Category Archives: Dunia Binatang

Ikan Paus Yang Terdampar Pertanda Stok Ikan Di Lautan Mulai Berkurang


Perjalanan paus jenis sperm whale (Physeter macrocephalus) yang menyimpang dari jalur migrasinya hingga terdampar di pantai utara Karawang, Jawa Barat, berbuah kematian. Hal ini merupakan sinyal bahwa laut tak ramah lagi. Paus betina sepanjang 12 meter, berbobot 2.500 kilogram, dan berusia 5 tahun, itu terdampar Rabu (25/7) di Pantai Tanjung Pakis, Karawang. Ia dievakuasi ke laut lebih dalam pada Sabtu. Namun, Minggu pagi, beberapa nelayan menemuinya tak bernyawa di perairan Kampung Beting, Muaragembong, Kabupaten Bekasi.

”Jenis paus itu membutuhkan makan seberat 3 persen dari bobot tubuhnya setiap hari,” kata periset mamalia laut pada Pusat Penelitian Oseanografi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Fahmi, Senin (30/7), saat dihubungi dalam perjalanan dari Karawang.

Terdampar selama empat hari tanpa makan adalah malapetaka tersendiri bagi paus. Menurut Fahmi, paus yang mendamparkan diri biasanya dalam keadaan terluka. Peneliti mamalia laut dari Institut Pertanian Bogor, Totok Hestirianoto, mengatakan, ada kemungkinan tidak hanya satu paus yang salah jalur lintasan hingga Laut Jawa. Biasanya, batas jalur migrasi paus dari Samudra Pasifik sampai di Selat Bali atau perairan utara Jawa Timur bagian timur.

”Ada kemungkinan paus itu memburu ikan-ikan kecil hingga perairan dangkal di Laut Jawa,” katanya.Sperm whale memiliki struktur mulut di kepala bagian bawah. Ini menjadikannya sebagai pemangsa penghuni dasar laut, seperti ikan pari, cumi, atau gurita.

Dugaan perburuan sperm whale terhadap ikan-ikan kecil hingga terdampar di Laut Jawa menjadi sinyal menipisnya stok ikan di laut. Menurut Totok, jalur migrasi sperm whale dari Samudra Pasifik masuk ke perairan Indonesia paling barat adalah di Selat Makassar, kemudian menuju Samudra Hindia dengan batas lintasan di Selat Bali.

”Kami sedang mengobservasi jalur migrasi mamalia laut ini di Selat Bali,” kata Totok.

Dari Kabupaten Bekasi dilaporkan, tim gabungan memutuskan untuk menenggelamkan bangkai paus. Koordinator Wildlife Jakarta Animal Aid Network Benfika mengatakan, paus akan ditenggelamkan dengan cara dililit jaring dan diikat dengan tali berpemberat konblok. Diperlukan 25 konblok dengan berat masing-masing 50 kilogram. Paus tidak dipotong dan dibagikan dagingnya karena dikhawatirkan mengandung bakteri berbahaya.

Direktur Jenderal Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam Kementerian Kehutanan Darori mengatakan, pihaknya telah memerintahkan otopsi terhadap bangkai paus. Selain itu, tulangnya akan disusun untuk disimpan di museum.

Ia mengakui, penanganan mamalia laut yang dilindungi itu belum sinkron di antara dua kementerian. Kementerian Kehutanan berdasarkan UU Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Ekosistem dan Sumber Daya Hayati, sementara Kementerian Kelautan dan Perikanan berpegang pada UU No 31/2004 tentang Perikanan.

Ikan Paus Ditemukan Membusuk di Pantai Tanaki Siau


Seekor ikan paus yang belum diketahui jenisnya dilaporkan terdampar di tepi pantai kampung Tanaki, Kecamatan Siau Barat Selatan, Kabupaten Sitaro, Sulawesi Utara. Seorang warga Siau, Buyung Mangangue mengatakan bahwa tubuh ikan paus tersebut sudah membusuk dan mengeluarkan bau yang sangat menyengat.

“Tubuh ikan itu sudah hancur, isi perutnya sudah terburai ke luar,” kata Buyung, Rabu (23/7/2014). Menurut dia, paus yang berukuran panjang sekitar 15 meter dan lebar hampir tiga meter tersebut pertama kali dilihat warga lima hari yang lalu.

“Mereka kira itu badan perahu yang terbalik. Tetapi ketika hanyut mendekati pantai baru warga tahu bahwa itu paus,” jelas Buyung. Warga yang tidak paham tentang cara memperlakukan bangkai paus tersebut, hanya membiarkan ikan raksasa itu tersangkut di pohon bakau yang banyak terdapat di pantai Tanaki.

Kepala Desa Tanaki, Frans Pongoh mengakui pula bahwa mereka tidak tahu tindakan apa yang harus dilakukan terhadap bangkai paus itu. “Memang baunya sudah sangat busuk, tetapi tidak tahu mau bagaimana,” ujar Frans.

Hingga saat ini belum ada laporan resmi penyebab terdamparnya ikan paus tersebut. Pada Februari lalu, seekor ikan paus juga terdampar di pantai Tambala, Tombariri, Minahasa.

Yaki Hewan Yang Hampir Punah Tetap Dijual Di Minahasa


Yaki, spesies yang nyaris punah dijual di Pasar Langowan, Minahasa, Sabtu (19/7/2014), tepatnya H-1 jelang perayaan ‘Thanksgiving’ atau ‘Pengucapan Syukur’. Dengung-dengungan selamatkan yaki ternyata tak digubriskan oknum-oknum tertentu, demi rupiah. Dari penelusuran yang jual Yaki di Pasar Langowan kala itu hanya satu orang, yakni seorang wanita. Dari informasi yang digali, Yaki yang dijualnya berasal dari Tutuyan Kotamobagu.

“Ini dari Tutuyan. Dagingnya kering bagus,” ujarnya saat menawarkan. Wanita ini mengaku menjual lima ekor Yaki, yang dibelah menjadi sepuluh potong. Saat di meja, terlihat tinggal tiga potong Yaki. Ia menjual sepotong Rp 250 ribu.
“Harganya Rp 250 ribu, saya ambil pokoknya Rp 200 ribu,” responnya saat mencoba menawarnya.

opulasi monyet hitam Sulawesi biasa disebut yaki (Macaca nigra) dalam 30 tahun terakhir mengalami penurunan drastis, tersisa kurang dari 5.000 ekor. Salah satu faktor keterancaman karena pemburuan satwa endemik Sulawesi ini baik keperluan konsumsi maupun dipelihara. Padahal, para pemburu memiliki risiko tinggi tertular penyakit yang diidap monyet hitam ini saat kontak langsung.

Saroyo Sumarto, pakar Primatologi Universitas Sam Ratulangi Manado mengatakan, dari sisi evolusi, manusia memiliki kedekatan dengan spesies monyet, termasuk yaki. Dalam kadar tertentu, kontak fisik antara manusia dan satwa liar dilindungi ini berisiko menularkan penyakit seperti polio, hepatitis hingga simian retrovirus.

Dia mengatakan, simian retrovirus merupakan virus kelompok monyet. Virus ini diyakini mungkin ditularkan yaki pada manusia. Lewat kajian beberapa peneliti, kata Saroyo, human immunodeficiency virus (HIV) adalah virus dari monyet dan marak diidap manusia. “Terkadang virus yang ditularkan tidak langsung terasa. Tahun-tahun berikutnya, manusia bisa mulai merasakan penyakit yang ditularkan yaki,” katanya kepada Mongabay di Manado, Kamis (12/9/13).

Menurut dia, dampak yang bisa ditimbulkan kontak fisik antara manusia dan yaki itu, bisa menjadi catatan tersendiri bagi pemerintah untuk sosialisasi kepada masyakat. Jadi, orang yang kerap memburu yaki dapat memahami dampak dari kebiasaan itu. Dia berharap, upaya menyelamatkan yaki tak lagi terputar pada dampak hukum. Namun, dampak risiko penyakit dirasa penting diketahui masyarakat sekitar.

Para aktivis pecinta satwa menyesalkan tindakan masyarakat yang kerap memburu monyet hitam berjambul ini. Mereka menilai, penurunan populasi yaki berdampak pada ketidakseimbangan ekosistem. Yaki merupakan satwa liar dilindungi. Mereka mendesak pemerintah serius mengawasi sejumlah titik yang kerap menjadi arena perburuan satwa liar. Pemerintah dituntut gencar patroli dan menindak tegas para pemburu yang bebas beraksi.

Yayasan Selamatkan Yaki, misal, kerap menerima laporan terkait perburuan yaki. Kepada Mongabay (7/9/13), Harry Hilser, Field Project Manager Yayasan Selamatkan Yaki mengatakan, fenomena ini menempatkan yaki pada kategori hampir punah. Padahal, sebaran Macaca di seluruh dunia hanya 23 jenis, tujuh di Sulawesi. “Yaki hanya bisa ditemui di Sulut. Artinya, Yaki harus jadi kebanggaan masyarakat Sulut.” Dan bukan bangga karena mampu memangsa hewan langka.

Senada diutarakan Victoria Sendy, Unit Informasi dan Edukasi Pusat Penyelamatan Satwa Tasikoki (PPST). Indikasi konsumsi satwa liar tinggi bisa dilihat dari aktivitas perdagangan di sejumlah pasar tradisional, tak hanya terkonsentrasi di satu titik. Setidaknya, PPST melihat itu di Pasar Tomohon, Pasar Langowan dan Pasar Kema.

“Kami kerap mendapat kiriman foto terkait perdagangan ular piton dan yaki. Di jejaring sosial facebook beberapa orang sempat mengiklankan makanan khas Sulut dari daging satwa liar.” Dia berharap, perilaku masyarakat memangsa satwa liar bisa diubah. Menurut Victoria, masyarakat perlu prihatin pada populasi yaki yang makin berkurang, bahkan terancam punah.

Novita Tandi, Staff Humas Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Sulut, membenarkan keterancaman yaki. Sayangnya, hingga saat ini BKSDA belum mampu membekuk satupun pemburu satwa dilindungi ini. Meski begitu, BKSDA kerap patroli dan menghancurkan perangkap untuk memburu yaki. “Tak ada data pasti tentang pemburu yaki. Kami sering menemukan binatang ini dalam bentuk rangka ataupun menerima informasi yaki menjadi hidangan tiap kegiatan pengucapan (tradisi perayaan hasil panen).” Penurunan populasi yaki juga karena perubahan habitat mereka menjadi perkebunan dan perumahan, serta pemanfaatan hasil hutan yang menurunkan daya dukung habitat.

Yaki merupakan satwa yang memiliki kedekatan tingkah-laku dengan manusia. Aktivitas harian makhluk ini, menunjukkan beberapa kemiripan dengan manusia. Yaki memanfaatkan habitat untuk berbagai kegiatan, semisal makan (feeding), mencari makan (foraging), berpindah (moving), istirahat (resting) hingga bersosialisasi. Populasi yaki pada 1978, densitas di Cagar Alam Tangkoko, 300 ekor per kilometer. Pada 1987-1988, populasi yaki menurun drastis tersisa 76,2 ekor per km. Tahun 1999, tinggal 58,0 ekor per km.

Kini, sebaran yaki ada di sejumlah titik mulai Cagar Alam Tangkoko Batuangus (3.196 hektar), Cagar Alam DuaSudara (4.299 hektar), Taman Wisata Alam Batuputih (615 hektar) hingga Taman Wisata Alam Batuangus (630 hektar).

Ditemukan Bakteri Pemakan Energi Listrik


Bakteri hidup dengan mengkonsumsi beragam jenis makanan untuk mendapatkan energi. Namun tak ada bakteri seaneh bakteri pemakan listrik. Dua bakteri, Shewanella dan Geobacter, bisa memanfaatkan energi dalam bentuk termurninya: elektron. Mereka hidup dengan memakan energi listrik.

Dua jenis organisme sel satu ini ada di mana-mana dan bisa dipancing dengan menyalurkan elektron ke tempat tertentu. Sebuah eksperimen untuk menumbuhkan bakteri pada elektroda baterai menunjukkan organisme itu memakan dan mengeluarkan hasil metabolisme dalam bentuk listrik.

Kondisi hidup bakteri itu, jika dialami langsung oleh manusia, sebenarnya sangat berbahaya. Proses yang dialami bakteri dengan mengambil energi langsung dari elektroda baterai sama halnya seperti manusia memasukkan jari mereka ke soket listrik rumahan.

Penemuan bakteri pemakan listrik menunjukkan bahwa kehidupan dalam bentuk paling dasar bisa mengendalikan elektron yang merupakan wujud energi termurni. Di alam, bakteri-bakteri itu mendapatkan elektron dari mineral di sekitar mereka. “Ini benar-benar asing, mereka seperti alien,” kata Kenneth Nealson, ilmuwan dari University of Southern California, Los Angeles, seperti ditulis Newscientist, 16 Juli 2014.

Namun Nealson mengatakan hal yang dilakukan bakteri itu sebenarnya cukup normal di alam. Bentuk kehidupan, menurut Nealson, dibangun dari aliran elektron. “Manusia memakan gula yang juga punya kelebihan elektron dan bereaksi dengan oksigen saat bernapas,” katanya

Kamera Pemantau Aksi Tutul, Garuda, dan Owa Di Gunung Salak Halimun


Seekor macan tutul jawa berbulu hitam atau kumbang diidentifikasi berkelamin jantan tertangkap kamera. Aksinya sedang tengkurap, membuka mulut, serta menunjukkan lidah dan taring di area Awi 5 Chevron Geothermal Salak Ltd , Taman Nasional Gunung Halimun Salak, Jumat (13/6/2014) pukul 06.15.

Sepekan sebelumnya, Sabtu (7/6/2014) pukul 15.57, sepasang macan tutul jawa (Panthera pardus melas) atau disingkat matulja tertangkap kamera sedang berkeliaran di area Awi 3 Chevron Geothermal Salak Ltd (CGS). Di wilayah yang sama, pada Senin (2/6/2014) pukul 17.14 yang tertangkap kamera adalah pergerakan seekor macan tutul jawa berkelamin betina. Diduga kuat macan tutul jawa betina yang tertangkap kamera pada Senin dan Sabtu itu merupakan individu yang sama.

Manajer Program Gede Pangrango Halimun Salak Conservation International Indonesia (CII) Anton Ario dalam presentasi di areal CGS pada Rabu (18/6/2014) mengatakan, cara mengidentifikasi macan tutul jawa adalah dari motif bintik (tutul) pada tubuh. Motif bintik pada setiap macan tutul jawa pasti berbeda sehingga disetarakan dengan sidik jari pada manusia.

CII dan CGS, kata Anton, bekerja sama sepanjang Januari-Juni 2014 dalam program Eye on the Forest. Program dilakukan dalam bentuk pemasangan kamera dalam areal Taman Nasional Gunung Halimun Salak (TNGHS) khususnya di wilayah operasi CGS. Tujuannya untuk mendapatkan foto satwa-satwa liar terutama macan tutul jawa buat penentuan rencana aksi kegiatan pengelolaan dan pelestarian habitat satwa liar.

Yayasan Owa Jawa dan CGS akan menjajaki kerja sama pemasangan kamera pemantau (CCTV). Misinya adalah turut mengidentifikasi wilayah pergerakan owa jawa (Hylobates moloch) dan elang jawa (Nisaetus bartelsi) alias garuda dalam areal CGS guna penyusunan program perlindungan.

Kepala Balai TNGHS Tri Siswo Rahardjo mengatakan, program serupa sudah dilakukan tim internal di tujuh lokasi. Di tiap lokasi dipasangi tiga kamera.

Untuk identifikasi, menurut Tri, petugas balai disebar dan ditugaskan ke 17 resor dalam TNGHS. Setiap resor sudah dilengkapi komputer jinjing, GPS montana, dan modem internet. Dengan demikian, setiap hari petugas bisa mengirimkan data identifikasi kawasan termasuk keragaman hayati di dalamnya. ”Kementerian Kehutanan menargetkan setiap balai taman nasional harus mampu meningkatkan populasi satwa liar sebanyak 3 persen,” katanya.

Target itu memotivasi Tri dan jajarannya untuk mempertahankan kelestarian kawasan seluas 113.357 hektar di Jawa Barat dan Banten ini. Konservasi bertujuan untuk mempertahankan kelestarian alam untuk keberlangsungan kehidupan manusia di masa mendatang.
Peningkatan populasi

Tri mengklaim di TNGHS ada peningkatan populasi di 7 lokasi pengamatan. Pada 2013 ada 16 macan tutul jawa. Sampai Juni 2014 sudah ada 18 macan tutul jawa. Untuk owa, pada 2013 ada 26 ekor dan hingga Juni 2014 ada 29 ekor dalam enam kelompok. Untuk garuda, pada 2013 ada 8 ekor dan sampai Juni 2014 menjadi 9 ekor. ”Kondisi ini tidak menggambarkan populasi di seluruh kawasan,” katanya.

Macan tutul jawa, owa, dan garuda penting untuk dilindungi. Owa menyukai tanaman buah. Satwa ini disebut pengemban amanah ekologi. Owa menyebarkan biji buah atau pohon hutan dari yang dimakannya selama melintasi kawasan.

Tanpa owa, keragaman tumbuhan hutan dipastikan miskin. Kian banyak tumbuhan hidup dalam hutan, semakin kaya potensi yang bisa didapat berupa buah, bahan ramuan, sayur, air, udara, dan jasa lingkungan.

Macan tutul jawa dan garuda adalah predator utama. Keberadaan dua satwa itu mengendalikan keseimbangan rantai makanan. Macan tutul jawa memangsa kijang, kancil, dan lutung. Garuda memangsa tikus hutan, bahkan primata dan mamalia ukuran kecil.
Inspirasi

Dalam siklus rantai makanan, saling memakan merupakan upaya alam menjaga keseimbangan diri sehingga tetap produktif dan menjamin keberlangsungan kehidupan di dalamnya.

Khusus untuk garuda, 13 lembaga bekerja sama membangun suaka elang di Cikaniki, Blok Wates, dan Gunung Endut. Kerja sama berlangsung sejak November 2007 dan masih bertahan. Elang jawa dengan jambulnya cuma bisa ditemukan di hutan Pulau Jawa. Satwa unik ini menjadi inspirasi dan identik dengan lambang negara kita.

Karena itu, negara bersama lembaga konservasi dan perusahaan seperti Chevron turun tangan untuk merestorasi hutan koridor antara Gunung Halimun dan Gunung Salak. Hutan di lembah kedua gunung itu dipulihkan dengan ditanami pelbagai jenis pohon dan dilindungi agar tak kembali rusak. Pemulihan hutan koridor lembah Halimun dan Salak tak hanya ekologi penyatu dua ekosistem gunung, tetapi juga bermanfaat bagi perpindahan satwa antardua gunung sehingga keragaman hayati Halimun Salak tetap kaya.

Penampungan Orang Utan Penuh Karena Diburu Pengusaha Kelapa Sawit


Lebih dari 1.000 ekor orangutan saat ini berada di enam pusat rehabilitasi orang utan yang tersebar di Kalimantan dan Sumatera. Ribuan orang utan ini adalah korban alih fungsi lahan serta perburuan dan perdagangan itu.

“Orang utan ini menjadi korban dari pembukaan (perkebunan) sawit dan tambang, (serta) hasil perdagangan bayi orang utan dan perburuan liar,” kata Citrakasih, salah satu dokter hewan yang bekerja di pusat rehabilitasi orang utan di Kalimtan Tengah, Selasa (24/6/2014).

Berbicara dalam pertemuan komunitas dokter hewan yang bekerja untuk konservasi orang utan (OVAG) di Fakultas Kedokteran Hewan UGM, di Daerah Istimewa Yogyakarta, Citra mengatakan jumlah orang utan tersebut sudah melampaui kapasitas tempat penampungan.

“Sekadar contoh, satu pusat rehabilitasi yang dikelola Borneo Orang Utan Survival, kapasitasnya 300 tapi sekarang menampung 500-an orang utan,” kata Citra. Menurut dia, orang utan yang ditampung di pusat rehabilitasi ini kerap kali merupakan hasil sitaan aparat dari upaya penjualan ke Thailand dan China.

Sering pula, imbuh Citra, ditemukan orang utan dalam kondisi sakit atau cacat akibat perburuan liar. Kebanyakan orang utan yang sakit, sebut dia, menderita pilek, diare, TBC, malaria, dan kurang gizi. “Kami juga menemukan orang utan yang buta terkena tembakan peluru di kepalanya, ada juga yang mengalami trauma karena sempat disetrum,” tutur dia.

Pertemuan OVAG merupakan forum tahunan para dokter hewan yang bekerja di pusat rehabilitasi orang utan. Pertemuan ini melibatkan para pakar orang utan dari Indonesia, Malaysia, Australia, Amerika Serikat, Selandia Baru, dan Jerman.

Salah satu pemerhati orang utan dari Universitas California, Amerika Serikat, Raffaella Commitante, mengatakan pertemuan ini bertujuan meningkatkan kapasitas para dokter hewan Indonesia dan Malaysia terkait penanganan orang utan. “Ada 36 dokter hewan yang yang menjadi anggota OVAG sebagian besar mereka bekerja di pusat rehabilitasi orang utan,” kata dia.

Tupai Vampir Ditemukan Di Kalimantan


Tupai tanah berumbai bisa dibilang sebagai spesies yang aneh. Sejumlah ilmuwan pernah menjumpainya di hutan Kalimantan. Berukuran dua kali tupai pohon, tupai dengan nama ilmiah Rheithrosciurus macrotis ini konon mampu mengendus darah. Kemampuan bak vampir itu muncul dari cerita lokal yang menyebutkan bahwa tupai pemakan biji ini bisa berubah ganas. Para pemburu mengatakan tupai ini doyan bertengger di cabang rendah pohon untuk mengintai rusa. Begitu rusa lewat, si tupai akan melompat ke tubuhnya, melukai urat nadi dan mengeluarkan isi perut mangsanya.

Namun, kisah tak lazim ini tidak banyak dipercayai oleh para ilmuwan. “Kedengarannya cukup fantastis,” kata Roland Kays, pakar zoologi di North Carolina Museum of Natural Sciences di Raleigh, dengan nada skeptis. Ada satu hal lagi yang bisa dibilang aneh pada tupai ini. Hasil pemantauan dengan kamera jebak menunjukkan bahwa binatang pengerat dengan panjang tubuh 35 sentimeter ini memiliki ekor yang sangat mengembang. Ekornya tampak lebih besar dari badan tupai itu sendiri.

“Spesies ini benar-benar aneh,” kata Erik Meijaard, seorang ilmuwan konservasi dari People and Nature Consulting International, seperti dikutip Huffingtonpost, Senin, 7 Juli 2014. Meijaard dan istrinya, Rona Dennis, seorang ilmuwan penginderaan jauh, mengumpulkan koleksi foto Rheithrosciurus, termasuk dari rekan-rekan mereka. Semua gambar tupai itu dijepret menggunakan kamera jebak.

Putri mereka yang berusia 15 tahun, Emily Mae Meijaard, seorang siswi di British International School, Jakarta, turut dilibatkan untuk menganalisis gambar serta mengukur ukuran ekor dan tubuh berbagai individu tupai. Hasil pengamatan Meijaard sekeluarga menunjukkan bahwa ekor mekar si tupai “vampir” memiliki volume 30 persen lebih besar dari tubuh tupai. “Tupai ini membutuhkan segala sesuatu yang ekstrem,” kata Melissa Hawkins, seorang pakar mamalia di Museum Sejarah Alam, Smithsonian Institution, di Washington.

Hawkins juga mencatat bahwa telinga tupai berambut sangat lebat. Pesaing terdekat tupai “vampir” adalah posum bergaris, yang ekornya nyaris sebesar tubuhnya sendiri dan berguna untuk memegang dahan ketika memanjat pohon; tupai terbang, yang memakai ekornya sebagai kemudi ketika meluncur dari pohon; dan kucing ekor cincin, yang menggunakan ekornya untuk keseimbangan saat berakrobat di atas pohon.

Tidak jelas mengapa Rheithrosciurus memiliki ekor yang mekar. Namun Emily Mae dan ayahnya mengatakan ekor besar si tupai berguna untuk mengecoh macan tutul dan predator lain. Ekor juga membantu tupai ketika menyerang mangsa. Bagi Hawkins, ide ini terdengar masuk akal. “Ketika melihat tupai itu di Kalimantan, kami sempat mengiranya hewan yang jauh lebih besar,” kata dia.