Category Archives: Energy

Amerika Serikat Telah Berhasil Kembangkan Senjata Laser Seperti Film Star War


Tiga puluh tiga tahun lalu, lima tahun setelah George Lucas merilis film Star Wars: A New Hope, Presiden Amerika Serikat Ronald Reagan menyampaikan pidato soal anggaran pertahanan dan ancaman nuklir dari Uni Soviet. Menurut Presiden Reagan, pada saat Amerika menahan diri untuk mengembangkan senjata, Uni Soviet malah melipatgandakan kekuatan militernya.

Dalam pidatonya yang belakangan dikenal sebagai pidato “Star Wars” itu, Presiden Reagan mengusulkan Amerika membangun sistem pertahanan strategis. Salah satu ide dalam sistem pertahanan ini, seperti yang diusulkan oleh mantan Direktur Lawrence Livermore National Laboratory Edward Teller kepada Presiden Reagan, adalah menembak misil yang mengancam wilayah Amerika dengan laser sinar-X dari satelit yang berada di orbit bumi.

Kala itu, ide senjata laser Dr Teller ini seperti kisah dalam film sains-fiksi belaka. Sebab, di laboratorium pun, walaupun sudah ada sejumlah penelitian, laser sinar-X ini belum ada kala itu. Tapi mimpi itu tinggal sejengkal lagi jadi kenyataan. Bahkan Tiongkok, membuntuti Amerika, turut membuat senjata laser ala Star Wars. Sudah beberapa tahun penguasa di Beijing menugasi Akademi Rekayasa Fisika dan Jiuyuan Hi-Tech Equipment Corporation merancang senjata laser.

Persis setahun lalu, Angkatan Laut Amerika Serikat memamerkan hasil uji coba senjata laser yang dipasang di kapal perang USS Ponce. Dalam video pendek itu, meriam Laser Weapon System buatan Raytheon Company berhasil menembak jatuh pesawat tanpa awak. Beberapa pekan lalu, giliran militer Negeri Panda unjuk gigi. Di layar televisi CCTV, senjata laser Low Altitude Guardian II (LAG II) berhasil menembak jatuh target di udara.

“Kami tak mengetesnya lagi. Ini sudah bisa bekerja,” kata Laksamana Muda Matthew L. Klunder, Direktur Pusat Riset Angkatan Laut Amerika, dikutip Guardian. Senjata laser energi tinggi itu, menurut Laksamana Klunder, dikembangkan sebagai upaya mereka mencari jenis teknologi senjata baru masa depan. Selama uji coba, meriam laser di USS Ponce berhasil menghancurkan seluruh sasaran selama 12 kali uji coba. “Masa depan itu ada di sini,” kata Peter Morrison, peneliti di Kantor Riset Angkatan Laut Amerika.

Tak seperti cahaya yang dihasilkan lampu yang menyebar ke pelbagai arah dengan banyak panjang gelombang, laser hanya terdiri atas satu panjang gelombang dan bergerak satu arah, sehingga energi yang dipancarkan benar-benar terfokus, membuatnya bisa menjadi senjata. Ada pelbagai jenis laser, bergantung pada sumber energi dan proses menghasilkannya. Mid-Infrared Advanced Chemical Laser (MIRACL), yang dikembangkan oleh Angkatan Udara Amerika misalnya, menggunakan sumber energi dari reaksi deuterium florida.

Keunggulan dari senjata laser ini adalah kecepatan tembakan, sangat jauhnya jangkauan, keleluasaan mengatur kekuatan, dan tidak adanya jejak. Ketika meriam sudah menembakkan laser, hampir tak mungkin targetnya berkelit karena laser melesat secepat kecepatan cahaya. Jika sumber energinya mencukupi, meriam laser bisa menembakkan “amunisi” nyaris tak terbatas. “Harga satu kali tembakan bisa kurang dari US$ 1,” kata Laksamana Klunder. Bandingkan dengan harga satu misil, yang bisa mencapai ratusan ribu dolar AS.

Namun laser bukan tanpa nilai minus. Untuk menghasilkan laser dengan kekuatan weapon-grade, perlu sumber energi sangat besar. Karena laser ini panas, perlu pendingin untuk mesinnya. Yang pasti, meriam laser tak bisa menembak target tersembunyi atau sasaran yang terhalang bukit. Memasang senjata laser di kendaraan tempur di darat atau kapal barangkali tak kelewat sulit. Lantaran butuh sumber energi sangat besar, yang paling pelik adalah memasang senjata laser pada pesawat jet tempur. Masalah lain, turbulensi dan atmosfer di atas sana membuat energi laser tersebar, sehingga kekuatan tembakan tak optimal.

Tapi Laboratorium Riset Angkatan Udara America Serikat (AFRL) yakin mereka bisa mengatasi masalah itu dalam lima tahun. Pada 2020, peneliti di AFRL yakin mereka bisa memasang senjata laser pada jet tempur, seperti F-16 atau F-22 Raptor. “Kami lihat teknologinya terus berubah dan makin matang. Ini titik balik bagi pertahanan nasional,” kata Kelly Hammett, Kepala Insinyur AFRL, kepada CNN, beberapa hari lalu. Menurut Jenderal Herbert “Hawk” Carlisle, Komandan Komando Tempur Angkatan Udara Amerika, senjata laser akan mengubah konsep perang dalam 20 atau 25 tahun mendatang.

Iklan

Tantangan Dalam Mengembangkan Energi Surya Di Indonesia


Kedatangan Luhut disambut Direktur Utama PT Len Industri, Abraham Mose. Sebelum meninjau ke sejumlah fasilitas produksi, Luhut mendapat pemaparan terkait transformasi bisnis dan sasaran strategis PT Len dari 2015-2019, yakni di bidang energi terbarukan (renewable energy), sistem transportasi kereta api (railway transportation system), sistem informasi dan komunikasi (information and communication system), sistem kontrol dan elektronik pertahanan (defence electronic and control system), serta sistem navigasi (navigation system).

PT Len memiliki proyek-proyek investasi dari 2015-2019 senilai Rp 5,5 triliun, yakni di bidang transportasi kota berbasis rel (4 proyek investasi light rail transit/LRT), proyek Independent Power Producer (IPP) non renewable energy 100 megawatt (MW), proyek IPP Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) 100 megawatt peak (MWp), serta proyek IPP Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro (PLTM) 50 MW.

PT Len yang kini memiliki total aset sekitar Rp 2,5 triliun itu juga merencanakan berinvestasi untuk mengembangkan bisnisnya dengan nilai investasi selama 5 tahun Rp 1,7 triliun, yaitu berupa pembangunan Len Technopark, semacam fasilitas produksi utama PT Len, fasilitas inovasi produk dan pengembangan, serta fasilitas manajemen. Pembangunannya dimulai tahun ini di Kabupaten Subang, Jabar. Len Technopark juga diproyeksikan menjadi semacam Silicon Valley, pusat teknologi di Amerika Serikat.

“Pembebasan lahan untuk Len Technopark sudah dilakukan seluas 10 hektar. Pembangunan tahap pertama juga sudah dilaksanakan, di antaranya untuk proyek rudal Startreak di bidang elektronik pertahanan. Bahkan untuk lahan, kini diupayakan pula diperluas lagi menjadi sekitar 26 hektar,” kata Abraham Mose.

Direncanakan yang akan dibangun dalam Len Tenchnopark meliputi fasilitas pertahanan (rudal startreak) dan industri radar pertahanan (kapasitas produksi 15 unit per tahun), pabrik sel surya (kapasitas 100 MWp per tahun), dan pabrik modul/panel surya (kapasitas 60 MWp per tahun) guna menghasilkan energi dengan mengubah sinar matahari menjadi listrik. Pembiayaan Len Technopark mengandalkan dari dana Penyertaan Modal Negara (PMN) Tahun 2016 Tahap I sekitar Rp 1,25 triliun, di antaranya untuk pembangunan pabrik sel surya dan pabrik panel surya, serta proyek IPP PLTS kapasitas 20 MWp.

Abraham menjelaskan, pembangunan pabrik sel surya dan panel surya sangat penting untuk mendukung pemenuhan 100 persen rasio elektrifikasi tahun 2019, juga menunjang ketahanan energi. Terkait internal rate of return (IRR) atau kelayakan investasi relatif bagus, yakni sebesar 14 persen untuk pabrik sel surya dan pabrik panel surya dengan pendapatan berkisar 80 juta dolar AS per tahun.

Diproyeksikan, akumulasi dalam 5 tahun laba bersih PT Len dengan adanya PNM tahun 2016 itu mampu mencapai Rp 996 miliar. Peningkatan pendapatan tahun 2017 sebesar Rp 600 miliar hingga Rp 2 triliun (tahun 2019), juga peningkatan laba bersih tahun 2017 sebesar Rp 50 – Rp 200 miliar (tahun 2019). Akumulasi laba bersih PT Len dalam 5 tahun terakhir (2010-2014) mencapai Rp 252,74 miliar.

Namun yang patut dicermati terkait pembangunan pabrik sel surya dan pabrik panel surya di Subang itu masih terfokus pada industri di kawasan hilir dalam urusan fotovoltaik. Yakni sektor yang berhubungan dengan aplikasi panel surya untuk menghasilkan energi dari sinar matahari menjadi listrik. Indonesia memiliki potensi yang besar untuk menguasai dari hulu.

Komisaris Utama PT Len Industri Arifien Habibie mengungkapkan, amat disayangkan Indonesia yang banyak memiliki gunung berapi yang kaya dengan unsur mineral Silika (Silikon dioksida/ SiO2) sebagai bahan baku atau komponen sel surya, tapi sampai saat ini Indonesia baru mampu membuat modul/panel surya.

“Pemerintah perlu segera mengambil peluang yang lebih besar lagi di hulu dengan menguasai industri pengolahan pasir silika hingga pembuatan wafer, yang selanjutnya dibuat menjadi sel surya. Sampai saat ini, komponen sel surya masih diimpor dari Tiongkok, sehingga produksi masih berbiaya tinggi. Padahal Tiongkok juga memperoleh silika dari Indonesia. Cadangan pasir silika sangat besar, yakni 17 miliar meter kubik ton,” kata Arifien Habibie.

Menurut Abraham, apabila pengolahan pasir silika hingga wafer dapat dibuat di dalam negeri, maka Indonesia mampu menguasai proses dari hulu hingga hilir, yakni sampai pada pembuatan sel surya dan panel surya. Dampaknya lebih kurang 50 persen dapat menurunkan harga produksi, biaya tenaga kerja relatif lebih murah, devisa negara yang diperoleh pun akan makin besar.

Vice President Divisi Pengembangan Bisnis dan Investasi PT Len Industri, Bambang Iswanto, mengemukakan, penguasaan proses di hulu sangat memungkinkan bekerja sama dengan PT Antam (Persero) Tbk atau PT Timah (Persero) Tbk. Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan mengemukakan, produk PT Len berupa panel surya sangat berpeluang untuk digunakan di wilayah Jabar, karena adanya program listrik desa yang rata-rata 70.000 rumah setiap tahun harus dipasok listrik.

Proyek Len Technopark hingga pengolahan pasir silika di hulu merupakan investasi masa depan yang bersifat jangka panjang. Pemerintah perlu cepat menangkap peluang besar ini. Di sisi lain, proyek ini pun harus dikaji secara komprehensif, sehingga dapat bersaing di tingkat global.

Matahari Kini Jadi Sumber Energi Yang Di Agungkan


Pesawat terbang yang diberi nama Solar Impulse, pada 9 Maret 2015 tinggal landas dari Abu Dhabi untuk melakukan penerbangan bersejarah keliling dunia dengan jarak tempuh 35.000 kilometer. Pesawat hanya menggunakan energi matahari, kembali ke Abu Dhabi Juli 2015.

Setelah tim Solar Impulse bekerja selama 12 tahun, dengan 80 insinyur dan teknisi dari berbagai bidang ilmu, pesawat yang berawak satu orang tersebut telah menempuh perjalanan dari Abu Dhabi (UEA) ke Muscat (Oman), Ahmedabad dan Varanasi (India), Mandalay (Myanmar), Chongqing dan Nanjing (Tiongkok). Pesawat tersebut beristirahat di Nanjing sebelum melintasi Lautan Pasifik menuju ke Hawaii, Phoenix, dan New York (AS), lalu melintasi Lautan Atlantik menuju Afrika Utara dan kembali ke Abu Dhabi.

Pesawat dikendalikan pilot Bertrand Piccard dan Andre Borschberg secara bergantian. Rute terberat dan terpanjang yang akan dilewati adalah melintasi Lautan Pasifik dengan waktu tempuh selama lima hari dan lima malam tanpa berhenti, dikemudikan pilot Andre Borschberg yang berusia 62 tahun.

Pada sayap pesawat yang rentangnya 72 meter, melebihi sayap Boeing 747, terpasang 17.248 solar cell atau sel surya, sebagai alat penangkap energi matahari dan mengubahnya menjadi energi listrik, yang menjadi sumber energi selama penerbangan. Uji coba ini adalah pembuktian kemampuan teknologi energi surya yang akan menjadi sumber energi utama dunia ke depan, yang sumber energi mataharinya tersedia secara gratis dengan jumlah yang tidak terbatas.

Dari hulu ke hilir, ada lima rantai pasokan material dalam industri sel surya untuk membangkitkan energi matahari yang disebut industri photovoltaic (PV) ini, Pertama (di hulu) adalah industri polisilikon sebagai bahan dasar untuk membuat silikon ingot. Kemudian industri ingot sebagai bahan untuk membuat silikon wafer. Selanjutnya silikon wafer menjadi bahan untuk membuat sel surya. Setelah itu sel surya dirakit menjadi Solar Modul (PV Modul) pada industri hilirnya. Karena setiap industri mempunyai permasalahan, karakter, dan nilai investasi yang berbeda jauh, terbatas sekali jumlah perusahaan yang mampu menguasai industri PV dari industri hulu (polisilikon) hingga hilir (modul PV).

Kebutuhan sel surya dunia terus meningkat, terutama setelah permasalahan lingkungan menjadi semakin parah akibat penggunaan energi fosil dan bencana nuklir.

Total produksi sel surya dunia saat ini sekitar 60 GW, sekitar 65 persen diproduksi di Tiongkok. Efisiensi sel surya tertinggi di dunia saat ini 19,6 persen, artinya dari setiap satu meter persegi sel surya dapat menghasilkan 196 watt (peak) daya listrik. Saat ini Jepang dan Australia sudah mengumumkan bahwa mereka akan memproduksi sel surya dengan efisiensi 40 persen.

Pemanfaatan sel surya dunia saat ini untuk membangkitkan listrik dengan skala besar, yang membutuhkan lahan terbuka luas. Untuk membangkitkan listrik dari sel surya 1 MW membutuhkan lahan sekitar 2 hektar.

Di samping pada lahan terbuka, peluang pemanfaatan sel surya lain adalah atap rumah (rooftop) yang potensinya cukup besar. Apabila di atap rumah dipasang sel surya dengan luas atap 20 meter persegi, dengan efisien 40 persen, dapat menghasilkan daya listrik sekitar 8000 watt (peak). Daya listrik tersebut sudah mencukupi kebutuhan sebuah rumah mewah. Permasalahannya sekarang adalah harga listrik dari panel surya masih lebih mahal daripada harga listrik yang berasal dari energi fosil.

Saat ini investasi untuk membangkitkan daya listrik sebesar 1 (satu) watt dari sel surya sekitar 2 dollar AS. Harga energi listrik yang dihasilkan kurang dari 20 sen dollar AS per kWh. Dunia memprediksi bahwa pada 2030 harga listrik dari sel surya akan lebih murah dari harga listrik dari energi fosil. Pada saat itulah masyarakat dengan sendirinya akan memasang sel surya di atap rumah masing-masing untuk memenuhi kebutuhan listriknya. Saat itulah semua teknologi kebutuhan hidup manusia akan menggunakan energi listrik termasuk mobil.

Untuk pemakaian khusus, saat ini listrik dari sel surya sudah bisa lebih ekonomis, misalnya untuk penggunaan di daerah terpencil, sebagai pengganti pembangkit listrik tenaga diesel (PLTD). Juga ada beberapa negara, yang tujuan menggunakan sel surya adalah untuk mengurangi permasalahan lingkungan dan promosi. Di antaranya di Taiwan ada stadion olahraga yang listriknya dari sel surya. Di Jepang, ada perkantoran pemerintah, yang atap dan dindingnya menggunakan sel surya tembus cahaya (seperti kaca). Masih banyak penggunaan lain yang bertujuan memberikan pembelajaran kepada masyarakat dan untuk menciptakan kebutuhan (pasar) domestik agar industri sel surya dapat berkembang di negaranya.

Penggunaan sel surya di Indonesia sudah dimulai lebih dari 20 tahun lalu, dikenal dengan Program Solar Home System (SHS) yang dilakukan oleh BPPT dan beberapa kementerian. SHS dipasang di puluhan ribu rumah di pedesaan sebesar 50 Wp (watt peak), dengan gratis. Juga, Program Desa Mandiri Energi dan program PLN 1.000 pulau, telah dibangun beberapa pembangkit listrik tenaga solar cell (PLTS), terutama di daerah atau di pulau terpencil.

Di samping itu, sudah ada beberapa daerah yang menggunakan panel surya untuk penerangan jalan. Jadi, kebutuhan (pasar) domestik panel surya sudah cukup besar untuk dapat berkembangnya industri PV di Indonesia. Tetapi, saat ini sebagian besar kebutuhan domestik tersebut masih dipasok dari impor.

Industri PV di Indonesia saat ini sudah ada, yaitu industri modul dengan kapasitas kecil, walaupun dengan keterbatasan teknologi dan tidak tersedianya pasokan bahan mentah, seperti solar cell dan balance of material (BOM) di Tanah Air. Dengan begitu, industri modul tersebut belum sepenuhnya mempunyai kemampuan memenuhi standar internasional untuk menciptakan daya saing secara global.

Untuk membangun kemampuan dalam negeri, sebaiknya Indonesia memperkuat industri hilir terlebih dahulu (sel surya dan modul) karena dari mata rantai industri PV, keuntungan terbesar ada pada kedua industri tersebut dan produksi langsung diserap pasar. Setelah itu baru dilihat peluang industri lainnya sesuai potensi dan sumber daya alam yang ada. Juga diperlukan kerja sama dengan industri PV (terutama sel surya) dari negara lain yang sudah memenuhi standar internasional. Yang tidak kalah penting adalah dalam kontrak kerja sama tersebut ada perjanjian untuk alih teknologi.

Dalam Kebijakan Energi Nasional yang baru (KEN-2050) dinyatakan bahwa pembangunan dan pemanfaatan energi terbarukan (termasuk energi surya) menjadi prioritas. Pada 2025, target bauran energi nasional minimal 23 persen berasal dari energi terbarukan dan pada 2050 minimal 31 persen.

Jika dilihat dari potensi dan besarnya kebutuhan nasional, besaran target tersebut bukanlah angka yang sulit dicapai, asal saja perencanaan dan penggunaan dana pemerintah dapat dimanfaatkan dengan efektif dan efisien, tidak lagi terjadi kebocoran dana dan inkonsistensi dalam kebijakan.

Sebenarnya sudah banyak yang dilakukan pemerintah untuk pemanfaatan sel surya, yang sudah menghabiskan banyak dana dan upaya selama ini, tetapi belum berhasil seperti yang direncanakan. Ke depan diperlukan komitmen yang lebih kuat dan fokus dari semua pemangku kepentingan.

Komitmen pemerintah terhadap pembangunan dan pemanfaatan energi terbarukan, khususnya panel surya sudah dimulai kembali. Ini terlihat pada Sidang Paripurna Dewan Energi Nasional (DEN) yang dipimpin langsung oleh Presiden Joko Widodo sebagai Ketua DEN pada 25 Februari 2015,

Presiden menginstruksikan untuk memasang panel surya pada rooftop istana, yang akan diikuti pemasangan pada semua kantor pemerintahan, rumah dinas, dan seluruh penerangan jalan. Tujuannya tentu saja adalah untuk sosialisasi dan sekaligus menimbulkan kebutuhan (pasar) domestik sehingga industri PV bisa berkembang lebih cepat di Indonesia.

PT Tesaputra Adiguna Gunakan Listrik Tenaga Surya


Sebuah rumah yang dijadikan kantor oleh PT Tesaputra Adiguna di Jalan Citamiang, Kota Bandung, mempelopori penggunaan panel surya sebagai sumber kebutuhan listrik mereka. Meski pemasangan panel surya ini terbilang mahal di awal, namun menurut perhitungan akan menghemat biaya listrik.

Penanggung Jawab pemasangan panel surya di perusahaan tersebut, Amirah Kaca menuturkan, pemasangan panel surya baru saja dilakukan sebulan terakhir. Meski belum ada angka pasti perbandingan sebelum dan sesudah penggunaan panel surya ini, namun ia menyatakan, biaya listrik bisa ditekan. Di rumah yang berkapasitas daya listrik 5.500 watt terpasang 33 panel surya dengan daya 5,7 kilowatt peak (KwP). Panel surya dipasang di atap di lantai 3 rumah tersebut.

“Dalam sehari dengan perhitungan waktu efektif panel ini 4 jam, bisa menghasilkan rata-rata 20-25 kwh. Dengan pemasangan panel surya ini sudah bisa mencukupi kebutuhan listrik di siang hari,” ujar Kaca. Untuk malam hari, masih dibutuhkan listrik suplai dari PLN karena panel surya tak akan berjalan saat malam. Meski begitu, biaya yang akan dikeluarkan tak akan semahal biasanya.

Apalagi, listrik yang dihasilkan panel surya saat siang hari bisa dikirim ke PLN. Sehingga biaya penggunaan listrik di malam hari selama sebulan akan dikurangi dengan jumlah akumulasi listrik yang dikirim ke PLN saat siang hari. “Jadi kita tukeran dengan PLN. Saat siang hari, PLN kan membutuhkan listrik, kita bisa kasih ke mereka. Sementara malam, kami yang disuplai PLN. Nantinya biaya penggunaan listrik kita di malam hari akan dikurangi listrik yang kita kirim,” tuturnya.

Untuk pemasangan teknologi panel surya skala menengah seperti ini, dibutuhkan biaya sekitar Rp 80-90 juta. Itu meliputi panel surya, inverter (alat pengubah daya DC dari panel surya menjadi AC) dan meter ekspor impor, alat untuk menghitung penggunaan listrik dan pengiriman listrik. Biaya investasi awal tersebut akan tertutupi dalam 7 tahun. Sementara usia teknologi panel surya ini bisa mencapai 20 tahun. “Setelah balik modal dalam 7 tahun untuk investasi, kita nantinya hanya tinggal membayar biaya listrik saat malam atau biaya minimum saja pada PLN,” jelasnya.

Ia mencontohkan, untuk membayar listrik setiap bulannya dikeluarkan biaya Rp 2,5 juta. Namun dengan panel surya ini, mereka hanya membayar biaya minimun listrik sebesar 40 kwh. Ia menjelaskan, pemasangan panel surya ini merupakan wujud kepedulian lingkungan untuk menggunakan energi yang terbarukan yang lebih ramah lingkungan.

“Banyak yang menganggap ini proyek impossible diterapkan di rumah seperti ini. Kami ingin memulai supaya makin banyak yang menggunakan supaya nantinya panel surya ini jadi teknologi yang terjangkau karena banyak yang terjun ke pasar ini,” tuturnya. Petugas dari Bagian Distribusi PLN Kantor Distribusi Jabar Banten Babam menyebutkan, di Jabar, ini merupakan bangunan ke-3 yang telah menggunakan panel surya dan bekerjasama dengan PLN dalam sistem penggunaan dan pengirimannya. Sebelumnya, sudah ada perusahaan skala menengah lainnya di Depok dan Majalaya yang juga sudah menerapkan teknologi serupa.

Penelitian Baru Ungkapkan Sebab Asal Bencana Lumpur Lapindo


Makalah yang ditulis oleh tim ilmuwan Australia dan Amerika Serikat di jurnal Nature Geosciences pada 29 Juni 2015 kembali membuka perdebatan tentang sebab bencana lumpur Lapindo. Makalah berjudul “Initiation of the Lusi Mudflow Disaster” itu mengungkap bahwa luapan lumpur yang membuat 40.000 orang harus mengungsi tersebut tidak dipicu oleh gempa Yogyakarta, tetapi oleh aktivitas pengeboran.

Kesimpulan dari hasil studi MRP Tingay dari Australian School of Petroleum, University of Adelaide, dan rekannya itu bertentangan dengan studi Stephen Miller dari University of Bonn di Jerman yang juga dimuat di Nature Geoscience tahun 2013 lalu. Tingay dan tim menganalisis data konsentrasi gas dan komposisinya sejak Maret 2006 hingga 29 Mei 2006, dua hari setelah gempa Yogyakarta. Pengukuran ini memungkinkan analisis pelepasan gas sebelum gempa dan erupsi lumpur serta sesudahnya.

Pandangan bahwa bencana Lapindo disebabkan gempa menyatakan, gelombang seismik menjalar hingga lokasi pengeboran di Sidoarjo, menyebabkan pencairan formasi clay di bawah wilayah Kalibeng, memicu luapan. Tekanan yang menyebabkan luapan lumpur memicu pelepasan gas. Pelepasan gas sendiri memang terjadi saat lumpur meluap. Namun, bila memang gempa memicu pencairan formasi clay, seharusnya pelepasan gas juga terjadi saat gempa.

Hasil pengukuran menunjukkan bahwa dari 48 jam sebelum gempa Yogyakarta bermagnitudo 6,3 pada 27 Mei 2006 hingga 24 jam sesudahnya, tidak ada peningkatan pelepasan gas di sekitar lokasi pengeboran Lapindo. Analisis data setelah gempa menunjukkan bahwa gas yang lepas di wilayah Banjar Panji, sumur gas terdekat dari tempat luapan lumpur, lebih rendah dari biasanya. Padahal, jika memang gempa memicu luapan lumpur, pelepasan gas seharusnya meningkat.

Tingay juga membandingkan gas hidrogen sulfida (H2S) sebelum dan sesudah erupsi. Sebelum erupsi lumpur, konsentrasi gas H2S selalu rendah. Namun, gas itu lalu terobservasi begitu erupsi lumpur terjadi. Satu-satunya sumber H2S di cekungan Jawa Timur adalah di batuan karbonat tersier. Tak jelas apakah pengeboran sampai pada lapisan batuan karbonat, tetapi di bawah lokasi pengeboran Banjar Panji dipercaya memang terdapat formasi karbonat Tuban dari masa Miocene.

Bencana lumpur Lapindo sebelumnya juga sempat dikaitkan dengan faktor hidrotermal. Fluida hidrotermal bersama gempa Yogyakarta memicu pencairan formasi clay dan memobilisasinya ke permukaan. Hasil pengukuran H2S membantah skenario adanya hubungan antara hidrotermal dengan formasi tanah liat sebelum erupsi. Hidrotermal bisa saja berpengaruh, tetapi sistemnya tetap ada pada kedalaman, “terkunci” hingga saat erupsi.

“Jika dianalisis bersama, pengukuran tingkat emisi gas dan komposisi yang kami lakukan memberi petunjuk tentang sistem pemicu luapan lumpur dan menunjukkan bahwa pencairan formasi tanah liat Kalibeng tidak terjadi,” ungkap Tingay dalam makalahnya. “Kami menyimpulkan bahwa erupsi lumpur tidak dipicu oleh alam, tetapi merupakan konsekuensi dari pengeboran,” kata Tingay dalam makalah yang diterbitkan 29 Juni 2015 lalu.

Studi Mendetail Penyebab Lumpur Lapindo :
Initiation of the Lusi Lapindo Mudflow Disaster

Mahasiswa Universitas Brawijaya Ciptakan Lampu Hemat Energi Yang Tahan Seumur Hidup


Mahasiswa Fakultas Perikananan dan Ilmu Kelautan Universitas Brawijaya mengubah bakteri menjadi lampu hemat energi.
Di tangan Elok Fitriani Tauziat, Nurhasna Fauziyyah, dan M. Alfian Arifin, bakteri Bioluminescene diolah menjadi lampu biolie yang menghasilkan cahaya 10,68 watt. Lampu ini mampu menerangi ruangan dalam radius 68 meter.

“Lampu hemat energi ini bisa mengatasi persoalan krisis energi,” kata Elok, Minggu 17 Mei 2015. Seiring dengan pertumbuhan penduduk, katanya, maka kebutuhan energi semakin bertambah. Sedangkan pasokan energi berbasis energi fosil semakin menipis.

Bakteri Bioluminescence merupakan bakteri yang menempel di dalam tubuh cumi-cumi. Bakteri tersebut mampu mengeluarkan cahaya berwarna biru. Lampu semakin terang jika jumlah kandungan bakteri ditambah. “Cahaya yang dihasilkan tak menimbulkan panas,” katanya.

Lampu tersebut memiliki berbagai keuntungan, yakni ramah lingkungan dan ekonomis karena dapat dipakai seumur hidup. Musababnya, bakteri yang mati akan menghasilkan indukan baru. Lampu mudah disandarkan di dinding atau diletakkan di atas meja.

Cara membuatnya, bakteri dari tubuh cumi-cumi diisolasi dalam sebuah biolie dengan konsentrasi 4,6×109 CFU per mililiter. Biolie merupakan alat yang terdiri dari lensa mika, serbuk kayu yang dipadatkan, dan aerator.

“Agar lampu ini bisa terus bercahaya, bakteri diberi nutrisi,” katanya. Nutrisi berupa bahan organik dari sayuran yang difermentasi. Caranya, Sayuran dicacah halus dituang kecap, gula, dan EM4 lantas dikeringkan.

Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir Diproyeksikan di Kalimantan


Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral menargetkan pembangunan pembangkit listrik tenaga nuklir bakal beroperasi di Indonesia pada tahun 2025. Lokasi pembangunan mengerucut pada dua tempat, yakni di Kalimantan dan Bangka Belitung. “Saat ini kami sedang studi. Berbarengan dengan itu, kami mengedukasi masyarakat soal nuklir,” ujar Direktur Jenderal Ketenagalistrikan Jarman, di Jakarta, Ahad, 10 Mei 2015.

Kalimantan dan Bangka Belitung dipilih karena dua daerah ini tidak rawan gempa bumi ataupun tsunami. Studi kelayakan terhadap Bangka sudah dilakukan, sementara Kalimantan masih menunggu koordinasi instansi terkait. “Kalau studi kelayakan Kalimantan selesai, kami tinggal menentukan mekanisme pembangunan oleh PT PLN (Persero) atau swasta,” kata Jarman.

Menurut Jarman, pembangunan PLTN itu perlu karena sulit membangun pembangkit listrik 7.000 megawatt per tahun jika hanya mengandalkan energi fosil. Bahan bakar seperti gas, batu bara, ataupun diesel itu sudah mulai dibatasi oleh Kementerian ESDM.

Saat ini saja, kata Jarman, sumber listrik batu bara hanya dibatasi 60 persen dari total proyek 35 ribu MW. Adapun energi nuklir bakal menyumbang 5.000 MW dalam megaproyek ini bakal ini.

Ketua Komisi Energi DPR RI Kardaya Watnika justru mendukung pembangunan PLTN di Bangka Belitung. Sebab, studi kelayakan sudah dilakukan dan pemerintah daerah setempat sudah siap. Distribusi dari Bangka juga lebih jelas sebab listrik dapat dialirkan ke Sumatera dan Jawa melalui Kota Palembang, Sumatera Selatan. “Dibanding Kalimantan yang kebutuhan listriknya masih sedikit,” ujar dia secara terpisah.