Anjing Ternyata Juga Suka Cemburu Seperti Manusia


Ada riset yang menyatakan anjing merupakan sahabat terbaik manusia, dan anjing terus menginginkan keadaan ini. Berdasarkan penelitian yang dipublikasikan PLOS ONE, ternyata anjing mampu merasakan kecemburuan,.

Ini merupakan eksperimen pertama oleh psikolog dari University of California, Christine Harris, untuk meneliti kecemburuan anjing, seperti dikutip Reuters, Rabu, 23 Juli 2014. Para pemilik 36 anjing trah kecil diminta melakukan tiga hal. Mereka mencurahkan perhatian kepada mainan berbentuk anjing, hiasan manusia labu, serta membaca buku anak-anak dengan keras, sembari mengabaikan hewan peliharaan mereka.

Para peneliti pun memperhatikan reaksi anjing-anjing tersebut. Hampir 80 persen anjing mendorong atau menyentuh para pemilik ketika mereka lebih memilih meluangkan waktu dengan mainan. Anjing-anjing itu melakukannya dua kali lebih sering ketika para pemilik bermain dengan hiasan manusia labu. Bahkan saat para pemilik mereka membaca buku, anjing-anjing ini empat kali mendorong mereka.

Seperempat jumlah anjing menyalak kepada mainan berbentuk anjing, sambil mengibaskan ekor mereka. Hanya ada satu anjing yang menyalak pada hiasan manusia labu dan buku. “Kami tidak bisa menanyakan perasaan pribadi anjing, tentu saja, tapi mereka terlihat sangat ingin menjaga hubungan sosial yang dimiliki,” kata Harris.

Dari studi serupa dalam penelitian terhadap kecemburuan yang dimiliki bayi, anjing disebut memiliki emosi lebih dalam dibanding hewan lainnya. Para peneliti mengatakan kecemburuan ini bisa berkembang karena hewan berusaha menjaga hubungan seksual mereka dengan pasangannya, atau berlomba mencari perhatian dari orang tuanya.

Hal ini bisa muncul pada anjing yang memiliki hubungan baik dengan manusia. Memahami kecemburuan ini menjadi tugas ilmiah penting menurut para peneliti. Mereka menilai kecemburuan kerap dianggap penyebab pembunuhan antar kelompok budaya.

Angka Kematian Akibat Malaria Menurun


Para peneliti menemukan bahwa adanya penekanan focus pada MDGs telah mendorong penurunan kasus-kasus dan kematian karena malaria di Indonesia dan di seluruh dunia. Secara menakjubkan, Indonesia telah mencatat penurunan angka kematian karena malaria hingga separuhnya per 100.000 orang antara 1990 dan 2013.

Di tahun 2013, angka kemarin yang disebabkan oleh malaria adalah sebesar 1.4 per 100.0000, dibandingkan angka rata-rata global yang tercatat sebesar 11,8. Tetapi malaria masih merupakan masalah kesehatan utama di Indonesia, yang telah merenggut 3.100 korban di tahun lalu serta adanya 2 juta kasus baru.

Epidemi malaria global mengalami puncaknya pada awal 2000an, dimana tercatat sebanyak 232 juta kasus di tahun 2003 dan 1,2 juta kematian terjadi di tahun 2004. Di seluruh dunia, tercatat 164,9 juta kasus malaria dan 854.566 kematian disebabkan oleh malaria di tahun 2013.

Sebagaimana halnya dengan HIV/AIDS, masalah malaria banyak ditemukan di wilayah sub-Sahara Afrika. Dari angka yang tercatat di tiga negara – Nigeria, Kongo dan India – yang bisa dikatakan adalah separuh dari angka kematian kerana malaria di tahun 2013, dua di antaranya terletak di sub-Sahara Afrika.

The Institute for Health Metrics and Evaluation (IHME) merupakan organisasi riset kesehatan global di University of Washington, bekerja secara independen dan menghasilkan berbagai data penelitian yang didasarkan pada penelitian yang teliti dan terukur dalam menelaah masalah-masalah kesehatan utama di seluruh dunia, serta mengevaluasi strategi-strategi yang digunakan dalam menanganinya.

IHME menyediakan informasi seluas-luasnya, sehingga para pengambil keputusan memiliki bukti-bukti yang mereka butuhkan dalam membuat keputusan yang berdasarkan informasi lengkap dalam mengalokasikan sumber-sumber daya yang ada untuk memperbaiki kondisi kesehatan masyarakat.

Di Indonesia Tuberkulosis Menjadi Penyakit Mematikan Pembunuh Nomor 1


Di Indonesia, pemberantasan penyakit tuberkulosis (TB) masih tertinggal jika dibandingkan negara-negara lainnya. Di seluruh dunia, prevalensi TB pada mereka yang tidak terkena HIV/AIDS di tahun 2013 tercatat sebesar 160,2 per 100.000, sementara prevalensi di Indonesia memperlihatkan angka 185,5 per 100.000.

Berdasarkan sebuah penelitian, di Indonesia angka kematian karena TB telah menurun sebesar 2,6 persen per tahun, selama satu dekade terakhir. Sementara secara global, angka kematian karena TB telah menurun sebesar 3,7 persen per tahun. Tahun lalu, sebanyak 108.723 orang Indonesia penderita HIV/AIDS meninggal karena TB. Di dalamnya jumlah pria lebih banyak sebagai korbannya. Secara bersamaan, kematian karena HIV dan TB sangat umum dialami oleh pria di seluruh dunia.

Di seluruh dunia, pengobatan yang lebih dini serta lebih efektif telah membantu mempercepat durasi infeksi TB, tetapi dari hasil penelitian tercatat bahwa semakin dunia bertambah tua, akan semakin tinggi angka kasus dan kematian karena epidemi ini yang akan terjadi. Ditilik dari angka kematian yang terjadi dalam rata-rata usia yang telah tertentu, negara-negara dengan angka kematian tertinggi karena TB adalah negara-negara sub-Sahara di Afrika, yaitu Lesotho, Somalia, dan Burundi.

“Seiring dengan populasi yang semakin tua, tuberkulosis tetap akan menjadi ancaman kesehatan utama,” kata Dokter Nobhojit Roy dari BARC Hospital di India yang juga merupakan co-author dari studi ini. “TB menghadirkan tantangan yang unik di berbagai negara dan wilayah yang berbeda, dan data yang lebih baik akan membantu terciptanya strategi yang efektif dalam menghadapi masalah tersebut,” kata Nobhojit.

Pada tahun 2013, tercatat sebanyak 7,5 juta kasus baru TB di seluruh dunia. Penyakit ini telah menyebabkan 1,4 juta kematian di seluruh dunia.Titik Yulianti tersenyum lebar. Perempuan 25 tahun ini tak bisa menyembunyikan kegirangannya saat ditanya perihal pengobatan penyakit tuberkulosisnya. “Sekarang sudah sehat dong, sudah bersih sejak dua bulan lalu,” katanya di Banyumas, Jawa Tengah, Jumat, 4 April 2014.

Bergulat setengah tahun lebih dengan penyakitnya batuknya itu, ia akhirnya dinyatakan sembuh oleh dokter. Titik merupakan korban kuman Mycobacterium tuberculosis ketiga di komplek rumahnya di Sokaraja, Banyumas, Jawa Tengah. Sebelumnya, kakaknya, Puji Sarono, juga mengalami penyakit serupa.

Puji baru sembuh setelah menjalani pengobatan intensif tuberkulosis selama 6 bulan. Penderita lainnya adalah Sono, tetangga depan rumah mereka yang telah dua tahun lebih mengidap penyakit itu. Dari ketiganya, hanya Sono belum juga membaik. Sono menolak menjalani pengobatan karena obat yang diberikan petugas medis membuatnya mual. “Sudah didatangi orang rumah sakit, tapi tetap saja bandel,” kata Titik. Takut tertular, kini tetangga memilih tak mendekati Sono.

Tuberkulosis, atau disebut dengan TB, merupakan penyakit yang ditularkan melalui udara. Kuman TB dikeluarkan percikan dahak penderita lewat batuk, bersin, meludah, atau berbicara. Jika terjangkit penyakit ini, gejala awalnya berupa batuk berdahak lebih dari tiga minggu, nyeri dada, nafsu makan kurang, dan berat badan melorot. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mendesak lebih dari 30 negara, termasuk negara-negara maju, untuk mengenali bahaya lanjutan dari penyakit tuberkulosis dan diminta bersama memberantasnya pada 2050.

Meskipun tuberkulosis (TBC) adalah penyakit yang bisa dicegah dan disembuhkan, WHO merilis masih ada 155 ribu orang terinfeksi setiap tahunnya di 33 negara berkembang. Sebanyak 10 ribu orang di antaranya meninggal dunia. Jumlah kasus TBC yang tercatat pada setiap tahun di beberapa negara, mulai Australia ke Prancis dan Jerman, lalu Selandia Baru ke Amerika Serikat, diperkirakan berjumlah seratus kasus per juta penduduk. WHO menggarisbawahi jutaan orang masih tak sadar telah terinfeksi bakteri basil tuberkulosis, yang dapat ditularkan melalui bersin.

“Jika Anda berbincang dengan masyarakat umum dari negara-negara ini, (mereka pikir) itu adalah penyakit masa lalu yang kini sudah tidak ada lagi,” kata Marco Raviglione, Kepala Program Anti-Tuberkulosis WHO, seperti dilansir Asiaone, Jumat, 4 Juli 2014. Menurut WHO, TBC menjangkiti 1,3 juta jiwa di seluruh dunia pada tahun lalu dan membuat TBC menjadi penyakit mematikan setelah AIDS, yang disebabkan oleh agen infeksi tunggal. Sebanyak 33 negara telah berhasil memerangi TBC karena relatif memiliki tingkat penderita tuberkulosis yang rendah bila dibandingkan dengan Cina, India, negara-negara Eropa Timur, dan Asia Tengah.

“Kami menghitung ada 33 negara yang berhasil mengendalikan TBC dengan jumlah kasus yang rendah dan memungkinkan mereka memberantas penyakit itu. Negara-negara itu harus menunjukkan kepada dunia bahwa kita bisa melakukannya,” kata Raviglione kepada wartawan. Masyarakat yang rentan terhadap penyakit ini adalah mereka yang berada di dalam penjara dan orang-orang dengan kekebalan tubuh yang rendah, termasuk penderita HIV, penderita kurang gizi, penderita diabetes, perokok, dan pecandu alkohol. Semua memiliki risiko tinggi terkena TB. Kekhawatiran utama WHO, mereka yang rentan terkena TBC adalah orang-orang yang kesulitan mendapat akses pelayanan kesehatan.

Raviglione mengatakan adanya “keputusan berani” dari para pemimpin negara bisa menekan jumlah kasus penderita TB pada 2035, dari angka seratus kasus per juta per tahun menjadi sepuluh kasus per juta per tahun. “Karena itu, pada 2050, kita bisa benar-benar menghapus penyakit tuberkulosis, yang berarti kurang dari satu kasus per juta orang setiap tahun,” katanya. Tuberkulosis atau yang lebih dikenal TB merupakan penyakit infeksi saluran pernafasan yang masih menjadi momok menakutkan di kalangan masyarakat Indonesia. Penyakit ini merupakan penyakit menular yang masih menjadi perhatian dunia, dan hingga saat ini belum ada satu negara pun yang bebas dari TBC.

“TB menular lewat ludah dan dahak ketika si pengidap batuk. Penyebarannya pun sangat mudah yakni melalui udara, “ ujar Dr Telly Kamelia, SpPD dalam seminar “Kenali Batuk dan Terapinya” dalam rangka peringatan Hari TB Sedunia (World TB Day), di Jakarta, Sabtu 29 Maret 2014, melalui keterangan tertulisnya. Jika seseorang terlihat mengidap batuk yang berkepanjangan, Telly mengingatkan, maka orang di sekitarnya harus menjaga jarak atau waspada. Seperti contohnya tidak sembarangan memegang tangan atau barang milik si pengidap TBC. Pasalnya, area tangan dan barang yang biasa dipegang orang tersebut adalah tempat terbanyak bersarangnya kuman TB.

“Karenanya, pengidap harus sadar diri untuk tidak menularkan kepada lingkungan sekitar dengan sering mencuci tangan dan membuang bekas tisu langsung di tempat sampah yang tertutup. Jika batuk tak tertahan, tutuplah mulut dengan lengan baju sehingga kuman tidak berterbangan di udara,” lanjutnya. Dewi Isnaniar, Senior Brand Manager Bisolvon menambahkan Salah satu gejala penyakit TB yang sering dijumpai adalah batuk terus menerus, dan terdapatnya dahak (sputum). Pengobatan TB yang memakan waktu 6-8 bulan pun menimbulkan hambatan baik dari segi biaya maupun kontinuitas mengonsumsi obat.

Untuk itu, pasien TB hendaknya diberikan pendamping. Di Indonesia, pendampingan umumnya dilakukan oleh keluarga atau orang terdekat. Sayangnya, tidak semua pendamping memiliki pengetahuan yang cukup. “Tujuan dari seminar ini agar masyarakat lebih memahami tentang penyakit TB, dan banyak mengatasinya ,” ujar Dewi. Sebuah tim dari Albert Einstein College of Medicine di New York secara kebetulan menemukan bahwa vitamin C dapat membunuh bakteri tuberkulosis. Bakteri tuberkolosis adalah penyebab penyakit tuberkulosis yang menyerang paru-paru

“Aku tak percaya. Kami menemukan bahwa vitamin C membunuh TB,” kata William Jacobs, salah satu dari peneliti di sana mengungkapkannya dalam situs News Max Health edisi 22 Mei 2013. Hasil penelitian ini kemudian diterbitkan dalam Jurnal Nature Communications. Dia menekankan, sejauh ini manfaatnya hanya terlihat dalam laboratorium. “Kami belum tahu apakah itu akan bekerja pada manusia,” ujar Jacobs. “Tapi sebenarnya, penelitian ini pun semula bukan untuk mencari manfaatnya untuk manusia. Ini hanya kebetulan.”

Pada tahun 2011, diyakini ada sekitar 12 juta kasus TB total – 630.000 dari mereka tidak merespon terhadap obat yang paling ampuh (isoniazid dan rifampisin). Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) sempat mengumumkan keadaan darurat kesehatan global karena TB 20 tahun lalu. Meskipun TB adalah penyebab utama kematian akibat penyakit menular, tingkat kematian TB mengalami penurunan 41 persen pada 1990-2011. Pada 2011, sebanyak 8,7 juta orang menderita TB dan 1,4 juta meninggal dunia, kata WHO. Lebih dari 95 persen kematian akibat TB terjadi di negara berpenghasilan rendah dan menengah.TB juga jadi ancama pembunuh bagi ODHA (Orang Dengan HIV Aids).

TBC biasanya diobati dengan antibiotik rutin selama enam bulan. Resistensi (perlawanan) terhadap obat TB terjadi ketika obat gagal membunuh bakteri yang menyebabkan TB. Ini dapat terjadi karena pasien tidak mengikuti dosis yang dianjurkan atau karena obat tidak bekerja. TB juga menular secara langsung dari orang ke orang. Penyembuhan TB membutuhkan sekitar dua tahun pengobatan dengan obat-obatan yang lebih paten (dan lebih mahal). Hal ini menyebabkan efek samping dan tidak memberikan jaminan untuk sembuh.

Oleh sebab itu, ilmuwan berharap ada penelitian lebih lanjut untuk melihat potensi penggunaan vitamin C dalam pengobatan TB. Selain murah, vitamin C mudah didapat dan aman digunakan. “Ini akan menjadi sebuah studi besar,” kata Jacobs

Air Kelapa Terbukti Mampu Penuhi Kebutuhan Cairan Selama Puasa


Berpuasa kurang-lebih 14 jam sehari dapat menyebabkan tubuh lemas dan kekurangan cairan. Selama berpuasa, kadar gula darah yang diperlukan sebagai sumber energi berkurang sehingga tubuh lemas.

Aktivitas dalam ruangan berpenyejuk udara membuat tubuh kehilangan 1 persen hingga 2 persen cairan, baik melalui urine, metabolisme tubuh, ataupun proses pencernaan.

“Berkurangnya kadar gula darah dan kehilangan cairan ini menyebabkan pusing kepala dan tidak nyaman sekitar pukul tiga sore,” kata dr Fiastuti Witjaksono, MS, SpGK, dokter spesialis gizi klinik dalam “Media Gathering Buavita: Mixology Class di Patio Cafe” belum lama ini.

Untuk kaum urban, nutrisi selama berpuasa dapat diperoleh melalui air kelapa. Menurut Fiastuti, berdasarkan perhitungan zat gizi dari United States Department of Agriculture (USDA), dalam 100 miligram air kelapa terkandung kadar air sebesar 94,99 persen yang terbukti secara klinis dapat mengembalikan kesegaran dan kebugaran tubuh setelah kekurangan cairan.

Selain air kelapa, kebaikan buah Nusantara lain: markisa dan sirsak dapat memelihara kesegaran tubuh saat berpuasa. “Terdapat vitamin C sebesar 30 miligram dalam 100 gram markisa yang bisa menjaga daya tahan tubuh dan kadar potasium (kalium) sebesar 348 miligram dalam 100 gram markisa yang membantu menjaga keseimbangan elektrolit dan mencegah dehidrasi,” kata Fiastuti.

Dalam sirsak pun terdapat Vitamin B1 yang berperan dalam proses pembentukan energi serta 21 miligram magnesium yang membantu metabolisme energi dalam tubuh.

30 Juta Orang Harus Hidup Dengan HIV/AIDS Tahun 2013


Secara global, di tahun 2013, hampir sebanyak 30 juta orang hidup dengan HIV/AIDS, 1,8 juta baru terinfeksi dan 1,3 juta meninggal karena penyakit tersebut. Pada saat puncak epidemi berlangsung di tahun 2005, HIV/AIDS telah merenggut sebanyak 1,7 juta nyawa.

Insiden HIV/AIDS meningkat di tahun 1997 dengan tercatatnya sebanyak 2,8 pasien terinfeksi baru dan sejak itu terjadi penurunan sebesar 2,7% per tahun. Epidemi tetap terkonsentrasi di sub-Sahara Afrika. Prevalensi tertinggi ada di Botswana, Lesotho dan Swaziland (di atas 12.000 per 100.000 orang). Prevalensi HIV/AIDS di Botswana, contohnya, 15 kali lebih tinggi daripada Republik Demokrat Kongo (DRC) dan 40 kali lebih tinggi dari Nigeria.

Studi ini juga menampilkan perubahan yang substansial dalam hal pemahaman mengenai epidemi HIV/AIDS. “HIV, Malaria dan TBC, merupakan penyebab utama masalah kesehatan dan kematian di negara-negara miskin, dan ketiganya harus mendapat perhatian khusus dari semua dukungan dan upaya penanganan kesehatan secara global,” kata Alan Lopez, Melbourne Laurate Profesor di University of Melbourne yang juga bertindak sebagai co-founder dari Studi Global Burden of Disease (GBD) ini.

Menurut Alan. tanpa hal itu, semua orang akan menghadapi resiko terjadi stagnasi, bahkan lebih buruk lagi, akan terjadi perubahan dari hasil yang telah dicapai saat ini. Perbaikan yang dilakukan dalam metologi yang digunakan oleh IHME juga memperlihatkan, bahwa secara kumulatif, negara-negara yang telah teridentifikasi sebagai konsentrasi dari epidemic ini mencatat angka kematian 39% lebih rendah dan angka orang yang hidup dengan HIV/AIDS 53% lebih rendah.

Secara kontras, angka kematian di negara-negara yang telah terjangkiti epidemi secara luas meningkat sebesar 23%, dan populasi orang-orang yang terinfeksi HIV tercatat 3% lebih tinggi. Dibandingkan satu dekade lalu, tercatat lebih banyak orang Indonesia yang meninggal karena HIV/AIDS, namun demikian lebih sedikit orang Indonesia yang meninggal karena tuberkulosa dan malaria, demikian menurut data terbaru, yang ditunjukkan oleh satu tinjauan tren analisa data menggunakan metode yang hanya ada satu di dunia.

Kecepatan penurunan angka kematian karena malaria serta infeksi dari malaria terjadi sejak tahun 2000, ketika Millenium Development Goals (MDGs) dicanangkan di seluruh dunia dalam rangka menghentikan penyebaran penyakit-penyakit tersebut pada tahun 2015. Epidemi HIV/AIDS meluas di Indonesia mulai tahun 2000, tetapi angka kematian karena HIV/AIDS tercatat sepertiga lebih kecil dibandingkan angka rata-rata global, yaitu 5,7 kematian dari 100.000 orang di Indonesia, dibandingkan angka global yang tercatat sebesar 18,5.

Kemajuan dalam penanganan malaria memperlihatkan hasil yang menjanjikan, dengan angka penurunan per tahun sebesar 5,2% untuk kematian antara tahun 2000 dan 2013, dibandingkan dengan penurunan angka kematian global yang hanya mencatat 3,1%. Namun demikian, tuberkulosa (TB) masih memperlihatkan bahwa Indonesia masih tertinggal dibandingkan dengan angka rata-rata global. Diterbitkan dalam The Lancet pada 22 Juli, studi “Global, regional, and national incidence and mortality for HIV, tuberculosis, and malaria during 1990–2013: a systematic analysis for the Global Burden of Disease Study 2013,” dilakukan oleh sebuah konsorsium sejumlah peneliti internasional dipandu oleh the Institute for Health Metrics and Evaluation (IHME) di University of Washington.

Studi GBD 2013 menyampaikan pendekatan yang komprehensif dan konsisten untuk memperkirakan dampak dari HIV, TB dan Malaria di Indonesia sejak tahun 1990 hingga 2013.

Konsorsium menganalisa dan mengukur tiga hal yaitu insiden, prevalensi dan angka kematian selama periode tersebut. Penekanan khusus juga dilakukan dengan menggabungkan data-data baru, mengurai berbagai hal-hal yang meragukan secara lebih teliti, serta menghitung dan mempertimbangkan berbagai distorsi atau bias yang mungkin muncul dari berbagai sumber data.

“Studi terbaru yang bersifat massal ini, yang kami hadirkan di saat-saat usainya era MDGs, mendokumentasikan kemajuan yang sangat pesat dalam hal penanganan HIV dan Malaria, khususnya, tetapi juga memperlihatkan berbagai hal yang masih perlu kita lakukan,” ungkap Dr. Alan Lopez, Melbourne Laurate Profesor di University of Melbourne yang juga bertindak sebagai co-founder dari Studi Global Burden of Disease (GBD) ini.

“Ketiganya merupakan penyebab utama masalah kesehatan dan kematian di negara-negara miskin, dan ketiganya harus mendapat perhatian khusus dari semua dukungan dan upaya penanganan kesehatan secara global. Tanpa hal itu, kita semua akan menghadapi resiko terjadi stagnasi, bahkan lebih buruk lagi, akan terjadi perubahan dari hasil yang telah dicapai saat ini,”kata Alan.

Indonesia tidak memiliki dokumentasi mengenai HIV/AIDS hingga tahun 2000, dan epidemi ini telah tumbuh dengan cepat selama sepuluh tahun terakhir. Angka kematian karena HIV/AIDS di Indonesia meningkat sebesar 87,5% per tahun selama kurun waktu tersebut – angka pertumbuhan tertinggi di dunia. Tahun lalu, sebanyak 14.446 orang Indonesia – hampir 70% adalah pria – meninggal dunia karena HIV/AIDS. Antara tahun 2000 dan 2013, kasus-kasus baru meningkat setiap tahunnya sebesar 28,1%; tahun lalu saja, sejumlah 45.159 tercatat adanya kasus baru.

Namun demikian, angka kasus baru yang muncul dan angka kematian karena HIVAIDS di Indonesia masih rendah dibandingkan dengan angka rata-rata global.

4 Ancaman Penyakit Menular Yang Mampu Memusnahkan Manusia Modern


Penyakit menular menjadi masalah penting di dunia. Dalam surat elektronik yang dikirim Tjandra Yoga Aditama pada Minggu, 20 Juli 2014, Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan (Balitbangkes) Kementerian Kesehatan ini menceritakan, dalam tiga pekan ini, ada empat penyakit menular yang jadi masalah penting di dunia. “Kalau mau dikatakan trending topic bidang kesehatan dunia, empat penyakit menular ini lagi berjaya, seperti Middle East respiratory syndrome (MERS) atau virus corona, lalu flu burung, ebola, dan polio,” kata Tjandra.

Mantan Dirjen Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Kementerian Kesehatan ini memaparkan, berdasarkan keterangan Badan Kesehatan Dunia (WHO), untuk kasus MERC CoV di dunia ada 827 kasus dengan 287 kematian. “Sepanjang Juli 2014, WHO menerima laporan MERS CoV berupa tujuh kasus di Saudi Arabia dan satu kasus di Iran,” kata Tjandra.

Adapun untuk flu burung yang kini banyak dilaporkan adalah akibat avian influenza A (H7N9). “Yang terlahir dari data Badan Kesehatan Dunia (WHO) dari Cina dan Taiwan untuk kasus flu burung. Adapun untuk kasus ebola di Afrika ada sekitar 844 kasus dengan 518 kematian. Untuk kasus ebola dilaporkan ada 50 kasus dengan 24 kematian,” katanya.

Tjandra juga menjelaskan para menteri kesehatan beberapa negara di Afrika sudah melakukan koordinasi untuk penanggulangan bersama, terutama untuk kasus-kasus yang terjadi di Liberia, Guinea, dan Siera Leona. Mengenai penyakit menular polio, Tjandra mengatakan, di satu sisi kini dunia menuju situasi bebas polio, termasuk Indonesia yang sudah mendeklarasikan bebas polio pada Mei lalu. “Namun kini ada virus polio liar seperti laporan yang diterima Badan Kesehatan Dunia (WHO) yang menemukan Wild Polio Virus type 1 (WPV 1) di sistem pembuangan. Kemudian, juga laporan penemuan WPV 1 di Equatorial Guinea dan Kamerun,” dia menjelaskan.

Sejauh ini, kata Tjandra, pengendalian penyakit di Indonesia sudah mempunyai sistem untuk menangani masalah kesehatan global. “Baik melalui mekanisme International Health Regulation (IHR) 2005, lalu melalui konsep pencegahan deteksi dan respons. Kemudian agenda keamanan kesehatan global,” kata Tjandra.

10 Buah Yang Paling Baik Dimakan Saat Musim Panas


Musim panas yang penuh dengan sengatan dan terik matahari ada banyak orang berpikir untuk menikmatinya dengan bersantap buah. Pada musim ini ada banyak buah-buahan yang tersedia yang membantu mendinginkan teriknya sengatan matahari dan memaniskan hati dan pikiran. Menurut situs All Women Stalk pada edisi Juli, memaparkan sepuluh buah yang paling dicari selama musim panas. Buah-buahan yang mengandung antioksidan, vitamin dan serat sangat disarankan di musim panas sebagai berikut:

1. Semangka
Ketika panas terik berada di ujung kepala, siapa yang tidak tergoda atu tergiur melihat merah dan menariknya daging buah semangka apalagi bila disajikan dalam keadaan dingin. Semangka menjadi buah dan makanan ringan yang menyempurnakan hari Anda apabila sedang berterik ria berada di pantai. Khasiat buah ini mengisi cairan tubuh yang hilang, membantu Anda tetap dingin, terhindar dari dehindrasi dan mengenyangkan perut. Manfaat lainnya, buah ini mengandung dosis yang sehat dari lycopene yang melindungi kulit terhadap kerusakan akibat sinar matahari dan buah ini pun sumber terbaik dari vitamin A dan C.

2. Stroberi
Pada hanya 49 kalori setiap cangkir stroberi tidak hanya menyajikan rasa yang luar biasa lezat. Buah ini juga menyehatkan Anda, untuk setiap potongan buah ini mengandung tiga gram serat dan satu gram protein. Menjadi sumber terbaik untuk vitamin C, folat, kalium dan zat besi. Kemudian stoberi dapat membantu mempromosikan peningkatan aliran darah ke kulit, mengurangi kepekaan terhadap cahaya dan memperbaiki struktur serta tekstur penampilan
kulit Anda.

3. Nanas
Membayangkan gambar tempat eksotik menikmati liburan tropis, buah nanas merupakan pilihan terbaik. Buah ini mengandung campuran terbaik dari vitamin dan antioksidan. Kemudian juga mengandung enzim, seperti bromelain yang bermanfaat melindungi tubuh dari peradangan dan membantu menyeimbangkan serta menjaga usus Anda.

4. Mangga
Sebagai salah satu buah tropis, mangga sangat laris manis dicari saat musik panas. Dan membayangkan menikmati pantai yang indah, sejuk dan menikmati irisan buah mangga atau segelas jus buah yang dagingnya berwarna oranye ini. Sangat rendah kalori, meski kandungan airnya sangat tinggi tapi mengandung kalium, vitamin A dan beta-karoten.

5.Kiwi
Buah kiwi hijau dan kuning mengandung lebih banyak vitamin C dibanding jeruk. Memiliki kandungan vitamin E, kalium dan serat sekitar 40 kalori pada setiap satu buah kiwi.

6. Pepaya
Pepaya merupakan buah yang memiliki rasa manis yang ringan. Memiliki kandungan potasium yang tinggi, vitamin A, C, Folat, Beta Karoten. Dan secangkir buah pepaya yang dihaluskan memiliki 55 kalori. Buah inipun kaya akan papain atau enzim pencernaan sangat bagus untuk menjaga sistem pencernaan di dalam tubuh.

7. Persik
Sering disebuh buah peach atau plum yang memiliki hubungan cinta dan benci. Banyak orang kesulitan mendapatkan buah ini saat matang dan menjadi buah yang diburu seperti mengejar cinta, namun saat mentah buah ini tidak menarik dan layak dibenci. Buah ini banyak dijumpai dan panen besar saat musim panas. Mengandung
vitamin A dan C selain kalorinya juga sangat rendah.

8.Ara Segar
Buah ini sering disebut Figs yang hanya tersedia di musim panas. Tak heran buah ini diperlakukan sangat istimewa. Kadar gulanya lebih tnggi dibanding buah yang lain, namun juga mengandung serat yang tinggi, kaya akan kalium, sumber Vitamin B6, kalsium dan zat
besi.

9.Anggur
Belum sempurna menikmati musim panas bila tidak bersantap buah yang satu ini. Sebagai makanan ringan sering jadi alternatif camilan, buah ini mengandung fitonutrien tinggi. Kaya sert, antioksigan sangat bagus dan disarankan untuk kesehatan serta kecantikan kulit dan kaya vitamin A dan C.

10.Ceri
Ceri adalah buah musim panas lain yang mengandung sumber anthocyanin atau anti inflamasi, dapat digunkaan untuk mengurangi faktor risiko diabetes tipe 2, kaya antioksidan, disarankan bagus untuk pencegahan kanker karena mengandung quercetin dan asam ellagic.