Monthly Archives: Juni 2012

University of California Ciptakan Robot Ninja Dengan Kecepatan Manuver Kecoak Yaitu 50 Kali Tinggi Badan per Detik


Reputasi kecoak sebagai ahli meloloskan diri mengundang minat peneliti University of California membuat robot yang sanggup menghindar dari kejaran musuh. Gerakan akrobatik layaknya ninja ini terbukti membuat kecoak hilang dari pandangan manusia yang memburunya.

Ada saja cara yang dipakai kecoak menghindar dari kejaran manusia. Binatang yang dicap menjijikkan ini berukuran sangat tipis sehingga bisa meloloskan diri dengan masuk ke dalam celah. Kecoak juga bisa berlari cepat, mencapai 50 kali panjang tubuh dalam satu detik, untuk lolos dari kejaran manusia.

Sebuah gerakan meloloskan diri ditemukan peneliti University of California. Kecoak merayap ke pinggir meja lalu menghilang dalam sekejap mata. Kamera supercepat merekam gerakan akrobat itu dalam gerakan lambat. Terlihat kecoak mengaitkan tubuh menggunakan pengait di kedua kaki belakangnya lalu meloncat ke udara membuat gerakan mengayun.

Hap, kecoak kini menempel di balik permukaan. “Mata manusia tak bisa melihat gerakan ini,” ujar ahli biologi integratif dasri University of California, Robert Full, melalui laman universitas.

Selama penelitian, mahasiswa master biofisika Michel Mongeau dan mahasiswa sarjana teknik biologi Brian McRae menemukan kecoak tak menjatuhkan diri saat bermanuver. Serangga ini berlari pada kecepatan penuh ke pinggir lalu menyangkutkan kait kaki belakang ke permukaan sambil meloncat sehingga mengayun seperti pendulum.

Teknik ini menghemat energi sebesar 75 persen dibandingkan merayap perlahan. Ahli robot Ron Fearing dari Universitas California membuat robot berkaki enam mirip kecoak. Robot tersebut disebut Dynamic Autonomous Sprawled Hexapod (DASH).

Lembaran Velcro kecil dipasangkan di kaki belakang robot ini untuk menirukan gerakan akrobat kecoak. “Binatang memiliki banyak manuver mengagumkan yang sanggup menginspirasi perancangan robot lincah,” ujar Fearing.

Menurut dia, insinyur hanya berpacu membuat robot yang hebat berjalan, berlari, atau memanjat. Namun sedikit yang mempelajari gerakan ekstrem yang membuat robot lebih lincah. Manuver peralihan antara satu gerakan ke gerakan lain justru membuat robot semakin sulit diburu. “Robot kaya manuver bisa menyelusup ke daerah berbahaya yang tak bisa dicapai penyelamat,” kata dia.

Kadar Dopamin Rendah Di Otak Sebabkan Perilaku Agresif


Orang dengan kadar dopamin yang rendah pada otaknya cenderung lebih agresif pada situasi yang kompetitif. Demikian hasil studi yang dilakukan peneliti dari Department of Psychiatry, RWTH Aachen University, Jerman. Dopamin adalah neurotransmiter yang terlibat saat seseorang tengah berada pada situasi menyenangkan.

Dalam studi ini peneliti melibatkan 18 partisipan sehat dalam sekitar 20-an partisipan. Mereka memainkan game komputer agar saling berkompetisi memenangi hadiah uang. Pemindai positron emission tomography (PET) digunakan untuk menilai kadar dopamin pada setiap otak partisipan.

“Selama game berlangsung, partisipan dengan kadar dopamin rendah lebih terganggu dari usaha mereka untuk memenangi uang dan lebih cenderung menunjukkan perilaku agresif,” kata seorang peneliti, Ingo Vernaleken.

Para peneliti merasa terkejut dengan hasil studi ini. Sebab dalam dugaan sebelumnya kadar dopamin yang lebih tinggi justru yang diasosiasikan dengan peningkatan agresi.

Hasil studi ini akan dipresentasikan pekan ini pada pertemuan tahunan Society of Nuclear Medicine di Miami, Florida, Amerika.

Rumput Laut Indonesia Ampuh Membunuh Tumor


Spesies ganggang coklat yang hidup di Indonesia memiliki potensi untuk mengobati kanker.

Demikian hasil bioprospeksi Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Pengolahan Produk dan Bioteknologi (BBRP2B) Badan Penelitian dan Pengembangan Kelautan dan Perikanan (Balitbang KP) baru-baru ini.

Jenis ganggang coklat yang berpotensi mengobat kanker tersebut adalah Turbinaria decurrens. Lewat pengujian, peneliti dari kedua lembaga tersebut mengetahui bahwa Turbinaria decurrens mampu membunuh sel tumor mulut rahim.

Laporan bahwa golongan ganggang atau rumput laut bisa mengobati ini sel kanker bukan pertama kalinya. Sebelumnya, ganggang merah jenis Rhodymenia palmata dan ganggang hijau jenis Ulva fasciata juga dilaporkan bisa membunuh sel tumor payudara.

“Rumput laut kaya akan senyawa flavonoids yang banyak dilaporkan mempunyai efek sebagai antitumor,” kata Nurrahmi Dewi Fajarningsih, salah satu peneliti yang terlibat riset ini.

Adanya fakta ini menunjukkan bahwa ganggang kaya manfaat. Pemanfaatannya kini harus diperluas, tak sebatas sebagai sumber karigin saja. Indonesia bisa mengelola ganggang sebagai sumber daya alam hayati bahan baku obat-obatan.

“Kalau kita berhasil menciptakan industri obat-obatan berbasis rumput laut, hasilnya bisa 5-6 kali lebih besar daripada nilai hasil budidaya ikan di Indonesia setahun,” Kepala Badan Litbang Kementerian Kelautan dan Perikanan, Rizald M. Rompas.

Kebun Salak Adalah Sarang Nyamuk Anopheles


Areal kebun salak merupakan tempat berkembang biak nyamuk anopheles. Kondisi ini mengakibatkan daerah yang menjadi sentra salak seperti Kecamatan Srumbung, Kabupaten Magelang, berpotensi menjadi tempat berjangkitnya penyakit malaria.

Nyamuk anopheles menyukai tempat-tempat yang memiliki ciri seperti kebun salak, lembab, terdapat air menggenang, dan kotor.

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Magelang Hendarto, Senin (1/3), mengatakan, kasus malaria Kecamatan Srumbung pertama kali ditemukan pada tahun 2004. Ketika itu, awal penyebaran penyakit berasal dari warga yang tertular virus tersebut dari luar kota.

“Namun, karena kondisi daerah di Kecamatan Srumbung mendukung, ketika itu nyamuk berkembang cepat, penularan penyakit yang semula berasal dari luar berubah menjadi lokal,” ujarnya.

Pada tahun 2004, jumlah penderita malaria yang terdata mencapai 24 orang. Setelah dilakukan penyuluhan dan pembersihan lingkungan, penyakit malaria tidak pernah lagi ditemukan di Kecamatan Srumbung hingga tahun 2009. Pada tahun 2010, kasus malaria kembali muncul menjangkiti empat warga Desa Banyuadem.

Untuk menghindari penularan penyakit malaria, menurut Hendarto, setiap petani salak diminta untuk rajin membersihkan kebun dan mengupayakan agar air irigasi selalu mengalir.

Kepala Desa Banyuadem mengatakan, selama bulan Februari 2010 terdapat 266 orang yang menderita gejala malaria, yaitu panas tinggi, menggigil, dan pusing. Dari jumlah tersebut, 119 orang berasal dari Dusun Ganden dan 147 dari Dusun Banyuadem.

“Rata-rata penderita yang terjangkit penyakit malaria berasal dari satu keluarga,” ujarnya.

Nyamuk Demam Berdarah Lebih Haus Darah Daripada Nyamuk Jenis Lain


Virus dengue membutuhkan nyamuk untuk hidup dan menyebar. Namun, rupanya virus yang menyebabkan demam berdarah ini juga berevolusi agar bisa menyebar lebih cepat dengan memanipulasi perilaku nyamuk.

Studi terbaru yang dipublikasikan di jurnal PLoS Pathogen menunjukkan bahwa nyamuk yang terinfeksi virus dengue lebih haus darah dan mampu lebih cepat menemukan sumber makan an berupa darah dibandingkan dengan yang tak terinfeksi.

Tim ahli mikrobiologi molekuler dan imunologi dari John Hopkins University di Baltimore, Maryland, Amerika Serikat adalah yang menemukan fakta ini. Mereka adalah Shuzen Sim, Jose L Ramirez serta George Dimopoulos.

Untuk menemukannya, peneliti membandingkan gen yang aktif di kelenjar ludah nyamuk yang terinfeksi dan tidak. Peneliti menemukan bahwa infeksi dengue menonaktifkan 147 gen. Hasilnya, beberapa menjadi gen imun.

Studi juga menunjukkan bahwa virus mengaktifkan gen yang membantu deteksi bau dan penghisapan darah. Aktifnya gen ini membuat nyamuk lebih pandai dalam mencari mangsa dan menusukkan organ penghisap darahnya.

Studi pernah dilakukan sebelumnya juga mengungkap bahwa parasit malaria bisa mempengaruhi perilaku nyamuk. Anopheles yang terinfeksi terpacu untuk menyerang korban lebih banyak sehingga lebih banyak orang pula yang terserang malaria.

Terakhir, peneliti juga menemukan bahwa manusia pun memicu penyebaran virus. Ketika manusia terinfeksi, manusia berkeringat. Bau keringat menarik lebih banyak nyamuk untuk menghisap darah. Alhasil, banyak nyamuk yang berpeluang terinfeksi.

Nyamuk Ternyata Kencing Saat Mengisap Darah


Serangga penghisap darah seprti nyamuk ternyata punya perilaku aneh saat menghisap darah. Seperti yang diketahui sebelumnya oleh para ahli, mereka kencing terlebih dahulu. Dan, di luar dugaan, mereka juga mengeluarkan cairan pre-urin berupa darah!

Perilaku tersebut membuat para ilmuwan bingung. Claudio R Lazzari, entomolog dari François Rabelais University in Tours, Perancis, seperti dikutip New York Times, Senin (19/12/2011) mengatakan, “Darah adalah sesuatu yang sangat berharga. Melepaskannya berisiko tinggi.”

Penelitian terbaru yang dilakukan Lazzari dan dipublikasikan di jurnal Current Biology mengungkap bahwa pengeluaran cairan pre-urin bertujuan untuk menurunkan suhu tubuh saat makan , yang bisa mencapai 40 derajat Celsius.

Untuk mendapatkan kesimpulan itu, Lazzari meneliti nyamuk jenis Anopheles stephensi. Saat makan , cairan urin dan pre-urin nyamuk itu dikeluarkan lewat anus. Kadang, cairan menggantung seperti embun yang akan menetes sebelum jatuh.

Menurut Lazzari, saat urin dan pre-urin dikeluarkan, cairan menguap dan mendinginkan suhu tubuh hingga mencapai 3 derajat Celsius. Mekanisme ini adalah salah satu kehebatan serangga dalam mengontrol suhu tubuh.

Nyamuk bukan satu-satunya serangga yang menggunakan makan annya sendiri untuk mengatur suhu tubuh. Lebah misalnya, membuang sedikit nektar yang dimakannya untuk menjaga kepala tetap dingin saat terbang.

Nyamuk Ternyata Numpang Teduh Dibutiran Air Saat Hujan


Bagaimana tingkah serangga terbang saat hujan tiba? Terutama, serangga seperti nyamuk yang beratnya 50 kali lebih ringan daripada butiran air hujan.

Jika dipikirkan, pasti serangga seperti nyamuk pasti sangat menderita. Mereka mungkin bakal seperti manusia yang tertimpa karung beras 100 kg saat hujan. Tapi, apakah memang demikian?

Studi yang dilakukan oleh Andrew K Dickerson dari Georgia Tech menunjukkan bahwa nyamuk tak sedemikian menderita. Mereka punya cara untuk menyiasati, menghindari dari ancaman.

Dickerson dan rekannya mempelajari perilaku nyamuk saat hujan di laboratorium. Tentu, hujan dalam eksperimen adalah hujan buatan, dibuat dengan cara menyemprotkan airpada nyamuk.

Seperti dikutip Scientific American, Rabu (6/6/2012), saat hujan, nyamuk justru menumpang pada butiran air sedikit sebelum akhirnya melarikan diri menghindari penderitaan yang mungkin terjadi karena kejatuhan air.

Perilaku tersebut mampu dilakukan karena didukung karakteristik yang dimiliki. Nyamuk mempunyai berat tubuh yang ringan serta rangka luar tubuh yang cukup kuat. Itu mendukungnya menumpang butiran air hujan.

David Hu, ilmuwan lain yang terlibat penelitian, seperti diberitakan Daily Mail, Kamis (7/6/2012), mengatakan bahwa nyamuk juga memiliki cara melepaskan diri ketika air hujan memang telah menghantamnya.

Saat air hujan menghantam, nyamuk tak memberi perlawanan. Mereka menerima selama beberapa detik. Setelahnya, mereka membuat gerakan semacam tendangan dengan kakinya sehingga bisa terbang bebas.

Jadi, dalam mengatasinyamuk saat hujan adalah tipikal makhkuk hidup yang ikut arus. Fakta ini menunjukkan kecerdasan si nyamuk. Studi ini dipublikasikan di Proceeding of the National Academy of Sciences baru-baru ini.