Monthly Archives: Juni 2010

Kepala Raksasa Firaun Dari Batu Granit Merah Ditemukan Kembali


Para arkeolog di Mesir menemukan kepala raksasa dari granit merah di lokasi yang dikenal kaya dengan peninggalan Mesir kuno di Luxor. Dewan Purbakala Mesir mencetuskan, Minggu (28/2/2010), bahwa kepala tersebut adalah citra dari salah satu firaun Mesir yang paling terkenal yang bertakhta kira-kira 3.400 tahun yang lalu.

Kepala batu dari Amenhotep III itu berukuran setinggi pria dewasa dan digali dari reruntuhan kuil yang juga merupakan kuburan firaun di kota selatan Luxor.

Kepala ekspedisi yang menemukan kepala tersebut mengatakan bahwa temuan ini adalah citra wajah Amenhotep III yang paling utuh sepanjang sejarah.

“Patung lainnya biasanya sudah ada kerusakan, entah ujung hidungnya atau wajahnya sudah terkikis,” kata Dr Hourig Sourouzian, yang telah memimpin tim ekspedisi Mesir-Eropa pada situs itu sejak 1999. “Tapi kali ini, dari ujung mahkotanya sampai dagu, semuanya terukir dan terpoles dengan indahnya, tak ada yang rusak,” ungkapnya.

Kepala itu merupakan bagian dari sebuah patung besar yang ditemukan beberapa tahun lalu. Sebelumnya juga telah ditemukan bagian-bagian tubuh lain dari patung itu, yaitu lempengan pada punggung dan juga janggut adat yang nantinya akan disambung ke bagian kepala tadi.

Amenhotep III adalah kakek dari firaun kecil yang terkenal, yaitu Tutankhamun, yang memerintah pada 1387-1348 SM pada masa kejayaan Kerajaan Baru Mesir dan menguasai kerajaan yang luas menghampar dari Nubia di selatan hingga Syria di utara.

Sourouzian mengatakan bahwa sang firaun itu masyur karena memimpin Mesir pada masa keemasannya di zaman ketika perdamaian dan kemewahan tersebar di seluruh kerajaannya. Para pengrajin masa itu juga mempertajam keahlian artistik mereka sehingga terlihat dari bentuk simetris kepala yang ditemukan itu.

“Andaikata dia (Amenhotep III) benar-benar mirip patung ini, berarti ia pria yang sangat sangat tampan,” ucapnya.

Kuil pekuburan Amenhotep III sangat luas, tetapi sebagian besar telah rusak, mungkin karena banjir. Kini tembok-temboknya pun tak banyak tersisa.

Ekspedisi pimpinan Sourouzian telah menggali berbagai artefak dan patung-patungan dari reruntuhan itu, termasuk juga dua patung Amenhotep yang dibuat dari granit hitam yang ditemukan pada Maret lalu.

Iklan

Dua Fosil Dinosaurus Super Langka Ditemukan Di Utah Amerika Serikat


Fosil dari spesies dinosaurus yang belum pernah diketahui sebelumnya, baru-baru ini ditemukan di lempeng-lempeng batuan di Utah, AS. Para ilmuwan yang menemukan fosil ini mengatakan bahwa bebatuan itu begitu kerasnya sehingga untuk melepaskan sebagian fosil itu terpaksa harus digunakan peledak.

Tulang-belulang dari Monumen Nasional Dinosaurus itu merupakan bekas dari sejenis sauropod, yaitu hewan berleher panjang dan pemakan tumbuhan yang dinyatakan sebagai hewan terbesar yang pernah ada di permukaan bumi. Di antara temuan ini juga terdapat dua tengkorak utuh dari jenis-jenis sauropod lainnya. Para ilmuwan menyatakan bahwa dua tengkorak itu adalah temuan yang super langka.

Menurut Dan Chure, paleontolog dari monumen yang terletak di antara Utah dan Colorado itu, semua fosil tersebut memberikan masukan lebih banyak tentang kehidupan dinosaurus 105 juta tahun yang lalu, dan juga tentang evolusi gigi sauropod yang bisa menunjukkan kebiasaan makan dan informasi lainnya. “Hampir tak terkatakan betapa pentingnya fosil ini,” komentarnya.

Dari sekitar 120 spesies sauropod, hanya delapan spesies yang pernah ditemukan tengkorak utuhnya. Ini dikarenakan tengkorak spesies dinosaurus ini terbuat dari tulang yang tipis dan rapuh, terbungkus oleh lapisan jaringan lunak yang mudah luruh setelah dinosaurus itu mati.

“Ini benar-benar proyek nomor satu yang pernah saya kerjakan,” tutur Brooks Britt, paleontolog dari Universitas Brigham Young yang ikut dalam penelitian fosil oleh tim peneliti Universitas Michigan.

Spesies baru ini disebut Abydosaurus mcintoshi. Para peneliti mengatakan bahwa spesies ini anggota dari keluarga brachiosaurus, yaitu dinosaurus besar berkaki empat yang juga mengatasi jenis sauropod. Penemuan ini telah diterbitkan dalam jurnal ilmiah Naturwissenschaften berikut juga pembahasannya oleh ilmuwan sejawat.

Tulang-tulang itu berasal dari daerah penggalian yang dilabeli DNM 16. Sebenarnya tulang-tulang itu telah diketahui keberadaannya sejak 1977, tapi penggalian penuhnya baru dimulai di penghujung tahun 1990-an. Kedua tengkorak itu ditemukan di tahun 2005. Para ilmuwan, walaupun sangat tergoda, sempat terhadang masalah bebatuan keras yang memerangkap tulang-belulang itu. Para pekerja tak bisa memecahkan bebatuan itu walau sudah memakai godam dan gergaji beton.

Tahun lalu, tim ahli peledak dari Taman Nasional Rocky Mountain menghabiskan tiga hari di penggalian itu. Mereka memakai peledak skala kecil untuk melemahkan bebatuan itu tanpa merusak tulang-belulangnya. Dengan begitu para ilmuwan bisa mengeluarkan fosil itu, di antaranya ada tulang kaki, belikat, dan bagian lainnya.

Para paleontolog yakin bahwa di situs itu setidaknya ada empat dinosaurus. Menurut Britt kesemuanya diduga merupakan dinosaurus pada usia muda dan kemungkinan 7,6 m panjangnya. “Kita tak tahu mereka bisa tumbuh jadi sebesar apa,” ujar Britt.

Kedua tengkorak itu, satunya utuh dan lainnya lagi sudah pecah tapi komplit, bisa memberikan petunjuk baru tentang cara makan sauropod. “Mereka tak mengunyah. Mereka hanya mencaplok lalu langsung telan,” tutur Britts.

Sauropod jenis terdahulu memiliki gigi-gigian yang lebar. Versi turunannya memiliki gigi-gigian yang kecil, seperti pensil. Gigi abydosaurus ada di antara dua tipe ini, jadi ciri-ciri ini bisa membantu ilmuwan menentukan evolusi cara dan pola makan mereka.

Jim Kirkland, paleontolog dari negara bagian Utah, walau tak terlibat dalam penemuan itu berkomentar bahwa temuan ini bisa memberikan pandangan yang paling lengkap tentang beberapa jenis sauropod tertentu yang sempat hidup di Amerika Utara dari periode Lower Cretaceous, yaitu kira-kira 99-145 juta tahun yang lalu.

Fosil itu sementara ini dipajang di Musium Paleontologi Universitas Brigham Young.

Kandungan Air di Bulan Ternyata Lebih Banyak dari Perkiraan


Kandungan air di Bulan lebih banyak dari perkiraan terdahulu dan dan dipercaya berada di bawah permukaan Bulan, menurut laporan yang diterbitkan Senin seperti dikutip Reuters.

Misi ke Bulan terbaru telah menunjukkan beku air pada bayang kawah permukaan Bulan, dan es di bawah debu abu-abu. Namun, beku es tersebut bisa dibawa secara potongan pada asteroid yang berjatuhan di permukaan Bulan.

Tetapi penelitian baru yang dipublikasikan oleh Proceedings of the National Academy of Science menunjukkan bahwa kandungan air jauh lebih banyak dari perkiraan tersebut. Hal ini merupakan  penemuan penting untuk misi ke Bulan di masa mendatang.

“Air bisa jadi ada merata pada interior Bulan,” menurut kesimpulan para peneliti di Proceedings of the National Academy of Science.

“Lebih dari 40 tahun kita berpikir Bulan itu kering,” kata pemimpin penelitian dari Carnegie Institution of Washington, Francis McCubbin.

“Kami menemukan persediaan air berkisar dari 64 bagian per miliar hingga 5 bagian per juta — setidaknya dua kali lipat dari penemuan sebelumnya,” jelasnya.

Air tidak mudah untuk diakses — air terkandung dalam interior bebatuan Bulan, menurut laporan yang dipublikasikan pada “http://www.pnas.org/cgi/doi/10.1073/pnas.1006677107”

Banyak peneliti sekarang mempercayai Bulan terbentuk saat benda seukuran planet Mars menabrak Bumi 4,5 milyar tahun lalu, melepas materi dasar untuk membentuk Bulan.

Magma terbentuk saat proses ini berjalan dan mengawetkan beberapa molekul air ketika magma mendingin dan mengkristal.

Para peneliti melihat contoh yang dikumpulkan 40 tahun lalu saat Apollo melakukan misi ke Bulan. Jenis bebatuan yang umum dalam interior Bulan memiliki bukti kandungan kimia hidrogen dan oksigen, senyawa dasar air.

“Konsentrasinya sangat rendah dan, karenanya mereka hampir mustahil dideteksi hingga hari ini,” ujar McCubbin.

“Kami akhirnya memulai untuk meninjau implikasi dan asal muasal dari air di dalam interior Bulan,” imbuh McCubbin.

Satelit Jepang Bawa Debu Asteroid Berbahaya


Sebuah satelit peneliti Jepang telah mendarat di Australia setelah misi perjalanan tujuh tahun pada asteroid, membawa kembali dengan aman sebuah kapsul berisi contoh debu unik, kata pengendali misi Jepang, Senin.

Satelit peneliti Hayabusa menyulutkan jejak spektakuler diatas Australia sebelum menghantam ke gurun sekitar tengah malam waktu setempat, mengakhiri perjalanan yang dimulai pada 2003, ke asteroid Itogawa yang mendekati bumi.

Seorang juru bicara untuk Badan Eksplorasi Angkasa Jepang (JAXA) mengatakan kepada wartawan Reuters foto pertama yang tersedia mengindikasikan kapsul yang membawa kargo berharga terlihat selamat.

Setelah matahari terbit, para pejabat pertahanan Australia menerbangkan tetua Aborigin lokal ke lokasi dengan helikopter untuk memverifikasi tidak ada lokasi suci yang rusak.

Seorang juru bicara pertahanan mengatakan pemimpin suku lokal telah membersihkan jalur supaya kapsul bisa diambil Senin.

Hayabusa, yang berarti burung elang dalam bahasa Jepang, mendarat pada asteroid yang berbentuk tak lazim tersebut pada 2005 dan para peneliti merancang untuk mengambil contoh materi kecil pada asteroid tersebut. Bila sukses, akan menjadi pertama kalinya sebuah pesawat membawa contoh kembali ke bumi, selain dari bulan.

Para peneliti berharap bisa membuka rahasia pembentukan tata surya dan menguak resiko akan benturan asteroid ke Bumi.

Peneliti NASA Paul Abell, yang memonitor misi pengembalian satelit, mengatakan Hayabusa sangat signifikan untuk aspek pertahanan antar planet, mengingat tubrukan asteroid yang dipercaya memusnahkan dinosaurus.

Mengetahui karakteristik asteroid dekat bumi akan sangat bermanfaat bila ingin mengetahui sesuatu yang datang ke bumi di masa mendatang, katanya.

Sebagai materi buangan dari pembentukan tata surya, tambahnya, asteroid bisa memberitahu mengenai formasinya dan, kemungkinan, asal muasal kehidupan.

“Penelitian yang dilakukan telah berlangsung baik. Ini adalah kejadian yang signifikan,” katanya kepada wartawan Reuters.

Terlihat Aman

Juru bicara JAXA Makoto Miwada kepada Reuters mengatakan pada Senin foto pertama kapsul, dengan diameter 40 cm dan tinggi 20 cm, telah sangat membesarkan harapan.

“Kami hanya memiliki satu foto dan kelihatannya sangat aman,” katanya.

Banyak dari satelit peneliti terbakar secara spektakuler di atmosfer, biasanya membentuk bola api menakjubkan dan kapsul tersebut bisa secara jelas terlihat berpisah, ujar saksi mata.

“Kejadian terlihat seperti bintang jatuh dengan ledakan bintang pada buntutnya. Sangat fantastis,” kata seorang saksi.

Sejumlah tim dari NASA telah diturunkan untuk mengawasi pengembalian pesawat berbotot 500 kg tersebut ke lokasi pengujian senjata Woomera di provinsi South Australia. Jalan bebas hambatan utama Stuart yang berada di tengah Australia telah ditutup untuk alasan keamanan.

Asteroid Itokawa adalah asteroid berbentuk aneh dengan ukuran terpanjang 500 meter.

Peneliti antar planet Trevor Ireland mengatakan contoh debu bisa menguak misteri “rantai penghubung yang terputus” antara asteroid dan meteor yang telah jatuh ke bumi.

Analisa dari isi kapsul akan dilakukan di Jepang dan diharapkan memakan waktu enam bulan.

LIPI Harus Menjaga Kompetensi Ilmiah


Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia harus lebih ketat melakukan evaluasi dan pengendalian kegiatan proyek penelitiannya sebab anggarannya terbatas, sementara target pencapaiannya tinggi.

Usulan proyek penelitian yang didanai harus berskala nasional, bahkan dunia. Dengan pendampingan pakar yang kompeten, penelitian harus dapat diselesaikan dengan baik dan masuk jurnal internasional. Hal itu disampaikan pakar taksonomi LIPI yang telah pensiun, Mien Rifai, menanggapi pergantian Ketua LIPI, Senin (14/6).

Kemarin, Kepala LIPI Umar Anggara Jenie yang telah memimpin lembaga itu sejak 2002 digantikan oleh Lukman Hakim yang sebelumnya menjabat sebagai Wakil Kepala LIPI sejak 2003.

Mien, anggota Tim Seleksi Proposal Penelitian di LIPI, mencontohkan hasil riset seorang peneliti parasitologi yang dibimbingnya yang dapat masuk jurnal ilmiah di Amerika Serikat. ”Masuknya hasil riset ini ke jurnal internasional akan mengangkat nama lembaga di dunia,” ujar Mien, juga Ketua Komisi Ilmu Pengetahuan Dasar Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia.

Evaluasi yang ketat, menurut Mien, dapat mencegah penelitian hanya bertujuan mengejar KUM (indeks prestasi kumulatif) dan kurang mengarah pada keunggulan riset. Masalah besar yang dihadapi masyarakat secara nasional semestinya bisa diatasi dengan kemajuan ilmu pengetahuan. Namun, LIPI kurang terlihat perannya.

Tiga tanggung jawab

Sementara itu, mantan Ketua LIPI Taufik Abdullah mengingatkan, ada dua dari tiga tanggung jawab LIPI yang kurang diperhatikan, yaitu sumbangan LIPI memperkaya khazanah ilmu pengetahuan dan tanggung jawab kepada masyarakat. Tanggung jawab lainnya adalah kepada pemerintah.

Hasil penelitian Pusat Riset di LIPI harus dapat dikembangkan sehingga bisa dimanfaatkan masyarakat. Itu bisa terwujud jika ada kerja sama dengan berbagai pihak untuk aplikasinya.

Sementara itu, Menteri Riset dan Teknologi Suharna Surapranata mengatakan, antara kegiatan riset ilmu pengetahuan dan aplikasi di bidang industri tidak sinergi. Indonesia berada di urutan ke-40 dari 133 negara di dunia untuk elemen inovasi pada tingkat daya saing.

”Sistem Inovasi Nasional tidak bisa ditawar-tawar lagi,” kata Suharna. Menurut dia, untuk membentuk Sistem Inovasi Nasional (SIN) diperlukan, antara lain, sinkronisasi teknologi dengan permasalahan yang dihadapi industri dan masyarakat, vitalisasi lembaga intermediasi, dan dukungan kebijakan pemerintah. Suharna mengharapkan, prioritas SIN adalah membentuk sinergi, terutama di bidang pangan dan energi.

Umar Anggara Jenie mengatakan, ia nantinya akan duduk di keanggotaan Komisi Inovasi Nasional. Dari masa kepemimpinannya, ada dua pengembangan teknologi yang kini dapat diandalkan untuk membangun sinergi dengan industri.

”Keduanya terkait lingkungan, yaitu pengembangan pupuk Beyonic yang memadukan pupuk organik dengan mikroba serta teknologi radar pantai,” kata Umar. Kepada Lukman, Umar mengatakan agar semakin erat menjalin kerja sama riset dengan negara-negara lain, seperti Eropa dan Amerika Serikat.

Alga Chlorella Berpotensi Hambat Kanker


Sejak lama alga atau ganggang laut dikenal sebagai makanan penuh nutrisi. Tidak hanya bergizi, tetapi tanaman penghuni lautan itu ternyata juga penuh khasiat melawan penyakit. Belakangan, sejumlah penelitian mengarah pada penggunaan ganggang guna menghambat kanker.

Penanganan kanker dengan pembedahan, kemoterapi, dan radioterapi hingga saat ini belum memuaskan. Kemoterapi, misalnya, tidak hanya menyerang sel kanker, tetapi juga sel sehat sehingga si sakit menderita. Adapun pembedahan dan radioterapi terbatas pada kanker yang hanya menyerang organ tertentu dan belum menyebar (metastatis).

Bahan kemopreventif sering dikatakan bertindak sebagai agen antitumor dan kebanyakan dari sumber alami: dari sayuran, buah, dan tumbuhan lain. Belakangan, alga disebut-sebut berkhasiat terhadap kanker. Alga berpotensi mencegah kanker berkembang lantaran kandungan antioksidannya, senyawa fikosianin, dan aktivitas protein peroxisome proliferator activated receptor/PPARs. PPARs merupakan kelompok protein reseptor yang bekerja dalam metabolisme sel, antara lain metabolisme karbohidrat, lipida, protein, serta pembelahan sel.

Profesor Ih-Jen Su dari Divisi Penelitian Klinis National Health Research Institutes Tainan, Taiwan, menguji coba Chlorella sorokiniana Cryptomonadales pada sel kanker kulit.

Pada penyelidikan awal, dia menggunakan eksperimen pada kulit tikus yang dicemari karsinogen kimia 7,12-dimetilbenzantrasen (DMBA). Delapan tikus percobaan dibagi ke dalam dua kelompok. Satu kelompok diberi olesan ekstrak Cryptomonadales dan kelompok lainnya tidak.

Ekstrak Cryptomonadales efektif menghambat tumor kulit yang disebabkan DMBA pada tikus di tahap awal kanker (inisiasi). Aplikasi ekstrak itu mengurangi pertumbuhan kulit papiloma. PPARs aktif bekerja dalam percobaan itu.

”Cara kerja Chlorella sorokiniana Cryptomonadales ialah secara sistemik membangun kekuatan tubuh untuk melawan berbagai gangguan,” ujar Prof Wang Shun Te dalam kunjungannya ke Indonesia beberapa waktu lalu. Guru besar Pingtung Technology University di Taiwan itu meninggalkan kampus guna meriset ganggang. Dia menemukan dan mengembangkan Chlorella sorokiniana Cryptomonadales selama 30 tahun. Produk yang dikembangkan Wang telah ada di beberapa negara, termasuk di Indonesia.

Sangat lengkap Nutrisi yang terkandung di dalam ganggang sangat lengkap. Chlorella mengandung 60 persen protein, karbohidrat, asam lemak esensial, fikosianin, klorofil, RNA, DNA, beragam vitamin, dan mineral. Sel Chlorella sangat stabil dan tidak akan berubah bentuk. Cryptomonadales, menurut Wang, merupakan mutu terbaik dari jenis Chlorella sorokiniana.

Sejumlah peneliti

dari Fakulti Perubatan Pusat Perubatan Universiti Kebangsaan Malaysia juga tertarik meneliti khasiat ganggang.

Mereka mengkaji antioksidan dan antitumor Chlorella vulgaris terhadap kanker hepar dalam kajian in vivo dan in vitro. Penelitian itu menggunakan tikus Wistar jantan yang dipaparkan kanker hepar. Hasil penelitian dimuat dalam Sains Malaysiana pada tahun 2009.

Hasil penelitian menunjukkan, kemampuan Chlorella vulgaris menurunkan kadar proliferasi serta memengaruhi apoptosis sel kelenjar kanker hati (hepar) yang dibuktikan dengan pemaparan protein proapoptosis. Mekanisme kemopreventif Chlorella vulgaris antara lain dengan memengaruhi apoptosis melalui protein penindas tumor.

Hasil studi itu menyebutkan, apoptosis atau kematian sel secara terancang merupakan salah satu komponen penting dalam meningkatkan homeostasis, yakni kemampuan tubuh mengatur lingkungan internal tetap stabil dan berfungsi di bawah perubahan yang terjadi. Tidak hanya untuk fungsi normal tubuh, tetapi juga respons tubuh terhadap patologi seperti kanker. Apoptosis amat diperlukan untuk menyingkirkan sel termutasi yang mengalami kerusakan DNA guna mengurangi pembentukan lesi praneoplasia seperti yang berlaku pada kanker hepar. Apoptosis sangat diperlukan untuk memusnahkan sel kanker dan mengembalikan proses pertumbuhan sel tubuh ke tahap yang lebih normal.

Di samping itu, dengan kandungan antioksidan yang tinggi, Chlorella mampu mencegah terjadinya inflamasi atau peradangan akibat radikal bebas. Chlorella vulgaris menunjukkan aktivitas antioksidan yang tinggi.

Dokter Yekti H Effendi S Ked dari Departemen Gizi Masyarakat Institut Pertanian Bogor mengatakan, ganggang hijau meningkatkan imunitas nonspesifik dan spesifik. Asam nukleat pada ganggang hijau berperan membentuk daya tahan tubuh terhadap berbagai penyakit.

Penelitian bersama sejumlah peneliti dari Rumah Sakit Karya Bhakti Bogor, Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam (PAPDI) cabang Bogor, dan Fakultas Ekologi Manusia Institut Pertanian Bogor, juga Yekti beberapa waktu lalu menyimpulkan bahwa asupan Chlorella mempercepat kesembuhan penderita demam berdarah dengue.

Yekti mengatakan, orang dewasa perlu sekitar 20 gram per hari. Sejauh ini, tidak ada efek samping mengonsumsi makanan itu sepanjang produk tidak tercemar atau terpapar bahan berbahaya lain.

Radiasi dari Alat Pemindai Kesehatan Sangat Berbahaya


Setiap kali melewati alat pemindai keamanan di bandara, ada perasaan waswas terkena radiasi. Begitu pula ketika menggunakan telepon genggam, peralatan dapur seperti microwave, atau sekadar melewati kawasan jaringan listrik tegangan tinggi. Memang benar jika ada kemungkinan kita terkena radiasi, tetapi ancaman radiasi yang terbesar justru ketika kita terlalu banyak menggunakan alat-alat medis.

Menurut penelitian di AS yang dipublikasikan Associated Press, Senin (14/6), kasus radiasi dari alat-alat medis paling banyak terjadi di AS dibandingkan negara lain di dunia. Radiasi yang terlalu banyak meningkatkan ancaman kanker. Ancaman itu kian meningkat karena semakin banyak orang yang meminta hasil tes melalui alat-alat pemindai kesehatan, antara lain dengan sinar-X atau CT scan, terlalu dini.

Ahli radiologi Steven Birnbaum mengatakan, sinar-X atau CT scan digemari karena bisa memberikan hasil yang cepat dan sangat rinci dibandingkan dengan magnetic resonance imaging (MRI) yang tanpa radiasi. Radiasi merupakan bahaya yang terselubung karena kita tidak akan merasakan apa-apa ketika terkena radiasi. Dampaknya pun baru akan terasa atau terlihat beberapa tahun kemudian.

Kini Pemerintah AS tengah mendesak industri dan kalangan dokter untuk menetapkan standar dosis untuk tes-tes seperti CT scan. Masyarakat atau pasien juga disarankan untuk kritis bertanya tentang proses, dosis, dan alasan pemindaian yang harus dijalani dan tidak begitu saja menerima saran pemindaian dari dokter. ”Anda harus menanyakan semuanya. Tingkat radiasi CT scan sangat tinggi, terutama pada bagian dada dan perut, dua daerah di tubuh tempat kanker kerap tumbuh,” kata Fred Mettler yang mengepalai radiologi di sistem pelayanan kesehatan New Mexico Veterans