Monthly Archives: Agustus 2010

Indonesia Punya Cadangan Uranium Sedikitnya 53.000 Ton Dan Belum Termasuk Yang Dikuasai Sepihak Oleh Freeport


Indonesia memiliki cadangan uranium 53 ribu ton yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN), yakni sebanyak 29 ribu ton di Kalimantan Barat dan 24 ribu ton sisanya ada di Bangka Belitung.

“Selain itu Papua juga diindikasikan memiliki cadangan uranium yang cukup besar. Tapi soal ini masih akan diteliti dulu,” kata Deputi Pengembangan Teknologi Daur Bahan Nuklir dan Rekayasa Badan Tenaga Nuklir Nasional (Batan) Dr Djarot S Wisnubroto kepada pers di Jakarta, Selasa malam.

Perkiraan bahwa Pulau Papua menyimpan cadangan uranium atau bahan baku nuklir dalam jumlah besar didasarkan pada kesamaan jenis batuan Papua dengan batuan Australia yang telah diketahui menyimpan cadangan uranium terbesar di dunia, ujarnya.

Jika suatu PLTN seukuran 1.000 MW membutuhkan 200 ton Uranium per tahun, maka dengan cadangan di Kalbar saja yang mencapai 29 ribu ton Uranium, urai Djarot, itu berarti bisa memasok Uranium selama 145 tahun.

“Namun demikian tidak berarti kita akan memproduksi Uranium sendiri untuk PLTN. Karena untuk kondisi sekarang harga Uranium cukup murah, kita lebih efisien membeli saja dari negara lain. Cadangan Uranium bisa digunakan untuk kebutuhan masa depan,” katanya.

Menurut Djarot, untuk menjadi bahan baku PLTN, Uranium hasil penambangan harus diproses lebih dulu melalui purifikasi atau pemurnian yang menjadikan bahan Uranium ke tingkat kemurnian yang tinggi sehingga berderajad nuklir dan bebas dari unsur-unsur pengotor lainnya.

Lalu dilakukan pengayaan untuk meningkatkan kadar 235U sehingga menjadi 2-4 persen dan akhirnya fabrikasi untuk menyiapkan bahan bakar nuklir dalam bentuk fisik yang sesuai dengan jenis yang dibutuhkan oleh reaktor nuklir, misalnya berbentuk pelet dengan diameter 10 mm.

“Untuk bahan baku Uranium di Reaktor Nuklir Riset di Serpong, kita memang membelinya dari luar, tapi harus diingat, bahwa kita memfabrikasi Uranium itu sendiri di dalam negeri,” katanya.

Djarot juga menegaskan, bahwa suatu PLTN membutuhkan teknologi pengolahan limbah dan tempat pembuangan lestari karena tingkat radioaktivitas limbah nuklir tidak mungkin dilepas atau dibuang langsung ke lingkungan.

Lokasi pembuangan lestari limbah nuklir, urainya, haruslah di lokasi yang bebas gempa dan memiliki lokasi jebakan limbah sehingga tidak akan lari ke lingkungan serta jenis tanah liat.

“Selama ini memang kamilah yang mengolah limbah radioaktif dari industri dan rumah sakit. Sedangkan limbah akhirnya misalnya dari reaktor yang ada di Serpong, kita kembalikan ke negara asal,” katanya.

Iklan

Hujan Meteor Memusnahkan Dinosaurus


Selama ini diyakini bahwa musnahnya dinosaurus diakibatkan oleh tabrakan antara meteor dan Bumi sekitar 65 juta tahun lalu yang membentuk kawah Chicxulub di Teluk Meksiko, Amerika Serikat.

Namun, studi baru menunjukkan, hewan itu musnah akibat tabrakan meteor minimal dua kali yang ditunjukkan dengan terbentuknya kawah Boltysh di Ukraina. Dengan demikian, musnahnya dinosaurus diduga hujan meteor yang berlangsung selama ribuan tahun. BBC News, Jumat (27/8), menyebutkan temuan ini dipublikasikan dalam jurnal Geology oleh tim yang dipimpin David Jolley dari Universitas Aberdeen.

Kawah Boltysh itu ditemukan pada tahun 2002, tetapi hingga kini belum dipastikan terbentuknya kawah itu dibandingkan dengan kawah Chicxulub. Para peneliti meneliti serbuk bunga dan spora fosil tanaman yang tersisa di lumpur yang ada di kawah. Mereka menemukan bahwa sesaat sesudah tabrakan, tanaman pakis langsung membentuk koloni pada tanah yang hancur. Pakis memiliki kemampuan yang luar biasa untuk pulih pascakondisi yang hancur. Lapisan yang dipenuhi spora pakis itu diyakini sebagai penanda yang baik atas tabrakan meteor yang pernah terjadi.

Di kawah Boltysh, lapisan pakis itu ditemukan dalam dua lapisan. Lapisan bawah diduga terjadi pada saat tabrakan yang membentuk kawah Chicxulub, sedangkan lapisan kedua berada satu meter di atas lapisan bawah yang dianggap sebagai hasil tabrakan meteor kedua. ”Lapisan atas itu diidentifikasi terbentuk setelah tabrakan meteor yang membentuk kawah Chicxulub,” kata Simon Kellye, peneliti lainnya dari Universitas Terbuka. Kondisi ini menunjukkan tabrakan meteor di Boltysh dan Chicxulub tidak terjadi secara bersamaan. Mereka terpisah beberapa ribu tahun.

Kellye menambahkan, ke depan masih dimungkinkan ditemukannya bekas tabrakan meteor lain. Karena itu, para peneliti menilai dinosaurus menjadi korban tabrakan hujan meteor yang terjadi selama ribuan tahun.

Banyak Obat Hasil Penelitian LIPI Belum Di Produksi Massal


Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia atau LIPI memiliki banyak hasil penelitian obat. Namun, hasil penelitian itu belum bisa diproduksi massal karena minimnya anggaran untuk uji klinis.

”Saat ini LIPI memiliki hasil penelitian obat yang masih harus menunggu proses uji klinis, seperti obat hepatitis, beberapa jenis kanker, obat yang berguna meminimalkan dampak buruk penyakit jantung, serta obat lain yang diproduksi di Cibinong atau Bandung. Selama belum dilakukan uji klinis, maka obat itu tidak bisa diproduksi dan dipasarkan,” ujar Deputi Ilmu Pengetahuan Teknik LIPI Syahrul Aiman dalam presentasinya di depan Menteri Riset dan Teknologi (Menristek) Suharna Surapranata di Balai Informasi Teknologi Kampus LIPI, Bandung, Jumat (27/8).

Syahrul mengatakan, sebelum diproduksi oleh industri obat, hasil penelitian itu harus melewati beberapa ujian, yaitu uji pra klinik, uji teknologi farmasi, dan uji klinis yang dilakukan pada manusia. Khusus uji klinis biasanya dilakukan bersama-sama rumah sakit yang memiliki laboratorium uji klinis.

Menanggapi hal ini, Menristek berharap ada kerja sama dengan kementerian lain atau pihak swasta untuk menekan tingginya biaya uji klinis. ”Pemerintah akan menjadi fasilitator dalam kerja sama antarinstansi maupun dengan swasta ini,” kata Menristek Suharna

Ditemukan Lagi Kerangka Manusia Purba Dalam Sarkofagus Di Desa Blahbatu Bali


Kerangka manusia purba dalam peti jenazah yang terbuat dari batu yang disebut sarkofagus, ditemukan di Subak Saba, Desa Keramas, Blahbatuh, Kabupaten Gianyar, Bali, Sabtu.

“Hari ini kami temukan dua peti batu, namun baru satu yang berhasil dibuka, dan ternyata masih berisi kerangka manusia purba,” kata Dra Ayu Kusumawati, peneliti pada Balai Arkeologi Denpasar ketika ditemui ANTARA di lokasi penemuan, Sabtu.

Ia menyebutkan, dua buah peti batu yang di bagian ujungnya dilengkapi aksesoris mirip kepala kura-kura, pertama kali ditemukan oleh penggali tanah di lokasi pembuatan batu bata.

Dari temuan itu, tim Balai Arkeologi Denpasar kemudian melakukan pendalaman ternyata kedua peti merupakan benda peninggalan purbakala yang disebut sarkofagus.

Dra Ayu Kusumawati mengatakan, salah satu dari dua barang temuan itu sudah berhasil dibuka bagian penutupnya oleh petugas, dan ternyata masih berisi kerangka manusia dalam susunan tulang-belulang yang lengkap.

“Sementara yang satunya lagi, masih dalam keadaan utuh, sehingga kami belum tahu isinya,” ucapnya.

Ia menambahkan, selain kerangka manusia dalam peti jenazah manusia purba itu juga ditemukan sebuah kendi tua.

“Kendi dengan panjang 15 cm itu berada persis di samping tengkorak kerangka manusia yang terkujur dalam peti,” kata Ayu menjelaskan.

Ia mengatakan, berdasarkan hasil pengukuran di lapangan, dua sarkofagus yang ditemukan memiliki ukuran yang berbeda.

“Sarkofgus yang utuh merupakan peti mati tipe kecil dengan ukuran panjang 150 cm dan lebar 50 cm. Sedangkan sarkofagus yang sudah dibuka, memiliki ukuran panjang 100 cm dan lebar 12 cm,” ujar dia.

Mengenai umur sarkofagus itu, Ayu Kusumawati memperkirakan sudah ada sejak 2.000 tahun yang lalu atau sejak zaman prasejarah.

“Pada zaman itu manusia telah mengenal masa perundagian serta alat logam. Hal ini dibuktikan dengan adanya tonjolan wajah manusia atau kedok yang mirip kura-kura pada bagian ujung sarkofagus yang kini ditemukan,” ucapnya.

Selain telah mengenal logam, sambung Kusumawati, pada zaman itu juga sudah dikenal dengan istilah gotong royong dan rasa persatuan dan kesatuan.

“Tujuan dibuatkan kedok di bagian ujung peti kubur itu dimaksudkan untuk memberikan jalan bagi sang arwah menuju dunia lain,” katanya.

Ia menjelaskan, biasanya pemakaman dengan sarkofagus itu diperuntukkan kepada orang yang berpengaruh pada zaman itu.

“Hanya kaum bangsawan dan orang yang berpengaruh yang menggunakan peti kubur semacam itu,” jelasnya.

Saat ini, kata Kusumawati, pihaknya bersama petugas lain masih melakukan penilitian lebih lanjut soal penemuan dua sarkofagus itu.

“Kami masih harus di lokasi untuk melakukan penelitian lanjutan sebelum kedua sarkofagus itu dievakuasi ke Balai Pelestarian Benda Purbakala,” ucapnya.

Pintu Neraka Dunia Telah Ditemukan Di Usbekistan


Pintu neraka sering dilukiskan dengan suasana api menyala yang sangat mengerikan panasnya. Kondisi seperti itulah yang terdapat di sebuah lubang api menganga di daratan Usbekistan, Asia Tengah. Maka lubang api itu pun disebut sebagai “pintu neraka”.

Lubang api itu berukuran sekitar dua kali lapangan bola dengan kedalaman lebih dari 30 meter. Semula ukurannya tidak sebesar itu sejak pertama kali tahun 1975 “pintu neraka” itu dijumpai manusia.

Awalnya ahli geologi menggali dengan alat berat untuk pengeboran gas alam. Anehnya, di lokasi itu ditemukan jurang besar di bawah tanah. Saking besarnya, semua peralatan untuk penggalian itu terperosok ke dalam.

Jurang itu dipenuhi dengan gas bumi yang beracun. Belum ada keterangan resmi Uni Soviet kala itu terkait berapa jumlah korban tewas akibat terkena gas beracun. Namun para ahli segera menyingkir dan semua peralatan yang terperosok itu ditinggal pergi.

Untuk menghindari gas beracun yang terlanjur terbuka ke langit bumi itu menyebar, para ahli memutuskan untuk membakarnya. Posisinya berada di dekat kota kecil bernama Davaz.

Praktis sejak 1975 lobang raksasa itu menyemburkan api seperti gunung berapi dan masih tetap menyala hingga kini walau sudah 35 tahun berlalu. Masyarakat sekitar tak ada yang berani mendekat karena pengaruh medan panas hingga beberapa ratus meter, sehingga dinamakan “pintu neraka”.

Sampai sekarang belum ada penjelasan apakah “pintu Neraka” itu ukurannya melebar atau stabil karena gas yang keluar dari perut bumi itu langsung terbakar. Walau terkena hujan pun, apinya tidak mati.

Lubang api raksasa itu kelihatan dari kejauhan karena berada di daratan tandus yang luas. Bila malam, tampak semakin jelas dengan sorotan cahaya kekuningan yang bersumber dari “pintu neraka” itu.

Mirip dengan Lumpur Lapindo, yang terus mengeluarkan lumpur panas gara-gara pengeboran yang dinilai gagal sehingga menyembur ke permukaan bumi. Hingga kini juga belum ada ahli geologi yang mampu menghentikan semburan lumpur panas lapindo. Yang bisa dilakukan hanya membatasi agar area efek lumpur panas itu tidak terus melebar.

Manusia Primitif Purba Ternyata Sudah Canggih dan Bisa Buat Anak Panah


Teknologi membuat busur dan anak panah semula diduga mulai dikuasai manusia purba paling tidak sejak 20.000 tahun lalu. Namun, dugaan itu tampaknya harus berubah setelah ditemukannya anak panah terbuat dari batu yang berusia 64.000 tahun.

Batu-batu pipih dan runcing yang ditemukan di Goa Sibudu, Afrika Selatan, oleh tim peneliti pimpinan Lyn Wadley dari University of the Witwatersrand itu diyakini sebagai anak panah karena ditemukan sisa-sisa percikan darah dan pecahan tulang yang terselip di antara retakan-retakan anak panah. Proses penemuan anak panah itu, menurut situs BBC News, Kamis (26/8), tidak mudah karena penggaliannya butuh waktu lama. Bayangkan saja, tim Wadley harus menggali hingga ke lapisan tanah yang berusia 100.000 tahun.

Temuan tim arkeolog yang dipaparkan di jurnal Antiquity itu menyebutkan, anak panah dari batu itu digunakan sebagai ujung proyektil, bukan sekadar sebagai anak panah yang dipasang di ujung tombak atau lembing. Hipotesis ini, menurut Marlize Lombard dari University of Johannesburg yang menganalisis anak panah itu, diperkuat dengan ditemukannya sisa-sisa lem yang terbuat dari tanaman damar untuk menempelkan anak panah pada tongkat kayu.

”Sisa-sisa lem itu menunjukkan, manusia pada zaman itu mampu membuat satu artefak dari beragam elemen dengan menggunakan berbagai peralatan, termasuk lem itu,” kata Lombard.

Kemampuan kognitif

Proses pembuatan senjata kuno, seperti anak panah ini, membuktikan kemampuan kognitif manusia yang hidup di Afrika Selatan pada 60.000-70.000 tahun lalu hampir sama dengan manusia modern zaman sekarang.

Berburu dengan busur dan anak panah bukan hal yang mudah karena membutuhkan proses perencanaan yang matang dan rumit. Selain persiapan berbagai peralatan, berburu juga membutuhkan inovasi serta keterampilan sosial dan komunikasi. Semua persyaratan ini dimiliki manusia zaman itu.

Bagi Chris Stringer dari Natural History Museum, London, temuan terbaru itu memberikan informasi tambahan mengenai kebiasaan manusia modern di Afrika yang telah mulai berburu dengan ”gaya baru”.

Pada zaman itu, manusia jenis Neanderthals dan mungkin juga manusia-manusia purba yang lain mulai berburu dengan cara mendekati mangsanya sehingga lebih mudah dijangkau anak panahnya. Artinya, anak panah menjadi alat berburu yang paling andal karena dianggap lebih efektif.

Teknik pemanasan

Temuan anak panah dari batu ini meramaikan diskusi dan perdebatan mengenai teknologi pembuatan alat berburu dan peralatan hidup lain manusia purba. Teknologi pembuatan alat berburu dengan memanaskan logam ternyata sudah dilakukan manusia Afrika Selatan sejak 72.000 tahun lalu. Bedanya, pada temuan terbaru ini bukan logam yang dipanasi, melainkan batu.

Bukti adanya inovasi teknik pemanasan pembuatan senjata ini ditemukan di Pinnacle Point, Afrika Selatan, pada 2009. Jurnal Science menyebutkan, sejak 72.000 tahun lalu manusia mulai belajar memanfaatkan api bukan hanya untuk memasak, menghangatkan diri, alat penerangan, atau perlindungan diri. ”Teknik memanasi batu inilah awal proses perkembangan keahlian teknik manusia,” kata peneliti Kyle Brown dari Arizona State University.

Seperti halnya logam, jika dipanasi, batu menjadi lebih rapuh dan lebih mudah dipotong dan dibentuk. Bahkan, potongan batunya bisa rapi dan mulus seperti bekas dipotong dengan silet. Batu yang ujungnya berbentuk runcing biasanya digunakan untuk menguliti hewan buruan atau membuat baju. Sayangnya, batu runcing itu tidak terlalu kuat jika, misalnya, digunakan untuk memotong kayu atau menggali.

Tidak bodoh

Peralatan sehari-hari dan senjata zaman purba yang terbuat dari batu dan dikembangkan oleh spesies kita (Homo sapiens) sebenarnya tidak lebih canggih daripada yang digunakan saudara kita yang sudah punah, Neanderthals (Homo neanderthalensis).

Dalam Journal of Human Evolution disebutkan, ada penelitian yang membandingkan peralatan dari batu yang dibuat manusia Neanderthals dan manusia modern. Tujuannya untuk membandingkan siapa yang lebih canggih, kita atau Neanderthals yang hidup sekitar 400.000 tahun yang lalu.

Neanderthals yang dikenal sebagai pemburu yang lihai mendominasi wilayah (kini) Inggris, Israel, dan Siberia. Sementara Homo sapiens muncul di wilayah Afrika dan menggantikan posisi Neanderthals setelah masuk ke Eropa sekitar 40.000 tahun lalu. ”Dari sisi teknologi, peralatan hidup yang digunakan Neanderthals dan Homo sapiens sama-sama canggihnya. Jadi, anggapan bahwa Neanderthals itu bodoh harus diubah karena itu terbukti tidak benar,” kata Metin Eren dari University of Exeter, Inggris.

Kepala Bagian Asal Usul Manusia di Natural History Museum London, Inggris, Chris Stringer membenarkan keahlian Neanderthals membuat benda-benda tajam yang berfungsi sebagai alat pemotong. Sementara manusia modern mulai mengembangkan teknik dan bahan yang tidak lagi hanya memanfaatkan batu, tetapi juga tulang dan gading.

Kemampuan dan teknologi membuat peralatan untuk menunjang kebutuhan hidup semakin berkembang dan semakin canggih. Kita, manusia, menjadi makhluk yang unik, menurut Kyle Brown karena memiliki kemampuan mengambil dan mengolah apa pun yang ada di lingkungan sekitar kita untuk memenuhi kebutuhan hidup kita. ”Keterampilan yang terus meningkat ini menunjukkan terjadinya lompatan perkembangan mental yang luar biasa pada manusia modern zaman purba hingga manusia modern seperti kita,” ujarnya.

Genom Pertama Gandum Diperkenalkan Di Inggris


Konsorsium ilmuwan di Inggris, Jumat (27/6), mengumumkan genom pertama gandum. Mereka telah membongkar 95 persen kode genetik penanda gandum yang dikenal sebagai Chinese Spring garis 42. ”Penelitian ini diarahkan untuk menghasilkan jenis gandum berproduktivitas tinggi dan tahan terhadap hama penyakit dan serangga serta kekurangan air,” ujar Mike Bevan, profesor di John Innes Centre.

Riset masih terus dilakukan untuk mencari penanda genetik yang mengarah pada kekuatan atau kelemahan strain ini terhadap kekeringan, banjir, salinitas tanah, dan hama.

Pengembangan varietas gandum ini di antaranya untuk mengantisipasi merebaknya strain jamur mutan yang disebut stem rust dengan nama laboratorium Ug99. Strain yang berasal dari Afrika Timur ini telah menyebar ke Asia dalam satu dekade ini. Gandum mencapai 30 persen produksi padi-padian dunia dan mencakup 20 persen dari kalori makanan sehari-hari.