Category Archives: Arkeologi

Kursus Makeup Glamour Party Workshop Sehari with Reza Azru


Glamour Party Make Up Workshop dan Kursus sehari bersama Makeup Artist Reza Azru

Glamour Party Make up Workshop with Reza Azru

Bagaimana mendapatkan hasil makeup yang glamour untuk ke pesta tanpa terlihat medok. Dibimbing secara ekslusif oleh Reza Azru. Tempat terbatas hanya untuk 30 Orang. Tempat duduk berdasarkan nomor pendaftaran.

Materi : Blending Foundation, Contouring, Perfect Brows, Bleding Eye Shadow, Lipstick Application.

Peserta wajib membawa model sendiri, makeup tool dan bulu mata.

Kursus seminar workshop diadakan di Jakarta Design Center – Slipi Lantai 6, Lotus 3 pada hari Jumat, 23 September 2016 (09:00 – 17:00)

Cara Membuat Limbah Batu Bara Menjadi Aspal Untuk Jalan Raya


Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) melansir telah menandatangani kesepakatan bersama Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), berikut Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PU-Pera) terkait pemanfaatan fly ash dan bottom ash. Asal tahu, fly ash (abu terbang) dan bottom ash (abu dasar) merupakan limbah yang dihasilkan dari Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) batubara. Di mana kedua limbah tersebut akan digunakan untuk pembangunan infrastruktur pekerjaan umum dan perumahan rakyat.

“Sampai tahun ini saja pembangkit batubara telah mengonsumsi hampir 80 juta ton per tahun. Kalau Program 35.000 MW jalan, maka di akhir tahun 2019 diperkirakan ada 180 juta ton hingga 209 juta ton batubara yang dibakar dan lima persen dari volume tersebut, sekitar delapan hingga sembilan juta ton akan menjadi fly ash dan bottom ash,” ujar Direktur Jenderal Ketenagalistrikan Jarman seperti dikutip dari laman resminya, Minggu (18/10).

Seperti diketahui, saat ini PLTU batubara masih mendominasi sistem pembangkitan listrik di Indonesia. Selain karena memiliki biaya produksi yang paling murah, banyaknya cadangan sumber daya batubara di Indonesia yang ditaksir mencapai 29,48 miliar ton turut menjadikan alasn dipakainya batubara sebagai bahan baku energi ketimbang sumber energi primer lainnya.

Berangkat dari besarnya potensi tersebut, pemerintah pun berencana menjadikan fly ash dan bottom ash sebagai bahan baku proyek infrastruktur. “Dengan memanfaatkan limbah Bahan Berbahaya dan Beracun (B3), artinya kita juga menghemat sumber daya. Kita membantu melaksanakan penurunan target emisi sebesar 26 persen dan lingkungan pun terjaga dengan baik,” ujar Direktur Jenderal Pengelolaan Sampah, Limbah, dan Bahan Berbahaya dan Beracun KLHK Tuti Hendrawati Mintarsih.

Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Kementerian PU-Pera Arie Setiadi Moerwanto menambahkan fly ash dan bottom ash sendiri akan dimanfaatkan dalam pembuatan paving blok, batako, konstruksi beton. Adapun dipakainya dua limbah tersebut dimaksudkan untuk mengurangi semen, dan dapat dimanfaatkan pula untuk stabilisasi tanah dasar, khususnya jenis tanah ekspasif.

Mahasiswa IPB Temukan Cara Pembuatan Gula Rendah Kalori Dari Ampas Singkong


Empat mahasiswa Institut Pertanian Bogor (IPB) berhasil menemukan pembuatan gula rendah kalori dari limbah singkong. Penemuan ini membuat mereka dianugerahi medali emas oleh WIFFA setelah bersaing dengan beberapa negara di Asia dan Eropa yang dilaksanakan di Macau, Hongkong, beberapa waktu lalu.

Keempat mahasiswa ini adalah Galih Nugraha (22) asal Tasikmalaya, Putri Vionita (21) asal Banyuwangi, Faraouq (22) asal Cilacap dan Abdul Aziz (22) asal Boyolali. Keempat mahasiswa ini pun mewakili Indonesia di kancah internasional dan membuat kagum mata dunia setelah berhasil dengan penemuannya dari limbah yang biasa dibuang oleh masyarakat Indonesia.

Galih Nugraha, salah seorang mahasiswa penemu gula rendah kalori dari limbah singkong itu mengatakan, awalnya mereka menilai banyaknya limbah singkong yang dibuang oleh para warga umumnya sudah tak bermanfaat dan akan mudah didapatkan jika dipakai bahan baku. Setelah melakukan beberapa riset dan penelitian, mereka pun berhasil membuat gula dari limbah singkong tersebut. Karena dalam limbah singkong itu terdapat kandungan glukosa yang sangat banyak.

“Kami awalnya melihat limbah singkong akan mudah didapatkan untuk bahan baku. Setelah kami melakukan penelitian, ditemukan kandunga glukosa dan bisa dibuat gula beku rendah kalori,” kata Galih, di rumahnya di Tasikmalaya bersama rekannya, Selasa (15/9/2015).

Galih yang merupakan salah satu mahasiswa Fakultas Pertanian IPB ini pun menunjukkan pembuatan gula rendah kalorinya yang sangat sederhana tersebut. Tak seorang pun menyangka bahwa limbah kulit singkong bisa dijadikan gula rendah kalori selain dari tebu. Temuan ini pun membuat mereka ditunjuk untuk mewakili Indonesia di mata dunia sebagai inovator atas beberapa temuan oleh beberapa negara.

“Kami pun tak menyangka kalau temuan kami bisa membawa nama harum Indonesia di mata dunia,” kata Galih.

Mahasiswa penemu gula rendah kalori dari limbah singkong lainnya, Putri Vionita (21) asal Banyuwangi menuturkan, pembuatan gula rendah kalori dari singkong ini sangat mudah dan bisa dilakukan oleh semua orang. Kulit singkong dibersihkan dan dicuci hingga bersih kemudian direndam beberapa jam.

Kemudian, hasil pencucian digiling memakai Blender sampai halus dan didiamkan selama dua hari. Kemudian kulit singkong yang telah didiamkan dimasak dengan diberi enzim. Setelah proses pemasakan akan langsung menjadi gula dan didinginkan di lemari es sampai membeku dan bisa langsung dikonsumsi.

“Prosesnya sederhana dan mungkin sekali bisa diproduksi pasar. Ongkosnya pun sangat murah. Harapan kami kalau penemuan ini bisa diproduksi pasar tak usah impor gula lagi dari luar negeri,” tambah Putri.

Harapan para mahasiswa inovatif ini pun sangat terbuka lebar untuk pengurangan impor gula oleh Indonesia jika diproduksi secara masal. Pasalnya, Indonesia merupakan salah satu negara yang dikenal sebagai penghasil singkong di dunia.

Batu Akik Barjad Api Asal Wonogiri Berasal Dari Meteorit Mars


Ilmuwan mengungkap keberadaan batu akik barjad api pada meteorit yang berasal dari Mars. Temuan itu menarik karena batu barjad api ternyata juga terdapat di Wonogiri dan bisa menjadi petunjuk tentang keberadaan kehidupan di Mars.

Batu akik barjad api ditemukan dalam bentuk fraksi kecil dengan berat hanya 1,7 gram, ditemukan pada mateorit Nakhla yang tersimpan di Natural History Museum di London. Meteorit itu jatuh di Nakhla, Mesir, pada tahun 1911.

Dalam publikasi di jurnal Meteoritics and Planetary Science pada 30 Juni 2015 lalu, ilmuwan menyatakan bahwa batuan yang ditemukan merupakan barjad api atau “fire opal” karena warnanya yang menyala merah atau oranye.

Barjad api itu ditemukan lewat pengamatan saksama dengan mikroskop elektron di School of Physics and Astronomy, University of Glasgow. Barjad api dipercaya terbentuk dari interaksi silika pada meteorit dan air di Mars.

Martin Lee, pimpinan studi yang juga ilmuwan di School of Geographical and Earth Science di University of Glasgow, mengatakan, “Potongan Nakhla yang kita miliki kecil dan ukuran opalnya lebih kecil lagi, tetapi temuan opal ini menarik karena beberapa hal.”

“Pertama, ini pastinya mengonfirmasi penemuan lewat citra dan eksplorasi NASA bahwa permukaan Mars memiliki deposit opal. Ini pertama kalinya benda dari Mars yang ada di Bumi diketahui punya opal,” ujarnya.

“Kedua, kita tahu bahwa opal di Bumi seperti ini sering terbentuk di sekitar sumber air panas. Mikroba hidup pada kondisi itu. Opal bisa menjebak mikroba selama jutaan tahun. Jika mikroba memang ada di Mars, mungkin mereka juga terawetkan pada deposit opal Mars,” ujarnya.

Riset yang dilakukan sejak tahun 2013 ini perlu dilanjutkan. Lee seperti dikutip Physorg, Senin (7/7/2015), mengatakan, “Studi lebih lanjut tentang opal di Mars pada misi selanjutnya bisa membantu kita mempelajari Mars pada masa lalu dan apakah memang pernah punya kehidupan.

Daftar Kutukan Prasasti Nusantara Di Indonesia


Lord Minto yang berani membawa Prasasti Sangguran, entah kebetulan atau memang terkutuk, ternyata bernasib sial. Inilah keadaan rumah keluarga Lord Minto VII di Hawick, Roxburghshire, Skotlandia, sekarang. Rumah itu berjarak sekitar 650 meter dari kawasan padang golf yang luas dan dikelilingi perbukitan di perbatasan Inggris dan Skotlandia. Kondisi prasasti yang dibawa ke sana itu kini sangat memprihatinkan. Permukaannya tertutup lumut dan mengalami pelapukan karena harus menghadapi cuaca ekstrem Skotlandia tanpa pelindung dan perawatan sama sekali dari profesional.

Prasasti itu dapat sampai ke sana karena Letnan Gubernur Jenderal Jawa Sir Thomas Stamford Raffles. Saat berkuasa di sini, ia membawa prasasti tersebut dari Jawa Timur untuk dihadiahkan kepada atasannya, Gubernur Jenderal Lord Minto I—yang bernama lengkap Sir Gilbert Elliot-Murray-Kynynmound—di India. Maka Prasasti Sangguran dikenal juga dengan nama Batu Minto.

Pada Juni 1813, kapal Matilda yang membawa Batu Minto dari Surabaya melego jangkar di Pelabuhan Kolkata, India. Lord Minto sangat senang. Seperti terungkap dalam suratnya kepada Raffles, ia menyebut prasasti itu pesaing alas patung Peter yang Agung di St Petersburg, Rusia. Begitu senangnya sampai ia menyuruh agar batu asal Jawa itu diletakkan di kampung halamannya, di puncak bukit Minto Craigs, di sebelah utara Sungai Tevoit, Skotlandia.

Namun sebuah tragedi terjadi. Lord Minto tak pernah bisa melihat batu asal Sangguran itu di Skotlandia. Enam bulan setelah menerima batu itu, Lord Minto dicopot dari jabatannya sebagai gubernur jenderal tanpa diketahui sebab-musababnya. Dia pulang ke Inggris dalam keadaan tidak sehat. Ia wafat di Stevenage pada 21 Juni 1814 dalam perjalanan menuju Skotlandia. Letnan Gubernur Jenderal Jawa Sir Thomas Stamford Raffles, yang mengusung Prasasti Sangguran untuk dihadiahkan kepada Lord Minto, ternyata bernasib setali tiga uang.

Setelah pemberlakuan Konvensi London, Agustus 1814, ia ditarik pulang ke Inggris dan digantikan oleh John Fendall. Meski kembali ke Hindia Timur pada 1818 sebagai Gubernur Bengkulu, pada 1823 Raffles dipulangkan lagi. Ia meninggal sehari sebelum ulang tahunnya yang ke-45, 5 Juli 1826. Sampai sekarang, posisi pasti makamnya di Hendon, Inggris, tidak pernah bisa ditentukan.

Hal serupa terjadi pada Bupati Malang yang bertanggung jawab atas pemindahan tugu tapal batas Desa Sangguran itu, Kiai Tumenggung Kartanegara alias Kiai Ranggalawe. Ia diyakini mulai memerintah pada 1770 dan wafat pada 1820. Namun memori penduduk terhadap Kiai Ranggalawe seperti terhapus. Terbukti, keberadaan situs makam sang Bupati tidak pernah diketahui.

Apakah kematian Lord Minto, Raffles, dan Bupati Malang itu ada kaitannya dengan kutukan tugu tapal batas Desa Sangguran tersebut? Yang jelas, di lokasi situs Punden Sangguran (lebih-kurang 50 meter dari pinggir jalan alternatif Batu-Malang), kini berdiri pondok yang kayunya mulai lapuk. Bagi Dwi Cahyono, arkeolog dan dosen Jurusan Sejarah Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Malang, Prasasti Sangguran juga memuat pelbagai data lain yang, kendati fragmentaris, sangat penting.

“Prasasti itu, misalnya, bisa sebagai sumber informasi untuk mengetahui sejarah alutsista (alat utama sistem persenjataan) kita di masa lalu,” katanya. Prasasti Sangguran, menurut Dwi, menjadi satu-satunya prasasti di Pulau Jawa yang memberikan informasi adanya wilayah yang dihuni komunitas ahli pembuat logam. Dari prasasti itu didapat informasi bahwa Sangguran adalah desa yang dihuni para pandai besi. “Mereka dianggap berjasa karena telah membuatkan banyak persenjataan dan perkakas rumah tangga yang dibutuhkan kerajaan,” ujar Dwi.

Menurut Dwi Cahyono, arkeolog dan dosen Jurusan Sejarah Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Malang, pondok itu dibangun oleh komunitas penghayat kepercayaan saat kampanye pemilihan kepala daerah Kota Batu pada 2012. Mereka, kata Dwi, mengadakan nyadran dan ritual lain untuk menghormati Punden Sangguran atau Punden Mojorejo.

“Ada anggota parlemen Kota Batu yang rajin ke sana untuk bernazar,” ujar Dwi ketika menemani mengunjungi Punden Mojorejo. Setahu Dwi, banyak juga orang dari luar Malang, seperti Surabaya, Kediri, dan Tulungagung, mendatangi Punden Mojorejo mencari berkat di situ. Mereka biasanya membawa sesajen. Maka Pemerintah Kota Batu memutuskan membuat larangan pada papan pengumuman yang didirikan tepat di depan pondok. Inti larangan itu: siapa pun tidak boleh melanggar Pasal 15 Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1992 tentang benda cagar budaya.

“Punden ini mengarah ke timur, menghadap ke Gunung Wukir. Kalau dari posisi Gunung Wukir, Punden Mojorejo berada di sisi baratnya,” kata Dwi, 53 tahun. Menurut dia, dalam Pararaton, yakni kitab yang berisi kisah raja-raja penguasa Pulau Jawa yang ditulis pada 1613 Masehi, Gunung Wukir disebut dengan nama Rabut Jalu, gunung suci tempat orang bersemadi. Ahli epigrafi dari Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia, Hasan Djafar—yang menerjemahkan isi Prasasti Sangguran di atas—menjelaskan bahwa Desa Sangguran yang dijadikan sima adalah daerah suci yang tak boleh diganggu para patih, wahuta, dan petugas kerajaan, seperti petugas pemungut pajak.

Prasasti ini dibuat atas perintah Raja Mataram Sri Maharaja Rakai Pangkaja Dyah Wawa Sri Wijayalokanamottungga pada 850 Saka atau 928 Masehi. Ditulis dengan aksara Jawa kuno, bagian depan (recto) sebanyak 38 baris, bagian belakang (verso) 45 baris, dan samping (margin) kiri 15 baris. Bagian pembuka (manggala) ditulis dalam bahasa Sanskerta.

“Prasasti Sangguran sangat penting untuk merekonstruksi aspek masyarakat dan kebudayaan pada masa Kerajaan Mataram, sekitar awal abad ke-10,” tutur Hasan. Dalam sejarah Indonesia kuno, prasasti ini merupakan prasasti terakhir Kerajaan Mataram ketika pusat pemerintahan masih berkedudukan di Medang, Jawa Tengah—sebelum dipindahkan ke Tamwlang, Jawa Timur, oleh Sri Maharaja Rake Hino Dyah Sindok Sri Isanawikrama Dharmmotunggadewa. Prasasti ini juga menceritakan pergeseran kekuasaan di antara penguasa Kerajaan Mataram.

Dwi Cahyono, arkeolog di Malang, menduga ahli keris Mpu Gandring juga tinggal di Desa Sangguran. Ken Arok pun memesan keris kepada Mpu Gandring di Desa Sangguran. Berbekal keris itu, Ken Arok membunuh Tunggul Ametung dan memperluas pengaruh Tumapel, yang saat itu dikuasai Kerajaan Kediri, sampai ia menghancurkan Kerajaan Kediri dan mendirikan Kerajaan Singosari. Namun, jauh sebelum masa Ken Arok, kata Dwi, Desa Sangguran sudah dikenal Kerajaan Mataram sebagai desa pembuat senjata.

Karena Prasasti Sangguran amat penting, menurut para arkeolog, seharusnya dikembalikan ke Indonesia. Upaya pemulangan Batu Minto itu, kata Peter Carey—sejarawan asal Inggris, pernah digagas Nigel Bullough, Indonesianis asal Inggris yang memiliki nama Jawa Hadi Sidomulyo. Menurut Carey, dia tahu bahwa Bullough melakukan negosiasi pemulangan Prasasti Sangguran sejak 2003.

“Jauh sebelum saya ke sini, Nigel Bullough sudah punya niat bernegosiasi dengan keluarga Lord Minto,” kata Carey . Bullough, yang ditemui di Universitas Surabaya Training Center di Desa Tamiajeng, Kecamatan Trawas, Kabupaten Mojokerto, akhir Maret lalu, menolak memberikan komentar ihwal proses negosiasi pengembalian Prasasti Sangguran dengan keluarga Lord Minto itu. “Case closed. Saya tidak mau bercerita apa pun soal Batu Minto,” ujar Bullough.

Ada nada kekecewaan dalam ekspresi Bullough. Dia sendiri pernah secara rinci membuat laporan mengenai proses negosiasi tim Departemen Kebudayaan dan Pariwisata dengan Lord Minto VII. Laporan yang bersifat rahasia itu dikirimkan Bullough kepada Carey pada 2011 ketika ada rencana membuat acara peringatan 200 tahun Raffles. Laporan itu kemudian tersebar luas.

Dari laporan tersebut terungkap bahwa Bullough mengenal Lord Minto VII dan lantas mengirim surat elektronik yang menjelaskan betapa bernilainya obyek yang diwariskan pendulunya itu, dan memintanya memberikan pertimbangan yang serius atas masa depan benda tersebut. Dijelaskan dalam surat itu bahwa Batu Minto merupakan benda cagar budaya yang dipindahkan dari tempatnya di Indonesia lebih dari 200 tahun lalu. Kehilangan itu sangat disesalkan dan pengembaliannya begitu diharapkan.

Korespondensi berlanjut hingga membuahkan pertemuan. Tim arkeolog dari Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata, yang terdiri atas Sekretaris Direktur Jenderal Sejarah dan Purbakala Sri Rahayu Budiarti, Direktur Peninggalan Sejarah dan Purbakala Soeroso, Kepala Balai Konservasi Peninggalan Borobudur Dukut A. Santoso, dan Nigel Bullough dari Yayasan Nandiswara, berangkat menyambangi batu prasasti itu pada 19 Februari 2006 saat musim semi. Mereka bertemu dengan Lord Minto VII di Kedutaan Besar Republik Indonesia untuk Kerajaan Inggris di London.

Hari Untoro Drajat, yang menjabat Direktur Jenderal Sejarah dan Purbakala ketika itu, membenarkan kabar bahwa pihaknya membentuk tim. Menurut Hari, ia mendapat laporan tentang keberadaan Prasasti Sangguran itu dari Bullough. “Saya minta Kepala Balai Konservasi Peninggalan Borobudur, Pak Dukut, ikut serta untuk melihat kemungkinan mengangkut prasasti itu,” ujarnya.

Mantan Direktur Peninggalan Sejarah dan Purbakala Soeroso masih mengingat jelas keberangkatan mereka ke London. “Kami ke sana untuk memastikan apa yang disampaikan Pak Nigel Bullough, yang sudah lama melakukan pendekatan, dan apakah Lord Minto VII bersedia mengembalikan,” katanya.

Menurut Soeroso, dalam pertemuan di KBRI pada siang hari 21 Februari 2006 itu, Lord Minto VII menyatakan tak berkeberatan melepas prasasti tersebut. Namun ia mengingatkan perlunya persetujuan dewan pengawas (trustees), yang bertanggung jawab atas pengelolaan aset yang dimilikinya. Berdasarkan konsultasi dengan beberapa pihak, termasuk British Museum dan Victoria and Albert Museum,Lord Minto VII menginginkan kompensasi atas Prasasti Sangguran yang dimilikinya.

Singkatnya, pengembalian itu tidak gratis. Hari Untoro menegaskan, sejak awal, tim yang diberangkatkannya disiapkan untuk tidak membayar atau memberikan kompensasi. Alasannya, jika membayar kompensasi, itu berarti mereka mengakui barang tersebut milik si pemegang prasasti. Hari juga mengatakan pemerintah menyiapkan skenario. Bila Lord Minto VII mau mengembalikan prasasti tersebut secara cuma-cuma, pemerintah melalui Duta Besar Indonesia untuk Inggris saat itu, Marty Natalegawa, akan memberikan penghargaan kepadanya. Juga biaya akomodasi di Indonesia jika bangsawan itu ingin melihat tempat untuk meletakkan prasasti tersebut. “Itu kami juga siap,” ujar Hari.

Tapi Lord Minto VII menolak. Karena itu, diupayakan jalan lain melalui pendekatan personal. Pemerintah, kata Hari, lalu meminta bantuan Hashim Djojohadikusumo, pengusaha yang punya hobi mengoleksi benda kuno. “Kami memang minta bantuan beliau mendekati Lord Minto lagi. Karena Minto tetap minta kompensasi, ya, tidak negosiasi lagi,” ujar Hari. Hashim, kata Hari, juga siap membantu ongkos pemulangan dan konservasi prasasti itu.

Menurut Peter Carey, Lord Minto VII banyak mendapat bisikan orang di sekelilingnya tentang harga prasasti bila diukur dengan harga lelang. “Mula-mula prasasti itu ditawarkan 50-70 ribu pound sterling,” ujarnya. Kemudian harga penawarannya berubah karena para pembisik Lord Minto VII menyebutkan, jika dilempar ke pasar lelang Amerika, prasasti itu bisa bernilai US$ 500 ribu. “Bisikan ini membuat Minto merasa akan ditipu jika melepasnya dengan nilai 50 ribu pound sterling,” kata Carey.

Pribadi Sutiono, mantan Kepala Fungsi Penerangan KBRI London, membenarkan, pada awalnya Lord Minto tidak minta apa-apa, tapi kemudian berubah karena hartanya dalam penguasaan family trustees. “KBRI berkeberatan memberikan kompensasi, karena itu warisan nasional kita,” ujarnya. Pribadi mengatakan KBRI menghentikan negosiasi pada 2006. Soal negosiasi yang dilakukan pengusaha Hashim setelah itu, Pribadi mengatakan tak mengetahuinya. KBRI dan Departemen Luar Negeri tidak pernah diajak berunding lagi. “Seutuhnya itu antara keluarga Lord Minto dan tim Pak Hari karena KBRI sudah kadung mutung dengan negosiasi kompensasi.”

Direktur Jenderal Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Kacung Marijan mengaku mengetahui perihal Batu Minto dan pengiriman tim negosiasi ke Skotlandia. Tapi dia mengatakan belum membaca laporannya. “Mereka minta dibayar mahal, tapi saya tidak tahu berapa banyak,” ujarnya. Dia juga mengatakan upaya membawa pulang prasasti itu harus tetap melalui jalur diplomasi negara. Jika ada pihak swasta atau pribadi yang akan membantu, Kacung mempersilakan, “Asalkan (prasasti tersebut) tidak dimiliki oleh pribadi itu.

Rumah Kuno Tambora Ternyata Tidak Pakai Paku dan Sambungan


Rumah masyarakat Tambora yang tertimbun material letusan Gunung Api Tambora ternyata sama sekali tak memakai paku dalam sambungan-sambungannya. Dari hasil penelitian tim arkeologi di Tambora selama lima tahun, diketahui bahwa masyarakat Tambora memakai tali dari akar-akaran pohon untuk mengikat konstruksi rumah. “Talinya dari akar-akaran pohon Mone,” kata Sonny Wibisono, arkeolog yang terlibat di tim itu, di Jakarta, Jumat (8/5).

Ternyata ikatan dengan akar pohon Mone kuat juga. “Malah orang lokal bilang nanti makin lama akan makin kuat ikatannya,” kata Sonny lagi. Tapi masih banyak misteri yang belum terungkap pada rumah tersebut. Pertama adalah soal pembagian ruang-ruang di dalam rumah berukuran 3×5 meter yang cukup luas.

Sampai sekarang arkeolog belum menemukan bukti dan data bagaimana masyarakat Tambora membagi ruangan di rumahnya. Mana ruang tamu, mana kamar, dan sebagainya. Tapi untuk orientasi depan belakang, bisa diketahui dengan ditemukannya bukti umpak-umpak. Kalau membandingkan rumah masyarakat Tambora sekarang, umpak bagian belakang biasanya ditandai dengan tumpukan batu-batu atau yang disebut peturasan.

Biasanya, kata Sonny, di atas peturasan ada aktivitas yang berhubungan dengan air. Nah, di situs juga ditemukan umpak seperti itu sehingga sudah jelas bahwa bagian itu adalah bagian belakang rumah. Tapi dia yakin, tak semua aktivitas mandi cuci kakus (MCK) dilakukan di rumah. Ada dugaan masyarakat juga memanfaatkan sungai yang terletak tak jauh dari pemukiman.

Lokasi rumah Tambora yang direkonstruksi berada sekitar 200 meter dari Sungai Sori Somba yang berhulu di Gunung Tambora. Sayang kini sungai itu tak stabil debit airnya akibat pembalakan yang parah di hulu. Masih banyak detail rumah yang menjadi misteri sehingga menimbulkan kesulitan tersendiri bagi tim. Namun, kata Sonny, untungnya para tukang yang membantu tim merekonstruksi rumah ternyata mewarisi pengetahuan lama tentang metode pembuatan rumah tradisional.

“Jadi kami kumpulkan ingatan-ingatan mereka jika pada satu titik kami merasa ragu bagaimana bentuknya,” tutur Sonny lagi.Letusan Gunung Api Tambora pada dua abad silam telah menewaskan puluhan ribu orang. Termasuk warga yang berdiam di kaki gunung yang terdapat di Nusa Tenggara Barat itu. Satu tim arkeologi berhasil merekonstruksi ulang rumah milik warga yang terkubur material letusan Tambora yang superdahsyat tersebut. Tapi kesulitan pertama, “Data-data awal masih terfragmentasi,” tutur Sonny Wibisono, arkeolog yang terlibat di tim itu, Jumat (8/5).

Untungnya tim itu akhirnya bisa menggali satu rumah yang relatif lebih lengkap. Mulai dari unsur tiang sampai lubang-lubang pasak pun ditemukan. Dari data teranyar ini tim kemudian merekonstruksi ulang, dan disandingkan dengan data-data terdahulu. Tak cuma data, tim juga melakukan analogi dengan rumah-rumah tradisional yang masih ada di sekitar Tambora, contohnya di daerah Wawu.

Tapi muncul kesulitan kedua, material kayu untuk membangun rumah ternyata sudah sulit dicari. Dua jenis kayu yang kemungkinan besar dipakai masyarakat Tambora praletusan adalah kayu bintango dan duabanga atau dikenal juga dengan nama kayu kelanggo. Tapi kayu itu nyaris tak bisa lagi ditemukan lantaran terjadinya pembalakan tak terkendali di lereng Tambora sejak 1990-an. “Akhirnya kami menemukan kayu-kayu yang istilahnya mati berdiri,” kata Sonny.

Bahan dinding rumah yang ditemukan dalam penggalian adalah anyaman bambu atau gedheg. Masalahnya tak ada lagi bambu di sekitar Tambora. Akhirnya tim membeli gedheg dari tempat lain. Begitu pun bagian atap. Tak ada contoh modelnya di dekat situs penggalian. Akhirnya tim melakukan perbandingan ke Pulau Moyo, tak jauh dari daratan Pulau Sumbawa Besar, tempat Tambora berdiri.

Setelah melalui penelitian panjang, akhirnya contoh rumah masyarakat Tambora bisa direkonstruksi juga.Dari data terdapat beberapa jenis material atap yang dipakai masyarakat Tambora pada masa lalu. Di antaranya adalah atap ijuk, atap alang-alang, anyaman rotan, daun nipah, atau daun kelapa. Untuk kemiringan atap, mereka melakukan sejumlah percobaan dan diskusi juga dengan masyarakat dan ilmuwan. Dari sana mereka menyimpulkan sudut kemiringan atap adalah 45 derajat.

“Karena pada kemiringan itu air hujan sudah bisa mengalir dengan lancar dan tidak sampai bikin atap bocor,” kata Sonny lagi.Menariknya, saat melakukan penggalian tim juga menemukan jejak jatuhan air di tanah. Dari jejak itu kemudian bisa diproyeksikan sampai batas mana atap berada dalam konstruksi rumah.

Cara Membedakan Jenis Kelamin Dinosaurus Dari Fosilnya


Selama ini para peneliti masih sulit membedakan jenis kelamin dinosaurus dari temuan fosil, khusunya untuk spesies Stegosaurus. Stegosaurus sendiri merupakan spesies herbivora yang pernah mengembara di Amerika Serikat bagian barat sekitar 150 juta tahun lalu. Ukurannya besar dan berkaki empat, StegosUrus memiliki dua baris lempeng di sepanjang punggung dan dua pasang ‘duri’ pada bagian ujung ekor untuk mengalahkan musuh.

Nah, peneliti dari Inggris menyatakan, pembeda fosil spesies jantan dan betina berdasarkan bentuk dari lempengan tulang besar yang menonjol di bagian belakang tubuh Stegosaurus. “Lempengan yang lebih besar itu biasanya dia jantan,” ujar seorang salah satu anggota tim penelitian sekaligus ahli paleontologi, Evan Saitta dari University of Bristol.

Menurut Saitta, sama halnya dengan ekor burung merak, struktur lempengan tulang yang tipis dan lebar serta letaknya yang berada di bagian belakang tubuh, digunakan oleh spesies jantan sebagai daya tarik seksual terhadap lawan jenis. Mengutip kantor berita Reuters, tim peneliti kemudian melakukan tes terhadap lempengan tulang belakang tersebut untuk membuktikan, apakah betul ukurannya sebagai pembeda jenis kelamin atau ternyata pembeda usia.

Mereka menggunakan pemindai CT dan analisis mikroskopik yang memperlihatkan jaringan tulang yang ternyata sudah berhenti tumbuh. Artinya, kedua jenis kelamin itu memang berbeda dan kebetulan usianya sudah terbilang dewasa. Ukuran terbesar Stegosaurus diyakini bisa mencapai 9 meter. Dalam penelitian ini menggunakan fosil Stegosaurus mjosi yang berukuran 6,5 meter.

Anggota tim peneliti lainnya, Michael Benton menambahkan, “penelitian ini menunjukan banyak dinosaurus menggunakan anggota tubuhnya sebagai daya tarik seksual terhadap betina ataupun untuk mengajak pertempuran.”