Cara Mengerti Terjadinya Homoseksual Dari Sisi Sains


Seksualitas merupakan wilayah kontestasi politik paling serius karena benturan antara nilai-nilai moral (agama), kemajuan riset di bidang sains medik, dan realitas sosial. Tama (26) harus menunggu tujuh tahun untuk kembali diakui sebagai bagian dari keluarganya di Malang, Jawa Timur. Anak pertama dari tiga bersaudara itu menyebut identitas seksualnya sebagai “trans-man”, bukan lesbian.

“Orangtua sangat marah,” kenang aktivis remaja dan orang muda dengan identitas beragam, Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (Yotha-PKBI) Cabang Yogyakarta itu. Siang itu, di salah satu ruangan di Gedung PKBI Yogyakarta, Alia (26) mengisahkan, sejak usia 16 tahun, ia berpakaian perempuan dan berada di jalanan. Keluarga dan tetangga menerima dirinya apa adanya.

Berbeda dengan kelompok homoseksual lainnya, kelompok waria lebih kental stigma sosialnya dan kemanusiaannya direduksi sebatas sosok menor di pinggir jalan. Mereka menelan seluruh hinaan. Apalagi kalau tertangkap petugas keamanan. Akan tetapi, kelompok inilah yang mengungkap sikap hipokrit masyarakat. Kata Alia, kliennya adalah laki-laki, yang mungkin beristri dan punya anak. Sebagian dengan ekspresi dan fantasi seksual yang unik.

“Ada yang sebelum dilayani, minta memakai baju saya, lalu bersikap seperti perempuan. Setelah selesai, dia bersikap seolah-olah yang tadi itu tak pernah terjadi,” tuturnya. Awalnya, Tama bergabung dengan gerakan perempuan, tetapi ada resistansi dari dalam. Dia lalu menemukan ruang bersama remaja dan kaum muda beragam identitas. Dalam pertemuan nasional pada Agustus lalu, mereka mendiskusikan posisi “trans-man” dalam gerakan sosial dan berbagai isu yang menyertainya, khususnya terkait upaya membangun teori, informasi, dan kesetaraan hak sebagai warga negara. “Layanan kesehatan reproduksi tak ramah kepada orang-orang seperti kami,” ungkap Tama.

Hak-hak atas kesehatan reproduksi dan seksual (SRHR) bersifat universal. Namun, meminggirkan kelompok lesbian, gay, biseksual, transjender, queer, dan interseks (LGBTQI). Mereka didiskriminasi karena orientasi seksual dan identitas jendernya, serta menghadapi ancaman kaum homofobia, heterofobia dan ekstremis transfobia.

Identitas jender, menurut American Psychological Association (2006), mengacu pada perasaan seseorang sebagai laki-laki, perempuan, atau transjender. Jika identitas jender dan seks tak selaras secara biologis, seseorang bisa diidentifikasi sebagai trans-seksual atau kategori transjender lain (Gainor, 2000). Orientasi seksual mengacu pada ketertarikan secara seksual kepada jenis seks tertentu, termasuk ketertarikan kepada seks sejenis (gay dan lesbian), kepada jenis seks yang lain (heteroseksual), atau keduanya (biseksual).

Kategori-kategori itu digunakan secara luas dan berkelanjutan. Namun, riset menunjukkan, orientasi seksual tak selalu muncul dalam kategori-kategori yang bisa didefinisikan dan tidak berkelanjutan (Klein 1993, Klein, Sepekoff & Wolff 1985). Beberapa hasil penelitian menunjukkan, orientasi seksual bersifat cair bagi beberapa orang, khususnya perempuan (Diamond, 2007, Peplau & Garnets, 2000). Tama dan Alia, juga Opi, Rika, Emil, dan lain-lain dari organisasi People Like Us, Ikatan Waria Yogyakarta (Iwayo), dan Satu Hati menguraikan rumitnya mendefinisikan peran, keterikatan, dan konstruksi sosial dalam hubungan sesama jenis.

“Ada istilah fake comfortability di kalangan remaja homoseksual,” jelas Opi (23), “Dalam masa tertentu, dia merasa nyaman, tetapi lalu ekspresi seksualnya ingin berubah dan bisa dengan lawan jenis.” Hal yang sama terjadi di kalangan hetero. “Tetapi, lebih sulit bagi kelompok ini mengakui dirinya biseksual,” sambung Amir dari Yotha-PKBI Yogyakarta.

Dikotomi dalam hidup tak bisa diandaikan. Amir mengutip Skala Kinsey, Skala Peringkat Heteroseksual-Homoseksual yang diciptakan Alfred Kinsey bersama Wardell Pomeroy dan Clyde Martin, pada tahun 1948. lam “Sexual Behavior in the Human Male” (1948) dan “Sexual Behavior in the Human Female” (1953), Kinsey menyatakan, perilaku seksual, baik yang secara sosial diterima maupun tidak diterima, heteroseksual atau homoseksual, adalah kenyataan. Hal yang disangkali ialah gradasi dari ujung ekstrem satu ke ujung ekstrem lainnya.

Kinsey menciptakan sistem klasifikasi yang mendeskripsikan sejarah seksual seseorang pada waktu tertentu, untuk menunjukkan kontinuitas gradasi dari sejarah perjalanan heteroseksual murni ke homoseksual murni. Skala dengan 7 peringkat itu menggambarkan gradasi tersebut secara lebih akurat. Kalau mengacu pada Kinsey, “koreksi” untuk “meluruskan” orientasi seksual sesuai dengan yang dianggap “normal” dalam norma arus utama, selain melanggar hak, juga sia-sia.

Correction rape biasanya dilakukan dengan paksaan menikah dan punya anak, tanpa dipahami, seksualitas di otak berlawanan dengan seksualitas fisik. “Kalau ketangkep, waria dipotong rambutnya, dipaksa memakai pakaian laki-laki,” kata Alia. Isu SRHR adalah perjuangan tanpa akhir, lebih-lebih di kalangan remaja dan kaum muda dengan seksualitas beragam. Hal inilah yang membuat posisi Yotha strategis dalam perjuangan kesetaraan dan keadilan.

Yotha diawali pengorganisasian komunitas waria tahun 1993, dengan program penanggulangan HIV/AIDS. “Sejak 2006, cakupannya lebih luas, terkait relasi kuasa, konstruksi sosial, identitas, serta hak-hak atas kesehatan reproduksi dan seksual,” ungkap Direktur PKBI Yogyakarta Gama Triono. Mereka juga mengubah model kampanye. “Kalau kampanye Hari Anti Kekerasan terhadap Perempuan berlangsung 16 hari, agenda kami 39 hari menuju Hari HAM, 10 Desember,” lanjutnya.

Sepanjang tahun 2005-2010 mereka menyelenggarakan berbagai kegiatan dan festival terkait seksualitas beragam. Sejak tahun 2012, Yotha dinyatakan sebagai gerakan. “Kalau dulu perjuangannya menolak kekerasan terkait jender biner, sekarang jender beragam,” sambung Tama. Isu yang rumit itu hampir tak pernah disentuh di ruang publik. Diskriminasi dan kekerasan terus berlangsung. Suara mereka hilang di ruang-ruang politik formal.

Dalam “Sexual Politics” (1970), ilmuwan feminis Kate Millet menulis, politik seksual sangat tajam mendefinisikan relasi-relasi atas dasar kontak personal antaranggota dari berbagai kelompok koheren, ras, kasta, kelas, dan seks. Kelompok yang tidak terwakili dalam struktur politik cenderung terus ditindas. “PKBI Yogya menggantikan peran negara untuk menanggapi isu ini,” tegas Tama.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s