Monthly Archives: Oktober 2012

Pesawat Tanpa Awak Wulung Di Uji Coba Di Pangkalan Udara Halim Perdanakusuma


Pesawat terbang tanpa awak jenis Wulung hasil rekayasa Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi diterbangkan dari Pangkalan Udara Halim Perdanakusuma, Jakarta, Kamis (11/10/2012). Hal itu tepat dengan pendaratan pesawat Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dari Yogyakarta. Presiden pun bisa menyaksikan hasil rekayasa teknologi itu.

“Perbedaan dengan uji coba sebelumnya, pesawat terbang tanpa awak (PTTA) Wulung ini sudah menggunakan teknologi autonomous, menggantikan sistem kendali jarak jauh (remote control),” kata Akhmad Rifai, Manajer Program Kegiatan Rancang Bangun PTTA dari Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT).

Uji coba di Pangkalan Udara (Lanud) Halim Perdanakusuma berlangsung selama 20 menit, dari pukul 08.40 hingga 09.00. Uji coba disaksikan beberapa pejabat negara, seperti Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro bersama Menteri Riset dan Teknologi Gusti Muhammad Hatta, Kepala Staf TNI Angkatan Udara Marsekal Imam Sufaat, dan Kepala BPPT Marzan Azis Iskandar.

Pesawat dikemudikan melalui stasiun pengontrol (ground control station) dengan mobil minibus. BPPT memulai perekayasaan PTTA, sebelumnya disebut sebagai pesawat udara nirawak (PUNA), pada tahun 2000-2005.

Pada periode itu dihasilkan 10 prototipe dengan tiga model, yaitu Wulung, Pelatuk, dan Gagak. Mesin yang digunakan adalah Limbach buatan Jerman berbahan bakar Pertamax. Dalam uji coba waktu itu, selama satu jam penerbangan dibutuhkan sekitar 9 liter bahan bakar.

Wulung dan Pelatuk dirancang sebagai pesawat tanpa awak yang stabil agar mampu diberi berbagai muatan untuk beberapa tujuan. Misalnya, diberi muatan kamera untuk pemotretan atau perekaman video pada suatu area. ”Bisa juga diberi muatan flare untuk menciptakan hujan buatan,” katanya.

Menurut Rifai, flare berbobot 2 kilogram setara dengan 1 ton garam (natrium klorida) yang ditebar ke awan potensial untuk hujan buatan.

Rifai menambahkan, peredaman kebisingan suara dari pesawat tanpa awak Wulung tidak diprioritaskan. Berbeda dengan Gagak yang ditujukan untuk pesawat pengintai, peredaman suara mutlak dibutuhkan.

Hingga saat ini sudah dikembangkan PTTA jenis lain untuk pengintaian jarak pendek hingga jarak jauh, yaitu jenis Sriti, Alap-alap, dan Gelatik.

Saat mengamati uji coba Wulung, kemarin, Menristek Gusti Muhammad Hatta mengomentari, mesin pesawat tanpa awak Wulung masih terlalu bising. Gusti juga menilai, bahan fiberglass untuk badan pesawat kurang kuat. Adapun Menhan terlihat antusias mengamati jalannya uji coba Wulung.

Posisi koordinat

Rifai menjelaskan, sistem kerja autonomous pada jenis Wulung menggunakan perintah tujuan yang harus dicapai pesawat dengan menetapkan posisi koordinatnya. Setelah dicapai titik tersebut, pesawat bisa diperintahkan ke posisi koordinat lain atau kembali ke landasan. ”Ketika masih menggunakan remote control, pada jarak 5 kilometer, pesawat sudah tidak tampak,” katanya.

Sistem autonomous memungkinkan pemantauan kedudukan pesawat pada ketinggian dan koordinat tertentu. Kemudian, hasil pemotretan dan perekaman video dapat disaksikan seketika (real time) dari stasiun pengendali di darat.

”Manfaatnya penting untuk memantau wilayah perbatasan antarnegara,” ujar Rifai.

Saat diterbangkan dari Lanud Halim Perdanaksuma selama 20 menit, diperkirakan jangkauannya hanya mencapai radius 1.500 meter. ”Jangkauan terjauh yang pernah dicapai dalam uji coba sebelumnya adalah radius 73,4 kilometer,” tuturnya.

Menurut dia, dalam waktu dekat akan dilakukan kerja sama dengan Jepang untuk perekaman wilayah memanfaatkan kamera mutakhir dengan pesawat Wulung. Kamera mutakhir yang akan digunakan senilai Rp 1 miliar.

”Penerbangan kemarin sebetulnya penundaan dari yang direncanakan 28 September lalu,” kata Rifai.

Manfaatkan

Dalam sambutannya, Purnomo Yusgiantoro menyampaikan agar pihak-pihak terkait memanfaatkan teknologi dirgantara ini secara optimal. Peta jalan (road map) pengembangan PTTA untuk militer dan industri agar dibuat dengan jelas.

”Pengembangan pesawat terbang tanpa awak ini memiliki nilai ekonomis tinggi dan mampu mengurangi ketergantungan terhadap negara-negara produsen lain,” kata Yusgiantoro.

Sebenarnya PTTA sudah dibutuhkan sejak lama. Misalnya, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), menurut Kepala Pusat Data, Informasi, dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho, pernah meminta kepada BPPT agar bisa memanfaatkan salah satu PTTA itu untuk memotret kawasan yang dilanda banjir bandang di Sumatera Barat, November tahun lalu.

Namun, saat itu, PTTA belum siap dioperasionalkan. Pemotretan akhirnya dilakukan dengan pesawat terbang konvensional, yang tentu memakan biaya lebih besar.

Manusia Telah Memakan Daging Sejak 1,5 Juta Tahun Yang Lalu


Sebuah potongan tengkorak ditemukan di Tanzania. Potongan itu menunjukkan bahwa nenek moyang manusia telah memakan daging setidaknya 1,5 juta tahun lalu. Antropolog telah menggali dan menemukan 2 inci tengkorak manusia itu di Olduvai George, Tanzania Utara.

Charles Musiba, profesor antropologi di Universitas Colorado, Amerika Serikat yang membantu penemuan itu mengatakan memakan daging adalah pemenuhan protein yang berkontribusi terhadap pertumbuhan otak. “Apa yang kami temukan memperlihatkan bahwa 1,5 juta tahun yang lalu manusia tidak memakan daging secara oportunis. Mereka aktif berburu dan mengkonsumsi daging,” katanya.

Tengkorak yang ditemukan adalah milik seorang anak berumur 2 tahun. Fragmen tulang menunjukkan tanda-tanda hyperostosis porotic, yaitu kekurangan gizi yang sering dikaitkan jika manusia tiba-tiba kekurangan protein ketika tidak diasupi daging.

Fragmen tengkorak itu menunjukkan dugaan bahwa anak tersebut telah meninggal pada saat ia mulai makan makanan padat, tetapi tak diasupi oleh daging.

Penelitian yang diterbitkan dalam jurnal PLos ONE menunjukkan bahwa nenek moyang kita ternyata makan daging secara teratur, jauh lebih awal dari yang diyakini sebelumnya. Musiba mengatakan manusia purba yang diyakini hanya memakan tumbuh-tumbuhan telah memakan daging sebagai asupan protein untuk tumbuh dan mendorong mereka untuk berevolusi.

Manusia adalah salah satu spesies yang masih hidup dengan ukuran otak yang besar untuk rasio ukuran tubuh. Sementara simpanse, kerabat dekat manusia, hanya memakan sedikit daging. Mereka hanya memiliki kapasitas otak yang jauh lebih sedikit daripada manusia.

Kucing Ternyata Juga Mengalami Penyakit Alzheimer dan Pikun


Para ilmuwan menemukan protein yang biasa ditemukan pada penderita Alzheimer di otak kucing liar. Penelitian yang dilakukan oleh para peneliti Jepang itu memberikan petunjuk baru terhadap proses penuaan kucing.

Temuan itu diperkirakan berkontribusi terhadap penelitian tentang bagaimana penyakit itu bekerja. Dalam studi yang dipublikasikan di jurnal ilmiah Plos One, para peneliti memeriksa bangkai 14 kucing Tsushima Leopard, spesies langka yang hidup di Pulau Tsushima, Jepang barat.

Jaringan otak dari lima kucing itu mengandung Neurofibrillary tangles (NFT), protein yang biasa ditemukan pada manusia penderita Alzheimer, tetapi jarang ditemukan pada hewan. Penelitian itu juga mendeteksi jejak AB42 peptida, yang diketahui menyebabkan kemunduran mental.

James Chambers, asisten profesor patologi hewan di Universitas Tokyo, mengatakan kepada Kyodo News: “Jika kita membandingkan perubahan dalam otak di antara beberapa binatang yang berbeda, kita mungkin dapat memberikan kontribusi pada penelitian mekanisme penyakit itu.”

Para peneliti Jepang mengatakan tidak ada cara untuk menentukan apakah kucing-kucing Tsushima itu menampakkan gejala mirip dementia (pikun) karena hewan-hewan itu tidak dipantau saat mereka masih hidup.

Mereka berharap melakukan penelitian serupa pada kucing rumah, yang dikenal menjadi rewel, lupa makanan mereka, berjalan miring, dan menampilkan perilaku penuaan lainnya.

Para ilmuwan telah lama menduga hewan menderita semacam dementia seperti manusia. Studi oleh University of California Davis mengungkapkan hampir sepertiga dari anjing berusia 11 hingga 12 tahun dan 68 persen, yang berusia 15 sampai 16 tahun, mengembangkan beberapa tanda penurunan kognitif.

Pada kucing, 28 persen usia antara 11 dan 14 tahun menunjukkan tanda-tanda demensia. Sama seperti manusia, dokter hewan mengatakan diet yang baik, stimulasi, dan persahabatan adalah kunci untuk membalikkan penurunan mental.

Penyebab Rasa Mual Berhasil Dijelaskan Lewat Meneliti Tikus


Penelitian terhadap otak tikus di dalam laboratorium ternyata bisa menjelaskan kepada kita tentang rasa mual, sensasi yang umum tapi kurang dipahami. “Kami tahu tentang reflek muntah. Tetapi pengalaman tentang mual adalah sesuatu yang masih sedikit kita ketahui,” kata Linda Parker, psikolog Universitas Guelph.

Dengan mempelajari pikiran tikus, Parker dan teman-temannya menemukan mekanisme pada otak tikus yang bertanggung jawab untuk rasa mual. Meskipun tikus-tikus ini tidak muntah, mereka memiliki reaksi jijik yang dinamakan gaping. Ini terjadi ketika mereka mencicipi makanan yang pernah membuat sakit di masa lalu.

Dalam studi yang dipublikasi pekan ini dalam Journal of Neuroscience, para peneliti menunjukkan bahwa menghilangkan serotonin pada seluruh insular cortex –wilayah rasa dan rasa sakit di otak–ternyata menghentikan keadaan gaping pada tikus.

Para ilmuwan itu kemudian memberi mereka obat yang mengaktifkan serotonin-3 reseptor dan juga yang bersifat memblok bagian-bagian tertentu dari korteks insular. Mereka menemukan bahwa dalam visceral insular korteks, mengaktifkan serotonin dapat menyebabkan mual. Sementara memblokir bahan kimia otak ini akan mengurangi efek mual.

Banyak obat dan perawatan, seperti kemoterapi, sering kali menyebabkan rasa mual sebagai efek samping. Para peneliti berharap studi ini akan membawa pemahaman yang lebih baik terhadap sensasi ini dan akhirnya mengarah pada cara mengontrol rasa mual.

Ditemukan Bakteri Yang Mampu Membuat Emas 24 Karat


Peneliti dari Michigan State University menemukan cara menciptakan emas di laboratorium. Pencarian emas kini tak lagi harus dilakukan dengan mengeruk tanah dan merusak alam.

Adalah bakteri Cupriavidus metallidurans yang menjadi kunci resep ampuh tersebut. Bakteri ini sanggup mencerna emas cair beracun–disebut emas klorida–dan menjadikannya emas 24 karat. Proses biokimia tersebut dilakukan dalam waktu satu pekan.

“Bakteri alkimia mengubah material tidak berguna menjadi logam mulia,” ujar peneliti mikrobiologi Michigan State University Kazem Kashefi, melalui siaran pers di situs universitas itu.

Dalam laporannya, ia menyebutkan bakteri tersebut bisa membuat emas 25 kali lipat lebih banyak dari perkiraan awal.

Kesuksesan penelitian ini mengingatkan orang pada upaya pencarian benda yang bisa mengubah batu menjadi emas atau dikenal sebagai ilmu alkimia. Bahkan, ilmuwan besar seperti Isaac Newton ikut tergila-gila mencari material sakti ini. Hingga akhir hayatnya, Newton tak kunjung menemukan resep rahasia tersebut.

Dari tangan Kashefi, alat pembuat emas ini berpindah ke tangan pakar seni Michigan State University Adam Brown. Brown menjadikan mesin itu sebagai instalasi seni. Kedua pakar lintas keahlian ini tergabung ke dalam kelompok The Great Work of the Metal Lover.

Perangkat pembuat emas ini ditampilkan pada kompetisi seni maya Prix Ars Electronica di Austria yang berakhir 7 Oktober lalu. Pada pameran, alat ditampilkan sebagai laboratorium portabel terbuat dari perangkat keras bersepuh emas 24 karat, bioreaktor kaca, dan bakteri.

Brown tak sungkan menyebut penelitian ini sebagai bagian dari ilmu alkimia. “Ini adalah neo-alkemi. Perincian proyek ini merupakan persilangan mikrobiologi dan alkimia,” ujar dia.

Keinginan peneliti memperbesar skala produksi alat ini terhadang besarnya biaya yang dibutuhkan untuk membuat alat ini. Namun, menurut Brown, alat yang dipamerkan bertujuan menggugah etika. Hasil penelitian ini membuat ketamakan dan kerusakan lingkungan akibat penambangan emas menjadi sesuatu yang absurd.

Modifikasi Skutik Mio Menjadi Motor Cargo Pengangkut Barang


Skutik identik dengan kelincahan dan kemampuannya bermanuver di jalanan sempit. Inilah yang membuat Susanto Gunawan, bereksperimen dengan Yamaha Mio Soul 2008. Modifikator 909 Hotmatic Bandung itu mengobrak-abriknya hingga menjadi sepeda motor pengangkut barang (cargo) dan bermanfaat sebagai rekan bisnis!

Bekerjasama dengan rekannya sesama modifikator, Johny Lipurnomo (Custom World), Teddy (Deal Motor Sport) dan Ryan (Aboben), Mio standar hanya disisakan mesin, selebihnya custom. ”Konsepnya adalah menghadirkan kendaraan cargo pengganti mobil. Skutik yang simpel kalau dijadikan kendaraan cargo bisa membantu pengiriman di daerah pelosok,” ujar Susanto yang kerap disapa Yayank.
Matic Express Cargo
Untuk mewujudkan konsep itu, sasis diracik ulang menggunakan pipa seamless 3,2 inci. Bagian tengahnya dibuat seperti lubang untuk mengangkut barang bawaan. Ukuran lubang tengah itu disesuaikan dengan boks yang biasa dipakai untuk mengantar barang semacam sepeda motor delivery service. Secara skala, Mio Soul cargo itu pun lebih panjang dan tinggi.

Tak hanya penampilan yang dikejar, Yayank dan kawan-kawan juga harus memikirkan soal handling agar sepeda motor ini lincah dipakai mengantar barang. Dia pun membatasi berat barang yang akan dibawa, maksimal 50 kg dengan ukuran lubang di tengah bodi tidak melebihi lebar bodi. Dengan begitu, kedua kaki pengendara pun bisa ”mencengkeram” bagian cargo dan tak mempengaruhi sisi ergonomis.

Setang juga dibuat berbeda, posisinya menyesuaikan dengan panjang motor untuk menjaga kestabilan dan keseimbangan. Suspensi depan pakai swing arm yang dipadukan dengan ban ATV. Tujuannya jelas, sepeda motor cargo ini bisa dipakai di segala medan, bahkan jalanan berbatu dan becek di pelosok daerah dengan infrastruktur jalannya sangat buruk.

Selain bodi yang memakai bahan fiberglass, crankcase dibuat lebih panjang sekitar 10mm. Caranya, disambung pakai crankcase Mio lainnya. Hasil modifikasinya dinamai Matic Express Cargo 909 dan siap melenggang. Tak sia-sia, garapannya itu menjadi yang terbaik dalam Yamaha Cuzztomatic tahun lalu dan berangkat ke Tokyo Motor Show.

Ditemukan Warna Yang Tidak Pernah Akan Pudar


Para ilmuwan menemukan cara alami untuk membuat warna yang tidak pernah pudar. Ini sebuah teknik yang menurut mereka bisa menggantikan zat pewarna yang digunakan dalam industri dengan ekstrak tanaman alami di berbagai produk —dari pewarna makanan hingga benang pengaman di uang kertas.

Lapisan selulosa yang merefleksikan cahaya tertentu, struktur warna yang ditemukan dalam bulu merak, kumbang, dan kupu-kupu, secara khusus memberikan warna biru yang terang pada tanaman Pollia condensata, menurut para ilmuwan.

Sampel buah itu dalam koleksi tumbuhan yang berasal dari abad ke-19 tidak kehilangan cahaya atau intensitasnya, menurut hasil penelitian mereka.

“Dengan mengambil inspirasi dari alam, mungkin sekali untuk mendapatkan bahan multifungsi cerdas yang murah dan melimpah seperti selulosa,” tutur fisikawan University of Cambridge, Silvia Vignolini.

“Bahan itu 10 kali lebih terang dan bersinar dari warna yang diperoleh dari zat pewarna,” kata Vignolini, yang melakukan penelitian itu dengan pakar tanaman Beverley Glover.

Meskipun buah itu tidak memiliki nilai gizi, burung-burung tertarik dengan warnanya yang cerah, mungkin berfungsi sebagai hiasan sarang mereka atau untuk menarik pasangan, yang membantu dalam penyebaran biji.

“Tanaman kecil ini memiliki cara yang fantastis untuk membuat sinyal yang menarik, harum, bersinar, dan penuh warna kepada setiap burung di sekitarnya, tanpa membuang cadangan fotosintesis apa pun untuk makanan burung,” tutur Glover.

Dan, tidak seperti zat pewarna, struktur warnanya tidak memudar oleh waktu karena tidak rusak seiring penyerapan cahaya.

“Dapat dimakan, nanostruktur berbasis selulosa dengan struktur warna bisa digunakan sebagai pengganti untuk pewarna berbahaya dan pewarna makanan,” tutur Vignolini. “Industri kertas siap untuk mengekstrak dan menggunakan selulosa dan prosesnya bisa diadaptasi untuk pemberian label pengaman atau kosmetik,”katanya.

“Struktur selulosa memiliki respon optik yang sangat kuat dan tidak memberikan dampak buruk kepada tubuh manusia,”

Manfaat lain dari teknik ini adalah warna yang diinginkan bisa diperoleh dengan menambahkan lapisan di dalam struktur untuk merefleksikan gelombang yang berbeda, ketimbang membeli zat pewarna baru.

Penelitian serupa yang dilakukan Peter Vukusic di Exeter University tentang struktur yang menciptakan warna pada sayap kupu-kupu menginspirasi pembuatan makeup yang bebas zat pewarna dari perusahaan Prancis, L’Oreal.

“Saya melihat betapa briliannya beberapa struktur warna ini,” tutur Vukusic kepada Reuters. “Beberapa spesies yang dikoleksi dari abad ke-18 masih tetap bersinar sampai sekarang seperti kupu-kupu yang baru menetas.”

Vukusic mengatakan meskipun beberapa perusahaan mobil, seperti BMW, juga mengeksploitasi fenomena ini untuk membuat cat penuh warna yang akan akan berubah jika dilihat dari sudut yang lain, “Itu masih belum apa-apa jika dibandingkan dengan apa yang Anda lihat di alam.”

Dia mengatatakan bahwa jika tantangan produksi ini bisa diwujudkan, selulosa yang melimpah tersebut — dengan bahan material dari tanaman berdaun hijau — akan menjadi material dengan potensi yang besar.

Penelitian tersebut diterbitkan pada 10 September di jurnal ilmiah “Proceedings of the National Academy of Sciences”.

Ciri Ciri Orang Kasar Di Facebook dan Jaringan Sosial Menurut Penelitian Ilmiah


Jennifer Bristol baru-baru ini kehilangan salah satu kawan lamanya gara-gara berdebat di Facebook soal anjing pit bull. Masalahnya berawal saat dia menyertakan artikel koran yang menyebut bahwa pit bull adalah jenis anjing yang paling bahaya di New York City tahun lalu. “Apa pendapat Anda…833 insiden dengan pit bull,” tulis Bristol, publisis dan advokat kesejahteraan hewan di Manhattan.

Teman-temannya, kebanyakan juga bekerja di bidang kesejahteraan hewan, langsung berbagi opini. Salah satunya mengatakan bahwa “pit bull” bukanlah satu jenis ras resmi; yang lain ada yang mengatakan bahwa “pemilik tidak bertanggung jawab” sering terlibat saat anjing menjadi kasar. Sementara ada yang mengatakan labrador hitam malah lebih sering menggigit.

Kemudian teman masa kecil Bristol mengatakan, “Ini dari seorang dokter di ruang gawat darurat, dalam 15 tahun pekerjaan saya, saya belum pernah melihat gigitan dari anjing golden retriever yang harus dirawat di ruang operasi atau membunuh korbannya.”

Komentar ini pun ramai mendapat balasan. Satu orang meminta untuk melihat penelitian ilmiah si dokter, yang lain menuduh dia tak mengonfirmasi pada para pasiennya apakah mereka benar-benar digigit oleh pit bull. Komentar lain menyarankan si dokter untuk “keluar dari ruang gawat darurat” untuk melihat apa yang sebenarnya terjadi.

“Konyol sekali,” kata Bristol, yang memilih tak ikut campur dalam perdebatan. Teman lamanya itu, si dokter gawat darurat, langsung menghilangkan dia dari daftar teman keesokan paginya. Itu terjadi delapan bulan lalu. Sampai sekarang, ia belum mendengar kabar lagi dari si teman.

Kenapa kita sangat kejam satu sama lain di dunia maya? Entah itu di Facebook, Twitter, forum atau bagian komentar situs, kita berani mengatakan pada orang lain hal-hal yang tidak akan kita sampaikan langsung di depan orang tersebut. Tidakkah kita seharusnya berlaku sopan?

Anonimitas adalah kekuatan besar. Bersembunyi di balik nama palsu membuat kita tak terkalahkan, dan tak tampak. Meski tanpa anonimitas pun, pada banyak situs, identitas kita tetap bisa diketahui. Dan kita sama sekali tidak anonim di Facebook. Bahkan saat kita mengungkap identitas asli, tetap saja kita tak bisa berlaku sopan.

Menurut sebuah riset yang akan dipublikasikan dari para profesor di Columbia University dan University of Pittsburgh, membuka Facebook terbukti menurunkan kendali diri. Efeknya paling terlihat dengan orang-orang yang jaringan Facebooknya berisi teman-teman dekat, kata para peneliti.

Kebanyakan dari kita mempresentasikan citra yang berlebihan dari diri kita di Facebook. Citra positif ini–dan dorongan positif yang kita dapatkan dalam bentuk “like” mendorong rasa percaya diri kita. Kita pun cenderung besar kepala dan menunjukkan kendali diri yang rendah.

“Bayangkan ini sebagai efek dorongan: Anda merasa percaya diri dan nyaman sehingga merasa bisa melakukan itu,” kata Keith Wilcox, asisten profesor pemasaran di Columbia Business School dan salah satu penulis laporan. “Dan Anda ingin tetap merasa seperti itu, itu mungkin menjelaskan kenapa orang bisa keras membalas orang-orang yang tidak memiliki opini yang sama.” Tipe perilaku tanpa kendali, dan besar kepala ini “sering ditunjukkan oleh orang-orang yang dipengaruhi penilaiannya oleh alkohol,” kata dia.

Para peneliti melakukan lima rangkaian tes. Salah satunya, mereka bertanya pada 541 pengguna Facebook berapa lama waktu yang mereka habiskan di sana dan berapa banyak teman dekat yang mereka punya di jaringan Facebook. Mereka juga ditanyai soal aktivitas offline, termasuk soal hutang dan penggunaan kartu kredit, berat badan serta kebiasaan makan dan seberapa sering mereka bersosialisasi secara langsung dengan orang lain dalam seminggu.

Mereka yang sering menghabiskan waktu online dan memiliki banyak teman dekat dalam jaringan mereka lebih mungkin makan banyak tak teratur dan memiliki indeks massa tubuh yang lebih tinggi, termasuk juga memiliki hutang kartu kredit dan skor kredit yang rendah, menurut penelitian tersebut. Penelitian lain menemukan bahwa mereka yang menggunakan Facebook selama lima menit dan memiliki jaringan pertemanan kuat akan lebih memilih ngemil kue chocolate chip daripada snack kesehatan

Dalam penelitian ketiga, para profesor memberi peserta satu set anagram yang tak mungkin dipecahkan, tes IQ yang dihitung waktunya, lalu mengukur berapa lama waktu yang digunakan para peserta sampai mereka menyerah. Mereka menemukan orang-orang yang menghabiskan lebih banyak waktu di Facebook lebih mudah menyerah melakukan tugas sulit. Juru bicara Facebook menolak berbicara.

Lalu kenapa begitu banyak orang agresif online? Pertimbangkan komentar yang muncul akan kolom ini di halaman Facebook, dari seseorang yang tidak saya kenal, “Kenapa saya harus menulis ke Anda? Anda tidak akan membalas.”

Kita cenderung tidak malu-malu di dunia nyata karena kita tidak harus melihat reaksi dari orang lain yang kita komentari, kata Sherry Turkle, psikolog dan profesor ilmu sosial ilmiah dan teknologi di Massachusetts Institute of Technology. Karena sangat sulit melihat dan fokus pada kesamaan kita dengan orang lain, maka kita cenderung merendahkan derajat satu sama lain, kata dia.

Secara mengejutkan, kata Dr Turkle, banyak orang lupa bahwa mereka berbicara keras-keras saat berkomunikasi online. Terutama saat mengirim sesuatu dari smartphone, “Anda mengatakan sesuatu, tapi rasanya seperti Anda tidak melakukan apa-apa,” kata dia. “Jadi ketika Anda bilang, ‘Saya benci kamu’ menggunakan benda kecil ini (smartphone), rasanya seperti main-main. Tidak terasa seperti bermakna besar.”

Dan buat Facebook, namanya adalah bagian dari masalahnya. “Menjanjikan wajah dan tempat di mana kita akan memiliki teman,” kata Dr Turkle, penulis buku “Alone Together: Why We Expect More from Technology and Less from Each Other.” “Jika Anda mendapat komentar jelek di sana, Anda tidak siap. Sehingga Anda merasa dikhianati dua kali, dan Anda menyerang balik.”

Di Amerika Serikat, ini adalah musimnya saling serang soal politik, seperti yang dialami Chip Bolcik. Bolcik, 54, seorang pembaca berita televisi dan seorang independen (tak memilih Partai Republik atau Demokrat) dari Thousand Oaks, California, suka menanyakan hal-hal politik di halaman Facebooknya. “Saya sangat tertarik dengan cara berpikir orang-orang yang berbeda pandangan dari saya,” kata dia. “Dan kadang saya akan menanyakan hal-hal provokatif hanya demi hiburan melihat orang-orang saling berteriak satu sama lain.”

Dalam beberapa bulan terakhir, Bolcik kehilangan dua temannya karena perdebatan politik. Teman yang pertama marah pada dia setelah ia mengirim status yang meminta orang berdebat apakah penganut Mormon tergolong Kristen. (“Kamu sangat jauh dari faktanya, kamu tidak tahu apa yang kamu bicarakan,” ia menulis di halamannya, kemudian diikuti dengan, “Kamu seorang idiot.”)

Bolcik pun memblok si teman itu dari halamannya. “Saya akan membebaskan diskusi ini sampai kamu mengganggu saya,” kata dia. Kadang-kadang Bolcik menghapus seluruh percakapan.

Pertemanan kedua malah berakhir lebih kasar, setelah satu teman Bolcik menyinggung beberapa teman Facebooknya, termasuk Bolcik sendiri, dengan berulangkali menuliskan pandangannya. “Dia terus-terusan mengulang politiknya, dan tidak berdiskusi,” kata Bolcik. Bolcik kemudian menulis ke temannya dan mengatakan ia akan memblok dari halaman tersebut jika tidak mengubah perilakunya. Sebagai balasannya, teman tersebut membalas dengan bahasa vulgar dan menghapus Bolcik dari daftar temannya. “Saya cukup marah,” kata Bolcik.

Meski begitu, Bolcik tak bisa menahan diri dari mengipasi api. Saat sebuah diskusi politik menjadi panas dan dia tak suka arahnya, dia akan mengirim pesan privat ke salah satu kawannya yang suka menyerang dan mengundang orang tersebut dalam diskusi. Kemudian mereka akan membaca diskusi tersebut dan menyerang orang yang membuat marah Bolcik, “dan saya terlihat seperti orang baik.”