Monthly Archives: Maret 2014

Joanne Milne Umur 39 Tahun Yang Lahir Tuli dan Buta Kini Bisa Mendengar Karena Kemajuan Teknologi


Joanne Milne dari Gateshead, Inggris, lahir dalam kondisi tuli karena sindrom Usher. Hal ini juga membuatnya kehilangan penglihatannya ketika ia berusia 20-an tahun. Dia sekarang buta juga.

Namun berkat dokter di Queen Elizabeth Hospital, Birmingham, Milne pulih dari ketuliannya. Sekitar empat minggu lalu, ia menjalani operasi untuk implan koklea. Minggu ini, ia kembali ke rumah sakit untuk mengaktifkan implan itu.

Dalam video yang diambil keluarganya, Milne duduk di hadapan seorang karyawan rumah sakit yang memperingatkan dengan bahasa isyarat bahwa pendengaran pertamanya mungkin akan agak asing baginya. Milna tersenyum, tapi air matanya meleleh.

“Bisakah Anda mendengar suara Anda sendiri?” tanya petugas. Ia menjawab, “Bisa.”

Video Milne kini diunggah ke Youtube, dan dengan cepat mendulang hingga 1,43 juta pengunjung dalam hitungan hari. Banyak komentar memuji Milne untuk keberaniannya serta kemajuan teknologi medis.

“Mendengar untuk pertama kalinya begitu emosional. Saya tidak bisa berhenti menangis,” kata Milne mengatakan kepada The Journal. “Selama 48 jam terakhir aku mendengar seseorang tertawa di belakangku, burung-burung berkicau…mereka tidak harus menyentuh lengan saya untuk memanggil saya. Ini merupakan lompatan besar.”

Milne sekarang gemar mendengarkan musik. Lagu pertama yang Milne dengar adalah Imagine John Lennon.

Gel Anti Retroviral Bisa Cegah Infeksi HIV AIDS


Ilmuwan menemukan bahwa gel yang dilengkapi dengan zat anti-retroviral bisa mencegah infeksi virus sejenis HIV pada monyet. Gel inovatif itu berprospek untuk digunakan pada manusia guna mencegah infeksi HIV.

Seperti diberitakan New York Times, Rabu (12/3/2014), gel itu memiliki kelebihan karena bisa mencegah individu terinfeksi HIV hingga tiga jam setelah hubungan seksual yang tidak aman. Gel ini bermanfaat, misalnya, bagi para korban perkosaan.

Ilmuwan melakukan uji coba terhadap 12 monyet. Sejumlah enam monyet diberi gel ini setelah tindakan menginfeksinya dengan HIV, sementara yang lainnya tidak. Ilmuwan menemukan bahwa infeksi memang bisa ditekan pada monyet yang diberi gel.

Gel yang diberikan pada monyet mengandung ralteglavir, jenis anti-retroviral yang telah digunakan untuk menangani pasien dengan HIV, disetujui penggunaannya oleh Food and Drugs Administration (FDA) di Amerika Serikat.

Hasil penelitian mengungkap, pada monyet yang diberi gel tiga jam setelah kontak dengan HIV, hanya lima dari enam individu yang terinfeksi. Pada grup lain, semuanya terinfeksi. Dalam eksperimen berbeda dengan tiga individu monyet yang diberi gel 30 menit sebelum kontak dengan HIV, hanya satu yang terinfeksi.

Walid Heneine dari Centers for Disease Control and Prevention yang memimpin studi mengatakan, ia tidak tahu mengapa masih ada yang terinfeksi. “Kami bertanya-tanya bagaimana dua individu bisa terinfeksi, tetapi kami tak akan bisa menemukan alasannya.”

Meski demikian, Robert M Grant, pakar AIDS dari University of California, mengatakan bahwa hasil studi ini mengagumkan dan seharusnya mendorong peneliti untuk segera mengujikannya terhadap manusia. Namun, ia mengatakan, ada tantangan etis untuk melakukannya.

Pelangi Muncul Di Planet Venus


Para astronom menangkap fenomena yang menyerupai pelangi di planet Venus melalui wahana Badan Antariksa Eropa.

Fenomena yang disebut glory ini untuk pertama kalinya terlihat di planet lain dan dapat membantu para ilmuwan memahami bahan kimia di Venus.

Di Bumi, pelangi dan glory terjadi saat Matahari bersinar di partikel air namun atmosfer di Venus diduga terdiri dari asam sulfur dan komponen lain yang tidak diketahui.

Pelangi biasanya terlihat melengkung di langit sementara glory jauh lebih kecil dan terdiri dari serangkaian warna berbentuk menyerupai cincin dan berpusat pada warna yang terang.

Glory hanya terlihat bila kamera diletakkan langsung antara Matahari dan partikel awan.

Dari Bumi, glory sering terlihat dari pesawat di seputar awan atau di sekitar bayangan para pendaki gunung di puncak pegunungan yang berkabut.

Gambar glory ini diambil oleh pesawat milik Badan Antariksa Eropa, Venus Express, yang berada di antara planet Venus dan Matahari.

Lumut Yang Sudah Mati Selama 1.500 Tahun Berhasil Dibangkitkan Ilmuwan


Ilmuwan asal Inggris sukses menghidupkan kembali lumut di Antartika yang telah “mati” selama 1.500 tahun. Sebelumnya, ilmuwan memang telah berhasil “menghidupkan” kembali bakteri berumur sama di Antartika. Namun, keberhasilan ini menandai kesuksesan pertama “menghidupkan” tumbuhan.

Ilmuwan senang sekaligus terkejut dengan keberhasilan ini. Mereka memublikasikan kesuksesan studinya di jurnal Current Biology. Tumpukan lumut tua menjadi keindahan wilayah Antartika, terbentuk sejak ribuan tahun lampau. Lumut itu bersemi saat musim panas.

Tumpukan lumut tertua berusia sekitar 5.000 tahun. Bagi ilmuwan, lumut itu berguna karena mampu menguak tabir misteri iklim di masa lampau. Sebelumnya, ilmuwan pernah mencoba “menghidupkan” kembali lumut yang beku. Namun, mereka saat itu baru berhasil mengaktifkan lumut yang terjebak di es selama 20 tahun.

Kini, ilmuwan British Antartics Survey telah berhasil mengambil sampel lumut dari lapisan permafrost dan “menghidupkan” lagi. Mereka menaruh sampel tersebut dalam inkubator bersuhu 17 derajat celsius, temperatur dimana lumut bersemi selama musim panas. Setelah 3 minggu, pucuk baru muncul.

“Banyak orang bertanya apakah kita melakukan hal yang rumit untuk menumbuhkannya kembali,” kata Peter Convey, salah satu yang terlibat riset. “Kami pada dasarnya hanya memotong setengahnya dan menaruhnya di dalam inkubator serta melakukan apapun untuk menumbuhkannya,” imbuhnya seperti dikutip BBC, Senin (17/3/2014).

Proses yang paling rumit mungkin adalah memastikan tak adanya kontaminan dalam kultur lumut yang berdasarkan penanggalan karbon berusia 1.530 tahun. Baik di Arktik maupun Antartika, lumut adalah bagian penting dari ekosistem. Organisme ini berperan seperti tumbuhan besar, menyerap karbon.

Pertanyaannya kemudian, bila lumut tua berhasil dihidupkan kembali, mampukah dia menyerap karbon yang dihasilkan manusia? Menurut Convey, lumut yang beku di Arktik sudah mati dan tak bisa direvitalisasi. Jadi, sudah tak bisa lagi menyerap karbon.

Di Antartika, lumut memang masih bisa “dihidupkan”. Namun, bila itu dilakukan, berapa lumut yang harus “dihidupkan”?
Apapun, riset ini menguak satu hal. Tumbuhan ternyata mampu bertahan jauh lebih lama dari yang diduga manusia sebelumnya.

30 Lumba Lumba Moncong Putih Tewas Karena Kelelahan Berenang


Tak kurang dari 30 lumba-lumba bermoncong putih tewas setelah terperangkap lautan beku di lepas pantai provinsi Newfoundland di timur Kanada, Senin (17/3/2014). Dari kawanan yang terjebak tersebut, hanya tiga yang masih hidup, itu pun dalam kondisi buruk. Kisah mereka tak seperti cerita heroik dalam film.

Pejabat perikanan Kanada mendatangi lokasi puluhan lumba-lumba tersebut terjebak pada Minggu (16/3/2014) dan Senin pagi. “Semua kecuali tiga lumba-lumba, tewas,” kata juru bicara kementerian tersebut, Larry Vaters, sebagaimana dikutip dari AFP.

Lumba-lumba, atau sering kali juga paus, akan sangat menderita ketika terjebak di lautan yang permukaannya membeku. Meski hidup di air, kedua binatang itu masuk kelompok mamalia, bernapas menggunakan paru-paru. Secara berkala mereka harus muncul ke permukaan air untuk mendapatkan udara bagi paru-paru mereka.

Saat permukaan laut membeku, lumba-lumba dan paus harus berjuang memecahkan lapisan es tersebut untuk muncul ke permukaan. Tak banyak yang bisa bertahan dengan luka yang mereka dapat untuk menembus lapisan es itu.

Kecepatan permukaan laut membeku di beberapa wilayah yang ada di jalur migrasi rutin mereka pun kerap melampaui kecepatan jelajah maupun kekuatan mereka setiap kali berusaha menembus lapisan itu. Kelelahan dan luka menjadi penyebab mereka tewas setelah tenggelam tanpa ada pasokan udara ke paru-paru.

Di perairan Newfoundland, pemandangan lumba-lumba, pesut, dan paus tidaklah asing terlihat selama musim semi, saat lautan tak membeku. Daerah perairan ini, kata para pejabat setempat, memiliki geografis yang unik dengan arus yang cenderung membentuk “perangkap ikan paus” dan hewan sejenisnya setiap kali musim dingin memburuk.

Vaters mencontohkan, enam paus biru juga terjebak di perairan yang sama pada 1987. Dia mengakui kondisi seperti yang dialami kawanan lumba-lumba tersebut menyedihkan. Namun, ujar dia, otoritas berwenang tak turun tangan membantu satwa-satwa yang mendapat kesulitan dari kondisi alam yang memburuk tersebut, kecuali pada kasus khusus.

Beragam film dan tulisan kerap mengangkat kisah mengharu-biru “perjuangan” mamalia laut bertahan hidup melintasi perubahan habitat. Secara alami, satwa-satwa ini memiliki ritme migrasi, berpindah dari satu perairan ke perairan lain, menyesuaikan musim. Hanya, kisah-kisah heroik dalam film itu — merujuk kalimat Vaters — butuh kasus teramat khusus untuk menjadi kejadian nyata.

Big Miracle, misalnya, adalah salah satu film yang menggambarkan dengan detail kondisi satwa mamalia yang berhadapan dengan kondisi alam keras ini. Film keluaran 2012 ini bercerita tentang sepasang “bapak dan ibu” paus beserta satu anaknya terjebak laut yang sangat cepat membeku di kawasan Kutub Utara.

Proses meloloskan mereka ke laut untuk melanjutkan migrasi, dalam film yang disebut terinspirasi kisah nyata, “menyatukan” pengusaha minyak Amerika yang mengincar kandungan minyak di Alaska, kapal perang Rusia, hingga pasukan cadangan Amerika Serikat. Usaha besar itu menyusul berita dari kontributor televisi lokal yang terus mengangkat kisah itu, di tengah hiruk-pikuk politik menjelang pemilu.

Diameter Planet Merkurius Menyusut Sebanyak 7 Kilometer


Planet terkecil di Tata Surya, Merkurius, kini semakin kecil. Riset terbaru menunjukkan, Merkurius 7 km lebih kecil dari saat terbentuk 4,5 miliar tahun lalu. Planet terdalam tersebut dalam perjalanan waktu terus mendingin sehingga permukaannya retak dan keriput, menyusut dan makin kecil.

Mengecilnya Merkurius sebenarnya sudah diketahui sejak pertengahan tahun 1970-an ketika ilmuwan meneliti planet itu dengan wahana Mariner 10. Namun, data terbaru yang dihasilkan oleh wahana antariksa Messenger berhasil memberikan gambaran lebih tepat tentang penyusutan Merkurius.

Mariner 10 mengitari Merkurius dua kali, yakni pada 1974 dan 1975. Wahana itu memotret 45 persen permukaan Merkurius. Dengan wahana itu, ilmuwan menyadari bahwa retakan panjang di permukaan Merkurius yang muncul karena batuan terdorong naik ternyata memendek.

Berdasarkan perkiraan saat itu, Merkurius mengalami penyusutan diameter sebanyak 1-3 km sepanjang sejarah “hidupnya”. Namun, ilmuwan menyadari bahwa penyusutan itu secara teori terlalu sedikit untuk jangka waktu 4 miliar tahun lebih.

Saat Messenger mulai mengorbit Merkurius pada 2011, ilmuwan memanfaatkannya untuk mencitrakan semua (100 persen) permukaan Merkurius.Hasil penelitian terbaru ini, seperti yang dipublikasikan di jurnal Nature Geoscience, mengungkap bahwa Merkurius menyusut 7 km.

Paul Byrne dari Carnegie Institution di Washington yang menjadi pimpinan studi ini mengungkap bahwa permukaan Merkurius mengagumkan.”Beberapa retakan di Merkurius sangat besar,” katanya seperti dikutip BBC, Minggu (16/3/2014) kemarin.

“Ada struktur yang disebut Enterprise Rupes di belahan selatan planet itu dan merupakan satu sistem retakan tunggal,” terangnya.”Panjangnya 1.000 km dan memiliki rentang 3 km. Bayangkan bila berdiri di depannya. Ini sabuk pegunungan versi Merkurius,” ujarnya.

Merkurius memiliki perbedaan lapisan batuan dengan Bumi. Inti planet ini hanya dilapisi oleh lapisan batuan setebal 400 km. Proses pembekuan pada inti tak terhindarkan, memengaruhi lapisan batuan di luarnya. Inilah yang menyebabkan Merkurius menyusut.

Fosil T Rex Ditemukan Di Kutub Utara


Ahli-ahli palaentologi telah menemukan sisa-sisa fosil Tyrannosaurus rex (T rex) kerdil di Alaska utara. Makhluk prasejarah tersebut, yang hidup di Arktik sekitar 70 juta tahun lalu, pada periode Cretaceous, berukuran setengah sepupunya yang ditakuti.

Diberi nama Nanuqsaurus, atau “kadal beruang kutub” dalam bahasa Inupiat Alaska, makhluk ini diperkirakan memiliki panjang enam meter dan berbobot 450 kilogram saat berusia dewasa. Para ahli mengatakan, T rex mini ini sangat mirip dengan sepupu dekatnya, raksasa tyrannosaur, yang berukuran dua kali lipat Nanuqsaurus.

Bagian tengkorak dan geraham atas dan bawah dari T rex kerdil itu ditemukan oleh para paleontolog dari Museum Perot di Dallas, Texas, di bagian tenggara AS. Mereka menemukannya saat menggali sisa-sisa kerangka dinosaurus kecil bertanduk tak dikenal lainnya.

Anthony Fiorillo menemukan tulang belulang Nanuqsaurus di tempat penggalian di Prince Creek Formation di North Slope, Alaska, di atas Lingkaran Arktik. Penemuan ini tidak terlalu mengejutkan bagi para paleontolog karena mereka telah menduga ada keberadaan pemangsa di Arktik berkat bekas gigi di tulang dinosaurus bertanduk.

Penemuan Tyrannosaurus kerdil ini diterbitkan dalam jurnal PLoS ONE.