 persen pada 2025 di Pulau Sumba.

“Program ini diharapkan dapat meningkatkan rasio elektrifikasi yang masih rendah di Indonesia bagian timur,” kata Alihudin. Alihudin menjelaskan, masih banyak kawasan di Indonesia Timur, khususnya di Pulau Sumba, yang belum mendapat aliran listrik dari Perusahaan Listrik Negara. Sebagai gantinya, daerah-daerah tersebut menggunakan genset milik pemerintah daerah dengan berbahan bakar solar yang dinilai mahal dan tidak ramah lingkungan.

Pemilihan Pulau Sumba sebagai ikon energi terbarukan didasarkan atas hasil studi Winrock Internasional. Winrock menyatakan Sumba memiliki akses terhadap energi listrik moderen yang rendah, yaitu memiliki rasio elektrifikasi sebesar 24,5 persen pada 2010. Pulau Sumba sangat bergantung pada pembangkit listrik tenaga diesel yang dikirim daerah lain sehingga membutuhkan biaya angkut yang mahal. Sebaliknya, Sumba dinilai kaya akan potensi energi terbarukan, semisal air, bioenergi, angin, dan matahari.

Regional Energy Advisor Asia-Pasific Regional Center United Nations Development Programme, Thiyagarajan Velumail, mengatakan program pulau ikonis tersebut merupakan hal positif untuk meningkatkan akses masyarakat terhadap energi modern listrik dan bahan bakar. Selain itu, program tersebut juga dapat melipatgandakan efisiensi penggunaan energi fosil dan melipatgandakan penggunaan energi terbarukan.

“Jika program ini berhasil, Indonesia akan menjadi model atau percontohan bagi dunia dalam meningkatkan akses masyarakat terhadap energi modern dengan menggunakan energi terbarukan,” kata Velumail dalam kesempatan yang sama. Ke depannya, kata dia melanjutkan, akan ada banyak tantangan bagi pemerintah untuk menyukseskan program pulau ikonis ini, khususnya tantangan koordinasi dan komitmen bersama agar program berjalan konsisten sesuai target.

Panduan Mengolah Sampah Menjadi Bisnis Yang Menguntungkan


Sampah rumah tangga adalah pemandangan lazim setiap hari. Catatan dari Kementerian Lingkungan Hidup menunjukkan pada 2012, rata-rata penduduk Indonesia menghasilkan 0,5 – 0,8 kilogram sampah per orang per hari. Hal itu berarti, andai jumlah penduduk Indonesia ada 245 juta jiwa, ada sekitar 196 ribu ton sampah dibuang per harinya. Dapat dibayangkan, tanpa sistem pengelolaan sampah yang baik, Indonesia cepat sekali menjadi gudang sampah.

Sampah rumah tangga, khususnya sampah kering, sesungguhnya bisa menjadi sumber berkah. Mari menyimak pengalaman Prakoso, salah satu pegiat bank sampah binaan Yayasan Unilever Indonesia. Pria paruh baya yang sejak 2007 membangun komunitas sistem baank sampah di tempat tinggalnya, kawasan Malaka Sari, Jakarta Timur itu mengatakan sampah justru menjadi sumber uang.

Pengalaman Prakoso menunjukkan, sejak 2007 sampai kini, misalnya, rerata tiap tahun, dirinya dan komunitasnya mampu mengelola hingga 39 ton sampah. Nilai sampah sebanyak itu bisa mencapai Rp 60 juta. Primus Salah satu pokok bahasan dalam Kendati demikian, mengubah sampah menjadi barang berguna yang mendatangkan uang memang bukan semudah membalik telapak tangan. Ada langkah-langkah yang harus dicapai seseorang menuju pencapaian.

Buku panduan Bertolak dari proses tersebut, sebagaimana General Manager Yayasan Unilever Indonesia Sinta Kaniawati mengatakan pada Rabu (18/6/2014), buku bertajuk “Buku Panduan Sistem Bank Sampah & 10 Kisah Sukses” disampaikan kepada masyarakat kebanyakan. Buku setebal i+iv dan 48 halaman ini terdiri dari tiga bagian. Bagian 1 mengulas mengenai Sistem Bank Sampah.

Kemudian, Bagian 2 berisi ihwal pendirian & pengembangan sistem bank sampah. Sementara, Bagian 3 berisi sepuluh kisah sukses bank sampah di Indonesia. Josephus Primus Ada lima mekanisme sistem bank sampah mulai dari pemilhan sampah rumah tangga hingga pengangkutan ke tempat pengolahan sampah berikutnya.

Sistem bank sampah binaan Yayasan Unilever Indonesia mempekenalkan sistem pilah sampah dan penghijauan sejak 2001 melalui program Green and Clean. Membaca dan mengambil poin-poin penting dari buku ini pada bagian lain adalah meniru sekaligus menebarkan keberhasilan begitu banyak orang untuk menjadikan kepedulian pada sampah sebagai bagian dari keseharian. Menurut Sinta, pihaknya melalui program sistem bank sampah fokus pada tiga hal yakni berorientasi pada manusia, sistem yang terstandardisasi, dan pengembangan berkelanjutan.

Lalu, sepuluh kisah sukses bank sampah di Indonesia menunjukkan sampah perkotaan sejatinya bisa dikelola dengan baik. Contoh-contoh kesuksesan pada buku ini berasal dari sepuluh kota yakni Bank Sampah Wahana Medan, Bank Sampah Malaka Sari Jakarta Timur, Bank Sampah RW 14 Tamansari Atas Bandung, Bank Sampah Mekar Asri Yogyakarta, Bank Sampah Euphorbia Surabaya, Bank Sampah Pertiwi Denpasar, Bank Sampah Morse Banjarmasin, Bank Sampah PJHI Balikpapan, Bank Sampah Pelita Harapan Makassar, dan Bank Sampah Paniki Satu Manado.

Paling penting, kemudian, usai membaca ini adalah menjalankan catatan sebagaimana termaktub di halaman 6 , “Mari Bergerak!” Sungguh, ini pesan paling kuat. Josephus Primus Selalu ada kisah sukses dalam program sistem bank sampah. Sistem Bank Sampah Unilever mendapat pengakuan Green Leadership Asia Responsible Enterpreneurs Award, Best CSR in Gold Stevie Award, Runner up MDGs Award in category clean water access and basic sanitation.

Pemerintah Provinsi DKI Jakarta bertekad membangun satu bank sampah di setiap kelurahan di seluruh penjuru Ibu Kota. Dengan kebijakan ini, diharapkan Jakarta mampu memanfaatkan 50 persen sampahnya untuk didaur ulang. Kepala Dinas Kebersihan Provinsi DKI Jakarta Eko Bharuna mengungkapkan bahwa sampah yang dihasilkan warga Jakarta setiap harinya dapat mencapai lima ton. Untuk itu, warga didorong untuk bijak mengelola sampah sehingga dapat lebih bermanfaat dan sampah di tempat pembuangan akhir tidak terus menggunung.

“Yang bisa didaur ulang kita masukin ke bank sampah, sisanya baru dikirim ke Bantar Gebang,” kata Eko saat dijumpai di kompleks Balaikota Jakarta, Selasa (27/11/2012). Saat ini, kata Eko, ada beberapa kelurahan yang telah memiliki bank sampah. Ke depan, skema anggaran terus dirancang untuk mewujudkan satu bank sampah di setiap kelurahan.

“Saya belum bisa ungkapkan anggarannya, semua masih dihitung,” ujarnya. Pembangunan bank sampah merupakan salah satu program unggulan Dinas Kebersihan yang akan dieksekusi mulai tahun depan. Selain itu, DKI juga berencana membangun empat tempat pengolahan sampah terpadu di Sunter, Cakung Cilincing, Marunda, dan Duri Kosambi.

Pada 2012, Kabupaten Lamongan, Jawa Timur, sukses mengelola timbunan sampah hingga 25 persen atau 28,3 meter kubik. Pada 2013 ini, melalui Program Lamongan Green and Clean, timbunan sampah yang bisa dikurangi ditargetkan mencapai 40 persen. Untuk itu, setiap kecamatan diminta punya sedikitnya satu bank sampah. Tahun lalu, setiap kecamatan di Lamongan menyertakan satu RT untuk menjadi peserta perintis dalam Program Lamongan Green and Clean (LGC). Tahun ini ditargetkan terbentuk 182 bank sampah yang profesional.

Kepala Badan Lingkungan Hidup Lamongan Sukiman, Selasa (22/1/2013), menjelaskan, tahun lalu masih ada sejumlah titik yang belum memisahkan sampah organik dan sampah anorganik. Tahun ini semua sampah sudah harus terpilah sebelum diproses. Kesuksesan program LGC tahun lalu didukung peran serta 4.642 kader lingkungan. Partisipasi masyarakat sangat tinggi, nilainya mencapai Rp 2,320 miliar. Nilai ekonomis dari pengelolaan bank sampah berupa sampah kering mencapai Rp 245 juta, sedangkan sampah basah Rp 177 juta.

Program LGC juga memunculkan inovasi masyarakat, seperti waste water treatment (perangkat pengelola air limbah) di 20 RT.

Sinar Lampu Ternyata Bisa Membuat Badan Bertambah Gemuk


Seseorang yang berusaha menurunkan berat badan harus memperhatikan paparan pencahayaan lingkungan di sekitarnya. Sebuah studi menunjukkan bahwa cahaya buatan dari lampu listrik mungkin merupakan faktor risiko yang terkait obesitas.

“Cahaya buatan dapat mengganggu ritme sirkadian atau jam biologis, yang membantu mengatur siklus tidur. Jika hal ini terjadi, tubuh akan mengalami kondisi yang disebut circadian desynchrony, dimana metabolisme akan terganggu dan pada akhirnya dapat menyebabkan obesitas,” kata Cathy Wyse, seorang peneliti di University of Aberdeen’s Institute of Biological and Environmental Science, Inggris.

Dengan mengurangi paparan cahaya buatan dan memaksimalkan pencahayaan alami sinar matahari, seseorang dapat terhindar dari risiko obesitas.

Seperti dilansir prevention, Jumat (14/9/12), berikut cara yang dapat Anda lakukan untuk mencegah penambahan berat badan karena efek pencahayaan:

1. Makan makanan berlemak dalam kondisi pencahayaan yang remang-remang

Ketika Anda dihadapkan pada makan malam yang terdiri dari makanan yang mengandung lemak jenuh, seperti daging merah dan produk susu, redupkan pencahayaan ruang makan Anda. Penelitian menunjukkan bahwa makan dalam ruangan dengan pencahayaan yang remang-remang dapat mencegah seseorang makan berlebihan.

Hindari makan malam yang terlalu dekat dengan waktu tidur agar pencernaan tidak bekerja selama Anda tidur. Hal ini akan mengganggu metabolisme tubuh, menyebabkan makanan tidak tercerna dengan baik dan lemak akan menumpuk di perut.

2. Dapatkan sinar matahari ketika bangun di pagi hari

Terpapar sinar matahari pagi selama 15 menit dapat membangunkan sel-sel tubuh setelah tertidur sepanjang malam. Sinar matahari juga dapat mengirimkan sinyal kuat ke otak dan membuat tubuh siap memulai aktivitas.

Hal ini dapat melancarkan metabolisme tubuh dan memudahkan seseorang dalam upaya penurunan berat badan. Begitu bangun tidur, berjalan-jalanlah di sekitar rumah atau sarapan di dekat jendela, sehingga Anda dapat terpapar sinar matahari pagi yang menyehatkan.

3. Redupkan lampu kamar ketika memasuki waktu tidur

Lampu kamar yang dibiarkan tetap menyala terang hingga larut malam dapat mengganggu produksi hormon melatonin tubuh yang berfungsi menginduksi tidur. Produksi hormon melatonin akan meningkat jika lingkungan sekitarnya gelap.

Kualitas tidur jelas mempengaruhi upaya penurunan berat badan seseorang, karena orang yang kurang tidur memiliki metabolisme tubuh yang buruk serta cenderung kelelahan sepanjang hari yang menyebabkan makan berlebihan.

Untuk meningkatkan kualitas tidur, redupkan lampu kamar ketika memasuki waktu tidur atau dengarkan musik lembut 45 menit sebelum tidur untuk menginduksi tidur hingga sebesar 35 persen.

Siswa SMA Negeri 5 Kota Madiun Ciptakan Baterai Listrik Tenaga Air


Umumnya listrik diperoleh dari perubahan energi kinetik melalui generator. Energi kinetik untuk menggerakkan generator bisa diperoleh dari uap yang dihasilkan dari pembakaran sumber energi fosil seperti minyak, batubara, dan gas. Energi kinetik untuk menggerakkan generator juga bisa bersumber dari aliran air atau udara.

Namun sumber energi fosil yang digunakan untuk listrik menimbulkan polusi dan energinya terbatas atau tidak dapat diperbarui (unrenewable). Maka dari itu dibutuhkan sumber energi alternatif lain yang cadangannya lebih besar dan tidak berdampak polusi. Salah satunya adalah air. Air yang dimanfaatkan sebagai elektrolit atau penghantar bisa mengalirkan arus listrik dari ion yang terdapat pada logam seperti seng (Zu) dan tembaga (Cu).

Di Jawa Timur, siswa Sekolah Menengah Atas (SMA) Negeri 5 Kota Madiun berhasil menciptakan sumber energi listrik dari proses elektrokimia antara air, seng, dan tembaga. Rangkaian atau perangkat energi listrik itu disebut dengan baterai air.

Salah satu siswa SMA Negeri 5 Kota Madiun, Emlirisda, mengatakan karya yang diciptakan bersama teman-temannya itu bermula dari ide untuk mendapatkan sumber energi listrik alternatif selain dari energi fosil. Selain itu, diharapkan karya mereka juga tepat guna dan ramah lingkungan. Lalu muncul ide memanfaatkan air sebagai penghantar ion yang mengandung listrik dari logam jenis seng dan tembaga. “Rangkaiannya terdiri dari seng, tembaga, kabel, penjepit, pipa penyaring, lem, dan bola lampu,” ujar siswa kelas XII IPA 1 ini pada Tempo, Sabtu, 28 Juli 2012.

Seng dan tembaga merupakan dua jenis logam dengan beda potensial atau tegangan yang tinggi dibanding logam lain. Cara kerja baterai air ini dimulai dari lempengan atau sel seng dan tembaga yang direndam dalam sebuah tempat berisi air. Lempengan seng dan logam ditata sejajar atau berhadapan dan tidak boleh bersentuhan atau berhimpitan.

Dalam proses ini, seng berfungsi sebagai elektroda negatif dan tembaga adalah elektroda positif. “Larutan ion negatif pada seng akan berpindah atau tertarik ke tembaga yang berkutub positif melalui perantara air sebagai elektrolit (penghantar),” ucap Emlirisda.

Sehingga muncul larutan ion yang mengandung energi listrik. Energi listrik yang timbul itu dialirkan melalui kabel berarus positif dan negatif yang dipasang pada tiap lempengan seng dan tembaga. Dari situ, energi listrik dalam kabel dialirkan ke bola lampu hingga memancarkan cahaya.

Sementara itu, lem digunakan untuk merekatkan rangkaian kabel dan pipa penyaring yang berfungsi sebagai sirkulasi air jika air dibuat mengalir. Sedangkan klip penjepit kabel digunakan untuk menyambungkan aliran listrik dari rangkaian kabel pada lempengan ke rangkaian kabel yang menuju lampu.

Eksperimen baterai air karya siswa ini dilakukan dengan menggunakan masing-masing enam lempengan atau enam sel seng dan tembaga. “Hasilnya, satu selnya (lempengan seng dan tembaga) mengandung daya listrik 0,9 volt,” ucap siswa lain, Vitara Hardinia.

Sehingga enam sel akan menghasilkan tegangan listrik 5,4 volt. Tegangan 5,4 volt itu dihasilkan jika tanpa beban atau tanpa dihubungan dengan lampu. “Kalau menggunakan beban (lampu menyala), total menghasilkan tegangan 2,4 volt,” ucap siswa kelas XII IPA 2 ini.

Jika butuh tegangan listrik yang lebih besar, maka cukup menambah jumlah lempengan atau sel seng dan tembaga dalam rangkaian. Cahaya yang timbul dari energi listrik dengan menggunakan masing-masing enam lempeng seng dan tembaga itu teruji tahan satu bulan tanpa mati.

Penggunaan baterai air oleh siswa setempat pertam kali digunakan di bidang pertanian. Cahaya yang dihasilkan dari listrik baterai air jadi perangkap serangga hama. Terapan baterai air model ini disebut dengan Water Electric Light Trap (WELT) atau perangkap cahaya listrik dari air. Sebagai perangkap, lampu yang menyala dengan listrik baterai air diletakkan di atas alat penggorengan sebagai tempat untuk mengumpulkan serangga. “Serangga bersayap akan tertarik dengan cahaya sehingga terkumpul dan jatuh kesini (alat penggorengan),” Vitara menjelaskan.

Penelitian mereka ini telah dibukukan dalam karya ilmiah dan mendapat juara III karya tulis ilmiah tingkat SMA dalam Lomba Inovasi Teknologi Lingkungan (LITL) pada Maret 2012 yang diselenggarakan Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya. Karya tulis ilmiahnya berjudul “Baterai Air Sebagai Sumber Energi Listrik Alternatif Water Electric Light Trap Pengendali Hama Non Pestisida”. Baterai air ini juga pernah dipertontonkan dalam pameran teknologi tepat guna nasional di Yogyakarta pada 22-26 September 2010.

Baterai air ini ternyata juga ramah lingkungan. Selain menghasilkan listrik, bekas air yang digunakan bisa dimanfaatkan untuk penyiraman tanaman. “Bekas airnya mengandung seng yang dibutuhkan tanaman agar lebih kuat,” ucap Vitara.

Guru pembina Fisika SMA Negeri 5 Kota Madiun Imam Zuhri mengatakan baterai air ini sederhana, bisa dibuat siapa saja, dan dimanfaatkan dimana saja selama ada sumber air. “Air ada dimana-mana dan cara kerjanya tidak rumit,” tuturnya.

Menurutnya, segala sesuatu yang mengandung air termasuk tanaman bisa menimbulkan energi listrik melalui proses elektrokimia. Siswa setempat juga pernah menciptakan energi listrik serupa dengan tanaman kaktus sebagai elektrolit atau penghantar. “Dibanding menggunakan kaktus, energi yang dihasilkan dengan media air lebih tahan lama,” Imam menegaskan. Sebab kadar asam pada kaktus bisa menimbulkan korosi atau karat pada logam sehingga mempengaruhi tingkat kualitas ionisasi logam terutama seng.

Cara Mengubah Virus Menjadi Energi Listrik


ada suatu masa, perajin sepatu di Cibaduyut, Bandung, dapat merancang sepatu penghasil listrik. Sambil melangkah, konsumen mengisi baterai telepon selulernya dengan kabel yang terhubung ke sepatu yang dikenakan atau dia dapat menyimpan listrik itu di dalam satu gadget dan menjualnya ke pengepul energi alternatif.

Inovasi lain bisa dilakukan oleh produsen komputer atau laptop. Mereka melapisi lembaran film di bawah papan ketik atau keypad. Ketika tuts ditekan atau mengetik, tercipta listrik sehingga perangkat elektronik tersebut tidak lagi membutuhkan listrik dari sumber-sumber tradisional selama ini.

Masa dan mimpi semacam itu kian dekat dengan ditemukannya virus penghasil listrik oleh peneliti dari University of California. Virus tersebut diciptakan oleh Byung Yang Lee dan peneliti lainnya di Laboratorium Physical Biosciences milik Departemen Energi Amerika Serikat.

Mereka menamakan virus ini M13, yang mengalami modifikasi genetik untuk membangkitkan energi ketika diberi tekanan. “Virus ini mengubah energi gerak menjadi energi listrik,” ujar Lee dalam laporan ilmiah yang terbit dalam jurnal Nature Nanotechnology pada 13 Mei lalu.

Dalam ilmu fisika bahan, sifat yang dimiliki M13 dikenal sebagai efek piezoelektrik. Bahan seperti ini akan membangkitkan energi ketika volumenya dipampatkan. Efek ini telah banyak dipelajari pada kristal dan polimer organik.

Pada bahan organik, pembuatannya amat rumit karena melibatkan zat beracun yang dicampurkan melalui proses rumit dalam suhu dan tekanan tinggi. Bahan piezoelektrik yang pernah diciptakan peneliti antara lain tulang, fibril kolagen, dan tabung nanopeptida.

M13 berbentuk batang. Panjang virus mencapai 880 nanometer atau seperempat kali lebih kecil daripada partikel asap rokok. Adapun ketebalannya hanya 6,6 nanometer atau tiga kali diameter rantai DNA. Terdapat 2.700 molekul protein yang menyusun dinding virus dengan lima protein yang menjulur di setiap ujung batang.

Dinding virus bisa diuraikan menjadi kerucut-kerucut protein dengan sudut bukaan sebesar 40 derajat. Selimut protein tersusun atas sembilan protein memanjang dengan salah satu ujung bertemu di ujung kerucut. Pengukuran lebih jauh menunjukkan struktur ini memiliki simetri rotasi dan simetri bidang miring. “Struktur simetri seperti ini biasanya memiliki sifat piezoelektrik,” ujar dia.

Setelah membuktikan kemampuan virus, peneliti meningkatkan kemampuannya dengan memanfaatkan teknik rekayasa genetika. Caranya adalah menambahkan empat asam amino bermuatan negatif ke salah satu ujung protein penyusun virus. Protein tambahan ini disebut residu, berguna memperbesar perbedaan tegangan pada ujung-ujung protein. Dengan demikian, terjadi peningkatan drastis voltase virus.

Virus hasil modifikasi kemudian dibariskan ke dalam sehelai lapisan film. Pekerjaan ini seperti menyusun keping Lego, dengan kepala virus ditempelkan ke ekor virus lain. Susunan virus ini seolah-olah membentuk jalinan kabel berukuran nano.

Penyusunan ini tidak terlalu rumit. Bentuk virus yang seperti batang memudahkan peneliti untuk menumpuknya satu sama lain. Mereka menggambarkannya seperti menyusun sumpit agar tersusun saling bersisian. Dengan sedikit goyangan dari luar, sumpit-sumpit akan saling sejajar. “Sifat alami virus batang berbaris rapi,” ujar dia.

Selembar film ternyata tidak cukup. Peneliti menumpuk lembaran berisi virus ini untuk menangguk lebih banyak listrik. Percobaan demi percobaan berujung pada kesimpulan bahwa efek piezoelektrik paling besar dihasilkan oleh 20 tumpukan film berisi virus.

Pengujian kemampuan virus dilakukan melalui demonstrasi di laboratorium. Peneliti membuat pembangkit listrik tenaga virus sederhana yang terdiri atas lempeng emas sebagai elektrode, kabel, pengukur tegangan, dan monitor liquid crystal display sederhana.

Tumpukan film berisi virus diisolasi ke dalam lapisan polydimethylsiloxane (PDMS) transparan. Ujung-ujung lembaran film terhubung dengan elektrode emas yang disambungkan dengan kabel. Tegangan pada ujung kabel terjadi ketika peneliti menekan PDMS dan virus yang ada di dalamnya.

Saat ditekan, molekul protein pada virus saling berdekatan. Pengetatan ukuran ini membuat terjadinya loncatan tegangan. Arus mengalir pada satu arah sehingga listrik tercipta. Pembacaan melalui voltmeter menunjukkan arus yang dihasilkan adalah sebesar enam nanoampere dan tegangan 400 milivolt.

Energi yang dihasilkan pembangkit listrik tenaga virus ini setara dengan seperempat tegangan baterai AAA yang lazim digunakan sehari-hari. Terbukti, ketukan peneliti diterjemahkan menjadi angka “1” di monitor LCD.

Selepas penelitian, peneliti berpikir mengambil langkah maju. Anggota penelitian, Seung-Wuk Lee mengatakan, virus bisa menggandakan diri dengan cepat, yaitu satu juta replika dalam satu jam. Karena itu, energi listrik yang dihasilkan tak akan ada habisnya. “Energi yang dihasilkan tiada henti,” ujar Seung-Wuk.

Prospek energi dari virus juga semakin menjanjikan karena peneliti bisa menjinakkan virus. Menurut mereka, M13 tidak mengancam keselamatan manusia. Hanya bakteri tertentu yang bisa diserang oleh virus.

Peneliti membidik peralatan elektronik kecil untuk aplikasi pembangkit listrik tenaga virus. Hal ini sangat mungkin dilakukan karena teknologi nano membuat peralatan elektronik akan semakin kecil dan irit daya. “Penelitian kami membuka jalan bagi pembuatan pembangkit listrik personal,” ujar Seung-Wuk, “teknologi ini bisa dipakai pada perangkat nano atau alat elektronik berbasis virus.”

Lembar film yang mengandung virus nantinya bisa ditempelkan pada sol sepatu, papan ketik, atau perangkat lain. Ketika cadangan bahan bakar fosil mulai habis, virus ini dapat menjadi sumber energi alternatif yang ramah lingkungan.

Pesawat Solar Impulse Akan Keliling Dunia Tanpa Memakai Bahan Bakar


Pesawat bertenaga surya buatan Swiss dengan nama Solar Impulse, yang terbesar di antara jenisnya di dunia, akan terbang perdana melintasi benua pada Mei atau Juni. Demikian pernyataan perusahaan itu pada Selasa.

Pesawat yang dipiloti bersama oleh Bertrand Piccard dan Andre Borschberg itu akan berupaya terbang perdana sejauh lebih dari 2.500 kilometer dengan lepas landas di Payerne, Swiss barat, kemudian menyeberangi Pyrenees dan Laut Tengah tanpa menggunakan bahan bakar setetes pun hingga akhirnya mendarat di Maroko, Afrika. Tanggal pasti penerbangan tersebut akan diputuskan sesuai dengan keadaan cuaca.

Bertrand Piccard dan Andre Borschberg akan bergantian menerbangkan pesawat dalam perjalanannya selama 48 jam, dengan jadwal pemberhentian pertengahan di dekat Madrid, Spanyol, untuk mengganti pilot.

Penerbangan dengan waktu lama itu akan menjadi gladi resik bagi penerbangan keliling dunia 2014 dan akan memberikan tim sejumlah pengalaman dalam bekerja sama dengan sejumlah bandara internasional, menyatukan purwarupa hingga menjadi bentuk kendaraan udara yang sewajarnya dan mengelola logistik perawatan, kata Borschberg yang juga menjabat Wakil Pendiri dan Direktur Utama Solar Impulse.

Solar Impulse, pesawat pertama yang bisa terbang siang dan malam tanpa bahan bakar minyak atau mengeluarkan gas buang, memiliki rentang sayap selebar 63,4 meter, selebar Airbus A340, dan memiliki bobot hanya 1.600 kilogram.

Pesawat tersebut memiliki 12 ribu sel surya yang dipasang di kedua sayap sehingga dapat memberikan tenaga gerak bagi keempat mesin listriknya.

Pesawat tersebut melakukan terbang perdana internasional dari Swiss menuju Brussels pada 13 Mei 2011 dan menandai penerbangan internasional keduanya ke Paris pada Juni 2011.