Category Archives: Energy

Cara Memanfaatkan Minyak Babi Untuk Bahan Bakar Motor


Minyak bekas menggoreng babi biasanya disisihkan di satu wadah dan kerap berakhir di tempat sampah. Ternyata, sisa minyak olahan itu bisa dijadikan sumber bahan bakar minyak alternatif, ethanol.

Hormel’s Black Label Bacon, perusahaan pengolah daging, melihat kesempatan itu dan membuat sepeda motor dengan perlakuan khusus. Dikategorikan khusus karena menggunakan minyak sisa gorengan babi sebagai bahan bakar alternatif. Mereka menyebutnya dengan “Sepeda Motor Bertenaga Minyak Babi”.

Untuk membuktikan kualitas dari bahan bakar nabati tersebut, dilakukan touring khusus dari kantor perusahaan di Minneapolis menuju San Diego, California. Perjalanan berlangsung dalam beberapa hari dan bertepatan dengan ajang tahunan, San Siego Bacon Week atau festival pencinta bacon, 24-30 Agustus 2014.

Moge khusus

Salah satu yang menarik, adalah sepeda motor bermesin besar (moge) yang disiapkan khusus untuk ajang promosi ini. Para tim memutuskan untuk menggunakan Track T-800 CDI bertenaga mesin diesel dari produsen Dutch EVA. Sepeda motor ini menggendong mesin yang dikembangkan khusus untuk sepeda motor oleh Mercedes-Benz.

Mulai diproduksi 2009 hingga akhir 2012, akhirnya dihentikan karena tidak terlalu berhasil dipasar. Kabarnya, hanya ada 20 unit sepeda motor yang berhasil terjual selama masa produksi.

Sepeda motor diesel sengaja dipilih, karena memang mesin solar ini memang sudah terbukti mampu mengonsumsi ethanol dalam jumlah terbatas dan justru punya pengaruh positif. Moge ini punya rata-rata konsumsi bahan bakar 42,5 kpl, dengan kemampuan akselerasi 0-100 kpj dalam detik detik.

Sepeda motor itu sudah tiba di San Diego sejak tiga hari lalu, (15/8/2014) dan sudah bisa dikunjungi agar bisa dilihat langsung oleh masyarakat, menjelang festival tahunan di akhir bulan ini.

Ilmuwan London Ciptakan Sel Surya Dari Cangkang Udang


Para peneliti di Queen Mary University of London (QMUL) berhasil mengembangkan solar sel listrik dengan bahan kimia yang berasal dari cangkang udang dan krustasea. Bahan kitin dan kitosan yang ditemukan pada cangkang ini diklaim lebih murah ketimbang logam seperti rutenium—mirip dengan platinum—yang saat ini digunakan untuk pembuatan penghasil tenaga surya berstruktur nano.

Tim peneliti memang sedang mencari cara membuat alat penghasil tenaga surya yang dapat digunakan untuk mengisi tablet, ponsel, jam tangan pintar, dan film semitransparan di jendela. Para peneliti mengolah cangkang krustasea dan udang dengan proses hidrotermal karnonisasi untuk membuat titik-titik kuanton karbon (CQDs).

“Kemudian kami membuat mantel seng nanorods oksida dengan CQDs tersebut untuk menghasil tenaga surya,” kata Joe Briscoe, anggota tim peneliti, seperti dikutip dari Sciencedaily, Senin, 23 Februari 2015.

Dia menuturkan proyek ini menjadi terobosan tenaga surya. Briscoe beralasan, cara ini lebih cepat dan mudah menghasilkan tenaga surya dari bahan yang lebih murah. “Setelah kami meningkatkan efisiensi, teknologi ini dapat digunakan di mana saja selama tersedia cahaya matahari.”

Magdalena Titirici, pakar teknologi material berkelanjutan dari QMUL, mengatakan tim yang dipimpinnya pernah menggunakan biomassa dari ganggang untuk membuat jenis superkapasitor yang dapat menampung listrik dari tenaga surya. “Kami akan mengelaborasi teknologi ganggang ini dengan teknologi yang baru ditemukan.”

Ikan Hiu Paus Seberat 6 Ton Terperangkap Di PLTU Paiton Probolinggo


Seekor Hiu Paus masih terperangkap di kanal PLTU Paiton di Probolinggo, Jawa Timur. Penyelamatan hiu paus seberat 6 ton ini bukan perkara mudah sehingga sebuah tim akan segera dibentuk. “Kita akan bentuk tim dengan melibatkan para ahli, rencananya kita akan mengadakan pertemuan pada Rabu 1 Februari menatang,” kata Kepala Balai Pengelolaan Sumber daya Pesisir dan Laut Denpasar Bapak Ikram M Sangadji Sabtu (7/2/2015).

Memindahkan hiu paus ini tentunya bukan perkara mudah. Hal ini disebabkan hewan ini memiliki berat 6 ton dan juga panjang sekitar 6 meter. “Karena itu kita bentuk tim, selain itu posisi hewan ini ada di PLTU yang merupakan objek vital,” katanya.

Ikram menduga, ikan ini terpisah dari kawanannya, karena hewan ini biasanya bergerak secara berkelompok. Hewan ini masuk ke kanal diduga karena mencari makanan berupa plankton. “Di kanal itu ada pertemuan antara pasang dan surut sehingga kandungan nutrisinya tinggi. Diperkirakan dia mengikuti arus sehingga masuk ke dalam kanal tersebut,” katanya. Ikram mengatakan, hiu ini mencari makanan dengan mencari plankton di lautan. Caranya dengan menyaring air laut melalui mulutnya. “Jadi bukan hiu yang memakan ikan,” katanya. Kawasan Probolinggo merupakan daerah persebaran Hiu Paus. Hiu ini biasanya bergerak dari kawasan ini menuju ke kawasan Surabaya.

Hiu paus sepanjang 6 meter yang terperangkap di kanal PLTU Paiton diperkirakan masih remaja. Hiu ini ditaksir memiliki berat sekitar 6 ton. “Diperkirakan masih remaja, karena kalau sudah dewasa bisa lebih besar lagi,” kata Kepala Balai Pengelolaan Sumberdaya Pesisir dan Laut Denpasar Bapak Ikram M. Sangadji, Sabtu (7/2/2015).

Ikram mengatakan, ikan ini diduga terpisah dari kawanannya, karena hewan ini biasanya bergerak secara berkelompok. Hewan ini masuk ke kanal diduga karena mencari makanan berupa plankton. “Di kanal itu ada pertemuan antara pasang dan surut sehingga kandungan nutrisinya tinggi. Diperkirakan dia mengikuti arus sehingga masuk ke dalam kanal tersebut,” katanya. Ikram mengatakan, hiu ini mencari makanan dengan mencari plankton di lautan. Caranya dengan menyaring air laut melalui mulutnya. “Jadi bukan hiu yang memakan ikan,” katanya.

Ikram mengatakan, kawasan Probolinggo merupakan daerah persebaran Hiu Paus. Hiu ini biasanya bergerak dari kawasan ini menuju ke kawasan Surabaya. Sementara itu, Direktorat Konservasi Kawasan dan Jenis Ikan dari Kementerian Kelautan dan Perikanan juga mendapatkan laporan mengenai hiu yang terjebak itu pada 2 Februari lalu. Saat ini hiu berukuran lima meter sampai enam meter ini masih terperangkap di kanal tersebut. Hiu paus merupakan jenis ikan berukuran besar yang statusnya telah dilindungi oleh Kepmen KP 18 Tahun 2013.

Seekor hiu paus sepanjang 6 meter terperangkap di kanal yang ada di PLTU Paiton, Probolinggo, Jawa Timur. PLN memastikan keberadaan hiu paus tersebut tidak menggangu operasional pembangkit. “Pada dasarnya tidak mengganggu operasi pembangkit namun memang harus dievakuasi dengan hati-hati,” kata Kepala humas Perusahaan listrik negara, PLN Bambang Dwi Yanto Sabtu (7/2/2015).

Saat ini petugas dari Balai Pengelolaan Sumber Daya Pesisir dan Laut dari Kementerian Kelautan dan Perikanan masih mencoba mengevakuasi hiu paus tersebut. “Masih coba dievakuasi,” katanya. Sementara itu, Direktorat Konservasi Kawasan dan Jenis Ikan dari Kementerian Kelautan dan Perikanan juga mendapatkan laporan mengenai hiu yang terjebak itu pada 2 Februari lalu. Saat ini hiu berukuran lima meter sampai enam meter ini masih terperangkap di kanal tersebut. Hiu paus merupakan jenis ikan berukuran besar yang statusnya telah dilindungi oleh Kepmen KP 18 Tahun 2013.

Cara Manajemen Energi Melalui Lampu LED


Seruan penghematan energi umumnya hanya kembali pada wacana penggunaan energi terbarukan. Padahal, hemat energi implikasinya bisa sangat luas. Salah satunya adalah mulai menggunakan lampu LED (light emiting diode) serta solusi manajemen energi. Pemborosan energi memang lebih terlihat pada penggunaan bahar bakar minyak untuk kendaraan yang terjebak kemacetan, atau untuk industri. Tetapi tahukah kita, penggunaan listrik yang seenaknya di rumah tangga atau infrastuktur ternyata memberi beban listrik yang tidak sedikit.

Padahal penghematan listrik ini bisa dilakukan dengan cara sederhana, antara lain dengan penggunaan lampu LED yang saat ini sudah banyak dipakai di kota-kota besar dunia. Di Jepang dan negara lain, pencahayaan di fasilitas umum sudah mulai beralih menggunakan lampu LED yang pemakaian listriknya bisa dihemat sampai 85 persen.

“Lampu LED ini menghasilkan cahaya lebih terang tetapi energinya sedikit,” kata Makamoto Mihara dari Global Communication Group Panasonic Corporation, saat menerima kunjungan wartawan dari Asia Tenggara di Tokyo (26/11/14). Panasonic adalah salah satu perusahaan yang sangat serius mengembangkan lampu LED. Saat ini mereka lebih fokus pada solusi pencahayaan yang hemat energi. Pasalnya, di masa depan, produk yang ramah lingkungan memang sudah tidak bisa ditawar-tawar lagi.

Pada ajang Super Box 2014 yang diadakan Panasonic pada 26-28 November 2014 di Jepang, Panasonic memamerkan kepada para rekan bisnis mereka solusi apa saja yang bisa ditawarkan dengan lampu LED. Tak hanya untuk penerangan di rumah, lampu LED kini didorong untuk dipakai di berbagai infrastuktur, mulai dari stasiun, lampu jalan, bandara, terowongan, sekolah, rumah sakit, perkantoran, museum, hingga departement store. Kebutuhan lampu di tempat-tempat umum tersebut sangat besar karena untuk mal saja misalnya, dibutuhkan paling tidak 3.000 lampu.

Sistem pencahayaan kini juga dilengkapi dengan sensor yang bisa mendeteksi apakah ada orang di dalam ruangan sehingga terang gelapnya bisa disesuaikan. “Ini bukan hanya untuk lampu, untuk pendingin ruangan juga begitu, kalau sensor mendeteksi tidak ada orang di ruangan, maka lampu akan diredupkan dan pemakaian AC lebih minimal,” kata Mihara.

Pencahayaan memakai lampu LED generasi terbaru juga bisa menyuguhkan sensasi cahaya dan warna yang hidup dan dimanis. Misalnya saja pencahayaan untuk restoran atau supermarket yang bisa diatur sedemikian rupa sehingga warna makanan tampak lebih menarik sehingga konsumen tertarik untuk membeli.

Sementara itu di department store, lampu LED yang digunakan akan memberikan warna kulit lebih alami dan tidak terlalu kuning. Warna kulit pun terlihat lebih cantik sehingga direkomendasikan untuk dipakai di bagian penjualan kosmetik. “Ada berbagai solusi pencahayaan yang kami tawarkan untuk kebutuhan yang beraneka ragam,” ujarnya.

Manajemen energi
Untuk membuat implementasi penghematan energi tersebut bisa dikontrol, Panasonic juga menawarkan solusi manajemen energi yang disebut dengan “Emanage”. Secara umum Emanage merupakan kombinasi penggunaan beberapa teknologi terbaru untuk mencapai tujuan penghematan energi.

Menggunakan teknologi cloud, setiap data konsumsi energi bisa dilihat secara mudah di perangkat tablet. “Dengan data yang sudah diubah menjadi grafik, kita jadi lebih gampang mengatur penggunaan energi. Aplikasi ini juga bisa dipakai di smartphone sehingga kita bisa mengontrol penggunaan listrik atau alat-alat rumah tangga di mana pun,” kata Mihara.

Pemerintah Jepang sendiri mendorong solusi hemat energi untuk hunian, perkantoran, atau fasilitas publik. Menurut Mihara, pemerintah Jepang memberi subsidi untuk setiap bangunan baru yang memasang peralatan hemat energi. “Jika hanya memasang peralatan saja, seperti lampu LED, maka subsidinya hanya sepertiga dari biaya pembangunan, sementara jika pengembang juga menginstal Emanage, subsidinya bisa sampai separuh biaya,” ujarnya.

Di Indonesia sendiri menurut Muara D Makarim, Corporate Communication Manager Panasonic Gobel Indonesia, belum diterapkan solusi hemat energi seperti di Jepang. “Sejauh ini solusi hemat energi untuk bisnis atau proyek infrastuktur hanya penggunaan AC dan lampu, tapi belum Emanage,” katanya.

Mungkin sudah saatnya pemerintah memberi dukungan pada hunian atau perkantoran hemat energi karena cara tersebut bisa mendorong orang untuk beralih kepada peralatan yang tidak rakus mengonsumsi energi. Pada akhirnya, beban listrik juga jauh berkurang dan kita pun telah ikut menekan pemanasan global.

Ilmuwan Berhasil Buat Baterai Nuklir Berbahan Dasar Air


Baterai menjadi perangkat penting dalam berbagai peralatan elektronik, dari telepon seluler hingga kendaraan bermotor. Peneliti dan perusahaan teknologi terus berusaha meningkatkan daya tahan dan efisiensi baterai. Peneliti dari University of Missouri berhasil membuat baterai nuklir berbahan dasar larutan air yang diklaim lebih tahan lama dan efisien.

Jae W. Kwon, pakar bidang kelistrikan, teknik komputer, dan nuklir dari kampus tersebut, mengatakan betavoltaic atau teknologi baterai yang mengubah radiasi menjadi energi listrik telah dipelajari sebagai sumber tenaga sejak 1950-an. Menurut Kwon, teknologi nuklir yang terkontrol seperti itu tak akan membahayakan. “Kita sudah menggunakan beberapa aplikasi komersial teknologi nuklir sehari-hari, termasuk pada detektor kebakaran di kamar tidur dan tanda keluar di gedung,” kata Kwon seperti ditulis laman universitas, Selasa, 16 September 2014.

Baterai yang dibuat dalam riset Kwon dan Baek Hyun Kim itu menggunakan isotop radioaktif strontium-90 yang bisa meningkatkan energi elektrokimia di dalam larutan berbahan dasar air. Di larutan itu ditempatkan elektroda titanium dioksida yang memiliki struktur nano. Elemen tersebut umumnya terdapat di dalam krim tabir surya dan penangkal ultraviolet. Elektroda yang dilapisi platinum itu mengumpulkan dan dengan efektif mengubah energi menjadi elektron.

Kwon mengatakan air berperan sebagai penyangga dan partikel energi kuantum atau plasmon permukaan yang terbentuk bisa meningkatkan efisiensi baterai. “Larutan terionisasi ini tidak mudah membeku pada temperatur sangat rendah dan bisa digunakan dalam berbagai aplikasi termasuk baterai mobil,” ujar Kwon. “Jika dikemas dengan baik mungkin juga dipakai pada pesawat luar angkasa.”

Sinkhole Di Rusia Akhirnya Mampu Menjelaskan Misteri Segitiga Bermuda


Sejumlah lubang misterius mirip sinkhole (lubang runtuhan) yang berukuran raksasa ditemukan di Siberia, salah satunya di wilayah terpencil di Semenanjung Yamal, yang berarti ‘akhir dunia’, dalam bahasa penduduk asli Nenets. Penemuan tersebut memicu banyak spekulasi tentang asal-usulnya. Kini, sebuah laporan tersebut menawarkan penjelasan alternatif soal teka-teki lubang tersebut, bahkan mengklaim ada kaitannya degan misteri Segitiga Bermuda. Apa hubungannya?

Namun, sejumlah ilmuwan lain yang tak terlibat dalam penyusunan laporan terbaru berpendapat, mekanisme sinkhole yang aneh itu, bagaimanapun, tak menjelaskan peristiwa kehilangan kapal, pesawat, atau manusia di Segitiga Bermuda — area laut imajiner yang menghubungkan 3 wilayah yaitu Bermuda, San Juan – Puerto Rico, dan Miami di Amerika Serikat.

Juli lalu, penggembala rusa Siberia menemukan kawah raksasa yang menganga di Semenanjung Yamal. Tak hanya itu, 2 lubang aneh lain juga ditemukan, satu di Distrik Taz dan lainnya di Semenanjung Taymyr. Sementara para ilmuwan berspekulasi soal penyebanya, asal usul mereka masih jadi misteri.

Pada bulan yang sama, ilmuwan Rusia menuliskan studi mereka di jurnal Nature, yang menyebut ledakan gas yang terperangkap dalam permafrost atau tanah beku — yang dikenal sebagai metana hidrat (methane hydrates) — mungkin membentuk sinkhole raksasa itu. Mereka menyebut, udara dekat dasar kawah diketahui mengandung konsentrasi tinggi metana yang luar biasa.

Kini, para peneliti bahkan melompat lebih jauh dengan mengatakan bahwa metana hidrat bertanggung jawab atas lenyapnya kapal dan pesawat serta manusia di Segitiga Bermuda — yang sampai kini belum terungkap. Demikian dikabarkan Siberian Times, yang mengutip laporan Science in Siberia — media mingguan yang diterbitkan cabang Russian Academy of Sciences.

Meski keberadaan Segitiga Bermuda masih kontroversial, para ilmuwan berpegang pada gagasan bahwa terlepasnya gas metana bisa menenggelamkan kapal di sejumlah perairan.

“Jadi mungkin bahwa sinkhole yang sama, yang terbentuk di laut, juga memproduksi gas hidrat yang terdekomposisi,” kata Vladimir Romanovsky, ahli geofisika yang mempelajari permafrost dari University of Alaska Fairbanks, yang tak terlibat dalam penelitian, seperti dikutip dari situs sains LiveScience, Rabu (15/9/2014).

Metana biasanya relatif padat di dasar laut. Stabil pada tekanan lebih dari 35 bar dan pada suhu rendah. Namun, sekali robek, ia akan pecah dan membentuk gelembung gas yang naik lalu meledak di permukaan air.

“Gas hidrat diketahui ada di sepanjang tepi benua di Atlantik Utara AS, dengan area luas di Blake Ridge sebelah utara Segitiga Bermuda,” kata Benjamin Phrampus, ilmuwan bumi dari Southern Methodist University, Dallas. Dalam studi yang dipublikasikan American Journal of Physics pada 2003, gelembung yang muncul dari lepasnya metana dari dasar laut memang bisa membuat sebuah kapal tenggelam.

Dalam melakukan studi tersebut, para ilmuwan membuat model lambung kapal dan melepaskan gelembung di bawahnya, dan merekam apa yang terjadi. Ternyata, jika kapal tersebut berada tepat di atas gelembung, maka ia akan kehilangan daya apung dan karam.

Namun, meski fenomena tersebut berlaku pada model kapal, belum ada bukti bahwa itu terjadi di dunia nyata. Demikian kata Phrampus. Apalagi, pelepasan metana dalam skala besar tak pernah dilaporkan sepanjang sejarah — terkait hilangnya kapal dan pesawat di area diduga Segitiga Bermuda.
Kali terakhir lantai laut di area itu menjadi ventilasi gas adalah setelah Zaman Es (ice age), sekitar 20 ribu tahun lalu.

“Aku menganggap itu sebagai teori yang menarik. Tak lebih,” kata Phrampus.

Angkatan Laut AS atau US Navy tidak meyakini adanya Segitiga Bermuda. Sementara U.S. Board on Geographic Names tidak mengakuinya sebagai nama resmi. Belakangan, menurut pasar asuransi Lloyd’s of London, tak ada lagi kapal yang tenggelam di area itu

Pencipta LED Biru Raih Hadiah Nobel Fisika 2014


Isamu Akasaki dan Hiroshi Amano dari Jepang bersama Shuji Nakamura dari Amerika Serikat berhasil memenangkan Hadiah Nobel di bidang fisika karena berhasil menemukan lampu LED (Light-Emmiting Diode) biru sebagai sumber energi baru yang efisien dan ramah lingkungan.

Dikutip dari Fox News, Selasa, 7 Oktober 2014, ketiga ilmuwan ini telah mengerjakan proyek LED sejak awal 1990-an. Mereka berusaha memproduksi LED biru terang dari semikonduktor. Dengan menggunakan alat ini, cahaya lampu putih dapat dihasilkan dengan cara baru yang lebih irit energi dan tahan lama.

“Sekitar seperempat dari konsumsi listrik di dunia digunakan untuk tujuan pencahayaan. LED ini dapat berkontribusi untuk menghemat sumber energi bumi. Mereka berhasil ketika yang lain gagal,” kata Royal Swedish Academy of Sciences selaku penyelenggara acara di Stockholm, Swedia.

Sebenarnya, diode merah dan hijau sudah ada sejak lama, tapi tanpa cahaya biru, lampu bercahata putih pun tidak bisa dibuat. Namun, meski Akasaski dan rekannya berhasil menemukan LED biru, temuan ini masih menjadi tantangan tersendiri selama tiga dekade ke depan.

LED biru mampu membuat lampu bercahaya putih selama 100.000 jam, jauh lebih lama dibanding dengan bola lampu pijar yang hanya bertahan 1.000 jam. Lampu ber-LED biru ini dapat membantu manusia untuk lebih hemat energi, “Lampu ini sangat bermanfaat untuk hidup manusia,” kata panitia.

Akasaki, 85 tahun, adalah seorang profesor di Universitas Meijo dan di Nagoya University, sama seperti Amano, 54 tahun. Sementara itu, Nakamura adalah seorang profesor berusia 60 tahun yang dari University of California.