Monthly Archives: Juli 2011

Gajah ternyata Lebih Setia Kawan dan Tidak Pernah Lupa Kawan Dibandingkan Manusia


Gajah ternyata memiliki perilaku yang lebih mulia dari manusia. Mereka sangat suka berteman dan berkelompok. Bahkan, gajah Asia pintar membuat jejaring pertemanan. Hebatnya, mereka tak pernah melupakan kawan lama.

Perilaku unik ini terungkap lewat sebuah penelitian yang dilakukan Dr. Shermin de Silva dari University of Pennsylvania. “Meski rata-rata suka berteman, ada gajah yang memilih setia dengan beberapa teman saja,” kata Silva seperti dikutip dari Daily Mail, Rabu, 27 Juli 2011.

Menurut Silva, gajah bisa menemukan temannya meski terpisah oleh jarak yang jauh. Mereka bisa memanggil temannya atau menemukan kawan lamanya lewat aroma tubuh. “Karena itu, meski sudah lama tak bertemu, ketika bertemu kawan lama mereka bisa akrab lagi,” ujarnya.

Silva menjelaskan penelitian yang dia lakukan melibatkan 100 gajah betina Asia. Gajah itu hidup di Taman Nasional Uda Walawe di Sri Lanka. Silva meneliti perilaku mereka selama 20 bulan. Gajah Asia memiliki tubuh lebih kecil dibandingkan gajah Afrika. Selain tubuh, kuping mereka juga lebih kecil ketimbang gajah Afrika.

Penelitian ini menguatkan penelitian sebelumnya yang menyebutkan gajah hidup dalam kelompok-kelompok kecil. Biasanya gajah-gajah yang berkelompok adalah gajah betina, sedangkan si jantan memilih independen dan tak bergabung dalam kelompok manapun.

Ditemukan Kawah Gunung Berapi Raksasa Dibawah Permukaan Es Antartika


Para ilmuwan dari British Antarctic Survey berhasil memetakan rangkaian gunung berapi di bawah laut beku di dekat Antartika. Beberapa di antaranya masih aktif. Ini merupakan penemuan gunung berapi bawah laut pertama di kawasan tersebut.

Menggunakan kapal yang dilengkapi dengan teknologi pemetaan dasar laut RRS James Clark Ross, para ilmuwan menemukan 12 gunung berapi di daerah tersebut. Tinggi gunung bervariasi dan ada yang mencapai 3.000 meter lebih dari dasar laut.

Dalam ekspedisi ini, mereka juga menemukan kawah berdiameter 5.000 meter. Kawah ini diduga terbentuk akibat letusan gunung berapi. Sebanyak tujuh gunung yang aktif terhampar membentuk rantai mirip gugusan pulau.

Penemuan ini sangat penting untuk memahami apa yang sesungguhnya terjadi ketika gunung berapi di bawah laut meletus atau runtuh. Juga untuk mengetahui seberapa besar potensi terjadinya tsunami yang bisa ditimbulkan.

Selain itu, hal ini menarik untuk melihat ragam serta seberapa banyak kehidupan makhluk laut yang berada di lanskap bawah laut tersebut. Itu terkait dengan air panas yang ditimbulkan oleh aktivitas gunung berapi.

Berbicara pada simposium internasional bertema “Antarctic Earth Sciences” di Edinburgh, Inggris, pada awal bulan ini, Phil Leat dari British Antarctic Survey menuturkan, “Masih banyak rahasia aktivitas gunung berapi di bawah laut yang belum kita pahami.”

Menurut Leat, teknologi pemetaan bawah laut yang ada saat ini tak hanya menyuguhkan sepotong cerita tentang evolusi bumi, “Tapi juga memberi petunjuk mengenai seberapa bahaya ancaman yang ditimbulkan terhadap wilayah padat penduduk.”

Rangkaian gunung berapi bawah laut ini terbentang di South Sandwich Islands. Letaknya terkucil dan air laut di atasnya sebagian tertutup salju. Terakhir kali terjadi letusan di wilayah ini pada 2008. Leat mengaku tim yang dipimpinnya cukup terkejut oleh penemuan itu.

“Kami tak bermaksud mencari gunung berapi di sana. Kami mendatangi wilayah ini karena ada daerah yang tak dikenal di peta dan kami juga tak tahu ada apa di bawah sana. Kami hanya ingin mengisi kekosongan itu,” ucap Leat.

Selama penjelajahan, Leat mengaku banyak hal mengejutkan terjadi. “Sangat menyenangkan melihatnya,” ucap Leat. “Ketika kami sedang asyik mengamati gambar sonar dasar laut di layar monitor, tiba-tiba dasar laut seolah menjulang menghampiri kapal.”

Lain waktu, dia menuturkan, pada suatu malam mereka bertemu dengan gunung berapi yang sangat besar. Gunung tersebut sangat dekat dan seolah akan menerjang kapal RRS James Clark Ross. “Sangat menakutkan. Kami kira kapal akan membentur puncak gunung tersebut,” ujarnya.

Beruntung, kapal tersebut segera memutar haluan. Ketika pada siang hari mereka kembali ke daerah itu, ternyata didapati beberapa puncak gunung memang timbul ke permukaan laut. Tingginya sekitar 50 meter dari permukaan laut.

Meski kebanyakan dari puncak gunung tersebut tak terlihat dari permukaan laut dan harus dibantu dengan perangkat pemetaan tiga dimensi untuk mendeteksinya, para ilmuwan berkeyakinan bahwa yang mereka temukan adalah gunung berapi.

Kodok Kecil Tanzania Yang Sudah Punah Berhasil Dihidupkan Para Ahli Di Laboratorium


Di alam, kodok liar asal Tanzania ini tak ditemukan lagi. Kerusakan habitat membuat kodok kecil ini sudah punah di alam. Namun campur tangan peneliti biologi konservasi berhasil mengembangbiakkan binatang amfibi itu di laboratorium.

Kisah kodok spray kihansi ini berawal dari proyek konstruksi bendungan hidroelektrik di Sungai Kihansi, yang membelah Tanzania pada 1996. Ketika itu peneliti menemukan kodok kecil yang hidup di batuan tebing yang menciptakan air terjun setinggi 900 meter. Belakangan diketahui bahwa kodok ini hidup di daerah vertikal basah yang dihasilkan oleh cipratan air terjun.

Warna kulit kodok kihansi merupakan perpaduan antara kuning dan putih pucat. Isi perut kodok bisa terlihat jelas lantaran kulit perut binatang ini sedikit transparan.

Ukuran yang kecil membuat binatang ini hanya berbobot beberapa gram. Reproduksi kodok tersebut dilakukan melalui proses melahirkan, bukan bertelur. Induk kodok selalu membawa bayinya di belakang punggungnya.

“Spesies ini sangat unik dan endemik,” ujar James Gibbs, ahli biologi konservasi dari SUNY College of Environmental Science and Forestry (ESF), Syracuse, New York, Amerika Serikat. “Kodok ini adalah binatang vertebrata berkaki empat dengan luas hunian terkecil di dunia.”

Pembangunan bendungan menyebabkan berkurangnya debit air yang mengaliri sungai. Akibatnya, air terjun nyaris berkurang drastis, sehingga menyebabkan penurunan populasi kodok.

Upaya menyelamatkan populasi kodok dilakukan dengan memindahkan 500 ekor hewan tersebut ke Kebun Binatang Bronx, New York. Namun di tempat barunya, kodok ini sulit bertahan hidup sehingga jumlah individu yang bertahan hidup menyusut.

Sebagian individu yang masih hidup dipindahkan ke Kebun Binatang Toledo di Ohio. Di tempat ini, peneliti membiakkan 50 kodok. Dalam waktu singkat, jumlah kodok berkembang pesat. Pemerintah Tanzania mendatangi peneliti dan meminta agar binatang ini dikembalikan ke habitatnya.

Namun Gibbs dan timnya enggan memenuhi kemauan pemerintah Tanzania. Menurut mereka, harus dilakukan penelitian terhadap habitat asli kodok kecil ini. Kehadiran jamur patogen chytrid di lokasi asalnya bisa mengancam kodok kecil tersebut. “Kami tidak ingin kodok kembali ke habitatnya tapi menderita,” ujar Gibbs.

BATAN Seleski Gandum Mutan Untuk Bibit Unggul


Badan Tenaga Nuklir Nasional (Batan) menyeleksi ribuan biji gandum mutan hasil radiasi untuk dijadikan benih varietas unggul yang mampu ditanam di dataran rendah tropis Indonesia.

“Gandum adalah makanan pokok kedua setelah padi tapi kita mengimpor gandum 100 persen. Penyebabnya tanaman ini sulit ditanam di dataran rendah tropis, sedangkan di dataran tinggi bisa, tetapi kalah bersaing dengan sayur-mayur,” kata pakar pemuliaan tanaman Batan Prof Dr Suranto Human di Jakarta, Selasa.

Karena itu untuk mengurangi impor gandum nasional yang pada 2010 sudah mencapai hampir 6 juta ton, Batan terus mencari bakal benih yang memiliki daya adaptai tinggi di daerah tropis sekaligus memiliki produktivitas tinggi.

“Radiasi dengan dosis 200-300 Gy akan menghasilkan ragam genetik terbanyak. Dari ribuan populasi hasil penyinaran ini kemudian ditanam hingga panen dan dicari galur yang terbaik, seperti yang cepat berbuah, yang malaynya besar atau bijinya banyak,” katanya.

Hasil dari penanaman yang pertama kemudian ditanam lagi dan seterusnya sampai generasi keempat atau lebih, baru kemudian dibawa ke Konsorsium Gandum Indonesia dan diajukan ke Kementerian Pertanian untuk disertifikasi.

“Saat ini gandum yang kami tanam di Cipanas sudah generasi kedua. Benihnya adalah hasil radiasi dari benih yang saya peroleh dari Australia pada Oktober 2010 lalu. Dari asalnya memang sudah memiliki ketahanan terhadap temperatur tinggi,” katanya.

Untuk tahap pertama, galur-galur ini ditanam di dataran tinggi lebih dulu (Cipanas adalah dataran tinggi, sekitar 1.000 meter di atas permukaan laut), baru kemudian secara bertahap diujicobakan ke dataran sedang dan berikutnya di dataran rendah.

Selain menanam biji-biji gandum mutasi baru, pihaknya bersama Konsorsium Gandum Indonesia juga sedang meneliti 15 galur gandum terbaik, tujuh di antaranya galur hasil radiasi Batan, misalnya CBD17 yang sudah ditanam di dataran rendah dan bisa tumbuh dengan baik.

“Yang ditanam di Bogor dan Sukabumi itu sudah generasi kelima. Produktivitasnya bisa 4-5 ton per hektare. Meski kalah jauh dengan gandum di Amerika Serikat atau Eropa yang produktivitasnya mencapai 10-11 ton per hektare, ini sudah bagus untuk dataran rendah tropis,” katanya.

Gandum ujarnya, tanaman yang sangat sensitif, karena hanya mau ditanam di daerah dingin tapi kering, kalau ditanam di daerah dingin tapi memiliki curah hujan tinggi, gandum tak mau tumbuh.

Industri Vaksin China Kian Aman dan Tangguh Serta Murah


Siapa yang tak kenal barang-barang buatan China? Aneka produk dari negeri “Tirai Bambu” itu dalam beberapa tahun terakhir ini “membanjiri” pasar dunia, mulai dari mainan anak-anak hingga persenjataan berteknologi tinggi, bahkan pesawat terbang.

Bukan hanya itu. Sebagaimana diberitakan media massa belum lama berselang, China (Tiongkok) dalam waktu dekat siap mengekspor vaksin dengan motto “vaksin murah”. Industri vaksin dunia memang semakin menggiurkan dan menarik negara-negara yang baru masuk, termasuk China.

Baru-baru ini, dalam acara Pacific Health Summit di Seattle, Amerika Serikat, delegasi China menyampaikan bahwa Badan Pengawas Obat dan Makanan (POM) China telah mendapatkan prakualifikasi (pengakuan) dari Badan Keseharan Dunia (WHO) serta menyebutkan kesiapan industri vaksinnya untuk memasuki pasar global dalam tiga tahun mendatang.

Oleh karena itu dalam tiga tahun ke depan persaingan bisnis vaksin dunia akan mengalami perubahan, dan tentunya harus diantisipasi, khususnya oleh produsen vaksin PT Bio Farma (Persero) yang merupakan salah satu BUMN kebanggaan nasional.

Sejauh ini, terkait dengan vaksin yang diakui WHO, negara-negara yang mayoritas berpenduduk Muslim mengeluhkan sulitnya mendapat pengakuan atau prakualifikasi dari WHO atas produk vaksin mereka.

Dari 23 negara penghasil vaksin yang mayoritas berpenduduk Muslim, baru Indonesia (dalam hal ini Bio Farma) yang mendapatkan berbagai sertifikat prakualifikasi untuk produk vaksin, yakni untuk vaksin Polio dan Campak serta vaksin Td.

WHO menetapkan, vaksin yang akan diproses untuk mendapatkan prakualifikasi harus memenuhi persyaratan badan regulasi nasional.

National Regulatory Authority (NRA) itu ada di masing-masing negara pembuat vaksin. Khusus untuk Indonesia, misalnya, perlu memenuhi persyaratan dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM).

Sementara itu pertemuan ke-64 World Health Assembly (Majelis Kesehatan Dunia) yang diselenggarakan WHO pada April 2011, antara lain menetapkan “Dekade vaksin untuk seluruh negara di dunia tahun 2011-2020”. Arahan WHO itu semakin memperkuat arti pentingnya vaksin bagi kesehatan masyarakat internasional.

Arahan tersebut sangat strategis mengingat vaksinasi merupakan salah satu upaya penting dalam pembangunan kesehatan masyarakat, terutama dalam hal pencegahan infeksi dari berbagai penyakit khususnya pada balita seperti Infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), pneumonia, dan campak.

Selain itu, vaksin merupakan salah satu instrumen penting dalam pencapaian Millenium Development Goals (MDGs), terutama goal (tujuan) yang ke-4, yakni menurunkan tingkat kematian balita hingga dua-pertiga dalam periode 1990-2015.

Dengan demikian, semakin jelas bahwa upaya yang berkelanjutan dalam pengembangan vaksin-vaksin baru atau improvement (perbaikan) dari vaksin yang sudah ada memang sangat diperlukan oleh penduduk dunia.

Strategi Kemitraan
Dalam Dekade Vaksin 2011-2020 antara lain juga disebutkan bahwa pelayanan imunisasi pada dekade ini adalah “Meningkatkan kesadaran pentingnya imunisasi sebagai hak asasi manusia serta pemerataan imunisasi untuk
seluruh masyarakat dari segala usia”.

Dalam upaya mendukung arahan tersebut, Bio Farma bekerjasama dengan Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan (Litbangkes) Kementerian Kesehatan menyelenggarakan Simposium Riset Vaksin Nasional dengan tema “Harmonisasi Riset Vaksin Nasional dalam Menyongsong Dekade Vaksin tahun 2011-2020” pada 26 – 27 Juli 2011 di Jakarta.

Kepala Bagian Humas Bio Farma, Neneng Nurlaela baru-baru ini kepada ANTARA di Jakarta menjelaskan, simposium riset vaksin tersebut dilaksanakan sebagai langkah awal menuju Dekade Vaksin tahun 2011-2020 yang telah direkomendasikan WHO.

Simposium dalam rangkaian kegiatan peringatan hari ulang tahun (HUT) Bio Farma ke-121 itu juga diselenggarakan dalam kaitan dengan program Millenium Development Goal’s (MDG’s) bidang kesehatan.

Tujuannya adalah menjalin komunikasi antara akademisi, kalangan bisnis dan pemerintah serta membangun komitmen bersama dalam hal kemandirian riset vaksin nasional. Tujuan lain adalah membentuk forum riset vaksin nasional dan menyusun roadmap riset vaksin nasional.

Pembicara pada simposium itu antara lain Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan Biomedis dan Farmasi Litbangkes Kementrian Kesehatan Ondri Dwi Sampurno, Wakil Menteri Pendidikan Nasional Dr Fasli Jalal, Anggota Komisi IX DPR Prof Dr Hj. A. Dinajani H Mahdi, dan Dirut Bio Farma Iskandar.

Selain itu juga diadakan Round Table Discussion yang membahas pengembangan riset vaksin khususnya yang dibutuhkan oleh Indonesia seperti Rotavirus, Tuberkulosis, Malaria, dan HIV serta kebijakan riset vaksin nasional dan regulasi plus pendanaannya.

Bio Farma yang pada 6 Agustus 2011 genap berusia 121 tahun dalam simposium riset vaksin nasional itu juga menandatangani tiga nota kesefahaman (MoU), masing-masing dengan Universitas Brawijaya Malang, Universitas Indonesia, dan Universitas Jenderal Ahmad Yani (Unjani).

Pada akhir tahun depan Bio Farma juga akan melaunching produk baru, yakni vaksin pentavalent (vaksin yang memberikan kekebalan tubuh bagi bayi/anak) yang terdiri dari lima antigen (zat yang merangsang respon imun) sekaligus, yakni Difteri, Tetanus, Pertusis, Hepatitis B dan HIB.

Terkait dengan makin dibutuhkannya vaksin oleh masyarakat dunia serta meningkatnya persaingan industri vaksin sehubungan dengan kesiapan China mengekspor vaksin dengan harga murah, Dirut Bio Farma Iskandar baru-baru
ini kepada ANTARA di Jakarta menjelaskan bahwa pihaknya akan berupaya mengubah persaingan atau ancaman menjadi tantangan dan peluang.

Menurut Iskandar, salah satu upaya yang dipertimbangkan Bio Farma adalah strategi partnership (kemitraan) dengan industri vaksin China serta strategi efisiensi dan efektivitas dalam pembiayaan, sehingga Bio Farma akan tetap bersaing di pasar global, selain juga tetap mengkampanyekan “vaksin aman”.

Bio Farma Selenggarakan Simposium Riset Vaksin Nasional Harmonisasi Riset Vaksin Nasional dalam Menyongsong Dekade Vaksin


PT Bio Farma (Persero) bekerja sama dengan Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan (Kementerian Kesehatan menyelenggarakan Simposium Riset Vaksin Nasional dengan tema “Harmonisasi Riset Vaksin Nasional dalam Menyongsong Dekade Vaksin tahun 2011-2020” pada 26 – 27 Juli di Jakarta.

Kepala Bagian Humas Bio Farma, Neneng Nurlaela, kepada ANTARA di Jakarta, Selasa menjelaskan, simposium riset vaksin tersebut dilaksanakan sebagai langkah awal menuju Dasawarsa Vaksin tahun 2011-2020 yang telah direkomendasikan Badan Kesehatan Dunia (WHO).

Simposium dalam rangkaian kegiatan peringatan HUT Bio Farma ke-121 itu juga diselenggarakan dalam kaitan dengan program Millenium Development Goal’s (MDG`s) bidang kesehatan.

Tujuannya adalah menjalin komunikasi antara akademisi, kalangan bisnis dan pemerintah serta membangun komitmen bersama dalam hal kemandirian riset vaksin nasional. Tujuan lain adalah membentuk forum riset vaksin nasional dan menyusun roadmap riset vaksin nasional.

Acara tersebut akan dihadiri sekitar 200 peserta dari kalangan perguruan tinggi, DPR, dan Pemerintah (Kementerian Kesehatan, Kementerian Pendidikan Nasional, dan Kementerian Riset dan Teknologi) serta Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Komite Inovasi Nasional (KIN), dan jajaran Direksi Bio Farma.

Pada simposium itu akan hadir peneliti dari dalam maupun luar negeri sebagai pembicara, antara lain Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan Biomedis dan Farmasi Litbangkes Kementerian Kesehatan Ondri Dwi Sampurno, Wakil Menteri Pendidikan Nasional Fasli Jalal, Anggota Komisi IX DPR Prof Dr Hj. A. Dinajani H Mahdi, dan Dirut Bio Farma Iskandar.

Selain itu juga akan diadakan Round Table Discussion yang membahas pengembangan riset vaksin khususnya yang dibutuhkan oleh Indonesia seperti Rotavirus, Tuberkulosis, Malaria, dan HIV, serta kebijakan riset vaksin nasional dan regulasi plus pendanaannya.

Kabag Humas Bio Farma juga menjelaskan, salah satu tujuan Dekade Vaksin 2011-2020 adalah meningkatkan kesadaran pentingnya imunisasi sebagai hak asasi manusia dan pemerataan imunisasi untuk seluruh masyarakat dari segala usia.

Dalam upaya mendukung tujuan tersebut, Bio Farma juga akan melakukan penandatanganan dua Nota Kesepahaman (MoU), masing-masing dengan Universitas Brawijaya untuk riset vaksin kontrasepsi pria, dan dengan Universitas Jendral Achmad Yani untuk riset vaksin Rabies.

Selain itu juga akan dilakukan penandatanganan perjanjian dengan Universitas Indonesia untuk riset vaksin HPV, HIV, dan AI. Pada akhir tahun depan Bio Farma juga akan meluncurkan produk baru yaitu vaksin pentavalent yang terdiri atas lima antigen sekaligus, terdiri atas Difteri, Tetanus, Pertusis, Hepatitis B dan HIB.

“Dengan diadakannya simposium ini diharapkan Pemerintah dapat memberikan dukungan terhadap kegiatan riset vaksin nasional, selain juga dapat diwujudkannya pemerataan pemberian vaksin sedini mungkin kepada seluruh masyarakat,” kata Kabag Humas Bio Farma

Ciri Ciri Anak Yang Terkena Diabetes Tipe I dan II serta Cara Merawatnya


Faiz, anak lelaki berusia 6 tahun, tampak seperti anak-anak lain seusianya, lincah dan aktif bergerak. Tapi tahun lalu, ia sempat membuat kedua orang tuanya gelisah.

“Awalnya kami pikir tak masalah ketika dia mulai suka makan dan sering minum. Tapi, ketika berat badannya tetap 11 kilogram, perutnya membuncit, dan mulai sering ngompol, padahal sudah lama sekali tidak demikian, kami mulai khawatir,” kata M. Arif Novianto, ayah Faiz, dalam acara seminar media tentang deteksi dini diabetes pada anak, pekan lalu.

Arif sangsi ketika dokter mendiagnosis Faiz mengidap penyakit paru-paru. Arif setengah memaksa dokter untuk melakukan tes darah. “Dokter angkat tangan ketika hasil tes gula darah Faiz mencapai angka 270 sebelum makan dan 450 sesudah makan,” kata Arif, dalam acara yang diselenggarakan Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) dan World Diabetes Foundation itu. Kadar gula darah yang aman adalah 100-140 mg/dl.

“Di keluarga besar sempat saling menyalahkan begitu disebut Faiz mengidap diabetes tipe I,” kata Arif. Padahal, menurut ahli endokrin anak dr Aman Bhakti Pulungan, SpA(K), narasumber dalam acara tersebut, diabetes melitus tipe I (DM tipe I) tidak lagi patuh kepada aturan keturunan yang hanya terjadi pada 10 persen kasus. Penyakit metabolik ini sebagian diduga juga akibat penyakit autoimun, infeksi virus, sel pankreas yang rusak, atau tubuh tak lagi bisa memproduksi cukup insulin.

“Bahkan juga yang asimtomatik atau sebabnya tidak diketahui,” kata dr Aman, yang juga merawat Faiz. Aman merujuk pada pasien lainnya, Arman Maulana Azhar, 18 tahun, remaja pengidap DM tipe I yang didiagnosis sejak kelas V sekolah dasar.

DM tipe I adalah kelainan sistemik yang terjadi akibat gangguan metabolisme yang ditandai dengan hiperglikemia kronik, yakni terjadi kerusakan pada sel penghasil insulin di liur lambung atau pankreas yang bertugas menjaga keseimbangan gula darah.

Pada satu titik, menurut dr Aman, lebih penting mencari solusi bagaimana menangani anak-anak yang terpilih mengidap DM tipe I ini, sebagaimana halnya perhatian yang didapat anak-anak yang mengidap DM tipe II. “Sebab, jika yang tipe II masih ada obat yang bisa dikonsumsi, yang tipe I tergantung insulin saja,” kata dr Aman.

“Pemerintah bukannya tidak memperhatikan kebutuhan pengidap diabetes tipe I ini. Tapi kami juga berharap ada gerakan dari komunitas untuk ikut menangani masalah ini,” kata Dr Ekowati Rahajeng, SKM, MKes, Direktur Pengendalian Penyakit Tidak Menular, dalam sambutannya.

“Menangani penyakit kronik memang berat bagi negara berkembang, seperti Indonesia, karena juga masih berhadapan dengan masalah penyakit infeksi,” kata dr Badriul Hegar, SpA(K), PhD, Ketua Umum Pengurus Pusat Dokter Anak Indonesia. Berdasarkan pendataan selama 2008-2010 Unit Kelompok Kerja Endiokrinologi Anak IDAI, sebanyak 674 anak mengidap DM tipe I di Indonesia.

Terlepas dari beratnya biaya yang harus dikeluarkan, dr Aman juga prihatin terhadap tingginya angka kesalahan dan keterlambatan diagnosis pada anak pengidap diabetes tipe I. Ini terjadi karena kesadaran dan pengetahuan masyarakat yang masih rendah soal DM tipe I. Selain kemungkinan terjadi hipoglikemi atau hiperglikemi, anak pengidap DM tipe I bisa terserang ketoasidosis diabetikum.

“Seperti Faiz, Arman juga sempat mengalami ketoasidosis sehingga harus dirawat sampai enam kali,” kata dr Aman. Ketoasidosis adalah kondisi ketika kadar gula darah meningkat tak terkendali sehingga menyebabkan tubuh membentuk zat sampingan keton. Keton menyebabkan darah menjadi asam yang meracuni otak sehingga kesadaran pasien menghilang. Serangan awalnya mulai sesak napas, muntah-muntah, sakit perut, kerusakan ginjal, katarak, jantung, hingga koma dan kematian.

Seorang pengidap DM tipe I harus mengambil “rapor” tiga bulan sekali. “Selama pemeriksaan darah HbA1C, bisa bertahan di bawah angka delapan bisa dikatakan mereka hampir normal,” kata Aman. “Intinya, jangan sampai lupa mengecek kadar gula darah.”

UTAMI WIDOWATI

Waspadai jika anak:

-Makan banyak tapi berat badan tak bertambah.
-Sering kehausan.
-Sering buang air kecil. Pada malam hari tiba-tiba sering mengompol, meski sebelumnya tidak pernah lagi sejak beranjak besar.
-Cepat lelah.
-Napas anak berbau aseton atau asam.
-Mudah terkena infeksi jamur pada kulit.
-Penglihatan kabur.
-Muntah dan sakit perut.

Empat pilar penanganan DM tipe I pada anak:
-Insulin dengan jumlah yang teratur dan terukur.
-Pengaturan pola makan, jenis, dan jumlahnya.
-Olahraga.
-Pemantauan rutin.
-Edukasi bagi anak, orang tua, keluarga, dan masyarakat di lingkungan anak.