Category Archives: Kesehatan

Bekerja Lebih Dari 55 Jam/Pekan Dapat Sebabkan Penyakit Stroke dan Jantung


Bekerja dengan durasi yang panjang membawa dampak buruk. Orang yang bekerja lebih dari 55 jam per pekan memiliki risiko 33 persen lebih tinggi terserang stroke ketimbang mereka yang bekerja dengan durasi standar 35-40 jam per minggu. Studi yang dimuat dalam jurnal The Lancet, 19 Agustus 2015, itu juga menyebut jam kerja yang panjang meningkatkan risiko berkembangnya penyakit jantung.

Mika Kivimaki, peneliti dari University College London, Inggris, dan koleganya menganalisis laporan dan studi tentang pengaruh jam kerja panjang terhadap penyakit kardiovaskuler. Ini adalah riset terbesar yang pernah dilakukan karena melibatkan lebih dari 600 ribu orang dari Eropa, Amerika, dan Australia.

Hasil riset itu mengkonfirmasi sejumlah asumsi yang menyebutkan jam kerja panjang, saat orang bekerja sejak pagi hingga petang bahkan masih sibuk di akhir pekan, berpotensi merusak kesehatan. Dalam laporan peneliti menyebutkan kematian mendadak karena jam kerja berlebihan sering kali dipicu stroke. “Kondisi ini adalah hasil dari respon terhadap stres yang berulang-ulang,” demikian tulis peneliti.

Laporan itu menyebutkan semakin panjang jam kerja seseorang, risiko terkena stroke juga meningkat. Sebagai perbandingan, orang yang bekerja antara 41-48 jam per minggu memiliki risiko 10 persen lebih tinggi terkena stroke. Sementara risiko terkena stroke pada orang yang bekerja selama 49-54 jam per pekan mencapai 27 persen.

Hasil analisis 17 studi yang melibatkan lebih dari 528 ribu orang menyebutkan risiko terserang stroke karena bekerja di atas 55 jam per minggu meningkat. Orang-orang yang terbiasa bekerja dengan jam kerja panjang biasanya cenderung mengabaikan gejala saat kesehatannya terganggu. Akibatnya, pencegahan dan penanganan penyakit stroke kerap terlambat.

Tingkat risiko terserang stroke akibat jam kerja panjang tetap tinggi meski telah memperhitungkan faktor yang mempengaruhi kesehatan seperti merokok, mengkonsumsi alkohol, tekanan darah tinggi, dan kolesterol. Bekerja lebih dari 55 jam per minggu juga meningkatkan risiko terkena insiden terkait penyakit jantung hingga 13 persen.

Peneliti mengindikasikan perilaku yang membawa risiko tinggi pada kesehatan seperti malas bergerak, tingginya tingkat konsumsi alkohol, dan stres juga meningkatkan peluang serangan stroke. “Para pekerja profesional seharusnya sadar bahwa bekerja dengan durasi panjang berhubungan dengan meningkatnya risiko stroke dan penyakit jantung,” kata Kivimaki.

Akibat Terlalu Sering Menatap Layar Gadget Bagi Kesehatan Mata


Sebagian besar orang dari segala usia menghabiskan waktu menatap layar digital, seperti komputer, laptop, dan ponsel. Akibatnya, mata mengalami iritasi, kekeringan, dan penglihatan menjadi kabur. Menurut laporan terbaru, masalah ini semakin umum karena orang menganggap hal ini biasa. dr Christopher Starr, profesor ophthalmology dari Weill Cornell Medical College di New York, mengatakan bahwa sebagian masyarakat menggunakan gadget sampai sembilan jam sehari. Otot mata dipaksa fokus pada jarak yang dekat dan menyebabkan mata kelelahan.

“Anda bisa bayangkan jika Anda berada di gym dan Anda memegang latihan angkat bebab, bisep Anda akan sangat sakit sembilan jam kemudian. Hal yang sama juga terbaru untuk mata Anda, Anda harus mengambil istirahat untuk meringankan otot-otot,” kata dr Christopher, dikutip dari CBS pada Sabtu (15/8/2015)

Sebanyak 93% orang dewasa Amerika menghabiskan lebih dari dua jam per hari di depan layar digital. Menurut laporan dari The Vision Council yang mensurvei 9.700 orang dewasa, 61% mengatakan menghabiskan waktu lima jam lebih menatap layar digital. Sedangkan, sisanya mengaku melihat layar lebih dari sembilan jam per hari.

Enam puluh sembilan persen peserya survei dilaporkan menggunakan smartphone, 58 persen menggunakan laptop, 52 persen menggunakan komputer desktop dan 43 persen menggunakan tablet atau e-reader. Sedangkan, 77% peserta survei mengatakan mereka menonton televisi. Kekeringan, yang disebabkan oleh berkurangnya berkedip saat menatap layar, juga merupakan faktor umum penyebab ketegangan mata. Tingkat berkedip seseorang yang normalnya sekitar 15-20 kali per menit bisa berkurang sampai setengah ketika orang terpaku pada apa yang mereka lihat pada layar.

“Ketika Anda jarang berkedip, dan menatap layar digital, air mata menguap dengan sangat cepat. Akibatnya, mata Anda akan menjadi kering, penglihatan kabur, hingga menyebabkan kemerahan, nyeri, dan setiap hari akan semakin memburuk,” kata dr Christopher.

Gejala dan Cara Mengatasi Food Coma


Food coma terjadi karena terlalu banyak melahap makanan. Akibatnya, seseorang akan merasa sangat ngantuk atau lemas setelah makan. Selain kedua gejala diatas, terdapat beberapa gejala umum bila seseorang mengalami food coma.​Keadaan ini banyak dialami oleh orang terutama di hari-hari libur lebaran. Umumnya mereka melahap makanan berlemak dan manis hampir sepanjang hari. Tak hanya mengantuk atau lemas, food coma ditandai dengan beberapa gejala seperti berikut ini.

1. Mengantuk
Gejala food coma yang paling umum adalah mengantuk. Ini terjadi karena setelah makan banyak, tubuh akan mengalami lonjakan gula darah. Akibatnya, tubuh memproduksi hormon insulin guna melawan lonjakan gula darah tersebut. Peningkatan insulin ternyata merangsang otak untuk menghasilkan lebih banyak serotonin dan melatonin yang menyebabkan rasa kantuk.

2. Badan menjadi dingin
Semakin banyak makanan yang dikonsumsi, maka semakin aktif pula kerja sistem saraf parasimpatis. Ini membuat tubuh memfokuskan sebagian besar energi untuk sistem pencernaan. Sirkulasi darah pun menjadi tidak lancar sehingga menyebabkan tubuh terasa dingin.

3. Lemas
Selain menyebabkan badan terasa dingin, konsentrasi energi berlebih pada sistem pencernaan membuat seseorang merasa lemas, lesu, ataupun tidak produktif.

4. Kembung
Rasa kembung terjadi karena konsumsi makanan yang terlalu banyak dalam waktu singkat. Apalagi jika jenis makanan yang dikonsumsi adalah makanan berlemak. Tubuh memerlukan lebih banyak waktu untuk mencerna lemak dibandingkan protein dan karbohidrat.

5. Gas di perut
Rasa kembung biasanya dibarengi dengan produksi gas berlebih dalam perut. Ini terjadi karena ketika mencerna makanan, bakteri dalam usus memproduksi gas untuk membantu proses pencernaan. Sebagian besar gas juga masuk dalam perut dari udara yang tertelan saat melahap makanan. Akibatnya, perut akan terasa tidak nyaman.

Mengalami ngantuk, lemas, atau kembung setelah makan terlalu banyak tentu sangat tidak nyaman. Terdapat beberapa cara untuk mengindarkan Anda dari gejala food coma seperti mengatur porsi makan dan mengunyah makanan pelan-pelan. Selain mengatur porsi makan dan mengunyah makanan secara perlahan, beberapa cara ini juga efektif menghindarkan Anda dari food coma.

1. Sering makan dalam porsi kecil
Food coma bisa dihindari dengan mengatur porsi dan waktu makan. Agar tidak terlalu kenyang, makan dalam porsi kecil namun sering lebih dianjurkan daripada makan dalam porsi besar dalam sekali waktu. Untuk membantu mengurang porsi makan, makanlah dengan piring berukuran kecil dan berwarna kontras dengan makanan.

2. Hindari makanan tinggi karbohidrat dan gula
Untuk mencegah lonjakan gula darah yang umum terjadi saat food coma, hindari konsumsi makanan tinggi karbohidrat dan gula seperti nasi putih atau sereal. Sebaiknya pilih makanan berprotein dan tinggi serat seperti buah dan sayur.

3. Kunyah makanan perlahan
Mengunyah makanan secara perlahan dapat membuat tekstur makanan lebih halus. Ini akan mempermudah tubuh dalam menyerap zat gizi makanan. Anda pun merasa lebih kenyang walaupun makan dalam porsi yang tidak terlalu besar. Kunyahlah makanan minimal 10 kali sebelum ditelan. Cara ini juga dapat meminimalisir rasa kembung yang muncul setelah makan banyak.

4. Tambahkan kayu manis
Penelitian menunjukkan kayu manis dapat mempertahankan kadar gula darah tetap rendah. Karenanya, tambahkan kayu manis dalam hidangan gurih. Konsumsi setengah sendok makan kayu manis tiap hari bahkan dapat menurunkan gula darah hingga 20 persen

Bahaya Kesehatan dari Makan Berlebihan Saat Lebaran


Siapa yang tak tergoda ketika melihat berbagai hidangan masakan lezat yang bersantan khas Lebaran seperti opor, gulai, dan rendang. Belum lagi cemilan-cemilan yang berjajar di atas meja seolah melambaikan tangan untuk segera disantap. Apa salahnya disantap? Makan saja, toh tak sering-sering. Hanya saja, Anda juga harus hati-hati, jangan makan berlebihan.

“Makanan yang mengandung kuning telur, kemudian makanan yang berasal dari hewan itu pasti mengandung kolesterol. Lainnya bersifat lemak jenuh misalnya makanan dari santan yang dipanaskan berulang-ulang dan gorengan,” Kata Marya Haryono, dokter gizi dari RSU Bunda, Menteng.

Dia menambahkan, semua makanan tersebut jika disantap berlebihan, punya risiko yang membahayakan kesehatan Anda. Salah satunya adalah bahaya kegemukan dan juga penyakit lainnya. “Kalau makannya berlebihan saat Lebaran dengan begitu banyaknya sajian makanan, otomatis pasti mempengaruhi berat badannya, komposisi lemak tubuh, profil di dalam darah itu juga akan mengalami perubahan menjadi lebih banyak.” ujar Marya.

Kenaikan berat badan ini akan menyebabkan rentetan risiko kesehatan lain yang mungkin dialami. Marya menambahkan, berat badan yang naik ini akan memengaruhi metabolisme tubuh. “Risiko obesitas itu akan mempengaruhi metabolisme tubuh seperti kenaikan kolesterol, pembuluh darah, kencing manis, penyakit jantung itu akan terjadi jika berat badan terus bertambah,” ujarnya.

Hanya saja, ini tak berarti kalau Anda sama sekali tak boleh menyantap hidangan Lebaran yang super nikmat ini. “Solusinya memang harus kendalikan diri. Jadi kalau memang jamnya makan ya makanlah, tetapi saat di luar jam makan itu yang kita harus lebih berhati-hati,” katanya. “Kalau toh memang ada jeda waktu untuk snack time, itulah saatnya kita memilih jenis makanan yang berserat tinggi seperti buah atau sayur dan salad.”

Khasiat Kunyit Melampaui Obat-obat Modern


Kunyit memiliki rasa yang pedas, hangat, sekaligus pahit. Aromanya ringan, mengingatkan pada jeruk dan jahe. Bumbu ini juga digunakan untuk membuat kari, dan memberikan warna cerah pada sejumlah makanan. Telah lama kunyit digunakan sebagai obat anti-inflamasi oleh sistem pengobatan Tiongkok dan India. Warna kuning oranye yang pekat digunakan sepanjang peradaban sebagai bumbu, obat yang menyembuhkan, dan pewarna tekstil.

Beberapa bumbu obat tradisional didukung oleh penelitian ilmiah modern. Kunyit adalah rempah-rempah yang mengumpulkan seluruh khasiat obat berbasis medis dengan sedikit efek samping dibandingkan obat farmasi yang dipatenkan. Terkandung sejuta manfaat di dalam kunyit. Bumbu yang sangat unik ini memiliki tingkat keselamatan obat yang sangat tinggi dibandingkan hidrokortison, atau obat-obat kemoterapi. Selain itu, tidak ada yang menyamai rekam jejak kunyit dalam hal keamanan pengobatan jika kita melacak 6000 tahun ke belakang.

Dikutip dari laman whfoods, minyak yang terkandung pada kunyit menunjukkan aktivitas anti-inflamasi yang signifikan. Kunyit memiliki pigmen kuning atau oranye yang disebut kurkumin. Kurkumin dianggap sebagai agen farmakologis utama dalam kunyit.

Dalam banyak penelitian, efek anti-inflamasi kurkumin sebanding keampuhannya dengan hidrokortison (senyawa antiradang) dan fenilbutazon (obat anti-inflamasi).
Melalui studi klinis terbukti bahwa kurkumin juga memiliki efek antioksidan yang sangat kuat. Sebagai antioksidan, kurkumin mampu menetralisir radikal bebas, yaitu bahan kimia penyebab sejumlah kerusakan sel-sel sehat dan membran sel.

Penyakit radang sendi adalah salah satu akibat dari radikat bebas. Kombinasi kunyit terhadap efek antioksidan dan anti-inflamasi menjelaskan mengapa banyak orang dengan penyakit sendi merasa lega setelah menggunakan rempah-rempah ini secara teratur.

Antioksidan pada zat kurkumin kunyit melindungi sel-sel usus besar dari radikal bebas yang merusak DNA. Kurkumin juga membantu tubuh menghancurkan sel-sel kanker bermutasi agar tidak menyebar ke seluruh tubuh. Kunyit memiliki khasiat besar untuk menyembuhkan. Namun dikarenakan kurangnya eksklusivitas, kemampuan paten dan keuntungan yang dihasilkan, tanaman dari kelompok jahe-jahean ini tampaknya sulit menerima cap persetujuan dari Food and Drug Administration.

Diperlukan uji klinis bertahap, tak terkecuali investor yang bersedia mengambil risiko kehilangan US$ 800 juta atau sekitar Rp 9,7 triliun yang harus dikeluarkan. Beberapa khasiat menakjubkan dari kunyit di antaranya adalah melindungi kerusakan paparan radiasi, mencegah Alzheimer, menghancurkan kanker, melindungi dari keracunan logam berat, menghancurkan sel punca kanker yang merupakan akar dari semua kanker, dan mengurangi tingkat peradangan.

Yang menakjubkan dari kunyit adalah kemampuannya memperbaiki kondisi yang benar-benar resisten terhadap pengobatan konvensional. Ada lebih dari enam ratus kondisi kesehatan tambahan yang dapat dicegah atau diobati dengan kunyit. Dan faktanya kunyit tumbuh bebas hampir di setiap daratan bumi.

Mari Menghitung Waktu Terlama Kita Dapat Mengemudi Berdasarkan Ketahanan Tubuh


Mengemudi lama untuk perjalanan jauh seperti mudik tidak bisa disepelekan. Aktivitas yang menguras tenaga itu sangat dipengaruhi kesehatan agar tetap bisa dilakukan optimal, jadi ada banyak hal yang perlu diperhatikan pengemudi.

Dokter Spesialis Gizi Klinik Saptawati Bardosono, menjelaskan, kelelahan adalah reaksi perlindungan diri secara fisiologis oleh tubuh untuk mencegah terjadinya masalah. Dari pandangan kesehatan, kelelahan karena mengemudi secara terus-menerus bisa menyebabkan gangguan mental dan fisik. Hal itu akan berpengaruh pada perhatian, perasaan, persepsi, pemikiran, dan pengambilan keputusan.

“Kurang tidur di malam hari dapat menyebabkan kelelahan saat mengemudi walau jarak dekat sekalipun, dan kurangnya istirahat selama mengemudi jarak jauh,” ujar Saptawati menjelaskan penyebab kelelahan mengemudi, via surat elektronik, Senin (6/7/2015).

Mengemudi butuh banyak konsentrasi, tanggung jawab pengemudi bukan hanya untuk penumpang tapi juga keselamatan pengguna jalan lain. Bila fokus terusik lelah maka risiko human error meningkat. Saptawati menyetarakan waktu mengemudi saat mudik yang ideal seperti aktivitas sehari-hari. “Saat mudik seperti halnya lama kerja pada lazimnya, maka lama mengemudi sebaiknya maksimal delapan jam untuk mencegah terjadinya kelelahan,” ucap Saptawati.

Pembalut Wanita Berklorin … Siapa Yang Harus Dipercaya?


Tiga hari terakhir, pembalut berklorin menjadi perbincangan hangat baik offline maupun online. Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YKLI) pada Selasa (7/7/2015) lalu merilis hasil studi yang menyatakan bahwa 9 pembalut dan 7 pantyliner mengandung klorin. Bukannya mencerahkan dan menggugah kesadaran pemerintah untuk bertindak, riset yang bermaksud melindungi masyarakat dari zat berbahaya itu malah berakhir antiklimaks. Publik bingung serta Kementerian Kesehatan pun ogah menindaklanjuti.

Pertanyaan muncul karena YLKI dalam konferensi pers menyatakan bahwa sejumlah pembalut yang diteliti “mengandung klorin”. Pertanyaannya kemudian, klorin dalam bentuk apa yang terdapat pada pembalut itu? Anggota Harian YLKI, Ilyani Sudrajat, ketika dihubungi Kompas.com, Kamis (27/7/2015) kemarin, mengungkapkan, “Yang kami analisis klorin bebas, Cl2.” Pernyataan tersebut secara ilmiah agak ganjil. Klorin bebas secara kimia adalah klor (Cl) yang tidak berikatan dengan atom lainnya. Klorin bebas dapat berupa molekul bermuatan netral klorin (Cl2) ataupun berupa ion hipoklorit dan hipoklorat.

Profesor farmakologi dari Fakultas Farmasi, Universitas Gajah Mada (UGM), Zullies Ikawati, mengungkapkan, “Biasanya klorin bebas (dalam bentuk Cl2) terdapat dalam bentuk gas”. Cl2 punya titik didih -34 derajat Celsius sehingga pasti berbentuk gas dalam suhu kamar.

YLKI mengungkapkan bahwa mereka melakukan analisis Cl2 dengan menggunakan spektofotometri. Pada dasarnya, teknik itu mengukur konsentrasi suatu senyawa dalam larutan berdasarkan spektrum warnanya. Kepala Pusat Penelitian Kimia Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Agus Haryono, mengungkapkan bahwa kemungkinan Cl2 berada dalam pembalut bisa saja ada, walaupun sangat kecil. Taruhlan Cl2 memang ada pada pembalut. Agus mengatakan, sulit untuk mengukurnya dengan metode spektofotometri. “Kalau konsentrasinya sudah dalam ppm itu sulit dengan spektofotometri. Perlu metode yang lebih presisi, misalnya kromatografi gas,” katanya.

Di samping itu, jika memang ada Cl2 dalam pembalut, pertanyaan juga bagaimana bisa membuat Cl2 yang biasa dalam bentuk gas tersebut bisa diukur dengan spektofotometri. Biasanya senyawa harus dilarutkan dahulu sehingga bisa diukur dengan metode itu.

Zullies mengungkapkan, jenis residu pada pembalut tergantung pada pross pemutihannya. Proses pemutihan dengan gas klorin akan meninggalkan produk samping berupa dioksin. Senyawa tersebut yang sebenarnya banyak dikgawatirkan sebab bersifat karsinogenik, memicu endometriosis. Pemutihan juga bisa dilakukan dengan ECF (Elemental Chlorine Free). Ini artinya tidak menggunakan klorin bebas tetapi masih dengan senyawa yang mengandung klorin, yaitu klorin dioksida. “By product yang dihasilkan adalah klorit atau klorat,” jelas Zullies.

Sementara, ada juga pemutihan yang benar-benar bebas klorin, dikenal dengan Total Chlorine Free (TCF). Senyawa yang digunakan adalah hidrogen peroksida, senyawa yang cepat bereaksi dan hampir tidak meninggalkan residu. Nah, kembali lagi ke pertanyaan, apa yang sebenarnya dianalisis YLKI? Dioksin, klorit, atau klorat? YLKI harus memberi penjelasan. Apa memang residu itu yang dimaksud, atau memang gas klorin?

Merespon hasil riset YLKI, Direktur Jenderal Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan Kementerian Kesehatan Maura Linda Sitanggang Rabu lalu (8/7/2015) mengatakan, pembalut yang mengandung klorin aman. “Ambang batas untuk klorin itu tidak dicantumkan di persyaratan internasional. Jadi, itu yang memenuhi syarat dengan ambang batas lemah. Kalau klorin dimakan, baru khawatir,” ungkapnya dalam konferensi pers.

Tentang ambang batas, YLKI menyinggung Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 472/MENKES/PER/V/1996 tentang pengamanan bahan berbahaya bagi kesehatan. Klorin tercantum sebagai bahan kimia bersifat racun dan iritasi.
Linda mengatakan, “Klorin itu yang tidak boleh dikandung dalam makanan. Jadi, nanti akan kami klarifikasi sama YLKI kalau itu peraturan makanan, ya memang enggak boleh. Dalam SNI, tidak tercantum (standar klorin), di FDA juga tidak.” Benarkah?

Terlepas dari ganjilnya riset YLKI, Zullies dan Agus memandang bahwa standarisasi produk pembalut memang perlu dilakukan. Mengatakan bahwa pembalut berklorin pasti aman juga terlalu gegabah. Zullies mengungkapkan, penggunaan klorin dalam pembuatan pembakut memang punya dampak positif yaitu mensterilkan. Namun, aman tidaknya residu akan sangat tergantung pada dosisnya.

Dalam ilmu zat racun, tak ada bahan yang benar-benar bisa dianggap bermanfaat atau racun. Jadi, apakah klorit dan klorat sebagai residu pasti aman? Zullies mengatakan, adanya wanita yang sering mengeluh gatal saat memakai pembalut bisa jadi tanda adanya iritasi yang disebabkan oleh klorit dan klorat.

“Untuk lebih menjamin, perlu ditentukan batas amannya, standar untuk pembalut berapa. Dan sebenarnya tidak cuma pembalut itu, tetapi juga produk diaper yang biaa dipakai bayi dan orang tua,” ungkap Zullies. Agus mengatakan, “Produk personal care memang saat ini belum ada batasannya.” Penting juga untuk mendorong transparansi bahan yang digunakan untuk menyusun dan mengolah produk sehingga konsumen paham dan bisa memilih.

Penting pula untuk memikirkan dampak penggunaan klorin selain pada tubuh kita. Walaupun mungkin pembalut yang diputihkan dengan gas klorin sudah tak ada, penggunaan klorin dioksida masih marak. Ada banyak sekali pembalut yang diproduksi setiap hari atau bulannya. Bayangkan berapa banyak klorin dioksida yang digunakan. Seperti apa konsekuensinya jika limbah proses pemutihan itu banyak terlepas ke lingkungan? Adaklah efek merugikan dalam jangka panjang?

Mungkinkah membuat pembalut yang tak perlu diputihkan? Soal sterilisasi, mungkinkah dengan senyawa lain? Atau, mungkinkah usulan Tulus Abadi, juga dari YLKI, yang mengajak perempuan kembali memakai kain untuk pembalut selama haid diterapkan? Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) menyatakan bahwa senyawa yang dianalisis dalam riset pembalut berklorin adalah klorin bebas.

Pernyataan itu diungkapkan oleh Ilyani Sudrajat, Anggota Harian YLKI, menyusul kontroversi yang muncul setelah rilis hasil riset pada Selasa (7/7/2015). “Yang kami analisis klorin bebas, Cl2, metodenya dengan spektofotometer,” kata Ilyani. “Yang melakukan analisis laboratorium yang sudah terakreditasi. Kami juga lakukan ini dengan dana YLKI sendiri,” imbuhnya. Menjadi masalah kemudian, bagaimana caranya sehingga klorin bebas tersebut bisa terdapat pada pembalut dan bagaimana laboratorium bisa mengukurnya?

“Biasanya klorin bebas terdapat dalam bentuk gas,” kata Zullies Ikawati, profesor bidang farmakologi dari Fakultas Farmasi, Universitas Gajah Mada (UGM). Klorin dalam bentuk Cl2 memiliki titik didih -34 derajat Ceslius. Dalam suhu ruangan, unsur yang termasuk golongan halogen itu pasti berada dalam bentuk gas. Memang, klorin bisa dicairkan dalam suhu kamar. Namun untuk bisa dicairkan, klorin harus dikondisikan dalam tekanan tinggi, sekitar 740 kPa.

Dengan fakta-fakta itu, bagaimana klorin dalam bentuk Cl2 berada dalam pembalut dan bagaimana diukur dengan spektofotometer? Sangat baik tujuan YLKI melindungi konsumen. Namun, Zullies juga meminta agar YLKI menjelaskan lebih detail risetnya. Penting bagi YLKI untuk menggelar pemaparan bersama laboratorium penguji guna menerangkan perkara penelitian. Kalau kredibel, laboratorium harus berani mengungkap.

Di sisi lain, Kementerian Kesehatan juga tak bisa hanya mengatakan bahwa pembalut yang beredar di Indonesia aman-aman saja.Zullies mengungkapkan, banyak pembalut masih diputihkan dengan senyawa klorin dioksida dengan hasil samping klorit atau klorat. Penetapan batas aman tetap diperlukan.

Sebelumnya, YLKI menyatakan bahwa 7 merek pembalut yang beredar di Indonesia mengandung klorin. Kandungan tertinggi pada pembalut Charm, sebesar 54,73 ppm.Begitu dirilis, kontroversi muncul. Sebab, senyawa yang biasa dikhawatirkan pada pembalut dan tampon adalah dioksin.Dioksin merupakan senyawa karsinogenik, terbukti memicu endometriosis. Senyawa itu muncul sebagai produk samping proses pemutihan dengan gas klorin.

Kementerian kesehatan yang menggelar konferensi pers pada Rabu (8/8/2015) kemudian mengklaim bahwa semua pembalut di Indonesia tidak diputihkan dengan gas klorin dan bebas dioksin.Direktur Jenderal Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan Kementerian Kesehatan Maura Linda Sitanggang mengatakan bahwa pembalut dengan klorin (bukan dioksin) aman. “Ambang batas untuk klorin itu tidak dicantumkan di persyaratan internasional. Jadi, itu yang memenuhi syarat dengan ambang batas lemah. Kalau klorin dimakan, baru khawatir,” katanya.