Monthly Archives: Maret 2012

Kafein Membuat Pekerja Rajin Semakin Rajin Sedang Amfetamin Membuat Pemalas Jadi Rajin


Efek stimulus kafein hanya berpengaruh pada pekerja yang kehilangan motivasi saat mengerjakan pekerjaannya. Namun bagi para pemalas, kafein tak memberi pengaruh apapun. Demikian simpulan para peneliti di University of British Columbia.

Para peneliti melakukan percobaan mereka di laboratorium dengan tikus sebagai objek penelitian. Mereka membagi tikus menjadi dua kelompok berdasarkan preferensi mereka untuk kesulitan tinggi/penghargaan tinggi atau kesulitan rendah/penghargaan rendah. “Hal ini dilakukan untuk menentukan apakah obat tertentu akan mempengaruhi mereka secara berbeda,” menurut psikolog Jay Hosking, yang melakukan penelitian dengan Catharine Winstanley.

Hasil penelitian, tikus pekerja keras cenderung memilih tugas yang kurang menantang ketika diberikan baik kafein atau amfetamin. Sebaliknya, tikus pemalas memilih tugas yang menantang lebih sering ketika diberikan amfetamin, tetapi menunjukkan tidak ada perubahan ketika diberi kafein.

Alkohol tidak berpengaruh pada pilihan yang dibuat baik oleh pemalas atau pekerja, menurut penelitian yang diterbitkan Rabu di jurnal Nature Neuropsychopharmacology.

Penelitian ini dirancang sedemikian rupa sehingga pilihan tugas tikus mirip manusia membuat pilihan tentang pekerjaan, terutama tugas-tugas yang membutuhkan lebih banyak perhatian dan konsentrasi. Hal ini dilakukan untuk mengukur efek dari obat-obatan seperti kafein dan amfetamin yang digunakan oleh manusia untuk mengatasi kelelahan pikiran.

“Paduan Amfetamin dan kafein mengubah pekerja menjadi pemalas dan amfetamin mengubah pemalas berubah menjadi pekerja,” katanya.

Iklan

Ribuan Peninggalan Zaman Megalitikum Ditemukan Di Pagaralam Sumatera Selatan


Warga Dusun Rimbacandi, Kota Pagaralam, Sumatera Selatan, menemukan ribuan tinggalan masa megalitikum berupa lupang batu di pinggir Sungai Merah. Lumpang batu ini letaknya berjejer menelusuri alur Sungai Merah sepanjang 4 kilometer.

Lumpang batu yang ditemukan warga di Pagaralam, Jumat, jumlahnya cukup banyak, dengan posisi berjejer di sepanjang aliran Sungai Merah di daerah perbatasan antara Kota Pagaralam dengan Kabupaten Kaur, Provinsi Bengkulu.

“Megalit lumpang batu ini posisinya berada di tengah hutan belantara dan di aliran Sungai Merah berjarak sekitar 30 kilometer dari permukiman warga atau harus menempuh empat jam dengan berjalan kaki menelusuri hutan Rimbacandi,” kata Yarsana, warga setempat.

Menurut dia, megalit ini ditemukan ketika tim ekspedisi melakukan penjelajahan di kawasan Bukit Raje Mandare dan hutan Rimbacandi.

“Bentuk lumpang batu itu cukup unik, bulat dengan diameter sekitar 30 centimeter atau sama dengan lingkaran bola voli dan dengan dalam sekitar 15 cm,” kata dia.

“Selain itu, di sekitar lumpang batu itu, juga terdapat dinding terbuat dari batu setinggi puluhan meter menyerupai susunan batu bata, hanya saja bentuknya tipis dan memanjang,” kata Yarsana lagi.

Diduga lumpang batu ini memang sengaja dibuat oleh nenek moyang zaman Kerajaan Sriwijaya, karena disekitar alur Sungai Merah terdapat tambang emas.

Kemungkinan lumpang batu itu sebagai alat untuk pengolahan emas pada zaman Kerajaan Sriwijaya, karena di lokasi itu masih ditemui warga setempat melakukan penambangan secara tradisional.

Cukup banyak bebatuan yang ditemukan di lokasi tersebut, seperti lesung batu, kursi batu, ranjang batu dan ornamen mirip dengan pintu gerbang candi.

“Cukup banyak penemuan megalit di kawasan Rimbacandi termasuk arca, dan batu-batu mirip dengan reruntuhan bangunan candi,” ujar dia lagi.

Ketua Tim Balai Arkeologi Palembang Sumsel, Kristantina Indriastuti, membenarkan, memang di tanah Pasemah meliputi Kota Pagaralam, Kabupaten Lahat, Emmpatlawang dan termasuk Provinsi Bengkulu, cukup banyak ditemukan peninggalan prasejarah.

“Megalit yang baru ditemukan di Rimbancandi Kota Pagaralam itu, masih perlu diteliti lagi untuk mengungkap yang lainnya,” ujar dia.

Kristantina mengatakan, penemuan ribuan lumpang batu di alur Sungai Merah Dusun Rimbacandi, Kelurahan Candijaya, Kecamatan Dempo Tengah, kemungkinan merupakan alat untuk pengolahan emas pada zaman Kerajaan Sriwijaya.

“Namun perlu dibuktikan secara ilmiah untuk mengetahui dengan pasti, peninggalan zaman apa dan berapa tahun umurnya,” kata dia lagi.

Kepala Dinas Pariwisata dan Seni Budaya Pagaralam, Sukaimi, didampingi Sekretaris, M Helmi, mengatakan, penemuan ini cukup luar biasa, apalagi megalit lumpang batu ditemukan dalam satu lokasi dan jumlahnya mencapai ribuan.

“Sebagian besar sudah dilakukan pendataan dan pembebasan lahan, namun kalau yang baru ditemukan ini perlu dilakukan koordinasi dengan pemerintah Provinsi Bengkulu, karena letaknya berada di perbatasan dua daerah di sini,” ujar dia.

Ia melanjutkan, pemerintah sudah mengalokasikan dana untuk pemeliharaan semua penemuan benda bersejarah termasuk membuat museum tempat menyimpan berbagai benda yang memiliki nilai sejarah tersebut.

Laba Laba Aneh Misterius Transparan Ditemukan Di Perbukitan Menoreh Yogyakarta


Peneliti mengidentifikasi spesies laba-laba unik dan sedikit misterius yang mungkin tidak ditemukan di belahan bumi manapun kecuali gua-gua pada luasan sekitar 15 kilometer persegi di kawasan karst Jonggrangan, perbukitan Menoreh, di perbatasan Yogyakarta dan Jawa Tengah.

Penemuan spesies baru laba-laba yang disebut Amauropelma matakecil itu dipublikasikan dalam jurnal taksonomi Zookeys pada 9 Januari 2012 dalam artikel yang ditulis oleh peneliti muda dari Pusat Penelitian Biologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Cahyo Rahmadi dan Jeremy Miller, naturalis dari Leiden, Belanda.

Melalui surat elektronik kepada ANTARA di Jakarta, Jumat, Cahyo menuturkan, sesuai dengan namanya laba-laba yang hanya ditemukan di tiga gua di perbukitan Menoreh ini memiliki mata yang mengecil, tidak seperti kerabat lain yang umumnya bermata besar.

“Jenis ini matanya sangat kecil, hanya menyisakan bintik putih transparan di bagian kepalanya,” kata peneliti yang secara khusus mempelajari taksonomi kalacemeti dan biologi gua itu.

Para peneliti menyatakan laba-laba gua dari Famili Ctenidae (laba-laba pengembara) yang hanya ditemukan di lantai gua dengan substrat lumpur mengering itu paling cocok dimasukkan ke Marga Amauropelma, yang utamanya menyebar di daratan Australia.

“Temuan di Jawa merupakan catatan baru untuk Marga Amauropelma,” katanya.

Tidak seperti jenis laba-laba lainnya, lanjut dia, laba-laba berwarna coklat pucat ini memiliki kaki yang memanjang.

Ia menuturkan, A. matakecil juga dianggap unik karena dalam beberapa kali usaha koleksi dari gua-gua di Menoreh peneliti hanya memperoleh spesimen betina.

Spesimen laba-laba mata kecil jantan yang penting untuk memastikan identitas jenis ini gagal diperoleh setelah tiga kali usaha pencarian.

“Ini masih menjadi pertanyaan besar buat saya,” katanya.

Sekiranya jenis laba-laba itu memang tidak memiliki jantan, ia menjelaskan, mungkin A. matakecil merupakan jenis laba-laba gua parthenogenetik, yang berkembang biak dengan telur tanpa proses pembuahan.

“Tapi kemungkinan belum ketemu juga bisa, mengingat biasanya kelompok laba-laba punya sexual dimorphisme yang sangat ekstrim dimana ukuran jantan lebih kecil dari betinanya,” jelas dia.

Populasi kecil

Menurut Cahyo, yang baru lulus dari Graduate School of Science and Engineering di Ibaraki University, Jepang, tidak mudah menemukan laba-laba mata kecil di dalam gua karena populasinya sangat sedikit dan spesies ini suka menyendiri, bersembunyi di balik atau di sela tanah kering di lantai gua.

“Sangat jarang dan tersebar,” kata dia tentang laba-laba yang ditemukan dalam eksplorasi fauna gua tahun 2008 itu.

Ia menambahkan, saat melakukan koleksi peneliti hanya menemukan tidak lebih dari dua individu dalam luasan satu meter persegi.

Populasinya yang relatif sedikit dan sebaran yang terbatas membuat jenis laba-laba ini layak mendapat perhatian dalam upaya perlindungan.

Pemangku kepentingan terkait, kata Cahyo, sudah selayaknya melindungi gua-gua di kawasan karst Jawa yang menjadi habitat jenis laba-laba unik itu supaya bisa dieksplorasi lebih lanjut “kekayaannya.”

Menurut dia, pemerintah sebaiknya membuat rencana strategis untuk menata pengelolaan kawasan karst ke depan supaya bisa dimanfaatkan tanpa merusak potensi biologi, hidrologi dan potensi lain yang tidak bisa dinilai dengan uang

Kantor Ketahanan Kota Padang Berhasil Membuat Pohon Jambu Berbuah Cengkeh


Pohon jambu dengan pucuk cengkeh berhasil dipersatukan sehingga memproduksi buah cengkeh, demikian hasil penelitian dari Kantor Ketahanan Pangan Kota Padang, Provinsi Sumatera Barat, Rasmi R, S.St. M.Si.

“Tekhnologinya cukup sederhana, antara lain jambu yang sudah relatif besar dipotong dahannya, setelah bertunas muda langsung disambungkan dengan pucuk cengkeh. Setelah 21 hari entris akan menyatu, maka akan muncul sebatang cengkeh yang siap berbuah cengkeh,” kata Rasmi R, di Padang, Rabu.

Menurut dia, penyambungan pohon jambu –yang dimanfaatkan sebagai batang bawah– itu dengan pucuk cengkeh, nantinya akan memproduksi cengkeh tanpa repot-repot menanam dari awal.

Sedangkan buah cengkeh sendiri, katanya, bernilai komersial karena merupakan salah satu komoditas non migas berskala ekspor ketimbang buah jambu.

“Cengkeh atau `eugenia aromatica` merupakan tanaman yang berasal dari pulau Zanzibar ini pernah menjadi primadona pada hasil perkebunan di Indonesia,” katanya, namun kini pamor cengkeh relatif menurun lebih disebabkan oleh monopoli tataniaga, kuota dan serangan hama atau penyakit tanaman.

Ia mengakui dengan merosotnya komoditi cengkeh, penelitian terhadap komoditas itu juga menjadi tidak menarik, mulai dari budidaya, hama dan penyakit.

Hal ini, katanya lagi, juga dipengaruhi adanya kecenderungan penelitian dilakukan pada hal-hal terkini atau yang menjadi populer.

Sementara tanaman jambu sendiri juga masuk genus eugenia dan famili eugenaceae. Genus ini memiliki banyak spesies seperti eugenia jambula (jambu ), eugenia sp (jambu keling) dan jambu air (eugenia sp. ), daun salam dan lainnya.

Setiap spesies ini mempunyai kelebihan dan keunikan tersendiri. Mulai dari ketahanan terhadap tekanan lingkungan, kemampuan adaptasi yang tinggi, ketahanan terhadap hama, penyakit serta pertumbuhan yang cepat.

“Sebagai dasar dalam ilmu budidaya tanaman dan ilmu biologi menjelaskan bahwa tanaman yang satu genus bisa dilakukan penyambungan (enten ), tempelan (okulasi ), susuan dan lain-lain,” katanya.

Karena itu pilihan dalam melakukan rekayasa budidaya ini tergantung dengan keahlian yang dimiliki karena mempunyai kelemahan dan kelebihan tersendiri.

Sedangkan jambu yang paling tinggi daya tahannya adalah jambu keling, yang buahnya berwarna hitam kalau sudah tua yang ukurannya sebesar ibu jari tangan.

“Tanaman ini banyak tumbuh di daerah padang alang-alang Kabupaten Solok, walau sudah puluhan kali terbakar di bawahnya dia tetap hidup dan batangnya relatif besar. Kalau jambu air juga cukup banyak tumbuh liar di lereng tebing, tepi sungai, dan Ngarai Sianok Bukittinggi,” katanya.

University of Maryland Medical Center Berhasil Lakukan Operasi Transplantasi Wajah Pertama


Dokter di University of Maryland Medical Center melakukan transplantasi wajah paling luas pertama di AS. Mereka mengganti semuanya dari garis rambut ke tulang leher seorang pria berusia 37 tahun, termasuk tulang rahang atas dan bawah, gigi, dan sebagian dari lidah. Operasi itu berlangsung selama 36 jam dan melibatkan lebih dari 200 tenaga medis profesional.

Seminggu setelah operasi, penerima wajah, Richard Norris, dari Hillsville, Virginia, bisa menggerakkan rahangnya, membuka dan menutup matanya, menggosok gigi, dan bercukur. Norris mengalami kecelakaan senjata pada tahun 1997 yang merusak wajah dan rahangnya. Dokter mengatakan ia mengasingkan diri sejak kecelakaan itu serta memakai masker saat pergi atau tampil di depan umum.

Dr Eduardo Rodriguez, ahli bedah terkemuka yang memimpin operasi itu, mengatakan ia telah melakukan 12 operasi yang berbeda pada Norris sejak tahun 2005, tetapi tidak pernah bisa mengembalikan wajahnya. “Dengan transplantasi kami dapat mengembalikan dia ke kehidupan 15 tahun lalu dan membuatnya berfungsi kembali di masyarakat,” kata Rodriguez.

Transplantasi wajah adalah bagian dari operasi 72 jam di rumah sakit ketika empat pasien lainnya menerima sumbangan organ dari donor anonim yang sama – berupa sebuah jantung, paru-paru, hati, dan ginjal.

Proses ini dimulai pukul 09.30 pada Sabtu, 17 Maret ketika donor diidentifikasi dan mulai mengevaluasi karakteristik kesehatan secara keseluruhan. Pukul 04.00 pagi pada hari Senin, tim memulai operasi ‘mencopot’ wajah donor. Dokter kemudian menghubungkan tulang, otot, lidah, saraf dan pembuluh darah ke Norris, menggunakan komputer untuk membimbingnya. Operasi itu selesai pada 16.00, Selasa.

Dr Stephen Bartlett, ketua departemen bedah di University of Maryland, mengatakan operasi itu adalah puncak dari 10 tahun penelitian yang didanai oleh Office of Naval Research, yang berharap untuk mendapatkan terobosan yang akan digunakan untuk tentara yang terluka dalam pertempuran.

Sapi Bali Silangan Dengan Banteng Jawa Akan Segera Melahirkan Anak


Taman Safari Indonesia II Prigen, Pasuruan, Jawa Timur menantikan kelahiran hewan hasil persilangan antara sapi Bali dan banteng Jawa. Saat ini dari 10 ekor sapi Bali betina di area konservasi, tujuh di antaranya bunting. Mereka ditempatkan pada kandang khusus bersama seekor banteng Jawa jantan.

Chief Animal Keeper Taman Safari II Suwarto mengatakan, usia kehamilan sapi-sapi Bali itu menginjak delapan bulan. Diperkirakan, kata dia, pada 23 April 2012 anak-anak sapi-banteng itu lahir. “Kalau program kawin silang ini berhasil, maka akan diteruskan ke daerah-daerah lain,” kata Suwarto, Senin 26 Maret 2012.

Suwarto menambahkan, banteng Jawa jantan diambil dari Taman Nasional Hutan Baluran, Banyuwangi. Sebenarnya, kata Suwarto, ada lima ekor banteng sebagai eksperimen. Namun empat ekor lainnya dibawa ke Alas Purwo.

Kurator satwa Taman Safari Indonesia II, dokter hewan Ivan Chandra mengemukakan, kawin silang banteng dengan sapi tak sulit karena kandungan genetik kedua hewan hampir sama. Di daerah beriklim tropis, keduanya cocok dikembangkan.

Ivan melanjutkan, kawin silang Taman Safari Prigen baru pertama kali terjadi. Daerah ini dijadikan proyek percontohan nasional. Bila sukses, dilakukan di tempat lain. “Jika sapi-sapi Bali itu melahirkan anak jantan, maka akan dipakai sebagai penjantan daerah-daerah lain,” kata Ivan.

Dokter hewan menambahkan bawa Gubernur Jawa Timur Soekarwo telah memesan nama bila anak sapi-banteng hasil persilangan itu lahir. Soekarwo, kata Ivan, menginginkan agar dinamai Sapi Karwo. “Itu permintaan gubernur secara khusus,” ucap Ivan.

Misteri Unur dan Lemah Duwur Di Cibuaya dan Batujaya Karawang


BERPULUH tahun lamanya penduduk Cibuaya dan Batujaya, daerah yang letaknya di bagian utara Karawang, menganggap unur dan lemah duwur di daerahnya sebagai misteri. Sebagian ada yang beranggapan tempat itu bekas benteng pasukan Mataram yang akan menyerbu VOC di Batavia. Maklum, daerah utara Karawang pada abad 17 pernah dijadikan basis pertahanan Mataram sebelum menyerbu Batavia.

Tetapi sebagian lagi menghubungkan unur dan lemah duwur di daerahnya sebagai tempat angker. Unur Jiwa di Desa Segaran, Kecamatan Batujaya misalnya, pernah dikait-kaitkan dengan mistik. Ketika daerah itu dilanda banjir Citarum sebelum dibangun Waduk Ir Djuanda di Jatiluhur misalnya, Unur Jiwa pernah dijadikan kandang ternak kambing milik penduduk karena daerah itu letaknya lebih tinggi 2-3 meter di atas permukaan tanah sekitarnya.

“Tetapi sore dimasukkan kandang, paginya selalu ada yang mati,” cerita penduduk setempat. Karena itu, tanah yang lebih tinggi di daerah itu lalu dinamakan Unur Jiwa.

Unur dan lemah duwur adalah timbunan tanah setinggi 2-3 meter di atas permukaan tanah sekitar sehingga menyerupai bukit kecil. Di dua daerah itu ada lebih 20 unur dan lemah duwur dengan latar belakang kepercayaan penduduk setempat yang bervariasi. Padahal, Unur Jiwa yang selama ini dihubung-hubungkan dengan mistik, sebenarnya tidak berbeda dengan unur-unur lain yang ada di daerah itu, atau lemah duwur di Cibuaya. Kedua-nya merupakan peninggalan budaya masa lampau berupa candi yang tergolong sangat langka di Jabar. Kecuali Candi Cangkuang di Leles, Kabupaten Garut yang sudah dipugar, peninggalan lainnya adalah reruntuhan Candi Ronggeng di Pamarican, Kabupaten Ciamis bagian selatan.

Namun berbeda dengan Candi Ronggeng yang merupakan sisa-sisa reruntuhan candi batu, sisa-sisa reruntuhan candi di Batujaya dan Cibuaya merupakan candi bata. Bahannya bukan dari batu andesit seperti candi-candi di Jateng atau Jatim, tetapi bata merah sebagaimana bahan bangunan yang digunakan untuk membangun rumah. Sisa-sisa percandian bata di dua daerah itu letaknya sekitar lima km dari pantai utara Laut Jawa.

***

CIBUAYA dan Batujaya terletak sekitar 40 km utara Karawang. Jika ditarik garis lurus, kedua daerah itu berjarak sekitar 15 km. Cibuaya ada di Kecamatan Pedes, daerah yang tidak dilalui sungai besar. Sedangkan Batujaya letaknya berdekatan dengan Sungai Citarum yang jadi batas alam Kabupaten Karawang dengan Kabupaten Bekasi.

Sisa-sisa candi bata di Cibuaya pertama kali diketahui Dinas Purbakala tahun 1952. Saat itu ditemukan arca Wisnu dalam penggalian sumur penduduk setempat yang letaknya tidak jauh dari sisa-sisa candi bata. Penemuan itu disusul penemuan arca Wisnu lainnya yang kemudian dinamakan arca Wisnu II (1957) lalu penemuan fragmen arca Wisnu III (1975).

Penggalian percobaan maupun penggalian penelitian di situs Lemah Duwur Wadon atau Candi Cibuaya I, dilakukan beberapa kali oleh Lembaga Purbakala dan Peninggalan Nasional tahun 1975. Sembilan tahun kemudian (1984), Jurusan Arkeologi Universitas Indonesia (UI) mengadakan penggalian di situs Lemah Duwur Wa-don dan Lemah Duwur Lanang (Candi Cibuaya II). Lemah Duwur Lanang letaknya sekitar 750 meter dari Lemah Duwur Wadon.

Dari penggalian itu diketahui, Candi Cibuaya I diduga berbentuk bujur sangkar berukuran sekitar 5 x 5 meter dengan pintu tangga masuk menghadap ke timur. Sedangkan Candi Cibuaya II berbentuk bujur sangkar berukuran 9,6 x 9 meter. Candi terakhir ini menghadap ke arah timur laut dengan lebar tangga 2,2 meter.

Dalam sebuah Seminar Sejarah dan Budaya II tentang Galuh, Drs Hasan Djafar, staf pengajar Fakultas Sastra UI (FSUI) menyimpulkan, kompleks bangunan candi di daerah Cibuaya merupakan tinggalan budaya bercorak Hindu. Ia menunjuk lingga batu berukuran tinggi sekitar satu meter dan garis tengah sekitar 40 cm yang ada di bagian tengah sisa Candi Cibuaya II, selain tiga arca Wisnu yang ditemukan tidak jauh dari situs percandian.

***

SITUS candi bata di Kecamatan Batujaya ada di Desa Segaran dan Telagajaya, tersebar pada areal sekitar lima km2. Karena pemekaran wilayah, kedua desa itu kini masuk wilayah Kecamatan Pakisjaya.

Sejak 1985, situs di daerah ini sudah sering diteliti, baik melalui survai permukaan tanah, survai bawah tanah melalui geoelectric prospecting dan pemboran maupun melalui penggalian-penggalian arkeologi. Dalam penggalian Candi Segaran I yang dilakukan Jurusan Arkeologi UI (1985 dan 1986) diketahui denah bangunan candi berbentuk bujur sangkar berukuran 19 x 19 meter dan tinggi bangunan yang tersisa sekitar lima meter. Bagian atasnya tampak bata yang disusun melingkar memberi kesan bentuk stupa.

Sementara penggalian Candi Telagajaya V yang dilakukan Tim Penelitian Terpadu Sejarah Kerajaan Tarumanagara, Universitas Tarumanagara (Untar) berhasil mengetahui sebagian besar sisa kaki candi yang berbentuk bujur sangkar dengan ukuran 10 x 10 meter. Kaki bangunan candi memiliki dua tangga naik di sisi barat dan timur. Arah hadap bangunan menyudut sekitar 50 derajat terhadap arah utara-selatan. Seperti Candi Segaran I, bagian atas Candi Telagajaya V memiliki bentuk melingkar konsentrik yang menggunakan bata-bata lengkung berbagai ukuran sehingga menyerupai stupa.

Penggalian situs Candi Telagajaya VIII berhasil menampakkan sisa bagian candi yang berdenah empat persegi panjang ukuran 6,20 x 4,60 meter. Bangunannya menghadap ke arah timur, membentuk sudut 50 derajat arah utara selatan. Salah satu hal yang dianggap penting oleh Hasan Djafar adalah, candi ini memiliki sebuah sumuran ukuran 1,8 x 1,8 M yang terletak di tengah candi.

***

SITUS Batujaya pertama kali disebut dalam buku De Haan yang menyebutkan, pada tahun 1684 masih berupa rawa. Selain itu, daerah sekitarnya merupakan tambak yang membentang sejak Sungai Citarum sampai Ciparage. Tambak-tambak itu, kecuali tambak di Batujaya, telah disewakan oleh Tumenggung Panata Juda kepada orang-orang Cina.

Tahun 1691, rawa Batujaya dikuasai Tumenggung Wirabaya dan tahun 1706, Komando Belanda di Tanjungpura (lima kilometer barat Karawang) mengingatkan Wirabaya tentang janjinya membersihkan rawa-rawa di sekitar Batujaya untuk dijadikan sawah dan ditanami nila.

Peneliti bidang klasik Pusat Penelitian Arkeologi Nasional, Drs PEJ Ferdinandus dalam Laporan Penelitian Arkeologi Situs Batujaya (1995) mengungkapkan, daerah Batujaya mulai diperhatikan tahun 1981 oleh Sumarah Adhiyatman. Tahun 1985, FSUI bekerja sama dengan Puslitarkenas meneliti situs Segaran dan menemukan sisa bangunan bata berbentuk bujur sangkar berukuran 19 x 19 meter dengan tinggi 4,7 meter dari permukaan sawah di sekitarnya. Pada bagian atas terdapat sejumlah bata yang disusun melingkar yang memberi petunjuk, kemungkinan di bagian atas bangunan terdapat stupa.

Tahun 1987, Budi Teguh Prasetyo yang sedang menyiapkan skripsi, melakukan penelitian mandiri di daerah ini. Namun situs-situs di daerah ini tetap saja menarik minat para arkeolog mengingat banyaknya hal-hal yang menarik. Antara lain karena struktur bangunan candi terbuat dari bata dengan jumlah cukup banyak.

Penelitian di daerah itu masih terus berlanjut sehingga pada tahun 1989, Ditlinbinjarah bekerja sama dengan Badan Koordinasi Survai dan Pemetaan Nasional, Fakultas Geografi Universitas Gadjah Mada (UGM) serta Universitas Tarumanegara (Untar) meneliti Unur Asem dan Telaga Jaya VIII. Tiga tahun kemudian, Mei 1992, Bidang Arkeometri Puslitarkenas meneliti lingkungan geologis, arkeologis, geomorfologis, hidrologis dan pengamatan terhadap aspek teknologi dan konservasi artefak yang ditemukan selama penelitian.

Bidang Arkeologi Klasik Puslitarkenas sendiri sudah dua kali melakukan penelitian (1993, 1995). Terakhir, penelitian dilakukan di Candi Segaran V dan diketahui, panjang sisi barat laut atau Unur Blandongan 21,6 meter, lebar penampil tangga naik 7,2 – 3,2 meter.

Ketua tim Drs PEJ Ferdinandus melaporkan, di antara sudut barat dan sudut timur Unur Blandongan ada penampil untuk tangga naik. Bagian penampil ini berukuran 7,2 meter pada bagian pangkal yang menempel sisi bangunan dan, 3,2 meter di bagian ujung tangga. Tangga naik terdiri sembilan anak tangga dengan ukuran lebar (lorong) tangga 1,85 meter di bagian atas dan 2,4 meter di bagian bawah.

Lantai anak tangga dibuat dari batu andesit, sedangkan bagian dalam dibuat dari bata. Pada bagian paling atas ada lantai ukuran 1,85 x 1,40 meter. Pada anak tangga kedelapan dari bawah, ditemukan bagian yang sengaja diisi batu pipisan. Batu itu dipangkas sedemikian rupa sehingga mendapatkan ukuran sesuai lebar anak tangga. Batu pipisan yang dibuat dari bahan andesit ini banyak ditemukan, baik di daerah Batujaya maupun Cibuaya.

Pada kaki bangunan sisi barat laut ditemukan hiasan pelipit kumuda, hiasan kerucut terpotong. Selain ditemukan sekitar 28 pecahan tembikar dan keramik, di antara reruntuhan bata ditemukan pecahan tanah liat halus dengan pembakaran tinggi yang bentuknya sudah tidak utuh lagi. Pecahan itu berbentuk hampir persegi dengan panjang yang tersisa 3 cm, lebar 4 cm dan tebal 0,8 cm. Pada salah satu permukaan pecahan ada relief buddha-mandala yang dibingkai lijst berbentuk tonjolan membulat di bagian tepinya. Pada bagian atas tergambar tiga arca Buddha Amitabha dalam sikap duduk bersila.

***

PENELITIAN terhadap unur dan lemah duwur di Batujaya dan Cibuaya boleh jadi masih akan terus dilakukan. Yang terakhir, Bagian Proyek Pembinaan Peninggalan Sejarah dan Kepurbakalaan Jawa Barat, sejak April lalu memugar Candi Jiwa. Tetapi teka-teki tentang unur dan lemah duwur masih belum bisa terjawab.

Apalagi dihubungkan dengan masa lalu daerah itu. Daerah Batujaya bagian utara semula merupakan limpahan banjir Sungai Citarum karena morfologi daerahnya datar dengan ketinggian sekitar 4 meter di atas permukaan laut. Anak Sungai Citarum yang mengalir dekat situs itu adalah Sungai Asin. Namun karena pendangkalan dan perluasan areal sawah, sungai itu mati secara alami.

Yang menjadi pertanyaan, di manakah lapisan budaya pada waktu candi-candi di daerah itu berfungsi. Sebab jika dilihat dari hasil penelitian Puslitarkenas tahun 1993, lapisan budaya bangunan Candi Blandongan ada pada kedalaman sekitar 1,5 meter di bawah permukaan tanah sekarang. Selain itu, di sekitar bangunan ditemukan petunjuk semacam tanah endapan yang merupakan bekas parit.

Meski penelitian atas runtuhan bangunan dilakukan beberapa kali, namun pertanggalan situs belum bisa diketahui pasti. Dari hasil survai, baik oleh tim maupun perorangan, ditemukan pecahan keramik berbagai periode, dari keramik abad 3 sampai abad 20 M.

Penelitian arkeologi terhadap situs-situs di daerah ini masih akan membutuhkan waktu lama mengingat masih banyak yang tertimbun tanah.