Category Archives: Spesies Yang Punah

Fosil Dinosaurus T-Rex Pertama Ditemukan Di Arab Saudi


Sebuah fosil Titanosaurus pemakan tumbuhan dan Tyranosaurus bergigi tajam ditemukan di Arab Saudi. Temuan yang dipublikasikan dalam jurnal PloS ONE, 26 Desember 2014, ini merupakan penemuan fosil dinosaurus yang pertama di jazirah Arab.

Penemuan fosil dinosaurus jarang terjadi di jazirah Arab. Penemuan sebelumnya, yang meliputi gigi dan fragmen tulang spesies yang sama, pernah terjadi di Yordania, Oman, dan Libanon. “Penemuan ini penting bukan hanya karena lokasi penemuannya, melainkan juga karena kita berhasil mengidentifikasikannya,” ujar Benjamin Kear, penulis utama studi, seperti dikutip dari LiveScience. Kear adalah seorang ahli biologi sejarah dari Uppsala Universitet di Swedia.

Fosil-fosil berusia 72 juta tahun ini ditemukan saat Kear dan rekan-rekannya tengah menggali sebuah singkapan batu pasir formasi Adaffa sekitar sebelas kilometer timur laut Al-Khuraybah, Arab Saudi. Di sana, mereka menemukan dua gigi Theropoda dan beberapa gigi vertebra.

Pola khas pada gigi membuat tim berkesimpulan bahwa fosil ini milik Abelisaurus Bipedal (seperti T-Rex) yang memiliki panjang sekitar enam meter dan Titanosaurus yang bisa tumbuh hingga 20 meter.

Ikan Hiu Gergaji Di Danau Sentani Sebagai Satu Satunya Ikan Hiu Air Tawar Didunia Kini Telah Punah Karena Banyak Ditangkap Nelayan


Danau Sentani merupakan salah satu danau di Indonesia yang mempunyai banyak jenis ikan asli yang sebagian besar ikan itu merupakan ikan endemik, salah satu jenis ikan yang kini tidak pernah dijumpai lagi adalah ikan hiu gergaji (Pritis microdon).

Hiu gergaji Sentani merupakan salah satu ikan predator dan ikan laut yang telah beradaptasi dengan perairan air tawar. Hasil penelitian Balitbang Kelautan dan Perikanan tahun 2005 menunjukkan bahwa jenis ikan yang banyak terdapat di Danau Sentani merupakan ikan karnivora yang berdasarkan pengamatan kebiasaan mencari makannya menunjukkan sebagai pemakan udang kecil dan ikan-ikan kecil.

Ikan hiu gergaji Sentani merupakan satu-satunya jenis hiu air tawar di dunia yang keberadaannya hampir punah. Ikan hiu ini termasuk jenis ikan yang dilindungi oleh peraturan perundang-undangan melalui SK Mentan No.716/Kpts/Um/10/80 tahun 1999 tentang pengawetan jenis tumbuhan dan satwa.

Penyebab punahnya ikan hiu ini antara lain penangkapan yang berlebihan, pencemaran perairan, penggunaan jaring insang (gill net) yang diintrodusir di Danau Sentani pada tahun 1969 yang kurang memperhatikan kelestarian alam.

Pada medio tahun 1969-1971 penggunaan jaring insang mampu menangkap 151 ekor hiu Sentani. Tetapi tahun 1974 hiu Sentani hanya tertangkap 1 ekor dan bertahun-tahun berikutnya tidak pernah ada lagi.

Penggunaan jaring insang (gill net) berarti merupakan penyebab kepunahan ikan hiu gergaji Sentani disamping ada faktor-faktor yang lainnya seperti perubahan iklim global, degradasi habitat akibat pembangunan bendungan, pencemaran limbah, introduksi ikan asing, eksploitasi komersial, dan persaingan penggunaan air.

Masyarakat sekitar Danau Sentani bertempat tinggal di bagian pesisir maupun pulau-pulau kecil di tengah danau memiliki kearifan dalam pengelolaan sumber daya perikanan. Aturan tidak boleh menangkap ikan pada wilayah tertentu pada waktu tertentu dengan pembentukan tanda larangan serta adanya batas-batas penangkapan menurut adat dengan luas bervariasi dan penangkapan tersebut tidak boleh melanggar batas wilayah lain.

Harimau Tasmania Kini Punah Sudah Menyusul Sepupunya Tasmanian Devil


arimau Tasmania dinyatakan punah mendahului sepupunya, iblis Tasmania (Tasmanian devil). Para ilmuwan menyebut punahnya hewan berkantong asli Pulau Tasmania dan Australia itu bukan akibat aktivitas perburuan oleh manusia.

“Kami menemukan keragaman genetik thylacine jauh lebih rendah dibanding iblis Tasmania,” kata peneliti Andrew Pask dari University of Connecticut, Amerika Serikat.

Harimau Tasmania (Thylacinus cynocephalus), atau thylacine, diburu sampai nyaris punah pada awal 1900-an. Individu terakhir mati di kebun binatang Tasmania pada 1936. Selama ini perburuan oleh manusia dituding sebagai penyebab utama kepunahan harimau Tasmania.

Bertubuh garis-garis seperti harimau, hewan ini memiliki tubuh seperti anjing berukuran sedang serta berkeliaran di daratan Australia dan pulau kecil di sebelah selatannya, Tasmania.

Penelitian terbaru merekam beberapa fragmen genetik harimau Tasmania dari 14 sampel, termasuk bulu, tulang, dan spesimen, yang diawetkan selama lebih dari 100 tahun. Para ilmuwan menemukan individu-individu harimau Tasmania memiliki materi genetik sangat mirip, yang mencapai angka 99,5 persen. Padahal dulunya materi genetik ini sangat beragam.

“Jika kita membandingkan bagian yang sama dari DNA, harimau Tasmania rata-rata hanya memiliki satu DNA berbeda antar-individu. Adapun anjing, misalnya, memiliki 5-6 perbedaan antar-individu,” kata Brandon Menzies, rekan peneliti Pask dari University of Connecticut.

Menzies mengatakan variabilitas genetik pada dasarnya adalah perbedaan urutan gen di antara dua individu dalam satu spesies. Analisis genom menunjukkan harimau Tasmania memiliki variabilitas genetik terlalu sedikit untuk bertahan hidup.

Angka keragaman genetik yang makin kecil menjadi semacam mantra kepunahan bagi suatu spesies. Jika tidak memiliki kolam genetik yang lebih besar, spesies tersebut terancam tidak mampu beradaptasi dengan lingkungan.

Rendahnya keragaman genetik suatu spesies dapat disebabkan oleh berbagai faktor. Misalnya, spesies tersebut terdiri atas banyak populasi berukuran kecil yang hidupnya saling terisolasi. Dampaknya, jumlah anggota populasi menurun tajam akibat banyak terjadi kawin silang antar-saudara (inbreeding).

“Dalam kasus iblis Tasmania dan harimau Tasmania, rendahnya keragaman genetik mungkin berasal dari kelompok-kelompok kecil populasi yang tetap terisolasi dari populasi di daratan utama Australia,” ujar Menzies.

Sepupu harimau Tasmania yang saat ini masih hidup, iblis Tasmania, juga nyaris punah karena kanker menular. Para ilmuwan mengatakan rendahnya keragaman genetik “si iblis” mempercepat penyebaran penyakit mematikan tersebut.

“Harimau Tasmania, kalaupun masih hidup sampai hari ini, juga akan sangat rentan terhadap penyakit,” kata para ilmuwan dalam jurnal PLoS ONE.

Pask menyatakan penelitian mendalam tentang harimau Tasmania dapat membantu para ilmuwan menyelamatkan iblis Tasmania yang masih tersisa. “Dari sudut pandang konservasi, kita perlu mengetahui hal-hal tentang genom hewan,” ujarnya. “Ada banyak hewan rapuh di Australia dan Tasmania.”

Uji DNA Berhasil Buktikan Obat Tradisional China Mengandung Bahan Hewan Langka dan Sudah Hampir Punah


Hasil analisis DNA yang dilakukan para peneliti di Australia menunjukkan indikasi adanya jejak zat dari hewan liar dalam obat-obatan tradisional China. Kandungan bahan hewan tersebut termasuk di antaranya beruang hitam dan kijang.

Hasil kajian dari 15 sampel obat tradisional China oleh ilmuwan dari Murdoch University menunjukkan empat di antaranya mengandung beruang hitam Asia atau Saiga Kijang, yang keduanya termasuk hewan dilindungi dan tidak boleh diperdagangkan berdasarkan hukum international.

Hasil analisa juga mengungukapkan bahwa sejumlah sampel mengandung tumbuhan yang berpotensi racun, sedangkan beberapa lainnya mengandung bahan aktif yang tidak dimasukan dalam daftar dalam kemasan, padahal zat tersebut dapat memicu alergi hebat.

Para ahli menyatakan, dari kombinasi risiko tersebut, obat-obatan tradisional China atau TCM, yang kini juga dijual secara luas secara online, memiliki potensi merugikan kesehatan pasien dan sebaiknya dihindari.

Dalam beberapa dekade, penggunaan TCM di negara-negara Barat terus meningkat secara signifikan Akan tetapi, sejauh ini baru sedikit saja obat-obat tradisional ini telah divalidasi melalui studi klinis.

Para peneliti dari Murdoch University di Australia menggunakan teknologi sekuens DNA untuk mengidentifikasi kandungan 15 obat tradisional yang bentuknya terdiri dari powder, tablet, kapsul, serpihan dan teh herbal.

“Secara total, kami menemukan 68 famili tumbuhan berbeda dalam obat-obat ini. Beberapa obat mengandung tumbuhan dari genus Ephedra dan Asarum. Tumbuhan-tumbuhan ini mengandung zat kimia yang bisa beracun jika dikonsumsi dalam dosis yang tidak tepat, tetaptak ada satu pun di antaranya tercantum konsentrasinya dalam kemasan. Kami juga menemukan jejak hewan yang dikategorikan rentan, berbahaya dan kritis, termasuk beruang hitam Asiatik dan kijang Saiga,” kata Dr Michael Bunce, ketua tim peneliti.

Hasil riset yang juga dipublikasi dalam PLoS Genetics journal, juga menemukan beberapa paket yang tidak menyebut beberapa alergen potensial seperti kedelai dan kacang jambu mete atau bahan-bahan dari binatang.

Laba Laba Langka Ladybird Akan Dilepas Ke Alam Setelah Tinggal Hanya 56 Ekor Didunia


Laba-laba langka asal Inggris, yang juga dikenal dengan nama “laba-laba ladybird”, dikembalikan ke alamnya di Dorset, Inggris, pada Kamis (11/8/2011). Sebelumnya, laba-laba ini diperkirakan akan punah, namun penelitian terbaru mengatakan bahwa jumlah dari laba-laba ladybird mulai meningkat.

Sekitar 30 laba-laba telah dilepaskan oleh Royal Society for the Protection of Birds (RSPB) ke daerah yang kaya akan berbagai spesies. Laba-laba diletakkan dalam botol plastik kosong berisi lumut sebagai sarang sementara mereka di alam bebas.

“Mengenalkan spesies langka ke alamnya sangat menyenangkan, kami berharap spesies ini akan berkembang di kemudian hari,” kata Toby Branston dari RSP.

Menurut data RSPB, pada tahun 1994, hanya tersisa satu koloni yang ada di Inggris-jumlahnya 56 laba-laba. Namun, populasi laba-laba dengan ciri warna merah dan hitam yang cerah ini, telah meningkat beberapa tahun setelahnya. Populasinya sekarang mencapai sekitar 1.000.

Walaupun jumlahnya mencapai 1000, di Dorset sendiri hanya sedikit yang tersisa, karena itu pelepasan 30 laba-laba ini diharapkan dapat memperbanyak populasinya

Monyet Jambul Mirip Penyanyi Elvis Presley Ditemukan Di Pedalaman Vietnam


Monyet berjambul mirip penyanyi rock legendaris Elvis Presley ditemukan di sepanjang Sungai Mekong, Vietnam. Monyet berambut hitam dan berbuntut panjang itu tercatat sebagai satu dari 208 spesies baru sepanjang tahun ini, demikian hasil penelitian World Wide Fund (WWF), seperti dilansir CBC News, Selasa, 13 Desember 2011.

“Hewan-hewan tersebut ditemukan di kawasan keanekaragaman hayati yang terancam pembalakan liar, penggundulan hutan, perubahan iklim, dan pembangunan kelewat batas,” kata peneliti WWF dalam laporannya.

Kendati monyet jambul ‘Elvis’ masih tergolong baru di dunia ilmu pengetahuan, warga lokal sudah mengenalnya dengan sangat baik.

Sungai Mekong termasuk sungai terpanjang di Asia. Alirannya melintasi beberapa negara, mulai dari Cina, Myanmar, Laos, Thailand, Kamboja, hingga Vietnam.

WWF menyatakan kawasan sepanjang Sungai Mekong selama ini memang dikenal sebagai ‘rumah’ bagi sejumlah spesies hewan terancam punah. Misalnya, harimau Asia, gajah Asia, lumba-lumba Mekong, dan lele jumbo Mekong.

“Kawasan ini memiliki keanekaragaman hayati yang luar biasa sekaligus paling rapuh,” kata Direktur Komunikasi WWF Greater Mekong, Sarah Bladen. “Tingkat kemerosotannya mengenaskan.”

Terbukti, pada bulan Oktober, WWF mengumumkan bahwa Vietnam telah kehilangan spesies badak Jawa dan menyebabkan badak Jawa yang tersisa di dunia hanya ada di Indonesia. Itu pun jumlahnya diperkirakan hanya tinggal 40 sampai 60 ekor.

Anoa dan Babi Rusa telah Punah Dari Cagar Alam Tangkoko dan Suaka Margasatwa Manembo-nembo


Anoa dan babirusa diduga telah punah di sebagian cagar alam Sulawesi Utara. Satwa yang diperkirakan sudah tidak ada lagi itu meliputi Anoa pegunungan (bubollus quarlesi) dan babirusa (babyrousa babyrussa).

“Kedua satwa ini tidak lagi ditemukan di Cagar Alam Tangkoko dan Suaka Margasatwa Manembo-nembo. Di cagar Alam Gunung Ambang, hanya ditemukan jejaknya dan belum pernah dijumpai lagi,”. ,” kata Fungsional pengendali ekosistem hutan Balai Konservasi Sumberdaya Alam Provinsi Sulawesi Utara Willy Noor Effendi di Manado, akhir pekan ini.

Anoa dan babirusa terakhir ditemukan akhir tahun 1990-an. Habitat utamanya tinggal berada di Cagar Alam Nantu, Provinsi Gorontalo.

“Jadi selain di cagar Alam Gunung Ambang, kami bisa simpulkan kedua satwa endemik Sulawesi di Sulawesi Utara punah. Di Gunung Ambang pun yang tersisa hanya Anoa pegunungan.Anoa dataran rendah (bubollus depresiocornis) sudah tidak terlihat lagi,” katanya.

Willy mengatakan, salah satu ciri khas dari kedua satwa ini adalah mengisolasikan diri. Bila habitatnya diganggu mereka akan berlari menjauh.

“Memang ada kerusakan hutan di habitat kedua satwa ini. Dari citra satelit kelihatannya tertutup rapat tegakan pohon. Tapi setelah ditelusuri, kondisi dalam kawasan dipenuhi jejak-jejak kerusakan,” jelasnya.

Selain kerusakan karena eksploitasi hutan, punahnya satwa tersebut karena mereka sering diburu manusia untuk dijadikan makanan.

Kodok Kecil Tanzania Yang Sudah Punah Berhasil Dihidupkan Para Ahli Di Laboratorium


Di alam, kodok liar asal Tanzania ini tak ditemukan lagi. Kerusakan habitat membuat kodok kecil ini sudah punah di alam. Namun campur tangan peneliti biologi konservasi berhasil mengembangbiakkan binatang amfibi itu di laboratorium.

Kisah kodok spray kihansi ini berawal dari proyek konstruksi bendungan hidroelektrik di Sungai Kihansi, yang membelah Tanzania pada 1996. Ketika itu peneliti menemukan kodok kecil yang hidup di batuan tebing yang menciptakan air terjun setinggi 900 meter. Belakangan diketahui bahwa kodok ini hidup di daerah vertikal basah yang dihasilkan oleh cipratan air terjun.

Warna kulit kodok kihansi merupakan perpaduan antara kuning dan putih pucat. Isi perut kodok bisa terlihat jelas lantaran kulit perut binatang ini sedikit transparan.

Ukuran yang kecil membuat binatang ini hanya berbobot beberapa gram. Reproduksi kodok tersebut dilakukan melalui proses melahirkan, bukan bertelur. Induk kodok selalu membawa bayinya di belakang punggungnya.

“Spesies ini sangat unik dan endemik,” ujar James Gibbs, ahli biologi konservasi dari SUNY College of Environmental Science and Forestry (ESF), Syracuse, New York, Amerika Serikat. “Kodok ini adalah binatang vertebrata berkaki empat dengan luas hunian terkecil di dunia.”

Pembangunan bendungan menyebabkan berkurangnya debit air yang mengaliri sungai. Akibatnya, air terjun nyaris berkurang drastis, sehingga menyebabkan penurunan populasi kodok.

Upaya menyelamatkan populasi kodok dilakukan dengan memindahkan 500 ekor hewan tersebut ke Kebun Binatang Bronx, New York. Namun di tempat barunya, kodok ini sulit bertahan hidup sehingga jumlah individu yang bertahan hidup menyusut.

Sebagian individu yang masih hidup dipindahkan ke Kebun Binatang Toledo di Ohio. Di tempat ini, peneliti membiakkan 50 kodok. Dalam waktu singkat, jumlah kodok berkembang pesat. Pemerintah Tanzania mendatangi peneliti dan meminta agar binatang ini dikembalikan ke habitatnya.

Namun Gibbs dan timnya enggan memenuhi kemauan pemerintah Tanzania. Menurut mereka, harus dilakukan penelitian terhadap habitat asli kodok kecil ini. Kehadiran jamur patogen chytrid di lokasi asalnya bisa mengancam kodok kecil tersebut. “Kami tidak ingin kodok kembali ke habitatnya tapi menderita,” ujar Gibbs.

Cara Kura Kura Menyelamatkan Diri Dari Serangan Meteor Yang Membuat Dinosaurus Punah


Kura-kura Boremys yang selamat dari tabrakan meteor yang melenyapkan dinosaurus sepertinya sama sekali tidak terpengaruh oleh bencana besar itu. Demikian menurut hasil studi yang dilaporkan dalam Society of Vertebrate Paleontology.

Menurut Walter Joyce dari University of Tubingen, kura-kura air mampu bertahan karena kemampuan alami untuk bertahan dalam kondisi berat. “Ketika temperatur terlalu dingin, mereka melakukan hibernasi. Ketika terlalu panas atau kering, mereka akan menggali lubang dalam lumpur dan menunggu kekeringan lewat,” jelas Joyce. “Rupanya kemampuan itu juga berguna ketika tabrakan meteor 65 juta tahun yang lalu,” tambah Joyce.

Berdasarkan fosil yang ditemukan di Hell Creek dan Fort Union di barat daya Dakota Utara dan sebelah timur Montana, ilmuwan menerka Boremys hidup 80 hingga 42 juta tahun yang lalu. Spesies yang mereka temukan menyukai daerah rawa di sekitar sungai tropis.

Boremys memakan tanaman lunak, moluska kecil, serangga dan ikan. Boremys terkecil memiliki panjang 25 sentimeter, sedangkan yang terbesar bisa mencapai 80 sentimeter.

Boremys tidak memiliki hubungan dekat dengan kura-kura modern. “Tetapi, mereka punya kebiasaan yang sama dengan kura-kura modern,” jelas peneliti.

Saat meteor menabrak Bumi 65 juta tahun yang lalu, sebagian besar spesies dinosaurus yang punah. Sebagian lagi mengalami kehilangan individu dalam jumlah yang sangat besar. Sementara beberapa jenis lain, seperti kura-kura Boremys, mampu selamat.

“Hewan-hewan besar mati dalam jumlah ribuan. Sementara itu amfibi, seperti kodok dan salamander, juga reptil, masih bisa bertahan karena mereka punya teknik yang membantu mereka hidup di kondisi sulit,” kata Joyce.

Joyce juga menambahkan, hewan yang selamat masih harus menghadapi masalah. “Mereka tidak selalu mampu bertahan dari pemangsa,” katanya.

Kura-kura modern saat ini pun menghadapi masalah itu. “Ironis, hewan yang sudah ada sejak 220 juta tahun yang lalu sekarang hampir punah karena aktivitas manusia. Mereka selamat dari asteroid, tapi tidak selamat dari spesies kita,” kata James Parham, peneliti dari Field Museum of Natural History.

Katak Pelangi Yang Telah Musnah 87 Tahun Lalu Ditemukan Kembali Di Kalimantan


Ilmuwan yang menyisir pegunungan di Borneo menjumpai spesies kodok pelangi Borneo yang sudah tidak pernah didapati sejak 87 tahun terakhir. Kali ini, mereka berhasil mengabadikannya dan foto itu menjadi foto kodok pelangi Borneo pertama di dunia. Sebelumnya, dokumentasi kodok itu hanya merupakan gambar ilustrasi

Conservation International, organisasi nirlaba yang fokus pada kelestarian lingkungan memasukkan kodok pelangi borneo (Ansonia latidisca) dalam daftar “Top 10 Most Wanted Lost Frogs.” Lembaga ini juga sempat mengungkapkan kekhawatiran bahwa kodok tersebut mungkin sudah punah. Kodok itu terakhir kali terlihat oleh penjelajah Eropa pada tahun 1924.

Menurut Indraneil Das, profesor asal Sarawak Malaysia University yang memimpin ekspedisi, mereka melakukan pencarian sejak Agustus lalu namun tidak berhasil menemukan kodok tersebut. Setelah memfokuskan pencairan ke kawasan pegunungan Penrissen yang jarang dieksporasi selama seabad terakhir, akhirnya mereka menemukan tiga ekor A. latidisca tinggal yang hidup di tiga pohon yang berbeda. Kodok-kodok yang ditemukan terdiri dari merupakan seekor kodok jantan, betina, dan seekor anak kodok.

“Sangat menyenangkan mengetahui bahwa alam bisa memberikan kejutan ketika kita sudah hampir menyerah, apalagi di saat krisis kepunahan terus meluas di planet kita,” kata Robon Moore, peneliti spesialis amfibi dari Conservation International saat mengumumkan temuan tersebut.

Meski berhasil menemukan, Das dan timnya menolak untuk mengungkapkan posisi pasti kodok itu demi menghindari penangkapan liar karena tingginya permintaan atas amfibi berwarna-warni tersebut. Namun demikian, para peneliti akan terus mencari tahu seputar populasi kodok ini di Penrissen.