Cara Pencegahan Penyakit Alzheimer Yang Tidak Ada Obatnya


Dokter S. Saunderajen menjelaskan para ilmuwan berhasil mendeteksi beberapa faktor risiko penyebab Alzheimer. Diantaranya faktor usia lebih dari 65 tahun, faktor keturunan, lingkungan yang terkontaminasi dengan logam, rokok, pestisida, gelombang elektromagnetik, riwayat trauma kepala yang berat, rokok, dan penggunaan terapi sulih hormon pada wanita. “Banyak faktor tersebut penyebab penyakit ini,” kata Saunderajen dalam sebuah diskusi kesehatan yang berlangsung pertengahan Oktober ini di Kawasan Sudirman, Jakarta Pusat.

Dokter yang berpraktek di beberapa rumah sakit ini menjelaskan, dengan mengetahui faktor risiko di atas dan hasil penelitian yang lain, dianjurkan beberapa cara untuk penyakit Alzheimer. Misalnya, menerapkan gaya hidup sehat seperti rutin berolahraga, tidak merokok maupun mengonsumsi alkohol. Kemudian mengkonsumsi sayur dan buah segar.

“Hal ini penting karena sayur dan buah segar mengandung antioksidan yang berfungsi untuk mengikat radikal bebas. Radikal bebas ini yang merusak sel-sel tubuh. Menjaga kebugaran mental adalah dengan tetap aktif membaca dan memperkaya diri dengan berbagai pengetahuan,” kata dia. “Penyakit ini bisa dihindari dengan banyak berolahraga, tidak banyak pikiran atau selalu dalam keadaan ceria,” lanjutnya lagi

Untuk pengobatan, hingga saat ini belum ada pengobatan yang dapat menyembuhkan penyakit Alzheimer. “Obat-obatan yang ada bersifat memperlambat progresivitaspenyakit. Karena penyakit Alzheimer bersifat kronis dan semakin lama pasien semakin tergantung pada orang lain, maka sangat diperlukan kesabaran dari keluarga atau orang yang merawatnya. Pengertian dan kesabaran dari orang-orang di sekitarnya membuat memperlambat perkembangan penyakit,” ungkapnya.

Dia juga menyebutkan obat-obatan yang saat ini dipergunakan para dokter adalah penghambat asetilkolinesterase seperti Donepezil adalah obat yang diminum secara oral untuk mengobati penyakit Alzheimer taraf ringan hingga sedang. “Pada Donepezil tersedia dalam bentuk tablet oral. Biasanya diminum satu kali sehari sebelum tidur, sebelum atau sesudah makan dengan dosis rendah pada awalnya lalu ditingkatkan setelah 4 hingga 6 minggu.”

Kemudian Saunderajen menyebutkan obat lain seperti rivastigmine yang diminum secara oral untuk mengobati penyakit Alzheimer taraf ringan hingga sedang. “Biasanya diberikan dua kali sehari setelah makan. Karena efek sampingnya pada saluran cerna pada awal pengobatan, pengobatan dengan rivastigmine umumnya dimulai dengan dosis rendah, biasanya 1,5 mg dua kali sehari, dan secara bertahap ditingkatkan tidak lebih dari 2 minggu,” kata dia.

Dalam beberapa jurnal imiah menyebutkan ada korelasi antara penyebab alzheimer dengan kurang berolahraga sewaktu muda. Tentunya, setiap orang pasti pernah lupa akan suatu hal. Dan keadaan tersebut normal, apabila kita lupa akan hal-hal yang jarang dilihat. Tetapi bagaimana bila kita lupa akan nama benda atau orang yang berada di sekitar kita? Tentunya, hal ini bukan seuatu yang normal dan disebut dengan gejala Demensia Alzheimer.

Menurut dokter S. Saunderajen dalam sebuah diskusi kesehatan yang berlangsung pertengahan Oktober ini di Kawasan Sudirman, Jakarta Pusat menerangkan beberapa hal yang bisa dilakukan untuk mencegah Alzheimer. “Melakukan aktivitas fisik untuk mengurangi risiko demensia, pada riset dunia mengatakan bahwa aerobik, tai chi dapat mengurangi risiko Alzheimer hingga sekitar 30 persen termasuk pada aktivitas sosial,” kata Saunderajen.

Dokter yang berprakter di beberapa rumah sakit di Jakarta ini juga menjelaskan, “Alzheimer ada di sekitar kita. Karena itu, perlunya meluangkan waktu berkualitas dengan orang yang kita cintai atau misalnya ikut berpartisipasi dalam lari The Color Run yang kan berlangsung November mendatang. Hal-hal begini akan memberikan ‘awareness’ pada generasi muda bahwa salah satu cara untuk mengurangi terkena Alzheimer dengan berlari santai,” ungkapnya panjang lebar.

Kemudian Saunderajen juga menjelaskan bagaimana tanda-tanda Demensia Alzheimer merupakan sebuah gangguan memori yang mempengaruhi keterampilan pekerjaan. “Misalnya seperti, lupa meletakkan kunci mobil, mengambil baki uang, lupa nomor telepon atau kardus obat yang biasa dimakan, atau lupa mencampurkan gula dalam minuman, garam dalam masakan, bahkan lupa mengaduk air minum,” ungkap Saunderajen.

Menurutnya, pada tahun 2013, terdapat 44 juta orang di seluruh dunia yang terdiagnosa diantaranya Demensia Alzheimer. Dia menjelaskan pada Demensia Alzheimer ini merupakan suatu gangguan penurunan fungsi otak yang mempengaruhi daya ingat, emosi dan pengambil keputusan. Dia memperkirakan pada tahun 2030 akan ada 76 juta Orang Dengan Dementia (ODD). Kemudian ada 135 juta ODD pada tahun 2050.

“Kemudian terdapat 7,7 juta kasus demensia baru setiap tahun di seluruh dunia dan satu kasus baru setiap empat detik. Kalau mau dihitung secara kerugian ekonomi global akibat demensia adalah USD$ 604 miliar,” kata Saunderajen mengutip World’s Alzheimer Report WHO-ADI pada tahun 2012.

Untuk Indonesia, diperkirakan estimasi jumlah ODD adalah sekitar 1 juta di tahun 2013. Angka ini akan meningkat menjadi 2 juta pada 2030. Kemudian 4 juta ODD di tahun 2050. “Dan untuk biaya ekonomi yang dikeluarkan untuk negara-negara berpenghasilan menengah ke atas, seperti Indonesia diperkirakan mencapai US$ 1,7 milyar setiap tahun,” kata dia mengutip World Alzheimer’s Report WHO-ADI pada tahun 2014.

Dia juga menjelaskan, peningkatan usia harapan hidup di Indonesia akan meningkatkan jumlah penduduk usia lanjut. Pada tahun 2000 jumlah penduduk usia lanjut mencapai 7,28 persen. Pada jumlah ini akan terus meningkat dan pada tahun 2020 diproyeksikan jumlah lansia akan mencapai 11,34 persen.

“Kita perlu waspada juga dengan adanya peningkatan penyakit yang berhubungan dengan proses degenerative, diantaranya Demensia Alzheimer. Gejalanya mudah dikenali yaitu tidak dapat hidup mandiri dan akan menjadi beban keluarga, masyarakat dan negara.

Pada penyakit ini, kata Saunderajen terjadi proses penuaan otak abnormal yang merupakan bagian dari proses degenerasi pada seluruh organ tubuh. Hal ini akan menimbulkan berbagai gangguan neuropsikologis dan masalah yang terbesar adalah Demensia Alzheimer dengan prevalensinya diperkirakan sekitar 15 persen pada penduduk berusia lebih dari 65 tahun.

“Memang Alzheimer dianggap sebagai proses menua yang wajar. Dan masih minimnya masyarakat mengetahui penyakit ini. Penderita baru dibawa berobat pada stadium lanjut dimana sudah terjadi gangguan kognisi yang berat dan ganggun perilaku sehingga penatalaksanaannya tidak memberikan hasil memuaskan. Seharusnya pada stadium dini,” ungkap Saunderajen

Sinkhole Di Rusia Akhirnya Mampu Menjelaskan Misteri Segitiga Bermuda


Sejumlah lubang misterius mirip sinkhole (lubang runtuhan) yang berukuran raksasa ditemukan di Siberia, salah satunya di wilayah terpencil di Semenanjung Yamal, yang berarti ‘akhir dunia’, dalam bahasa penduduk asli Nenets. Penemuan tersebut memicu banyak spekulasi tentang asal-usulnya. Kini, sebuah laporan tersebut menawarkan penjelasan alternatif soal teka-teki lubang tersebut, bahkan mengklaim ada kaitannya degan misteri Segitiga Bermuda. Apa hubungannya?

Namun, sejumlah ilmuwan lain yang tak terlibat dalam penyusunan laporan terbaru berpendapat, mekanisme sinkhole yang aneh itu, bagaimanapun, tak menjelaskan peristiwa kehilangan kapal, pesawat, atau manusia di Segitiga Bermuda — area laut imajiner yang menghubungkan 3 wilayah yaitu Bermuda, San Juan – Puerto Rico, dan Miami di Amerika Serikat.

Juli lalu, penggembala rusa Siberia menemukan kawah raksasa yang menganga di Semenanjung Yamal. Tak hanya itu, 2 lubang aneh lain juga ditemukan, satu di Distrik Taz dan lainnya di Semenanjung Taymyr. Sementara para ilmuwan berspekulasi soal penyebanya, asal usul mereka masih jadi misteri.

Pada bulan yang sama, ilmuwan Rusia menuliskan studi mereka di jurnal Nature, yang menyebut ledakan gas yang terperangkap dalam permafrost atau tanah beku — yang dikenal sebagai metana hidrat (methane hydrates) — mungkin membentuk sinkhole raksasa itu. Mereka menyebut, udara dekat dasar kawah diketahui mengandung konsentrasi tinggi metana yang luar biasa.

Kini, para peneliti bahkan melompat lebih jauh dengan mengatakan bahwa metana hidrat bertanggung jawab atas lenyapnya kapal dan pesawat serta manusia di Segitiga Bermuda — yang sampai kini belum terungkap. Demikian dikabarkan Siberian Times, yang mengutip laporan Science in Siberia — media mingguan yang diterbitkan cabang Russian Academy of Sciences.

Meski keberadaan Segitiga Bermuda masih kontroversial, para ilmuwan berpegang pada gagasan bahwa terlepasnya gas metana bisa menenggelamkan kapal di sejumlah perairan.

“Jadi mungkin bahwa sinkhole yang sama, yang terbentuk di laut, juga memproduksi gas hidrat yang terdekomposisi,” kata Vladimir Romanovsky, ahli geofisika yang mempelajari permafrost dari University of Alaska Fairbanks, yang tak terlibat dalam penelitian, seperti dikutip dari situs sains LiveScience, Rabu (15/9/2014).

Metana biasanya relatif padat di dasar laut. Stabil pada tekanan lebih dari 35 bar dan pada suhu rendah. Namun, sekali robek, ia akan pecah dan membentuk gelembung gas yang naik lalu meledak di permukaan air.

“Gas hidrat diketahui ada di sepanjang tepi benua di Atlantik Utara AS, dengan area luas di Blake Ridge sebelah utara Segitiga Bermuda,” kata Benjamin Phrampus, ilmuwan bumi dari Southern Methodist University, Dallas. Dalam studi yang dipublikasikan American Journal of Physics pada 2003, gelembung yang muncul dari lepasnya metana dari dasar laut memang bisa membuat sebuah kapal tenggelam.

Dalam melakukan studi tersebut, para ilmuwan membuat model lambung kapal dan melepaskan gelembung di bawahnya, dan merekam apa yang terjadi. Ternyata, jika kapal tersebut berada tepat di atas gelembung, maka ia akan kehilangan daya apung dan karam.

Namun, meski fenomena tersebut berlaku pada model kapal, belum ada bukti bahwa itu terjadi di dunia nyata. Demikian kata Phrampus. Apalagi, pelepasan metana dalam skala besar tak pernah dilaporkan sepanjang sejarah — terkait hilangnya kapal dan pesawat di area diduga Segitiga Bermuda.
Kali terakhir lantai laut di area itu menjadi ventilasi gas adalah setelah Zaman Es (ice age), sekitar 20 ribu tahun lalu.

“Aku menganggap itu sebagai teori yang menarik. Tak lebih,” kata Phrampus.

Angkatan Laut AS atau US Navy tidak meyakini adanya Segitiga Bermuda. Sementara U.S. Board on Geographic Names tidak mengakuinya sebagai nama resmi. Belakangan, menurut pasar asuransi Lloyd’s of London, tak ada lagi kapal yang tenggelam di area itu

Universitas Brawijaya Ciptakan Mobil Berbahan Bakar Batu


Mobil prototipe berbahan bakar batu kapur buatan Universitas Brawijaya Malang menjadi juara dua dalam Chemical Engineering Car Competition (Chem E Car) di Perth, Australia, 28 September 2014. Adapun juara pertama diraih Universiti Teknologi Petronas Malaysia dan juara ketiga ditempati Universitas Gadjah Mada. Peserta kompetisi ini berbagai perguruan tinggi dari kawasan Asia dan Australia.

“Kompetisi ini melombakan prototipe mobil dari sumber energi alternatif melalui reaksi kimia,” kata Ketua Tim Exotric II Dobita Amanda F., Kamis, 9 Oktober 2014. Tim ini terdiri dari Dobita; Rizka Dwi Octaria; Dwi C. Pujayanti; Afida Khofsoh, mahasiswa Teknik Kimia; dan Sidiq Darmawan, jurusan Teknik Mesin Universitas Brawijaya.

Sebelum mengikuti kompetisi, tim melakukan riset selama dua bulan. Mereka menyiapkan secara optimal sehingga menghasilkan yang terbaik. Mereka juga memperbaiki berbagai sistem Exotric sehingga menjadi Exotric II.

Perbaikan meliputi sistem transfer energi, pemberhentian, reaksi kimia, dan chasis. Para mahasiswa teknik ini memanfaatkan reaksi kimia batu kapur dengan asam klorida atau Hcl sehingga menghasilkan reaksi eksotermis. Reaksi kimia tersebut menghasilkan energi panas yang diubah menjadi listrik.

Reaksi tersebut menggunakan susunan bahan semikonduktor tipe-P (pembawa muatan hole) dan tipe-N (pembawa muatan elektron) yang disusun sedemikian rupa. Listrik yang dihasilkan digunakan untuk menggerakkan motor listrik yang ditransmisikan ke roda mobil.

Mereka belajar dari nol secara otodidak untuk menciptakan mobil prototipe tersebut. Sebelumnya, mereka juara tiga dalam Chem-E-Car Indonesia Competition 2014 di Institut Teknologi Sepuluh Nopember pada 12 April 2014 lalu.

Menurut dia, mobil prototipe tersebut berpeluang dikembangkan menjadi kendaraan yang diproduksi massal. Apalagi bahan bakar minyak terus menyusut. Bahkan negara harus menghabiskan anggaran besar untuk subsidi BBM. Sedangkan bahan baku batu kapur cukup melimpah, terutama di Malang selatan. Kekayaan alam tersebut bisa dikelola dan dimanfaatkan untuk kesejahteraan rakyat.

Cara Mengamati Gerhana Bulan Biru Di Indonesia


Tahukah Anda? Gerhana bulan tak selalu berwarna kemerahan, tetapi bisa juga kebiruan. Gerhana bulan yang berwarna kebiruan pernah teramati dari Gombong, Kebumen, Jawa Tengah, tepatnya saat totalitas gerhana pada 10 Desember 2011, antara pukul 21.07 dan 21.57 WIB.

Bulan yang berwarna kebiruan itu teramati oleh astronom amatir Ma’rufin Sudibyo. Cahaya biru tampak mengumpul pada satu titik di piringan bulan. Selain di Gombong, gerhana yang berwarna kebiruan juga pernah teramati pada 9 Desember 1992 di beberapa wilayah Asia Tenggara. Gerhana biru ini diobservasi oleh peneliti bernama Richard Keen.

Warna merah pada gerhana bulan dipengaruhi oleh pembiasan atmosfer Bumi. Sementara itu, warna kebiruan muncul jika ada zat atau partikel lain yang “mengganggu” pembiasan itu.

Salah satu sebab bulan berwarna biru adalah adanya partikel debu vulkanik yang ukurannya lebih besar dari gelombang warna merah (0,7 mikron). Warna kebiruan saat gerhana tahun 1992 diduga disebabkan oleh partikel debu vulkanik akibat letusan Pinatubo.

Seusai Krakatau meletus pada tahun 1883, bulan juga terus-menerus berwarna kebiruan, bukan hanya saat gerhana.

Penjelasan lain dari fenomena bulan kebiruan adalah hamburan ozon. Bulan kebiruan saat gerhana di Gombong diduga akibat faktor ini. Kecil kemungkinan, warna kebiruan disebabkan oleh letusan Merapi tahun 2010.

Gerhana berwarna kebiruan ini adalah bukti bahwa bulan biru tidak cuma kiasan, tetapi benar-benar ada.

Bulan biru alias blue moon sebelumnya dimaknai sebagai purnama kedua yang terjadi dalam satu bulan yang sama. Bulan biru biasanya terjadi setiap 2,5 tahun dan hanya sekali dalam setahun. Namun, dalam periode 19 tahun sekali, bulan biru bisa terjadi dua kali dalam setahun.

Penjelasan Ilmiah Fenomena Selenelion


Bukan hanya gerhana Bulan total biasa yang bakal terjadi Rabu (8/10/2014) senja ini. Ada fenomena lebih langka yang berpotensi untuk diamati, yaitu selenelion. Selenelion adalah fenomena di mana Bulan dan Matahari berada dalam posisi saling berseberangan atau berjarak 180 derajat dari sudut pandang manusia di Bumi.

Astronom amatir Ma’rufin Sudibyo mengatakan, selenelion adalah fenomena yang secara geometris sebenarnya tidak mungkin. Pasalnya, bila Matahari dan Bulan saling berseberangan, keduanya takkan terlihat dari sudut pandang pengamat di Bumi.

Ma’rufin mengungkapkan, selenelion bisa terlihat akibat kemampuan atmosfer tebal Bumi dalam membiaskan cahaya, membuat benda-benda langit terangkat dari posisi aktualnya.Pembiasan membuat Bulan yang sejatinya sudah tenggelam 4 menit sebelumnya masih tampak ada di ufuk barat dalam pengamatan manusia.

“Demikian juga saat kita lihat Matahari tepat hendak terbit, sejatinya ia baru akan terbit 4 menit kemudian,” katanya. Selenelion bisa terjadi saat senja ataupun fajar. Saat selenelion senja, yang teramati adalah Bulan terbit di timur dan Matahari tenggelam di barat.

Sementara, saat fajar, selenelion yang terlihat adalah Bulan belum tenggelam di ufuk barat saat Matahari sudah terbit di ufuk timur.

Asal-usul Istilah Selenelion
Tak seperti “supermoon” yang populer, istilah selenelion tak banyak dikenal oleh kalangan publik dan astronom amatir. Catatan William Poole berjudul “Antonie-Francois Payen, the 1666 Selenelion, and a Rediscovered Letter to Robert Hooke” mengungkap asal-usul istilah tersebut.

Dalam catatan yang dipublikasikan di The Royal Society Journal of the History of Science tahun 2007 itu, Poole mengungkap, selenelion dipopulerkan oleh Antonie-Francois Payen. Selenelion adalah penggabungan dari dua nama Dewa dalam mitologi Yunani, yaitu dewa Bulan yang bernama Selene dan dewa Matahari yang bernama Helios.

Para astronom pada masa lalu menyebut selenelion dengan gerhana horizontal atau gerhana parallax. Dahulu, para astronom masih berdebat kemungkinan manusia bisa melihat gerhana horizontal. Dan jika bisa, faktor apa yang membuat manusia bisa melihatnya.

Payen yang seorang pengacara sipil tertarik dengan fenomena selenelion itu. Ia banyak berkorespondensi dengan ilmuwan, termasuk astronom Perancis, Peter Gassendi. Gassendi adalah astronom yang juga penasaran dengan gerhana horizontal. Ia memburu fenomena ini dari 1643 hingga 1648 dan hanya sekali melihat.

Tahun 1666, Payen bersama rekannya, Henri Justel dan Ismael Boulliau, pergi ke puncak Montmatre di Paris untuk mengamati fenomena itu. Selenelion diprediksi terjadi pada 16 Juni 1666.Ekspedisi Payen dan rekannya gagal. Paris berawan. Namun, Payen mendapat laporan pengamatan dari utusan Pangeran Leopold di Florence yang mengamati dari Pulau Gorgona.

Laporan pengamatan itu ditulis oleh seorang akademisi bernama Alessandro Segni. Payen lalu menulis ulasan tentang pengamatan itu dengan judul “Selenelion ou Apparition Luni-Solaire.”Dalam ulasan itulah, istilah “selenelion” pertama kali digunakan. Istilah itu adalah buatan Payen.

Selain menulis ulasan, Payen juga berkorespondensi dengan Robert Hooke, ilmuwan penemu hukum elastisitas dan pioneer penggunaan mikroskop, yang saat itu menjadi kurator eksperimen di Royal Society.Dalam suratnya, Payen mendorong pembuktian selenelion dan menawarkan dirinya untuk membantu eksperimen bila diperlukan.

Hooke kemudian menjadi salah satu ilmuwan yang menerangkan bahwa selenelion memang bisa diamati manusia karena adanya pembiasan cahaya Matahari.

Penampakan Selenelion
Astrofisikawan Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN), Thomas Djamaluddin, mengatakan bahwa hari ini, “wilayah Jawa dan Sumatera berpeluang menyaksikan selenelion.”Dari Jakarta, selenelion yang teramati adalah Bulan yang terbit dalam kondisi gerhana dan berwarna merah dan Matahari yang juga semburat merah dan akan tenggelam di barat.

Fenomena ini akan teramati sekitar pukul 17.44-17.45 WIB nanti. Bulan sendiri nanti akan terbit pukul 17.43 WIB sementara Matahari akan tenggelam pukul 17.46 WIB. Dalam percakapan, Selasa (7/10/2014), Ma’rufin menyebut bahwa fenomena selenelion ini “sangat langka.”

Sementara, Thomas mengungkapkan, “ini mungkin pertama kalinya selenelion teramati dari Indonesia.”Belahan Bumi lain yang berpeluang mengamati selenelion diantaranya adalah wilayah Amerika Serikat. Warga Amerika Serikat bakal menyaksikan selenelion pada pagi hari. Bulan akan tenggelam di sisi barat sementara Matahari terbit di sisi timur.

Dengan langkanya keajaiban alam ini, selenelion yang terjadi bersamaan dengan gerhana senja ini terlalu sayang untuk dilewatkan.

Lukisan Gua Tertua Didunia Ditemukan Di Maros Sulawesi Yang Diduga Tempat Asal Manusia Modern Pertama


Lukisan gua berusia 40 ribu tahun yang ditemukan di Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan, diklaim tertua di dunia. Hal itu diketahui dengan metode penghitungan yang modern. Seperti apa? “Sebelum ada penelitian di Maros ini, penghitungan hanya spekulasi. Jadi peneliti-peneliti pendahulu memberi umur itu hanya spekulasi saja. Ini 10 ribu, 5 ribu dan sebagainya. Dengan metode ini kita memastikan kehadiran awal manusia modern di Indonesia 40 ribu tahun lalu,” kata Arkeolog dari Balai Arkeologi Makasssar Drs. Budianto Hakim.

Pernyataan itu disampaikan Budianto dalam jumpa pers di Gedung Pusat Arkeologi Nasional, Jalan Raya Condet Pejaten No 4, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, Kamis (9/10/2014). Dalam jumpa pers itu juga hadir para peneliti lainnya Dr. Maxime Aubert dari Griffith University Australia, Dr. Adam Brumm, Dr. Pindi Setiawan, M.Si, serta Arkeolog Balai Pelestarian Cagar Budaya Makassar Drs. Muhammad Ramli.

“Ini hal baru dalam dunia penelitian, terutama lukisan gua. Ini Membuka Peluang bagi para peneliti baik dari dalam maupun luar, untuk menghubungkan darimana migrasi itu. Apakah ada penyebaran manusia modern awal dari Afrika langsung ke Sulawesi, atau melalui jembatan-jembatan? Ini perlu pembuktian lebih lanjut,” sambungnya.

Kata Budianto, penelitian lukisan gua di Maros dilakukan dengan metode baru yang lebih akurat. “Ini metodenya namanya dengan uranium series,” imbuhnya. “Dengan metode uranium series, kita melihat ada uranium yang terperangkap dalam kerak-kerak kapur yang menimpali lukisan. Dari situlah range-nya yang dihitung untuk mengetahui umur,” kata Budianto.

Karena metode penghitungan yang lebih akurat itu, Budianto mengklaim, lukisan gua yang ditemukan di Maros lebih tua dari lukisan di Gua El Castillo di Spanyol yang disebut berusia 40.800 tahun. “Penemuan di Maros ini merubah teori, bahwa pada waktu bersamaan manusia modern awal sudah sampai di nusantara,” ucap Budianto.

Sebelumnya tim peneliti Dr. Maxime Aubert dari Griffith University Australia, mengatakan, penelitian di Maros sudah dilakukan sejak 2011. Ada kurang lebih seratusan gua di derah perbukitan karst di wilayah tersebut. Sekitar 60 gua terdapat gambar-gambar lukisan, dan 7 di antaranya dijadikan sampel untuk dilakukan penelitian secara mendalam.

Dari 7 gua yang dijadikan sampel itu, ditemukan banyak lukisan cetakan tangan dan ada juga yang bergambar hewan seperti babirusa. Lukisan itu kebanyakan didominasi warna merah. Setelah dilakukan penelitian mendalam, diketahui bahwa lukisan itu berusia 40 ribu tahun. Pusat Arkeologi Nasional merilis temuan terbaru. Mereka menemukan lukisan gua di Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan. Lukisan tersebut diklaim tertua di dunia dengan umur 40 ribu tahun. Seperti apa?

“Lukisan gua di Maros ini adalah yang tertua di dunia,” kata Tim Peneliti Dr. Maxime Aubert dari Griffith University Australia. Pernyataan itu disampaikan Aubert dalam jumpa pers di Gedung Pusat Arkeologi Nasional, Jalan Raya Condet Pejaten No 4, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, Kamis (9/10/2014).

Jumpa pers tersebut juga hadir para tim peneliti lainnya. Ada Dr. Adam Brumm, Dr. Pindi Setiawan, M.Si, Arkeolog Balai Arkeologi Makasssar Drs. Budianto Hakim, serta Arkeolog Balai Pelestarian Cagar Budaya Makassar Drs. Muhammad Ramli. Dijelaskan Aubert, penelitian sudah dilakukan sejak 2011. Ada kurang lebih seratusan gua di derah perbukitan karst di wilayah Maros, Sulawesi Selatan. Sekitar 60 gua terdapat gambar-gambar lukisan, dan 7 di antaranya dijadikan sampel untuk dilakukan penelitian secara mendalam.

Dari 7 gua yang dijadikan sampel itu, ditemukan banyak lukisan cetakan tangan dan ada juga yang bergambar hewan seperti babirusa. Lukisan itu kebanyakan didominasi warna merah. Setelah dilakukan penelitian mendalam, diketahui bahwa lukisan itu berusia 40 ribu tahun. “Hasilnya sangat tidak diduga dan sangat mengejutkan. Selama ini kita ketahui bahwa lukisan gua tertua sekitar 40 ribu tahun itu ada di Gua El Castillo di Spanyol,” kata Aubert.

Para ilmuwan menemukan sejumlah lukisan kuno di gua-gua di kawasan pedesaan Maros, Sulawesi Selatan dan diperkirakan sebagai salah satu karya seni tertua dunia. Sejauh ini, temuan lukisan di gua-gua hanya ditemukan di Eropa Barat. Para peneliti mengatakan kepada jurnal Nature bahwa temuan di Indonesia ini dapat memberikan gambaran lebih lanjut tentang bagaimana manusia menemukan kemampuan memproduksi barang seni.

Para ilmuwan dari Australia dan Indonesia meneliti lapisan stalaktit di gua itu yang menutupi lukisan-lukisan tersebut. Para seniman purba membuat lukisan itu dengan menempelkan cat dengan tangan ke dinding dan langit-langit gua. Lukisan paling tua berumur paling tidak 40.000 tahun. Lukisan figur tertua Dr Maxime Aubert, dari Universitas Griffith di Queensland, Australia, yang meneliti umur lukisan itu menerangkan bahwa salah satu di antaranya kemungkinan lukisan sejenis yang paling kuno.

“Usia lukisan ini adalah 39.900 tahun, dan merupakan lukisan stensil tangan tertua di dunia. “Di samping lukisan ini adalah lukisan babi yang berumur paling tidak 35.400 tahun dan merupakan salah satu lukisan figur tertua di dunia, atau mungkin yang tertua,” katanya. Ada pula lukisan gua yang berusia sekitar 27.000 tahun, dan itu berarti penduduk di sekitar melukis selama paling tidak 13.000 tahun.

Selain itu, ada pula lukisan di gua-gua di kawasan Bone, sekitar 100 kilometer di utara Maros.Namun lukisan-lukisan itu tidak dapat diteliti umurnya karena banyaknya stalaktit.Tetapi menurut para peneliti, usia lukisan itu kemungkinan sama dengan yang di Maros karena jenisnya mirip.Temuan karya seni gua Indonesia ini penting karena menunjukkan awal intelektual manusia.

Lukisan manusia. Seni dan kemampuan untuk berpikir abstrak merupakan perbedaan utama manusia dengan binatang.
Kemampuan ini mengantarkan manusia untuk menggunakan api, mengembangkan roda dan jenis teknologi lain. Temuan ini juga menandai momen penting saat spesies kita menjadi manusia yang sebenarnya.

Usia karya seni di Sulawesi ini juga menunjukkan bahwa gagasan tentang kapan dan dimana evolusi terjadi harus direvisi lagi. Lukisan yang ditemukan di Sulawesi dan lukisan gua di Spanyol tampak serupa dan keduanya berumur sama. Selama berabad-abad, karya seni gua hanya ditemukan di Spanyol dan Prancis selatan.

Dengan temuan itu, banyak yang meyakini ledakan kreativitas yang berujung pada munculnya seni dan sains yang ada sekarang bermula di Eropa. Namun temuan lukisan serupa di Indonesia ini akan mempengaruhi pandangan itu, menurut Profesor Chris Stringer dari Museum Natural History di London.

Dalam bentuk stensil tangan. Temuan lukisan berusia 40.000 tahun ini di Sulawesi menunjukkan kemampuan menciptakan karya seni berasal dari Afrika, sebelum manusia modern menyebarkannya ke seluruh dunia. “Landasan karya seni ini berasal dari 60.000 tahun lalu dan bahkan telah ada di Afrika sebelum 60.000 tahun lalu dan menyebar melalui manusia modern,” kata Stringer.

Dr Adam Brumm – salah seorang pemimpin peneliti di Sulawesi- mengatakan banyak tempat di Asia dan juga Australia, memiliki karya seni yang sangat tua namun belum secara akurat diteliti usianya. Sementara itu, Dr Muhammad Ramli, pakar arkeologi, mengatakan lukisan di Maros ini terkikis polusi akibat industri lokal.

“Pada awal tahun 1980an, banyak lukisan gua di situs ini dalam bentuk stensil tangan, seperti yang Anda lihat sekarang. Dan banyak yang rusak,” kata Muhammad.

Inilah Penampakan Gerhana Bulan Merah Darah Dari Jakarta


Langit di atas gedung Planetarium dan Observatorium Jakarta di Cikini, Jakarta Pusat, telah menjadi gelap seluruhnya pada pukul 19.34 WIB. Gerhana bulan yang dikabarkan dapat dilihat dengan mata telanjang di seluruh bagian Indonesia tak terlihat di Ibu Kota.

“Sejak sore tadi langit sudah tertutup awan,” ujar Ronny Syamara, salah seorang pegawai Planetarium, Rabu sore, 8 Oktober 2014. Menurut cita satelit Sadewa milik Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional, memang awan tebal terlihat mengerubungi daerah Banten, Jawa Barat, dan Jakarta sejak pukul 17.50 WIB. Padahal, jika dilihat dengan mata telanjang, langit menampakkan warna merah akibat pembiasan sinar matahari di ufuk barat.

Awan tetap tak mau berpindah dari langit Jakarta sampai pukul 18.25 WIB, atau bertepatan dengan berakhirnya waktu gerhana bulan total. Saat itu, menurut Ronny, posisi bulan sudah berada di ketinggian 9 derajat. Posisi itu pas untuk melihat bulan jika langit tak tertutup awan. Jadi, alih-alih melihat gerhana bulan total, sejauh mata memandang, yang terlihat hanya segerombolan awan. Bahkan, mereka seolah-olah sepakat menyembunyikan bulan dari intipan teropong VIXEN ED115, yang digunakan untuk mengamati sekaligus memotret gerhana.

Jarak pantau teropong ini, menurut Ronny, mencapai titik tak terhingga. “Untuk memantau bulan sekalipun,” ujarnya. Namun sangat disayangkan, teropong tersebut tak dapat menembus tebalnya awan. Sementara di Jakarta tertutup awan, citra langit Sadewa menunjukkan langit Makassar yang terang benderang pada pukul 18.05 WIB atau 19.05 Wita. Waktu tersebut bertepatan dengan kondisi gerhana total dan bulan berada pada ketinggian 1 derajat. “Bulannya pasti terlihat merah,” kata ahli astronomi Planetarium, Cecep Nurwendaya.

Cecep mengatakan, saat terjadi gerhana total, bulan akan terlihat memerah. Musababnya, bulan mendapatkan pembiasan cahaya dari atmosfer bumi yang berasal dari matahari.Warna merah yang sama juga ditampakkan bulan dari pengamatan di Griffith Observatory California, Amerika Serikat. Bedanya, saat bulan mengalami gerhana, waktu telah menjelang pagi, atau sekitar pukul 04.05 waktu setempat.

Meski gerhana tak tampak di langit Jakarta, ada fenomena kosmik yang sangat langka terjadi bersamaan. Yakni, posisi bulan sejajar dengan matahari. Fenomena ini disebut selenelion.Fenomena ini terjadi karena matahari dan bulan berada persis pada sudut 180 derajat. Dalam posisi yang setara ini (dalam dunia astronomi disebut syzygy), memang observasi sulit dilakukan. Namun, berkat atmosfer bumi, gambar matahari dan bulan akan tampak di langit melalui pembiasan atmosfer.

“Pembiasan tersebut memungkinkan orang di bumi untuk melihat gerhana bulan dan matahari secara bersamaan selama beberapa menit,” ujar Kepala Pusat Penelitian Sains Antariksa Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional, Clara Yatini, saat dihubungi, kemarin. Gerhana total mulai Rabu petang hingga malam, 8 Oktober 2014, tak hanya menutup bulan. Sebelum tertutup total oleh bayangan bumi, bulan akan terlihat berwarna merah darah. Penduduk se-Indonesia bisa melihatnya kalau langit tak mendung.

Dosen astronomi di Institut Teknologi Bandung, Ferry Simatupang, mengatakan proses gerhana bulan total yang bisa diamati agak panjang waktunya yakni di Indonesia bagian timur. Adapun di bagian barat, proses gerhana total sudah berlangsung begitu bulan muncul di horison atau ufuk barat.

Biasanya, ujar Ferry, bulan yang muncul di ufuk hanya berwarna kemerahan. Namun, kali ini saat gerhana, bayangan bumi bakal menegaskan warna merah bulan menjadi lebih pekat seperti darah. “Itu akibat kumulatif dari polutan, hamburan partikel dan debu di atmosfer, dan bayangan gerhana sehingga makin kontras,” ujar Ferry, Rabu, 8 Oktober 2014.

Selain astronom, tutur Ferry, peristiwa di langit itu bakal jadi buruan para fotografer. Lokasi pengamatan terbaik yakni gedung tinggi di wilayah perkotaan, gunung, dan pantai. “Bisa dramatis fotonya, asal dapat tempat yang pandangannya lapang dan terbuka ke horison,” kata Ferry.

Menurut Avivah Yamani, astronom dari Komunitas Langit Selatan di Bandung, gerhana bulan total pada 8 Oktober 2014 akan dimulai sekitar pukul 15.00 WIB. Bulan berangsur tertutup secara penuh pada 17.25 WIB. Puncak gerhana terjadi pukul 17.54 WIB. Selewat pukul 20.33 WIB, bulan tak lagi mengalami gerhana. “Warna bulan kembali seperti yang biasa kita lihat saat purnama,” ujar Ferry.