Seks Sebelum Nikah Bikin Wanita Sulit Orgasme Karena Wanita Malu Kemukakan Keinginan Seksnya


Pada ajaran agama, budaya, dan norma tertentu, seks pranikah merupakan sebuah hal yang tabu dan bertentangan. Namun, kenyataanya hal tersebut tidak menghentikan sejumlah orang untuk melakukannya, baik tanpa pengaman maupun menggunakan pengaman. Alhasil, dari waktu ke waktu jumlah penderita penyakit yang ditularkan lewat hubungan seksual terus meningkat.

Ternyata, selain merugikan kesehatan, menurut sebuah studi, seks pranikah cenderung merugikan pihak wanita. Pasalnya, hasil studi mengatakan bahwa wanita tidak mendapatkan manfaat atau kenikmatan yang setara dengan pria.

Studi yang dipresentasikan dalam pertemuan anual International Academy of Sex Research ini, menyajikan informasi bahwa wanita yang terbiasa melakukan seks pranikah terbilang sulit mencapai orgasme ketimbang saat mereka melakukannya dalam ikatan pernikahan dengan pasangan resmi. Kondisi yang demikian tidak dialami oleh pria. Umumnya, seks pranikah atau seks dalam pernikahan, dinikmati oleh pria dengan kepuasaan seksual yang sama.

Profesor Neuroendokrinologi Emory University, Kim Wallen, menjelaskan, di zaman sekarang di mana kebebasan seksual merupakan bagian dari gaya hidup, banyak pasangan memilih melakukan aktivitas seks tanpa komitmen jangka panjang, padahal level kepuasan yang diperoleh lebih menguntungkan pria.

Selanjutnya, Wallen membeberkan, studi yang melibatkan 600 mahasiswa ini menemukan bahwa responden wanita yang mengaku merasakan orgasme dari seks pranikah hanya setengah dari mereka yang mengatakan baru meraih orgasme saat bercinta dengan suami setelah resmi menikah.

Para peneliti pun akhirnya menyimpulkan, kondisi sulit orgasme yang dirasakan saat berhubungan seks pranikah disebabkan wanita merasa risih dan malu untuk mengatakan keinginannya agar merasakan kenikmatan bercinta. Nah, saat sudah menikah, mereka mengaku lebih bisa berterus terang mengenai gaya dan posisi bercinta yang dapat merangsang diri untuk merasakan orgasme.

Penjelasan Ilmiah Mengapa Manusia Suka Nonton Film


Mengapa manusia lebih suka menikmati informasi dan hiburan yang bersifat audio visual seperti film daripada teks? Bukankah teks lebih memberikan detail daripada tayangan audio visual? Kenyataan itu mungkin mengherankan. Namun, bagi pakar seni cadas dari Institut Teknologi Bandung (ITB), Pindi Setiawan, kenyataan tersebut wajar. Manusia memang berevolusi untuk menonton film. “Manusia belum utuh bila sekadar bernaskah (literate),” katanya.

Petunjuk bahwa manusia berevolusi untuk menonton film atau bentuk hiburan audio visual lain bisa didapatkan pada gambar kuno pada cangkang kerang air tawar dari Trinil, Ngawi, Jawa Timur. Gambar kuno itu terungkap lewat penelitian Josephine CA Jordens dari Fakultas Arkeologi Universitas Leiden, Belanda. Riset mengungkap gambar itu dibuat bukan oleh manusia modern (Homo sapiens), melainkan Manusia Jawa Kuno (Homo erectus).

Dalam publikasi penelitian di jurnal Nature, Jordens menyatakan bahwa gambar kuno berupa garis zig zag itu berusia 500.000 tahun. Dengan usia itu, gambar kuno tersebut dinyatakan sebagai yang tertua di dunia.

Pindi mengungkapkan, kenyataan bahwa Manusia Jawa Kuno sudah bisa menggambar melemahkan teori ledakan kreativitas. Teori itu menyatakan bahwa kreativitas baru berkembang setelah manusia modern ada. Manusia tiba-tiba meletup kreativitasnya 40.000 tahun terakhir. “Letupan tersebut merujuk pada gambar dan patung prasejarah buatan manusia yang ‘kebetulan’ banyak ditemukan sekitar 40.000 tahun lalu,” kata Pindi, Minggu (7/12/2014).

Fakta yang terungkap dalam hasil riset Jordens mengungkap bahwa kreativitas manusia berkembang secara bertahap, seperti yang dinyatakan ilmuwan pada kubu lain dalam teori kreativitas gradual. “Teori ini merunut evolusi kreatif ‘hominid’ (ancient human) lebih dari 500.000 tahun lalu,” tutur Pindi. Menurut teori itu, kreativitas manusia sudah mengakar jauh sebelum manusia modern itu sendiri ada.

Pindi menjelaskan, teori kreativitas gradual itu pula yang bisa menjawab pertanyaan mengapa manusia lebih gemar menikmati tayangan audio visual daripada membaca sebuah naskah. Teori kreativitas gradual menyatakan, selama ribuan tahun, manusia terus mengembangkan koordinasi mata-tangan. Manusia mencanggihkan kemampuan mewujudkan imajinasi mulai dari wirama (verbal audio) hingga perupaan (wirupa visual).

Manusia belajar kreasi wirupa dari alam. Kreasi dimulai dari memungut bentukan alami, misalnya pada seni batu akik, kemudian meniru yang terlihat, hingga menciptakan perupaan seperti yang dipikirkan, seperti gambar manusia sempurna atau pun makhluk jadi-jadian. “Dan hasil dari tahap gradual itu, manusia masa kini sebenarnya telah berevolusi lebih dengan cara wirupa. Sehingga tidaklah mengherankan bila manusia senang membuat gambar bercerita, bahkan tanpa text, yang diperkaya dengan wirama (audio),” jelas Pindi.

“Evolusi itulah yang menyebabkan manusia sekarang, lebih mudah menerima pesan melalui wirama-wirupa (audio visual). Tingkat daya alih pesan wirupa dapat mencapai 70-80 persen,” imbuhnya. Pemahaman tentang evolusi kreatif manusia bisa digunakan sebagai dasar dalam penentuan metode penyampaian informasi. Transfer pengetahuan sebaiknya tidak hanya dilakukan lewat teks saja. Pindi mengungkapkan, dalam era kreatif masa kini, program kampanye untuk belajar misalnya, jangan hanya berupa ajakan “Ayo membaca/membuat Buku”, tetapi juga “Ayo menonton/membuat Film.”

“Karena menonton film yang bersifat wirama wirupa itu akan membuat manusia menjadi lebih manusiawi,” kata Pindi. Jangan ragu membuat narasi narasi pengetahuan dengan cara wirama-wirupa. Torehan tertua di dunia yang terdapat pada cangkang ternyata berasal dari tanah Jawa, tepatnya dari situs Trinil, Ngawi, Jawa Timur. Penelitian yang dipublikasikan di Nature pada Senin (1/12/2014) mengungkapnya.

Josephine CA Jordens, peneliti pada Fakultas Arkeologi di Universitas Leiden, Belanda, beserta rekannya adalah pihak yang mengonfirmasi bahwa torehan tersebut merupakan yang tertua, berasal dari masa 500.000 tahun lalu. Jordens sedang mengerjakan proyek penelitian tentang penggunaan sumber daya laut oleh spesies manusia purba Homo erectus di situs Trinil, Jawa Timur. Ia kemudian menganalisis cangkang kerang air tawar spesies Pseudodon vondembuschianus trinilensis.

Saat menganalisis, ia menemukan perforasi atau lubang-lubang kecil selebar beberapa milimeter pada permukaan cangkang kerang. Menurut dia, hal itu merupakan indikasi adanya orang pada masa itu yang berupaya membuka cangkang dengan alat tajam macam gigi hiu. Rekan Jordens kemudian memotret cangkang tersebut dan mengamatinya lebih detail. Lewat pengamatan saksama, diketahui bahwa permukaan cangkang tersebut memiliki torehan-torehan berbentuk zig-zag.

Pengamatan di bawah mikroskop kemudian menguak bahwa pola zig-zag itu dibuat secara sengaja. Garis zig-zag yang masing-masing memiliki panjang 1 cm tersebut kontinu, tidak putus-putus, menunjukkan bahwa pembuatnya menaruh perhatian pada detail. Jordens dan rekannya melakukan penanggalan pada sedimen yang terdapat pada cangkang dengan argon dan luminescence. Hasil penanggalan mengungkap bahwa pola zig-zag itu berasal dari masa 500.000 tahun lalu, bukan dibuat oleh Homo sapiens, melainkan Homo erectus.

“Penemuan ini sangat spektakuler dan berpotensi mengubah cara pandang kita tentang Homoawal (manusia purba),” kata Nick Barton, arkeolog dari Universitas Oxford yang tak terlibat studi. Apakah torehan tersebut merupakan bentuk seni? Jordens mengatakan, “Jika Anda tidak mengetahui tujuan dari seseorang yang membuatnya, maka tidak mungkin untuk menyebutnya sebagai seni.”

“Akan tetapi, di sisi lain, ini adalah gambar purba. Ini adalah cara untuk mengekspresikan diri. Apa tujuan dari orang yang membuatnya, kita tidak tahu,” ungkap Jordens seperti dikutip Nature, Rabu (3/12/2014). Clive Finlayson, pakar hewan dari Museum Gibraltar yang juga terlibat dalam studi, mengatakan, yang terpenting dari temuan ini adalah bahwa manusia purba sudah punya kemampuan berpikir abstrak, sama seperti manusia modern.

Cangkang kerang yang dianalisis ditemukan oleh paleontolog Eugene Dubois di situs Trinil pada tahun 1896. Dubois juga menemukan kerangka Homo erectus. Kerangka dan cangkang itu lalu dikirim ke Museum Leiden pada tahun 1930

Indonesia Perlu Mandiri Soal Satelit


Sudah waktunya Indonesia lebih mandiri soal satelit. Saat ini, Indonesia masih bergantung pada satelit milik dan buatan asing.

Hal itu mengemuka dalam seminar nasional keantariksaan yang diadakan Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan), Rabu (10/12/2014), serta diskusi pencapaian akhir tahun Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), Senin (8/12/2014).

Dani Indra Widjanarko dari Asosiasi Satelit Indonesia mengatakan bahwa semua satelit yang dimiliki Indonesia saat ini adalah milik dan buatan asing.

“Sekarang konsumsi kita itu 30 satelit. Dari 30, yang milik Indonesia hanya enam. Di antara enam yang kita punya, itu beli semua. Padahal, kita seharusnya bisa membuat satelit sendiri,” kata Dani dalam diskusi Lapan hari ini.

Pengembangan satelit sendiri, menurut Dani, diperlukan sebab kebutuhan dalam negeri yang memang besar.

“Indonesia beda dengan negara lain. Argentina bikin satelit sendiri, tetapi yang serap hanya satu-dua. Kita ini negara kepulauan, tidak mungkin masing-masing pulau dihubungkan dengan kabel,” kata Dani.

Kebutuhan Indonesia akan satelit diprediksi terus meningkat. Untuk satelit komunikasi, kebutuhan meningkat seiring penetrasi mobile, televisi berbayar, serta pembangunan desa.

Sementara itu, kebutuhan satelit remote sensing juga meningkat terkait dengan visi pemerintahan baru. Pengamatan aktivitas di lautan, penginderaan hutan, dan kebencanaan akan membutuhkan bantuan satelit.

Dalam kesempatan terpisah, Ridwan Djamaluddin, Deputi Bidang Teknologi Pengembangan Sumber Daya Alam BPPT, mengatakan bahwa sudah saatnya Indonesia punya satelit sendiri.

Satelit lokal dibutuhkan ketika Indonesia memiliki kebutuhan spesifik. “Misalnya, kita ingin data peta banjir di kawasan Pantura. Ternyata kita tidak bisa dapatkan dengan satelit asing. Kalau punya sendiri, kita bisa upayakan,” katanya.

Suhermanto dari Lapan mengatakan bahwa saat ini pihaknya sudah menyiapkan satelit untuk mendukung keperluan negara.

Satelit yang dikembangkan antara lain Lapan Tubsat yang juga mampu mendukung pengamatan maritim, satelit Lapan A2 yang akan diluncurkan tahun 2015 mendatang, serta satelit Lapan A-3 hasil kerja sama Lapan dengan Institut Pertanian Bogor (IPB).

Dani mengatakan, pengembangan riset serta industri yang memproduksi satelit diperlukan untuk lebih mandiri dalam soal komunikasi dan penginderaan.

Upaya membasmi perikanan ilegal membutuhkan dukungan teknologi. Satelit menjadi salah satu kebutuhan untuk melakukan pemantauan secara efektif.

“Saat ini, jumlah satelit yang ada tidak cukup, baru satu,” ungkap Suhermanto, Direktur Pusat Teknologi Satelit Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan).

Dalam seminar nasional keantariksaan yang digelar Lapan, Rabu (10/12/2014), Suhermanto mengatakan, dengan kapasitas saat ini, potensi Indonesia untuk kecolongan masih besar.

“Akan ada waktu di mana satelit tidak di atas wilayah kita, lalu kapal yang ada di situ kita enggak bisa pantau lagi. Akhirnya kecolongan,” katanya.

Satu satelit yang berkapasitas memantau laut saat ini lewat di atas wilayah Indonesia setiap 90 menit sekali. Rentang waktu itu masih terlalu lebar.

“Kita masih membutuhkan banyak, paling tidak enam satelit, jadi setiap 15 menit kita punya data baru,” ungkap Suhermanto.

Lapan saat ini tengah mengembangkan tiga satelit, Tubsat, Lapan A-2 Orari, serta Lapan A3 yang bekerja sama dengan Institut Pertanian Bogor (IPB).

Dani Indra Widjanarko dari Asosiasi Satelit Indonesia mengapresiasi upaya Lapan dalam mengembangkan satelit. Namun, Indonesia perlu mengembangkan lebih banyak lagi.

Pengembangan satelit diperlukan karena karakteristik Indonesia yang kepulauan serta fokus pemerintahan baru yang fokus pada maritim.

Dani mengungkapkan, Indonesia yang berupa kepulauan sangat memerlukan satelit. “Tidak mungkin seluruh wilayah dihubungkan dengan kabel.”

Menguak Misteri Tabir Awan


Cuaca dan manusia. Relasi keduanya demikian kental dan dalam. Cuaca senantiasa hadir. Manusia tak kuasa menolak. Awan gelap atau langit cerah memengaruhi mood. Hujan atau panas terik mengubah perasaan, bahkan kondisi fisik kita. Musim dingin dan musim panas mampu mengubah perilaku manusia.

Seiring perubahan iklim sebagai akibat pemanasan global, model cuaca kian sering berubah, semakin sering memunculkan bentuknya yang ekstrem: hujan deras disertai angin kencang kian sering, hawa panas ekstrem, udara dingin membeku sering muncul. Bahkan, di wilayah-wilayah tak biasa. Gelombang bencana terkait cuaca ekstrem pun semakin besar. Semua relung dan sudut Bumi tak terkecuali.

Perubahan iklim yang pada beberapa faktor mempercepat proses yang berdampak buruk diperkirakan tak mampu dihambat lagi peningkatannya jika suhu Bumi naik lebih dari 2 derajat celsius. Dua derajat celsius lebih tinggi daripada temperatur sebelum era industri.

Peningkatan suhu diakibatkan tertahannya pemantulan energi panas Matahari oleh lapisan gas rumah kaca hasil aktivitas manusia. Pertanyaannya, bagaimana hasil akhir (neto) pemantulan dan serapan energi panas itu dari berbagai permukaan? Energi panas Matahari dipantulkan dan diserap permukaan air (laut), daratan, dan udara. Penelitian mendalam terus dilakukan untuk menjawab pertanyaan: bagaimana mekanisme pertukaran panas pada ketiga permukaan tersebut.

Para ahli iklim mengamati rentetan perubahan membingungkan yang berproses di darat, laut, dan udara. Lalu, di mana mereka harus memusatkan perhatian agar mampu mengungkap rahasia perubahan tersebut? Awanlah jawabnya.

Peran awan mempertahankan keseimbangan panas Bumi terus menjadi teka-teki di benak ilmuwan. Lalu, bagaimana sebenarnya peran awan dalam pemanasan global? Peran awan pada perubahan iklim diangkat dalam Scientific American edisi November 2014. Penguapan air laut adalah pemain kunci dalam pola cuaca. Awan sebagai hasil pendinginan uap air berperan penting.

Apakah awan berperan menyerap panas dan meradiasikan kembali ke atmosfer sehingga suhu Bumi meningkat? Atau, merefleksikan gelombang panas kembali ke Matahari sehingga suhu Bumi menurun? Peran mana yang lebih kuat?

Jauh sebelum ilmu meteorologi diakui sebagai ilmu pengetahuan (science), manusia sudah membaca cuaca dari awan di angkasa dalam beragam bentuknya. Dari yang bergulung-gulung hingga yang demikian halus sebagai halo di seputar bulan.

Baru pada 1803, meteorolog paruh waktu, Luke Howard, mengklasifikasikan awan dan menamainya menggunakan bahasa Latin. Howard membedakan berdasarkan ketinggian dan bentuk awan. Ia membaginya menjadi tiga jenis awan, yaitu ”rambut keriting” atau cirrus, ”tumpukan (awan)” atau cumulus, dan ”awan yang menyebar” atau stratus.

Selama ini, pengamatan awan dilakukan menggunakan satelit yang hanya mampu melihat bentuk awan tanpa mampu mengungkap dinamika fisis dan kimia di dalam tubuh awan. Interaksi berlapis yang berlangsung di dalam tubuh awan bagai kabut misteri. Kandungan aerosol (partikel padat) di dalam awan diyakini memengaruhi perilaku awan terhadap beragam radiasi sinar Matahari. Pengaruh setiap jenis aerosol pun berbeda.

Menurut salah satu penulis laporan dari Panel Ahli Antar-pemerintah tentang Perubahan Iklim (IPCC), Olivier Boucher, dari Pierre Simon Laplace Institute di Paris, Perancis, pengaruh awan rendah terhadap iklim belum dapat dipastikan. ”Awan rendah adalah kartu liar (wild card),” ujarnya. Sebagai kartu liar, faktor awan rendah dalam sebuah model iklim berpeluang membalikkan hasil. Hasil menjadi tak mudah diprediksi.

Bersemangat memecahkan teka-teki peran awan, September lalu, Badan Penerbangan dan Antariksa Amerika Serikat (NASA) membentuk tim peneliti di Arktik. Mereka menggunakan pesawat seperti C-30, membawa radiometer, serta memakai sensor Matahari, panas (thermal), dan gelombang mikro guna merekam pergerakan sinar Matahari dan panas yang menembus awan.

Dengan pesawat dan satelit yang semakin canggih, mampu memotret isi tubuh awan, serta sensor sinar yang mampu menembus dan memindai anatomi dalam tubuh awan, prediksi cuaca akan semakin tajam dan jangka waktunya pun lebih panjang. Bukan tak mungkin, perubahan iklim lantas ”tidak menjadi isu” lagi

Lapan Habiskan Rp 4,5 Triliun untuk Kembangkan Satelit Inderaja


Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional menargetkan mampu membuat satelit penginderaan jauh nasional pada 2019. Demi mewujudkannya dibutuhkan anggaran sekitar Rp 4,5 triliun, selain sumber daya manusia yang belajar di negara lain.

”Jangan dianggap boros karena untuk mewujudkan kemandirian bangsa (dalam pengembangan teknologi antariksa),” kata Kepala Lapan Thomas Djamaluddin di sela-sela diskusi penyusunan rencana induk keantariksaan oleh Dewan Penerbangan dan Antariksa Nasional di Jakarta, Rabu (10/12/2014).

Kepala Pusat Kerja Sama Internasional Kementerian Komunikasi dan Informatika Ikhsan Baidirus mengatakan, Indonesia harus menguasai teknologi pembuatan satelit dengan cara apa pun. Sebab, tak akan ada negara yang sukarela berbagi teknologinya kepada negara lain.

Perkiraan kasar kebutuhan dana pembuatan satelit penginderaan jauh (inderaja) itu, kata Thomas, memang sangat besar. Apalagi jika dibandingkan anggaran Lapan sebagai lembaga riset dan rekayasa teknologi dirgantara dan antariksa Indonesia yang Rp 650 miliar setahun.

Jika dibandingkan harga pembelian BRI Sat, satelit milik Bank Rakyat Indonesia, sebesar Rp 2,5 triliun, anggaran itu realistis. Terlebih lagi pembuatan satelit inderaja nasional akan menjadi batu loncatan untuk membuat satelit telekomunikasi sendiri.
Dua satelit

Dana sebesar itu untuk membangun dua satelit yang masing- masing perlu Rp 1,5 triliun. Sisanya untuk pengembangan fasilitas pendukung, seperti sarana uji dan ruang steril.

Satelit tersebut akan diluncurkan menggunakan roket peluncur negara lain, seperti India, Tiongkok, atau Jepang. Lapan memang sedang mengembangkan roket peluncur satelit sendiri, tetapi masih tahap awal serta terkendala laboratorium dan kepakaran.

Menurut Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi Muhammad Nasir, anggaran riset yang disediakan pemerintah disusun berdasarkan capaian hasil riset, bukan aktivitas riset yang dilakukan. Dana yang dikeluarkan juga akan ditinjau berdasarkan manfaat untuk masyarakat.

Menurut rencana, satelit inderaja digunakan untuk mendukung penyediaan peta dasar tata ruang Indonesia. Selama ini, peta inderaja Indonesia dengan berbagai tingkat resolusi diperoleh menggunakan satelit asing milik Amerika Serikat, Jepang, dan Perancis.

”Program kemaritiman pemerintah pun butuh data satelit inderaja,” kata Thomas.

Selain keperluan tata ruang, pemantauan kapal-kapal, termasuk kapal penangkap ikan di perairan Indonesia, juga bisa menggunakan satelit yang dilengkapi sistem identifikasi otomatis (automatic identification system/ AIS). Sistem itu akan menangkap sinyal yang dipancarkan kapal-kapal dengan bobot lebih dari 300 gros ton.

Kepala Pusat Teknologi Satelit Lapan Suhermanto mengatakan, perangkat AIS sebenarnya sudah ada di pelabuhan. Namun, akibat persoalan lengkung bumi, AIS hanya mampu menangkap sinyal kapal dalam jarak 50 kilometer. ”Jika AIS ditempatkan di satelit bisa menerima sinyal kapal dalam radius 200 km,” katanya.

Satelit Lapan A2 yang menurut rencana diluncurkan Juni-Agustus 2015 akan dilengkapi sistem AIS

Indonesia Kehilangan Hutan Seluas Tiga Kali Lapangan Bola Per Menit


Hutan Indonesia berkurang secara drastis. Dalam kurun waktu 2009-2013, Indonesia kehilangan hutan seluas 4,6 juta hektar atau seluas Provinsi Sumatera Barat, tujuh kali luas Provinsi DKI Jakarta.

Forest Watch Indonesia (FWI) mengungkap fakta mencengangkan tersebut dalam buku Potret Keadaan Hutan Indonesia Periode 2009-2013 yang diluncurkan pada Kamis (11/12/2014) di Jakarta.

EG Togu Manurung, Ketua Perkumpulan FWI, mengungkapkan bahwa dalam kurun waktu itu, kecepatan hilangnya hutan mengejutkan. “Setiap menit, hutan seluas tiga lapangan bola hilang,” katanya.

Hutan Indonesia yang tersisa kini 82 juta hektar. Masing-masing 19,4 juta hektar di Papua, 26,6 juta hektar di Kalimantan, 11,4 juta hektar di Sumatera, 8,9 juta hektar di Sulawesi, 4,3 juta hektar di Maluku, serta 1,1 juta hektar di Bali dan Nusa Tenggara.

Bila praktik tata kelola lahan hutan tak berubah dan pembukaan hutan terus dibiarkan, jumlah hutan akan terus menyusut. “Kami memprediksi 10 tahun ke depan hutan di Riau akan hilang diikuti dengan Kalimantan Tengah dan Jambi,” kata Christian Purba, Direktur FWI.

Togu menerangkan, kondisi perusakan hutan terparah terdapat di wilayah Sumatera dan Kalimantan. Perkebunan kepala sawit serta sektor tambang berkontribusi besar pada kerusakan tersebut.

Meski demikian, hutan di wilayah lain pun mengalami ancaman. Beberapa hutan di wilayah Papua sudah mengalami kerusakan. “Ini harus dicegah supaya pola yang terjadi di Indonesia barat tidak terjadi lagi di timur. Papua benteng terakhir hutan Indonesia,” ungkap Togu.

Sementara itu, hutan-hutan di pulau-pulau kecil juga harus terus dijaga dari kerusakan. Meskipun ditinjau dari luas tak seberapa, hutan di pulau kecil berperan mempertahankan ketersediaan air tawar dan benteng dari dampak perubahan iklim.

Untuk mempertahankan hutan Indonesia, Christian menuturkan, yang diperlukan adalah perbaikan tata kelola, perbaikan izin kehutanan, dan pengawasan. Selain itu, juga leadership dari pemerintah.

Masalah kehutanan tak bisa dilepaskan dari soal korupsi lingkungan. Pihak berwenang menerima uang untuk memudahkan perizinan. Korupsi memicu masalah tumpang tindih perizinan dan pembukaan hutan untuk kepentingan komersial.

Senada dengan Christian, ahli kehutanan Institut Pertanian Bogor (IPB), Hariardi Kartodihardjo, juga menekankan pentingnya perbaikan tata kelola. Undang-undang serta sejumlah rencana dari moratorium hingga program REDD+ sudah cukup baik. Namun, masalahnya adalah pada tata kelola di lapangan.

Ia menilai, selama ini, karena kemampuan tata kelola pemerintah yang buruk, program seperti moratorium tak berhasil melindungi hutan Indonesia. Data justru menunjukkan, kerusakan terbesar justru terjadi di area yang dilindungi.

“Luas hutan yang rusak dalam area yang dimoratorium 500.000 hektar per tahun, hutan alam 200.000 hektar, hutan tanaman 400.000 hektar. Dari angka itu saja secara kasar bisa dilihat bahwa kerusakan di wilayah yang dimoratorium justru lebih tinggi,” katanya.

Cara Mengolah Udon Menjadi Bahan Bakar Mobil


Perusahaan Jepang ini berhasil mengurangi limbah makanan. Mereka menemukan cara mengolah sisa udon menjadi tenaga listrik yang mampu memasok energi untuk 50 rumah. Udon adalah mie khas Jepang yang bentuknya agak pipih tebal dengan tekstur kenyal. Mie ini biasanya disajikan dengan kaldu dashi atau ikan dengan beragam topping.

Di Takatsu ada 800 restoran udon yang menyajika udon khas, Sanuki Udon. Ada 400.000 penduduk yang berarti 1 restoran melayani 500 orang. Chiyoda Manufacturing Company bekerja sama dengan produsen udon local di Takamatsu untuk mengubah methane dari gandum menjadi energi.

Sanuki Mengy, produsen mie udon tiap kali udon, mengemas dan memasarkan ke seluruh Jepang. Setiap hari maksimal 100.000 porsi udon dibuat. Hanya udon yang memiliki panjang dan ketebalan tertentu saja yang bisa dijual. Karenanya banyak sekali udon yang harus disisihkan karena tak lulus uji kualitas.

‘Kami membuang 150 ton udon setiap tahun. Tidak hanya dari pabrik tetapi juga dari 7 restoran yang membuat udon Sanuki,’ tutur Kagawa Masaki selau presiden Sanuki Mengy pada beberapa media Jepang. Chiyoda Manufacturing Company menawari mereka kerjasama mengolah sisa udon menjadi gas yang bisa dipakai sehari-hari.

Udon ditumbuk halus kemudian dicampur dengan air. Kemudian difermentasi. Melalui berbagai tahap penjernihan 10% nya diubah menjadi ethanol.Dengan berbagai perbedaan suhu air dipisahkan dari ethanol. Etahonol dikenal ssebagi bahab bakar yang baik untuk keperluan produksi.

Perusahaan ini memakai 90% untuk memproduksi biogas seperti methane yang dipakai sebagai energy listrik. Proses ini masih dalam tahap pengembangan. ‘Bagaimanapun proses yang dilakukan, selalu ada risidu. Kami bekerja keras mencari cara mengolah risidu agar bisa dipakai ulang sehingga taka da pemborosan,’ demikian tutur Ozaki Tetsuo, insinyur dan kepala Technology and Development Chiyoda Manufacturing.

Baru-baru ini perusahaan ini juga berhasil mengubah cairan sisa udon menjadi cairan pencuci gandum dan bawang yang jadi topping udon sehingga taka da yang tersisa. Eiji Iketsu, President of Chiyoda Manufacturing Company, menegaskan, ‘Daur ulang yang berbasis pada biomasa sangat populer di Jepang.

Pelanggan udin juga mengatahui soal daur ulang udon menjadi tenanga listrik. Secara keseluruhan ada 180.000 kwH yang dihasilkan tiap tahun yang cukup untuk keperluan energi 50 rumahtangga.