Category Archives: Dunia Binatang

Dinosaurus Karnivora Raksasa Ternyata Berevolusi Menjadi Burung


Burung-burung masa kini ternyata merupakan keturunan keluarga dinosaurus pemakan daging. Sebuah studi yang dikerjakan ilmuwan University of Southampton menguak bagaimana karnivora raksasa yang dulu merajai daratan akhirnya berevolusi menjadi burung. Penelitian itu menunjukkan tubuh dinosaurus buas menyusut selama evolusi yang berlangsung lebih dari 50 juta tahun.

Dalam jurnal Science, 31 Juli 2014, para peneliti memaparkan bagaimana dinosaurus bertransformasi menjadi burung. Anggota dinosaurus teropoda, nenek moyang burung modern, menjadi satu-satunya dinosaurus yang tubuhnya diketahui terus menyusut. “Para leluhur burung itu mengembangkan trik adaptasi baru, seperti bulu, sayap, furcula (tulang yang berada di antara leher dan dada burung) dan bergerak empat kali lebih cepat ketimbang dinosaurus lain,” kata Darren Naish, pakar palaeontologi vertebrata di University of Southampton.

Michael Lee, profesor dari School of Earth and Environmental Sciences, University of Adelaide, mengatakan, di dunia yang diisi hewan raksasa, para leluhur burung punya peluang hidup lebih besar dengan berubah menjadi lebih kecil dan ringan. Adaptasi anatomi, seperti kemampuan memanjat pohon, meluncur, dan terbang juga membantu mereka bertahan hidup. “Yang terpenting, evolusi itu membuat nenek moyang burung selamat dari bencana hantaman meterorit yang membunuh semua dinosaurus kerabat mereka,” kata Lee.

Dalam studi itu, para peneliti mempelajari lebih dari 1.500 data anatomi dinosaurus untuk merekonstruksi pohon keluarga hewan itu. Dengan pemodelan matematika, mereka melacak evolusi adaptasi dan perubahan ukuran tubuh setiap dinosaurus. “Dinosaurus yang paling dekat relasinya dengan burung semuanya berukuran kecil. Banyak dari mereka, terutama Microraptor, punya kemampuan memanjat dan meluncur,” kata Gareth Dyke, pengajar senior palaeontologi vertebrata di University of Southampton. Leluhur burung mengalami evolusi paling inovatif dibanding dinosaurus lain. “Dalam evolusi, burung mengalahkan dinosaurus lain. Mereka selamat dari bencana, sementara kerabatnya yang bertubuh lebih besar tidak bertahan,” kata Lee.

Penjelasan Ilmiah Mengapa Anjing Suka Mencium Pantat


Mungkin sering kali kita melihat anjing-anjing saling berkejaran, kemudian mereka mengendus anus anjing yang lain. Mengapa anjing mengendus anus anjing lain? Ternyata ada hal yang lebih penting dari yang terlihat itu. Perilaku ini berguna untuk melacak jenis kelamin, diet, keadaan emosional, dan komunikasi kimia yang kompleks.

Tahun 1975, Dr George Preti dari Monell Chemical Senses Center di Philadelphia meneliti sekresi anal anjing untuk mempelajari perilaku tersebut. Penelitian itu menjelaskan bagaimana hidung anjing memiliki sensitivitas 10.000 hingga 100.000 kali daripada hidung manusia. Nah, ketika anjing membaui bagian belakang anjing lain itu ia mengumpulkan informasi penting.

Preti menemukan bahwa pada belakang anjing terdapat area yang disebut kantong anal. Kantong ini akan mengeluarkan bahan kimia yang digunakan anjing lain untuk mengidentifikasi anjing tersebut. Bau alami anjing itu keluar dari kelenjar apokrin. Sementara itu, kelenjar lain yang disebut sebaceous berfungsi meminyaki kulit dan bulu anjing.

Dr Preti menemukan bahwa senyawa kimia dari kelenjar tadi menghasilkan aroma anjing yang dikenal sebagai trimetilamina. Ini merupakan senyawa organik yang merupakan produk dekomposisi tumbuhan dan hewan, yang baunya sering dikaitkan dengan ikan busuk atau bau mulut.

Aroma yang dilepaskan oleh anjing tergantung pada beberapa faktor yang telah disebutkan sebelumnya, diet, jenis kelamin, keadaan emosional, dan lainnya. Ketika salah satu anjing membaui anjing lain, ia mampu menangkap rincian ini dan mempelajari informasi yang seharusnya. Akan tetapi, bagaimana anjing dapat menangkap bau ini bila ada bau yang lebih kuat seperti dari kotoran anjing itu sendiri, misalnya?

Jangan salah, anjing memiliki sistem penciuman kedua pada hidung mereka yang hipersensitif, yang disebut organ Jacobson. Organ ini dirancang khusus untuk komunikasi kimia. Dengan mengatur saraf ke otak, organ ini mampu menghindari organ lain di hidung yang digunakan untuk mencium dan membiarkan untuk mengetahui karakteristik kimia bau dari anjing tersebut.

Jadi, dari penelitian yang kemudian divideokan tersebut dapat ditarik dari jawaban pertanyaan mengapa anjing mengendus anus anjing lain, yakni untuk mengenal satu sama lain dengan cara aromatik khusus.

Anjing Ternyata Juga Suka Cemburu Seperti Manusia


Ada riset yang menyatakan anjing merupakan sahabat terbaik manusia, dan anjing terus menginginkan keadaan ini. Berdasarkan penelitian yang dipublikasikan PLOS ONE, ternyata anjing mampu merasakan kecemburuan,.

Ini merupakan eksperimen pertama oleh psikolog dari University of California, Christine Harris, untuk meneliti kecemburuan anjing, seperti dikutip Reuters, Rabu, 23 Juli 2014. Para pemilik 36 anjing trah kecil diminta melakukan tiga hal. Mereka mencurahkan perhatian kepada mainan berbentuk anjing, hiasan manusia labu, serta membaca buku anak-anak dengan keras, sembari mengabaikan hewan peliharaan mereka.

Para peneliti pun memperhatikan reaksi anjing-anjing tersebut. Hampir 80 persen anjing mendorong atau menyentuh para pemilik ketika mereka lebih memilih meluangkan waktu dengan mainan. Anjing-anjing itu melakukannya dua kali lebih sering ketika para pemilik bermain dengan hiasan manusia labu. Bahkan saat para pemilik mereka membaca buku, anjing-anjing ini empat kali mendorong mereka.

Seperempat jumlah anjing menyalak kepada mainan berbentuk anjing, sambil mengibaskan ekor mereka. Hanya ada satu anjing yang menyalak pada hiasan manusia labu dan buku. “Kami tidak bisa menanyakan perasaan pribadi anjing, tentu saja, tapi mereka terlihat sangat ingin menjaga hubungan sosial yang dimiliki,” kata Harris.

Dari studi serupa dalam penelitian terhadap kecemburuan yang dimiliki bayi, anjing disebut memiliki emosi lebih dalam dibanding hewan lainnya. Para peneliti mengatakan kecemburuan ini bisa berkembang karena hewan berusaha menjaga hubungan seksual mereka dengan pasangannya, atau berlomba mencari perhatian dari orang tuanya.

Hal ini bisa muncul pada anjing yang memiliki hubungan baik dengan manusia. Memahami kecemburuan ini menjadi tugas ilmiah penting menurut para peneliti. Mereka menilai kecemburuan kerap dianggap penyebab pembunuhan antar kelompok budaya.

Ikan Paus Yang Terdampar Pertanda Stok Ikan Di Lautan Mulai Berkurang


Perjalanan paus jenis sperm whale (Physeter macrocephalus) yang menyimpang dari jalur migrasinya hingga terdampar di pantai utara Karawang, Jawa Barat, berbuah kematian. Hal ini merupakan sinyal bahwa laut tak ramah lagi. Paus betina sepanjang 12 meter, berbobot 2.500 kilogram, dan berusia 5 tahun, itu terdampar Rabu (25/7) di Pantai Tanjung Pakis, Karawang. Ia dievakuasi ke laut lebih dalam pada Sabtu. Namun, Minggu pagi, beberapa nelayan menemuinya tak bernyawa di perairan Kampung Beting, Muaragembong, Kabupaten Bekasi.

”Jenis paus itu membutuhkan makan seberat 3 persen dari bobot tubuhnya setiap hari,” kata periset mamalia laut pada Pusat Penelitian Oseanografi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Fahmi, Senin (30/7), saat dihubungi dalam perjalanan dari Karawang.

Terdampar selama empat hari tanpa makan adalah malapetaka tersendiri bagi paus. Menurut Fahmi, paus yang mendamparkan diri biasanya dalam keadaan terluka. Peneliti mamalia laut dari Institut Pertanian Bogor, Totok Hestirianoto, mengatakan, ada kemungkinan tidak hanya satu paus yang salah jalur lintasan hingga Laut Jawa. Biasanya, batas jalur migrasi paus dari Samudra Pasifik sampai di Selat Bali atau perairan utara Jawa Timur bagian timur.

”Ada kemungkinan paus itu memburu ikan-ikan kecil hingga perairan dangkal di Laut Jawa,” katanya.Sperm whale memiliki struktur mulut di kepala bagian bawah. Ini menjadikannya sebagai pemangsa penghuni dasar laut, seperti ikan pari, cumi, atau gurita.

Dugaan perburuan sperm whale terhadap ikan-ikan kecil hingga terdampar di Laut Jawa menjadi sinyal menipisnya stok ikan di laut. Menurut Totok, jalur migrasi sperm whale dari Samudra Pasifik masuk ke perairan Indonesia paling barat adalah di Selat Makassar, kemudian menuju Samudra Hindia dengan batas lintasan di Selat Bali.

”Kami sedang mengobservasi jalur migrasi mamalia laut ini di Selat Bali,” kata Totok.

Dari Kabupaten Bekasi dilaporkan, tim gabungan memutuskan untuk menenggelamkan bangkai paus. Koordinator Wildlife Jakarta Animal Aid Network Benfika mengatakan, paus akan ditenggelamkan dengan cara dililit jaring dan diikat dengan tali berpemberat konblok. Diperlukan 25 konblok dengan berat masing-masing 50 kilogram. Paus tidak dipotong dan dibagikan dagingnya karena dikhawatirkan mengandung bakteri berbahaya.

Direktur Jenderal Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam Kementerian Kehutanan Darori mengatakan, pihaknya telah memerintahkan otopsi terhadap bangkai paus. Selain itu, tulangnya akan disusun untuk disimpan di museum.

Ia mengakui, penanganan mamalia laut yang dilindungi itu belum sinkron di antara dua kementerian. Kementerian Kehutanan berdasarkan UU Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Ekosistem dan Sumber Daya Hayati, sementara Kementerian Kelautan dan Perikanan berpegang pada UU No 31/2004 tentang Perikanan.

Ikan Paus Ditemukan Membusuk di Pantai Tanaki Siau


Seekor ikan paus yang belum diketahui jenisnya dilaporkan terdampar di tepi pantai kampung Tanaki, Kecamatan Siau Barat Selatan, Kabupaten Sitaro, Sulawesi Utara. Seorang warga Siau, Buyung Mangangue mengatakan bahwa tubuh ikan paus tersebut sudah membusuk dan mengeluarkan bau yang sangat menyengat.

“Tubuh ikan itu sudah hancur, isi perutnya sudah terburai ke luar,” kata Buyung, Rabu (23/7/2014). Menurut dia, paus yang berukuran panjang sekitar 15 meter dan lebar hampir tiga meter tersebut pertama kali dilihat warga lima hari yang lalu.

“Mereka kira itu badan perahu yang terbalik. Tetapi ketika hanyut mendekati pantai baru warga tahu bahwa itu paus,” jelas Buyung. Warga yang tidak paham tentang cara memperlakukan bangkai paus tersebut, hanya membiarkan ikan raksasa itu tersangkut di pohon bakau yang banyak terdapat di pantai Tanaki.

Kepala Desa Tanaki, Frans Pongoh mengakui pula bahwa mereka tidak tahu tindakan apa yang harus dilakukan terhadap bangkai paus itu. “Memang baunya sudah sangat busuk, tetapi tidak tahu mau bagaimana,” ujar Frans.

Hingga saat ini belum ada laporan resmi penyebab terdamparnya ikan paus tersebut. Pada Februari lalu, seekor ikan paus juga terdampar di pantai Tambala, Tombariri, Minahasa.

Yaki Hewan Yang Hampir Punah Tetap Dijual Di Minahasa


Yaki, spesies yang nyaris punah dijual di Pasar Langowan, Minahasa, Sabtu (19/7/2014), tepatnya H-1 jelang perayaan ‘Thanksgiving’ atau ‘Pengucapan Syukur’. Dengung-dengungan selamatkan yaki ternyata tak digubriskan oknum-oknum tertentu, demi rupiah. Dari penelusuran yang jual Yaki di Pasar Langowan kala itu hanya satu orang, yakni seorang wanita. Dari informasi yang digali, Yaki yang dijualnya berasal dari Tutuyan Kotamobagu.

“Ini dari Tutuyan. Dagingnya kering bagus,” ujarnya saat menawarkan. Wanita ini mengaku menjual lima ekor Yaki, yang dibelah menjadi sepuluh potong. Saat di meja, terlihat tinggal tiga potong Yaki. Ia menjual sepotong Rp 250 ribu.
“Harganya Rp 250 ribu, saya ambil pokoknya Rp 200 ribu,” responnya saat mencoba menawarnya.

opulasi monyet hitam Sulawesi biasa disebut yaki (Macaca nigra) dalam 30 tahun terakhir mengalami penurunan drastis, tersisa kurang dari 5.000 ekor. Salah satu faktor keterancaman karena pemburuan satwa endemik Sulawesi ini baik keperluan konsumsi maupun dipelihara. Padahal, para pemburu memiliki risiko tinggi tertular penyakit yang diidap monyet hitam ini saat kontak langsung.

Saroyo Sumarto, pakar Primatologi Universitas Sam Ratulangi Manado mengatakan, dari sisi evolusi, manusia memiliki kedekatan dengan spesies monyet, termasuk yaki. Dalam kadar tertentu, kontak fisik antara manusia dan satwa liar dilindungi ini berisiko menularkan penyakit seperti polio, hepatitis hingga simian retrovirus.

Dia mengatakan, simian retrovirus merupakan virus kelompok monyet. Virus ini diyakini mungkin ditularkan yaki pada manusia. Lewat kajian beberapa peneliti, kata Saroyo, human immunodeficiency virus (HIV) adalah virus dari monyet dan marak diidap manusia. “Terkadang virus yang ditularkan tidak langsung terasa. Tahun-tahun berikutnya, manusia bisa mulai merasakan penyakit yang ditularkan yaki,” katanya kepada Mongabay di Manado, Kamis (12/9/13).

Menurut dia, dampak yang bisa ditimbulkan kontak fisik antara manusia dan yaki itu, bisa menjadi catatan tersendiri bagi pemerintah untuk sosialisasi kepada masyakat. Jadi, orang yang kerap memburu yaki dapat memahami dampak dari kebiasaan itu. Dia berharap, upaya menyelamatkan yaki tak lagi terputar pada dampak hukum. Namun, dampak risiko penyakit dirasa penting diketahui masyarakat sekitar.

Para aktivis pecinta satwa menyesalkan tindakan masyarakat yang kerap memburu monyet hitam berjambul ini. Mereka menilai, penurunan populasi yaki berdampak pada ketidakseimbangan ekosistem. Yaki merupakan satwa liar dilindungi. Mereka mendesak pemerintah serius mengawasi sejumlah titik yang kerap menjadi arena perburuan satwa liar. Pemerintah dituntut gencar patroli dan menindak tegas para pemburu yang bebas beraksi.

Yayasan Selamatkan Yaki, misal, kerap menerima laporan terkait perburuan yaki. Kepada Mongabay (7/9/13), Harry Hilser, Field Project Manager Yayasan Selamatkan Yaki mengatakan, fenomena ini menempatkan yaki pada kategori hampir punah. Padahal, sebaran Macaca di seluruh dunia hanya 23 jenis, tujuh di Sulawesi. “Yaki hanya bisa ditemui di Sulut. Artinya, Yaki harus jadi kebanggaan masyarakat Sulut.” Dan bukan bangga karena mampu memangsa hewan langka.

Senada diutarakan Victoria Sendy, Unit Informasi dan Edukasi Pusat Penyelamatan Satwa Tasikoki (PPST). Indikasi konsumsi satwa liar tinggi bisa dilihat dari aktivitas perdagangan di sejumlah pasar tradisional, tak hanya terkonsentrasi di satu titik. Setidaknya, PPST melihat itu di Pasar Tomohon, Pasar Langowan dan Pasar Kema.

“Kami kerap mendapat kiriman foto terkait perdagangan ular piton dan yaki. Di jejaring sosial facebook beberapa orang sempat mengiklankan makanan khas Sulut dari daging satwa liar.” Dia berharap, perilaku masyarakat memangsa satwa liar bisa diubah. Menurut Victoria, masyarakat perlu prihatin pada populasi yaki yang makin berkurang, bahkan terancam punah.

Novita Tandi, Staff Humas Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Sulut, membenarkan keterancaman yaki. Sayangnya, hingga saat ini BKSDA belum mampu membekuk satupun pemburu satwa dilindungi ini. Meski begitu, BKSDA kerap patroli dan menghancurkan perangkap untuk memburu yaki. “Tak ada data pasti tentang pemburu yaki. Kami sering menemukan binatang ini dalam bentuk rangka ataupun menerima informasi yaki menjadi hidangan tiap kegiatan pengucapan (tradisi perayaan hasil panen).” Penurunan populasi yaki juga karena perubahan habitat mereka menjadi perkebunan dan perumahan, serta pemanfaatan hasil hutan yang menurunkan daya dukung habitat.

Yaki merupakan satwa yang memiliki kedekatan tingkah-laku dengan manusia. Aktivitas harian makhluk ini, menunjukkan beberapa kemiripan dengan manusia. Yaki memanfaatkan habitat untuk berbagai kegiatan, semisal makan (feeding), mencari makan (foraging), berpindah (moving), istirahat (resting) hingga bersosialisasi. Populasi yaki pada 1978, densitas di Cagar Alam Tangkoko, 300 ekor per kilometer. Pada 1987-1988, populasi yaki menurun drastis tersisa 76,2 ekor per km. Tahun 1999, tinggal 58,0 ekor per km.

Kini, sebaran yaki ada di sejumlah titik mulai Cagar Alam Tangkoko Batuangus (3.196 hektar), Cagar Alam DuaSudara (4.299 hektar), Taman Wisata Alam Batuputih (615 hektar) hingga Taman Wisata Alam Batuangus (630 hektar).

Ditemukan Bakteri Pemakan Energi Listrik


Bakteri hidup dengan mengkonsumsi beragam jenis makanan untuk mendapatkan energi. Namun tak ada bakteri seaneh bakteri pemakan listrik. Dua bakteri, Shewanella dan Geobacter, bisa memanfaatkan energi dalam bentuk termurninya: elektron. Mereka hidup dengan memakan energi listrik.

Dua jenis organisme sel satu ini ada di mana-mana dan bisa dipancing dengan menyalurkan elektron ke tempat tertentu. Sebuah eksperimen untuk menumbuhkan bakteri pada elektroda baterai menunjukkan organisme itu memakan dan mengeluarkan hasil metabolisme dalam bentuk listrik.

Kondisi hidup bakteri itu, jika dialami langsung oleh manusia, sebenarnya sangat berbahaya. Proses yang dialami bakteri dengan mengambil energi langsung dari elektroda baterai sama halnya seperti manusia memasukkan jari mereka ke soket listrik rumahan.

Penemuan bakteri pemakan listrik menunjukkan bahwa kehidupan dalam bentuk paling dasar bisa mengendalikan elektron yang merupakan wujud energi termurni. Di alam, bakteri-bakteri itu mendapatkan elektron dari mineral di sekitar mereka. “Ini benar-benar asing, mereka seperti alien,” kata Kenneth Nealson, ilmuwan dari University of Southern California, Los Angeles, seperti ditulis Newscientist, 16 Juli 2014.

Namun Nealson mengatakan hal yang dilakukan bakteri itu sebenarnya cukup normal di alam. Bentuk kehidupan, menurut Nealson, dibangun dari aliran elektron. “Manusia memakan gula yang juga punya kelebihan elektron dan bereaksi dengan oksigen saat bernapas,” katanya