Monthly Archives: Juli 2014

Jumlah Istri Yang Selingkuh Semakin Meningkat


Menurut sebuah survei yang dihelat oleh General Social Survei dari National Opinion Research ditemukan data mengejutkan. Ternyata, sekarang ini jumlah istri yang berselingkuh meningkat pesat, sedangkan jumlah suami yang melakukan perselingkuhan terbilang stabil.

Lebih rinci hasil survei membeberkan bahwa peningkatan jumlah istri yang berselingkuh meningkat sebanyak 15 persen menjadi 30 persen, dan kuantitas suami yang tak setia pada janji pernikahannya tercatat masih sebesar 21 persen.

Menurut pakar hubungan dan pernikahan, Patricia Johnson dan Mark Michaels, hal ini disebabkan oleh karena kemampuan wanita dalam menopang hidup secara finansial menunjukkan kemajuan pesat sehingga mereka tidak lagi membutuhkan laki-laki untuk menafkahi mereka. Tak sedikit wanita yang menikah memiliki penghasilan lebih besar dari suami mereka.

Seperti dikutip DailyMail, di era modern, penghasilan wanita mengalami peningkatan pesat dibandingkan 20 tahun yang lalu. Hal ini membuat wanita lebih mandiri dan tidak bergantung pada suami, sehingga membuat mereka tidak terlalu mengkhawatirkan perceraian.

“Komunikasi tak lagi menjadi penyebab utama dari perceraian dan perselingkuhan. Peran yang dimainkan oleh pria, acap kali menciderai hubungan jadi kurang perhatian,” ujar Johnson dan Michaels. Temuan ini senada dengan hasil survei yang dikuak oleh American Academy of Matrimonial Lawyers Chicago. Mereka menemukan, pernikahan kandas akibat perselingkuhan, umumnya dikarenkan pihak istri yang tidak setia.

Cara Merawat Kulit Agar Sehat dan Putih Bersinar


Merawat kulit penting agar bagian terluar tubuh ini senantiasa sehat dan terlihat segar. Perawatan kulit yang baik salah satunya dengan melindunginya dari sinar matahari dan selalu membersihkan wajah setiap hari. Jika Anda tidak memiliki waktu untuk perawatan kulit, pilihan gaya hidup dapat membantu menunda proses penuaan dini kulit dan mencegah berbagai masalah kulit. Caranya pun gampang dan mudah, asalkan dilakukan secara berkesinambungan, tak hanya sesekali dan seingatnya saja.

Berikut cara menjaga kulit agar tetap bersinar:

Lindungi dari sinar matahari
Salah satu cara penting yang harus Anda lakukan adalah melindungi kulit dari sinar matahari langsung. Paparan sinar matahari dapat menyebabkan kerutan, bintik-bintik hitam, dan masalah kulit lainnya bahkan dapat meningkatkan resiko kanker kulit. Untuk perlindungan, gunakan tabir surya spektrum luas dengan kandungan minimal SPF 15 ketika berada di luar ruangan. Gunakan tabir surya setiap dua jam sekali atau lebih sering jika Anda berenang atau berkeringat. Hindari paparan sinar matahari langsung antara pukul 10.00 – 16.00 karena pada jam-jam tersebut matahari bersinar sangat kuat. Jika harus bekerja di bawah sinar matahari, kenakan pakaian yang dapat melindungi kulit, pakailah baju lengan panjang yang tidak tipis, celana panjang dan topi yang bertepi lebar.

Tidak merokok
Merokok membuat kulit Anda terlihat lebih tua dan memberikan kontribusi mempercepat kulit menjadi keriput. Merokok menyempitkan pembuluh darah kecil pada lapisan terluar kulit yang menurunkan aliran darah. Hal ini akan menghambat aliran oksigen ke dalam kulit dan nutrisi penting bagi kesehatan kulit. Merokok juga merusak kolagen dan serat elastin, dua komponen yang memberikan kekuatan dan elastisitas pada kulit. Selain itu ekspresi wajah berulang saat merokok seperti mengerucutkan bibir saat menghirup dan menyipitkan mata saat menjaga asap keluar dapat menyebabkan keriput.

Merawat kulit dengan lembut
Membersihkan kulit setiap hari dan bercukur dapat menjadi jalan untuk memiliki kulit tetap lembut. Batasi waktu mandi yang lama dan menggunakan air panas karena dapat menghilangkan kelembaban kulit. Hindari menggunakan sabun mandi yang memakai detergen yang kuat karena akan mengikis minyak dari dalam kulit.Pakailah air hangat dan sabun yang mempunyai pelembab dan detergen ringan. Jika Anda hendak mencukur bulu-bulu pada tubuh oleskan krim cukur, lotion, atau gel sebelum bercukur ini dapat melumasi kulit sehingga melindungi kulit agar tidak terluka. Gunakan juga pisau cukur yang bersih dan tajam, cukurlah menurut arah rambut tumbuh bukan melawan arah. Tepuk-tepuk ringan dan lembut setelah mencuci atau mandi agar kulit Anda tetap lembab.Jika kulit Anda kering, gunakan pelembab yang sesuai dengan jenis kulit Anda. Untuk penggunaan sehari-hari, pertimbangkan pelembab yang mengandung SPF.

Makan makanan yang sehat
Diet sehat dapat membantu Anda mendapatkan kulit yang sehat. Makanlah banyak buah-buahan, sayuran, biji-bijian, dan makanan rendah protein. Beberapa penelitian menunjukkan makanan yang kaya vitamin C, dan karbohidrat rendah lemak, akan membuat kulit terlihat lebih muda.

Mengelola stress
Stress yang tidak terkontrol dapat membuat kulit Anda lebih sensitif, memicu jerawat, dan masalah kulit lainnya. Kelola stress Anda, berikan waktu untuk melakukan hal-hal yang bisa Anda nikmati. Hasilnya mungkin akan lebih dari yang Anda harapkan, pikiran menjadi rileks dan Anda memperoleh kulit yang sehat.

Manfaat Sayur Kubis Pada Gado Gado


Kubis adalah jenis sayuran yang umum dijumpai di semua pasar, baik tradisional maupun modern. Mungkin sayuran ini bukan merupakan sayuran favorit Anda, tapi menilik manfaatnya bagi kesehatan, segeralah mengubah penilaian terhadap sayur hijau muda yang biasa digunakan untuk membuat gado-gado ini.

Manfaat kubis yang dapat langsung dirasakan salah satunya adalah untuk mengurangi pembengkakan dan rasa sakit pada payudara ibu menyusui atau pada tahap penyapihan. Daun kubis sama efektifnya dengan gel dingin yang mampu mengurangi rasa sakit pada payudara yang mengeras karena proses pembengkakan.

Caranya, gunakan sayuran ini sebagai kompres dengan cara mencuci dan mendinginkan daun kubis kemudian melubangi daun pada bagian puting. Dapat juga diletakkan di balik bra atau sebagai kompres di bawah handuk dingin sampai daun kubis mencapai suhu tubuh sekitar 25 menit setelah pemakaian. Ulangi cara ini satu sampai empat kali sehari.

Selain itu, kubis adalah bahan pangan yang rendah polifenol, mengandung antioksidan dan vitamin C, serta vitamin K untuk pembekuan darah. Kubis telah dikenal selama puluhan tahun mempunyai khasiat anti inflamasi dan fleksibilitas yang dapat diimplikasikan untuk melawan kanker, mengobati sakit maag, dan masalah lain dari ketidakseimbangan dalam sistem pencernaan.

Kubis juga digunakan untuk sakit perut, bisul usus, asam lambung berlebih dan kondisi perut yang dikenal sebagai sindrom Roemheld. Kubis juga digunakan untuk melawan asma dan morning sickness, juga digunakan untuk mencegah osteoporosis, serta kanker payudara, paru-paru, lambung, usus besar dan lainnya.

Kubis mengandung glukosinolat, bahan kimia yang dapat menghambat pertumbuhan beberapa jenis kanker dan meningkatkan kemampuan sel untuk memperbaiki DNA. Kubis mengubah estrogen yang digunakan dalam tubuh untuk mengurangi resiko kanker payudara.

Dari secangkir kubis cincang yang dikukus, Anda akan mendapatkan 33 kalori dan 90 persen rekomendasi harian vitamin K, lebih dari 51 persen vitamin C, dan sekitar 15 persen dari serat yang dibutuhkan tubuh. Kubis juga merupakan sumber mangan, vitamin B6 atau piridoksin, folat, asam lemak omega 3, vitamin B1, atau thiamin, vitamin B2 atau riboflavon, kalsium, kalium, vitamin A, triptovan, protein, dan magnesium.

Anda dapat mengolah sayuran ini untuk salad atau dioseng, paling tidak sekali setiap pekan. Jadi tak ada alasan untuk tak menyukai kubis bukan?

Mengenali Keunggulan Macam Macam Sabun Cuci Pembersih Noda


Sehari menjelang hari raya adalah waktu yang sebaiknya Anda maksimalkan untuk merawat rumah. Anda bisa menata ulang dan membersihkan perabotan Anda. Terlebih, jika memiliki anak kecil, kemungkinan besar Anda akan sering menemui banyak noda membandel pada furnitur Anda. Namun, sebelum mulai membersihkan, kenali dulu jenis noda untuk mengetahui jenis pembersih yang tepat!

Pelarut noda mengandung pelarut yang mampu menguraikan zat kimia. Air dapat melarutkan gula atau garam, namun tidak dapat melarutkan minyak. Jika furnitur Anda terkena noda berbahan dasar air, Anda dapat menggunakan air soda dan air sabun. Pengemulsi noda mengandung pengelmusi atau surfaktan. Surfaktan melapisi noda dan mengangkatnya dari permukaan. Pengemulsi dapat melarutkan minyak. Salah satu contoh pengemulsi adalah cairan pencuci piring.

Pengurai noda mengandung enzim untuk memecah molekul noda. Ia mencerna protein dan lemak pada noda. Contoh pembersih ini adalah klorin dan boraks. Karena mampu mencerna protein dan lemak, maka pengurai noda dapat membersihkan darah dan coklat. Selain itu, ada penyamar noda. Pembersih ini tidak mampu membersihkan noda, hanya menyamarkannya. Cairan pemutih dan sabun memiliki kemampuan merefleksi kembali cahaya, sehingga noda tampak bias dan tidak kelihatan jelas.

Cairan pemutih dan sabun memiliki kemampuan merefleksi kembali cahaya, sehingga noda tampak bias dan tidak kelihatan jelas. Memang, meski hanya menyamarkan noda, sumber lain mengungkapkan bahwa cairan pemutih (bleach) mampu menghilangkan noda yang disebabkan oleh kopi dan teh, terutama pada pakaian. Jika setelah sekali mencuci pakaian masih menampakkan noda, jangan tunggu kering dan ulangi proses pencucian.

Terakhir, Anda bisa gunakan penghilang noda alami. Gunakan cuka pada noda berbau tidak sedap. Cuka dapat menghilangkan noda makanan. Tuangkan cuka di atas noda makanan, cuci dengan air biasa. Baking soda juga berfungsi dengan baik untuk menghilangkan noda. Campur dengan air hingga berbentuk pasta, lalu oleskan pada noda. Setelah itu, bilas dengan air biasa.

Karena Kanker Gusi Remaja India Ditumbuhi 232 Gigi


Ashik Gavai, remaja laki-laki asal India, memiliki jumlah gigi yang luar biasa banyak, 260 buah. Hal itu diketahui setelah dirinya menjalani operasi. Awalnya, Gavai mengalami bengkak dan rasa sakit di rahang kanan bawahnya. Ia pergi ke dokter di desanya namun sang dokter tak mengetahui penyebabnya.

Akhirnya, Gavai dirujuk ke J.J Hospital di Mumbai. Sunanda Dhiware, dokter rumah sakit itu, melakukan serangkaian tes namun tetap sulit mengetahui penyebabnya. Setelah 18 bulan, akhirnya Gavai menjalani operasi gigi. Lewat operasi, Dhiware mengetahui bahwa ada 232 gigi kecil, tak termasuk gigi normal, yang bersarang di gusi Gavai.

Dokter mendoagnosis Gavai dengan odontoma komposit kompleks, yakni ketika satu gusi memiliki banyak gigi. Kondisi ini langka, termasuk tumor jinak. Dalam operasi selama 7 jam, Dhiware dan asistennya berupaya mengangkat 232 gigi yang tersembunyi di gusi.

Gigi itu tak bisa diangkat dengan cara biasa. Dhiware harus menggunakan palu dan pahat untuk membuka gusi dan mencabutnya. Cara ini sebenarnya telah ketinggalan zaman.Selain gigi itu, dokter juga menghilangkan gigi geraham yang juga terdampak oleh kondisi tersebut.

Diberitakan situs IFLScience, Kamis (24/7/2014), sejauh ini jumlah gigi terbanyak yang diekstraksi dari kondisi tersebut adalah 37. Meskipun belum bisa memastikan bahwa jumlah gigi Gavai adalah rekor dunia, Dhiware mengatakan bahw kondisi itu tidak dijumpai dalam 30 tahun terakhir. Selepas operasi, gigi Gavai yang tersisa sebanyak 28, jumlah normal gigi bagi orang dewasa. Dengan jumlah gigi yang terekstrak 232, jumlah gigi Gavai semula 260.

Anjing Ternyata Juga Suka Cemburu Seperti Manusia


Ada riset yang menyatakan anjing merupakan sahabat terbaik manusia, dan anjing terus menginginkan keadaan ini. Berdasarkan penelitian yang dipublikasikan PLOS ONE, ternyata anjing mampu merasakan kecemburuan,.

Ini merupakan eksperimen pertama oleh psikolog dari University of California, Christine Harris, untuk meneliti kecemburuan anjing, seperti dikutip Reuters, Rabu, 23 Juli 2014. Para pemilik 36 anjing trah kecil diminta melakukan tiga hal. Mereka mencurahkan perhatian kepada mainan berbentuk anjing, hiasan manusia labu, serta membaca buku anak-anak dengan keras, sembari mengabaikan hewan peliharaan mereka.

Para peneliti pun memperhatikan reaksi anjing-anjing tersebut. Hampir 80 persen anjing mendorong atau menyentuh para pemilik ketika mereka lebih memilih meluangkan waktu dengan mainan. Anjing-anjing itu melakukannya dua kali lebih sering ketika para pemilik bermain dengan hiasan manusia labu. Bahkan saat para pemilik mereka membaca buku, anjing-anjing ini empat kali mendorong mereka.

Seperempat jumlah anjing menyalak kepada mainan berbentuk anjing, sambil mengibaskan ekor mereka. Hanya ada satu anjing yang menyalak pada hiasan manusia labu dan buku. “Kami tidak bisa menanyakan perasaan pribadi anjing, tentu saja, tapi mereka terlihat sangat ingin menjaga hubungan sosial yang dimiliki,” kata Harris.

Dari studi serupa dalam penelitian terhadap kecemburuan yang dimiliki bayi, anjing disebut memiliki emosi lebih dalam dibanding hewan lainnya. Para peneliti mengatakan kecemburuan ini bisa berkembang karena hewan berusaha menjaga hubungan seksual mereka dengan pasangannya, atau berlomba mencari perhatian dari orang tuanya.

Hal ini bisa muncul pada anjing yang memiliki hubungan baik dengan manusia. Memahami kecemburuan ini menjadi tugas ilmiah penting menurut para peneliti. Mereka menilai kecemburuan kerap dianggap penyebab pembunuhan antar kelompok budaya.

Angka Kematian Akibat Malaria Menurun


Para peneliti menemukan bahwa adanya penekanan focus pada MDGs telah mendorong penurunan kasus-kasus dan kematian karena malaria di Indonesia dan di seluruh dunia. Secara menakjubkan, Indonesia telah mencatat penurunan angka kematian karena malaria hingga separuhnya per 100.000 orang antara 1990 dan 2013.

Di tahun 2013, angka kemarin yang disebabkan oleh malaria adalah sebesar 1.4 per 100.0000, dibandingkan angka rata-rata global yang tercatat sebesar 11,8. Tetapi malaria masih merupakan masalah kesehatan utama di Indonesia, yang telah merenggut 3.100 korban di tahun lalu serta adanya 2 juta kasus baru.

Epidemi malaria global mengalami puncaknya pada awal 2000an, dimana tercatat sebanyak 232 juta kasus di tahun 2003 dan 1,2 juta kematian terjadi di tahun 2004. Di seluruh dunia, tercatat 164,9 juta kasus malaria dan 854.566 kematian disebabkan oleh malaria di tahun 2013.

Sebagaimana halnya dengan HIV/AIDS, masalah malaria banyak ditemukan di wilayah sub-Sahara Afrika. Dari angka yang tercatat di tiga negara – Nigeria, Kongo dan India – yang bisa dikatakan adalah separuh dari angka kematian kerana malaria di tahun 2013, dua di antaranya terletak di sub-Sahara Afrika.

The Institute for Health Metrics and Evaluation (IHME) merupakan organisasi riset kesehatan global di University of Washington, bekerja secara independen dan menghasilkan berbagai data penelitian yang didasarkan pada penelitian yang teliti dan terukur dalam menelaah masalah-masalah kesehatan utama di seluruh dunia, serta mengevaluasi strategi-strategi yang digunakan dalam menanganinya.

IHME menyediakan informasi seluas-luasnya, sehingga para pengambil keputusan memiliki bukti-bukti yang mereka butuhkan dalam membuat keputusan yang berdasarkan informasi lengkap dalam mengalokasikan sumber-sumber daya yang ada untuk memperbaiki kondisi kesehatan masyarakat.

Di Indonesia Tuberkulosis Menjadi Penyakit Mematikan Pembunuh Nomor 1


Di Indonesia, pemberantasan penyakit tuberkulosis (TB) masih tertinggal jika dibandingkan negara-negara lainnya. Di seluruh dunia, prevalensi TB pada mereka yang tidak terkena HIV/AIDS di tahun 2013 tercatat sebesar 160,2 per 100.000, sementara prevalensi di Indonesia memperlihatkan angka 185,5 per 100.000.

Berdasarkan sebuah penelitian, di Indonesia angka kematian karena TB telah menurun sebesar 2,6 persen per tahun, selama satu dekade terakhir. Sementara secara global, angka kematian karena TB telah menurun sebesar 3,7 persen per tahun. Tahun lalu, sebanyak 108.723 orang Indonesia penderita HIV/AIDS meninggal karena TB. Di dalamnya jumlah pria lebih banyak sebagai korbannya. Secara bersamaan, kematian karena HIV dan TB sangat umum dialami oleh pria di seluruh dunia.

Di seluruh dunia, pengobatan yang lebih dini serta lebih efektif telah membantu mempercepat durasi infeksi TB, tetapi dari hasil penelitian tercatat bahwa semakin dunia bertambah tua, akan semakin tinggi angka kasus dan kematian karena epidemi ini yang akan terjadi. Ditilik dari angka kematian yang terjadi dalam rata-rata usia yang telah tertentu, negara-negara dengan angka kematian tertinggi karena TB adalah negara-negara sub-Sahara di Afrika, yaitu Lesotho, Somalia, dan Burundi.

“Seiring dengan populasi yang semakin tua, tuberkulosis tetap akan menjadi ancaman kesehatan utama,” kata Dokter Nobhojit Roy dari BARC Hospital di India yang juga merupakan co-author dari studi ini. “TB menghadirkan tantangan yang unik di berbagai negara dan wilayah yang berbeda, dan data yang lebih baik akan membantu terciptanya strategi yang efektif dalam menghadapi masalah tersebut,” kata Nobhojit.

Pada tahun 2013, tercatat sebanyak 7,5 juta kasus baru TB di seluruh dunia. Penyakit ini telah menyebabkan 1,4 juta kematian di seluruh dunia.Titik Yulianti tersenyum lebar. Perempuan 25 tahun ini tak bisa menyembunyikan kegirangannya saat ditanya perihal pengobatan penyakit tuberkulosisnya. “Sekarang sudah sehat dong, sudah bersih sejak dua bulan lalu,” katanya di Banyumas, Jawa Tengah, Jumat, 4 April 2014.

Bergulat setengah tahun lebih dengan penyakitnya batuknya itu, ia akhirnya dinyatakan sembuh oleh dokter. Titik merupakan korban kuman Mycobacterium tuberculosis ketiga di komplek rumahnya di Sokaraja, Banyumas, Jawa Tengah. Sebelumnya, kakaknya, Puji Sarono, juga mengalami penyakit serupa.

Puji baru sembuh setelah menjalani pengobatan intensif tuberkulosis selama 6 bulan. Penderita lainnya adalah Sono, tetangga depan rumah mereka yang telah dua tahun lebih mengidap penyakit itu. Dari ketiganya, hanya Sono belum juga membaik. Sono menolak menjalani pengobatan karena obat yang diberikan petugas medis membuatnya mual. “Sudah didatangi orang rumah sakit, tapi tetap saja bandel,” kata Titik. Takut tertular, kini tetangga memilih tak mendekati Sono.

Tuberkulosis, atau disebut dengan TB, merupakan penyakit yang ditularkan melalui udara. Kuman TB dikeluarkan percikan dahak penderita lewat batuk, bersin, meludah, atau berbicara. Jika terjangkit penyakit ini, gejala awalnya berupa batuk berdahak lebih dari tiga minggu, nyeri dada, nafsu makan kurang, dan berat badan melorot. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mendesak lebih dari 30 negara, termasuk negara-negara maju, untuk mengenali bahaya lanjutan dari penyakit tuberkulosis dan diminta bersama memberantasnya pada 2050.

Meskipun tuberkulosis (TBC) adalah penyakit yang bisa dicegah dan disembuhkan, WHO merilis masih ada 155 ribu orang terinfeksi setiap tahunnya di 33 negara berkembang. Sebanyak 10 ribu orang di antaranya meninggal dunia. Jumlah kasus TBC yang tercatat pada setiap tahun di beberapa negara, mulai Australia ke Prancis dan Jerman, lalu Selandia Baru ke Amerika Serikat, diperkirakan berjumlah seratus kasus per juta penduduk. WHO menggarisbawahi jutaan orang masih tak sadar telah terinfeksi bakteri basil tuberkulosis, yang dapat ditularkan melalui bersin.

“Jika Anda berbincang dengan masyarakat umum dari negara-negara ini, (mereka pikir) itu adalah penyakit masa lalu yang kini sudah tidak ada lagi,” kata Marco Raviglione, Kepala Program Anti-Tuberkulosis WHO, seperti dilansir Asiaone, Jumat, 4 Juli 2014. Menurut WHO, TBC menjangkiti 1,3 juta jiwa di seluruh dunia pada tahun lalu dan membuat TBC menjadi penyakit mematikan setelah AIDS, yang disebabkan oleh agen infeksi tunggal. Sebanyak 33 negara telah berhasil memerangi TBC karena relatif memiliki tingkat penderita tuberkulosis yang rendah bila dibandingkan dengan Cina, India, negara-negara Eropa Timur, dan Asia Tengah.

“Kami menghitung ada 33 negara yang berhasil mengendalikan TBC dengan jumlah kasus yang rendah dan memungkinkan mereka memberantas penyakit itu. Negara-negara itu harus menunjukkan kepada dunia bahwa kita bisa melakukannya,” kata Raviglione kepada wartawan. Masyarakat yang rentan terhadap penyakit ini adalah mereka yang berada di dalam penjara dan orang-orang dengan kekebalan tubuh yang rendah, termasuk penderita HIV, penderita kurang gizi, penderita diabetes, perokok, dan pecandu alkohol. Semua memiliki risiko tinggi terkena TB. Kekhawatiran utama WHO, mereka yang rentan terkena TBC adalah orang-orang yang kesulitan mendapat akses pelayanan kesehatan.

Raviglione mengatakan adanya “keputusan berani” dari para pemimpin negara bisa menekan jumlah kasus penderita TB pada 2035, dari angka seratus kasus per juta per tahun menjadi sepuluh kasus per juta per tahun. “Karena itu, pada 2050, kita bisa benar-benar menghapus penyakit tuberkulosis, yang berarti kurang dari satu kasus per juta orang setiap tahun,” katanya. Tuberkulosis atau yang lebih dikenal TB merupakan penyakit infeksi saluran pernafasan yang masih menjadi momok menakutkan di kalangan masyarakat Indonesia. Penyakit ini merupakan penyakit menular yang masih menjadi perhatian dunia, dan hingga saat ini belum ada satu negara pun yang bebas dari TBC.

“TB menular lewat ludah dan dahak ketika si pengidap batuk. Penyebarannya pun sangat mudah yakni melalui udara, “ ujar Dr Telly Kamelia, SpPD dalam seminar “Kenali Batuk dan Terapinya” dalam rangka peringatan Hari TB Sedunia (World TB Day), di Jakarta, Sabtu 29 Maret 2014, melalui keterangan tertulisnya. Jika seseorang terlihat mengidap batuk yang berkepanjangan, Telly mengingatkan, maka orang di sekitarnya harus menjaga jarak atau waspada. Seperti contohnya tidak sembarangan memegang tangan atau barang milik si pengidap TBC. Pasalnya, area tangan dan barang yang biasa dipegang orang tersebut adalah tempat terbanyak bersarangnya kuman TB.

“Karenanya, pengidap harus sadar diri untuk tidak menularkan kepada lingkungan sekitar dengan sering mencuci tangan dan membuang bekas tisu langsung di tempat sampah yang tertutup. Jika batuk tak tertahan, tutuplah mulut dengan lengan baju sehingga kuman tidak berterbangan di udara,” lanjutnya. Dewi Isnaniar, Senior Brand Manager Bisolvon menambahkan Salah satu gejala penyakit TB yang sering dijumpai adalah batuk terus menerus, dan terdapatnya dahak (sputum). Pengobatan TB yang memakan waktu 6-8 bulan pun menimbulkan hambatan baik dari segi biaya maupun kontinuitas mengonsumsi obat.

Untuk itu, pasien TB hendaknya diberikan pendamping. Di Indonesia, pendampingan umumnya dilakukan oleh keluarga atau orang terdekat. Sayangnya, tidak semua pendamping memiliki pengetahuan yang cukup. “Tujuan dari seminar ini agar masyarakat lebih memahami tentang penyakit TB, dan banyak mengatasinya ,” ujar Dewi. Sebuah tim dari Albert Einstein College of Medicine di New York secara kebetulan menemukan bahwa vitamin C dapat membunuh bakteri tuberkulosis. Bakteri tuberkolosis adalah penyebab penyakit tuberkulosis yang menyerang paru-paru

“Aku tak percaya. Kami menemukan bahwa vitamin C membunuh TB,” kata William Jacobs, salah satu dari peneliti di sana mengungkapkannya dalam situs News Max Health edisi 22 Mei 2013. Hasil penelitian ini kemudian diterbitkan dalam Jurnal Nature Communications. Dia menekankan, sejauh ini manfaatnya hanya terlihat dalam laboratorium. “Kami belum tahu apakah itu akan bekerja pada manusia,” ujar Jacobs. “Tapi sebenarnya, penelitian ini pun semula bukan untuk mencari manfaatnya untuk manusia. Ini hanya kebetulan.”

Pada tahun 2011, diyakini ada sekitar 12 juta kasus TB total – 630.000 dari mereka tidak merespon terhadap obat yang paling ampuh (isoniazid dan rifampisin). Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) sempat mengumumkan keadaan darurat kesehatan global karena TB 20 tahun lalu. Meskipun TB adalah penyebab utama kematian akibat penyakit menular, tingkat kematian TB mengalami penurunan 41 persen pada 1990-2011. Pada 2011, sebanyak 8,7 juta orang menderita TB dan 1,4 juta meninggal dunia, kata WHO. Lebih dari 95 persen kematian akibat TB terjadi di negara berpenghasilan rendah dan menengah.TB juga jadi ancama pembunuh bagi ODHA (Orang Dengan HIV Aids).

TBC biasanya diobati dengan antibiotik rutin selama enam bulan. Resistensi (perlawanan) terhadap obat TB terjadi ketika obat gagal membunuh bakteri yang menyebabkan TB. Ini dapat terjadi karena pasien tidak mengikuti dosis yang dianjurkan atau karena obat tidak bekerja. TB juga menular secara langsung dari orang ke orang. Penyembuhan TB membutuhkan sekitar dua tahun pengobatan dengan obat-obatan yang lebih paten (dan lebih mahal). Hal ini menyebabkan efek samping dan tidak memberikan jaminan untuk sembuh.

Oleh sebab itu, ilmuwan berharap ada penelitian lebih lanjut untuk melihat potensi penggunaan vitamin C dalam pengobatan TB. Selain murah, vitamin C mudah didapat dan aman digunakan. “Ini akan menjadi sebuah studi besar,” kata Jacobs

Air Kelapa Terbukti Mampu Penuhi Kebutuhan Cairan Selama Puasa


Berpuasa kurang-lebih 14 jam sehari dapat menyebabkan tubuh lemas dan kekurangan cairan. Selama berpuasa, kadar gula darah yang diperlukan sebagai sumber energi berkurang sehingga tubuh lemas.

Aktivitas dalam ruangan berpenyejuk udara membuat tubuh kehilangan 1 persen hingga 2 persen cairan, baik melalui urine, metabolisme tubuh, ataupun proses pencernaan.

“Berkurangnya kadar gula darah dan kehilangan cairan ini menyebabkan pusing kepala dan tidak nyaman sekitar pukul tiga sore,” kata dr Fiastuti Witjaksono, MS, SpGK, dokter spesialis gizi klinik dalam “Media Gathering Buavita: Mixology Class di Patio Cafe” belum lama ini.

Untuk kaum urban, nutrisi selama berpuasa dapat diperoleh melalui air kelapa. Menurut Fiastuti, berdasarkan perhitungan zat gizi dari United States Department of Agriculture (USDA), dalam 100 miligram air kelapa terkandung kadar air sebesar 94,99 persen yang terbukti secara klinis dapat mengembalikan kesegaran dan kebugaran tubuh setelah kekurangan cairan.

Selain air kelapa, kebaikan buah Nusantara lain: markisa dan sirsak dapat memelihara kesegaran tubuh saat berpuasa. “Terdapat vitamin C sebesar 30 miligram dalam 100 gram markisa yang bisa menjaga daya tahan tubuh dan kadar potasium (kalium) sebesar 348 miligram dalam 100 gram markisa yang membantu menjaga keseimbangan elektrolit dan mencegah dehidrasi,” kata Fiastuti.

Dalam sirsak pun terdapat Vitamin B1 yang berperan dalam proses pembentukan energi serta 21 miligram magnesium yang membantu metabolisme energi dalam tubuh.

30 Juta Orang Harus Hidup Dengan HIV/AIDS Tahun 2013


Secara global, di tahun 2013, hampir sebanyak 30 juta orang hidup dengan HIV/AIDS, 1,8 juta baru terinfeksi dan 1,3 juta meninggal karena penyakit tersebut. Pada saat puncak epidemi berlangsung di tahun 2005, HIV/AIDS telah merenggut sebanyak 1,7 juta nyawa.

Insiden HIV/AIDS meningkat di tahun 1997 dengan tercatatnya sebanyak 2,8 pasien terinfeksi baru dan sejak itu terjadi penurunan sebesar 2,7% per tahun. Epidemi tetap terkonsentrasi di sub-Sahara Afrika. Prevalensi tertinggi ada di Botswana, Lesotho dan Swaziland (di atas 12.000 per 100.000 orang). Prevalensi HIV/AIDS di Botswana, contohnya, 15 kali lebih tinggi daripada Republik Demokrat Kongo (DRC) dan 40 kali lebih tinggi dari Nigeria.

Studi ini juga menampilkan perubahan yang substansial dalam hal pemahaman mengenai epidemi HIV/AIDS. “HIV, Malaria dan TBC, merupakan penyebab utama masalah kesehatan dan kematian di negara-negara miskin, dan ketiganya harus mendapat perhatian khusus dari semua dukungan dan upaya penanganan kesehatan secara global,” kata Alan Lopez, Melbourne Laurate Profesor di University of Melbourne yang juga bertindak sebagai co-founder dari Studi Global Burden of Disease (GBD) ini.

Menurut Alan. tanpa hal itu, semua orang akan menghadapi resiko terjadi stagnasi, bahkan lebih buruk lagi, akan terjadi perubahan dari hasil yang telah dicapai saat ini. Perbaikan yang dilakukan dalam metologi yang digunakan oleh IHME juga memperlihatkan, bahwa secara kumulatif, negara-negara yang telah teridentifikasi sebagai konsentrasi dari epidemic ini mencatat angka kematian 39% lebih rendah dan angka orang yang hidup dengan HIV/AIDS 53% lebih rendah.

Secara kontras, angka kematian di negara-negara yang telah terjangkiti epidemi secara luas meningkat sebesar 23%, dan populasi orang-orang yang terinfeksi HIV tercatat 3% lebih tinggi. Dibandingkan satu dekade lalu, tercatat lebih banyak orang Indonesia yang meninggal karena HIV/AIDS, namun demikian lebih sedikit orang Indonesia yang meninggal karena tuberkulosa dan malaria, demikian menurut data terbaru, yang ditunjukkan oleh satu tinjauan tren analisa data menggunakan metode yang hanya ada satu di dunia.

Kecepatan penurunan angka kematian karena malaria serta infeksi dari malaria terjadi sejak tahun 2000, ketika Millenium Development Goals (MDGs) dicanangkan di seluruh dunia dalam rangka menghentikan penyebaran penyakit-penyakit tersebut pada tahun 2015. Epidemi HIV/AIDS meluas di Indonesia mulai tahun 2000, tetapi angka kematian karena HIV/AIDS tercatat sepertiga lebih kecil dibandingkan angka rata-rata global, yaitu 5,7 kematian dari 100.000 orang di Indonesia, dibandingkan angka global yang tercatat sebesar 18,5.

Kemajuan dalam penanganan malaria memperlihatkan hasil yang menjanjikan, dengan angka penurunan per tahun sebesar 5,2% untuk kematian antara tahun 2000 dan 2013, dibandingkan dengan penurunan angka kematian global yang hanya mencatat 3,1%. Namun demikian, tuberkulosa (TB) masih memperlihatkan bahwa Indonesia masih tertinggal dibandingkan dengan angka rata-rata global. Diterbitkan dalam The Lancet pada 22 Juli, studi “Global, regional, and national incidence and mortality for HIV, tuberculosis, and malaria during 1990–2013: a systematic analysis for the Global Burden of Disease Study 2013,” dilakukan oleh sebuah konsorsium sejumlah peneliti internasional dipandu oleh the Institute for Health Metrics and Evaluation (IHME) di University of Washington.

Studi GBD 2013 menyampaikan pendekatan yang komprehensif dan konsisten untuk memperkirakan dampak dari HIV, TB dan Malaria di Indonesia sejak tahun 1990 hingga 2013.

Konsorsium menganalisa dan mengukur tiga hal yaitu insiden, prevalensi dan angka kematian selama periode tersebut. Penekanan khusus juga dilakukan dengan menggabungkan data-data baru, mengurai berbagai hal-hal yang meragukan secara lebih teliti, serta menghitung dan mempertimbangkan berbagai distorsi atau bias yang mungkin muncul dari berbagai sumber data.

“Studi terbaru yang bersifat massal ini, yang kami hadirkan di saat-saat usainya era MDGs, mendokumentasikan kemajuan yang sangat pesat dalam hal penanganan HIV dan Malaria, khususnya, tetapi juga memperlihatkan berbagai hal yang masih perlu kita lakukan,” ungkap Dr. Alan Lopez, Melbourne Laurate Profesor di University of Melbourne yang juga bertindak sebagai co-founder dari Studi Global Burden of Disease (GBD) ini.

“Ketiganya merupakan penyebab utama masalah kesehatan dan kematian di negara-negara miskin, dan ketiganya harus mendapat perhatian khusus dari semua dukungan dan upaya penanganan kesehatan secara global. Tanpa hal itu, kita semua akan menghadapi resiko terjadi stagnasi, bahkan lebih buruk lagi, akan terjadi perubahan dari hasil yang telah dicapai saat ini,”kata Alan.

Indonesia tidak memiliki dokumentasi mengenai HIV/AIDS hingga tahun 2000, dan epidemi ini telah tumbuh dengan cepat selama sepuluh tahun terakhir. Angka kematian karena HIV/AIDS di Indonesia meningkat sebesar 87,5% per tahun selama kurun waktu tersebut – angka pertumbuhan tertinggi di dunia. Tahun lalu, sebanyak 14.446 orang Indonesia – hampir 70% adalah pria – meninggal dunia karena HIV/AIDS. Antara tahun 2000 dan 2013, kasus-kasus baru meningkat setiap tahunnya sebesar 28,1%; tahun lalu saja, sejumlah 45.159 tercatat adanya kasus baru.

Namun demikian, angka kasus baru yang muncul dan angka kematian karena HIVAIDS di Indonesia masih rendah dibandingkan dengan angka rata-rata global.