Category Archives: Dunia Binatang

Kucing Yang Hilang Saat Tsunami Ditemukan Dalam Keadaan Hidup


Tiga tahun terpisah dengan majikannya, Suika, seekor kucing betina berwarna hitam, berhasil pulang ke pangkuan pemiliknya, Kazuko dan Takeo Yamagishi, di Kota Ofunato, di Prefektur Iwate, Jepang.

Menurut laporan surat kabar Jepang Asahi Shimbun, yang kemudian dikutip BBC, Senin, 12 Mei 2014, Suika menghilang sejak 11 Maret 2011 lalu kala tsunami melanda Jepang.

Memang rumah keluarga Yamagishi tak sampai hanyut dibawa tsunami seperti sebagian rumah di kota ini. Namun, kucing kesayangan mereka tidak terlihat sejak saat itu. Selama tiga bulan, pasangan Yamagishi terus mencari keberadaan Suika, tapi hasilnya nihil. Suika menghilang begitu saja.

Hingga akhirnya pada 10 April lalu, pasangan lain melihat seekor kucing hitam meringkuk di sebuah hutan pinus di dekat rumah mereka. Karena kucing tersebut mengenakan kalung, mereka pun membawanya ke Ofunato Health Centre.

Beberapa hari berselang, tak ada yang mengklaim kepemilikan kucing hitam itu. Hingga akhirnya Ofunato Health Centre memutuskan untuk menaruh pengumuman di koran lokal. Saat akan difoto, karyawan koran tersebut melihat nama dan nomor telepon keluarga Yamagishi yang sudah memudar di kalung kucing tersebut.

Dari situlah Suika kemudian dikembalikan kepada pemiliknya. “Dari mana saja kau?” kata Kazuko begitu pertama kali berjumpa kembali dengan kucing kesayangannya.

Tidak jelas bagaimana Suika bisa selamat dari tsunami. Yang jelas, setelah tiga tahun berpisah, keluarga ini bisa berkumpul kembali. “Ini benar-benar seperti mimpi,” ujar Kazuko penuh haru.

Spesies Ular Langka Ditemukan di Meksiko


Sebuah spesies ular yang telah menghilang selama hampir 80 tahun ditemukan kembali di sebuah pulau terpencil di Meksiko. Menurut sebuah penelitian yang diterbitkan dalam jurnal ilmiah PLoS One, ular asli Clarion ditemukan lagi di salah satu pulau di gugus Kepulauan Revillagigedo, lebih dari 650 kilometer di lepas pantai Pasifik Meksiko.

Ular ini pertama kali ditemukan oleh ahli biologi Amerika Serikat, William Beebe, dalam kunjungannya ke Clarion tahun 1936, salah satu dari empat pulau di Kepulauan Revillagigedo. Ia kembali dengan membawa satu ular yang diawetkan dalam botol kaca.

Kunjungan berikutnya gagal menemukan lebih banyak ular. Tahun-tahun berikutnya, tak ada lagi ular jenis itu yang terlihat di pulau yang hanya dihuni oleh satu detasemen kecil marinir Meksiko. Sampel yang dibawa ke AS diasumsikan sebagai kesalahan pelabelan.

Tapi Daniel Mulcahy, seorang peneliti untuk National Museum of Natural History di Washington, menduga ular itu mungkin masih ada. Dia dan Juan Martinez Gomez dari Meksiko Ekologi Institute berangkat untuk menemukannya.

Martinez Gomez, seorang ahli biologi yang kenal betul habitat di Kepulauan Revillagigedo, mencatat pulau berubah banyak dari musim ke musim. Saat melakukan ekspedisi, mereka meniru langkah Beebe saat mencari ular itu, yang menyatu dengan formasi batuan pulau dan sebagian besar aktif di malam hari. Mereka menggunakan catatan lapangan asli Beebe sebagai panduan.

“Mengikuti petunjuk tersebut, kami seperti berada di jalan yang benar,” kata Martinez Gomez. Adalah salah satu mahasiswa pascasarjananya, Juan Alberto Cervantes, yang pertama untuk melihat salah satu ular untuk pertama kalinya sejak 1936.

Para peneliti melakukan analisis DNA untuk menetapkan panjang, ciri-ciri, dan darimana ular berasal. Tes menunjukkan ular ini sangat erat kaitannya dengan ular dari pesisir Sonora-Sinaloa di Meksiko, 800 kilometer jauhnya dari pulau itu. Martinez Gomez mengatakan nenek moyang ular itu mungkin sampai ke pulau ini dengan menempel pada batang pohon yang tumbang akibat badai dan terbawa air laut.

Patricia Escalante, seorang ahli biologi di National Autonomous University Meksiko menyatakan ekosistem pulau Revillagigedo sangat rapuh. Ia mencontohkan merpati Socorro yang punah di habitat alaminya sekitar tahun 1970-an. Spesimen hidup telah diambil dari pulau-pulau itu pada tahun 1920, dan keturunan mereka baru-baru ini kembali ditemukan di kepulauan itu.

Alasan Mengapa Babi Begitu Penting Bagi Riset Kedokteran


Dunia kedokteran terus mengembangkan diri untuk mencari cara menyelamatkan jutaan nyawa manusia. Upaya mereka antara lain didukung oleh hewan seperti babi. Para ilmuwan dari National Institute of Health bulan lalu mengumumkan, mereka sukses melakukan cangkok jantung ke babon yang secara genetik direkayasa dari babi.

Kemudian ilmuwan gen, Craig Venter, bermitra dengan United Therapeutics Corp untuk mengembangkan paru babi yang cocok dengan tubuh manusia. Namun sebenarnya, babi memiliki peran lebih dari sekadar sumber donor organ. Selama lebih dari 30 tahun, para ilmuwan telah menggunakan babi dalam berbagai bidang kedokteran, termasuk dermatologi, kardiologi (jantung), dan masih banyak lagi.

Baru-baru ini para ilmuwan bahkan mampu menumbuhkan kembali otot kaki manusia menggunakan implan yang dibuat dari jaringan kandung kemih babi. Lantas, apa yang membuat hewan ini begitu bernilai dalam riset kedokteran? Babi dan manusia memang banyak perbedaan. Keduanya hanya berbagi tiga klasifikasi ilmiah, dan tentu saja tidak ada kemiripannya dari luar akan tetapi dari dalam sifat manusia dan babi sangat mirip.

Swindle menjelaskan, mayoritas organ sistem babi punya kesamaan hingga 90 persen jika dibandingan dengan sistem pada manusia, baik dalam hal anatomi maupun fungsi.

“Mereka punya sejumlah kesamaan anatomi dan fisiologi dengan manusia walau sistemnya berbeda. Babi merupakan model riset translasi. Oleh karenanya, apa yang bekerja pada babi, besar kemungkinannya akan bekerja juga pada manusia,” kata dr Michael Swindle, penulis buku Swine in the Laboratory.

Sistem yang cocok antara lain sistem kardiovaskular karena ukuran dan bentuk jantung babi sama dengan milik manusia. Babi juga bisa mengalami aterosklerosis atau penumpukan lemak pada pembuluh darah, sama seperti halnya manusia. Mereka juga bisa mengalami reaksi serangan jantung.

Karena kesamaannya inilah para ilmuwan sejak lama menggunakan babi untuk menguji alat kateter dan metode operasi jantung. Babi juga dipakai untuk memahami bagaimana kerja jantung secara umum. Jaringan yang diambil dari jantung babi juga sudah dipakai untuk menggantikan katup jantung yang rusak pada manusia. Katup jantung ini bisa bertahan sampai 15 tahun dalam tubuh manusia.

Selain kesamaan jantung dan pembuluh darah, karakteristik lain yang hampir mirip antara manusia dan babi adalah, keduanya mengonsumsi tanaman dan juga daging. “Babi merupakan hewan omnivora seperti kita. Mereka bisa makan dan minum apa saja. Karena inilah, fisiologi pencernaan dan proses metabolik dalam lever mereka sama seperti pada manusia. Babi sudah dipakai dalam banyak studi seputar pola makan, termasuk soal penyerapan obat,” kata Swindle.

Organ ginjal
Kesamaan dengan manusia tidak berhenti sampai di sini. Ukuran ginjal babi dan fungsinya ternyata tak jauh berbeda dengan ginjal kita. Maka jadilah babi menjadi bagian dari riset tentang ginjal. Selain itu, babi juga sudah menjadi model standar operasi plastik karena proses penyembuhan kulit mereka lagi-lagi mirip dengan kulit manusia.

Ada pula hal lainnya. Para penderita diabetes yang menggunakan suntikan insulin harian juga bergantung pada insulin dari babi. Namun, ini hanya berlangsung sampai tahun 1980 karena setelah itu perusahaan farmasi mulai membuat insulin biosintetis menggunakan teknologi DNA.

Pankreas babi yang menghasilkan insulin memang sama dengan manusia sehingga berbagai riset mengenai diabetes sejak dulu memakai isolasi sel ini. Para ilmuwan tak mengetahui mengapa organ dan sistem anatomi babi begitu mirip dengan manusia. Swindle menduga bahwa jutaan tahun lalu mungkin kemiripannya lebih banyak lagi, tetapi proses evolusi membuat hewan ini berkembang secara berbeda.

“Saya pribadi percaya, babi adalah omnivora sejati sehingga metabolisme dan hormon mereka membuat banyak kesamaan dengan karateristik pada manusia,” katanya. Mengingat begitu banyaknya kesamaan dalam sistem organ dan makin tingginya kebutuhan donor organ, babi kini menjadi target sebagai sumber organ jantung dan paru bagi manusia.

Walau beberapa primata seperti babon dan simpanse lebih mirip dengan manusia, babi lebih menarik sebagai pilihan donor organ karena jumlah mereka lebih banyak. “Sebagai sumber organ, jika kita memilih spesies lain, maka harus jumlah yang tersedia harus banyak dan secara etik diterima,” kata dr Soon Park, ketua divisi bedah jantung dari University Hospital Case Medical Center.

“Jika babon memang lebih dekat kemiripannya dengan manusia dibanding babi, ada sejumlah masalah etik dan moral sehingga babon tidak bisa dipakai. Selain itu, hewan ini sulit berkembang biak menjadi banyak,” katanya. Mencangkokkan organ babi pada manusia, proses yang disebut dengan xenotransplantasi, tidaklah mudah karena sistem kekebalan tubuh manusia akan menolak. Namun, dengan kesuksesan para ilmuwan mendonorkan jantung babi ke primata, babi sekali lagi dilirik sebagai sumber donor yang mudah didapat.

Sinyal Radio Ganggu Sistem Navigasi Burung


Sinyal elektronik, termasuk gelombang radio AM, ternyata mampu mengganggu kerja kompas biologis burung-burung yang bermigrasi. Selama ini burung diketahui bermigrasi dengan melacak medan magnet bumi menggunakan kompas internal mereka. Studi terbaru para peneliti di Oldenburg, Jerman, menunjukkan sinyal elektronik, terutama di area perkotaan, berdampak pada kemampuan migrasi burung.

Ahli biologi dari Universitas Oldenburg, Henrik Mouritsen, menemukan gejala gangguan navigasi akibat sinyal elektronik ketika tengah meneliti pola migrasi burung robin Eropa (Erithacus rubecula). Mouritsen dan koleganya tengah mempelajari bagian otak burung mana yang memproses informasi navigasi untuk kompas mereka.

Mereka meneliti bagaimana burung bisa melacak medan magnet dengan menempatkannya dalam tempat tertutup supaya tidak melihat matahari dan bintang. Namun, burung-burung itu ternyata kehilangan orientasi. “Kami mencoba segala cara, tapi tidak ada berhasil. Kami akhirnya menutup tempat dengan dengan lembaran aluminium,” kata Mouritsen, seperti ditulis Nature, 7 Mei 2014.

Lembar aluminium yang dihubungkan ke tanah itu mampu mengurangi gangguan elektromagnetik dari frekuensi antara 50 kilohertz hingga 5 megahertz. Sinyal yang termasuk dalam rentang frekuensi itu adalah gelombang transmisi radio AM. Lapisan pelindung itu menurunkan intensitas gangguan sinyal dan burung-burung kembali menemukan orientasi arahnya.

Burung robin kembali terusik oleh sinyal ketika kontak antara lembar aluminium dan tanah diputus. Mereka kembali disorientasi. Burung-burung itu juga terganggu oleh sinyal elektronik yang dikeluarkan generator komersial. Temuan ini menunjukkan navigasi burung dikendalikan oleh sistem biologi yang sensitif terhadap sinyal elektromagnetik buatan.

“Jika burung tak bisa menggunakan kompasnya dengan baik ketika melewati kota, apa yang terjadi dengan kemampuan bertahan mereka?” kata Mouritsen. Namun, Roswitha Wiltschko, peneliti navigasi burung dari Universitas Frankfurt, mengatakan tak menemukan efek serupa. “Kami tak pernah menggunakan pelindung apa pun dan burung-burung itu bisa membuat orientasinya dengan sempurna,” kata Wiltschko. “Mengejutkan jika ternyata ada medan yang bisa sangat mengganggu burung-burung itu.”

John Phillips, ahli biologi dari Virginia Tech di Blacksburg, mendukung temuan Mouritsen. Phillips selama ini melakukan studi tentang navigasi dan memori beberapa spesies, termasuk mencit dan reptil amfibi. Menurut dia, efek gangguan elektromagnetik itu benar-benar ada.

Spesies Katak yang Bisa Menari Ditemukan Di India


Para ilmuwan menyatakan telah menemukan 14 spesies baru yang disebut katak menari di pegunungan hutan India selatan. Spesies baru itu ditemukan secara eksklusif di Western Ghats, pegunungan subur yang membentang seluas 1.600 kilometer dari negara bagian barat Maharashtra ke ujung selatan negara itu.

“Penemuan ini seperti film Hollywood, ada suka dan duka,” kata pemimpin penelitian ini, Profesor Sathyabhama Das Biju dari Universitas New Delhi, seperti dikutip Associated Press, Rabu, 8 Mei 2014.

Spesies ini dinamakan katak menari lantaran kebiasaannya menendangkan kaki selama musim berkembang biak. Hal ini memang hanya dilakukan oleh katak jantan untuk menarik perhatian betinanya.

Biju menjelaskan, di satu sisi, peneliti senang bisa menemukan katak indah ini. Namun, di sisi lain, sekitar 80 persen katak ditemukan di luar kawasan yang dilindungi. Hal ini menunjukkan rusaknya habitat sehingga dalam 12 tahun terakhir jumlah katak terus berkurang.

Memang, kata Biju, spesies ini lebih sensitif dibandingkan katak lain. Perubahan kecil saja bisa berpengaruh buruk pada katak itu. Hal ini membuat jumlah populasi katak tersebut sulit bertambah. Ditambah lagi bentuknya yang kecil membuat mereka mudah terseret arus sungai pegunungan. Selain itu, musim berkembang biak hanya terjadi satu kali, yaitu saat air sungai surut.

Penemuan katak yang diterbitkan dalam Ceylon Journal of Science edisi Kamis, 8 Mei 2014, ini menambah jumlah spesies katak menari di India hingga 24 spesies

Spesies Hiu Bisa Berjalan Di Laut Ternate Terancam Punah


Habitat spesis hiu berjalan atau lebih dikenal hemiscyllum Halmahera, di perairan laut Ternate terancam punah. Wawan Kurniawan, Sekretaris Komunitas Peduli Laut (KPL) Maluku Utara mengatakan, setidaknya di beberapa titik penyelaman sudah tidak terlihat spesis hiu tersebut. Bahkan wilayah yang biasa menjadi tempat hiu berjalan pun kini jumlahnya terlihat mulai berkurang.

“Enam tahun lalu, hampir semua perairan laut Ternate dengan mudah dapat dijumpai hiu ini. Namun sekarang untuk melihat spesis ini kita harus bersabar,”kata Wawan kepada Tempo, Rabu, 30 April 2014. Menurut Wawan, secara umum faktor yang paling banyak mempengaruhi habitat spesis hiu berjalan adalah faktor manusia. Lima tahun terakhir manusia banyak melakukan pembangunan yang tidak ramah lingkungan. Pemerintah Kota Ternate pun cenderung giat membangun dengan cara mereklamasi pantai.

“Ini yang membuat spesis ini terancam punah. Padahal kami semua tahu spesis ini adalah endimik Halmahera yang berpotensi bisa menarik wisatawan.” kata Wawan. “Karena itu seharusnya pembangunan di Ternate harus lebih sensitif ekologi laut.”

Muhammad Akang Idris, Koordinator Nasijaha Diving Club mengatakan, banyak spesis biota laut di perairan Ternate yang berpotensi bisa menarik wisatawan. Namun habitatnya banyak terancam. Karenanya itu, untuk menjaga habitat biota laut di Ternate, pemerintah Kota sudah harus mulai berpikir untuk tidak membangun dengan merusak ekologi laut. “Jika hal ini bisa dilakukan, yakin dan percaya generasi mendatang masih akan dapat merasakan kekayaan laut di Ternate,”ujar Akang.

Penemuan hiu berjalan bermula dari foto yang diambil oleh penyelam asal Inggris, Graham Abbott, di perairan selatan Halmahera pada tahun 2007. Hasil foto Abbot kemudian dikirimkan ke Conservation International (CI) untuk menanyakan apakah foto menunjukkan spesies hiu berjalan sama dengan yang ditemukan di Kaimana dan Cendrawasih, yang baru saja ditemukan saat itu.

Pada tahun 2012, dari hasil penelitian secara mendalam, diketahui hiu berjalan yang berada di perairan laut Maluku Utara merupakan spesis baru dari kelompok Hiu. Secara resmi, hiu berjalan Halmahera diumumkan sebagai spesies baru lewat publikasi di Journal of Ichtyology yang terbit pada Juli 2013.

Krustea Spesies Baru Ditemukan Di Dasar Laut Antartika


Para peneliti Inggris yang menggunakan wahana khusus untuk mengeksplorasi dasar laut secara tidak sengaja menemukan spesies baru yang tampak seperti krustasea. Wahana itu merekam ribuan binatang mirip kutu pohon mengerubungi tulang-belulang paus minke di dasar perairan selatan di sekitar Antartika.

Binatang-binatang itu tampaknya hidup dengan mengandalkan tulang-belulang paus sebagai sarang. “Mereka betul-betul menyelimuti tulang-belulang paus itu, ada sekitar 500-6.000 spesimen dalam satu meter persegi,” kata Katrin Linse, peneliti dan pemimpin riset dari British Antarctic Survey, seperti ditulis Livescience, 23 April 2014.

Menggunakan lengan robot yang dimiliki wahana bahwa laut, para peneliti mengangkat sebagian tulang paus itu ke atas kapal RSS James Cooksaw. Tes genetik menunjukkan binatang dengan panjang tubuh sekitar 3,7 milimeter itu merupakan spesies baru. Spesies itu berkerabat dekat dengan krustasea yang hidup di perairan dangkal Laut Utara di sebelah timur Laut Eropa. Krustasea baru Antartika itu dinamakan Jaera tyleri.

Awalnya para peneliti hanya mencari sumber hidrotermal yang melontarkan air panas kaya mineral dari dasar lautan sebelum mereka menemukan ribuan J. tyleri merayap di atas kerangka paus. Sangat jarang bisa menemukan sisa-sisa tubuh paus yang dikenal sebagai puing paus di dasar laut. “Sulit sekali menemukan puing paus di sana. Itu seperti mencari jarum dalam tumpukan jerami,” kata Linse. Peneliti menelusuri dasar laut untuk mencari habitat J. tyleri yang lain. Namun, spesies itu ternyata hanya ditemukan hidup di tulang paus.

Linse mengatakan penemuan puing paus itu merupakan kesempatan besar bagi peneliti untuk memeriksa kondisi ekologi dari habitat unik itu, termasuk spesies apa saja yang berdiam di sana. Ini bukan temuan puing paus minke pertama di Antartika. Mei tahun lalu peneliti mengidentifikasi puing paus minke di dasar laut Antartika. Puing paus itu dipenuhi beragam spesies mulai dari siput laut, isopoda, hingga cacing.