Monthly Archives: Agustus 2014

Spesifikasi Yamaha FZ1 Streetfighter Pengawal Jokowi


Pengawalan berlapis standar kepresidenan sudah diberikan kepada presiden terpilih RI, Joko Widodo. Meski baru akan dilantik secara resmi pada Oktober mendatang, Jokowi (sapaan akrab Joko Widodo) sudah mendapat pengamanan dari Paspampres.

Pengawalan dilakukan saat Jokowi hendak bepergian menggunakan kendaraan. Konvoi panjang Paspampres dilakukan untuk menjamin keselamatannya. Pantauan, konvoi pengawalan Jokowi ini terdiri dari tujuh mobil dan dua sepeda motor.

Yang cukup menarik perhatian, terdapat dua sepeda motor sport yang dikendarai anggota Paspampres pada setiap konvoi. Dua moge ini berada di deretan depan dengan line up satu sepeda motor dua orang. Penumpang di belakang sudah siap dengan senapan serbu, sebagai garda terdepan bila terjadi ancaman.

Moge yang dipakai adalah model sport Yamaha FZ1 Fazer, yang tentu saja secara spesifikasi sudah mumpuni, bahkan untuk dikendarai di jalan bebas hambatan sekalipun. Sebenarnya Paspampres sudah menggunakan model sport ini sejak 2010, saat melakukan pengawalan terhadap Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

FZ1 berkategori naked bike streetfighter, empat silinder segaris 998 cc, DOHC, dengan sistem bahan bakar injeksi. Mesin mampu menyemburkan daya 150 tenaga kuda, dengan torsi 106 Nm, transmisi manual 6-percepatan. Model ini masih menggunakan rantai sebagai penghubung tenaga ke roda belakang dan memiliki catatan konsumsi bahan bakar 6,72 liter per 100 km, atau rata-rata 14,9 kpl.

Spesifikasi tersebut sudah lebih dari cukup untuk menandingi kecepatan mobil pengawal lainnya yang biasa digeber dengan kecepatan tinggi saat membawa orang nomor satu di Indonesia.

Saat pertama diluncurkan secara global, FZ1 dilepas dengan banderol 10.290 dollar AS atau setara dengan Rp 92 jutaan. Belum diketahui berapa harga resmi FZ1 bila dijual di Indonesia. Pada kelas streetfighter bermesin besar, Yamaha FZ1 sejajar dengan Suzuki Bandit 1250S, Honda CBR1000RR, dan Kawasaki Z1000.

Iklan

Hello Kitty Ternyata Bukan Kucing Tetapi Seorang Gadis Cilik


Siapa yang tak kenal karakter kartun asal Jepang, Hello Kitty. Selama 40 tahun, wajahnya bertebaran menghiasi tas ransel, kotak makan siang anak-anak, perhiasan unik hingga acara animasi televisi. Bahkan mejeng pesawat terbang dan dijadikan inspirasi taman bermain. Hello Kitty telah lama menjadi budaya pop Jepang yang sangat disukai anak-anak, karena karakternya yang sangat lucu dan imut. Begitu mendengar nama Hello Kitty, tiap orang akan membayangkan seekor kucing berwarna putih, dengan pita di kepalanya.

Namun fakta mengejutkan diutarakan oleh perusahaan pembuat karakter itu, Sanrio. Seperti dilansir dari Daily Mail, Kamis (28/8/2014), perusahaan tersebut ingin meluruskan satu hal: Hello Kitty sama sekali bukan seekor kucing. Informasi mengejutkan itu disampaikan di tengah persiapan perjalanan ke luar angkasa untuk merayakan ulang tahun ke-40 Hello Kitty di Los Angeles, Amerika Serikat.

Menurut Sanrio, identitas Hello Kitty sejatinya mewakili seorang gadis cilik, manusia, yang tinggal di luar London. Ia memiliki saudara kembar. Seekor anjing laut tinggal di halaman belakang rumah. Ia selamanya akan duduk di kelas 3 SD. Hello Kitty memiliki nama yang 50 persen ditujukan untuk istilah yang merujuk pada kucing, namun bukan berarti ia adalah seekor kucing.

“Dia tidak pernah digambarkan merangkak. Dia adalah gadis kecil, dia adalah seorang teman. Bukan kucing,” kata Christine R. Yano, seorang antropolog Universitas Hawaii seperti dikutip Fox News, Kamis, 28 Agustus.

Yano yang juga menjadi seorang kurator retrospektif Hello Kitty di Museum Nasional Jepang Amerika, Los Angeles, menceritakan, ia mengetahui fakta itu ketika tengah menyiapkan deksripsi tertulis untuk pameran museum, ternyata ia membuat kesalahan dengan mendeskripsikan Hello Kitty sebagai kucing. “Dengan tegas saya dikoreksi. Itu salah satu koreksi yang dilakukan Sanrio untuk tulisan saya sebelum pameran,” ucap Yano.

Beberapa fakta lain tentang Hello Kitty, menurut Yano, di antaranya nama aslinya adalah Kitty White, ia berbintang Scorpio dan menyukai kue pai apel. “Hello Kitty muncul pada tahun 1970-an, ketika wanita Jepang mulai masuk ke Inggris. Mereka menyukai negara itu. Ini menggambarkan masa kecil ideal yang klasik, hampir seperti pagar kayu putih. Jadi biografinya diciptakan persis untuk selera saat itu,” beber Yano kepada Times.

“Ketika berbicara dengan wanita Jepang yang tumbuh pada tahun 1970-an, mereka mengatakan, ‘tokoh Hello Kitty sangat berarti karena ia adalah milik kami'”, ceritanya. “Ini sesuatu yang mereka lihat sebagai penanda identitas.”.

Sebelumnya, Wikipedia mendeskripsikan Hello Kitty sebagai kucing asal Jepang yang memakai pita merah muda, meskipun tak menjelaskan dari mana ia berasal. Sedangkan di situs Sanrio.com disebut, karakter yang kini berusia 40 tahun itu diciptakan ‘untuk menginspirasi kebahagiaan, persahabatan, dan saling berbagi bagi seluruh dunia.’

Menurut Yano, terlepas dari apakah Hello Kitty seorang gadis atau kucing, ia punya arti penting sebagai identitas budaya populer Jepang.
Fakta Hello Kitty

Bintangnya Scorpio, lahir 1 November

Golongan darahnya A

Nama aslinya Kitty White

Punya saudara kembar bernama Mimmy White yang memakai pita kuning

Tingginya setara tumpukan 5 buah apel

Ia dan keluarganya tinggal di pinggiran kota London, ada anjing laut tinggal di halaman belakang.

Tip Makeup Agar Tampil Menawan dan Cantik Saat Selfie


Hampir setiap orang pernah melakukan selfie. Sangat beruntung kalau Anda memiliki wajah photogenic. But, don’t be upset! Meskipun tidak memiliki wajah yang photogenic, Anda tetap bisa tampil menarik dan menawan saat difoto dengan beberapa tip dan trik makeup berikut ini.

Teknologi sekarang memungkinkan untuk melakukan edit pada wajah kita yang kurang sempurna seperti bekas jerawat atau bintik hitam. But, it looks obvious. Untuk memperbaiki penampilan dan membuat wajah tampak flawless saat difoto, makeup merupakan senjata yang bisa dimanfaatkan lho! Berikut beberapa trik & tip makeup dasar yang dapat memperbaiki kualitas foto Anda.

Pertama, samarkan ketidaksempurnaan pada wajah seperti noda, bintik hitam, bekas jerawat, maupun keriput dengan foundation atau BB Cream.

Jika Anda ingin mendapatkan kulit yang dewy, disarankan untuk menggunakan water based foundation dan cream blush. Sedangkan untuk mendapatkan makeup yang matte, jangan lupa untuk menggunakan bedak powder.

Untuk makeup, tidak perlu menampilkan makeup yang bold kecuali jika Anda ingin membuat foto dengan makeup looks yang unik. Untuk foto selfie, natural makeup looks is the best!

Bagian wajah yang wajib diperhatikan adalah alis. Bentuk alis Anda sangat mempengaruhi penampilan. Dengan bantuan eyebrow kit, Anda bisa merapikan dan mempertegas bentuk alis mata. Bandingkanlah foto Anda antara alis yang rapi dengan alis yang tidak beraturan.

Untuk makeup mata, hindari eyeshadow yang bergliter karena akan terlihat greasy saat difoto. Pilih warna eyeshadow yang cerah dan soft.

Agar mata Anda terlihat semakin menarik, jepit bulu mata dan aplikasikan mascara secukupnya.

Untuk warna bibir, tergantung pada makeup mata yang Anda gunakan. Jika Anda lebih memfokuskan makeup pada area mata maka pilih warna bibir yang soft atau nude dan sebailknya.

Kesimpulannya, makeup yang pas untuk mempercantik diri saat mengambil foto selfie adalah makeup yang matte dan natural. Just be who you are. Selamat Mencoba!

Mengenal Moon Rat atau Tikus Bulan Albino


Jenis tikus raksasa berbisa ditemukan di Sangatta, Kutai Timur, Kalimantan Timur. Temuan tersebut menghebohkan sebab muncul dugaan bahwa tikus itu adalah Solenodon, tikus primitif raksasa yang selama ini hanya ditemukan di Eropa dan Amerika Latin. Diberitakan, Senin (25/8/2014), hewan yang menurut warga penemunya menyerupai babi tersebut bermoncong panjang, berbau menyengat, berukuran besar, dan mempunyai bulu berwarna putih serta air liur layaknya bisa yang mematikan.

Menanggapi temuan itu, Anang S Achmadi, peneliti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) yang telah beberapa kali terlibat dalam penemuan tikus, menyatakan bahwa jenis tikus yang ditemukan kemungkinan besar bukan Solenodon. “Itu moon rat, tikus bulan,” katanya saat dihubungi hari ini. Menurut Anang, yang beberapa waktu lalu terlibat dalam penemuan tikus air jenis baru di Sulawesi, tikus yang ditemukan “terlalu jauh kalau disebut Solenodon”.

Tikus bulan memiliki ciri-ciri persis seperti yang diberitakan. Hewan ini mempunyai bulu warna putih, ukuran yang bisa sebesar kucing, dan air liur beracun yang digunakan untuk mematikan serangga. “Baunya memang menyengat, seperti kentut,” kata Anang. Dibandingkan Solenodon, tikus bulan sangat jauh. Solenodon jauh lebih primitif. Selain itu, Solenodon hanya ditemukan di Eropa dan Amerika Selatan. Tikus bulan sendiri adalah hewan khas Borneo.

Dari sisi status perlindungannya, Solenodon sudah termasuk golongan terancam punah. Sementara itu, tikus bulan memang sudah masuk daftar hewan dilindungi, tetapi belum dikatakan terancam punah. Dihubungi hari ini, Kepala Balai Taman Nasional Kutai Erli Sukrismanto mengatakan, tikus ditemukan warga di luar kawasan taman nasional. Hingga saat ini, pihaknya masih menyelidiki dan belum melihat tikus itu. “Saya masih minta staf saya yang ada di dekat lokasi untuk menyelidiki. Selain itu, karena bukan berada di kawasan taman nasional, nanti akan menjadi wewenang BKSDA (Balai Konservasi Sumber Daya Alam) untuk menindaklanjuti,” ujarnya.

Anang menggarisbawahi pentingnya konfirmasi penemuan sebelum publikasi sehingga tidak terjadi kesalahan ilmu pengetahuan. Dalam hal penemuan hewan, perlu identifikasi yang akurat terlebih dahulu. Tikus besar yang mengeluarkan air liur beracun ditemukan di Kutai Timur, Kalimantan Timur. Tikus itu diduga Solenodon, jenis tikus primitif raksasa berbisa yang sangat langka. Namun, kalangan ilmuwan membantahnya. Tikus itu diyakini tikus bulan (Echninosorex gymnura).

Seperti apa sebenarnya Solenodon? Mengapa tikus yang ditemukan di Kalimantan tak bisa disebut jenis Solenodon? Anang S Achmadi, peneliti dari Pusat Penelitian Biologi, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), mengatakan bahwa ada perbedaan mendasar antara Solenodon dan tikus bulan. “Solenodon itu tikus primitif,” katanya. Solenodon selama jutaan tahun tidak mengalami perubahan berarti, hidup semasa dengan dinosaurus. Mungkin, Solenodon bisa dianalogikan dengan komodo yang juga tak banyak berubah. Sementara itu, tikus bulan ialah tikus yang lebih modern.

Solenodon adalah tikus yang berbisa, aktif pada malam hari, serta memakan serangga. Solenodon sebenarnya adalah sebuah genus dari tikus. Publikasi Critters 360 pada 24 Oktober 2010 menyebutkan, saat ini hanya ada dua spesies Solenodon yang tersisa di muka bumi. masing-masing adalah Solenodon paradoxus yang hidup di daratan Eropa serta Solenodon cubanus yang dijumpai di Kuba, Amerika Latin.

Spesies Solenodon arredondoi sebelumnya pernah dijumpai di bagian barat Kuba. Namun, spesies itu telah dinyatakan punah. Sementara itu, spesies Solenodon marcanoi yang hidup di Eropa juga bernasib sama. Dihubungi, Senin (25/8/2014), Anang mengatakan, “Tidak pernah ada Solenodon yang ditemukan di Indonesia.” Jenis Solenodon cubanus sendiri sempat dinyatakan punah pada tahun 1970. Namun, karena ditemukan kembali pada 1974, status punah akhirnya dicabut dan diganti menjadi terancam punah.

Tahun 2012, seperti dipublikasikan Scientific American, 11 Oktober 2012, tim peneliti dari Ecology and Ecosystem Institute di Havanna dan Miyagi University di Jepang menemukan lagi spesies itu. Solenodon paradoxus dan Solenodon cubanus berbeda karena tempat hidupnya. Spesies yang hidup di Kuba juga sedikit lebih besar.

Solenodon memakan serangga dan arthropoda lain, seperti lipan. Hewan ini memiliki liur yang beracun, berfungsi untuk mematikan mangsa sebelum memakannya. Meski demikian, Solenodon tak punya perlindungan ekstra untuk proteksi diri dari lawan. Sementara itu, tikus bulan lebih kecil walaupun memiliki kesamaan karena memakan serangga serta memiliki liur beracun. Tikus bulan saat ini juga belum dikategorikan terancam punah. Ancaman utama tikus ini adalah deforestasi.

3 Spesies Bunglon Baru Ditemukan Di Sumatera Berkat Analisa DNA


Semula, Sumatera diduga cuma punya satu jenis bunglon dari genus Pseudocalotes. Namun, riset taksonomi mengungkap bahwa pulau itu lebih kaya dari yang diduga. Tiga spesies baru bunglon dari genus itu ditemukan di Bukit Barisan. Jenis baru bunglon itu terungkap lewat riset ahli herpetologi (ilmu yang mempelajari reptil dan amfibi) dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Amir Hamidy. Dia meneliti bersama rekannya dari Universitas Brawijaya, Boward College, dan Universitas Texas.

Ketiga spesies yang ditemukan adalah Pseudocalotes cybelidermus, Pseudocalotes lineatus, dan Pseudocalotes rhammanotus. Temuan itu dipublikasikan di jurnal Zootaxa pada 25 Juli 2014 yang lalu. P cybelidermus berbeda dengan jenis lain karena punya organ semacam gelambir yang berwarna biru keunguan. Karena karakteristiknya, Amir dan rekannya menyebut spesies ini bunglon berleher ungu.

Sementara itu, P guttalineatus mempunyai ciri unik berupa pola garis putus-putus berwarna kebiruan pada bagian leher. Nama spesies diambil dari ciri unik itu. lineatus berasal dari kata “gutta” yang berarti bintik atau spot serta “lineatus” yang berarti garis.

P cybelidermus dan P guttalineatus sangat mirip hingga sulit dibedakan satu sama lain. Itu mungkin terjadi karena keduanya hidup di lingkungan yang hampir sama, wilayah Bukit Barisan di Lampung. P guttalineatus, seperti umumnya bunglon, bisa melakukan mimikri. Saat berada di atas tanah atau daun-daun kering, jenis ini berubah warna menjadi coklat. Sementara itu, ketika berada di atas dedaunan, warnanya berubah menjadi hijau.

Baik P guttalineatus maupun P cybelidermus punya kesamaan menarik yang bisa dilihat ketika keduanya membuka mulut. Tenggorokan dua jenis itu adalah perpaduan antara warna hitam dan oranye. Spesies ketiga yang ditemukan, P rhammanotus, punya karakter khas berupa sisik menonjol di bagian punggung. Ciri itu membuat punggung jenis ini seolah penuh jahitan. Maka dari itu, para ilmuwan pun menyebut jenis ini bunglon dengan jahitan punggung.

P rhammanotus itu adalah bunglon yang paling mirip dengan P tympanistriga, jenis bunglon Sumatera yang telah dikenal sebelumnya. Tenggorokan P rhammanotus berwarna hitam, sedangkan lidahnya berwarna putih. Amir bercerita, awal penemuan ini adalah ekspedisi penelitian reptil ke Bukit Barisan selama Mei hingga Juni 2013 lalu. Selama dua minggu, Amir dan tim menyusuri hutan sekunder dan wilayah budi daya, memotret reptil yang ditemui, dan mengambil koleksi reptil.

Sumatera selama ini dikenal cuma punya spesies bunglon dari genus Pseudocalotes, yakni P tympanistriga. Namun, hasil analisis morfologi dan DNA ternyata menemukan tiga spesies baru. “Ini yang membuat saya terkejut,” kata Amir. Tiga spesies bunglon yang ditemukan hidup di wilayah dataran tinggi. Jika spesies di dataran rendah Sumatera terancam oleh sawit, jenis yang hidup di dataran tinggi terancam oleh perkebunan kopi.

Pengungkapan spesies baru penting walaupun manfaatnya tak langsung diketahui. Keragaman hayati harus didata. “Sebelumnya semakin banyak hewan yang punah,” ungkap Amir

Dua Begonia Baru dari Sulawesi Berambut Merah dan Bernama Siregar


Dua spesies bunga begonia baru ditemukan di Sulawesi. Temuan spesies ini menunjukkan betapa Sulawesi kaya akan biodiversitas yang belum terkesplorasi. Begonia baru tersebut ditemukan lewat riset kerjasama antara Kebun Raya Bogor dan Royal Botanic Garden. Salah satu peneliti Indonesia yang terlibat dalam riset yang membuahkan penemuan itu adalah Wisnu Handoyo Ardi.

Ada dua jenis yang berhasil diungkap. Salah satunya adalah Begonia gambutensis. Bunga ini, sesuai namanya, dikoleksi dari Gunung Gambuta. Begonia gambutensis memiliki kekhasan berupa warna rambut-rambut halus yang terdapat pada batang dan daunnya. “Bagian vegetatif bunga ini ditutup rapat oleh rambut-rambut halus yang berwarna crimson (merah),” kata Wisnu.

Ciri khas lainnya adalah susunan perbungaan jantan yang kompleks disertai percabangan serta tenda bunga betina yang berbentuk telur terbalik. Bunga betina Begonia gambutensis Selain itu, ada pula begonia yang “bermarga” Siregar, Begonia siregarii. Spesies bunga ini ditemukan di Tana Toraja. Nama tanaman setinggi 1 meter ini diambil dari nama Kepala Kebun raya Bogor periode 2009-2014, Mustaid Siregar.

Begonia siregarii, kata Wisnu, memiliki kemiripan dengan jenis begonia lain, yakni Begonia prionota. “Jenis ini berbeda pada karakter tepian daunnya,” kata Wisnu lewat surat elektronik kepada Kompas.com, Selasa (12/8/2014). Begonia siregarii punya tepian daun yang rata hingga bergerigi halus.

Begonia dari wilayah yang terkenal dengan kopinya yang nikmat itu juga punya tangkai perbungaan betina yang lebih panjang dan tepian tenda bunga betina yang rata. Penemuan dua jenis begonia itu dipublikasikan di Edinburg Journal of Botany pada Juli 2014. Dua spesies tersebut sebenarnya sudah menjadi koleksi Kebun Raya Bali sejak tahun 2008. Namun, Wisnu dan rekannya baru dapat mengidentifikasinya baru-baru ini.

Tahun 2009, sebelum memulai ekspedisi ke Sulawesi, Wisnu melihat koleksi begonia yang sudah ada di Kebun Raya Bali.

Saat itu, ia dan rekannya, Daniel C. Thomas, sudah menduga bahwa dua jenis bunga yang dipublikasikan kali ini merupakan spesies baru. “Hanya saja saat itu spesimen belum berbunga sehingga belum dapat diidentifikasi,” kata Wisnu. Tahun 2013, ketika kembali mengunjungi Kebun Raya Bali, Wisnu dan Thomas menjumpai spesimen yang dimaksud sudah berbunga, Identifikasi pun dilakukan.

Begonia gambutensis dikoleksi oleh tim Kebun Raya Bali pada tahun 2008. Sementara Begonia siregarii dikoleksi sendiri oleh Mustaid Siregar dari Toraja pada tahun yang sama. Begonia dari Sulawesi memiliki keunikan karena perbungaan jantannya yang memayung, berbeda dengan Sumatera dan Jawa yang majemuk berbatas.

Wisnu menambahkan, “Begonia dari Sulawesi juga umumnya endemik. Begonia yang terdapat di Gunung Gambuta, hanya terdapat di tempat itu, tidak ada di wilayah lain.” Kekayaan itu mesti dijaga. Inventarisasi keragaman begonia di Sulawesi pada tahun 2009 dan riset terkait hingga kini telah membuahkan belasan spesies baru.

Tahun 2007, jumlah begonia di Sulawesi yang diketahui hanya 30 jenis. Kini, jumlahnya bertambah menjadi 45 jenis. Jenis-jenis begonia mungkin lebih banyak dari yang diduga. Eksplorasi lebih lanjut mungkin dapat menambah jumlahnya.

Tanggapan Atas Rencana Jokowi Memakai Teknologi Drone


Salah satu rencana presiden terpilih Joko Widodo adalah mengaplikasikan drone atau pesawat nirawak (UAV) untuk pemantauan. Rencana ini menuai reaksi positif dari banyak pihak. Namun, perencanaan tetap dibutuhkan. Pakar radar dan pesawat nirawak dunia asal Indonesia, Josaphat Tetuko Sri Sumantyo, di Jakarta, Jumat (15/8/2014). Josh terdaftar sebagai profesor termuda di Chiba University, Jepang, sejak 1 April 2013. Ia telah menghasilkan radar, satelit, dan pesawat nirawak. Ia juga mengantongi 120 paten, 500 kali presentasi di banyak negara, serta profesor dengan dana terbanyak.

Josh memberikan gagasan dan masukan tentang apa yang harus dipersiapkan sebelum memakai drone. Berikut petikan perbincangan dengan Josh. Presiden terpilih Joko Widodo rencananya memperkuat pertahanan dengan drone. Salah satu tujuannya untuk pemantauan laut. Bagaimana menurut Anda?

Ini sangat bagus karena pada dasarnya kita bisa mengurangi risiko kematian dari awak kapal atau petugas keamanan. Selain itu, kalau drone kita pergunakan setiap hari untuk pengawasan tapal batas, kan orang itu akan hitung-hitungan. Tahun depan Malaysia akan menggunakan drone yang saya buat untuk mengawasi tapal batas Indonesia. Sayang sekali, pihak Malaysia akan membeli teknologi orang Indonesia untuk menjaga perbatasan keamanan Indonesia.

Lalu, apa yang harus direncanakan oleh Indonesia ketika punya program menggunakan drone untuk pemantauan ini?

Hal lain yang mesti dipikirkan adalah undang-undang untuk keamanan menggunakan drone. Suatu saat, Indonesia kan akan berkembang, termasuk akan bertambah pesawatnya. Nah, ini kan dibutuhkan aturan.

Tidak hanya di Indonesia, di Jepang pun permasalahan ini belum jelas dan sedang dibahas. Misalnya, tentang klasifikasinya, ukuran besar-kecilnya, ketinggian menerbangkan drone seperti apa dan di mana saja, harus kita perjelas dulu kebijakan itu.

Namanya pesawat kan ada jalurnya. Nah, sekarang agar drone dapat terbang sesuai pada titik yang kita inginkan harus ada sistem navigasinya. Sistem pengamanannya juga, bahkan di Indonesia alat-alat yang digunakan untuk teknologi drone masih impor. Semua harus diperjelas. Jalurnya harus jelas untuk keamanan. Begitu pula untuk keamanan pengoperasiannya.

Jepang dan Amerika saja belum memikirkan sampai di situ. Ya, kita tidak pesimistis sebenarnya. Akan tetapi, cobalah untuk memperbaiki hal-hal yang seperti itu. Untuk standardisasi drone juga harus dipikirkan. Jadi, kita harus buat aturan yang jelas. Jika jalurnya tidak jelas, pesawat drone bisa menabrak kapal penumpang.

Nah, untuk mendukung ini, kita harus membuat teknologi sendiri. Jadi, kita tidak hanya bisa beli saja, tetapi juga memperjelas sistematika atau aturan mainnya dan dari drone itu sendiri.

Drone-nya sendiri?

Yang penting kita yang harusnya membuat teknologi itu. Sebab, dari segi keamanan, misalnya pengamanan data, kita sendiri yang kelola. Nah, kalau drone-nya kita ambil dari orang lain, kita tidak akan tahu secara penuh prosesnya. Setahu saya, ada delay satelit, yang mungkin saja ada perpindahan data dulu ke pembuat dan sebagainya. Agar terjaga keamanannya, teknologi kita harus buat sendiri. Selain itu, kita harus juga menyesuaikan drone yang dibuat dengan klasifikasi dan ciri yang ada di Indonesia. Drone yang kuat untuk alam Indonesia. Dibuatnya di Indonesia, risetnya juga harus di Indonesia. Kalau dari luar, belum tentu cocok.

Jadi, drone apa yang pas untuk keamanan di laut Indonesia?

Jadi, dari segi jangkauan, setidaknya harus menjangkau Zona Ekonomi Eksklusif. Jadi sampai batas itu, bisa bolak-balik. Jadi, enggak mungkin drone yang kecil, harus juga disesuaikan dengan kedalaman lautnya. Setiap jenis keamanan sangat bergantung dari besaran kedalaman laut. Jenis, kemampuan, jumlah dan biaya drone yang dibutuhkan sangat bergantung pada kedua hal itu.

Bagaimana efektivitas drone untuk pengamanan sebenarnya?

Jadi, pertama, drone itukan hanya sebatas mengetahui, bahwa oh di sini ada illegal logging, atau pengubahan tapal batas. Selama ini kan polisi laut kalau ada permasalahan langsung menembak atau lain sebagainya. Namun, drone posisinya tidak dapat untuk membuat tindakan bila ada permasalahan. Kalau tidak, malah drone kita yang malah ditembak. Jadi, kita harus membuat jaringan pada UAV-nya, itu kan hanya warning-nya, nanti info dari drone disalurkan entah ke polisi laut, instansi keamanan laut terdekat. Sistem keamanan seperti itu juga mesti dipikirkan.

Harapannya untuk pengembangan?

Kalau pengembangan di Indonesia itu bergantung pada ahlinya. Ada yang pintar membuat frame, ada yang membuat sistem di dalamnya, mesin, bodi, dan sebagainya. Selama ini, semua bersaing. Nah, saya berpikir bahwa kita harus menyatukan itu agar lebih berkembang lagi dengan baik, jadi mempersatukan ahli di Indonesia. Ini pelik sekali. Banyak orang Indonesia yang hebat. Ini hal yang mesti diperbaiki, misalnya dengan membuat sebuah konsorsium atau apa pun bentuknya itu. Itu harus ada figur yang bisa mempersatukan dan pengelolaan sumber daya manusia di Indonesia karena sebenarnya kita mampu mengatasi beberapa kekurangan yang saya sebutkan sebelumnya. Dulu, mungkin ada figur seperti Habibie, tapi sekarang belum ada.