Category Archives: Dunia Binatang

Kamera Pemantau Aksi Tutul, Garuda, dan Owa Di Gunung Salak Halimun


Seekor macan tutul jawa berbulu hitam atau kumbang diidentifikasi berkelamin jantan tertangkap kamera. Aksinya sedang tengkurap, membuka mulut, serta menunjukkan lidah dan taring di area Awi 5 Chevron Geothermal Salak Ltd , Taman Nasional Gunung Halimun Salak, Jumat (13/6/2014) pukul 06.15.

Sepekan sebelumnya, Sabtu (7/6/2014) pukul 15.57, sepasang macan tutul jawa (Panthera pardus melas) atau disingkat matulja tertangkap kamera sedang berkeliaran di area Awi 3 Chevron Geothermal Salak Ltd (CGS). Di wilayah yang sama, pada Senin (2/6/2014) pukul 17.14 yang tertangkap kamera adalah pergerakan seekor macan tutul jawa berkelamin betina. Diduga kuat macan tutul jawa betina yang tertangkap kamera pada Senin dan Sabtu itu merupakan individu yang sama.

Manajer Program Gede Pangrango Halimun Salak Conservation International Indonesia (CII) Anton Ario dalam presentasi di areal CGS pada Rabu (18/6/2014) mengatakan, cara mengidentifikasi macan tutul jawa adalah dari motif bintik (tutul) pada tubuh. Motif bintik pada setiap macan tutul jawa pasti berbeda sehingga disetarakan dengan sidik jari pada manusia.

CII dan CGS, kata Anton, bekerja sama sepanjang Januari-Juni 2014 dalam program Eye on the Forest. Program dilakukan dalam bentuk pemasangan kamera dalam areal Taman Nasional Gunung Halimun Salak (TNGHS) khususnya di wilayah operasi CGS. Tujuannya untuk mendapatkan foto satwa-satwa liar terutama macan tutul jawa buat penentuan rencana aksi kegiatan pengelolaan dan pelestarian habitat satwa liar.

Yayasan Owa Jawa dan CGS akan menjajaki kerja sama pemasangan kamera pemantau (CCTV). Misinya adalah turut mengidentifikasi wilayah pergerakan owa jawa (Hylobates moloch) dan elang jawa (Nisaetus bartelsi) alias garuda dalam areal CGS guna penyusunan program perlindungan.

Kepala Balai TNGHS Tri Siswo Rahardjo mengatakan, program serupa sudah dilakukan tim internal di tujuh lokasi. Di tiap lokasi dipasangi tiga kamera.

Untuk identifikasi, menurut Tri, petugas balai disebar dan ditugaskan ke 17 resor dalam TNGHS. Setiap resor sudah dilengkapi komputer jinjing, GPS montana, dan modem internet. Dengan demikian, setiap hari petugas bisa mengirimkan data identifikasi kawasan termasuk keragaman hayati di dalamnya. ”Kementerian Kehutanan menargetkan setiap balai taman nasional harus mampu meningkatkan populasi satwa liar sebanyak 3 persen,” katanya.

Target itu memotivasi Tri dan jajarannya untuk mempertahankan kelestarian kawasan seluas 113.357 hektar di Jawa Barat dan Banten ini. Konservasi bertujuan untuk mempertahankan kelestarian alam untuk keberlangsungan kehidupan manusia di masa mendatang.
Peningkatan populasi

Tri mengklaim di TNGHS ada peningkatan populasi di 7 lokasi pengamatan. Pada 2013 ada 16 macan tutul jawa. Sampai Juni 2014 sudah ada 18 macan tutul jawa. Untuk owa, pada 2013 ada 26 ekor dan hingga Juni 2014 ada 29 ekor dalam enam kelompok. Untuk garuda, pada 2013 ada 8 ekor dan sampai Juni 2014 menjadi 9 ekor. ”Kondisi ini tidak menggambarkan populasi di seluruh kawasan,” katanya.

Macan tutul jawa, owa, dan garuda penting untuk dilindungi. Owa menyukai tanaman buah. Satwa ini disebut pengemban amanah ekologi. Owa menyebarkan biji buah atau pohon hutan dari yang dimakannya selama melintasi kawasan.

Tanpa owa, keragaman tumbuhan hutan dipastikan miskin. Kian banyak tumbuhan hidup dalam hutan, semakin kaya potensi yang bisa didapat berupa buah, bahan ramuan, sayur, air, udara, dan jasa lingkungan.

Macan tutul jawa dan garuda adalah predator utama. Keberadaan dua satwa itu mengendalikan keseimbangan rantai makanan. Macan tutul jawa memangsa kijang, kancil, dan lutung. Garuda memangsa tikus hutan, bahkan primata dan mamalia ukuran kecil.
Inspirasi

Dalam siklus rantai makanan, saling memakan merupakan upaya alam menjaga keseimbangan diri sehingga tetap produktif dan menjamin keberlangsungan kehidupan di dalamnya.

Khusus untuk garuda, 13 lembaga bekerja sama membangun suaka elang di Cikaniki, Blok Wates, dan Gunung Endut. Kerja sama berlangsung sejak November 2007 dan masih bertahan. Elang jawa dengan jambulnya cuma bisa ditemukan di hutan Pulau Jawa. Satwa unik ini menjadi inspirasi dan identik dengan lambang negara kita.

Karena itu, negara bersama lembaga konservasi dan perusahaan seperti Chevron turun tangan untuk merestorasi hutan koridor antara Gunung Halimun dan Gunung Salak. Hutan di lembah kedua gunung itu dipulihkan dengan ditanami pelbagai jenis pohon dan dilindungi agar tak kembali rusak. Pemulihan hutan koridor lembah Halimun dan Salak tak hanya ekologi penyatu dua ekosistem gunung, tetapi juga bermanfaat bagi perpindahan satwa antardua gunung sehingga keragaman hayati Halimun Salak tetap kaya.

Penampungan Orang Utan Penuh Karena Diburu Pengusaha Kelapa Sawit


Lebih dari 1.000 ekor orangutan saat ini berada di enam pusat rehabilitasi orang utan yang tersebar di Kalimantan dan Sumatera. Ribuan orang utan ini adalah korban alih fungsi lahan serta perburuan dan perdagangan itu.

“Orang utan ini menjadi korban dari pembukaan (perkebunan) sawit dan tambang, (serta) hasil perdagangan bayi orang utan dan perburuan liar,” kata Citrakasih, salah satu dokter hewan yang bekerja di pusat rehabilitasi orang utan di Kalimtan Tengah, Selasa (24/6/2014).

Berbicara dalam pertemuan komunitas dokter hewan yang bekerja untuk konservasi orang utan (OVAG) di Fakultas Kedokteran Hewan UGM, di Daerah Istimewa Yogyakarta, Citra mengatakan jumlah orang utan tersebut sudah melampaui kapasitas tempat penampungan.

“Sekadar contoh, satu pusat rehabilitasi yang dikelola Borneo Orang Utan Survival, kapasitasnya 300 tapi sekarang menampung 500-an orang utan,” kata Citra. Menurut dia, orang utan yang ditampung di pusat rehabilitasi ini kerap kali merupakan hasil sitaan aparat dari upaya penjualan ke Thailand dan China.

Sering pula, imbuh Citra, ditemukan orang utan dalam kondisi sakit atau cacat akibat perburuan liar. Kebanyakan orang utan yang sakit, sebut dia, menderita pilek, diare, TBC, malaria, dan kurang gizi. “Kami juga menemukan orang utan yang buta terkena tembakan peluru di kepalanya, ada juga yang mengalami trauma karena sempat disetrum,” tutur dia.

Pertemuan OVAG merupakan forum tahunan para dokter hewan yang bekerja di pusat rehabilitasi orang utan. Pertemuan ini melibatkan para pakar orang utan dari Indonesia, Malaysia, Australia, Amerika Serikat, Selandia Baru, dan Jerman.

Salah satu pemerhati orang utan dari Universitas California, Amerika Serikat, Raffaella Commitante, mengatakan pertemuan ini bertujuan meningkatkan kapasitas para dokter hewan Indonesia dan Malaysia terkait penanganan orang utan. “Ada 36 dokter hewan yang yang menjadi anggota OVAG sebagian besar mereka bekerja di pusat rehabilitasi orang utan,” kata dia.

Tupai Vampir Ditemukan Di Kalimantan


Tupai tanah berumbai bisa dibilang sebagai spesies yang aneh. Sejumlah ilmuwan pernah menjumpainya di hutan Kalimantan. Berukuran dua kali tupai pohon, tupai dengan nama ilmiah Rheithrosciurus macrotis ini konon mampu mengendus darah. Kemampuan bak vampir itu muncul dari cerita lokal yang menyebutkan bahwa tupai pemakan biji ini bisa berubah ganas. Para pemburu mengatakan tupai ini doyan bertengger di cabang rendah pohon untuk mengintai rusa. Begitu rusa lewat, si tupai akan melompat ke tubuhnya, melukai urat nadi dan mengeluarkan isi perut mangsanya.

Namun, kisah tak lazim ini tidak banyak dipercayai oleh para ilmuwan. “Kedengarannya cukup fantastis,” kata Roland Kays, pakar zoologi di North Carolina Museum of Natural Sciences di Raleigh, dengan nada skeptis. Ada satu hal lagi yang bisa dibilang aneh pada tupai ini. Hasil pemantauan dengan kamera jebak menunjukkan bahwa binatang pengerat dengan panjang tubuh 35 sentimeter ini memiliki ekor yang sangat mengembang. Ekornya tampak lebih besar dari badan tupai itu sendiri.

“Spesies ini benar-benar aneh,” kata Erik Meijaard, seorang ilmuwan konservasi dari People and Nature Consulting International, seperti dikutip Huffingtonpost, Senin, 7 Juli 2014. Meijaard dan istrinya, Rona Dennis, seorang ilmuwan penginderaan jauh, mengumpulkan koleksi foto Rheithrosciurus, termasuk dari rekan-rekan mereka. Semua gambar tupai itu dijepret menggunakan kamera jebak.

Putri mereka yang berusia 15 tahun, Emily Mae Meijaard, seorang siswi di British International School, Jakarta, turut dilibatkan untuk menganalisis gambar serta mengukur ukuran ekor dan tubuh berbagai individu tupai. Hasil pengamatan Meijaard sekeluarga menunjukkan bahwa ekor mekar si tupai “vampir” memiliki volume 30 persen lebih besar dari tubuh tupai. “Tupai ini membutuhkan segala sesuatu yang ekstrem,” kata Melissa Hawkins, seorang pakar mamalia di Museum Sejarah Alam, Smithsonian Institution, di Washington.

Hawkins juga mencatat bahwa telinga tupai berambut sangat lebat. Pesaing terdekat tupai “vampir” adalah posum bergaris, yang ekornya nyaris sebesar tubuhnya sendiri dan berguna untuk memegang dahan ketika memanjat pohon; tupai terbang, yang memakai ekornya sebagai kemudi ketika meluncur dari pohon; dan kucing ekor cincin, yang menggunakan ekornya untuk keseimbangan saat berakrobat di atas pohon.

Tidak jelas mengapa Rheithrosciurus memiliki ekor yang mekar. Namun Emily Mae dan ayahnya mengatakan ekor besar si tupai berguna untuk mengecoh macan tutul dan predator lain. Ekor juga membantu tupai ketika menyerang mangsa. Bagi Hawkins, ide ini terdengar masuk akal. “Ketika melihat tupai itu di Kalimantan, kami sempat mengiranya hewan yang jauh lebih besar,” kata dia.

Ikan Pembasmi Malaria Akan Dibasmi dan Di Musnah


Para ilmuwan di areal konservasi ‘Tamar Island Wetlands’, yang berada di dekat kota Launceston, Tasmania, akan melancarkan pembasmian gen ikan kecil pengganggu yang telah menimbulkan banyak masalah. Ikan gupi atau ikan cere atau ‘gambusia’ diperkenalkan di Australia lebih dari 100 tahun yang lalu untuk melawan malaria, dan dibiakkan di rawa ‘Tamar’ sejak tahun 1990-an.

Karena ikan cere berkembang dengan pesat di perairan dangkal yang tenang dan diberi umpan jentik serangga, mereka tampak sebagai agen pengontrol nyamuk yang ideal. Namun setelah menjadi penangkar yang lahap dan pemanga yang rakus, ikan gupi atau ikan cere ini, seperti halnya katak-katak di daratan utama, telah membawa permasalahan tersendiri.

Kini Universitas Tasmania tengah mempelopori kampanye nasional untuk membasmi ikan cere dengan dukungan dana hibah sebesar AUS$ 476.000. Ikan cere memiliki dampak negatif bagi keberlangsungan hidup spesies ikan asli. John Duggin, relawan yang bekerja di daerah konservasi ‘Tamar island Wetlands’, mengatakan, ia senang jika ikan-ikan kecil tersebut dibasmi.

“Mereka akan memangsa hewan apapun yang hidup, itu semua termasuk invertebrata, invertebrata air,” ungkapnya. Profesor John Purser, Direktur Pusat Nasional Konservasi Laut dan Pengolahan Sumber Daya, mengatakan, ikan cere adalah pemangsa yang subur. “Ia dapat melahirkan keturunan sampai 10 kali dalam setahun, dan dalam tiap angkatan kelahiran dapat membuahkan hingga ratusan anak ikan,” jelasnya.

Sejumlah perangkap telah digunakan di waktu lalu dan membuahkan hasil, namun para ilmuwan berharap untuk dapat membasmi spesies ikan ini dengan mengubahnya secara genetik. Doktor Jawahar Patil, sang ketua peneliti, menyebut, tim yang dipimpinnya akan menggunakan pendekatan kuda troya untuk masuk ke spesies itu.

“Kami menyebutnya sebagai pendekatan ‘Kromosom Troya Y’, yang menggunakan pembiakkan kromosom Y ke dalam populasi betina sehingga mereka hanya memproduksi keturunan jantan,” ujarnya. Embrio ikan yang baru lahir akan dirawat dengan hormon di laboratorium terlebih dahulu, baru kemudian dilepaskan ke alam bebas.

Program ini akan dijalankan selama 4 tahun dengan bantuan para relawan. “Idenya adalah untuk mengarahkan populasi ikan cere menuju kepunahan,” tutur Doktor Jawahar. Jika pendekatan ini sukses, para peneliti berharap program ini dapat direplikasi di seluruh dunia.

Cara Simpanse Mengajak Pasangannya Berhubungan Seks


Simpanse menggunakan tangan mereka untuk mengatakan “ikuti saya”, “hentikan itu”, atau “ambil ini”, menurut penelitian terbaru. Sedang ajakan bercinta diisyaratkan dengan mengunyah daun dengan sedikit liur menetes. Studi baru, diterbitkan pada Kamis di jurnal Current Biology, menciptakan semacam kamus bahasa simpanse yang pertama dalam sejarah. Penelitian mengartikan apa yang dikatakan kera satu sama lain.

Para peneliti mengatakan gerakan simpanse–mereka menerjemahkan total 66 gerakan–digunakan untuk saling berkomunikasi satu sama lain. “Pesan berkisar dari permintaan sederhana hingga gerakan untuk negosiasi sosial yang lebih luas,” ujar salah satu peneliti dari University of St Andrews di Skotlandia.

Para peneliti mempelajari lebih dari 4.500 gerakan dalam lebih dari 3.400 interaksi, semua terekam dalam film di Uganda mulai 2007 hingga 2009. Mereka memutuskan, ketika seorang ibu menunjukkan telapak kakinya pada bayinya, artinya adalah “naik pada saya”.

Menyentuh lengan adalah cara lain untuk mengatakan “tolong garuk saya” dan mengunyah daun sambil menatap simpanse lain berarti ajakan untuk bercinta. Lainnya tampaknya untuk menyampaikan lebih dari satu ide, seperti menggenggam simpanse lain yang kadang-kadang tampaknya menunjukkan “berhenti”, “naiklah pada saya”, atau “pergi”.

Ratusan Ribu Ton Plastik Di Lautan Hilang Dimakan Ikan


Ratusan ribu ton sampah plastik yang mengapung di lautan diketahui telah menghilang. Para ilmuan menduga sampah plastik itu telah dimakan oleh ikan-ikan dan dikhawatirkan pada akhirnya akan ikut termakan manusia melalui rantai makanan.

Sebuah tim pakar internasional menemukan bukti kalau saat ini sampah plastik yang terapung di permukaan lautan jumlahnya telah berkurang l00 kali lebih sedikit. Profesor Carlos Duarte, pakar oceanogarfi dari Universitas Australia Barat, yang terlibat dalam penelitian yang dilakukan dengan menjaring sampah di lautan-lautan dunia tersebut.

Kepada program Pacific Beat, Carlos Duarte mengatakan ada sejumlah kemungkinan kemana hilangnya sampah-sampah plastik tersebut. “Kenyataan yang mengganggu adalah ketika kita tidak bisa menjelaskan dimana keberadaan 99% sampah plastik yang hilang tersebut,”katanya.

“Partikel plastik yang hilang itu kemungkinan terlah dimakan oleh ikan, itu satu kemungkinan yang paling bisa dipastikan,” katanya. Pakar hanya menemukan sekitar 40 ribu ton sampah plastik yang mengapung di lautan.

Angka ini jauh berkurang dari jumlah yang diprediksikan berdasarkan data tahun 1970 yakni sebesar sekitar 1 juta ton. Profesor Duarte mengatakan salah satu keprihatinannya adalah kalau sampah-sampah itu pada akhirnya akan mengendap di rantai makanan manusia.

“Ikan-ikan yang memakan sampah plastik biasanya dimakan oleh ikan tuna, ikan pedang (todak), dan juga oleh cumi-cumi, semua makanan laut yang kita konsumsi sehari-hari,” katanya. “Jadi plastik-plastik ini bisa jadi terkandung dalam jaring makanan ikan tropis yang menjadi bagian dari makanan kita sehari-hari,” ujarnya.

Professor Duarte mengatakan ada juga peluang platik-plastik ini terpecah menjadi serpihan-serpihan yang sangat kecil sehingga tidak bisa terdeteksi atau bisa juga karena ada mikroba yang mendaur ulang plastik-plastik tersebut.

Penjelasan Ilmiah Mengapa Hewan Mamalia Kencing


Daya tampung kandung kemih mamalia darat beragam, tergantung dari ukuran tubuhnya. Kantong kemih gajah menampung cairan hingga 18 liter, sementara kucing cuma 5 mililiter. Namun hewan raksasa itu bisa pipis sama cepatnya seperti kucing. Penelitian menunjukkan kebanyakan mamalia yang lebih besar daripada tikus bisa pipis dengan durasi yang sama dengan tikus.

Peneliti menemukan mamalia yang bobotnya lebih dari 3 kilogram mengeluarkan air seni dengan durasi yang relatif sama sekitar 21 detik dengan yang berbobot 3 kilogram. Hal ini disebabkan oleh desain dan skala saluran uretra mamalia dengan tubuhnya relatif sama, sehingga proses pembuangan lancar.

David Hu, asisten profesor teknik mekanika di Georgia Institute of Technology, Atlanta, tertarik meneliti jumlah dan durasi pipis mamalia setelah mengganti popok putrinya di rumah. Bersama koleganya, Hu membandingkan proses pipis hewan dengan mengamati video di Internet dan pengamatan di kebun binatang. Mereka mempelajari 28 video hewan yang tengah pipis dan mendatangi Kebun Binatang Atlanta untuk merekam hewan-hewan di sana. Mereka juga mengumpulkan sampel urin hewan-hewan tersebut.

Mereka menemukan hewan yang lebih ringan dari 3 kilogram, seperti rodensia dan kelelawar, air seninya keluar tak berupa aliran. Mereka pipis dalam bentuk tetesan. Sedangkan hewan yang lebih besar, seperti kambing, gorila, hingga anjing Great Dane, air seninya keluar dengan mengalir cepat. Rata-rata mamalia itu butuh 21 detik untuk pipis.

Panjang saluran uretra menjadi kunci mengapa mamalia besar bisa pipis dalam waktu sama dengan yang berukuran kecil. Semakin besar tubuh mamalia, saluran uretranya semakin panjang dan dengan rasio sesuai dengan ukuran tubuh. “Setiap hewan punya uretra dengan rasio panjang dan lebar yang sama. Ini jarang terjadi di dunia hewan. Umumnya, anggota tubuh berkembang sesuai dengan ukuran, seperti mata dan otak,” tutur Hu.

Dengan uretra yang panjang, efek gravitasi bertambah. Akibatnya, tekanan di dalam kantong kemih juga meningkat dan mendorong urin keluar lebih cepat. Dalam laporan yang dimuat jurnal Proceedings of the National Academy of Sciences, peneliti menyebutkan sistem pembuangan biologis yang efisien itu bisa diterapkan dalam dunia teknik.

Hu dan koleganya menyebut desain sistem mamalia bisa dipakai untuk membuat saluran efektif untuk tanki air dan penampungan yang lebih besar. Sistem serupa bisa diterapkan juga pada tabung pemadam api dan kemasan air minum. “Fenomena ini tak terbatas, binatang saja memakainya untuk kantong kemih 5 mililiter hingga 18 liter, jadi ada peluang bisa dikembangkan pada sistem yang lebih besar,” ujar Hu.