Cara Membuat Limbah Batu Bara Menjadi Aspal Untuk Jalan Raya


Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) melansir telah menandatangani kesepakatan bersama Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), berikut Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PU-Pera) terkait pemanfaatan fly ash dan bottom ash. Asal tahu, fly ash (abu terbang) dan bottom ash (abu dasar) merupakan limbah yang dihasilkan dari Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) batubara. Di mana kedua limbah tersebut akan digunakan untuk pembangunan infrastruktur pekerjaan umum dan perumahan rakyat.

“Sampai tahun ini saja pembangkit batubara telah mengonsumsi hampir 80 juta ton per tahun. Kalau Program 35.000 MW jalan, maka di akhir tahun 2019 diperkirakan ada 180 juta ton hingga 209 juta ton batubara yang dibakar dan lima persen dari volume tersebut, sekitar delapan hingga sembilan juta ton akan menjadi fly ash dan bottom ash,” ujar Direktur Jenderal Ketenagalistrikan Jarman seperti dikutip dari laman resminya, Minggu (18/10).

Seperti diketahui, saat ini PLTU batubara masih mendominasi sistem pembangkitan listrik di Indonesia. Selain karena memiliki biaya produksi yang paling murah, banyaknya cadangan sumber daya batubara di Indonesia yang ditaksir mencapai 29,48 miliar ton turut menjadikan alasn dipakainya batubara sebagai bahan baku energi ketimbang sumber energi primer lainnya.

Berangkat dari besarnya potensi tersebut, pemerintah pun berencana menjadikan fly ash dan bottom ash sebagai bahan baku proyek infrastruktur. “Dengan memanfaatkan limbah Bahan Berbahaya dan Beracun (B3), artinya kita juga menghemat sumber daya. Kita membantu melaksanakan penurunan target emisi sebesar 26 persen dan lingkungan pun terjaga dengan baik,” ujar Direktur Jenderal Pengelolaan Sampah, Limbah, dan Bahan Berbahaya dan Beracun KLHK Tuti Hendrawati Mintarsih.

Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Kementerian PU-Pera Arie Setiadi Moerwanto menambahkan fly ash dan bottom ash sendiri akan dimanfaatkan dalam pembuatan paving blok, batako, konstruksi beton. Adapun dipakainya dua limbah tersebut dimaksudkan untuk mengurangi semen, dan dapat dimanfaatkan pula untuk stabilisasi tanah dasar, khususnya jenis tanah ekspasif.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s