Monthly Archives: Mei 2010

Cara Sederhana Tetapi Akurat Untuk Menentukan Arah Kiblat


Arah kiblat menjadi prasyarat menjalankan ibadah shalat. Di mana pun umat Islam menjalankan ritual keagamaan itu, mereka harus berkiblat ke Kabah di Mekkah. Penentuan arah kiblat tentu tak masalah bagi mereka yang berada di dekat Kabah. Bagaimana memastikannya jika berada jauh dari tempat suci itu?

Beberapa waktu lalu di internet muncul tulisan Usep Fathudin, mantan Staf Khusus Menteri Agama, yang mengungkap beragam arah kiblat masjid-masjid di Jakarta. Kesahihan kiblat suatu masjid, menurutnya, perlu dicapai sebelum masjid dibangun. Hal itu karena pergeseran 1 sentimeter saja bisa berarti 100 kilometer penyimpangan jaraknya.

Meskipun begitu, menurutnya, akurasi arah kiblat 100 persen memang tidak diwajibkan dalam shalat, seperti tersebut dalam Al Quran Surat Al Baqarah ayat 144, yang memerintahkan untuk shalat ke arah kiblat. ”Kata-kata ’ke arah’ ditafsirkan sebagai usaha maksimal mengarahkan shalat kita ke Kabah di Mekkah,” urainya.

Walaupun begitu, upaya untuk mendekati ketepatan arah ke kiblat dapat dilakukan dengan berbagai cara. Usep menyebutkan, penentuan arah kiblat Masjid Al Mukhlishun di Griya Depok Asri, Depok Tengah, yang berdiri tahun 2001, menggunakan suatu kompas kecil berbahasa Inggris, dengan tulisan Latin dan Arab.

Pada alat penunjuk arah itu tertulis bahwa untuk Jakarta dan sebagian besar kota di Indonesia, arah utara jarum kompas harus menunjuk angka 9 sebagai arah kiblat.

Kenyataannya, survei arah kiblat yang dilakukannya di berbagai masjid besar di Jakarta memperlihatkan, kompas yang digunakannya menunjuk arah yang berbeda-beda di tiap tempat ibadah itu, berkisar dari 7,5 hingga 9.

Penentuan arah kiblat yang dipakai umumnya mengacu pada arah utara geografis sebenarnya, yang memakai arah kompas atau jarum magnetik yang disebut ”pencari arah Kabah”. Arah jarum magnetik di kompas mengarah berdasarkan kutub magnetik Bumi di kutub utara.

Ternyata arah utara magnetik Bumi itu berbeda di tiap kota dari waktu ke waktu. Hal ini dipengaruhi oleh rotasi Bumi. Penelitian menunjukkan arah utara magnetik terus bergeser sekitar 4,8 kilometer per tahun. Pada tahun 2005 pergeserannya mencapai 800 kilometer dari kutub utara sebenarnya. Pada 2050 diperkirakan utara magnetik Bumi mendekati Siberia.

Qibla Locator

Penggunaan kompas sebagai penunjuk arah kiblat belakangan memang dianggap kurang akurat. Belakangan diperkenalkan peranti lunak Qibla Locator yang termuat dalam situs web http://www.qiblalocator.com.

Qibla Locator atau penunjuk arah kiblat antara lain dirancang oleh Ibn Mas’ud dengan menggunakan peranti lunak aplikasi Google Maps API v2, sejak tahun 2006. Pengembangan tampilan dan aplikasinya kemudian melibatkan Hamed Zarrabi Zadeh dari Universitas Waterloo di Ontario, Kanada.

Pada Qibla Locator versi Beta seri 0.8.7 itu dilengkapi dengan geocoding dari Yahoo, pengontrol arah pada citra peta, dan indikator tingkat pembesaran. Hingga September 2007 dihasilkan empat versi Beta dengan beberapa aplikasi tambahan, Geocoder, dan tampilan jarak.

Dengan Qibla Locator yang berbasis Google Earth ini dapat diketahui arah kiblat dari mana pun kita berada. Untuk mengetahuinya, di bagian atas situs itu ada kotak untuk memasukkan lokasi, alamat atau nama jalan, kode pos, dan negara atau garis lintang dan garis bujur.

Maka di sisi kanan gambar peta akan muncul besaran arah kiblat atau kabah dan jaraknya dari posisi lokasi yang kita masukkan. Peranti lunak ini, menurut Thomas Djamaluddin, Kepala Pusat Pemanfaatan Sains Atmosfer dan Iklim Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) sangat membantu guna mengecek arah kiblat secara akurat. ”Ini bisa untuk koreksi massal masjid-masjid di Indonesia,” katanya.

Bayangan matahari

Thomas, pakar astronomi dan astrofisika, mengemukakan bahwa ada penentuan arah kiblat yang menggunakan bayangan Matahari. Sekitar tanggal 26-30 Mei pukul 16.18 WIB dan 13-17 Juli pukul 16.27 WIB Matahari tepat berada di atas kota Mekkah.

Pada saat itu Matahari yang tampak dari semua penjuru Bumi dapat dijadikan penunjuk lokasi Kabah. Begitu pula bayangan benda tegak pada waktu itu juga dapat menjadi menentu arah ke kiblat.

Selain itu untuk daerah yang tidak mengalami siang, sama dengan Mekkah, waktu yang digunakan adalah saat Matahari di atas titik yang diametral dengan Mekkah. Waktu yang dapat dijadikan patokan penunjuk kiblat untuk wilayah tersebut adalah Matahari pada tanggal 12 hingga 16 Januari pukul 04.30 WIB dan 27 November hingga 1 Desember pukul 04.09 WIB.

Cara ini menurutnya paling mudah untuk mengoreksi arah kiblat, termasuk untuk garis saf di dalam masjid. Begitu mudah sehingga orang awam pun dapat melakukannya.

Iklan

Alga Merah Ternyata Dulu Berwarna Hijau


Alga (ganggang) merah atau red algae dipandang paling ampuh menangkal radikal bebas. Demikian kata Kepala Poli Obat Tradisional Indonesia RSUD Dr Soetomo Surabaya dr Arijanto Jonosewojo, SpPD, di Surabaya, Jumat (11/12/2009).

Dia mengatakan, suplemen dan multivitamin kimia yang dikonsumsi dalam jangka waktu lama dikhawatirkan menyebabkan penumpukan prooksidan atau radikal bebas yang bisa memicu terjadinya kanker dan diabetes melitus.

Asta Xanthine, zat aktif yang terdapat pada alga merah, mempunyai kandungan anti-oksidan 6.000 kali lebih banyak dibandingkan vitamin C dan 1.000 kali vitamin E. Karena itu, selain mempunyai kemampuan menangkal radikal bebas secara alami, alga merah juga berfungsi sebagai anti-aging atau mencegah penuaan.

“Alga merah juga bisa digunakan untuk memperlancar sirkulasi darah, memperbaiki sel-sel yang rusak, dan memproduksi insulin dalam darah,” katanya.

Untuk menghasilkan zat Hematococcus pluviallis yang terdapat pada Astaxanthine, alga merah perlu proses yang panjang. Awalnya, alga merah tidak bewarna merah, tetapi hijau.

Alga merah yang awalnya bewarna hijau dimasukkan ke dalam sebuah tabung yang mendapatkan sinar matahari yang cukup. Karena mendapat sinar matahari yang cukup, tumbuhan berklorofil tersebut berubah warna menjadi merah.

“Pengembangbiakan alga merah saat ini masih dilakukan di Hawaii, meskipun aslinya berasal dari Jepang,” katanya.

Sementara ini di Indonesia, alga merah belum banyak diproduksi secara massal karena belum ada yang mengembangbiakkannya. “Kalaupun ada, pasti harganya sangat mahal karena harus diimpor dari luar negeri,” katanya

Ditemukan Logam Yang Semakin Tipis Semakin Kuat dan Lentur


Jangan menyepelekan hal yang tampaknya kecil. Ujaran itu berlaku pada teknologi nano. Rekayasa pada unsur seukuran 10 pangkat (-9) meter ini telah banyak mengubah tatanan terkait materi. Kiprahnya pun telah merambah berbagai sudut segi kehidupan.

Jurnal ilmiah Nature baru-baru ini memuat hasil penelitian para ahli materi tentang bagaimana suatu materi logam bisa menjadi lebih kuat dan sekaligus lentur.

Para ahli ilmu materi sudah mengetahui bahwa kekuatan logam atau kerapuhan logam ditentukan oleh interaksi dislokasi. Proses interaksi dislokasi ini merupakan sebuah pertukaran tak beraturan dari garis-garis bersilangan yang bergerak, berlipat di dalam kristal-kristal metalik. Apa yang terjadi pada logam ketika dilakukan rekayasa pada skala nano? Adakah cara tertentu, dengan memanipulasi struktur nano, bisa menghasilkan logam yang lebih kuat dan lebih lentur?

Seperti dirilis oleh situs ScienceDaily.com pada Jumat (9/4) lalu, para ilmuwan dari Brown University ternyata telah menemukan caranya. Dalam paper dalam majalah ilmiah Nature, Huajian Gao dan sejumlah peneliti dari University of Alabama dan China menuliskan laporan mereka tentang mekanisme yang mengatur tercapainya puncak kekuatan (tertinggi) dari logam dalam struktur nano.

Mereka menunjukkan dengan membuat simulasi tiga dimensi (3-D) yang memperlihatkan butir-butir yang terbelah dari logam dalam struktur nano. Dengan cara itu, Gao serta timnya mengetahui bahwa proses dislokasi tersebut ternyata mampu mengatur dirinya sendiri dengan tingkat keteraturan yang tinggi (highly ordered).

Bak untaian kalung

Bentuk keteraturan itu tampak seperti pola untaian kalung (mutiara) di sepanjang materi (logam). Proses nukleasi (menjadi seperti nukleus-inti atom) pola dislokasi tersebut menurut para ilmuwan adalah merupakan bagian paling dominan dalam menentukan puncak kekuatan (the peak strength).

Menurut Gao, profesor dari Brown University, penemuan tersebut akan membuka pintu ke arah terciptanya suatu jenis logam yang lebih lentur. ”Ini adalah sebuah teori baru mengenai cara mengatur kekuatan materi dalam ilmu materi. Penemuan ini penting karena dia berhasil menyingkap suatu mekanisme dari kekuatan materi yang sifatnya amat unik dalam bentuk struktur nano,” katanya.

Dengan membelah butiran logam menggunakan teknik khusus, potongan-potongannya kemungkinan menunjukkan batas-batas dalam butiran yang dirujuk oleh para ilmuwan sebagai batas-batas kembar (twin boundaries).

Penyusun laporan dari China menciptakan batas kembar dalam tembaga (copper) dan menganalisis ruang yang tercipta di antara batas-batas tersebut saat mereka melakukan penelitian.

Hasilnya ternyata amat menarik: tembaga menjadi lebih kuat ketika ruang antarbatas-batas tersebut ukurannya kurang dari 100 nanometer dan akhirnya mencapai puncak kekuatan pada ukuran 15 nanometer. Meski demikian, ketika ruang tersebut mengecil sampai lebih kecil dari 15 nanometer, kekuatan logam tersebut justru berkurang. ”Ini sungguh membingungkan,” tutur Gao.

Komputer super

Karena menjumpai teka-teki baru, Gao dan seorang mahasiswa dari Brown University, Xiaoyan Li, merasa penasaran. Mereka mencoba menggali informasi lebih dalam lagi. Para ilmuwan di Brown University mengulang lagi penelitiannya dengan menggunakan 140 juta atom.

Untuk penelitian yang berskala lebih besar ini, mereka membutuhkan komputer super dari the National Institute for Computational Sciences di Tennessee, yang memungkinkan mereka melakukan penelitian pada batas-batas kembar itu dalam level atom (lebih besar dari skala nano). Mereka terkejut dengan temuan berikutnya.

Dari penelitian tersebut, mereka mendapati suatu fenomena yang sama sekali baru, yaitu suatu dislokasi dengan tingkat keteraturan amat tinggi yang dikendalikan oleh nukleasi telah ”mendikte” (perannya amat menentukan) kekuatan tembaga.

Ciri pola tersebut, yaitu nukleasi, berupa sebuah kelompok atom-atom di dekat pusat dislokasi dan tertata dengan tingkat keteraturan tinggi, dengan pola seperti untaian kalung. ”Mereka tidak berubah, tidak saling mengikuti bentuk yang lain. Mereka amat tertata,” ujar Gao.

Dari percobaan-percobaan mereka dan pemodelan komputer, mereka menyusun teori bahwa pada tingkat skala nano, nukleasi dislokasi bisa menjadi sebuah prinsip pengaturan untuk menetapkan kekuatan atau kelemahan logam. Mereka telah menetapkan sebuah persamaan matematis baru untuk menjelaskan prinsip tersebut.

”Penelitian kami ini untuk pertama kalinya berhasil menyuguhkan sebuah contoh konkret suatu mekanisme deformasi (perubahan bentuk) dalam materi yang berstruktur nano. Hasil penelitian ini bisa diharapkan berdampak secara signifikan dalam bidang ilmu materi,” ungkap Gao.

Peneliti lain yang berkontribusi pada makalah yang dimuat di Nature tersebut adalah Yujie Wei dari University of Alabama dan Ke Lu serta Lei Lu dari Chinese Academy of Sciences. Apa yang dikatakan Gao telah melahirkan sebuah harapan di mana suatu kali nanti di masa depan, kita bisa lebih banyak lagi menciptakan jenis logam berkualitas dengan pilihan yang lebih luas lagi. Itulah manfaat penelitian dan pengembangan ilmu dasar.

Sumbangan teknologi nano sejauh ini telah demikian banyak dan merambah segala bidang, mulai dari ilmu materi hingga ilmu medis. Sementara itu, masih banyak lorong ilmu yang masih gelap yang membutuhkan penelusuran dan perjalanan pencarian yang panjang.

BPPT Siapkan e Votting Untuk Pemilu 2014


Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi siap mendukung penyelenggaraan Pemilu Legislatif ataupun Pemilu Presiden 2014 secara elektronik. Untuk menuju kesiapan penyelenggaraan itu, dukungan penyediaan sistem dan teknologi pemilu elektronik oleh BPPT itu akan diuji coba penggunaannya dalam sejumlah pemilu kepala daerah.

Kesiapan itu disampaikan Kepala BPPT Marzan Aziz Iskandar, didampingi sejumlah peneliti BPPT lainnya, di Jakarta, Jumat (14/5). Selain Kabupaten Jembrana, Bali, yang sejak awal mengusulkan penggunaan pemilihan elektronik (e-voting), daerah lain yang juga mengusulkan penggunaannya, antara lain, Kota Bogor dan Kota Depok.

Agar pemilihan elektronik dapat dilaksanakan, dibutuhkan data kependudukan yang pasti. Menurut Marzan, Kementerian Dalam Negeri telah menyatakan kesiapan penggunaan kartu tanda penduduk (KTP) elektronik bagi seluruh rakyat Indonesia pada akhir 2012.

Marzan menambahkan, pemilu elektronik harus menjamin penghematan biaya, kecepatan diperolehnya hasil pemilu, kemudahan bagi pemilih dalam memberikan suaranya, serta terjaganya asas pemilu yang langsung, umum, bebas, rahasia, jujur, dan adil. Model pemilihan elektronik yang digunakan di Indonesia juga harus disesuaikan dengan sistem pemilu Indonesia yang berbeda dengan negara-negara lain.

Tiga model

Kepala Bidang Sistem Informasi dan Komputasi BPPT Dwi Handoko mengatakan, saat ini setidaknya sudah ada tiga pilihan jenis peralatan yang digunakan dalam pemilihan elektronik, yaitu sistem layar sentuh yang digunakan dalam pemilihan kepala dusun di Jembrana, sistem mesin dengan tombol seperti di India, atau penghitungannya saja yang dilakukan secara elektronik seperti di Filipina.

Untuk sistem yang digunakan di Filipina, pemilih memberikan suara dengan memberikan bulatan hitam seperti dalam ujian nasional di sekolah. Data di kertas itu selanjutnya dibaca dengan mesin pemindai optical mark reader (OMR). Penghitungan semacam ini juga mempercepat diketahuinya hasil pemilu.

Sistem layar sentuh atau mesin tombol hanya dapat digunakan untuk pemilu kepala daerah, pemilu presiden, atau pemilu dengan sistem distrik, seperti di India, yang dalam satu daerah pemilihan maksimal hanya ada belasan calon yang harus dipilih. Untuk digunakan dalam pemilu legislatif Indonesia, baik pemilu DPR, DPRD provinsi, maupun DPRD kabupaten/kota, dengan sistem proporsional terbuka, yang diikuti 38-44 partai politik dan setiap partai bisa memiliki puluhan calon anggota legislatif, tentu sangat sulit.

Lebih murah

Peneliti Jaringan Komputer, Divisi Sistem Komunikasi Multimedia, Pusat Teknologi Informasi dan Komunikasi BPPT, Husni Fahmi, mengatakan, pengalaman India menyelenggarakan pemilu elektronik hanya membutuhkan biaya 0,75 dollar Amerika Serikat untuk setiap pemilih.

Bandingkan dengan biaya pemilu Indonesia 2009 yang menurut Forum Indonesia untuk Transparansi Anggaran mencapai 13,64 dollar AS per pemilih. Dengan kurs Rp 9.000 per dollar AS, biaya pemilu untuk setiap pemilih di India hanya Rp 6.750 dan di Indonesia mencapai Rp 122.760.

Secara terpisah, Menteri Dalam Negeri Gamawan Fauzi mengatakan, standardisasi kesiapan suatu daerah yang akan melakukan pilkada dengan e-voting harus diatur. Gamawan menyebutkan beberapa hal terkait dengan pelaksanaan pemungutan suara e-voting, seperti kesiapan tenaga listrik dan data penduduk dengan e-KTP.

Neanderthal Adalah Moyang Kita


Hipotesis persilangan antara manusia modern dan Neanderthal 50.000-80.000 tahun lalu akhirnya terbukti. Di dalam diri kita masing-masing saat ini terdapat 1-4 persen proporsi materi genetik Neanderthal. Artinya, kita termasuk keturunan spesies Neanderthal.

Begitulah kesimpulan hasil penelitian deoxyribonucleic acid (DNA) terbaru tim Svante Paabo dari Max Planck Institute for Evolutionary Anthropology di Leipzig, Jerman, pertengahan Mei ini. Penemuan tersebut mengejutkan karena selama ini Neanderthal (Homo neanderthalensis) selalu dianggap spesies manusia yang berbeda dengan kita (Homo sapiens).

Padahal, sebenarnya jika dilihat dari bentuk fisik saja, kita memang mirip Neanderthal meski tidak sama persis. Budaya atau kebiasaannya pun mirip jika dilihat dari peralatan dari batu yang digunakan sehari-hari. Keahlian berburu di darat dan laut juga sama-sama dimiliki Neanderthal dan manusia modern awal. Barangkali, perilakunya saja yang berbeda. ”Neanderthal belum sepenuhnya punah. Mereka ada di dalam diri kita,” kata Paabo.

Sejauh ini, teori asal-usul manusia modern menyebutkan nenek moyang Homo sapiens berasal dari Afrika 200.000 tahun lalu. Kemudian, ada kelompok kecil Homo sapiens yang memilih migrasi ke segala penjuru dunia 50.000-60.000 tahun lalu. Pada kisaran tahun itu, terjadilah persilangan di sekitar Timur Tengah atau Afrika utara tak lama setelah manusia modern bermigrasi dari Afrika, bukan dari Eropa seperti dugaan awal.

”Yang mengejutkan adalah bukti adanya persilangan antara Neanderthal dan manusia modern pada masa lalu,” kata Chris Stringer, peneliti di Natural History Museum, Inggris.

Tim Paabo selama empat tahun meneliti dan membandingkan genom (kumpulan informasi genetik) masing-masing dari China, Perancis, Papua Niugini, Afrika selatan, dan Afrika barat dengan genom Neanderthal yang didapat dari fosil tulang tiga Neanderthal berbeda dengan yang ditemukan di Kroasia, Rusia, Jerman, dan Spanyol.

Hasilnya, 1-4 persen DNA dalam genom non-Afrika (Eropa, China, dan Papua Niugini) diperoleh dari Neanderthal. Namun, jejak Neanderthal sama sekali tak ditemukan pada genom Afrika. Meski ada jejak Neanderthal di diri kita, para peneliti tak yakin hal itu memengaruhi proses evolusi manusia.

Penemuan tim Paabo ini mengejutkan ilmuwan, tetapi tidak bagi Erik Trinkhaus yang sebelumnya mengemukakan hipotesis serupa tentang hubungan manusia modern dan Neanderthal melalui penelitian fosil kedua spesies itu. Bahkan, Trinkhaus dari Washington University yakin, sebenarnya ada lebih banyak DNA Neanderthal di dalam diri kita. ”Angka 1-4 persen itu hanya angka minimum,” ujarnya.

Hipotesis alternatif

Lalu, di mana posisi Homo sapiens dan Neanderthal dalam pohon keluarga manusia? Menurut para peneliti Neanderthal, tiba-tiba Homo sapiens menyimpang dari garis evolusi manusia sekitar 40.000 tahun lalu dan lebih banyak bermigrasi ke arah utara Mediterania, sementara manusia modern bergerak ke selatan Mediterania.

Sedikit berbeda dengan temuan tim Paabo, ahli paleontologi di Stanford, Richard Klein, mengemukakan alternatif dugaan. Persilangan manusia modern dan Neanderthal bukan terjadi 50.000-80.000 tahun lalu, tetapi jauh sebelumnya, kira-kira 120.000 tahun lalu di Levant (situs Skhul dan Qafzeh di Israel).

Manusia modern pada zaman itu keluar dari Afrika dan ada yang sampai ke Israel. Mereka lalu menghilang sekitar 80.000 tahun lalu dan tergantikan oleh Neanderthal. Tidak jelas, ketika itu ada interaksi dengan Neanderthal atau tidak.

Meski telah punah, keturunan manusia modern di Levant itu menyebar hingga ke Timur Tengah dan diduga membawa gen Neanderthal. ”Yang kita tahu, ada kelompok masyarakat di Arab yang hidup 50.000-100.000 tahun lalu, yang membuat peralatan dari batu mirip dengan yang dibuat masyarakat Skhul dan Qafzeh,” kata Stringer.

Bagi kalangan ilmuwan, penemuan tim Paabo ini justru makin membingungkan kronologi evolusi manusia. Tambah bingung lagi ketika membedakan manusia modern, Neanderthal, dan simpanse yang notabene juga nenek moyang kita. Untuk memberikan sedikit gambaran, tim Paabo juga membandingkan genom manusia modern dan Neanderthal dengan simpanse.

Dari temuan fosil yang ada, ”perpisahan” antara nenek moyang simpanse dan nenek moyang manusia modern serta Neanderthal terjadi 5 juta-6 juta tahun lalu. Selain bukti genom Neanderthal identik dengan manusia modern (99,7 persen), tim peneliti itu juga menemukan bukti bahwa ternyata genom Neanderthal dan manusia modern 99,8 persen identik dengan simpanse.

Temuan ini setidaknya menambah ”bumbu” perdebatan perbedaan manusia modern dan Neanderthal. Sejauh ini, menurut tim Paabo, ada beberapa perbedaan yang kentara di antara keduanya, yakni pertumbuhan otak, struktur tengkorak, metabolisme, jenis kulit, dan kemampuan sembuh dari luka.

Menurut antropolog John Hawks dari University of Wisconsin-Madison, daripada perdebatan berkutat di pohon keluarga manusia, lebih baik jika mulai diteliti faktor yang menyebabkan manusia modern bisa bertahan hingga kini dan tidak punah seperti Neanderthal.

”Apakah kita bisa bertahan karena fisik. Dari kondisi fisik, Neanderthal juga kuat. Mungkin kelebihan kita ada pada kemampuan kita bertahan dari penyakit. Ataukah karena keahlian berkomunikasi kita atau kebiasaan berkumpul? Apa pun jawabannya, ini penting karena bisa menjelaskan perubahan yang membedakan kita dengan Neanderthal,” kata Hawks.

Tim Paabo menduga, ada bagian gen Neanderthal dalam diri kita yang membantu pembentukan fungsi kognitif dan struktur tulang kita. Namun, itu masih dugaan. Paabo mengakui, masih banyak misteri yang belum terungkap. Hasil penelitian ini barulah langkah awal eksplorasi diri manusia.

”Saya tidak mau ikut campur dalam perdebatan apakah manusia modern dan Neanderthal itu spesies berbeda atau sama. Yang jelas, Neanderthal tidak jauh berbeda dari kita jika dilihat dari bukti genetik yang ada,” ujarnya.  (dari berbagai sumber)

Pembukaan Lahan Gambut Akan Dihapus Untuk Mengurangi Emisi


Pengesahan rancangan peraturan pemerintah tentang lahan gambut menunggu pembahasan lintas kementerian di Sekretariat Negara. Pembahasan akhir itu membuka peluang penghapusan pasal pemanfaatan gambut bagi perkebunan, pertambangan, dan pertanian.

Hal itu disampaikan Deputi Bidang Peningkatan Konservasi Sumber Daya Alam dan Pengendalian Kerusakan Lingkungan Kementerian Lingkungan Hidup Masnellyarti di Jakarta, Jumat (14/5), menanggapi desakan Greenpeace agar pemerintah melarang pembukaan lahan gambut.

Isi dari rancangan peraturan pemerintah (RPP) per 7 April 2010 itu menggolongkan: lahan gambut yang kedalamannya kurang dari tiga meter dan bukan kubah gambut sebagai kawasan budidaya gambut (KBG). Pasal 16 Ayat (1) RPP itu menyatakan, KBG bisa dimanfaatkan untuk kegiatan pertanian, peternakan, perkebunan, kehutanan, perikanan, permukiman, pertambangan, transmigrasi, ekowisata, atau infrastruktur.

Masnellyarti menyatakan, jika sektor kehutanan dan pertanian tidak lagi ingin memanfaatkan gambut, pelarangan pembukaan gambut melalui rancangan peraturan pemerintah tentang pengendalian kerusakan ekosistem gambut sangat dimungkinkan.

”Pasal pemanfaatan lahan gambut berketebalan kurang dari tiga meter dalam RPP itu muncul untuk mengakomodir kepentingan sektor pertanian, kehutanan, pertambangan, ataupun pembangunan infrastruktur. Jika sektor kehutanan dan pertanian tidak lagi membutuhkan lahan gambut, pasal pemanfaatan gambut berkedalaman kurang dari tiga meter bisa dihapus. Untuk itu, KLH mengharapkan dukungan semua pihak,” kata Masnellyarti.

Komitmen menteri

Juru Kampanye Greenpeace Asia Tenggara Joko Arif menyatakan, pihaknya telah menerima komitmen Menteri Pertanian dan Menteri Kehutanan untuk tidak membuka lahan gambut.

”Komitmen itu disampaikan kedua menteri secara terpisah ketika mereka menerima delegasi Greenpeace. Komitmen kedua menteri itu merupakan langkah besar Indonesia untuk memenuhi target reduksi emisi pada 2020. Komitmen itu harus diikuti penghapusan pasal budidaya lahan gambut dalam RPP yang sedang dibahas,” kata Joko.

Komitmen untuk tidak mengalihfungsikan lahan gambut, antara lain, disampaikan Menteri Kehutanan Zulkifli Hasan dalam sambutan peluncuran buku Peta Jalan Menuju Penyelamatan Ekosistem Sumatera di Jakarta pada Selasa malam lalu.

”Masih ada 6,7 juta hektar lahan telantar. Juga banyak hutan yang dialihfungsikan menjadi kebun kelapa sawit, tetapi belum ditanami. Jadi, kebijakan alih fungsi lahan gambut dihentikan sementara,” kata Zulkifli.

Kajian Wetlands International-Indonesia Programme yang dipublikasikan melalui dokumen Pendugaan Cadangan Karbon pada Lahan Gambut (Daniel Murdiyarso dkk, 2004) menyatakan, lahan gambut yang diganggu (dibuka untuk perkebunan, misalnya) akan melepaskan emisi gas rumah kaca. Pembukaan gambut akan melepaskan gas karbon dioksida (CO), metana (CH), dan nitrous oksida (NO)

Meteor Yang Jatuh Di Bima Memiliki Banyak Keanehan


Batuan meteorit yang jatuh di Pegunungan Wawo, Kabupaten Bima, Nusa Tenggara Barat, Senin (3/5) malam, dinilai memiliki kejanggalan karena diindikasikan suhunya terlampau tinggi.

”Belum ada di dalam literatur, meteor relatif kecil yang jatuh ke permukaan Bumi mampu melelehkan silika yang temperatur titik leburnya sampai 1.600 derajat celsius,” kata Kepala Pusat Pemanfaatan Sains Atmosfer dan Iklim pada Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) Thomas Djamaluddin, Jumat, dalam konferensi pers di Kementerian Riset dan Teknologi, Jakarta.

Djamaluddin mengatakan hal itu setelah meneliti sampel batuan dari lokasi jatuhnya meteor di Bima. Sampel itu diambil tim peneliti Badan Pengawas Tenaga Nuklir (Bapeten) dari lokasi jatuhnya meteor.

Penelitian dilakukan di Laboratorium Geologi Institut Teknologi Bandung. Hasilnya, sampel itu bukanlah batu meteor, melainkan batuan beku berupa lelehan silika akibat tertimpa meteor. Kandungan silika banyak terdapat di dalam pasir.

Menurut Djamaluddin, meteor di Bima jatuh di tanah berpasir. Pada tempat jatuhnya meteor terdapat lubang berdiameter 0,5 meter dengan kedalaman 1-2 meter.

”Besarnya meteor yang jatuh diindikasikan tidak lebih dari ukuran satu butir kelapa,” kata Djamaluddin.

Menurut dia, batuan meteorit yang sesungguhnya masih perlu dicari. Kemungkinannya batuan itu masih ada di dalam lubang tanah tersebut.

Aries Setyarto dari Bapeten menunjukkan sampel batuan yang diambil dari lokasi jatuhnya meteor di Bima. Menurut Aries, sesuai dengan kapasitas Bapeten, sampel itu telah diteliti dan dinyatakan terbebas dari radioaktif.

Diacak-acak

Deputi Menteri Riset dan Teknologi Bidang Program Riset Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Teguh Rahardjo mengatakan, lokasi jatuhnya meteor di Bima sekarang sudah diacak-acak warga.

”Jika ada warga yang menemukan meteor, agar menyerahkan kepada institusi terkait untuk penelitian lebih lanjut,” kata Teguh.

Djamaluddin memaparkan pula indikasi jatuhnya meteor dalam sebulan terakhir. Pada 14 April 2010, meteor dengan diameter 1 meter jatuh di Wisconsin, Amerika Serikat.

Pada 15 April 2010, dugaan meteor jatuh mengakibatkan kebakaran rumah di Aceh. Akan tetapi, dipastikan tidak ada indikasi meteorit, melainkan akibat hubungan pendek arus listrik yang mengakibatkan kebakaran rumah.

Pada 29 April 2010, dugaan meteor jatuh di Duren Sawit, Jakarta. Lapan sudah menyimpulkan, ada indikasi kuat itu merupakan meteor dengan ukuran sebesar buah kelapa meski hingga kini belum ditemukan bukti sampel batuan meteoritnya.

Pada 1 Mei 2010, dugaan meteor jatuh di Malang, Jawa Timur, mengakibatkan kebakaran. Akan tetapi, rupanya karena kebocoran gas yang menimbulkan ledakan akibat percikan api dari sakelar otomatis pompa air.

Terakhir, pada 3 Mei 2010, dugaan meteor jatuh di Bima. Menurut Djamaluddin, indikasi kuat itu adalah meteor jatuh. Namun, kejanggalan terjadi pada paparan di atas, yaitu suhunya terlampau tinggi.