Monthly Archives: Februari 2011

Susu ASI Lady Gaga Laris Manis Dijual Di Inggris


Putar otak mendapatkan usaha baru memang bagus, tapi bagaimana kalau idenya adalah jualan es krim air susu ibu (ASI)? Entahlah, yang pasti harganya “wah”, 14 pound sterling per gelas atau nyaris Rp 200 ribu.

Toko es krim Icecreamist di London mulai menjual es krim itu dan namanya juga tak kalah unik : “Baby Gaga”, mengingatkan orang pada penyanyi pop Lady Gaga yang kelakuannya selalu nyeleneh.

Baby Gaga adalah campuran ASI ditambah vanila Madagascan dan lemon. Bahan baku ASI dikumpulkan dari perempuan yang dibayar 15 pound untuk setiap 10 ounce cairan dari tubuh mereka (sekitar Rp 213 ribu untuk 0,3 liter) .

Hidangan itu disajikan dalam gelas martini. Nitrogen cair turut mendinginkan es krim itu di dalam gelas.

Perusahaan itu mengatakan produk mereka yang digembar-gemborkan “organik dan semuanya alami” terjual habis pada hari pertama diperkenalkan akhir pekan ini.

“Responnya menakjubkan. Awalnya orang jijik karena hidangan itu berasal dari cairan yang dikeluarkan tubuh, tapi bukankah air susu sapi begitu juga,” kata pemilik usaha itu, Matt O’Connor. “Yang mencicipi ternyata senang dengan rasanya.”

Perusahaan itu menerima ASI yang lulus uji kesehatan. Badan Pengawasan Obat dan Makanan Inggris menyatakan tak ada peraturan yang melarang ASI olahan asalkan memenuhi ketentuan pangan yang aman.

Seekor Elang Baik Hati Membawa Kambing Temannya Terbang Bersama


Elang Membawa Kambing Terbang

Elang Membawa Kambing Terbang

Seekor Elang jenis Golden Eagle besar tertangkap kamera tengah mencengkram seekor kambing terbang. Kambing yang terlihat berdarah itu diperkirakan akan menjadi santapan si elang.

Foto menakjubkan ini diambil di pegunungan pulau Mull, Skotlandia. Foto ini kemungkinan foto pertama yang berhasil mengabadikan seekor elang raksasa dengan rentang sayap dua meter membawa mangsa berupa kambing.

Foto ini dibuat oleh seorang pengamat burung yang enggan disebutkan namanya. Dia juga menolak menyebutkan lokasi persis foto ini diambil. Dia takut petani yang marah karena hewannya menjadi mangsa akan memburu burung itu.

Burung elang jenis ini memang termasuk burung langka. Mereka ada sekitar 30 ekor dan dilindungi dalam area khusus yang tahun lalu habitat mereka sempat tercemar.

Sebelum mengambil foto ini, pengamat burung dan istrinya melihat beberapa burung elang yang berputar. “Ada beberapa mobil yang parkir di dekatnya, mereka lalu berputar-putar di udara,” kata pengamat burung itu.

Tiba-tiba ada seekor elang besar yang terlihat membawa sesuatu. Ketika melihat melalui binokular mereka menduga itu seekor kelinci gunung. Tapi setelah semakin mendekat ternyata itu seekor kambing.

“Sebuah peristiwa yang sangat langka dan tidak mungkin saya lupakan,” kata pengamat burung itu. Elang berjenis Golden Eagle dikenal sebagai pemangsa hewan berukuran besar dengan cara menjatuhkan mangsanya dari ketinggian.

Anak Perempuan Memiliki Penyakit Langka Yang Membuat Mukanya Menjadi Tua Sebelah


Seorang gadis berusia 11 tahun setengah wajahnya menua. Christine Honeycutt dari Carolina Utara, Amerika, divonis menderita sindrom Parry-Romberg yang tak ada obatnya. Sistem imunitasnya memakan jaringan subcutaneous antara otot, tulang dan kulit. Akibatnya, kulit kehilangan elastisitas dan kekecangannya sehingga tulangnya tak bisa tumbuh normal.

Seiring waktu, sebagian wajahnya menjadi lebih kecil, dan hampir hanya terlihat kulit yang membungkus tengkorak. Penyakit ini juga bisa menyerang bagian tengkorak dan membuatnya buta dan mengalami sinus. Ibu Christine, Vicki Honeycutt awalnya tak menyadari apa yang dialami putrinya. Saat Christine berusia lima tahun, ia melihat ada tanda abu-abu di kening Christine, tepat dibawah garis rambutnya. Ia juga melihat seperti ada memar di lehernya.

Dokter anak yang ia temui hanya menyarankan agar memberi krim cortizone. Tetapi ia menolaknya, karena ada enam tanda lainnya yang memperlihatkan ada yang salah. Beberapa bulan kemudian tanda-tanda itu berkembang menjadi garis yang melintas keningnya. Pada 2006 lalu putrinya pun mengalami kerusakan ukuran wajah.

“Saya selalu bilang, ia punya telinga yang lucu, tapi satu malam saat saya menciumnya, saya melihat salah satunya berukuran lebih kecil,” kata Vicki. Ia pun menemui dokter ahli gen yang memberikan diagnosa mengejutkan, bahwa tidak ada obat untuk penyakitnya.

Christine bisa dioperasi plastik setelah penyakitnya berhenti menggerogoti. Ia lalu menemui seorang dokter yang pernah mengoperasi pasien dengan penyakit sindrom Parry-Romberg juga. Ia mengatakan Christine bisa dioperasi tanpa harus menunggu penyakitnya berhenti merusak wajahnya. Ia pun akhirnya menjalani operasi selama 9 jam untuk merekonstruksi wajahnya.

Operasi itu berjalan lancar dan garis abu-abu diwajahnya telah memudar, meski tidak hilang sama sekali. Penyakit itu tidak akan sembuh tetapi dengan operasi lanjutan, setidaknya penyakit bisa dikendalikan.

Anak Kecil Di Serbia Memiliki Daya Magis Mampu Menarik Benda Menempel Di Tubuh Tanpa Sentuhan


Anak Kecil Yang Memiliki Daya Magnet

Anak Kecil Yang Memiliki Daya Magnet

Bogdan menjadi perhatian dunia. Bocah 7 tahun asal Serbia ini memiliki tubuh seperti magnet. Sendok, garpu, pisau bahkan mikrofon bisa menempel di badannya.

Sebelum terkenal dan menjadi berita di televisi, keluarga Bogdan mengklaim bahwa ada anggota keluarganya yang memiliki kemampuan unik: bertubuh magnetik.

Reporter MSNBC.com, Al Stirrett lalu menyambanginya dan membuktikannya sendiri. Bogdan diminta menanggalkan pakaian dan benar saja, barang-barang yang mengandung besi bisa menempel di tubuhnya.

Menurut keluarga Bogdan, bocah ajaib ini memiliki kemampuan magnetik sejak lahir. Benda-benda itu baru bisa lepas dari tubuh Bogdan bisa dia memindahkan sendiri dengan tangannya.

Bocah Memiliki Daya Magnet

Bocah Memiliki Daya Magnet

Uniknya lagi, bukan hanya besi yang bisa menempel di tubuh Bogdan. Piring dan mangkok Cina pun bisa. Piring dan mangkok yang ditaruh di dada Bogdan sama sekali tidak jatuh.

Selama ini, keluarga Bogdan melarangnya untuk dekat-dekat dengan benda-benda listrik, seperti televisi dan komputer, sebab tubuh magnetisnya bisa membuat televisi atau komputer mati. Tapi kabar baiknya dia tidak akan pernah kesulitan mencari remote TV.

Ditemukan Cara Membuat Bahan Bakar Minyak Nabati Dari Minyak Genset dari Biji Bintaro


Pohon bintaro (Cerbera manghas) kerap hanya dijadikan sekadar tanaman perindang jalan. Ternyata tanaman ini baik juga difungsikan sebagai penahan abrasi laut karena tahan terhadap salinitas tinggi. Selain itu, bijinya dapat digunakan sebagai bahan bakar nabati, misalnya untuk bahan bakar genset.

Teknologi ini khusus untuk remote area (daerah-daerah terpencil),” kata Dr Ir Desrial MEng, Ketua Departemen Teknik Mesin dan Biosistem pada Fakultas Teknologi Pertanian Institut Pertanian Bogor (IPB), Kamis (24/2) di Bogor, Jawa Barat.

Daerah terpencil secara spesifik lagi, menurut Desrial, daerah pantai yang rentan terkena abrasi. Daerah itu bisa berupa pantai pulau-pulau kecil dan juga pantai pulau besar.

Kerusakan ekosistem pantai banyak penyebabnya. Kebijakan alih fungsi hutan dataran rendah untuk konsesi perkebunan sawit bisa jadi penyebabnya.

Di hutan dataran rendah sebagian besar juga terdapat lahan gambut. Menurut Desrial, pohon bintaro dapat tumbuh pula dengan baik di lahan gambut.

Seperti di wilayah Jambi dan Riau sekarang, lahan gambut di pinggir pantai banyak yang ikut dialihfungsikan untuk ditanami sawit. Sebagian lahan itu pula sudah hilang tergerus abrasi.

”Pohon bintaro untuk konservasi pantai sekaligus bijinya mengandung minyak yang bisa digunakan untuk substitusi solar,” ujar Desrial.

Sianida

Buah bintaro mentah berwarna hijau cerah. Menurut Desrial, di dalam buah bintaro mentah ada kandungan racun sianida, tetapi mudah sirna jika terpapar sinar matahari.

”Gunakan buah bintaro yang sudah tua berwarna kecoklat- coklatan untuk diambil minyak dari bijinya,” kata Desrial.

Pemanfaatan buah bintaro tua selain dapat menghindari keracunan sianida saat mengupas sekaligus untuk mendapatkan kandungan minyak nabati optimum. Proses pembuatan minyak bintaro itu meliputi pengupasan, pengambilan biji, pengeringan biji, kemudian biji diekstraksi.

”Ekstrasinya dengan proses pengempaan, yaitu diberi tekanan dan suhu tertentu sehingga cairan minyak keluar dari bijinya,” kata Desrial.

Cairan itu sebagai minyak kasar bintaro. Kandungan getahnya masih tinggi.

Untuk menghilangkan getah di dalam minyak, ditempuh proses degumming (penghilangan gum/getah) sederhana. Biasanya digunakan penambahan fosfat untuk mengikat dan mengendapkan getah sehingga diperoleh minyak bintaro murni.

Untuk mendapatkan 1 kilogram minyak bintaro murni dibutuhkan 2,9 kilogram biji bintaro. Biji bintaro sebanyak itu bisa diperoleh dari 36,4 kilogram buah bintaro tua.

”Satu pohon bintaro secara optimal bisa menghasilkan 300 kilogram buah bintaro setiap tahunnya,” kata Desrial.

Konverter khusus

Penelitian buah bintaro untuk menghasilkan minyak substitusi solar ini dimulai tahun 2010. Riset ditujukan untuk masyarakat di kawasan Teluk Meranti, Riau, yang memiliki sumber bahan baku bintaro cukup melimpah.

Menurut Desrial, semula riset ditujukan untuk mencari pengganti minyak tanah, tetapi kualitas minyak bintaro murni ternyata hampir setara solar.

”Minyak bintaro akhirnya ditujukan untuk minyak genset, mesin penghasil listrik,” kata Desrial.

Desrial pun merancang genset dengan bahan bakar minyak murni bintaro. Ia menambahkan, konverter khusus yang berisi elemen pemanas bisa dikontrol dengan sumber energi berupa aki 12 volt.

”Konverter khusus untuk meningkatkan suhu minyak bintaro sampai 70 derajat celsius sehingga memudahkan pembakaran di dalam genset,” kata Desrial.

Untuk pemantik awal genset memang masih digunakan solar. Penggunaan solar juga pada tahap akhir untuk menghindari pengentalan minyak bintaro di dalam saluran sistem genset sewaktu ingin dimatikan.

Penggunaan minyak bintaro akan membantu wilayah-wilayah yang sulit terjangkau distribusi solar. Setidaknya, penanaman bintaro di pantai juga bisa menyelamatkan lingkungan supaya terhindar dari abrasi.

Gedung Yang Sehat Dapat Meningkatkan Produktifitas Karyawan


Kondisi gedung yang tidak sehat berpotensi menurunkan produktivitas perusahaan hingga 10 persen. Sebaliknya, gedung yang sehat bisa memberikan keuntungan ekonomi.

Hal itu terungkap dalam seminar bertajuk ”Sick Building Syndrome: Is Your Office Killing You?” yang diselenggarakan Konsil Bangunan Hijau Indonesia (KBHI), Kamis (24/2) di Jakarta. Pemahaman akan ”bangunan hijau” di antaranya memasukkan faktor kesehatan bangunan.

Produktivitas akan turun jika karyawan sering absen karena sakit akibat gedung yang tidak sehat. Gangguan kesehatan akibat kondisi gedung yang tak sehat disebut sindrom gedung sakit (sick building syndrome/SBS). Adapun penyakit permanen akibat kondisi gedung yang tak sehat disebut building related illness.

Salah satu narasumber, Yanu Aryani, analis peringkat dari KBHI, menyebutkan, terkait produktivitas, gedung yang sehat akan memperbaiki kondisi kesehatan karyawan secara umum dan meningkatkan motivasi karyawan. ”Dengan kondisi demikian, kinerja karyawan akan meningkat, mengurangi absen karyawan, dan mengurangi biaya jaminan kesehatan. Hal tersebut akan menghasilkan keuntungan ekonomi bagi perusahaan,” kata Yanu.

Kondisi SBS, Yanu menambahkan, terkait tiga hal, yaitu pengaturan masuknya udara luar, pemilihan material yang rendah senyawa organik yang mudah menguap (volatile organic compound) termasuk formaldehida, serta pemeliharaan kebersihan saluran ventilasi udara.

Udara segar dari luar gedung dibutuhkan untuk mengurangi konsentrasi pencemar dalam gedung. Namun, udara segar yang terlalu banyak akan membebani mesin pendingin sehingga meningkatkan konsumsi energi.

Terkait material yang sehat, bisa digunakan material yang sesuai dengan standar kesehatan yang telah ditetapkan. Adapun pemeliharaan kebersihan saluran ventilasi udara dibutuhkan karena debu merupakan media bagi bakteri dan mikroba yang potensial disebarkan ke dalam bangunan.

Legionelosis

Narasumber lain, dr Faisal Yatim, mantan peneliti di Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Kementerian Kesehatan, mengatakan, salah satu penyakit akibat gedung tidak sehat adalah legionelosis yang bisa mengakibatkan kematian.

Legionelosis, penyakit akibat dari gedung tidak sehat, pertama kali dilaporkan di Amerika Serikat pada tahun 1976. ”Dilaporkan ada 182 penderita pneumonia dan 29 orang di antaranya meninggal dunia,” katanya. Di Indonesia, penyakit itu ditemukan tahun 1996 di Bali dan tahun 1999 di Tangerang.

Penyakit itu disebabkan oleh bakteri Legionella. Gejalanya mulai dari gejala ringan, seperti flu biasa, sampai yang berat, seperti pneumonia (radang paru).

”Bakteri tersebut bisa dideteksi melalui pemeriksaan laboratorium khusus,” ujarnya. Gejala legionelosis adalah rasa lesu, sakit kepala, tenggorokan kering, mata berair, sering bersin, hingga serangan asmatis

Kajian Tentang Otak Diperlukan Lebih Dalam Untuk Mengetahui Proses Belajar


Ilmuwan otak di Inggris mengatakan perlunya meningkatkan pengetahuan tentang ilmu yang terkait otak dan saraf (neuroscience) dalam dunia pendidikan. Kajian mengenai hal tersebut akan menyediakan dasar-dasar ilmiah untuk mengembangkan cara-cara baru yang jauh lebih efektif dalam proses belajar dan mengajar.

Sekelompok ilmuwan saraf, psikologi kognitif, dan spesialis pendidikan menyebutkan bahwa penelitian tentang otak dan saraf—yang dikaitkan dengan pendidikan—dapat mengubah cara orang diajar. Pada masa depan, bisa saja kajian tersebut berdampak pada sistem pendidikan di seluruh dunia.

”Setiap hari kami menemukan lebih banyak dan lebih banyak lagi tentang bagaimana otak bekerja. Jika informasi ini dapat menolong kita untuk belajar lebih efektif atau mengasah keterampilan di tempat kerja, kita harus menggunakannya,” kata Uta Frith, pimpinan kelompok pada Britain’s Royal Society Academy of Science, yang memublikasikan mengenai perlunya memahami neuroscience dan pendidikan.

Kajian neuroscience untuk pendidikan tersebut melibatkan studi mendasar tentang berbagai proses yang terlibat dalam pembelajaran, misalnya untuk menjadi melek huruf dan angka. Kajian yang sama juga diperlukan untuk mengetahui otak mana yang belajar untuk belajar.