Monthly Archives: Februari 2010

Program Bayi Tabung Kini Hadir Di Rumah Sakit Universitas Hasanhudin


Rumah Sakit Universitas Hasanuddin (Unhas) yang akan diresmikan Menteri Pendidikan Nasional M Nuh, Senin (15/2) hari ini memiliki keunggulan di banding beberapa rumah sakit pendidikan lainnya. Di antaranya adalah pelayanan Fertility Endocrine Reproductive Centre atau bayi tabung.

Hasanuddin University Hospital (HUH) ini, menurut Rektor Unhas Prof Idrus A Paturusi di Makassar, merupakan program pendidikan nasional dalam upaya meningkatkan kemampuan teknologi kedokteran dalam menyelesaikan berbagai kasus kesehatan yang sulit melalui pengembangan penelitian dan pelayanan medik.

“Rumah sakit ini akan bersinergi dengan RSUP dr Wahidin Sudirohusodo (RSWS) dalam menyajikan pelayanan kesehatan,” kata Rektor.

Menurut Rektor, HUH lebih berkonsentrasi pada diagnostic centre dan hightech treatment melalui pemanfaatan teknologi dan alat kedokteran yang canggih serta sebagai pusat pelatihan bagi mahasiswa yang sedang belajar di perguruan tinggi atau pun tenaga praktisi rumah sakit yang hendak menambah keterampilan dan pengetahuan guna meningkatkan kualtas pelayanan kesehatan.

Dekan Fakultas Kedokteran Unhas, Prof Irawan Yusuf mengatakan, HUH akan menerima rujukan dari berbagai rumah sakit lain guna menangani berbagai masalah kesehatan yang tidak mampu ditangani di rumah sakit lain yang merujuk.

Pelayanan kesehatan yang tersedia di HUH antara lain deteksi dini penyakit melalui penggunaan teknologi canggih (hi-tech) seperti penggunaan biomolekuler serta pengembangan teknologi moderen dan pengembangan pusat-pusat layanan yang tidak dikembangkan di RSWS.

Misalnya, lanjutnya, bayi tabung, pusat kanker, termasuk radioterapi, immunoterapi, terapi gen, dan sebagainya, juga trauma centre, neurointervention centre (termasuk deteksi dini kelainan otak, pemasangan stent, penggunaan gamma knife, stem cells serta “one day care”.

Sebagai rumah sakit pendidikan, HUH lebih terfokus pada penelitian untuk kemajuan ilmu kedokteran, pendidikan kedokteran, dan pelayanan masalah-masalah kesehatan yang advanced.

Untuk itu, HUH tidak akan membuka pelayanan poliklinik, namun tetap menyediakan unit gawat darurat untuk menerima pasien-pasien yang mengalami masalah kesehatan kegawatdaruratan akibat kecelakaan (trauma).

Kadal Raksasa Filipina Yang Memiliki Dua Penis Ternyata Spesies Baru


Reptil yang masuk dalam keluarga besar kadal dengan panjang badan sekitar 2 meter ditemukan di Filipina. BBC News, Rabu (7/4/2010), menyebutkan, reptil raksasa dengan kulit berwarna kuning, biru, dan hijau terang itu ditemukan di kawasan hutan pegunungan Sierra Madre, Filipina. Dari hasil pengamatan, reptil raksasa yang kemudian diberi nama Varanus bitatawa itu hanya memakan buah-buahan.”Binatang ini luar biasa. Sayangnya, sekarang ia lepas dari pantauan kami,” kata Rafe Brown, salah seorang ilmuwan yang mendeskripsikan reptil raksasa spesies baru itu di jurnal Biology Letters. Penemuan reptil raksasa ini sama pentingnya dengan penemuan dua spesies raksasa yang disebut “megafauna” beberapa tahun lalu, yakni Rungwecebus kipunji (jenis monyet baru yang ditemukan di Afrika) dan Saola (Pseudoryx nghetinhensis) dari Vietnam.

Kadal raksasa itu sebenarnya sudah dikenal lama oleh warga suku Agta dan Ilongot yang tinggal di pedalaman hutan sebelah utara Pulau Luzon. Bahkan, biasanya masyarakat kedua suku itu memburu kadal raksasa itu untuk diambil dagingnya, sumber protein yang utama. Keberadaan kadal raksasa itu kemudian diketahui tim ilmuwan pimpinan Brown yang terdiri atas para ilmuwan dari Amerika Serikat, Filipina, dan Belanda.

Sebelumnya, tim ini sudah menganalisis sejumlah spesies kadal raksasa yang disimpan di museum AS dan Filipina. Panjang tubuh kadal raksasa itu diperkirakan mencapai 2 meter, ekornya saja sepanjang 1 meter. Warna kakinya didominasi kuning serta ekornya garis-garis hitam dan kuning.

Karena hanya memakan buah-buahan, berarti kadal raksasa spesies baru itu termasuk satu dari tiga spesies kadal pemakan buah yang ada di dunia. Sampai saat ini kadal raksasa spesies baru ini menghilang dan belum ditemukan lagi. Para peneliti menduga, barangkali kadal raksasa spesies baru ini kerap bersembunyi di bagian paling dalam hutan. Namun, satu hal yang pasti, kadal raksasa ini tidak pernah meninggalkan hutan ataupun berpindah ke daerah terbuka.

Sejauh ini para ilmuwan biologi memperkirakan, kadal raksasa spesies baru itu paling tidak tinggal sekitar 150 kilometer dari “saudara terdekatnya”, yakni kadal yang dikenal dengan Varanus olivaceus, yang juga hidup di hutan dan hanya memakan buah-buahan

Klinik Kesuburan Bayar Mahal untuk Sel Telur Manusia Unggulan


Klinik kesuburan bersedia membayar mahal untuk sel telur dari donor lulusan universitas terkenal, apalagi kalau berpenampilan menarik dan dari suku etnis tertentu. Penelitian menunjukkan bahwa harga yang dipatok sering kali jauh lebih tinggi dari batasan yang telah ditetapkan.

Dilansir bahwa pasutri yang memiliki kesulitan berketurunan ada yang bersedia membayar 50.000 dolar AS atau sekitar Rp 450 juta untuk sel telur yang diharapkan bisa memberikan keturunan yang pintar dan berpenampilan menarik.

Sejarahnya, bayi tabung pertama dilahirkan pada 1983. Metode ini dilakukan dengan memasukkan sel telur dari donor yang telah dibuahi ke dalam tubuh wanita yang ingin hamil. Praktik ini umumnya dilakukan oleh para wanita yang mengalami kegagalan ovarium, wanita di atas 40 tahun yang ingin punya anak, atau bahkan pasangan homoseksual yang ingin memiliki anak dengan bantuan seorang wanita sebagai ibu pengganti.

Menurut peraturan ASRM (Perkumpulan Kesehatan Reproduksi AS), bayaran untuk donor sel telur yang direkomendasikan adalah sekitar 5.000 dollar AS, yaitu sekitar Rp 45 juta, dan bayaran ini boleh saja lebih kalau ada pertimbangan tertentu, tapi sebaiknya tidak lebih dari 10.000 dollar AS atau Rp 90 juta.

Akan tetapi, pengamatan pada 100 iklan yang mencari donor sel telur di AS, setengah dari jumlah tersebut menawarkan lebih dari 5.000 dollar AS dan sekitar seperempatnya menawarkan lebih dari batasan 10.000 dollar AS itu.

Peraturan ASRM itu juga sebenarnya melarang adanya diskriminasi harga berdasarkan karakteristik pribadi atau etnisitas sang donor. Namun, penelitian itu menunjukkan bahwa nilai ujian SAT (ujian standar di AS untuk pendaftaran universitas) turut menentukan harga sel telur dan iklan-iklan.

“Pengomoditasan menjadi masalah ketika nilai moneter diberikan pada sel telur manusia, terutama apabila harga yang lebih tinggi diberikan untuk sel telur dari donor dengan ciri pribadi tertentu,” tulis Aaron D Levine, profesor kebijakan publik dari Institut Teknologi Georgia, dalam karya tulisnya yang berjudul The Hastings Center Report (“Laporan dari Pusat Hastings”).

Penelitiannya menunjukkan bahwa kebanyakan iklan untuk donor jelas-jelas menyatakan syarat penampilan atau etnisitas bagi para donor. Ia menyatakan bahwa kesulitan mendisiplinkan hal ini adalah karena tak adanya ancaman pidana yang berarti bagi pihak yang mengabaikan peraturan ini.

Dikhawatirkan bahwa harga yang terlalu tinggi bisa membutakan para wanita pendonor terhadap risiko-risiko menyumbang sel telur, contohnya adalah eksploitasi wanita.

Polemik masih bergulir tentang isu pengomoditasan ini. John A Robinson, profesor ilmu hukum dari Universitas Texas, mengomentari penelitian Levine dan menyatakan, “ASRM tak pernah menyatakan apa salahnya apabila membayar lebih untuk para donor yang lebih sehat, lebih subur, IQ-nya lebih tinggi, atau memiliki ciri penampilan tertentu yang lebih menarik.”

Jika tak dikompensasi dengan cukup, bisa jadi sulit sekali mencari wanita donor sel telur. Robinson juga berargumen bahwa umumnya kita pun dalam mencari pasangan hidup memiliki standar-standar tertentu untuk penampilan, maka apa salahnya apabila klinik kesuburan juga memasang standar.