Ilmuwan Universitas Indonesia Teliti Membuat Stem Cell Dari Darah Haid


Riset stem cell atau sel punca saat ini banyak didalami oleh ilmuwan-ilmuwan di dunia tak terkecuali Indonesia. Peneliti di Universitas Indonesia (UI) salah satunya dalam hal ini berusaha meneliti sel punca dan potensi yang ada pada darah haid. Sel punca sendiri adalah sel dasar yang nantinya bisa berkembang menjadi sel apa saja. Karena sifatnya itu, sel punca diyakini memiliki potensi untuk menjadi jawaban untuk semua masalah degeneratif yang saat ini belum ada obatnya.

Manajer Riset dan Pelayanan Masyarakat Fakultas Kedokteran UI Dr dr Budi Wiweko, SpOG(K), mengatakan satu hal yang tak terduga dari darah haid adalah darah tersebut menyimpan sel punca yang bisa dimanfaatkan. Saat ini penelitian diakui masih tengah berlangsung sehingga tak banyak yang bisa dilaporkan. “Dari darah haid ini kita kembangkan stem cell. Nanti kita lihat ada berapa banyak stem cell yang ada di darah haid,” ujar dr Wiweko yang akrab disapa dr Iko ini kepada media saat mengisi seminar di kantor MERCK, Jalan TB Simatupang, Jakarta Timur, Selasa (8/12/2015).

Untuk apa sel punya yang didapat dari darah haid? dr Iko menjelaskan penggunaannya bisa bermacam-macam namun yang utama adalah untuk mengembalikan fungsi rahim. Ketika rahim mengalami kerusakan akibat trauma, infeksi, atau hal lainnya maka sel punca darah haid kemungkinan bisa diberikan untuk memperbaikinya. “Bisa kita gunakan pada dinding rahim yang terganggu akibat infeksi atau rusak. Kita gunakan stem cel kita taruh nanti dinding rahim bisa menebal lagi, bisa hamil lagi,” papar dr Wiweko.

“Tapi ini masih diteliti loh ya,” tutupnya. Meski diklaim menjanjikan, terapi stem cell atau sel punca hingga kini masih dalam tahap penelitian. Karena alasan itu pula, stem cell tidak ditanggung asuransi. Di RS Cipto Mangunkusumo (RSCM), terapi stem cell dibiayai dengan hibah penelitian. Pasien cukup membayar alat yang digunakan, sedangkan untuk proses pengolahan stem cell menjadi tanggunan RSCM. Demikian juga di RS Dr Soetomo Surabaya, pasien cukup membayar biaya ‘ganti proses’.

“Biaya, selama ini yang saya dengar di Jerman sekali suntik Rp 300 juta. Di cina Rp 150 juta. Di Surabaya, biaya ganti proses sepertiga dari di China,” kata Sekretaris Pusat Kedokteran Regeneratif dan Stem Cell RS Dr Soetomo Surabaya, dr Purwati, seperti ditulis pada Kamis (29/10/2015). Hingga saat ini, diakui memang belum ada standar harga untuk terapi stem cell. Tak heran jika di lapangan banyak iklan yang menawarkan terapi stem cell dengan rentang harga sangat bervariasi, dari Rp 4 juta sekali injeksi hingga ratusan juta rupiah.

“Soal biaya, sebetulnya harus ada standar. Konsorsium nanti bertanggung jawab membuat standar, sementara ini disesuaikan dengan rumah sakit,” kata Ketua Konsorsium Pengembangan Sel Punca dan Rekayasa Jaringan, Prof Dr Farid Anfasa Moeloek, SpOG(K). Di Indonesia, terapi stem cell dilakukan di 11 rumah sakit yang ditunjuk oleh Kementerian Kesehatan. Kesebelas rumah sakit tersebut adalah RS M Djamil, RSCM, RS Persahabatan, RS Fatmawati, RS Dharmais, RS Harapan Kita, RS Hasan Sadikin Bandung, RS Kariadi Semarang, RS Sardjito Yogyakarta, RSUD dr Soetomo SUrabaya dan RS Sanglah Denpasar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s