Category Archives: Dunia Binatang

Tupai Vampir Ditemukan Di Kalimantan


Tupai tanah berumbai bisa dibilang sebagai spesies yang aneh. Sejumlah ilmuwan pernah menjumpainya di hutan Kalimantan. Berukuran dua kali tupai pohon, tupai dengan nama ilmiah Rheithrosciurus macrotis ini konon mampu mengendus darah. Kemampuan bak vampir itu muncul dari cerita lokal yang menyebutkan bahwa tupai pemakan biji ini bisa berubah ganas. Para pemburu mengatakan tupai ini doyan bertengger di cabang rendah pohon untuk mengintai rusa. Begitu rusa lewat, si tupai akan melompat ke tubuhnya, melukai urat nadi dan mengeluarkan isi perut mangsanya.

Namun, kisah tak lazim ini tidak banyak dipercayai oleh para ilmuwan. “Kedengarannya cukup fantastis,” kata Roland Kays, pakar zoologi di North Carolina Museum of Natural Sciences di Raleigh, dengan nada skeptis. Ada satu hal lagi yang bisa dibilang aneh pada tupai ini. Hasil pemantauan dengan kamera jebak menunjukkan bahwa binatang pengerat dengan panjang tubuh 35 sentimeter ini memiliki ekor yang sangat mengembang. Ekornya tampak lebih besar dari badan tupai itu sendiri.

“Spesies ini benar-benar aneh,” kata Erik Meijaard, seorang ilmuwan konservasi dari People and Nature Consulting International, seperti dikutip Huffingtonpost, Senin, 7 Juli 2014. Meijaard dan istrinya, Rona Dennis, seorang ilmuwan penginderaan jauh, mengumpulkan koleksi foto Rheithrosciurus, termasuk dari rekan-rekan mereka. Semua gambar tupai itu dijepret menggunakan kamera jebak.

Putri mereka yang berusia 15 tahun, Emily Mae Meijaard, seorang siswi di British International School, Jakarta, turut dilibatkan untuk menganalisis gambar serta mengukur ukuran ekor dan tubuh berbagai individu tupai. Hasil pengamatan Meijaard sekeluarga menunjukkan bahwa ekor mekar si tupai “vampir” memiliki volume 30 persen lebih besar dari tubuh tupai. “Tupai ini membutuhkan segala sesuatu yang ekstrem,” kata Melissa Hawkins, seorang pakar mamalia di Museum Sejarah Alam, Smithsonian Institution, di Washington.

Hawkins juga mencatat bahwa telinga tupai berambut sangat lebat. Pesaing terdekat tupai “vampir” adalah posum bergaris, yang ekornya nyaris sebesar tubuhnya sendiri dan berguna untuk memegang dahan ketika memanjat pohon; tupai terbang, yang memakai ekornya sebagai kemudi ketika meluncur dari pohon; dan kucing ekor cincin, yang menggunakan ekornya untuk keseimbangan saat berakrobat di atas pohon.

Tidak jelas mengapa Rheithrosciurus memiliki ekor yang mekar. Namun Emily Mae dan ayahnya mengatakan ekor besar si tupai berguna untuk mengecoh macan tutul dan predator lain. Ekor juga membantu tupai ketika menyerang mangsa. Bagi Hawkins, ide ini terdengar masuk akal. “Ketika melihat tupai itu di Kalimantan, kami sempat mengiranya hewan yang jauh lebih besar,” kata dia.

Ikan Pembasmi Malaria Akan Dibasmi dan Di Musnah


Para ilmuwan di areal konservasi ‘Tamar Island Wetlands’, yang berada di dekat kota Launceston, Tasmania, akan melancarkan pembasmian gen ikan kecil pengganggu yang telah menimbulkan banyak masalah. Ikan gupi atau ikan cere atau ‘gambusia’ diperkenalkan di Australia lebih dari 100 tahun yang lalu untuk melawan malaria, dan dibiakkan di rawa ‘Tamar’ sejak tahun 1990-an.

Karena ikan cere berkembang dengan pesat di perairan dangkal yang tenang dan diberi umpan jentik serangga, mereka tampak sebagai agen pengontrol nyamuk yang ideal. Namun setelah menjadi penangkar yang lahap dan pemanga yang rakus, ikan gupi atau ikan cere ini, seperti halnya katak-katak di daratan utama, telah membawa permasalahan tersendiri.

Kini Universitas Tasmania tengah mempelopori kampanye nasional untuk membasmi ikan cere dengan dukungan dana hibah sebesar AUS$ 476.000. Ikan cere memiliki dampak negatif bagi keberlangsungan hidup spesies ikan asli. John Duggin, relawan yang bekerja di daerah konservasi ‘Tamar island Wetlands’, mengatakan, ia senang jika ikan-ikan kecil tersebut dibasmi.

“Mereka akan memangsa hewan apapun yang hidup, itu semua termasuk invertebrata, invertebrata air,” ungkapnya. Profesor John Purser, Direktur Pusat Nasional Konservasi Laut dan Pengolahan Sumber Daya, mengatakan, ikan cere adalah pemangsa yang subur. “Ia dapat melahirkan keturunan sampai 10 kali dalam setahun, dan dalam tiap angkatan kelahiran dapat membuahkan hingga ratusan anak ikan,” jelasnya.

Sejumlah perangkap telah digunakan di waktu lalu dan membuahkan hasil, namun para ilmuwan berharap untuk dapat membasmi spesies ikan ini dengan mengubahnya secara genetik. Doktor Jawahar Patil, sang ketua peneliti, menyebut, tim yang dipimpinnya akan menggunakan pendekatan kuda troya untuk masuk ke spesies itu.

“Kami menyebutnya sebagai pendekatan ‘Kromosom Troya Y’, yang menggunakan pembiakkan kromosom Y ke dalam populasi betina sehingga mereka hanya memproduksi keturunan jantan,” ujarnya. Embrio ikan yang baru lahir akan dirawat dengan hormon di laboratorium terlebih dahulu, baru kemudian dilepaskan ke alam bebas.

Program ini akan dijalankan selama 4 tahun dengan bantuan para relawan. “Idenya adalah untuk mengarahkan populasi ikan cere menuju kepunahan,” tutur Doktor Jawahar. Jika pendekatan ini sukses, para peneliti berharap program ini dapat direplikasi di seluruh dunia.

Cara Simpanse Mengajak Pasangannya Berhubungan Seks


Simpanse menggunakan tangan mereka untuk mengatakan “ikuti saya”, “hentikan itu”, atau “ambil ini”, menurut penelitian terbaru. Sedang ajakan bercinta diisyaratkan dengan mengunyah daun dengan sedikit liur menetes. Studi baru, diterbitkan pada Kamis di jurnal Current Biology, menciptakan semacam kamus bahasa simpanse yang pertama dalam sejarah. Penelitian mengartikan apa yang dikatakan kera satu sama lain.

Para peneliti mengatakan gerakan simpanse–mereka menerjemahkan total 66 gerakan–digunakan untuk saling berkomunikasi satu sama lain. “Pesan berkisar dari permintaan sederhana hingga gerakan untuk negosiasi sosial yang lebih luas,” ujar salah satu peneliti dari University of St Andrews di Skotlandia.

Para peneliti mempelajari lebih dari 4.500 gerakan dalam lebih dari 3.400 interaksi, semua terekam dalam film di Uganda mulai 2007 hingga 2009. Mereka memutuskan, ketika seorang ibu menunjukkan telapak kakinya pada bayinya, artinya adalah “naik pada saya”.

Menyentuh lengan adalah cara lain untuk mengatakan “tolong garuk saya” dan mengunyah daun sambil menatap simpanse lain berarti ajakan untuk bercinta. Lainnya tampaknya untuk menyampaikan lebih dari satu ide, seperti menggenggam simpanse lain yang kadang-kadang tampaknya menunjukkan “berhenti”, “naiklah pada saya”, atau “pergi”.

Ratusan Ribu Ton Plastik Di Lautan Hilang Dimakan Ikan


Ratusan ribu ton sampah plastik yang mengapung di lautan diketahui telah menghilang. Para ilmuan menduga sampah plastik itu telah dimakan oleh ikan-ikan dan dikhawatirkan pada akhirnya akan ikut termakan manusia melalui rantai makanan.

Sebuah tim pakar internasional menemukan bukti kalau saat ini sampah plastik yang terapung di permukaan lautan jumlahnya telah berkurang l00 kali lebih sedikit. Profesor Carlos Duarte, pakar oceanogarfi dari Universitas Australia Barat, yang terlibat dalam penelitian yang dilakukan dengan menjaring sampah di lautan-lautan dunia tersebut.

Kepada program Pacific Beat, Carlos Duarte mengatakan ada sejumlah kemungkinan kemana hilangnya sampah-sampah plastik tersebut. “Kenyataan yang mengganggu adalah ketika kita tidak bisa menjelaskan dimana keberadaan 99% sampah plastik yang hilang tersebut,”katanya.

“Partikel plastik yang hilang itu kemungkinan terlah dimakan oleh ikan, itu satu kemungkinan yang paling bisa dipastikan,” katanya. Pakar hanya menemukan sekitar 40 ribu ton sampah plastik yang mengapung di lautan.

Angka ini jauh berkurang dari jumlah yang diprediksikan berdasarkan data tahun 1970 yakni sebesar sekitar 1 juta ton. Profesor Duarte mengatakan salah satu keprihatinannya adalah kalau sampah-sampah itu pada akhirnya akan mengendap di rantai makanan manusia.

“Ikan-ikan yang memakan sampah plastik biasanya dimakan oleh ikan tuna, ikan pedang (todak), dan juga oleh cumi-cumi, semua makanan laut yang kita konsumsi sehari-hari,” katanya. “Jadi plastik-plastik ini bisa jadi terkandung dalam jaring makanan ikan tropis yang menjadi bagian dari makanan kita sehari-hari,” ujarnya.

Professor Duarte mengatakan ada juga peluang platik-plastik ini terpecah menjadi serpihan-serpihan yang sangat kecil sehingga tidak bisa terdeteksi atau bisa juga karena ada mikroba yang mendaur ulang plastik-plastik tersebut.

Penjelasan Ilmiah Mengapa Hewan Mamalia Kencing


Daya tampung kandung kemih mamalia darat beragam, tergantung dari ukuran tubuhnya. Kantong kemih gajah menampung cairan hingga 18 liter, sementara kucing cuma 5 mililiter. Namun hewan raksasa itu bisa pipis sama cepatnya seperti kucing. Penelitian menunjukkan kebanyakan mamalia yang lebih besar daripada tikus bisa pipis dengan durasi yang sama dengan tikus.

Peneliti menemukan mamalia yang bobotnya lebih dari 3 kilogram mengeluarkan air seni dengan durasi yang relatif sama sekitar 21 detik dengan yang berbobot 3 kilogram. Hal ini disebabkan oleh desain dan skala saluran uretra mamalia dengan tubuhnya relatif sama, sehingga proses pembuangan lancar.

David Hu, asisten profesor teknik mekanika di Georgia Institute of Technology, Atlanta, tertarik meneliti jumlah dan durasi pipis mamalia setelah mengganti popok putrinya di rumah. Bersama koleganya, Hu membandingkan proses pipis hewan dengan mengamati video di Internet dan pengamatan di kebun binatang. Mereka mempelajari 28 video hewan yang tengah pipis dan mendatangi Kebun Binatang Atlanta untuk merekam hewan-hewan di sana. Mereka juga mengumpulkan sampel urin hewan-hewan tersebut.

Mereka menemukan hewan yang lebih ringan dari 3 kilogram, seperti rodensia dan kelelawar, air seninya keluar tak berupa aliran. Mereka pipis dalam bentuk tetesan. Sedangkan hewan yang lebih besar, seperti kambing, gorila, hingga anjing Great Dane, air seninya keluar dengan mengalir cepat. Rata-rata mamalia itu butuh 21 detik untuk pipis.

Panjang saluran uretra menjadi kunci mengapa mamalia besar bisa pipis dalam waktu sama dengan yang berukuran kecil. Semakin besar tubuh mamalia, saluran uretranya semakin panjang dan dengan rasio sesuai dengan ukuran tubuh. “Setiap hewan punya uretra dengan rasio panjang dan lebar yang sama. Ini jarang terjadi di dunia hewan. Umumnya, anggota tubuh berkembang sesuai dengan ukuran, seperti mata dan otak,” tutur Hu.

Dengan uretra yang panjang, efek gravitasi bertambah. Akibatnya, tekanan di dalam kantong kemih juga meningkat dan mendorong urin keluar lebih cepat. Dalam laporan yang dimuat jurnal Proceedings of the National Academy of Sciences, peneliti menyebutkan sistem pembuangan biologis yang efisien itu bisa diterapkan dalam dunia teknik.

Hu dan koleganya menyebut desain sistem mamalia bisa dipakai untuk membuat saluran efektif untuk tanki air dan penampungan yang lebih besar. Sistem serupa bisa diterapkan juga pada tabung pemadam api dan kemasan air minum. “Fenomena ini tak terbatas, binatang saja memakainya untuk kantong kemih 5 mililiter hingga 18 liter, jadi ada peluang bisa dikembangkan pada sistem yang lebih besar,” ujar Hu.

Ditemukan Spesies Tawon Yang Bangun Sarang Dari Bangkai Semut Yang Dia Bunuh


Ilmuwan berhasil mengidentifikasi spesies tawon baru yang ditemukan di Cina tenggara. Laporan yang dimuat dalam jurnal Plos One, 2 Juli 2014, menyebut spesies itu punya perilaku unik. Mereka membangun sarang untuk para tawon muda dengan menumpuk semut-semut mati.

Tawon-tawon betina tidak memburu semut untuk dijadikan makanan. Mereka menggunakan bangkai-bangkai semut yang dibunuhnya untuk membangun sarang sekaligus melindungi dari ancaman. “Kebanyakan dari spesimen semut yang ditumpuk berasal dari spesies dengan sengat mematikan, sehingga tawon betina berisiko terluka atau terbunuh,” kata Michael Staab, ahli biologi dari Universität Freiburg, Jerman, yang meneliti tawon itu.

Apa yang dilakukan tawon itu mirip dengan yang dikerjakan suku Aztec dan peradaban Mesoamerika lain yang membangun tumpukan dari tengkorak korban ritual mereka untuk menimbulkan rasa takut. “Konsepnya sama dengan rak tengkorak itu, bukan secara visual, tapi dari aroma. Sarang dari bangkai semut itu mengeluarkan aroma koloni semut ganas sehingga dijauhi oleh musuh alaminya,” ujar Staab.

Sesuai dengan kelakuannya, spesies tawon itu dinamai Deuteragenia ossarium alias pembangun rumah dari tulang. “Temuan kami menunjukkan contoh strategi menakjubkan tentang perlindungan terhadap keturunan yang berkembang di dunia hewan, terutama serangga,” tuturnya.

Tawon ini ditemukan di hutan subtropis Cina berwarna hitam dengan bintik cokelat di sayapnya. Tawon betina memiliki panjang sekitar 15 milimeter. Sedangkan ukuran tubuh pejantan lebih kecil dengan bintik putih di bagian wajah.

Tawon dewasa mengkonsumsi serbuk sari dan nektar. Namun tawon betina berburu laba-laba dengan ukuran tubuh yang lebih besar sebagai makanan untuk anak-anak mereka. Tawon itu menggunakan sengatnya untuk melumpuhkan mangsa lalu membawanya ke sarang.

Sarang tawon itu berupa lubang di atas vegetasi hutan yang di dalamnya terdapat beberapa ruang individu. Ruangan itu menjadi tempat meletakkan telur dilengkapi dengan laba-laba yang sudah lumpuh sebagai makanan saat larva tawon menetas.

Michael Ohl, ahli biologi dari Museum für Naturkunde, Berlin, mengatakan belum menemukan perilaku serupa pada hewan lain ketika bangkai spesies berbeda digunakan untuk melindungi sarang dan keturunannya.

Gen Hibernasi Spesies Kodok Cyclorana Dapat Diaplikasikan Ke Gen Astronaut


Perlu fisik yang bugar untuk melakukan perjalanan ke luar angkasa. Masalahnya, dalam kondisi tanpa gravitasi, otot para astronaut bakal melemah saat melakukan perjalanan dalam waktu lama. Untuk memelihara otot mereka, para astronaut mungkin perlu berguru pada kodok.

Peneliti menyebut rahasia genetik spesies kodok yang sanggup berhibernasi atau tidur dalam jangka waktu lama bisa menjadi kunci dalam membangun misi luar angkasa yang lebih aman. Spesies kodok Cyclorana alboguttata, misalnya, sanggup berhibernasi selama berbulan-bulan.

Peneliti dari Universitas Queensland menyebut kodok itu mampu menjaga massa ototnya meski dalam kondisi dorman yang panjang. Bagian dalam gen kodok yang dikenal sebagai survivin bisa menyelamatkan amfibi itu dalam masa hibernasi. Kondisi ini mungkin bisa diterapkan untuk perjalanan luar angkasa.

Melayang tanpa gravitasi bisa jadi pengalaman yang diimpikan banyak orang, termasuk astronaut. Namun berada dalam kondisi itu sangat merugikan fisik manusia. Otot-otot tak lagi bekerja dan menyebabkan banyak masalah kesehatan, mulai dari tendonitis hingga akumulasi lemak.

Saat berhadapan dengan musim kering panjang di Australia, kodok itu bertahan dengan mengubur diri di dalam tanah dan menutupi dirinya dengan lapisan mirip kepompong dari kulit. Lapisan itu menjaga kodok tetap aman dari lingkungan. Namun gen survivin melindungi kodok dari perlawanan tubuhnya sendiri.

Sel tubuh mempunyai “mekanisme bunuh diri” yang berbeda. Namun yang paling jelas adalah ketika tubuh membuang materi yang rusak. Hal ini bisa terjadi saat tubuh tidak aktif dalam waktu panjang. Gen survivin mencegah hal itu terjadi sehingga kodok selamat.

“Jika bisa mengetahui bagaimana jalur sinyal sel itu bekerja untuk melindungi tubuh maka bisa digunakan dalam studi otot mamalia,” kata peneliti Beau Reilly seperti dikutip The Telegraph, Rabu, 2 Juli 2014.

Reilly mengatakan hal itu bisa diterapkan dalam terapi pasien yang banyak berbaring atau astronaut yang kerap kehilangan massa otot ketika berada dalam kondisi gravitasi rendah. “Manusia dan teknik pengobatan modern bisa mengambil keuntungan dengan mempelajari sistem hibernasi kodok itu,” katanya.