Monthly Archives: Desember 2008

Chip Seks Sedang Dikembangkan Untuk Membuat Wanita Menjadi Aktif Dan Menyenangi Seks


“Chip seks” yang dapat merangsang gairah sedang dikembangkan oleh para ilmuwan.

Situs berita Telegraph melaporkan, chip itu akan ditanam di kepala dan elektroda-nya akan menghasilkan kejutan listrik sangat kecil.

Teknologi tersebut telah digunakan di Amerika Serikat untuk mengobati penyakit Parkinson.

Dalam beberapa bulan terakhir para ilmuwan berkonsentrasi pada kawasan otak di belakang mata yang disebut sebagai korteks  orbitofrontal. Daerah tersebut terkait dengan perasaan senang yang berasal dari makan dan seks.

Sebuah penelitian survei yang dilakukan oleh Morten Kringelbach dari jurusan psikiatri Universitas Oxford, menemukan bahwa korteks orbitofrontal kemungkinan dapat menjadi “sasaran stimulasi baru” untuk menolong penderita anhedonia atau ketidakmampuan merasakan kenikmatan dari kegiatan seperti makan dan seks.Temuan itu dilaporkan dalam jurnal  Nature Reviews Neuroscience.

Profesor bedah saraf, Tipu Aziz, mengemukakan : “terdapat bukti bahwa chip ini akan berfungsi. Beberapa tahun lalu ilmuwan menanam perangkat tersebut ke otak seorang perempuan yang tidak atraktif secara seksual dan dia berubah menjadi perempuan yang sangat aktif secara seksual. Dia tidak suka perubahan yang mendadak itu sehingga alat di kepalanya itu diangkat.”

Namun dia menambahkan bahwa teknologi saat ini, yang mengharuskan bedah untuk menghubungkan kabel dari alat pacu jantung ke otak, dapat menyebabkan pendarahan dan “intrusif serta kasar”.

Ia melanjutkan: “Bila teknologi ini telah semakin baik, kita dapat menggunakan stimulasi otak ini untuk berbagai area baru. Kerjanya semakin  halus dan bisa lebih dikendalikan sehingga bisa dimatikan atau dinyalakan saat dibutuhkan.

“Dalam 10 tahun mendatang akan tercipta berbagai terapi yang menakjubkan – setengahnya saja belum bisa kita bayangkan.”

Sebuah mesin elektronik, yang bernama Orgasmatron, nama yang diambil film Sleeper garapan Woody Allen 1973, sedang dikembangkan oleh seorang dokter di Carolina Utara.

Orgasmatron mengubah sebuah stimulator saraf tulang belakang untuk menghasilkan gairah pada diri perempuan.

Misteri Bintang Bethlehem dan Orang Majus Terlengkap


Banyaklah sisi yang muncul ketika umat Kristiani menyambut Natal. Selain sukacita, dengan puji-pujian melalui musik yang melahirkan rasa bahagia tetapi juga kudus, ada pula sisi yang senantiasa menggugah bagi pencinta alam, jagat perbintangan, atau sains. Ini adalah teka-teki tentang apa sebenarnya Bintang Bethlehem yang mengiringi Kelahiran Sang Juru Selamat seperti dikisahkan dalam Injil Mateus.

Sepanjang tahun Masehi, Bintang Bethlehem banyak menjadi bahan kajian dan penelitian, tidak saja astronomi, tetapi juga astrologi. Salah satu buku yang tergolong mendalam mengupas Bintang Bethlehem adalah The Star of Bethlehem: The Legacy of the Magi karya Dr Michael Molnar (Rutgers, 1999). Molnar adalah astronom dan pendidik yang mendapatkan PhD dari Universitas Wisconsin, Amerika Serikat, tahun 1971.

Tentang apa dan bagaimana persisnya ”bintang” yang dimaksud, program komputer modern, yang dapat divisualisasikan dalam planetarium bisa digunakan untuk menghadirkan kembali keadaan langit pada masa sekitar Yesus lahir.

Seperti digambarkan Molnar, setting waktu yang diduga kuat adalah 17 April tahun 6 sebelum Masehi, yakni dua tahun sebelum Raja Herodes meninggal. Saat itu Planet Jupiter muncul di langit timur sebagai bintang pagi di rasi Aries. Saat itu Matahari juga ada di Aries. Bulan juga sangat dekat dengan konjungsi dengan Jupiter. Planet Saturnus juga hadir, yang berarti bahwa ketiga penguasa Aries (Matahari, Jupiter, dan Saturnus) sedang singgah di Aries. Untuk era modern, situasi tersebut bisa disebut biasa (trivial). Namun, bagi pengamat bintang zaman dahulu, konfigurasi di atas sungguh mencekam (Molnar, situs eclipse.net).

Apakah Bintang Bethlehem adalah komet? Komet menurut keyakinan orang pada waktu itu dikaitkan dengan raja yang bertakhta akan wafat atau pratanda akan datangnya perang atau kekacauan, jadi dipercayai juga bukan obyek yang pas untuk satu kelahiran agung.

Lalu, apakah bintang itu sebuah supernova (bintang raksasa yang meledak)? Di sini pun Molnar mengatakan tidak ada bukti sejarah dari zaman dahulu bahwa supernova menandai kelahiran seorang raja. Seperti halnya komet, supernova merupakan ide zaman modern.

Lalu, apakah Bintang Bethlehem merupakan bintang keajaiban? Astronom besar, Johannes Kepler, mengira bintang itu adalah sebuah keajaiban disertai dengan fenomena alam, seperti konjungsi tripel, bahkan juga supernova yang ia amati tahun 1604. Namun, Molnar menyatakan, untuk menjelaskan Bintang Bethlehem tak perlu menghadirkan bintang ajaib.

Tentu saja akan ada penjelasan lebih lengkap jika ada catatan lebih rinci dari orang- orang Majus tentang Bintang Bethlehem. Mereka inilah orang yang dikenal sebagai orang bijak yang amat berpengetahuan. Majus (magus, jamaknya magi) asalnya dari kasta pendeta Zoroaster. Karena pandai, menguasai ilmu perbintangan dan ketabiban, cakap menyembuhkan orang sakit, menafsir mimpi, dan menyampaikan ramalan, mereka ini lalu dikenal sebagai orang yang punya keahlian magic—kata yang diturunkan dari nama mereka.

Seandainya ada teleskop

Seandainya ketiga orang Majus yang melihat Bintang Bethlehem saat itu sudah dilengkapi dengan teropong bintang (teleskop) pastilah deskripsi mereka akan lebih gamblang lagi. Namun, seperti kita tahu, teleskop baru muncul pada tahun 1608 atau enam abad setelah kelahiran Kristus.

Teleskop dalam perkembangannya lalu menjadi instrumen demikian vital bagi ilmu astronomi, bahkan sebetulnya tidak berlebihan untuk mengatakan bahwa astronomi modern lahir tahun 1608 ketika penemuan teleskop disampaikan kepada dunia. Untuk menandai 400 tahun teleskop yang digunakan untuk astronomi ini pula, Badan PBB untuk Pendidikan, Ilmu Pengetahuan dan Kebudayaan (UNESCO) menetapkan tahun 2009 sebagai Tahun Astronomi Internasional.

Memang peristiwa yang terjadi 400 tahun silam ini amat bersejarah. Teleskop dipatenkan di Belanda. Orang yang diakui sebagai penemu teleskop adalah Hans Lippershey. Teleskop saat itu dijelaskan sebagai alat ”untuk melihat benda-benda jauh sehingga tampak dekat”. Sebenarnya, selain Lippershey, ada juga orang lain yang mendaftarkan paten untuk alat serupa, yakni Sacharias Jansen dan Jacob Metius.

Pemanfaatan teleskop sendiri mendapatkan momentum setelah ilmuwan Italia, Galileo Galilei, mulai melaporkan temuan menghebohkan dengan bantuan teleskop tahun 1609. Pada November 1609, ia mengarahkannya ke langit malam.

Galileo, yang merupakan seorang pendukung Teori Heliosentrik Kopernikus, meneguhkan dukungannya setelah ia puas menikmati dengan teleskopnya kawah-kawah Bulan dan empat satelit/bulan utama planet Jupiter, yakni Io, Europa, Ganymede, dan Callisto—yang kini disebut sebagai bulan-bulan Galilean. Galileo yakin Kopernikus benar dan bahwa sistem benda langit saling mengelilingi satu sama lain dan Bumi mengelilingi Matahari, bukan sebaliknya. (Mengenai pengguna pertama teleskop untuk astronomi sebenarnya ada Thomas Harriot asal Inggris yang mengalahkan Galileo karena ia sudah beberapa bulan lebih dulu, tetapi ia tidak pernah menerbitkan penemuannya.)

Teleskop yang jejak awalnya bisa ditelusuri sejak abad ke-2 Masehi, yaitu ketika matematikawan dan astronom Claudius Ptolomeus menerbitkan Optics, yang menjelaskan fenomena refraksi cahaya dari satu zat ke zat lain, terus mengalami perkembangan penting (Astronomy Now, 10/08). Perkembangan setelah teleskop Galileo antara lain lahirnya teleskop reflektor ciptaan Sir Isaac Newton (1666), lalu teleskop ciptaan rohaniwan Katolik dari Perancis, Laurent Cassegrain, yang dikenal hingga kini. Teleskop juga makin bertambah besar, dipelopori oleh teleskop William Herschel (1789).

Abad ke-20 pun menyaksikan munculnya teleskop penting untuk menyelidiki bintang-bintang jauh dan galaksi, seperti yang ada di Gunung Wilson dan Gunung Palomar di AS. Selain untuk panjang gelombang visual, astronom juga membuat teleskop radio, juga teleskop untuk menangkap gelombang inframerah.

Tak puas dengan teleskop yang berbasis di Bumi karena banyaknya gangguan atmosferik, astronom pun meluncurkan teleskop Hubble (1990) untuk dipangkalkan di ruang angkasa. Dengan teleskop angkasa ini, pandangan pun lalu menjangkau tepian alam semesta pada jarak sekitar 12 miliar tahun cahaya. (Satu tahun cahaya = 9.500.000.000.000 kilometer).

Teleskop memang ditemukan enam abad setelah dilaporkannya Bintang Bethlehem sehingga orang Majus belum berkesempatan menggunakannya untuk melihat lebih jelas bintang terang di Timur. Namun jelas, laporan ketiga orang Majus, selain bermakna religius, juga secara ilmiah menghidupkan minat penyelidikan alam

1.415 Spesies Binatang Ancam Kesehatan Manusia


Dalam konteks organisme sebagai agen penyakit, diidentifikasi ada 1.415 spesies yang mampu menular ke manusia, terdiri atas 217 virus dan prion, 538 bakteri dan rickettsia, 307 jamur, 66 protozoa, serta 287 jenis cacing.

Dari 1.415 spesies itu, sebanyak 868 diklasifikasikan sebagai agen penyebab zoonosis dan 175 spesies patogen diasosiasikan dengan penyakit baru. Dari kelompok 175 patogen yang baru muncul ini, 132 adalah agen penyebab zoonosis.

Demikian terungkap dalam seminar ”Konsep One Health dalam Rangka Penanggulangan Penyakit Zoonosis” yang diselenggarakan untuk memperingati HUT Ke-3 Center for Indonesian Veterinary Analytical Studies (CIVAS) di Bogor, Sabtu (20/12).

Tri Satya Putri Naipospos, Ketua Badan Pengurus CIVAS, dalam makalahnya menyampaikan, zoonosis yang muncul pada dekade ini telah menciptakan suatu lensa kaleidoskop baru di dalam kita memandang dunia ini. Kemunculan penyakit-penyakit baru diprediksi bukan hanya akan terus berlanjut, melainkan juga kemungkinan meningkat.

Pengertian zoonosis adalah penyakit yang dapat ditularkan secara alamiah antara manusia dan hewan domestik atau satwa liar. Sebenarnya, dalam pengertian tersebut terkandung beberapa perbedaan sesuai dengan gambaran epidemiologi penyakit.

Bagus Purmajaya dari Direktorat Kesehatan Hewan Direktorat Jenderal Peternakan Departemen Pertanian mengatakan, dari aspek kesehatan masyarakat, deteksi dini wabah penyakit hewan dengan mengetahui potensi zoonotik dapat dilakukan dengan menggunakan tolok ukur angka morbiditas dan mortalitas. Deteksi dini penting dalam pengendalian penyakit, termasuk zoonosis.

Dalam kesempatan itu, Bagus mengatakan, untuk mencegah makin merebaknya wabah rabies di Bali, Dinas Peternakan Bali telah melakukan vaksinasi massal selama dua hari, Sabtu dan Minggu. Ini dilakukan agar rabies sedapat mungkin dicegah dan tidak makin meluas

Menjadi Makin Bahagia Dengan Makin Sedikit Seks


Sebuah survai di Amerika Serikat yang menjaring 1.000 responden berusia 55 sampai 75 tahun menunjukkan bahwa masa pensiun membuat banyak keluarga di AS menjadi lebih bahagia, stres jauh lebih berkurang, tetapi kehidupan seksual makin menurun.

Jajak pendapat yang diadakan AARP The Magazine dan kemudian dikutip msnbc.com memperlihatkan, 96 persen responden mengaku kehidupan mereka kokoh harmonis bahkan lebih kuat dari sebelumnya.

“Itu hampir 100 persen lho. Saya kira itu adalah salah satu statistik paling mengejutkan yang pernah saya saksikan, terutama karena di situ terlihat orang-orang di usia pensiun menjadi makin bijaksana untuk saling memahami kelemahan masing-masing,” ungkap Nancy Perry Graham, editor AARP The Magazine.

Yang lebih mengejutkan adalah 74 persen responden mengaku hidupnya menjadi lebih bahagia justru ketika mereka pensiun, ketimbang semasa mereka masih bekerja.

“Mayoritas luas mengaku lebih bahagia dan mayoritas lainnya menyebut hubungan mereka semakin kuat sehingga semuanya sangat positif.  Ini kabar besar untuk banyak orang dalam melihat hidupnya ke depan, mengingat hidup orang-orang makin panjang.  Kami tidak sedang membicarakan tahun-tahun selama pensiun, melainkan dekade-dekade semasa pensiun,” sambung Nancy.

Survai yang membidik pasangan-pasangan nikah yang baik salah seorang maupun keduanya sudah pensiun ini menujukkan bahwa pasangan-pasangan bahagia ini menjadi lebih suka melancong, makan di luar, berolahraga, berbakti sosial, menggeluti hobi dan makin kerap berselancar di internet.

Kegiatan hidup sehari-hari lainnya yang meningkat di masa pensiun adalah merawat rumah, menonton televisi dan tidur.

Seks berkurang

Namun, di balik statistik-statistik naik itu, ada juga kecenderungan menurun, yaitu hubungan seks di mana 22 persen responden mengaku kehidupan seksual berkurang di masa pensiun.

Tetapi, para ahli kesehatan seperti Sallie Foley, Direktur Pusat Kesehatan Seksual pada Universitas Michigan, menyebutkan penurunan itu tidak mengejutkan karena aktivitas seksual memang bakal menurun di usia tua karena berbagai alasan khusus.

“Benar lho, orang banyak yang salah sangka mengenai penuaan ini dan salah satu kekeliruaan itu adalah pendapat yang mengatakan semakin tua orang menjadi semakin tidak menyukai seks.  (Padahal) orang tetap menyukai seks, kecuali mereka menghadapi dua faktor yaitu kesehatan dan depresi,” kata  Sallie.

“Itu yang membuat kita mesti bertanya, apakah bekerja bisa menghindarkan depresi?” tambah Sallie.

Untuk itu, Sallie menyarakan tiga langkah bagi mereka yang kehidupan seksualnya menurun, yaitu jangan menunda pekerjaan, berolahraga, dan berkomunikasilah selalu di ranjang meskipun tidak harus selalu dengan berhubungan seks.

Kembali ke hasil survai, lebih dari tigaperempat responden menyatakan romantisme hubungan mereka sekokoh sebelum pensiun, sementara 12 persen mengaku menjadi lebih romantis, dan 30 persen menjadi makin akur, tidak gampang bertengkar.

“Orang semakin menyelami kelemahan dan kekuatan masing-masing.  Mereka seperti berpacaran kembali, menikmati kebersamaan mereka, mengerjakan banyak hal bersama-sama, seperti melancong atau makan di luar bersama,” kata Nancy.

21 persen responden mengaku sering bertengkar selama masa pernikahannya, kemudian naik menjadi 27 persen ketika mereka mulai mempertanyakan masa depan keluarga mereka.

Survai itu juga menunjukkan wanita menjadi kelompok yang paling hirau dengan masa depan keluarganya di mana 24 persen wanita ingin masa kerja yang lebih panjang karena mereka takut kekurangan uang, kehilangan pekerjaan, menguapnya tunjangan kesehatan, atau merasa bosan dan frustrasi ada di rumah terus

Kasus Gagal Ginjal Di Indonesia Sangat Tinggi


Kasus gagal ginjal di Indonesia setiap tahunnya masih terbilang tinggi, pasalnya masih banyak masyarakat Indonesia tidak menjaga pola makannya dan kesehatan tubuhnya.

“Meski belum dilakukan survei secara nasional, tetapi berdasarkan perbandingan data dengan negara lain kasus gagal ginjal di Indonesia tinggi. Di negara Amerika Serikat saja perbandingannya untuk klasifikasi orang dewasa dari sebanyak sepuluh orang satu diantaranya terkena gagal ginjal,” kata Konsultan Ginjal dan Hipertensi, Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga, (Unair) Surabaya dan RSU Dr Sutomo, Dr Djoko Santoso Sp PD-KGH, PhD pada Seminar Kesehatan di Kota Sukabumi, Kamis.

Menurut dia, kondisi di Indonesia akan lebih banyak, apalagi banyak orang Indonesia yang tidak bisa menjaga pola makan dan menjaga kesehatannya.

Ia mengatakan, tingginya kasus gagal ginjal berpotensi pada tingginya kasus kematian, pasalnya dalam satu tahun cuci darah saja hanya terdapat 70 pasien yang masih bertahan dari total seratus penderita yang berobat ke satu dokter.

“Penyebab kematian biasanya karena gagal ginjalnya tidak dapat ditanggulangi dan ditambah dengan serangan jantung, stroke dan sesak napas,” jelas Djoko.

Djoko menyebutkan, penanganan terhadap pasien gagal ginjal saat ini terkendala dengan tingginya biaya pengobatan, karena biaya pengobtan bagi penderita gagal ginjal mencapai Rp3 juta/bulan. Ini menjadi dilema tersendiri bagi petugas kesehatan dan pemerintah dan keluarga pasien untuk membantu biaya pengobatan,” ujarnya.

Selain itu, masih sedikitnya ahli penyakit gagal ginjal menjadi tantangan dalam menangani pasien gagal ginjal di Indonesia, karena saat ini dokter spesialis ahli gagal ginjal baru mencapai di bawah 80 orang.

“Ironisnya, kebanyakan dokter tersebut hanya tersebar di kota-kota besar saja yang terdapat Fakultas Kedokterannya. Jika tidak ada FK nya, maka tidak ada ahli gagal ginjalnya sehingga harus dirujuk ke rumah sakit daerah lain,” papar Djoko seraya mengatakan kebanyakan penderita gagal ginjal berasal dari golongan ekonomi lemah.

Ia menambahkan untuk mengantisipasi meningkatnya penderita gagal ginjal perlu adanya sosialisasi pencegahan gagal ginjal, karena ini merupakan pilihan terbaik dibandingkan harus mengeluarkan biaya yang rekatif besar untuk mengobati penyakit gagal ginjal.

“Sosialisasi ini tidak hanya dari tim medis saja, tapi pemerintah juga ikut berperan dalam menanggulangi penyakit gagal ginjal,” katanya

Tindakan Preventif Diperlukan Untuk Atasi Perkembangbiakan Rayap


Seorang peneliti dari Fakultas Kehutanan Universitas Tanjungpura Pontianak, Kalimantan Barat, Dr Farah Diba, mengingatkan masyarakat daerah tersebut untuk melakukan tindakan preventif dalam mengatasi perkembangbiakan dan serangan rayap saat musim hujan.

“Pontianak merupakan daerah yang rawan. Memiliki tanah yang cocok untuk perkembangbiakan rayap,” kata Peneliti Rayap dari Fakultas Kehutanan Untan, Farah Diba, di Pontianak, Kamis.

Berkaitan itu, dosen Fakultas Kehutanan tersebut mengingatkan agar masyarakat melakukan tindakan pencegahan terhadap serangan hewan itu. Tindakan preventif semisal inspeksi ke tempat menyimpanan buku-buku atau rak dan lemari pakaian, dan lain-lain, perlu dilakukan.

Liang atau jalan masuk rayap yang biasa terbuat dari tumpukan tanah kering di tiang bangunan atau dinding rumah, mesti dibersihkan. “Pembersihan sebaiknya dilakukan dua kali dalam sepekan,” katanya.

Menurut dosen yang menyelesaikan studi doktoral mengenai Aspek Fisiologi Rayap, pemanfaatan sekresi pertahanan diri rayap untuk antimikroba di IPB itu, tindakan yang dapat dilakukan, pencegahan secara manual dengan membongkar jalan masuk atau koloni yang dibangun rayap. Upaya lainnya dengan memberikan cairan pembasmi yang tersedia di toko bangunan dan bahan kimia.

Ia mengatakan, perkembangbiakan rayap meningkat pesat saat musim hujan antara bulan September – Desember ini. Rayap tanah yang banyak terdapat di Kalbar, saat musim hujan akan naik ke permukaan, naik ke bangunan dan menempati bagian rumah atau bangunan yang tersembunyi dan berkembangbiak.

Selama musim hujan pula, rayap akan membentuk koloni baru, mencari pasangan untuk berkembangbiak. “Laron yang banyak bermunculan saat musim hujan, merupakan rayap dewasa dari jantan dan betina yang sedang mencari pasangan,” katanya.

Rayap memiliki keunikan sebagai serangga kecil, lemah dan buta, tetapi karena hidup dalam koloni (satu kelompok yang solid dan kompak), anggota koloninya bisa berjumlah satu juta ekor yang berasal dari satu ekor rayap betina (ratu) dan satu ekor rayap jantan (raja). Koloni tersebut saling tolong menolong, maka dapat melumpuhkan bangunan.

Wilayah Kalbar, menurut ia, merupakan daerah yang cocok bagi tumbuh dan kembangnya rayap tanah yang disebut Coptotermes. Ini merupakan salah satu rayap yang cukup “ganas” dengan kemampuan merusak yang tinggi. Selain jenis itu, terdapat pula rayap Schedorhinotermes yang juga banyak merusak bangunan

Kodok Adalah Binatang Paling Rentan Terhadap Perubahan Cuaca dan Akan Punah Paling Awal


Kodok adalah kelompok binatang yang sangat peka terhadap perubahan lingkungan, seperti polusi air, perusakan hutan, ataupun perubahan iklim. Karena kepekaan mereka, amfibi dapat dijadikan indikator perubahan lingkungan.

Perubahan lingkungan yang dampaknya sangat nyata terhadap kodok jelas terlihat pada turunnya populasi disertai turunnya keragaman jenis. Pada saat ini ada lebih dari 6.000 jenis amfibi di dunia.

Dari 6.000 jenis, 5.915 telah ditelaah statusnya oleh IUCN (International Union for Conservation and Natural Resources). Hasilnya, 1.893 dalam status terancam dan menuju kepunahan. Ancaman utama yang dihadapi kodok saat ini adalah hilangnya habitat (tempat hidup yang sesuai), polusi, pemanfaatan, dan penyakit.

Berawal dari kekhawatiran para ahli kodok di dunia yang tergabung dalam Amphibian Specialist Group—lembaga swadaya masyarakat di bawah naungan IUCN—disepakati tahun 2008 sebagai Tahun Kodok (Year of Frogs). Tujuannya agar kelompok binatang kodok menjadi pusat perhatian dunia, ditambah dengan isu pemanasan global yang mengakibatkan kehidupan mereka semakin rentan.

Diharapkan, dengan ditetapkan sebagai Tahun Kodok, tahun ini kelompok binatang kodok tidak lagi dipandang sebagai kelompok binatang tidak penting dan selalu berada pada posisi marjinal.

Kodok di Indonesia ada 351 jenis yang telah terdeskripsi dengan benar. Sekitar lebih dari 100 jenis dalam proses pendeskripsian menjadi jenis baru, terutama untuk jenis-jenis kodok yang berasal dari Papua.

Masalah utama di Indonesia adalah hilangnya habitat alami kodok, seperti penggundulan hutan hujan tropis, pencemaran air sungai, dan konversi lahan basah menjadi areal perkebunan. Jenis-jenis kodok asli hutan hidupnya sangat bergantung pada keberadaan hutan. Maka, rusaknya hutan akan berdampak negatif pada kelangsungan hidup jenis-jenis itu.

Kerusakan hutan hujan tropis paling besar di Indonesia terjadi di Pulau Jawa karena pulau ini berpenduduk paling banyak, sedangkan lahan yang digarap untuk menunjang kehidupan penduduknya semakin sempit. Karena itu, hutan-hutan yang tersisa di dalam kawasan lindung atau taman nasional mendapat tekanan sangat berat dari aktivitas manusia.

Kerusakan hutan tropis di Pulau Jawa berdampak sangat nyata pada status jenis-jenis kodok yang ada di dalamnya, terutama jenis-jenis endemik (tidak terdapat di pulau lain).

Saat ini diketahui terdapat dua jenis kodok endemik Jawa berstatus kritis (CR), yaitu kodok merah (Leptophryne cruentata)—hanya ada di hutan tropis dataran tinggi Jawa Barat; dan kodok pohon ungaran (Philautus jacobsoni)—hanya ada di hutan tropis Jawa Tengah.

Selain itu, ada empat jenis endemik lainnya yang berstatus rentan (VU), yaitu kongkang jeram (Huia masonii), kodok pohon mutiara (Nyctixalus margaritifer), kodok pohon kaki putik (Philautus pallidipes), dan kodok pohon jawa (Rhacophorus javanus).

Pemanfaatan

Ancaman lain yang sangat nyata berpengaruh pada status populasi kodok adalah dari segi pemanfaatan. Indonesia adalah negara pengekspor terbesar daging paha kodok. Mulai dari jenis penghuni sawah (Fejervarya spp) hingga penghuni perairan berarus deras (Limnonectes spp) yang umumnya berukuran besar (macrodon).

Selain itu, kodok juga sebagai komoditas ekspor bahan baku sarung tangan—dari jenis kodok berkulit kasar (Bufo spp) yang dagingnya mengandung racun. Aktivitas ekspor tersebut menghasilkan devisa negara.

Masalah yang dihadapi adalah pemanfaatan berlebihan sehingga tidak memikirkan apakah 10 tahun ke depan jenis-jenis kodok itu masih ada atau sudah habis di alam. Fenomena pemanfaatan kodok 10 tahun belakangan ini tidak berkelanjutan tanpa peduli pada pelestarian.

Ancaman dari polusi perairan juga jelas nyata berpengaruh pada penurunan populasi dan keanekaragaman jenis kodok. Hampir 80 persen jenis kodok di Indonesia tidak dapat toleransi terhadap polusi air berupa limbah rumah tangga dan logam berat. Mereka biasanya mati pada tingkat metamorfosa (perubahan bentuk) dari telur ke berudu, sedang jenis-jenis yang tahan umumnya akan mengalami cacat tangan atau kaki.

Organ jari tangan kodok yang dinamakan tonjolan ibu jari sangat berperan pada proses kawin kodok; jadi bila bentuknya tidak normal atau tidak tumbuh, maka sangat perpengaruh pada berlanjutnya keturunan jenis kodok. Akibatnya, berangsur-angsur jenis yang tahan terhadap polusi air juga punah.

Ancaman lain, yaitu penyakit disebabkan jamur dan virus. Jamur yang mematikan adalah dari kelompok Chytridiomycota; jamur yang menyerang berudu dan kodok dewasa adalah Batrachochytrium dendrobatidis. Kasus kematian massal kodok karena infeksi jamur banyak dijumpai di dataran tinggi Australia dan juga di Amerika Utara dan Selatan.

Selain itu, Ranavirus juga menyebabkan kematian massal pada kodok di tahap embrio dan berudu. Ranavirus adalah virus dari genus Ranavirus, famili Iridoviridae. Virus ini berukuran besar (diameter 120-300 nm). Kasus kematian massal berudu disebabkan Ranavirus terjadi di Amerika Utara, Eropa, dan Australia. Di Indonesia belum pernah ada penelitiannya.

Menghadapi kondisi seperti itu, masyarakat ilmuwan biologi lingkungan harus berbuat sesuatu untuk mempertahankan kodok jenis-jenis asli Indonesia untuk tidak punah, terutama jenis-jenis yang endemik.

Langkah awal yang diambil Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) adalah dengan menyadartahukan (memberikan awareness) masyarakat sebelum terlambat bahwa dunia kodok di dunia dan Indonesia, khususnya, sedang berada dalam bayang-bayang kepunahan yang pasti.

Usaha penyadartahuan akan berdampak positif bila dimulai dari sekarang pada siswa-siswa sekolah menengah dan mahasiswa. Mereka harus paham betul manfaat dari kekayaan jenis kodok yang terdapat di Indonesia.

Melalui kegiatan pelatihan pengenalan jenis, ekologi, dan perikehidupan kodok dan mengetahui betapa banyak spesimen dari berbagai jenis kodok di Indonesia yang tersimpan di Museum Zoologi Bogor, diharapkan dapat mengubah cara pikir mereka bahwa kodok adalah kelompok binatang yang harus disayangi dengan cara menjaga lingkungan tempat hidupnya.

HELLEN KURNIATI Bidang Zoologi, Puslit Biologi-LIPI