Monthly Archives: Desember 2015

Daftar Mobil Yang Paling Sedikit Bermasalah Atau Bandel Di Indonesia


JD Power telah mengukur kualitas mobil-mobil baru di Indonesia yang mengalami peningkatan melalui Indonesia Initial Quality StudySM 2015 (IQS). Rata-rata masalahnya turun dari tahun ke tahun. Bahkan, kualitasnya naik 5 persen jika dibandingkan tahun lalu. Lantas, mobil apa yang paling jarang dikeluhkan pada masa awal kepemilikan konsumen?

JD Power membuat klasifikasi menjadi beberapa segmen. Toyota menerima dua model penghargaan, yakni untuk Agya, kendaraan segmen entry compact, dengan angka 59 masalah per 100 kendaraan (59 PP100) dan Rush pada segmen entry SUV dengan angka 53 PP100. Mitsubishi Pajero Sport (37 PP100) mendapatkan peringkat tertinggi pada segmen SUV, sedangkan Honda Mobilio (80 PP100) mendapatkan peringkat tertinggi pada segmen entry MPV. Sementara itu, Nissan Grand Livina (53 PP100) mendapatkan peringkat tertinggi pada segmen MPV.

Indonesia Initial Quality Study (IQS) 2015 didasarkan pada evaluasi dari 2.902 pemilik kendaraan yang baru membeli kendaraan mereka antara September 2014 dan Agustus 2015. Studi ini meliputi 11 merek kendaraan berbeda, termasuk 41 model kendaraan penumpang dan utilitas yang berbeda. Studi dilaksanakan antara Mei dan November 2015.

Temuan penting
Dari penelitian itu, ada beberapa temuan penting JD Power, antara lain:
1. Pemilik kendaraan SUV melaporkan jumlah masalah yang paling sedikit (42 PP100), sedangkan pemilik entry MPV melaporkan jumlah masalah tertinggi (87 PP100).

2. Dua masalah yang paling sering dilaporkan ada pada kategori interior kendaraan, yakni karpet sering tergeser dari tempatnya (3,5 PP100) dan karpet renggang atau tidak pas (2,8 PP100).

3. Tujuh dari 10 masalah yang sering dilaporkan pada 2015 masih sama dari tahun 2014. Empat dari masalah ini berhubungan dengan pengalaman berkendara, dan tiga lainnya berhubungan dengan ventilasi dan pendingin udara.

4. Hampir dua pertiga (65 persen) dari pemilik kendaraan yang senang dengan kualitas kendaraan mereka (memberikan rating 8 hingga 10 pada skala poin 10) mengatakan, mereka ”pasti akan” merekomendasikan kendaraan mereka kepada teman dan keluarga. Sementara itu, hanya 36 persen dari mereka yang kecewa (rating dari 1 hingga 7) mengatakan hal yang sama.

Persoalan Matematika Yang Jawabannya Hanya Dipahami 1 Orang Ahli Dari Jepang


Dua pekan lalu, puluhan matematikawan top dari pelbagai kampus di dunia berkumpul di Universitas Oxford, Inggris. Mereka datang jauh-jauh ke Inggris hanya demi satu hal: memahami jawaban soal matematika, a + b = c.

Bagi yang pengetahuan matematikanya pas-pasan, soal itu tampak seperti materi pelajaran anak-anak yang baru belajar mengenal bilangan. Padahal, soal yang lebih dikenal sebagai Konjektur ABC ini merupakan salah satu misteri terbesar dalam matematika.

Konjektur ABC dilontarkan oleh matematikawan Prancis, Joseph Oesterle, dan David Masser, profesor matematika di Universitas Basel, Swiss, sekitar 30 tahun lalu. Ada sejumlah matematikawan yang mengajukan proposal jawaban atas soal itu, tapi tak satu pun diterima dan terbukti benar.

Suatu pagi pada 30 Agustus 2012, Shinichi Mochizuki mengunggah empat artikel sepanjang 500 halaman ke Internet. Doktor matematika pada umur 23 tahun dari kampus kondang Universitas Princeton, Amerika, ini bekerja di Institut Riset untuk Sains Matematika di Universitas Kyoto, Jepang. Di artikel panjang itu, Shinichi mengklaim telah menemukan jawaban atas Konjektur ABC.

Shinichi tak mengirim artikelnya ke jurnal matematika. Dia hanya memajang artikelnya di Internet, tanpa berkoar-koar kepada matematikawan lain. Hingga seorang temannya di kantor, Akio Tamagawa, menemukannya dan mengirimkan jawaban Shinichi kepada matematikawan lain di sejumlah kampus, salah satunya Ivan Fesenko dari Universitas Nottingham, Inggris.

Ivan segera mengunduh artikel Shinichi dan buru-buru membacanya. Dahinya segera berkerut-kerut. “Tak mungkin untuk memahami jawaban Shinichi,” kata Ivan kepada Scientific American. Merasa penasaran, Ivan mengirim jawaban Shinichi kepada sejumlah matematikawan spesialis geometri aritmatika, bidang yang ditekuni Shinichi.

Tapi reaksi mereka kurang-lebih serupa dengan Ivan Fesenko. “Mencermati jawaban Shinichi, kamu akan merasa tengah membaca artikel dari masa depan atau dari luar angkasa,” kata Jordan Ellenberg, matematikawan dari Universitas Wisconsin, Madison, Amerika Serikat. Di artikelnya penuh bertebaran istilah baru dan tool matematika yang dibuat oleh Shinichi untuk menopang argumentasinya. “Dia benar-benar membuat dunianya sendiri,” kata Moon Duchin, matematikawan dari Universitas Tuft, Amerika.

Tiga tahun sudah “jawaban” soal a + b = c itu dipelototi para matematikawan, tapi tak satu pun yang bisa sungguh-sungguh memahami atau menyimpulkan apakah jawaban Shinichi itu benar atau salah. Tak aneh jika Shinichi pun hampir frustrasi melihat tak ada satu pun sejawatnya yang memahami artikelnya. Menurut Shinichi, paling tidak butuh waktu 500 jam untuk memahami artikel 500 halaman itu. Untuk memahami artikelnya, kata Shinichi seperti dikutip Nature, matematikawan lain harus “menonaktifkan” pola pikir yang selama ini mereka ikuti.

“Sungguh mengecewakan, tak ada satu orang pun yang bisa menyimpulkan apakah jawaban itu benar atau salah,” kata Minhyong Kim, matematikawan dari Universitas Oxford, kepada New Scientist. Kim sudah sangat lama kenal dengan Shinichi, sejak masih kuliah di Princeton. Tapi Kim juga bersimpati kepada para matematikawan yang mengkritik gaya eksentrik Shinichi.

Dia enggan meninggalkan Kyoto. Jenius matematika dari Jepang itu menolak menjelaskan artikelnya dalam forum terbuka di luar Jepang. Kendati sangat lancar berbahasa Inggris, dia juga menolak memberikan kuliah soal artikelnya dengan bahasa Inggris. Kepada wartawan, Shinichi juga sangat irit bicara.

Gayanya mirip sekali dengan jenius lain, Grigori Perelman, matematikawan dari Rusia. Perelman adalah satu-satunya orang yang berhasil memecahkan “Tujuh Soal Matematika Abad Ini” dari Institut Clay, yakni Konjektur Poincare. Tapi Perelman menolak hadiah US$ 1 juta yang diberikan oleh Institut Clay. “Aku sudah punya semua yang aku butuhkan,” Perelman memberi alasan.

Menurut Kim, Shinichi bukan orang yang sangat tertutup. “Dia hanya sangat berfokus pada matematika.” Satu hal lagi yang membedakan Shinichi dengan Perelman, dia orang yang ramah dan sangat rapi. “Kantornya paling rapi di antara semua kantor matematikawan yang pernah aku saksikan seumur hidupku,” kata Ivan Fesenko.

Lokakarya di kampus Oxford dua pekan lalu kembali menemui jalan buntu. Kendati Shinichi bersedia menjelaskan jawabannya lewat Skype, matematikawan yang hadir dalam pertemuan selama beberapa hari itu tetap tak benar-benar paham.

“Tak ada yang paham apa yang sebenarnya terjadi,” kata Felipe Voloch dari Universitas Texas, Amerika. Shinichi dan sejawatnya sama-sama frustrasi. “Aku tak mengerti mengapa dia membuatnya sedemikian abstrak,” kata matematikawan dari Universitas Purdue, Arthur Jackson. Minhyong Kim, sahabat lama Shinichi dan ketua panitia lokakarya, mengatakan dia mengerti ide besar Shinichi, tapi belum paham penjelasannya.

Amerika Serikat Telah Berhasil Kembangkan Senjata Laser Seperti Film Star War


Tiga puluh tiga tahun lalu, lima tahun setelah George Lucas merilis film Star Wars: A New Hope, Presiden Amerika Serikat Ronald Reagan menyampaikan pidato soal anggaran pertahanan dan ancaman nuklir dari Uni Soviet. Menurut Presiden Reagan, pada saat Amerika menahan diri untuk mengembangkan senjata, Uni Soviet malah melipatgandakan kekuatan militernya.

Dalam pidatonya yang belakangan dikenal sebagai pidato “Star Wars” itu, Presiden Reagan mengusulkan Amerika membangun sistem pertahanan strategis. Salah satu ide dalam sistem pertahanan ini, seperti yang diusulkan oleh mantan Direktur Lawrence Livermore National Laboratory Edward Teller kepada Presiden Reagan, adalah menembak misil yang mengancam wilayah Amerika dengan laser sinar-X dari satelit yang berada di orbit bumi.

Kala itu, ide senjata laser Dr Teller ini seperti kisah dalam film sains-fiksi belaka. Sebab, di laboratorium pun, walaupun sudah ada sejumlah penelitian, laser sinar-X ini belum ada kala itu. Tapi mimpi itu tinggal sejengkal lagi jadi kenyataan. Bahkan Tiongkok, membuntuti Amerika, turut membuat senjata laser ala Star Wars. Sudah beberapa tahun penguasa di Beijing menugasi Akademi Rekayasa Fisika dan Jiuyuan Hi-Tech Equipment Corporation merancang senjata laser.

Persis setahun lalu, Angkatan Laut Amerika Serikat memamerkan hasil uji coba senjata laser yang dipasang di kapal perang USS Ponce. Dalam video pendek itu, meriam Laser Weapon System buatan Raytheon Company berhasil menembak jatuh pesawat tanpa awak. Beberapa pekan lalu, giliran militer Negeri Panda unjuk gigi. Di layar televisi CCTV, senjata laser Low Altitude Guardian II (LAG II) berhasil menembak jatuh target di udara.

“Kami tak mengetesnya lagi. Ini sudah bisa bekerja,” kata Laksamana Muda Matthew L. Klunder, Direktur Pusat Riset Angkatan Laut Amerika, dikutip Guardian. Senjata laser energi tinggi itu, menurut Laksamana Klunder, dikembangkan sebagai upaya mereka mencari jenis teknologi senjata baru masa depan. Selama uji coba, meriam laser di USS Ponce berhasil menghancurkan seluruh sasaran selama 12 kali uji coba. “Masa depan itu ada di sini,” kata Peter Morrison, peneliti di Kantor Riset Angkatan Laut Amerika.

Tak seperti cahaya yang dihasilkan lampu yang menyebar ke pelbagai arah dengan banyak panjang gelombang, laser hanya terdiri atas satu panjang gelombang dan bergerak satu arah, sehingga energi yang dipancarkan benar-benar terfokus, membuatnya bisa menjadi senjata. Ada pelbagai jenis laser, bergantung pada sumber energi dan proses menghasilkannya. Mid-Infrared Advanced Chemical Laser (MIRACL), yang dikembangkan oleh Angkatan Udara Amerika misalnya, menggunakan sumber energi dari reaksi deuterium florida.

Keunggulan dari senjata laser ini adalah kecepatan tembakan, sangat jauhnya jangkauan, keleluasaan mengatur kekuatan, dan tidak adanya jejak. Ketika meriam sudah menembakkan laser, hampir tak mungkin targetnya berkelit karena laser melesat secepat kecepatan cahaya. Jika sumber energinya mencukupi, meriam laser bisa menembakkan “amunisi” nyaris tak terbatas. “Harga satu kali tembakan bisa kurang dari US$ 1,” kata Laksamana Klunder. Bandingkan dengan harga satu misil, yang bisa mencapai ratusan ribu dolar AS.

Namun laser bukan tanpa nilai minus. Untuk menghasilkan laser dengan kekuatan weapon-grade, perlu sumber energi sangat besar. Karena laser ini panas, perlu pendingin untuk mesinnya. Yang pasti, meriam laser tak bisa menembak target tersembunyi atau sasaran yang terhalang bukit. Memasang senjata laser di kendaraan tempur di darat atau kapal barangkali tak kelewat sulit. Lantaran butuh sumber energi sangat besar, yang paling pelik adalah memasang senjata laser pada pesawat jet tempur. Masalah lain, turbulensi dan atmosfer di atas sana membuat energi laser tersebar, sehingga kekuatan tembakan tak optimal.

Tapi Laboratorium Riset Angkatan Udara America Serikat (AFRL) yakin mereka bisa mengatasi masalah itu dalam lima tahun. Pada 2020, peneliti di AFRL yakin mereka bisa memasang senjata laser pada jet tempur, seperti F-16 atau F-22 Raptor. “Kami lihat teknologinya terus berubah dan makin matang. Ini titik balik bagi pertahanan nasional,” kata Kelly Hammett, Kepala Insinyur AFRL, kepada CNN, beberapa hari lalu. Menurut Jenderal Herbert “Hawk” Carlisle, Komandan Komando Tempur Angkatan Udara Amerika, senjata laser akan mengubah konsep perang dalam 20 atau 25 tahun mendatang.

Pulau Enggano Jadi Tempat Penemuan Spesies Unik Di Indonesia


“Diasingkan” dari Sumatera oleh proses geologi, Pulau Enggano yang terletak di Provinsi Bengkulu kini memberi kejutan bagi Indonesia. Ekspedisi penelitian yang dilakukan oleh Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) mengungkap flora serta fauna khas dan belum dikenal sebelumnya. Jenis baru flora bahkan dijumpai pada bangsa tanaman yang sudah dikenal luas. Jahe misalnya. Peneliti LIPI menemukan jahe yang tidak seperti jahe umumnya yang dibuat wedang. Jahe yang dinamai Zingiber engganoensis itu berbeda dengan jahe lain dari daunnya yang lebih tipis serta bunganya yang khas.

Jahe baru dari Enggano (Zingiber engganoensis) dan kerabat terdekatnya, Zingiber spectabile. Amir Hamidy, koordinator ekspedisi Enggano, mengungkapkan bahwa kebaruan spesies jahe itu telah dikonfirmasi dengan analisis DNA. “Bulan depan mungkin sudah akan terbit publikasi spesies baru ini,” ungkapnya dalam konferensi pers di LIPI, Kamis (5/11/2015).

Salak hutan yang dikoleksi di Pulau Enggano lewat Ekspedisi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia. lain dengan salak biasanya, jenis ini memiliki buah yang tersusun menjuntai. Selain jahe, peneliti juga meyakini bahwa jenis salak yang ditemukan di Enggano merupakan jenis baru. Salak itu sekarang dideskripsikan sebagai asam kelubi (Eleiodoxa conferta). Namun, penampakannya mirip dengan salak umumnya, Sallaca affinis. Peneliti menduga, salak itu khas Enggano.

Ninox sp dan Alcedo sp, burung hantu dan burung raja udang yang diyakini jenis baru dari Enggano. Dari golongan fauna, peneliti LIPI meyakini ada dua jenis burung baru. Salah satu jenis burung baru adalah burung hantu, Ninox spp. Jenis lain adalah raja udang, Alcedo spp. Raja udang di Enggano berbeda signifikan dengan jenis yang sama di Pagai dan Mentawai. Dari golongan katak, Amir sebagai peneliti amfibi meyakini ada dua jenis baru. Ia mengatakan, setiap katak memiliki bahasa yang berbeda untuk menarik pasangan. “Bahasa antara katak di Bengkulu dengan di Enggano berbeda. Kalau sudah bahasanya berbeda, berarti jenisnya juga berbeda,” ujarnya.

Dari spesies-spesies yang telah didata, peneliti memperkirakan ada 14 spesies yang diyakini pasti baru. “Satu tumbuhan, 2 katak sudah yakin baru karena analisis genetiknya sudah keluar, 2 kelelawar, 1 jenis ikan, 2 jenis udang, 2 jenis capung, dan 4 jenis kupu-kupu,” urai Amir.

Ular tikus Enggano (Coelognathus enganensis). Enggano tidak hanya memberi kejutan karena jenis-jenisnya baru, tetapi juga karena adanya jenis yang tak diduga bisa ditemukan. Salah satunya adalah ular Coelognathus enganensis. Selama 80 tahun, ular itu menghilang. Ekspedisi Enggano pada April-Mei 2015 lalu berhasil menemukannya kembali.

Kejutan lain adalah udang jenis Macrobrachium bariense dan M placidulum. Biasanya, dua jenis udang tersebut dijumpai di timur garius Wallacea atau secara umum di timur Sulawesi. Namun, untuk pertama kalinya, dua jenis itu dijumpai di bagian barat Indonesia. Dua jenis udang itu dijumpai dalam ukuran yang lebih kecil. Bila di timur garis Wallace ukurannya antara 20-30 sentimeter, di Enggano ukurannya hanya 10-15 sentimeter. Karena itu, para peneliti LIPI meyakini bahwa dua udang tersebut merupakan jenis baru.

Beragam kejutan berupa keanekaragaman hayati bisa dijumpai di Enggano karena pulau tersebut terpisah dari Sumatera. “Karena mengalami isolasi, perkembangan evolusi biotanya juga berbeda. Jadi, biota di Enggano sangat khas dan endemisitasnya tinggi,” kata Amir.

Spesies Baru Tikus Berhidung Babi Ditemukan Di Sulawesi


Tim ilmuwan dari Museum Zoologi Bogor, Pusat Penelitian Biologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Lousiana State University, dan Museum Victoria mengungkap genus baru tikus, yang disebut tikus hidung babi. Genus baru itu ditemukan di hutan perawan wilayah Tolitoli, Sulawesi, yang jarang dijamah. Hanya satu dua pencari rotan yang mencapai wilayah itu. Temuan ini memberi pengetahuan tentang penyebaran tikus celurut yang ternyata bisa mencapai wilayah lebih ke utara dan lebih tinggi dari yang diduga. Riset dipublikasikan di Journal of Mammalogy edisi Oktober 2015.

Anang Setiawan Achmadi, Jake Esselstyn, Kevin Rowe, dan Heru Handika sedang melakukan ekspedisi penelitian ke hutan wilayah Gunung Dako ketika menjumpai genus tikus itu pada tahun 2012. Tim memasang perangkap jepit dan umpan di suatu dataran di hutan berketinggian lebih dari 1.500 meter. Perangkap jepit adalah perangkat umum yang biasa dipakai untuk mengoleksi hewan pengerat liar.

“Yang pertama menemukan tikus ini Kevin. Dia berteriak. Kami yang masih di kamp dan mendengar langsung curiga ada sesuatu yang mengejutkan,” kata Anang. Begitu Kevin membawa spesimen ke kamp, seluruh tim kegirangan. Mereka langsung melakukan analisis singkat dan meyakini bahwa tikus yang dijebak adalah jenis baru. Saat melakukan analisis di laboratorium, tim mengungkap bahwa spesimen tikus yang ditangkap sangat khas dan berbeda dengan lainnya sehingga bahkan layak disebut genus baru.

Secara ilmiah, tikus baru ini dinamai Hyorhinomys stuempkei. Nama genus “Hyorhinomys” diambil dari kata “hyro” yang berarti “babi”, “rhino” yang berarti “hidung”, dan “mys” yang berarti “tikus”. Sementara itu, nama spesies “Stuempkei” diambil dari nama samaran Gerolf Steiner, Harald Stuempke. Dia adalah penulis buku fiksi The Snouter yang bercerita tentang adanya tikus yang terpapar radiasi sehingga hidungnya menjadi panjang.

Anang mengatakan, “Ciri yang sangat menonjol dari tikus ini adalah hidungnya yang seperti hidung babi.” Hewan itu dikatakan seperti hidung babi karena bentuknya yang besar, rata, dan berwarna merah muda. Ciri lainnya adalah adanya rambut yang sangat panjang di bagian dekat saluran kencing. “Kami belum pernah menemukan tikus celurut memiliki rambut urogenital yang sepanjang ini, mencapai 5 sentimeter. Kami belum tahu fungsinya apa.”

Karakteristik unik lain dari tikus baru ini adalah gigi serinya yang putih. Kebanyakan tikus memiliki gigi seri oranye. Sementara itu, telinganya juga besar. “Di Australia, Hyorhinomys lebih terlihat seperti tikus bilby, dengan kaki belakang yang besar, telinga besar dan panjang, serta moncong yang panjang dan meruncing,” ungkap Kevin.

Ciri itu merupakan salah satu karakteristik tikus pengerat karnivora yang memakan cacing tanah, larva kumbang, dan serangga kecil. Temuan tikus ini menantang pandangan ilmuwan tentang penyebaran celurut di Sulawesi saat ini. Sejauh ini, celurut dikatakan hanya menyebar hingga wilayah Sulawesi bagian tengah dan di dataran rendah.

Wilayah Tolitoli sudah terlalu ke utara. “Untuk sampai ke sana, ada barrier yang harus dilewati. Bagaimana celurut ini sampai ke sana, ini masih menjadi pertanyaan,” kata Anang. Sementara itu, celurut hingga saat ini ditemukan hanya pada ketinggian di bawah 1.500 meter di atas permukaan laut. Tikus hidung babi ditemukan di ketinggian 1.600 meter di atas permukaan laut. Temuan ini menambah daftar tikus-tikus unik di bumi sebelumya. Sebelumnya, keberadaan sejumlah tikus diungkap, yakni tikus ompong (Paucidentomys vermidax) dan tikus air mamasa (Waiomys mamasae).

Kevin mengungkapkan, “Kami masih kagum kita bisa berjalan ke pelosok hutan di Sulawesi dan menemukan beberapa spesies baru mamalia yang sangat berbeda dari spesies yang telah diketahui, atau bahkan genus sekalipun.” Anang menuturkan, penemuan genus baru yang ketiga dalam kurun waktu 5 tahun terakhir adalah bukti nilai penting kawasan hutan dan pegunungan di Pulau Sulawesi. Masih banyak “harta karun terpendam” keanekaragaman yang harus dijaga.

Hal ini menunjukkan pentingnya konservasi bagi masyarakat Indonesia. Jangan sampai keanekaragaman hayati punah sebelum diungkap dan diketahui manfaatnya.

Cara Mengerti Terjadinya Homoseksual Dari Sisi Sains


Seksualitas merupakan wilayah kontestasi politik paling serius karena benturan antara nilai-nilai moral (agama), kemajuan riset di bidang sains medik, dan realitas sosial. Tama (26) harus menunggu tujuh tahun untuk kembali diakui sebagai bagian dari keluarganya di Malang, Jawa Timur. Anak pertama dari tiga bersaudara itu menyebut identitas seksualnya sebagai “trans-man”, bukan lesbian.

“Orangtua sangat marah,” kenang aktivis remaja dan orang muda dengan identitas beragam, Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (Yotha-PKBI) Cabang Yogyakarta itu. Siang itu, di salah satu ruangan di Gedung PKBI Yogyakarta, Alia (26) mengisahkan, sejak usia 16 tahun, ia berpakaian perempuan dan berada di jalanan. Keluarga dan tetangga menerima dirinya apa adanya.

Berbeda dengan kelompok homoseksual lainnya, kelompok waria lebih kental stigma sosialnya dan kemanusiaannya direduksi sebatas sosok menor di pinggir jalan. Mereka menelan seluruh hinaan. Apalagi kalau tertangkap petugas keamanan. Akan tetapi, kelompok inilah yang mengungkap sikap hipokrit masyarakat. Kata Alia, kliennya adalah laki-laki, yang mungkin beristri dan punya anak. Sebagian dengan ekspresi dan fantasi seksual yang unik.

“Ada yang sebelum dilayani, minta memakai baju saya, lalu bersikap seperti perempuan. Setelah selesai, dia bersikap seolah-olah yang tadi itu tak pernah terjadi,” tuturnya. Awalnya, Tama bergabung dengan gerakan perempuan, tetapi ada resistansi dari dalam. Dia lalu menemukan ruang bersama remaja dan kaum muda beragam identitas. Dalam pertemuan nasional pada Agustus lalu, mereka mendiskusikan posisi “trans-man” dalam gerakan sosial dan berbagai isu yang menyertainya, khususnya terkait upaya membangun teori, informasi, dan kesetaraan hak sebagai warga negara. “Layanan kesehatan reproduksi tak ramah kepada orang-orang seperti kami,” ungkap Tama.

Hak-hak atas kesehatan reproduksi dan seksual (SRHR) bersifat universal. Namun, meminggirkan kelompok lesbian, gay, biseksual, transjender, queer, dan interseks (LGBTQI). Mereka didiskriminasi karena orientasi seksual dan identitas jendernya, serta menghadapi ancaman kaum homofobia, heterofobia dan ekstremis transfobia.

Identitas jender, menurut American Psychological Association (2006), mengacu pada perasaan seseorang sebagai laki-laki, perempuan, atau transjender. Jika identitas jender dan seks tak selaras secara biologis, seseorang bisa diidentifikasi sebagai trans-seksual atau kategori transjender lain (Gainor, 2000). Orientasi seksual mengacu pada ketertarikan secara seksual kepada jenis seks tertentu, termasuk ketertarikan kepada seks sejenis (gay dan lesbian), kepada jenis seks yang lain (heteroseksual), atau keduanya (biseksual).

Kategori-kategori itu digunakan secara luas dan berkelanjutan. Namun, riset menunjukkan, orientasi seksual tak selalu muncul dalam kategori-kategori yang bisa didefinisikan dan tidak berkelanjutan (Klein 1993, Klein, Sepekoff & Wolff 1985). Beberapa hasil penelitian menunjukkan, orientasi seksual bersifat cair bagi beberapa orang, khususnya perempuan (Diamond, 2007, Peplau & Garnets, 2000). Tama dan Alia, juga Opi, Rika, Emil, dan lain-lain dari organisasi People Like Us, Ikatan Waria Yogyakarta (Iwayo), dan Satu Hati menguraikan rumitnya mendefinisikan peran, keterikatan, dan konstruksi sosial dalam hubungan sesama jenis.

“Ada istilah fake comfortability di kalangan remaja homoseksual,” jelas Opi (23), “Dalam masa tertentu, dia merasa nyaman, tetapi lalu ekspresi seksualnya ingin berubah dan bisa dengan lawan jenis.” Hal yang sama terjadi di kalangan hetero. “Tetapi, lebih sulit bagi kelompok ini mengakui dirinya biseksual,” sambung Amir dari Yotha-PKBI Yogyakarta.

Dikotomi dalam hidup tak bisa diandaikan. Amir mengutip Skala Kinsey, Skala Peringkat Heteroseksual-Homoseksual yang diciptakan Alfred Kinsey bersama Wardell Pomeroy dan Clyde Martin, pada tahun 1948. lam “Sexual Behavior in the Human Male” (1948) dan “Sexual Behavior in the Human Female” (1953), Kinsey menyatakan, perilaku seksual, baik yang secara sosial diterima maupun tidak diterima, heteroseksual atau homoseksual, adalah kenyataan. Hal yang disangkali ialah gradasi dari ujung ekstrem satu ke ujung ekstrem lainnya.

Kinsey menciptakan sistem klasifikasi yang mendeskripsikan sejarah seksual seseorang pada waktu tertentu, untuk menunjukkan kontinuitas gradasi dari sejarah perjalanan heteroseksual murni ke homoseksual murni. Skala dengan 7 peringkat itu menggambarkan gradasi tersebut secara lebih akurat. Kalau mengacu pada Kinsey, “koreksi” untuk “meluruskan” orientasi seksual sesuai dengan yang dianggap “normal” dalam norma arus utama, selain melanggar hak, juga sia-sia.

Correction rape biasanya dilakukan dengan paksaan menikah dan punya anak, tanpa dipahami, seksualitas di otak berlawanan dengan seksualitas fisik. “Kalau ketangkep, waria dipotong rambutnya, dipaksa memakai pakaian laki-laki,” kata Alia. Isu SRHR adalah perjuangan tanpa akhir, lebih-lebih di kalangan remaja dan kaum muda dengan seksualitas beragam. Hal inilah yang membuat posisi Yotha strategis dalam perjuangan kesetaraan dan keadilan.

Yotha diawali pengorganisasian komunitas waria tahun 1993, dengan program penanggulangan HIV/AIDS. “Sejak 2006, cakupannya lebih luas, terkait relasi kuasa, konstruksi sosial, identitas, serta hak-hak atas kesehatan reproduksi dan seksual,” ungkap Direktur PKBI Yogyakarta Gama Triono. Mereka juga mengubah model kampanye. “Kalau kampanye Hari Anti Kekerasan terhadap Perempuan berlangsung 16 hari, agenda kami 39 hari menuju Hari HAM, 10 Desember,” lanjutnya.

Sepanjang tahun 2005-2010 mereka menyelenggarakan berbagai kegiatan dan festival terkait seksualitas beragam. Sejak tahun 2012, Yotha dinyatakan sebagai gerakan. “Kalau dulu perjuangannya menolak kekerasan terkait jender biner, sekarang jender beragam,” sambung Tama. Isu yang rumit itu hampir tak pernah disentuh di ruang publik. Diskriminasi dan kekerasan terus berlangsung. Suara mereka hilang di ruang-ruang politik formal.

Dalam “Sexual Politics” (1970), ilmuwan feminis Kate Millet menulis, politik seksual sangat tajam mendefinisikan relasi-relasi atas dasar kontak personal antaranggota dari berbagai kelompok koheren, ras, kasta, kelas, dan seks. Kelompok yang tidak terwakili dalam struktur politik cenderung terus ditindas. “PKBI Yogya menggantikan peran negara untuk menanggapi isu ini,” tegas Tama.

Hujan Meteor Diatas Langit Jakarta


Hingga 120 meteor per jam bisa diamati malam ini. Selasa (15/12/2015) dini hari akan menjadi puncak hujan meteor Geminid. Apabila malam cerah dan awan tak menghalangi, keluarlah malam ini untuk menyaksikan salah satu fenomena hujan meteor teramai tahun ini. Tak dibutuhkan alat optik untuk mengamati hujan meteor Geminid. Cukup keluar ke tempat yang lapang, cerah, dan cukup gelap, Anda bisa melihat sang bintang jatuh.

Terjadinya hujan meteor Geminid
Astronom amatir dan pembina Jogja Astro Club (JAC), Mutoha Arkanuddin, mengatakan bahwa terjadinya hujan meteor Geminid tak lepas dari obyek bernama 3200 Phaeton. “Geminid menurut para ahli diyakini merupakan debu dari komet 3200/Phaethon yang telah mati dan kini menjadi asteoid. Rontokan debu dari benda langit inilah yang akhirnya menjadi sumber meteor shower ini,” katanya.

Saat mencapai titik terdekat dengan matahari, 3200 Phaeton mengalami suhu ekstrem, panas luar biasa saat siang, dan dingin maksimal kala malam. Kondisi itu membuat obyek tersebut terus meregang dan menyusut sehingga permukaannya retak hingga akhirnya menjadi debris antariksa. Dalam perputarannya, bumi melewati wilayah yang kaya dengan debris 3200 Phaeton. Saat debu itu bersinggungan dengan debu obyek itu, maka terjadilah hujan meteor. Karena meteor seolah berasal dari rasi Gemini, maka dinamakan hujan meteor Geminid.

Astronom amatir Ma’rufin Sudibyo mengatakan, “Menurut International Meteor Organization, Geminid itu peak-nya pada 14 Desember pukul 1800 UTC, alias 15 Desember 2015 pukul 01.00 WIB.” Bila kondisi ideal, jumlah meteor yang bisa disaksikan mencapai 120. Namun, angka riilnya mungkin di bawah 100 atau bahkan hanya 50 meteor per jam di wilayah perkotaan. Mutoha mengatakan, musuh utama hujan meteor Geminid kali ini adalah cuaca. Kalau mendung dan hujan, tak ada satu meteor pun yang akan tampak.

Untuk mengamati, cukup pergi ke tempat lapang dan gelap. Walaupun puncaknya pada pukul 01.00 WIB, meteor sudah bisa diamati sejak pukul 21.00 WIB. Jangan lupa membawa kamera bagus untuk mengabadikan fenomena ini. Hujan meteor Geminid merupakan salah satu yang teramai. Jadi, jangan lewatkan jika punya kesempatan untuk mengamatinya.

Rotasi Bumi Semakin Melambat Karena Kenaikan Permukaan Air Laut


Kenaikan suhu bumi akibat perubahan iklim bisa membuat muka air laut meningkat. Peningkatan muka air laut bisa membuat rotasi bumi lebih lambat. Hal itu diungkap dalam studi yang dipublikasikan di jurnal Science Advances pada Jumat (11/12/2015). Bagaimana bisa?

Walter Munk, pakar oseanografi dari Scripps Institution of Oceanography di la Jolla, California, memublikasikan makalah yang mengulas tentang kaitan perbedaan muka air laut, pelelehan masa glasial, dan rotasi planet pada tahun 2002. Dalam makalahnya, Munk mengatakan bahwa perpindahan massa, seperti ketika es di kutub mencair dan menutupi daratan, akan menyebabkan perubahan poros rotasi bumi dan memengaruhi gerak bumi terhadapnya.

Gagasan Munk belum bisa dibuktikan sehingga disebut “enigma Munk”. Dengan mengombinasikan kalkulasi rumit dan pemodelan dengan komputer, Jerry Mitrovica yang seorang profesor geofisika di Harvard University baru-baru ini berhasil mengungkap kaitan antara kenaikan muka air laut dan rotasi bumi itu.

Gerak rotasi bumi terus melambat dalam 2.500 tahun terakhir. Meskipun perlambatan itu juga terkait dengan interaksi antara inti dan mantel bumi, Mitrovica mengatakan bahwa perlambatan itu juga terkait dengan kenaikan muka air laut setelah zaman es. Sejak 500 SM, bumi mengalami “eror waktu” atau “melambat” 16.000 detik atau 4,5 jam. Dikutip dari IFLScience, Jumat lalu, Mitrovica mengatakan bahwa 6.000 detik perlambatan disebabkan oleh kenaikan muka air laut. Bila dirata-rata, tiap tahun bumi melambat 2,4 detik.

Studi Mitrovica merupakan yang pertama kali mengonfirmasi kaitan antara kenaikan muka air laut dan perlambatan rotasi, menguak “enigma Munk”.

Daftar Kesepakatan Konvensi Perubahan Iklim Paris 2015


Konvensi Perubahan Iklim 2015 di Paris telah berakhir dengan lahirnya kesepakatan baru yang disebut Kesepakatan Paris untuk penanganan perubahan iklim global. Walau konvensi yang harusnya berakhir tanggal 11 Desember 2015 itu harus diperpanjang satu hari karena sulitnya menemukan kesepakatan. “Bagi politisi, ini adalah kesepakatan yang adil dan ambisius, namun hal ini justru sebaliknya. Kesepakatan ini pasti akan gagal dan masyarakat sedang ditipu. Masyarakat terdampak dan rentan terhadap perubahan iklim mestinya mendapat hal yang lebih baik dari kesepakatan ini. Mereka yang paling merasakan dampak terburuk dari kegagalan politisi dalam mengambil tindakan,” kata Dipti Bathnagar, Koordinator Keadilan Iklim dan Energi Friends of the Erath International dalam keterangan persnya.

Menurut Bathnagar, negara-negara maju telah menggeser harapan sangat jauh dan memberikan rakyat kesepakatan palsu di Paris. Melalui janji-janji dan taktik intimidasi, negara-negara maju telah mendorong sebuah kesepakatan yang sangat buruk. Negara maju, khususnya Amerika Serikat dan Uni Eropa mestinya membagi tanggung jawab yang adil untuk menurunkan emisi, memberikan pendanaan dan dukungan alih tekhnologi bagi negara-negara berkembang untuk membantu mitigasi dan adaptasi perubahan iklim.

Namun di Paris, negara-negara kaya berupaya membongkar konvensi perubahan iklim untuk memastikan kepentingan mereka sendiri. Kurniawan Sabar, Manajer Kampanye WALHI (Friends of the Earth Indonesia) menegaskan, bagi Indonesia, kesepakatan di Paris akan memberikan dampak sangat signifikan bagi masyarakat dan keberlanjutan lingkungan. “Kesepakatan iklim di Paris, tidak memberikan jaminan perubahan sistem pengelolaan sumber daya alam di Indonesia, dan dengan demikian, lingkungan dan masyarakat Indonesia yang rentan dan terdampak perubahan iklim akan berada dalam kondisi yang semakin mengkhawatirkan,” jelasnya.

Sikap pemerintah Indonesia yang sangat pragmatis dan tidak memainkan peran strategis dalam negosiasi di Paris, sesungguhnya telah meletakkan Indonesia sebagai negara yang hanya mengikut pada kesepakatan dan kepentingan negara maju. Pemerintah Indonesia lebih mementingkan dukungan program yang merupakan bagian dari mekanisme pasar yang telah dibangun oleh negara-negara maju dalam negosiasi di Paris. “Kita tidak bisa berharap perbaikan sistem pengelolaan sumber daya alam di Indonesia yang lebih maju, jika pengelolaan hutan, pesisir dan laut, dan energi Indonesia masih menjadi bagian dari skema pasar, khususnya hanya untuk memenuhi hasrat negara maju untuk mitigasi perubahan iklim,” kata Kurniawan.

Ia melanjutkan, “Dukungan yang dimaksudkan pemerintah Indonesia dari Kesepakatan Paris tidak akan berarti dan tidak akan berhasil tanpa perbaikan tata kelola hutan dan gambut, pesisir dan laut, menghentikan penggunaan energi dari sumber kotor batubara, serta menghentikan kejahatan korporasi dalam pengelolaan sumber daya alam di Indonesia.”

Sebagai catatan kritis, beberapa masalah penting yang menjadi analisis group Friends of the Earth terkait Kkesepakatan Paris, yakni, pertama, Kesepakatan Paris menegaskan bahwa 2 derajat Celcius atau 2C merupakan tingkat maksimum kenaikan temperatur global, dan bahwa setiap negara harus meningkatkan upaya untuk membatasi peningkatan temperatur hingga batas 1,5 dearajat Celcius.

Hal ini tidak akan berarti tanpa mensyaratkan negara-negara maju untuk memangkas emisi mereka secara drastis dan memberikan dukungan finansial sesuai tanggung jawab yang adil, serta memberikan beban tambahan kepada negara-negara berkembang. Kedua, tanpa kompensasi untuk memperbaiki kerusakan lingkungan, negara-negara yang rentan akan menaggung berbagai masalah dan beban dari krisis yang sebenarnya bukan diciptakan oleh mereka. Ketiga, tanpa finansial yang memadai, negara-negara miskin akan dijadikan sebagai pihak yang harus menaggung beban dari krisis yang tidak berasal dari mereka. Pendanaan tersedia, namun kemauan politik tidak ada.

Keempat, satu-satunya kewajiban yang mengikat secara hukum bagi negara maju adalah mereka harus melaporkan seluruh pendanaan yang mereka sediakan. Kelima, pintu sangat terbuka bagi pasar untuk mengeksploitasi krisis iklim tanpa pembatasan secara spesifik dalam teks. Hal ini menjadi kartu bebas bagi poluter terbesar dalam sejarah. Dalam kasus REDD+ misalnya, yang terjadi negara-negara maju akan mendukung proyek perkebunan yang merusak di negara-negara berkembang dan bukannya berupaya mengurangi emisi dari bahan bakar fosil di negeri mereka sendiri.

Pada hari akhir negosiasi iklim di Paris, lebih dari 2.000 orang aktivis federasi Friends of the Earth International bersama ribuan masyarakat Paris melakukan aksi untuk menyampaikan pesan global bagi keadilan klim dan perdamaian (Climate Justice Peace) yang tersebar di tengah kota Paris. Aksi ini sebagai bagian dari gerakan masyarakat sipil yang dimobilisasi Friends of the Earth International untuk menilai dan menyampaikan tuntutan masyarakat sipil untuk keadilan iklim selama proses Konferensi Perubahan Iklim PBB di Paris.

Sebanyak 195 negara peserta KTT Perubahan Iklim PBB atau COP di Paris, Perancis akhirnya mengeluarkan Kesepakatan Paris (Paris Agreement) sebagai pengganti Protokol Kyoto untuk memerangi dampak perubahan iklim. Kesepakatan Paris merupakan kesepakatan internasional mengikat sebagai komitmen bersama dunia untuk melakukan pengurangan emisi gas rumah kaca yang diberlakukan pasca 2020. Presiden Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) PBB tentang Perubahan Iklim (Conference of Parties/COP) ke-21, Laurent Fabius mengumumkan Paris Agreement pada Sabtu (12/12/2015) malam waktu Paris.

Kesepakatan Paris menyebutkan negara-negara dunia berkomitmen menjaga ambang batas kenaikan suhu bumi di bawah 2 derajat celcius (2C) dan berupaya menekan hingga 1,5 C.”Saya melihat semuanya positif, tidak ada yang keberatan. Karena itu Kesepakatan Paris diterima,” kata Fabius. Ia juga menyebutkan Kesepakatan Paris membuat seluruh delegasi bisa pulang dengan bangga karena mampu menghasilkan yang terbaik untuk generasi mendatang. “Usaha yang dilakukan bersama-sama akan lebih kuat daripada bertindak sendiri, karena tanggung jawab kita sangat besar,” kata Menteri Luar Negeri Perancis itu.

Presiden Perancis, Francois Hollande menyampaikan apresiasi kepada seluruh delegasi negara-negara peserta KTT Ikim yang sudah berunding selama 12 hari. “Kita sudah melakukannya, meraih kesepakatan yang ambisius, kesepakatan yang mengikat, kesepakatan global. Anda bisa bangga kepada anak cucu kita,” katanya. Setidaknya terdapat lima poin penting dalam kesepakatan ini. Pertama, upaya mitigasi dengan cara mengurangi emisi dengan cepat untuk mencapai ambang batas kenaikan suhu bumi yang disepakati yakni di bawah 2 C dan diupayakan ditekan hingga 1,5 C.

Kedua, sistem penghitungan karbon dan pengurangan emisi secara transparan. Ketiga, upaya adaptasi dengan memperkuat kemampuan negara-negara untuk mengatasi dampak perubahan iklim. Keempat, memperkuat upaya pemulihan akibat perubahan iklim, dari kerusakan. Kelima bantuan, termasuk pendanaan bagi negara-negara untuk membangun ekonomi hijau dan berkelanjutan. Dalam kesepakatan ini, usulan Indonesia terakomodasi di dalamnya seperti diferensiasi atau perbedaan kewajiban antara negara maju dan berkembang, pogram REDD, implementasi aksi dari kesepakatan Paris, finansial, dan transformasi teknologi dan peningkatan sumberdaya manusia. COP 21 Paris, Perancis digelar 30 November 2015 dan berakhir pada 13 Desember 2015 di Le Bourget.

Ilmuwan Universitas Indonesia Teliti Membuat Stem Cell Dari Darah Haid


Riset stem cell atau sel punca saat ini banyak didalami oleh ilmuwan-ilmuwan di dunia tak terkecuali Indonesia. Peneliti di Universitas Indonesia (UI) salah satunya dalam hal ini berusaha meneliti sel punca dan potensi yang ada pada darah haid. Sel punca sendiri adalah sel dasar yang nantinya bisa berkembang menjadi sel apa saja. Karena sifatnya itu, sel punca diyakini memiliki potensi untuk menjadi jawaban untuk semua masalah degeneratif yang saat ini belum ada obatnya.

Manajer Riset dan Pelayanan Masyarakat Fakultas Kedokteran UI Dr dr Budi Wiweko, SpOG(K), mengatakan satu hal yang tak terduga dari darah haid adalah darah tersebut menyimpan sel punca yang bisa dimanfaatkan. Saat ini penelitian diakui masih tengah berlangsung sehingga tak banyak yang bisa dilaporkan. “Dari darah haid ini kita kembangkan stem cell. Nanti kita lihat ada berapa banyak stem cell yang ada di darah haid,” ujar dr Wiweko yang akrab disapa dr Iko ini kepada media saat mengisi seminar di kantor MERCK, Jalan TB Simatupang, Jakarta Timur, Selasa (8/12/2015).

Untuk apa sel punya yang didapat dari darah haid? dr Iko menjelaskan penggunaannya bisa bermacam-macam namun yang utama adalah untuk mengembalikan fungsi rahim. Ketika rahim mengalami kerusakan akibat trauma, infeksi, atau hal lainnya maka sel punca darah haid kemungkinan bisa diberikan untuk memperbaikinya. “Bisa kita gunakan pada dinding rahim yang terganggu akibat infeksi atau rusak. Kita gunakan stem cel kita taruh nanti dinding rahim bisa menebal lagi, bisa hamil lagi,” papar dr Wiweko.

“Tapi ini masih diteliti loh ya,” tutupnya. Meski diklaim menjanjikan, terapi stem cell atau sel punca hingga kini masih dalam tahap penelitian. Karena alasan itu pula, stem cell tidak ditanggung asuransi. Di RS Cipto Mangunkusumo (RSCM), terapi stem cell dibiayai dengan hibah penelitian. Pasien cukup membayar alat yang digunakan, sedangkan untuk proses pengolahan stem cell menjadi tanggunan RSCM. Demikian juga di RS Dr Soetomo Surabaya, pasien cukup membayar biaya ‘ganti proses’.

“Biaya, selama ini yang saya dengar di Jerman sekali suntik Rp 300 juta. Di cina Rp 150 juta. Di Surabaya, biaya ganti proses sepertiga dari di China,” kata Sekretaris Pusat Kedokteran Regeneratif dan Stem Cell RS Dr Soetomo Surabaya, dr Purwati, seperti ditulis pada Kamis (29/10/2015). Hingga saat ini, diakui memang belum ada standar harga untuk terapi stem cell. Tak heran jika di lapangan banyak iklan yang menawarkan terapi stem cell dengan rentang harga sangat bervariasi, dari Rp 4 juta sekali injeksi hingga ratusan juta rupiah.

“Soal biaya, sebetulnya harus ada standar. Konsorsium nanti bertanggung jawab membuat standar, sementara ini disesuaikan dengan rumah sakit,” kata Ketua Konsorsium Pengembangan Sel Punca dan Rekayasa Jaringan, Prof Dr Farid Anfasa Moeloek, SpOG(K). Di Indonesia, terapi stem cell dilakukan di 11 rumah sakit yang ditunjuk oleh Kementerian Kesehatan. Kesebelas rumah sakit tersebut adalah RS M Djamil, RSCM, RS Persahabatan, RS Fatmawati, RS Dharmais, RS Harapan Kita, RS Hasan Sadikin Bandung, RS Kariadi Semarang, RS Sardjito Yogyakarta, RSUD dr Soetomo SUrabaya dan RS Sanglah Denpasar