Monthly Archives: November 2008

Fosil Gajah Purba Ditemukan Di Bogor


Fosil yang diduga tulang-belulang gajah purba yang ditemukan warga di Kecamatan Klapanunggal, Kabupaten Bogor, ditinjau oleh tim dari Direktorat Peninggalan Purbakala Departemen Kebudayaan dan Pariwisata (Depbudpar), Kamis sore.

“Tim sebanyak empat orang mendatangi kantor Kecamatan Klapanunggal, Kamis sore, tempat disimpannya tulang belulang gajah purba yang ditemukan warga setempat,” kata Kapolsek Kepalanuggal, AKP Ilot Juanda ketika dihubungi ANTARA News, Kamis malam.

Dikatakannya, tim tersebut meninjau dan mendata temuan fosil tulang-belulang hewan purba yang tersimpan di kantor Kecamatan Klapanunggal, selama sekitar satu jam.

Setelah mendata, kata dia, tim tersebut pulang ke Jakarta tanpa membawa fosil tersebut, yang sampai saat ini masih tersimpan di kantor Kecamatan Klapanunggal.

Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Bogor, Jabar, Muhammad Ridwan mengatakan, temuan fosil hewan purba tersebut akan diteliti oleh tim dari Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3) Serang.

“Kami sudah menghubunginya dan mendapat jawaban tim BP3 Serang akan datang ke Klapanunggual Senin, 1 Desember,” kata Ridwan.

Menurut dia, jika temuan warga tersebut benar fosil hewan purba yang memiliki nilai sejarah dan daya tarik, maka akan disimpan di museum. Namun, Ridwan tidak menyebutkan museum apa dan dimana.

Informasi yang dihimpun ANTARA News, fosil yang diduga tulang-belulang gajah purba ditemukan warga setempat di Kali Leuwijurig, di Desa Bantarjati, Kecamatan Klapanunggal, Kabupaten Bogor.

Penemuan fosil bermula ketika, tiga orang penambang batu pasir, yakni Enti bin Hamid, Satam bin Ining, dan Mardi bin Aban, yang sedang mencari pasir batu di dasar kali Leuwijurig, Sabtu (22/11).

Ketika menggali dasar kali ada bagian yang berwarna hitam pekat dan cukup keras seperti cadas. Ketika bagian tersebut digali, tak lama kemudian ditemukan tulang berwarna kehitaman. Tulang tersebut disimpan di rumah si penambang.

Esoknya, Minggu (23/11), penambang tersebut menemukan lagi tulang berupa rahang berukuran cukup besar dan berwarna kehitaman, di lokasi yang sama.

Merasa menemukan tulang-tulang yang aneh, Enti menceritakan penemuan tersebut kepada kakaknya, Sa`ad, dan melaporkannya ke kantor kecamatan Klapanunggal.

Camat Klapanunggal, Wawan M Sidik kemudian meminta, agar warga menyerahkan penemuan tersebut untuk disimpan di kantor kecamatan.

Camat Klapanunggal kemudian melaporkan temuan tersebut ke bidang kebudayaan Disparbud Pemkab Bogor

Daftar Kodok Indonesia Yang Terancam Punah


Kodok masih dengan mudah kita temui di berbagai tempat di sekitar kita. Namun siapa sangka jika beberapa jenis hewan ampibi ini mulai langka di alam bebas, termasuk populasinya di Indonesia.

Menurut peneliti kodok dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Hellen Kurniati, ancamana utama yang dihadapi kodok adalah hilangnya habitat, polusi lingkungan, pemanfaatan dan penyakit yang diakibatkan oleh jamur dan virus.

“Kerusakan hutan di Pulau Jawa juga berdampak pada status jenis kodok yang terdapat di dalamnya, terutama jenis-jenis yang endemik, yang tidak terdapat di pulau lain,” ujarnya dalam siaran pers yang diterima Kompas.com, di Jakarta, Selasa (25/11).

Dari data yang diperoleh Hellen, dari 5.915 jenis kodok yang sudah ditelaah statusnya oleh International Union for Conservation and Natural Resources (IUCN), sebanyak 1.893 jenis di antaranya berada dalam status terancam dan menuju kepunahan. “Di Indonesia terdapat sekitar 351 jenis kodok, dan lebih dari 100 jenis lainnya belum dideskripsikan, terutama jenis kodok dari Papua,” lanjutnya.

Hellen menambahkan, ada dua jenis kodok endemik Jawa berstatus kritis (CR), yaitu Kodok Merah (Leptophryne Cruentata) dan Kodok Pohon Ungaran (Philautus Jacobsoni). “Kodok Merah hanya terdapat di hutan tropis dataran tinggi di Jawa Barat, sedangkan Kodok Pohon Ungaran hanya terdapat di hutan tropis Jawa Tengah,” jelasnya.

Selain dua jenis yang berada di status kritis tersebut, masih ada empat jenis kodok endemik lainnya yang berstatus rentan, di antaranya, Kongkang Jeram (Hula Masoni), Kodok Pohon Mutiara (Nyctixalus Margaritifer), Kodok Pohon Kaki Putik (Philautus Pallidipes), dan Kodok Pohon Jawa (Rhacophorus Javanus).

Kodok Unggaran Telah Punah dan Tidak Seorangpun Memiliki Spesimen Atau Fotonya Sejak Tahun 1930


Meski belum termasuk dalam daftar sebagai hewan yang telah punah, kodok ungaran (Philautus jacobsoni) hampir tidak dapat ditemukan lagi saat ini. Hal tersebut dikatakan Hellen Kurniati, peneliti kodok dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI).

“Bahkan sampel spesimennya juga kita tidak punya,” katanya di sela-sela training pengenalan amfibi di Museum Zoologicum Bogoriense, Cibinong, Bogor, Rabu (26/11). Satu-satunya sampel diambil tahun 1930-an dan disimpan di Museum Leiden, Belanda.

Bagaimana warna asli tubuh kodok tersebut pun Hellen mengaku tidak pernah melihatnya karena warnanya pudar setelah diawetkan. Sejak lebih dari tujuh dekade belum pernah ada yang melaporkan pernah melihat atau menemukannya kembali.

Kodok Ungaran merupakan spesies endemik yang dulunya hanya tinggal di dataran tinggi kawasan hutan Gunung Ungaran, Semarang, Jawa Tengah. Ukuran tubuhnya termasuk kecil dan arboreal atau hidup di lubang-lubang pohon.

Menurut Hellen penyebab utama menghilangnya kodok Ungaran adalah perubahan habitat besar-besaran. Hutan alam yang asri sudah tak dapat ditemui di Gunung Ungaran dan kondisinya berbeda sekali dibandingkan puluhan tahun lalu.

Meski demikian untuk menyebutnya punah belum dapat dilakukan. Statusnya dalam daftar merah International Unionm for Conservatioj of Nature (IUCN) masih CR (critically endangered). Apalagi sampai saat ini belum pernah dilakukan survei secara menyeluruh untuk memastikan tak ada lagi spesies tersebut di sana.

Belum ada rencana dari LIPI untuk menggelar ekspedisi pencarian kodok Ungaran karena terbentur biaya dan tingkat urgensinya. Nah, apakah perburuan kodok Ungaran akan kembali kecolongan lagi oleh peneliti luar negeri?

Mari Belajar Dari Semut Agar Tidak Macet Saat Berkendaraan


Pernahkah Anda terpesona oleh kemampuan semut naik-turun merayapi jalan sempit tanpa pernah baku tabrak?.

Tim ilmuwan dari Jerman mencari tahu bagaimana semut-semut itu bisa menghindari bertabrakan, dengan maksud agar lalu lintas gaya semut itu bisa diterapkan untuk lalu lintas jalan raya.

Para ilmuwan itu membangun “rumah semut” istimewa yang dilengkapi dengan jalan, jembatan dan berbagai bentuk kota semut, kemudian melakukan pengamatan sistem lalu lintas serangga tersebut untuk dimasukkan dalam komputer.

Dirk Helbing bersama tim dari Institut Teknologi Dresden itu merancang jalan bebas hambatan dengan dua arah dari sarang semut menuju ke kolam sirup gula, demikian menurut laporan yang sudah disiarkan oleh New Scientist.

Seperti yang sudah diduga, jalur sempit yang disiapkan dengan segera menjadi macet, namun apa yang membuat para ilmuwan itu terkesima adalah tepat sebelum jalur itu tersumbat, semut-semut yang keluar dan masuk saling menyilang untuk menciptakan jalur baru sehingga tidak terjadi kemacetan.

Para peneliti Jerman itu menerapkan hasil studinya dari serangga tersebut untuk menciptakan model pada komputer guna merancang jaringan jalan yang lebih rumit.

Mereka menemukan fakta bahwa semut-semut itu melakukan hal yang sama, yaitu semut yang akan masuk beralih untuk melewati jalur yang lebih sepi dan meskipun jalur tersebut lebih panjang, mereka tetap dapat mencapai ke pusat makanan dengan cepat dan praktis.

Cara itu sedang dipelajari untuk mengungkapkan bagaimana para semut tersebut menyebarkan informasi laporan lalu lintas antar mereka.

Menurut para ahli itu, jika mereka sudah bisa mengungkapkan misteri tersebut, mungkin manusia akan bisa melakukan tukar informasi ketika berlalu lintas dengan jalur jalan dua arah guna menghindari jalan macet, demikian DPA melaporkan

Fosil Makhluk Raksasa Setinggi 4 Meter Ditemukan di Tambak Pesisir Bekasi


Sejumlah tulang yang diperkirakan sebagai fosil binatang raksasa, ditemukan di tambak ikan di wilayah Muaragembong, Kabupaten Bekasi. Hingga Senin (24/11), warga masih menggali di sekitar lokasi penemuan awal karena menduga masih ada bagian tulang yang terpendam di tanah.

Heboh penemuan fosil tersebut berawal dari ditemukannya sepotong tulang yang sudah menghitam oleh Muasim (32), warga Kampung Cabangbungin, Desa Pantai Bhakti, Muaragembong, Selasa (18/11) lalu.

Saat itu Muasim tengah mengangkat lumpur di tambak ikan milik Sainan, tetangganya, yang luasnya sekitar tujuh hektar. Pengangkatan lumpur tersebut dilakukan untuk menjaga kedalaman tambak sekaligus untuk meninggikan pematang tambak.

Di tengah penggalian tersebut, Muasim menemukan sepotong tulang yang berwarna hitam dan diperkirakan telah lama terkubur di tempat itu. Muasim kembali menggali dan menemukan beberapa potong tulang lagi. Muasim lantas memberi tahu Rino Effendi, temannya, tentang tulang-tulang itu.

Kabar penemuan tulang menyebar di Kampung Bungin sehingga warga berduyun-duyun mendatangi tambak milik Sainan. Beberapa di antaranya bahkan segera terjun ke tambak dan menggali lumpur untuk menemukan potongan tulang yang lain.

Warga juga menyusun tulang-belulang tersebut yang salah satunya berupa tulang sepanjang lebih kurang empat meter. Warga menduga tulang-belulang tersebut milik binatang berkaki empat berukuran raksasa karena lebih besar daripada kerbau ataupun sapi.

Kemarin, petugas Polsek Muara Gembong telah mengamanan fosil yang ditemukan warga tersebut. Menurut Kapolsek Muara Gembong, AKP Lestariono, pihaknya akan berkoordinasi dengan Muspika Muara Gembong untuk menangani penemuan fosil tersebut.

“Kami menduga tulang itu adalah tulang binatang. Untuk memastikannya kami akan menanyakannya kepada arkeolog,” ujarnya, kemarin.

Wakil Bupati Bekasi, Darip Mulyana, mengatakan pihaknya akan membentuk tim investigasi untuk meneliti tulang raksasa di Muaragembong tersebut. Tim yang akan diturunkan itu melibatkan dinas terkait dan arkeolog.

“Kami akan membentuk tim untuk menelusuri penemuan fosil tersebut yang akan dikoordinasikan dengan pemerintah pusat,” ujarnya, Senin

Karbon Dioksida Ada di Planet Lain Sebesar Jupiter Dengan Kode HD 189733b


Karbon dioksida yang merupakan salah satu gas penting dalam siklus kehidupan terdeteksi keberadaannya di planet asing. Gas tersebut ditemukan di planet bernama HD 189733b yang berada 65 tahun cahaya dari Bumi (1 tahun cahaya setara dengan 9,5 triliun kilometer).

“Ini merupakan penemuan pertama karbon dioksida di atmosfer sebuah planet ekstrasolar,” ujar Alan Boss, seorang pakar formasi planet dari Carnegie Institute, Washington, AS yang melaporkannya dalam Astrophysical Journal terbaru. Di planet tersebut sebelumnya para astronom telah mendeteksi keberadaan uap air dan gas metan.

Artinya, ujar Boss, tinggal satu komponen lagi yaitu oksigen untuk memastikan ada kehidupan di sana. Selama ini, para ilmuwan yakin bahwa suatu lokasi dapat mendukung kehidupan jika minimal menyediakan empat komponen tersebut.

Meski demikian, kemungkinan planet asing tersebut dihuni makhluk hidup kelihatannya kecil. Sebab, HD 189733b merupakan jenis planet gas raksasa yang mengorbit dekat sekali dengan bintangnya sehingga suhunya terlalu panas.

Para ilmuwan belum tahu dari mana karbon dioksida di planet tersebut berasal. Namun, mereka memprediksi radiasi yang tinggi menyebabkan senyawa kimia bereaksi menghasilkan gas karbon dioksida. Keberadaan karbon dioksida terdeteksi menggunakan Near Infrared Camera and Multi-Object Spectrometer (NICMOS) di Teleskop Ruang Angkasa Hubble.

Laba Laba Ternyata Sukses Membuat Sarang Di Angkasa


Apa yang belum pernah dilihat itu akhirnya terbuka, ketika salah satu dari dua laba-laba bertubuh bulat beraksi: memintal jaring simetris pada eksperimen di Stasiun Luar Angkasa Internasional. ”Sangat indah,” kata pemimpin misi, Michael Fincke, melalui radio ke stasiun kontrol di Bumi.

Dua ekor laba-laba itu dibawa ke stasiun luar angkasa internasional (ISS) menggunakan pesawat ulang-alik NASA Endeavour, awal pekan lalu. Awalnya, kedua laba-laba kesulitan ”bekerja” di laboratorium, saat hari-hari pertama dalam keadaan tanpa gravitasi.

Tak lama kemudian, adaptasi dalam kondisi tanpa bobot bisa dijalani dengan cepat. Laba-laba itu ”asyik” dan sukses dengan aksinya. Eksperimen ini misinya, antara lain, untuk menimbulkan ketertarikan siswa-siswi di Bumi terhadap ilmu pengetahuan. Tak lama lagi, para murid di Bumi dapat membandingkan jaring laba-laba yang dianyam di luar angkasa dengan yang di Bumi. Selain laba-laba, eksperimen dilakukan terhadap siklus hidup larva kupu-kupu betina.

Kedua eksperimen itu di bawah pengawasan Universitas Colorado di Boulder, termasuk yang menyiapkan lalat buah makanan laba-laba dan nektar bagi kupu-kupu dalam jumlah cukup.

Berbarengan dengan eksperimen laba-laba dan kupu-kupu, sejumlah awak Endeavour merenovasi hunian utama di ISS. Dari Bumi, kru membawa dapur dan kamar mandi, dua tempat tidur baru, perlengkapan kebugaran tambahan, sebuah penyimpan makanan, dan sistem daur ulang yang mampu mengubah urin menjadi layak minum.

Beberapa hari terakhir, para kru menghabiskan waktu memperbaiki panel surya. Setidaknya, sudah tiga kali perjalanan untuk memperbaiki panel surya itu.

Misi kali ini diharapkan rampung sebelum Endeavour balik ke Bumi pada 30 November 2008 mendatang. Namun, misi perbaikan itu tampaknya tak mudah. Pada perjalanan luar angkasa beberapa hari sebelumnya, sebuah insiden terjadi ketika kotak perkakas senilai 100.000 dollar AS hilang.

Sementara kesulitan dihadapi para teknisi, eksperimen laba-laba dan kupu-kupu terus berlangsung.

Di saat berbagai perbaikan dilakukan di ISS, sejumlah kru dihibur aksi langka. Laba-laba terus menganyam dan menganyam. Mereka membongkar jaring yang telah jadi, lalu membuat jaring baru lagi. Begitu seterusnya.

Sungguh mencengangkan laba-laba yang dikirim ke stasiun antariksa internasional (ISS) sukses membuat sarang. Keberhasilan ini menarik untuk dipelajari karena hewan tersebut melakukannya di ruang tanpa bobot.

“Dua ekor laba-laba yang pemberani di stasiun antariksa internasional telah berhasil mengatasi kebingungannya sampai dapat menenun jaring yang menakjubkan di gravitasi nol,” ujar salah seorang astronot, Jumat (21/11) lalu.

Laba-laba penenun itu diangkut ke ISS awal minggu lalu bersama para astronot yang menumpang pesawat ulang alik Endeavour. Saat sehari di ruang angkasa, laba-laba tersebut terlihat membuat pola jaring yang tidak jelas. Namun, beberapa hari kemudian laba-laba tersebut berhasil membuat jaring yang teratur.

“Kami perhatikan laba-laba tersebut membuat jaring yang simetris. Sungguh cantik,” ujar Michael Fincke, komandan ISS. Ia mengatakan para astronot terkejut melihat betapa cepatnya laba-laba beradaptasi dengan antariksa.

Pengiriman laba-laba ke ruang angkasa merupakan bagian dari eksperimen ilmiah yang ditujukan untuk meningkatkan minat anak-anak sekolah mempelajari sains. Apalagi jenis laba-laba yang dipilih sama dengan laba-laba yang dipakai sebagai karakter di buku cerita anak Charlotte’s Web karya E.B. White. Anak-anak nantinya akan diminta membandingkan antara bentuk jaring laba-laba yang dibuat di Bumi dengan yang dibuat di antariksa.

Selain laba-laba, para astronot juga membawa larva kupu-kupu. Ilmuwan dari UNiversitas Colorado, Boulder, AS akan memantau perkembangannya hingga kelak menjadi kupu-kupu dewasa.  Sebagai makanan laba-laba, turut dibawa pula lalat buah. Sementara untuk makan kupu-kupu yang tengah bermetamorfosis sudah disediakan nektar secukupnya.

Mammoth Purba Bangkit Dari Kematian Lewat Klonning Karena Kode Genetiknya Telah Lengkap Dipetakan


Mimpi menghidupkan kembali dinosaurus dan hewan-hewan purba seperti dalam sekuel Jurassic Park selangkah lagi mendekati kenyataan. Para ilmuwan berhasil memetakan sebagian besar kode genetika mammoth purba, saudara tua gajah yang memiliki tubuh berambut lebat.

Daftar kode genetik tersebut diterjemahkan dari ekstrak sel 20 gumpalan rambut mammoth yang diambil dari mumi mammoth yang ditemukan di lapisan es Siberia, Rusia. Mamoth yang dapat tumbuh hingga setinggi lebih dari 5 meter hidup sekitar 10.000 tahun lalu.

Jika seluruh peta genetika (genom) selesai dikodekan, bukan tidak mungkin mammoth dapat dihidupkan kembali melalui bioteknologi. Ilmuwan yang melakukan penelitian tersebut memprediksi dalam 10-20 tahun ke depan, mammoth bisa dihidupkan kembali seiring semakin majunya perkembangan teknologi kloning, sel induk, dan sejenisnya.

“Itu memungkinkan. Yang perlu dipertanayakan justru karena kita tahu dapat melakukannya suatau ketika, apakah kita harus melakukannya?” ujar Stephan Schuster, pakar biokimia Pennsylvania State University yang melakukan penelitian tersebut.

Ekstraksi DNA dari rambut snagat menjanjikan dibandingkan dari fosil tulang yang selama ini ditemukan pada makhluk-makhluk purba lainnya. Sebagai gambaran, ekstrak sel dari tulang manusia Neanderthal hanya menyisakan 6 persen dari daftar seluruh DNA.

Sementara dari rambut mammoth, seperti dilaporkan dalam jurnal Nature terbaru, sudah berhasil mengungkap 80 persen dari daftar DNA. Kode sisanya tinggal menunggu waktu mengingat sel yang diekstrak masih sangat utuh tersimpan baik di dalam lapisan es.

Meski demikian, belum ada satupun ilmuwan yang tahu bagaimana cara memanfaatkan kode genetika tersebut untuk menghidupkan kembali mammoth. Pastinya, para ilmuwan harsu menemukan cara menghasilkan embrio mammoth dari materi genetika tersebut.

Setidaknya ada dua cara yang mungkin dapat dipakai untuk mengubah materi genetika tersebut menjadi mammoth hidup. Cara pertama adalah menggunakan sel gajah sebagai perantara yang memiliki ko genetika tak jauh berbeda. Cara lainnya adalah menghasilkan organisme baru dengan merangkai bagian per bagain kode gentika. Kedua cara tersebut sama-sama kompleks dan sulit dilakukan saat ini namun bukan mustahil kelak.

Para ilmuwan Jepang yang terlibat dalam penelitian mumi mammoth Siberia bahkan punya ambisi lain yang lebih memungkinkan. Saat ini mereka masih berupaya mencari sisa sperma yang mungkin terawetkan dalam tubuh bangkai mammoth. Jika sperma tersebut masih utuh bukan tidak mungkin mammoth dapat dilahirkan dari kandungan seekor gajah.

BANGKAI MAMMOTH PURBA DIBAWA KEJEPANG

Bangkai seekor bayi mammoth yang ditemukan dalam kondisi terawetkan di lapisan es kutub diangkut ke Jepang untuk dipelajari. Fosil berusia 37.000 tahun itu berasal dari pelosok Siberia.

“Hewan berwarna abu-abu kecokelatan setinggi 1,2 meter tersebut sudah tiba di Bandara Internasional Tokyo, Sabtu sore,” kata Mitsuyoshi Uno, salah satu pejabat dalam proyek kerja sama penelitian mammoth antara Jepang-Russia.

Mammoth muda tersebut ditemukan pertama kali oleh seorang penggembala rusa kutub di wilayah Yamal-nenets, Siberia bagian utara, pada Mei 2007 lalu. Sebagian besar bagian tubuhnya, termasuk belalai dan matanya, masih utuh dan terdapat sejumlah bulu di badannya. Namun, telinga dan ekornya sepertinya hilang karena tergigit.

Fosil mammoth yang sebleumnya diperkirakan hanya berusia 10.000 tahun itu akan dibawa ke Universitas Kedokteran Jikei, Tokyo untuk dipindai menggunakan pemindai tomografi. Pemindaian tiga dimensi (CT scan) memungkinkan para ilmuwan untuk mempelajari organ dalamnya tanpa harus melakukan pembedahan.

“Bangkai mammoth dan foto hasil pemindaiannya akan dipamerkan kepada publik mulai 4 Januari 2008 di salah satu gedung perkantoran di pusat Kota Tokyo,” ujar Uno.

Ini bukanlah bangkai mammoth pertama yang terawetkan di es. Sebelumnya, bangkai serupa juga pernah ditemukan di Siberia dan diteliti bersama antara ilmuwan Russia dan Jepang.

Para ilmuwan memperkirakan mammoth hidup sejak 4,8 juta tahun lalu hingga 4.000-an tahun lalu. Penelitian menunjukkan perubahan iklim global dan perburuan yang dilakukan manusia menjadi pemicu terbesar punahnya hewan yang mirip gajah ini

EVAKUASI FOSIL MAMMOTH LANGKA DI PERANCIS

Penemuan fosil tengkorak mammoth di Perancis sangat bernilai. Sebab, fosil tersebut berasal dari jenis mammoth yang langka dan merupakan peralihan dua spesies mammoth yang lebih sering dikenal selama ini.

Paleontolog bernama Frederic Lacombat dari Museum Croatier Perancis dan Dick Mol dari Museum Sejarah Nasional Rotterdam Belanda mulai melakukan penggalian pada 15 Agustus 2008 di kawasan Auvergne. Mereka memperkirakan mammoth tersebut jenis mammoth stepa (Mammuthus trogontherii) yang hidup di zaman Peistocene Pertengahan antara 300.000-800.000 tahun lalu. Hewan yang perawakannya mirip gajah tersebut diperkirakan berumur 35 tahun saat tewas. Jenis ini dapat tumbuh hingga 3,7 meter.

Mammoth stepa diperkirakan peralihan antara mammoth selatan (Mammuthus meridionalis) yang hidup di zaman Pleistocene Awal antara 2,6 juta-800.000 tahun lalu dan mammoth berbulu (Mammuthus primigenius) yang hidup di zaman Pleistocene Akhir antara 300.000-4.000 tahun lalu.

Setiap spesies memiliki karakter berbeda. Mammoth selatan hidup di padang sabana dan termasuk hewan penjelajah. Makanannya dedaunan dan ranting pohon. Sementara mammoth padang rumput dan mammoth berbulu beralih makan rumput dilihat dari struktur gigi gerahamnya.

Hal tersebut mungkin bentuk adaptasi akibat terjadinya perubahan iklim. Saat lingkungan makin dingin dan kering pada zaman Pleistocene, sabana mulai menghilang dan berganti stepa yang lebih banyak padang rumput.

“Kami membutuhkannya untuk mengungkap apa yang kami sebut ‘rantai yang hilang’ dalam evolusi mammoth,” ujar Mol. Sebelumnya, fosil mammoth stepa beberapa kali ditemukan namun hanya dapat dipelajari dari sisa giginya, jarang sekali yang ditemukan lengkap dengan tengkorak yang utuh.

Karena itu, ekskavasi dan pemindahan fosil tengkorak mammoth yang langka tersebut pada Minggu (7/9) dilakukan dengan penuh hati-hati. Tengkorak dikeluarkan dari dalam tanah dalam kondisi utuh dan diangkut menggunakan crane ke atas trailer yang membawanya ke Museum Croatier Perancis. Mulai 2010, fosil tersebut akan dipamerkan keliling dunia setelah dipelajari secara menyeluruh.

Fasilitas Internet Dunia Maya Antar Planet Lebih Canggih Dari Yang Ada Di Bumi



Untuk pertama kalinya, badan antriksa AS (NASA) sukses menguji pengiriman data melalui sambungan Internet khusus yang didesain untuk komunikasi ruang angkasa. Dalam uji coba tersebut dikirimkan foto yang dipotret sebuah wahana ruang angkasa yang sedang mengarungi antariksa pada jarak 32 juta kilometer dari Bumi.

“Ini merupakan langkah awal untuk membangun kapasitas baru komunikasi ruang angkasa, sebuah Internet antarplanet,” ujar Adrian Hooke, ketua tim peneliti yang bermarkas di Washington DC, AS. Keberhasilan tersebut diumumkan Selasa (18/11) lalu.

Jaringan Internet antarplanet ini dikembangkan bersama antara NASA dan Vint Cerf, wakil presiden Google yang dikenal pula sebagai “bapak Internet.” Selama 10 tahun terakhir, Cerf membantu pengembangan protokol software yang digunakan untuk transmisi data di ruang angkasa yang disebut DTN (Disrupt-Tolerant Networking).

DTN mengirimkan informasi menggunakan metode yang berbeda dengan TCP/IP (Transmission Control Protocol/Internet Protocol), yang juga dikembangkan Cerf bersama koleganya. Protokol tersebut harus mampu menangani delay yang cukup lama, gangguan sinyal, dan mempertahanakn koneksi sehingga data yang dikirimkan tetap utuh.

Gangguan bisa datang dari badai Matahari atau saat wahana ruang angkasa bergerak ke belakang objek yang diamati. Jarak yang sangat jauh juga menjadi tantangan tersendiri seperti proses pengiriman data dari Mars yang membutuhkan delay antara 4-20 menit meski dikirim dengan kecepatan cahaya.

Jika pengiriman terpaksa berhenti di tengah jalan, setiap simpul jaringan akan menyimpan informasi tersebut dan kembali menersukannya jika sambungan normal. Hal ini berbeda dengan jaringan Internet di Bumi yang langsung mengabaikan data yang dikirimkan begitu sambungan terputus.

“Dalam dunia ruang angkasa saat ini, tim operasi harus secara manual mengatur jadwal setiap link komunikasi yang dipakai, data yang akan dikirim, dan tujuannya,” ujar Leigh Togerson, manajer DTN Experiment Operation di Laboratorium Propulsi Jet NASA di Pasadena, AS.

Dengan DTN, hal tersebut tidak perlu dilakukan. Data akan terkirim secara otomatis sehingga lebih efisien. Uji coba pengiriman data melalui DTN dilakukan dari wahana ruang angkasa bernama Deep Impact yang tengah memburu Komet Hartley 2 setelah sukses mendekati Komet Tempel tiga tahun lalu.

Membaca Rahasia Diperut Bumi Dengan Metoda Gravitasi Yang Tidak Sama


Bumi selalu dianggap berbentuk bulat dan mempunyai gravitasi yang sama di seluruh permukaannya. Kenyataannya tidak begitu. Karena massa di perut bumi memiliki kerapatan yang heterogen, maka terjadilah penyimpangan gaya gravitasi. Anomali itulah yang justru dicari para memburu minyak bumi dan para penambang.

Untuk menggambarkan bentuk bumi, ada beberapa model yang dipakai, di antaranya dipilih bentuk ellipsoida dan digunakan asumsi bahwa densitas (kerapatan) bumi homogen. Padahal, kenyataannya, kerapatan massa bumi itu heterogen yang juga diliputi air batuan leleh, minyak, dan gas. Di permukaan bumi ada gunung-gunung yang memendam magma, sebagiannya ditutupi lautan, dan di bawahnya bersembunyi cekungan minyak. Daerah-daerah tersebut gaya beratnya lebih rendah dibandingkan dengan permukaan atau lapisan bumi yang padat dan rapat.

Dengan ditemukannya kondisi itu, bentuk ellipsoid bumi yang ideal tadi memiliki jarak dengan bentuk geoid, yaitu model bumi yang mendekati bentuk bumi sesungguhnya. Secara praktis geoid dianggap berimpit dengan permukaan laut rata-rata pada saat keadaannya tenang dan tanpa gangguan cuaca.

Jarak geoid terhadap ellipsoid itu—yang disebut undulasi geoid—jelas tidak sama di semua tempat, karena ketidakseragaman sebaran densitas massa bumi itu. ”Beda tinggi antara ellipsoid dan tinggi geoid sangatlah bervariasi dan besarnya bisa mencapai puluhan meter,” urai Joenil Kahar, pakar Geodesi Institut Teknologi Bandung (ITB).

Pengukuran ”geoid”

Peta geoid dibuat berdasarkan pengukuran gaya berat bumi di setiap tempat menggunakan alat ukur yang disebut dengan gravimeter. Pengukuran itu dilakukan dengan mengacu pada jejaring berupa garis-garis sejajar dengan kerapatan tertentu, yang direncanakan di atas peta.

”Bagi kegiatan survei pemetaan, geoid digunakan untuk acuan tinggi rupa bumi atau topografi,” kata Jacub Rais, pakar geomatika yang juga guru besar emeritus di ITB.

Untuk keperluan aplikasi geodesi, geofisika, dan oseanografi dibutuhkan juga geoid dengan ketelitian yang tinggi. Hal ini dapat dilakukan dengan memadukan sistem global positioning system (GPS) yang dapat mengukur ketinggian permukaan bumi di mana pun dan kapan pun, serta tidak tergantung cuaca di seluruh permukaan bumi.

Dalam bidang geodesi, informasi geoid yang teliti ini dipadukan dengan sistem GPS dalam penentuan tinggi ortometrik digunakan untuk berbagai keperluan praktis, seperti pembangunan infrastruktur bangunan, bendungan, dan saluran irigasi.

Teknik pengukuran aerial gravitasi adalah menempatkan alat gravimeter di pesawat terbang yang mengudara dengan kecepatan, tinggi, dan arah tertentu, banyak digunakan setelah era GPS, karena memberi akurasi posisi yang sangat teliti.

Adapun teknik pengukuran dari antariksa dengan menempatkan sensor gravitasi pada satelit, baru diterapkan pada era milenium ini dengan diluncurkannya satelit gravitasi, seperti Champ, Grace, dan Goce.

Data gravitasi ini diaplikasikan antara lain untuk pencarian sumber daya alam, seperti mineral, hidrokarbon, gas, geotermal, dan hidrologi. Selain itu, juga untuk mengetahui deliniasi struktur bumi yang berhubungan dengan bencana alam, seperti patahan, tanah longsor, dan gunung api.

Informasi geoid yang dibuat dari data gaya berat diperlukan untuk penerapan sistem tinggi dengan teknik satelit, seperti GPS, Galileo, dan Glossnas, serta unifikasi sistem tinggi untuk pemetaan serta menunjang penelitian kenaikan paras muka laut dan sirkulasi arus laut.

Di Indonesia

Pengukuran gaya berat di Indonesia, ujar Kepala Badan Koordinasi Survei dan Pemetaan Nasional, Rudolf W Matindas, telah lama dilakukan oleh perusahaan minyak di Jawa dan Sumatera. Namun, cakupannya tergolong sempit. Data itu selama ini dirahasiakan perusahaan itu karena dapat mengungkap kondisi lapisan permukaan bumi yang memiliki cekungan minyak. Sementara itu, di luar Pulau Jawa dan Sumatera boleh dibilang hingga kini minim data gaya berat, bahkan Papua masih tergolong blank area.

Penyediaan data gaya berat secara nasional untuk keperluan pembangunan di daerah dilakukan Bakosurtanal dengan menggandeng Denmark Technical University.

Untuk mempercepat survei gravitasi ini dipilih wahana pesawat terbang, yang menurut Koordinator Survey Airborne Gravity Indonesia (SAGI) 2008, Fientje Kasenda, memiliki beberapa keunggulan dibandingkan dengan survei di darat atau teresterial dan satelit. Dengan pesawat terbang jangkauan lebih luas dan cepat untuk medan yang berat, seperti hutan, pegunungan, dan perairan dangkal hingga pesisir. Selain itu juga memberikan kesinambungan data antara laut dan darat. Resolusi data lebih baik dibandingkan dengan satelit. Biaya yang dikeluarkan pun relatif lebih murah.

Dalam program Bakosurtanal, tutur Matindas, SAGI tahap pertama dilakukan di seluruh Sulawesi, sebagai daerah yang memiliki topografi yang kompleks. Diharapkan survei gaya berat dan pembuatan peta seluruh Indonesia dapat diselesaikan pada tahun 2012.